- Beranda
- Berita Luar Negeri
Harga Minyak Tetap Stagnan Akibat Penyebaran Covid-19
...
TS
deganijo001
Harga Minyak Tetap Stagnan Akibat Penyebaran Covid-19

Bisnis, JAKARTA— Optimisme prospek permintaan minyak masih abu-abu akibat meningkatnya kasus Covid-19 di sejumlah negara sehingga menekan harga minyak.
Bloomberg mencatat pada Senin (12/7/2021) pukul 14:15 WIB, harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) menyentuh US$74,22 per barel atau terkoreksi 0,46 persen untuk kontrak Agustus 2021. Tren koreksi juga dialami oleh minyak Brent yang bergerak ke US$75,23 per barel atau terkoreksi 0,42 persen untuk kontrak September 2021.
Sebelumnya, Bursa Berjangka di New York memperdagangkan minyak pada harga nyaris US$75 per barel setelah naik lebih dari 2 persen pada Jumat. Momentum kenaikan harga minyak terganggu pekan lalu akibat pertemuan OPEC+ terkait dengan nasib kelanjutan produksi ditinggalkan. Harga minyak menandai kerugian mingguan pertamanya sejak Mei. Struktur pasar bullish bagi komoditas minyak sedikit mereda akibat ketidakpastian yang berasal dari kartel minyak, OPEC+.
Adapun, pergerakan harga minyak kali ini sangat dibayangi oleh perkembangan penanganan Covid-19. Distribusi vaksin dan pemulihan ekonomi di sejumlah negara andalan, terutama Amerika Serikat berimbas pada kenaikan konsumsi.
Baca : Suntikan Vaksin Ketiga, Pfizer Tunggu Restu Otoritas AS
Di sisi lain, di beberapa negara pemulihan ekonomi masih terhambat penyebaran Covid-19 varian Delta. Covid-19 disebut masih menjadi sentimen yang memengaruhi pasar. Amerika Serikat melaporkan penambahan kasus baru karena varian Delta menyebar di wilayah dengan tingkat distribusi vaksin yang rendah.
Pemerintah Prancis turut memperingatkan warganya terhadap penyebaran varian baru sedangkan Inggris meminta warganya tetap waspada kendati pembatasan mobilitas secara bertahap diangkat.
Berbeda, sejumlah negara Asia seperti Indonesia, Thailand dan Malaysia masih mencetak penambahan kasus baru yang tinggi akibat penyebaran varian baru. Faktor lain yang turut menggerus prospek permintaan minyak yakni tanda pemulihan ekonomi di China yang melambat. Ekonomi China yang selalu diproyeksi pulih sejak pemulihan awal ternyata kali ini bakal menunjukkan kenyataan berbeda. Kalangan ekonom meramalkan bahwa ekonomi China bakal melandai lebih cepat dari ekspektasi.
“Data terus menunjukkan pertumbuhan kokoh dari sisi permintaan tetapi investor menjadi makin khawatir tentang potensi dampak kenaikan kasus Covid-19 varian baru,” ujar Senior Strategi Komoditas Australia & New Zealand Banking Group, Daniel Hynes.
The International Energy Agency (IEA) akan menyediakan gambaran pasar dari laporan bulanan pada Selasa (13/7/2021) dan OPEC merilis data bulanannya pada Kamis (15/7/2021).
Diubah oleh deganijo001 12-07-2021 17:08
jerrystreamer1 dan pakisal212 memberi reputasi
2
285
1
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita Luar Negeri
82.2KThread•21.2KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya