UMKM Marak GO Digital, Bisnis Startup Akutansi Kian Sintal
TS
deganijo001
UMKM Marak GO Digital, Bisnis Startup Akutansi Kian Sintal
Bisnis, JAKARTA— Vertikal akuntansi menjadi primadona baru di industri startup, seiring dengan makin intensifnya dorongan pemerintah untuk mendorong pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) go digital. Bendahara Asosiasi Modal Ventura dan Startup Indonesia (Amvesindo) Edward Ismawan Chamdani mengatakan akuntansi merupakan salah satu lini industri startup yang paling prospektif tahun ini, tecermin dari maraknya pendanaan yang mengalir ke sektor tersebut.
Misalnya, BukuWarung yang belum lama ini meraih pendanaan Series A senilai US$ 60 juta atau setara Rp870 miliar dan BukuKas yang juga mendapatkan pendanaan Seri B sebesar US$50 juta (setara Rp709 miliar).
“Artinya, pemodal pun melihat peluang besar bagi startup [di sektor] ini untuk menjawab target pemerintah menciptakan UMKM go digital dan lahirnya startup-startup baru di Tanah Air,” ujarnya, Minggu (13/6/2021).
Menurutnya, agar perusahaan rintisan di bidang akuntansi terus bertumbuh, para pemain di vertikal tersebut perlu fokus pada strategi pemilihan segmentasi akunting yang menyesuaikan dengan kebutuhan UMKM.
“Misalnya seperti pencatatan di depan atau point of sales dahulu sebelum masuk ke proses pembukuan yang lebih lengkap dan kompleks agar bisa menjadi pintu adopsi yang baik,” katanya.
Bagaimanapun, Edward menilai kendala yang menghambat prospek bisnis startup akuntansi adalah rendahnya literasi keuangan pelaku UMKM, sehingga dibutuhkan pola interaksi dan fitur yang mudah serta sederhana.
“Contohnya Bukukas yang fokus hanya di pencatatan keluar masuk dana, sangat sederhana, tetapi potensi pangkalan data konsumen dan kebiasaan mereka langsung terdaftar. Potensi inovasi yang bisa dikulik startup ini masih banyak, dan hal bisa dianalisa agar menjadi bisnis turunan,” tuturnya.
Koordinator Pusat Inovasi dan Inkubator Bisnis Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Dianta Sebayang sepakat bahwa disiplin ilmu akuntansi dan keuangan masih sedikit dikuasai oleh UMKM dan sejumlah startup.
“Masih ada ruang besar bagi startup akuntansi untuk bertumbuh karena memang masih banyak masalah besar di banyak perusahaan, apalagi di sektor UMKM terkait dengan pengelolaan keuangan,” katanya.
Dia menambahkan saat ini terdapat ragam peranti lunak (software) yang mendukung kebutuhan pencatatan keuangan, mulai dari Zahir, MYOB, dan SAP. Namun, target pangsa pasar dari perangkat lunak tersebut masih dominan mengarah ke perusahaan besar. Alhasil, dia meyakini fenomena tersebut memberikan peluang bahwa masih ada gap dan ruang yang bisa diisi sehingga Dianta optimistis model startup ini bisa bertumbuh bahkan di atas 20% pada tahun ini.
“Karena saat ini yang ada baru beberapa startup yang baru berfokus kepada pencatatan keuangan UMKM, kuenya masih besar. Dengan laporan keuangan yang sudah baik, maka akan memudahkan UMKM mendapatkan kredit maupun investasi dari pihak luar, karena langsung match SOP Perbankan,” ujarnya.
Berdasarkan data Institut Akuntan Publik Indonesia (IAPI), pertumbuhan akuntan publik dari 2018—2020 terus mengalami kenaikan. Pada 2018, jumlah akuntan publik di Indonesia adalah 1.358 dan bertumbuh 66 orang menjadi 1.424 serta kembali bertambah sebanyak 5 orang pada 2020 menjadi 1.429.
Dari sisi pelaku startup bidang akuntansi, PT Bits Miliartha (BeeAccounting) optimis 2021 memberikan pertumbuhan bisnis yang signifikan salah satunya karena dorongan pandemi Covid-19. Product Specialist Bee Software Akuntansi Rizki Kurniawan mengatakan realisasi bisnis perusahaan sepanjang pandemi Covid-19 cukup diluar dugaan di mana omzet mereka melesat hingga nyaris menyentuh 200%.
“Banyaknya pekerja yang bekerja dari rumah (WFH), bahkan WFA (work from anywhere) membuat penjualan produk akuntansi daring justru makin banyak diburu oleh pengusaha sehingga omzet kami melejit hampir 200%,” ujarnya.
Dia melanjutkan pangsa pasar mereka paling banyak saat ini berada di sektor belanja daring, distributor, startup makanan dan minuman, ritel, dan manufaktur. Cuan juga dirasakan oleh Warung Pintar, yang mengeklaim sanggup mengakselerasi pertumbuhan bisnis mereka pada 2021.
CEO Warung Pintar Group Agung Bezharie Hadinegoro mengatakan pada awal pandemi, 93% mitra mereka yang lebih dikenal sebagai Juragan Warung Pintar sempat mengalami penurunan pendapatan hingga 28%.
“Namun, pada pertengahan 2020, kami membuka akses untuk menjangkau konsumen secara daring melalui kerja sama dengan GrabMart sehingga kami tidak terpengaruh dengan adanya pembatasan fisik di tengah pandemi. Bahkan, terjadi peningkatan pendapatan harian para pemilik warung mencapai 20%—34%,” jelasnya.
Selanjutnya, dia mengatakan Warung Pintar turut bekerja sama dengan BukuWarung. Kolaborasi tersebut membukakan akses bagi Juragan Warung Pintar untuk dapat melakukan pencatatan dan pembukuan dengan produk BukuWarung. Dia meyakini dengan terus memperkuat sistem rantai pasok dan mengembangkan produk maupun layanan yang tepat guna sebagai bentuk adaptasi, perusahaan tidak hanya menghadirkan efisiensi, tetapi juga memberi nilai tambah bagi seluruh pihak di ekosistem bisnis mereka.
“Nilai-nilai inilah yang kami yakini terus membawa Warung Pintar Group berkembang sangat pesat, mulai dari 5.000 warung pada awal 2020 hingga 500.000 warung pada pertengahan 2021 ini,” katanya.
Hingga saat ini, dia menyebutkan terdapat lebih dari 100,000 pemilik warung aktif berbelanja di Aplikasi Warung Pintar dan turut memperoleh akses untuk menggunakan Catatan Pintar maupun POS lewat aplikasi.
“Visi kami, Catatan Pintar dan POS memungkinkan warung untuk memiliki sistem pembukuan yang rapi dan transparan agar dapat mudah memperoleh akses ke produk finansial di masa mendatang,” ujarnya.
Spoiler for Laris Manis:
Laris Manis
Pemain startup akuntansi lainnya, Buku Warung, juga optimistis bisnis platform pembukuan untuk UMKM akan makin laris manis dalam beberapa tahun ke depan.
CEO and Co-Founder BukuWarung Abhinay Peddisetty mengatakan dalam waktu kurang dari 6 bulan sejak berdiri, perusahaan memproses transaksi pembayaran tahunan senilai US$1,4 miliar.
“Ini membuat kami menguasai 90% pangsa pasar dan membuat kami juga tumbuh 10 kali lipat lebih besar dibandingkan dengan kompetitor kami,” ujarnya.
Abhinay juga mengatakan hingga saat ini BukuWarung telah melayani 6,5 juta pedagang UMKM di seluruh Indonesia. Perusahaan bahkan membidik volume transaksi tahunan senilai US$ 10 miliar pada 2022.
“Strategi kami adalah untuk tidak pernah berpikir harus mengalahkan kompetitor. Namun, pengadaan produk yang cepat dengan strategi yang tepat dan memperkuat keterlibatan para pedagang, mengumpulkan data yang lengkap, serta membuka layanan keuangan bagi UMKM.”
Sekadar catatan, belum lama ini BukuWarung turut meraih pendanaan Series A senilai US$ 60 juta atau setara Rp870 miliar. Dia mengatakan dengan putaran pendanaan baru ini, Buku Warung berencana meningkatkan teknologi dan kemampuan produk perusahaan di seluruh produk utama yang mereka tawarkan, antara lain pembukuan, pembayaran digital, dan perdagangan produk. Adapun, startup berbasis piranti lunak akuntansi, Zahir, menilai 2021 adalah tahun yang tepat untuk menembus pasar enterprise.
“[Zahir] optimis karena pada tahun lalu, kami tetap mengalami pertumbuhan yang luar biasa. Tahun ini [pada segmen] market enterprise kita punya target dan optimis [Pertumbuhan bisnis] Zahir bisa tembus 90% di market enterprise saja,” kata CEO Zahir International Muhamad Ismail.
Ismail mengatakan strategi yang paling utama dilakukan adalah dengan fokus di market enterprise dan industri-industri yang masih terus tumbuh di tengah pandemi Covid-19.
“[Misalnya] pada industri manufaktur, di mana Zahir masih punya peluang di sana. Lalu industri kreatif seperti kosmetik, fesyen itu juga masih tumbuh. Kalau [membicarakan] soal Zahir kita punya tiga segmen market, yakni small business, small to mid-size business, dan yang terakhir mid to enterprise business,” tuturnya.
Saat ini, dia mengatakan bahwa pendapatan terbesar Zahir datang dari small to mid-size dan mid to enterprise business, dan mereka akan berfokus untuk kedua pasar tersebut pada 2021.