• Beranda
  • ...
  • The Lounge
  • “Maniliak Bulan” Tradisi Melihat Bulan Sebelum Puasa Nagari Ulakan

rizuki77Avatar border
TS
rizuki77
“Maniliak Bulan” Tradisi Melihat Bulan Sebelum Puasa Nagari Ulakan

      Bulan puasoatau bulan ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah dan ampunan. Bulan puaso yaitu sebutan masyarakat minang untuk bulan puasa. Penamaan bulan puaso merupakan bentuk cerminan untuk berpuasa atau menahan hawa nafsu, makan, minum, serta perbuatan-perbuatan yang dilarang dalam agama. Untuk itu dengan adanya bulan puaso ini menjadi pengingat dan renungan bagi kita untuk meningkatkan ketakwaan pada Tuhan yang maha esa.


Maniliak bulan merupakan tradisi yang ada di Nagari Ulakan Kabupaten Padang Pariaman. Maniliak bulan adalah tradisi ajaran tarekat sattariyah untuk menentukan awal puasa. Penentuan awal puasa dalam ajaran tarekat sattariyah ialah dengan melihat bulan secara langsung tanpa menggunakan alat, tetapi hanya menggunakan mata telanjang. Biasanya untuk maniliak bulan dilakukan di tepi pantai tepatnya di pantai Nagari Ulakan Tapakis. Tradisi ini juga berkembang di sebagian daerah di Sumatera Barat seperti di Nagari Koto Tuo Kabupaten Agam.


Makam Syekh Burhanuddin




Sumber:https://posmetropadang.co.id/masjid-agung-dan-makam-syekh-burhanuddin-dibanjiri-peziarah/


Selain maniliak bulan, para ulama dan juga masyarakat melakukan ziarah ke makam Syekh Burhanuddin. Syekh Burhanuddin merupakan seorang ulama yang berjasa dalam menyiarkan syiar Islam di ranah Minang dan Sumatera. Tradisi ini sudah turun temurun dianut oleh masyarakat tarekat sattariyah yang ada di Sumatera Barat. Dalam melakukan tradisi “maniliak bulan” para alim ulama atau Tuangku melakukan rapat di Masjid Tuo Syekh Burhanuddin untuk menentukan awal puasa ramadhan. Setelah melakukan maniliak bulan para ulama dan imam dari masing-masing Nagari  melakukan rapat penentuan awal ramadhan serta shalat maghrib berjamaah di Masjid Syekh Burhanuddin.


Tidak hanya para ulama dan imam dari masing-masing Nagari yang melakukan maniliak bulan, tetapi masyarakat juga antusias dalam melakukan tradisi ini. Masyarakat berbondong-bondong ke pantai yang ada di Nagari Ulakan untuk maniliak bulan. Selain maniliak bulan, masyarakat juga melakukan ziarah ke makam syekh burhanuddin.


Pantai Nagari Ulakan Tapakis




Sumber:https://www.harianhaluan.com/news/detail/71723/diterjang-ombak-24-rumah-di-pantai-ulakansungai-limau-rusak


Pada awal bulan puasa masyarakat menyebutnya dengan sebutan puaso tuo. Awal puasa tuo ini seluruh sanak keluarga akan berkumpul dan melakukan buka puasa dan sahur bersama. Saudara yang tinggal berjauhan dengan orang tua dan keluarga akan menyempatkan untuk berkunjung dan pulang. Jalinan silaturahim menjadi erat saat bulan puasa, bulan yang penuh ampunan dan keberkahan. Namun saat ini tradisi ini sudah mulai berkurang, salah satu penyebabnya ialah karena jarak untuk pulang kampung dan juga pengaruh globalisasi yang menggeser nilai-nilai kebudayaan dan tradisi.


Masjid Raya Syekh Burhanuddin




Sumber: https://www.republika.co.id/berita/qa7jnf430/masjid-ulakan-pariaman-masih-gelar-semua-sholat-berjamaah


Setelah memasuki 10 hari puasa pertama dilanjutkan dengan tradisi manta pabukoan, tradisi ini dilakukan oleh menantu perempuan. Manta pabukoanmerupakan tradisi menghantarkan makanan untuk berbuka serta makanan jenis lainnya yang diantar oleh menantu perempuan ke rumah orang tua dan kerabat dari suami. Setelah melakukan manta pabukoan, menantu perempuan mendapatkan sejenis tindakan terima kasih yang diwujudkan mertua dalam sebutan aleh baki. Aleh baki berupa uang ataupun emas yang diletakkan pada wajan yang digunakan menantu dalam mengantar pabukoan.


Pada malam ke dua puluh tujuh (27) hari puasa masyarakat melaksanakan tradisi bakar lilin. Lilin sengaja dibakar dan diletak pada setiap pintu rumah. Malam ini biasa disebut juga malam dimana segala arwah sanak saudara yang sudah meninggal pulang ke rumah. Dalam pandangan umat islam malam ini disebut dengan malam lailatul qadaryang mana malam ini merupakan malam dimana al-quran diturunkan. Para malaikat turun ke bumi pada malam 27 ramadhan dan mengantarkan rezeki yang berlipat ganda pada umat manusia. Bagi siapa yang memohon doa pada malam lailatur qadar segala doanya akan dikabulkan.


Di akhir bulan puasa, masyarakat melaksanakan tradisi maniliak bulan untuk menentukan hari raya idul fitri, untuk tempat yaitu di Nagari Ulakan. Itulah tradisi yang ada di kampung halaman saya yaitu di Kabupaten Padang Pariaman. Walaupun sedikit ada perbedaan dalam menentukan awal puasa, akan tetapi tidak menjadi hal yang perlu dipermasalahkan, sebab para penganut ajaran satariyah mempunyai dalil naqli yang sahih. 


emoticon-Jempolemoticon-Jempolemoticon-Jempol


 #RamadanBerkah                                                                                        


 


 
0
432
0
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
The Lounge
icon
922.7KThread82KAnggota
GuestAvatar border
Guest
Tulis komentar menarik atau mention replykgpt untuk ngobrol seru
Ikuti KASKUS di
© 2023 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.