- Beranda
- Stories from the Heart
LEBIH BAIK AMNESIA
...
TS
aniedatannisha
LEBIH BAIK AMNESIA
"Benarkah itu, Zain?" Wanita paruh baya berperawakan gemuk itu tersenyum bahagia mendengar kabar baik dari putra bungsunya yang sudah lama bekerja di luar negeri, tepatnya di negara Qatar.
"Insya Allah, Umma. Tapi aku ada syarat. Umma harus berjanji akan memenuhi permintaanku itu."
"Kamu ini, diminta tinggal menetap di Indonesia supaya bisa deket sama orang tua saja kok, pake syarat segala."
"Hehe, boleh kan Umma aku ajukan syarat itu?"
"Apa itu, Nak?"
"Aku ingin menikah, Umma."
"Kamu mau menikah? Masya Allah, umma sangat bahagia mendengarnya, siapa gadis beruntung itu?"
"Dia salah satu anak asuh Umma."
"Siapa, Nak? Rasa-rasanya umma tak pernah tau kalau kamu ternyata naksir sama salah seorang anak gadis yang ada di Panti ini."
"Hehe, aku sudah lama suka dengannya, Umma. Hanya saja saat aku mendapat tugas ke Qatar, gadis itu masih bersekolah. Jadi aku memutuskan untuk menunggunya, semoga aku belum terlambat."
"Katakan pada umma, siapa gadis itu, Nak?"
"Gadis itu namanya Rain, Umma."
"Rain? Nuraini?"
"Aku tak tau nama lengkapnya siapa, hanya saja aku biasa memanggilnya dengan nama kecilnya yaitu Rain."
"Ya, dia adalah Nuraini. Anak almarhumah sahabat umma. Umma biasa memanggilnya Nur, namun orang-orang di sekitar panti memanggilnya dengan nama Rain."
"Iya, Umma dia adalah gadis yang selama ini aku sukai. Apakah dia sudah punya calon atau mungkin sudah ada yang mengkhitbahnya?"
"Setau umma, Nuraini tak memiliki teman dekat laki-laki, apalagi pacar. Dia anti hal-hal yang mendekati dalam dosa. Belum ada juga yang datang kepada Abahmu, untuk mengkhitbahnya. Anaknya selain cantik, dia juga shaleha, rajin dan sangat pintar memasak."
"Alhamdulillah, berarti aku memiliki peluang besar untuk diterima ya, umma?"
"Insya Allah, Nak. Nanti malam, umma akan mencoba bicara dengan abah."
"Baik, Umma. Kabari aku segera ya. Supaya aku bisa konfirmasi ke pihak kantor bahwa aku tak akan meneruskan kontrak untuk bekerja di Qatar lagi."
"Insya Allah, Nak. Secepatnya umma akan mengabarimu. Sehat-sehat ya kamu di sana, jangan tinggalkan shalat dan sempatkan diri untuk selalu mengaji."
"Insya Allah, Umma juga jaga kesehatan selalu, jangan capek-capek! Oh iya, Umm ... hampir saja aku lupa, tolong sampaikan kepada abah, agar beliau sekalian mencarikan tanggal yang baik, kalau memang Rain bersedia menerima khitbahanku nanti. Aku ingin menikah di bulan depan."
"Oalah, si Bungsu sudah ngebet kepingin nikah rupanya."
"Hehe, Umma bisa saja. Bukankah kalau untuk melakukan perkara yang baik harus disegerakan?"
"Betul itu, Nak."
"Jangan mengadakan acara resepsi yang mewah, Umm. Aku mau yang sederhana namun berkesan di hatiku dan hatinya istriku nanti."
"Baiklah, Nak. Umma akan segera mengabari kamu jika sudah ada jawaban dari Nak Nuraini."
"Semoga saja, Rain bersedia."
"Aamiin, apa perlu umma membuatnya setuju? Dia gadis yang penurut, apalagi ini menyangkut masa depannya. Sebenarnya ... umma sudah lama ingin menjodohkan kalian, tapi umma sangsi kamu tidak mau. Secara ini sudah bukan zamannya Siti Nurbaya."
"Hehe, Umma bisa saja. Ya sudah, kalau begitu aku mau melanjutkan pekerjaan lagi. Salam untuk Abah dan ... dan ...."
"Nuraini?"
"Hehe iya, Umm."
"Insya Allah, Nak."
"Terimakasih, Umma. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Nak." Umma Jamilah menutup telepon dengan wajah bahagia. Tak ingin membuang waktu, ia pun langsung menghubungi suaminya yang sedang berada di luar kota.
"Umma atur saja, temui Rain dan tanyakan apakah dia bersedia, jangan memaksanya ya! Siapa tau anak itu belum siap untuk menikah atau memang sedang melakukan ta'aruf dengan pria lain."
"Iya, Abah. Ya sudah kalau begitu, umma bicarakan hal ini sekarang juga."
"Iya, nanti kalau Abah sudah di rumah, kita bicarakan ini bersama."
"Iya, Bah. Assalamualaikum." Usai menutup panggilan, ibu dari delapan orang anak itu pun bergegas keluar rumahnya. Ia berlari menuju dapur umum, menjemput anak asuh yang ingin dikhitbah oleh putranya, Zain.
"Ikut Umma, Nuraini!" Wanita berusia lebih dari setengah abad itu, itu menarik lengan gadis berparas cantik yang tengah sibuk memotong-motong sayuran bersama sesama anak panti lain yang sebaya dengannya.
"Ada apa, Umma?" tanya gadis itu, sambil berjalan mengikuti ibu asuhnya.
Tanpa menjawab pertanyaan, Umma Jamilah membawa gadis itu ke ruang kantor panti dan kemudian mempersilahkannya untuk duduk.
"Maksud Umma membawamu kemari, euh ... euh ...." Sang ibu asuh menjeda ucapannya, ia berusaha mengatur kembali napasnya yang tersengal.
"Pelan-pelan saja, Umma. Nanti asmanya kambuh. Mau aku ambilkan air minum?"
"Nggak usah, Sayang. Umma baik-baik saja, kok. Ini hanya karena terlalu bersemangat saja. Jadi rasanya kepingin buru-buru sampai di ruangan ini. Umma ingin menyampaikan amanat dari Zain, putra bungsu umma yang kini sedang berada di Qatar."
"Kak Zain? Amanat apa, Umma?"
"Tadi dia telepon Umma, katanya dia ... dia ingin mengkhitbahmu."
Mata gadis yatim piatu itu terbelalak, seakan tak percaya dengan apa yang diucapkan wanita yang duduk di sampingnya.
"Apa Umma tidak salah orang? Mustahil Kak Zain mau mengkhitbahku, beliau kenal aku saja belum tentu, Umma."
"Umma tak mungkin salah orang, Nak. Zain jelas kok menyebut namamu di telepon. Tak diragukan lagi, kamu adalah wanita yang dimaksud oleh Zain."
"Aku rasa ada yang salah, Umma. Tak mungkin aku, pasti Umma salah mendengar."
"Tidak, Nak. Zain benar-benar ingin menikahimu. Apakah kamu bersedia?"
Kepala Rain mendongak menatap wanita yang selama ini mengasuh serta mengurusnya, ia terkejut bukan main.
"Kok kamu diam, Nak? Apakah kamu saat ini sedang ta'aruf dengan pria lain?"
Rain menggeleng.
"Lalu kenapa kamu diam begitu?"
"Maaf Umma, aku sangat terkejut. Apakah Umma serius dan tak sedang bercanda?"
"Ya Allah, Nur. Masa iya masalah masa depan putra umma dan kamu, Umma main-main. Umma serius, Nak!"
Gadis berkerudung hitam itu menunduk, tangannya mendadak dingin bagai sedang menggenggam sebongkah es batu.
"Kamu sudah punya calon ya, Nak?"
"Tidak, Umma."
"Lalu kenapa kamu diam?"
"Aku, ehm ... anu ... itu, aku bingung, apakah harus aku jawab sekarang juga?"
Umma Jamilah tersenyum, ia mengelus kepala gadis berusia dua puluh tahun itu. "Hmm, sebaiknya kamu melakukan shalat istikharah. Mintalah petunjuk kepada Allah."
"Baiklah, Umma. Aku akan melakukan apa yang Umma usulkan barusan. Semoga kami memang berjodoh, atas izin Allah tentunya."
"Aamiin, umma berharap kamu dan Zain berjodoh."
Rain tersenyum sekilas, dengan wajah masih tetap menunduk menatap lantai keramik putih yang dipijaknya.
"Aku merasa tak pantas untuk Kak Zain, Umm."
"Tak pantas kenapa?"
"Aku adalah hanya seorang anak yatim piatu, yang dibesarkan dan diasuh oleh umma. Rasa-rasanya, di luar sana banyak sekali wanita yang lebih baik, lebih terpelajar daripada aku yang bukan siapa-siapa."
"Jangan bicara begitu, Sayang! Kita semua di mata Allah sama, lagi pula umma dan abah sangat menyayangimu. Kamu adalah putri dari sahabat umma. Apalagi baktimu kepada kami dan panti ini sungguh luar biasa, kamu rela tidak mengambil beasiswa kuliah S1 demi bisa membantu Umma untuk mengurus anak-anak di sini. Kamu sangat pantas menjadi pendamping hidup Zain, kamu shaleha, sabar dan baik hati." Umma Jamilah meneteskan air mata, seraya memeluk anak asuhnya itu.
***
Ruang keluarga di dalam rumah bergaya kuno itu tampak hening, Rain duduk di sebuah sofa single berwarna kuning kecoklatan sembari memainkan ujung kerudung putihnya. Sementara di hadapannya, tampak pasangan suami istri yang tidak lain adalah kedua orang tua Zain. Mereka menunggu jawaban atas khitbahan sang putra, seminggu yang lalu.
"Jadi bagaimana, Nak?" tanya Abah Tiar.
"Aku ... aku, euh ... aku, sudah shalat istikharah Abah, Umma. Tapi ...."
"Tapi apa, Nak?" Umma Jamilah gusar, raut mukanya terlihat panik.
"Tapi sampai tadi malam, aku belum mendapatkan petunjuk apa-apa, Umma, Abah."
"Jadi ...?" Umma Jamilah tak meneruskan pertanyaannya, karena sang suami memberikan isyarat bahwa ia harus menutup mulutnya, dengan menempelkan jari telunjuk ke bibir. Dengan petuh, wanita berwajah bulat itu pun mengangguk.
"Nak, katakanlah apa keputusanmu! Kami tidak akan memaksa, karena kamu yang akan menjalani biduk rumah tangga ini. Abah dan Umma tidak kamu menerima khitabahan Zain atas dasar keterpaksaan atau karena merasa tidak enak. Berikan kami jawaban, yang sejalan dengan kata hatimu. Niatkan semuanya semata-mata hanya karena Allah." Ucapan Abah Tiar sungguh bijaksana. Membuat hati dan juga pikiran Rain sedikit terbuka. Untuk sejenak tampak gadis itu menarik nafas panjang, lalu membuangnya lewat mulut.
Ayah dan ibu asuhnya saling bertatapan satu sama lain. Mereka berusaha untuk bersikap tenang dan tak ingin memaksakan kehendak, kendati sebenarnya kedua orang tua paruh baya tersebut sangat menginginkan gadis yang duduk di hadapannya itu menjawab 'YA'.
Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya Rain pun telah mengambil keputusan. Dengan mengucap basmallah, ia pun mulai menuturkan keputusannya. "Abah, Umma ... aku ... aku ... bersedia menerima khitbahan Kak Zain," tukasnya lemah lembut, membuat dua orang tua yang sedari tadi harap-harap cemas pun tersenyum bahagia. "Hal ini, aku lakukan bukan karena aku tidak enak untuk menolak ataupun karena ingin membalas budi atas kebaikan Abah dan juga Umma yang sudah mencintai dan mengurusku semenjak kecil, hingga dewasa seperti sekarang ini. Aku menerima khitbahan ini, semata-mata karena Allah."
"Alhamdulillah." Abah Tiar dan istrinya kembali saling beradu pandang, tampak jelas rona bahagia terpancar jelas di wajah keduanya. Umma Jamilah beranjak dari sofa, langsung memeluk calon menantunya yang menangis haru di bahunya.
"Barokallah, alhamdulillah ya Allah, terimakasih karena Engkau memberikan hamba calon menantu yang shaleha dan penyayang seperti Nuraini," ucap ibunda Zain dengan mata berbinar.
"Terimakasih banyak, Nak." Abah Tiar menimpali sambil tersenyum lega.
Bulir bening atas rasa haru yang mendera hati pun menyeruak keluar di sudut mata gadis berparas cantik itu, seraya bibir mengucap rasa syukur atas karunia yang telah Allah limpahkan kepada dirinya.
***
Kabar gembira yang mengharukan itu telah sampai di telinga Zain yang berada jauh di negara orang. Lelaki lulusan S2 yang kini bekerja di sebuah perusahaan kimia besar dan ternama se-Asia Tenggara itu pun langsung menghadap atasannya untuk memnuntaskan kontrak kerjanya di negara tersebut.
Pihak management perusahaan tempat dimana Zain bekerja pun mengabulkan permintaannya, secara resmi pihak kantor mengabari bahwa bulan depan calon pengantin tersebut sudah boleh pulang dan kembali bekerja di anak perusahaan yang ada di Indonesia, tepatnya di sebuah kota di provinsi Banten, yaitu Cilegon.
Untuk segala persiapan pernikahan, ia menyerahkan segala sesuatunya kepada ayah dan juga ibunya. Berkas sebagai persyaratan untuk mengurus izin menikah ke kantor KUA pun diurus oleh Abah Tiar.
Untuk tema dan konsep acara sakralnya, Zain menyerahkan sepenuhnya kepada sang ibu dan kakak-kakak perempuannya. Dengan antusias Umma Jamilah menceritakan semua persiapan yang telah dilakukan kepada putranya melalui sambungan telepon.
"Terimakasih banyak, Umma. Maafkan aku merepotkan kalian."
"Tidak sama sekali, Nak. Kami sangat bahagia dan senang melakukannya."
"Aku tak sabar menunggu hari itu, semog Allah memberikan kita kesehatan serta umur panjang, sehingga kita semua dapat berkumpul di acara yang sangat membahagiakan itu."
"Aamiin ya Allah, kamu harus jaga kesehatanmu, Nak. Jangan telat makan dan jaga kondisi tubuh agar selalu prima dan fit."
"Baik, Umma. Oh iya, Umm ... bolehkah aku bicara dengan calon istriku?"
"Mau video call?"
"Tak usah, Umma. Kalau video call, aku malu dan nanti malah bingung mau bicara apa. Hehe."
"Baiklah, tunggu sebentar ya, jangan putuskan sambungan teleponnya, Umma akan ke kamarnya Nuraini."
"Iya, Umma. Makasih ya."
"Iya, Nak."
Umma Jamilah pun berlari tergopoh menuju kamar Rain, sesampainya di sana ia langsung mengetuk pintu dan berteriak memanggil nama calon menantunya. "Nurainii, keluar sebentar Nak!"
Sang calon pengantin yang tengah asik membaca cerita bersambung di salah satu grup literasi besar dan ternama di media sosial facebook yaitu KBM melalui ponselnya itu langsung mengenakan kerudung, dan segera beranjak dari kursi yang didudukinya.
"Ada apa Umma?" tanyanya membuka pintu kamar lebar-lebar.
Wanita paruh baya bertubuh tinggi itu menyodorkan ponselnya kepada gadis di depannya sambil tersenyum, "Zain mau bicara denganmu, Nuraini."
Mendengar nama lelaki yang akan menikahinya disebut, jantung Rain langsung bertalu-talu, apalagi untuk pertama kalinya ia harus berinteraksi langsung meskipun hanya lewat telepon, hal itu membuatnya sangat gugup. Dengan tangan gemetaran, ia menerima benda pipih hitam berukuran 5 inchi itu, lalu berpamitan kepada calon ibu mertuanya itu untuk masuk ke dalam kamarnya. Umma Jamilah mengangguk dan berlalu pergi.
Di dalam kamarnya, Rain duduk sambil menatap layar ponsel, di sana tertera nama calon suaminya. Tungkai kakinya terasa lemas, napasnya terasa sesak, ia tahu harus bicara apa kepada lelaki yang sedang menunggu responnya di ujung telepon sana.
"As .. as-salamualaikum," salam Rain dengan bibir bergetar.
"Waalaikumsalam, ini aku Zain."
"I-iya, Kak Zain."
"Aku ganggu kamu nggak?"
"Eng-nggak kok, Kak."
"Rain ... terimakasih ya!"
"Ter-terimakasih untuk apa, Kak?"
"Untuk kesediaanmu menrima khitbahanku. Aku sangat bahagia."
"I-iya, Kak. Tapi ...."
"Tapi, apa?"
"Apakah ... apakah Kak Zain tak salah pilih?"
"Tak mungkin aku salah pilih, aku sudah lama memendam perasaan suka padamu, Rain. Beruntungnya aku, kamu belum ada yang punya. Padahal aku sudah khawatir kalau kamu sedang menjalani ta'aruf dengan pria lain atau bahkan sudah dikhitbah orang lain, hehe."
Bibir tipis sang gadis pun melengkung manis, pipinya merah merona tersipu malu atas ucapan sang calon suami yang menyentuh hati tersebut.
"Tidak akan menyesalkah Kak Zain menikahi aku? Kak Zain kan belum mengenal aku, bagaimana dan seperti apa aku. Aku takut nanti tak bisa menjadi istri yang baik untukmu, Kak."
"Insya Allah tidak, Rain. Aku sudah mantap memilihmu."
"Alhamdulillah, terimakasih Kak."
"Apakah kamu bahagia, Rain?"
Rain mengangguk, seolah-olah calon suaminya itu bisa melihat isyarat tubuh yang dilakukannya barusan.
"Loh, kok kamu diam?"
"Aku udah ngangguk kok barusan."
"Aku nggak tau, aku nggak bisa lihat kamu ngangguk kamu. Hehe, Rain ... Rain, ada-ada aja."
Rona wajah cantik itu merona, giginya yang putih tampak berderet rapi saat bibirnya tersenyum lebar.
"Ya sudah, kalau begitu udahan dulu ya teleponnya. Tunggu aku pulang, di hari yang sakral itu, insya Allah aku akan berikrar janji suci, mengucap ijab atas namamu di depan penghulu dan keluarga besarku."
Lagi-lagi Rain mengangguk, membuat Zain kembali tertawa.
"Selamat istirahat ya, Rain. Jawab aku dengan suara, jangan dengan anggukan lagi, hehe."
"Hehe, iya Kak."
"Aku tutup ya sambungan teleponnya, assalamualaikum."
"Wa-waalaikumsalam," seru Rain, menempelkan ponsel di atas dadanya. Bibirnya tak bisa berhenti tersenyum. Suasana hatinya menjadi haru biru, tak terasa matanya yang indah itu mengembun, menahan haru yang menyelimuti kalbu.
Malam itu menjadi malam yang paling indah bagi gadis berambut panjang sebahu itu, suara barito itu kembali terngiang di telinganya. Hatinya berbunga-bunga karena sebentar lagi ia akan bersanding dengan lelaki shaleh dan baik seperti Zain.
Ia tak henti mengucap syukur karena Allah mengirimkan sosok calon suami yang mungkin menjadi dambaan semua perempuan, Rain menjadi wanita yang paling beruntung. Betapa tidak, anak asuh gadis yang sudah menginjak usia dewasa di panti milik calon mertuanya itu bukan hanya dia saja, tapi pilihan lelaki itu jatuh kepada dirinya. Hal tersebut sungguh tak pernah disangka-sangka olehnya.
Kebahagiaannya pun semakin lengkap dengan penuhnya dukungan yang diberikan oleh seluruh keluarga besar calon suaminya, terutama calon ayah dan ibu mertuanya sangat sayang kepada dirinya. Mereka memperlakukan Rain layaknya seperti putri kandung, karena gadis itu adalah amanat yang dititpkan oleh almarhumah ibunya kepada Umma Jamilah.
"Insya Allah, Umma. Tapi aku ada syarat. Umma harus berjanji akan memenuhi permintaanku itu."
"Kamu ini, diminta tinggal menetap di Indonesia supaya bisa deket sama orang tua saja kok, pake syarat segala."
"Hehe, boleh kan Umma aku ajukan syarat itu?"
"Apa itu, Nak?"
"Aku ingin menikah, Umma."
"Kamu mau menikah? Masya Allah, umma sangat bahagia mendengarnya, siapa gadis beruntung itu?"
"Dia salah satu anak asuh Umma."
"Siapa, Nak? Rasa-rasanya umma tak pernah tau kalau kamu ternyata naksir sama salah seorang anak gadis yang ada di Panti ini."
"Hehe, aku sudah lama suka dengannya, Umma. Hanya saja saat aku mendapat tugas ke Qatar, gadis itu masih bersekolah. Jadi aku memutuskan untuk menunggunya, semoga aku belum terlambat."
"Katakan pada umma, siapa gadis itu, Nak?"
"Gadis itu namanya Rain, Umma."
"Rain? Nuraini?"
"Aku tak tau nama lengkapnya siapa, hanya saja aku biasa memanggilnya dengan nama kecilnya yaitu Rain."
"Ya, dia adalah Nuraini. Anak almarhumah sahabat umma. Umma biasa memanggilnya Nur, namun orang-orang di sekitar panti memanggilnya dengan nama Rain."
"Iya, Umma dia adalah gadis yang selama ini aku sukai. Apakah dia sudah punya calon atau mungkin sudah ada yang mengkhitbahnya?"
"Setau umma, Nuraini tak memiliki teman dekat laki-laki, apalagi pacar. Dia anti hal-hal yang mendekati dalam dosa. Belum ada juga yang datang kepada Abahmu, untuk mengkhitbahnya. Anaknya selain cantik, dia juga shaleha, rajin dan sangat pintar memasak."
"Alhamdulillah, berarti aku memiliki peluang besar untuk diterima ya, umma?"
"Insya Allah, Nak. Nanti malam, umma akan mencoba bicara dengan abah."
"Baik, Umma. Kabari aku segera ya. Supaya aku bisa konfirmasi ke pihak kantor bahwa aku tak akan meneruskan kontrak untuk bekerja di Qatar lagi."
"Insya Allah, Nak. Secepatnya umma akan mengabarimu. Sehat-sehat ya kamu di sana, jangan tinggalkan shalat dan sempatkan diri untuk selalu mengaji."
"Insya Allah, Umma juga jaga kesehatan selalu, jangan capek-capek! Oh iya, Umm ... hampir saja aku lupa, tolong sampaikan kepada abah, agar beliau sekalian mencarikan tanggal yang baik, kalau memang Rain bersedia menerima khitbahanku nanti. Aku ingin menikah di bulan depan."
"Oalah, si Bungsu sudah ngebet kepingin nikah rupanya."
"Hehe, Umma bisa saja. Bukankah kalau untuk melakukan perkara yang baik harus disegerakan?"
"Betul itu, Nak."
"Jangan mengadakan acara resepsi yang mewah, Umm. Aku mau yang sederhana namun berkesan di hatiku dan hatinya istriku nanti."
"Baiklah, Nak. Umma akan segera mengabari kamu jika sudah ada jawaban dari Nak Nuraini."
"Semoga saja, Rain bersedia."
"Aamiin, apa perlu umma membuatnya setuju? Dia gadis yang penurut, apalagi ini menyangkut masa depannya. Sebenarnya ... umma sudah lama ingin menjodohkan kalian, tapi umma sangsi kamu tidak mau. Secara ini sudah bukan zamannya Siti Nurbaya."
"Hehe, Umma bisa saja. Ya sudah, kalau begitu aku mau melanjutkan pekerjaan lagi. Salam untuk Abah dan ... dan ...."
"Nuraini?"
"Hehe iya, Umm."
"Insya Allah, Nak."
"Terimakasih, Umma. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Nak." Umma Jamilah menutup telepon dengan wajah bahagia. Tak ingin membuang waktu, ia pun langsung menghubungi suaminya yang sedang berada di luar kota.
"Umma atur saja, temui Rain dan tanyakan apakah dia bersedia, jangan memaksanya ya! Siapa tau anak itu belum siap untuk menikah atau memang sedang melakukan ta'aruf dengan pria lain."
"Iya, Abah. Ya sudah kalau begitu, umma bicarakan hal ini sekarang juga."
"Iya, nanti kalau Abah sudah di rumah, kita bicarakan ini bersama."
"Iya, Bah. Assalamualaikum." Usai menutup panggilan, ibu dari delapan orang anak itu pun bergegas keluar rumahnya. Ia berlari menuju dapur umum, menjemput anak asuh yang ingin dikhitbah oleh putranya, Zain.
"Ikut Umma, Nuraini!" Wanita berusia lebih dari setengah abad itu, itu menarik lengan gadis berparas cantik yang tengah sibuk memotong-motong sayuran bersama sesama anak panti lain yang sebaya dengannya.
"Ada apa, Umma?" tanya gadis itu, sambil berjalan mengikuti ibu asuhnya.
Tanpa menjawab pertanyaan, Umma Jamilah membawa gadis itu ke ruang kantor panti dan kemudian mempersilahkannya untuk duduk.
"Maksud Umma membawamu kemari, euh ... euh ...." Sang ibu asuh menjeda ucapannya, ia berusaha mengatur kembali napasnya yang tersengal.
"Pelan-pelan saja, Umma. Nanti asmanya kambuh. Mau aku ambilkan air minum?"
"Nggak usah, Sayang. Umma baik-baik saja, kok. Ini hanya karena terlalu bersemangat saja. Jadi rasanya kepingin buru-buru sampai di ruangan ini. Umma ingin menyampaikan amanat dari Zain, putra bungsu umma yang kini sedang berada di Qatar."
"Kak Zain? Amanat apa, Umma?"
"Tadi dia telepon Umma, katanya dia ... dia ingin mengkhitbahmu."
Mata gadis yatim piatu itu terbelalak, seakan tak percaya dengan apa yang diucapkan wanita yang duduk di sampingnya.
"Apa Umma tidak salah orang? Mustahil Kak Zain mau mengkhitbahku, beliau kenal aku saja belum tentu, Umma."
"Umma tak mungkin salah orang, Nak. Zain jelas kok menyebut namamu di telepon. Tak diragukan lagi, kamu adalah wanita yang dimaksud oleh Zain."
"Aku rasa ada yang salah, Umma. Tak mungkin aku, pasti Umma salah mendengar."
"Tidak, Nak. Zain benar-benar ingin menikahimu. Apakah kamu bersedia?"
Kepala Rain mendongak menatap wanita yang selama ini mengasuh serta mengurusnya, ia terkejut bukan main.
"Kok kamu diam, Nak? Apakah kamu saat ini sedang ta'aruf dengan pria lain?"
Rain menggeleng.
"Lalu kenapa kamu diam begitu?"
"Maaf Umma, aku sangat terkejut. Apakah Umma serius dan tak sedang bercanda?"
"Ya Allah, Nur. Masa iya masalah masa depan putra umma dan kamu, Umma main-main. Umma serius, Nak!"
Gadis berkerudung hitam itu menunduk, tangannya mendadak dingin bagai sedang menggenggam sebongkah es batu.
"Kamu sudah punya calon ya, Nak?"
"Tidak, Umma."
"Lalu kenapa kamu diam?"
"Aku, ehm ... anu ... itu, aku bingung, apakah harus aku jawab sekarang juga?"
Umma Jamilah tersenyum, ia mengelus kepala gadis berusia dua puluh tahun itu. "Hmm, sebaiknya kamu melakukan shalat istikharah. Mintalah petunjuk kepada Allah."
"Baiklah, Umma. Aku akan melakukan apa yang Umma usulkan barusan. Semoga kami memang berjodoh, atas izin Allah tentunya."
"Aamiin, umma berharap kamu dan Zain berjodoh."
Rain tersenyum sekilas, dengan wajah masih tetap menunduk menatap lantai keramik putih yang dipijaknya.
"Aku merasa tak pantas untuk Kak Zain, Umm."
"Tak pantas kenapa?"
"Aku adalah hanya seorang anak yatim piatu, yang dibesarkan dan diasuh oleh umma. Rasa-rasanya, di luar sana banyak sekali wanita yang lebih baik, lebih terpelajar daripada aku yang bukan siapa-siapa."
"Jangan bicara begitu, Sayang! Kita semua di mata Allah sama, lagi pula umma dan abah sangat menyayangimu. Kamu adalah putri dari sahabat umma. Apalagi baktimu kepada kami dan panti ini sungguh luar biasa, kamu rela tidak mengambil beasiswa kuliah S1 demi bisa membantu Umma untuk mengurus anak-anak di sini. Kamu sangat pantas menjadi pendamping hidup Zain, kamu shaleha, sabar dan baik hati." Umma Jamilah meneteskan air mata, seraya memeluk anak asuhnya itu.
***
Ruang keluarga di dalam rumah bergaya kuno itu tampak hening, Rain duduk di sebuah sofa single berwarna kuning kecoklatan sembari memainkan ujung kerudung putihnya. Sementara di hadapannya, tampak pasangan suami istri yang tidak lain adalah kedua orang tua Zain. Mereka menunggu jawaban atas khitbahan sang putra, seminggu yang lalu.
"Jadi bagaimana, Nak?" tanya Abah Tiar.
"Aku ... aku, euh ... aku, sudah shalat istikharah Abah, Umma. Tapi ...."
"Tapi apa, Nak?" Umma Jamilah gusar, raut mukanya terlihat panik.
"Tapi sampai tadi malam, aku belum mendapatkan petunjuk apa-apa, Umma, Abah."
"Jadi ...?" Umma Jamilah tak meneruskan pertanyaannya, karena sang suami memberikan isyarat bahwa ia harus menutup mulutnya, dengan menempelkan jari telunjuk ke bibir. Dengan petuh, wanita berwajah bulat itu pun mengangguk.
"Nak, katakanlah apa keputusanmu! Kami tidak akan memaksa, karena kamu yang akan menjalani biduk rumah tangga ini. Abah dan Umma tidak kamu menerima khitabahan Zain atas dasar keterpaksaan atau karena merasa tidak enak. Berikan kami jawaban, yang sejalan dengan kata hatimu. Niatkan semuanya semata-mata hanya karena Allah." Ucapan Abah Tiar sungguh bijaksana. Membuat hati dan juga pikiran Rain sedikit terbuka. Untuk sejenak tampak gadis itu menarik nafas panjang, lalu membuangnya lewat mulut.
Ayah dan ibu asuhnya saling bertatapan satu sama lain. Mereka berusaha untuk bersikap tenang dan tak ingin memaksakan kehendak, kendati sebenarnya kedua orang tua paruh baya tersebut sangat menginginkan gadis yang duduk di hadapannya itu menjawab 'YA'.
Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya Rain pun telah mengambil keputusan. Dengan mengucap basmallah, ia pun mulai menuturkan keputusannya. "Abah, Umma ... aku ... aku ... bersedia menerima khitbahan Kak Zain," tukasnya lemah lembut, membuat dua orang tua yang sedari tadi harap-harap cemas pun tersenyum bahagia. "Hal ini, aku lakukan bukan karena aku tidak enak untuk menolak ataupun karena ingin membalas budi atas kebaikan Abah dan juga Umma yang sudah mencintai dan mengurusku semenjak kecil, hingga dewasa seperti sekarang ini. Aku menerima khitbahan ini, semata-mata karena Allah."
"Alhamdulillah." Abah Tiar dan istrinya kembali saling beradu pandang, tampak jelas rona bahagia terpancar jelas di wajah keduanya. Umma Jamilah beranjak dari sofa, langsung memeluk calon menantunya yang menangis haru di bahunya.
"Barokallah, alhamdulillah ya Allah, terimakasih karena Engkau memberikan hamba calon menantu yang shaleha dan penyayang seperti Nuraini," ucap ibunda Zain dengan mata berbinar.
"Terimakasih banyak, Nak." Abah Tiar menimpali sambil tersenyum lega.
Bulir bening atas rasa haru yang mendera hati pun menyeruak keluar di sudut mata gadis berparas cantik itu, seraya bibir mengucap rasa syukur atas karunia yang telah Allah limpahkan kepada dirinya.
***
Kabar gembira yang mengharukan itu telah sampai di telinga Zain yang berada jauh di negara orang. Lelaki lulusan S2 yang kini bekerja di sebuah perusahaan kimia besar dan ternama se-Asia Tenggara itu pun langsung menghadap atasannya untuk memnuntaskan kontrak kerjanya di negara tersebut.
Pihak management perusahaan tempat dimana Zain bekerja pun mengabulkan permintaannya, secara resmi pihak kantor mengabari bahwa bulan depan calon pengantin tersebut sudah boleh pulang dan kembali bekerja di anak perusahaan yang ada di Indonesia, tepatnya di sebuah kota di provinsi Banten, yaitu Cilegon.
Untuk segala persiapan pernikahan, ia menyerahkan segala sesuatunya kepada ayah dan juga ibunya. Berkas sebagai persyaratan untuk mengurus izin menikah ke kantor KUA pun diurus oleh Abah Tiar.
Untuk tema dan konsep acara sakralnya, Zain menyerahkan sepenuhnya kepada sang ibu dan kakak-kakak perempuannya. Dengan antusias Umma Jamilah menceritakan semua persiapan yang telah dilakukan kepada putranya melalui sambungan telepon.
"Terimakasih banyak, Umma. Maafkan aku merepotkan kalian."
"Tidak sama sekali, Nak. Kami sangat bahagia dan senang melakukannya."
"Aku tak sabar menunggu hari itu, semog Allah memberikan kita kesehatan serta umur panjang, sehingga kita semua dapat berkumpul di acara yang sangat membahagiakan itu."
"Aamiin ya Allah, kamu harus jaga kesehatanmu, Nak. Jangan telat makan dan jaga kondisi tubuh agar selalu prima dan fit."
"Baik, Umma. Oh iya, Umm ... bolehkah aku bicara dengan calon istriku?"
"Mau video call?"
"Tak usah, Umma. Kalau video call, aku malu dan nanti malah bingung mau bicara apa. Hehe."
"Baiklah, tunggu sebentar ya, jangan putuskan sambungan teleponnya, Umma akan ke kamarnya Nuraini."
"Iya, Umma. Makasih ya."
"Iya, Nak."
Umma Jamilah pun berlari tergopoh menuju kamar Rain, sesampainya di sana ia langsung mengetuk pintu dan berteriak memanggil nama calon menantunya. "Nurainii, keluar sebentar Nak!"
Sang calon pengantin yang tengah asik membaca cerita bersambung di salah satu grup literasi besar dan ternama di media sosial facebook yaitu KBM melalui ponselnya itu langsung mengenakan kerudung, dan segera beranjak dari kursi yang didudukinya.
"Ada apa Umma?" tanyanya membuka pintu kamar lebar-lebar.
Wanita paruh baya bertubuh tinggi itu menyodorkan ponselnya kepada gadis di depannya sambil tersenyum, "Zain mau bicara denganmu, Nuraini."
Mendengar nama lelaki yang akan menikahinya disebut, jantung Rain langsung bertalu-talu, apalagi untuk pertama kalinya ia harus berinteraksi langsung meskipun hanya lewat telepon, hal itu membuatnya sangat gugup. Dengan tangan gemetaran, ia menerima benda pipih hitam berukuran 5 inchi itu, lalu berpamitan kepada calon ibu mertuanya itu untuk masuk ke dalam kamarnya. Umma Jamilah mengangguk dan berlalu pergi.
Di dalam kamarnya, Rain duduk sambil menatap layar ponsel, di sana tertera nama calon suaminya. Tungkai kakinya terasa lemas, napasnya terasa sesak, ia tahu harus bicara apa kepada lelaki yang sedang menunggu responnya di ujung telepon sana.
"As .. as-salamualaikum," salam Rain dengan bibir bergetar.
"Waalaikumsalam, ini aku Zain."
"I-iya, Kak Zain."
"Aku ganggu kamu nggak?"
"Eng-nggak kok, Kak."
"Rain ... terimakasih ya!"
"Ter-terimakasih untuk apa, Kak?"
"Untuk kesediaanmu menrima khitbahanku. Aku sangat bahagia."
"I-iya, Kak. Tapi ...."
"Tapi, apa?"
"Apakah ... apakah Kak Zain tak salah pilih?"
"Tak mungkin aku salah pilih, aku sudah lama memendam perasaan suka padamu, Rain. Beruntungnya aku, kamu belum ada yang punya. Padahal aku sudah khawatir kalau kamu sedang menjalani ta'aruf dengan pria lain atau bahkan sudah dikhitbah orang lain, hehe."
Bibir tipis sang gadis pun melengkung manis, pipinya merah merona tersipu malu atas ucapan sang calon suami yang menyentuh hati tersebut.
"Tidak akan menyesalkah Kak Zain menikahi aku? Kak Zain kan belum mengenal aku, bagaimana dan seperti apa aku. Aku takut nanti tak bisa menjadi istri yang baik untukmu, Kak."
"Insya Allah tidak, Rain. Aku sudah mantap memilihmu."
"Alhamdulillah, terimakasih Kak."
"Apakah kamu bahagia, Rain?"
Rain mengangguk, seolah-olah calon suaminya itu bisa melihat isyarat tubuh yang dilakukannya barusan.
"Loh, kok kamu diam?"
"Aku udah ngangguk kok barusan."
"Aku nggak tau, aku nggak bisa lihat kamu ngangguk kamu. Hehe, Rain ... Rain, ada-ada aja."
Rona wajah cantik itu merona, giginya yang putih tampak berderet rapi saat bibirnya tersenyum lebar.
"Ya sudah, kalau begitu udahan dulu ya teleponnya. Tunggu aku pulang, di hari yang sakral itu, insya Allah aku akan berikrar janji suci, mengucap ijab atas namamu di depan penghulu dan keluarga besarku."
Lagi-lagi Rain mengangguk, membuat Zain kembali tertawa.
"Selamat istirahat ya, Rain. Jawab aku dengan suara, jangan dengan anggukan lagi, hehe."
"Hehe, iya Kak."
"Aku tutup ya sambungan teleponnya, assalamualaikum."
"Wa-waalaikumsalam," seru Rain, menempelkan ponsel di atas dadanya. Bibirnya tak bisa berhenti tersenyum. Suasana hatinya menjadi haru biru, tak terasa matanya yang indah itu mengembun, menahan haru yang menyelimuti kalbu.
Malam itu menjadi malam yang paling indah bagi gadis berambut panjang sebahu itu, suara barito itu kembali terngiang di telinganya. Hatinya berbunga-bunga karena sebentar lagi ia akan bersanding dengan lelaki shaleh dan baik seperti Zain.
Ia tak henti mengucap syukur karena Allah mengirimkan sosok calon suami yang mungkin menjadi dambaan semua perempuan, Rain menjadi wanita yang paling beruntung. Betapa tidak, anak asuh gadis yang sudah menginjak usia dewasa di panti milik calon mertuanya itu bukan hanya dia saja, tapi pilihan lelaki itu jatuh kepada dirinya. Hal tersebut sungguh tak pernah disangka-sangka olehnya.
Kebahagiaannya pun semakin lengkap dengan penuhnya dukungan yang diberikan oleh seluruh keluarga besar calon suaminya, terutama calon ayah dan ibu mertuanya sangat sayang kepada dirinya. Mereka memperlakukan Rain layaknya seperti putri kandung, karena gadis itu adalah amanat yang dititpkan oleh almarhumah ibunya kepada Umma Jamilah.
69banditos dan 4 lainnya memberi reputasi
5
2.6K
35
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.9KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya