TS
mangkok97
Vaksin COVID19 Kunci Penyelesaian Masalah Pandemi?
Quote:

Quote:
Sudah kurang lebih setahun sejak penularan virus COVID19 dinyatakan sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC). Saat ini (02/02/2021) di seluruh dunia, menurut data WHO, sudah lebih dari 102 juta orang terinfeksi, 2 juta orang meninggal, dan sisanya sudah sembuh atau dalam tahap pemulihan. Virus COVID19 telah menginfeksi 223 negara, salah satunya Indonesia. Di Indonesia, kasus pertama infeksi COVID19 diumumkan pada 2 Maret 2020, disusul penetapan COVID19 sebagai bencana nasional oleh Presiden Jokowi pada 13 April 2020. Setelahnya pembatasan-pembatasan aktivitas masyarakat dilakukan, hal ini tentu berdampak ke hampir semua lapangan usaha di Indonesia, menghambat perputaran ekonomi, meningkatkan angka pengangguran, dan menggangu perkembangan pendidikan siswa dan mahasiswa.
Hingga saat ini, dilansir dari website covid19.go.id, lebih dari 1 juta orang terinfeksi, lebih dari 880 ribu orang telah sembuh, lebih dari 30 ribu orang meninggal, dan sisanya dalam tahap pemulihan. Dampak langsung dan tidak langsung dari pandemi COVID19 sangat signifikan terhadap kesehatan dan perekonomian negara karena terkait dengan respon dari perilaku masyarakat dan kebijakan pemerintah untuk melakukan pembatasan sosial.
Menurut data BPS, di tahun 2020, ekonomi Indonesia triwulan III-2020 terhadap triwulan III-2019 mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 3,49% (y-on-y). Pada triwulan II-2020, di masa awal penanganan COVID19 di Indonesia, lapangan usaha yang mengalami kontraksi pertumbuhan paling dalam dibanding triwulan II-2019 (y-on-y) adalah Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan sebesar 30,84% serta Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 22,02%.
Hingga saat ini, dilansir dari website covid19.go.id, lebih dari 1 juta orang terinfeksi, lebih dari 880 ribu orang telah sembuh, lebih dari 30 ribu orang meninggal, dan sisanya dalam tahap pemulihan. Dampak langsung dan tidak langsung dari pandemi COVID19 sangat signifikan terhadap kesehatan dan perekonomian negara karena terkait dengan respon dari perilaku masyarakat dan kebijakan pemerintah untuk melakukan pembatasan sosial.
Menurut data BPS, di tahun 2020, ekonomi Indonesia triwulan III-2020 terhadap triwulan III-2019 mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 3,49% (y-on-y). Pada triwulan II-2020, di masa awal penanganan COVID19 di Indonesia, lapangan usaha yang mengalami kontraksi pertumbuhan paling dalam dibanding triwulan II-2019 (y-on-y) adalah Lapangan Usaha Transportasi dan Pergudangan sebesar 30,84% serta Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 22,02%.
Quote:
Pada akhirnya, kita semua ingin keluar dari situasi ini. Orang-orang ingin kembali bekerja demi memenuhi kebutuhan hidup, anak-anak ingin kembali ke sekolah untuk belajar dan bersosialisasi dengan teman-temannya, UMKM dan perusahaan ingin kembali beroperasi dengan kapasitas seperti sebelum terjadinya pandemi COVID19. Lantas, bagaimana kita keluar dari situasi ini? bagaimana menghentikan penyeberan virus COVID19?
Quote:
BAGAIMANA PANDEMI INI AKAN BERAKHIR?
Quote:

Quote:
Secara umum, TS mencoba menyederhanakan skenario terkait bagaimana situasi pandemi COVID19 akan berakhir menjadi dua, yaitu:
Dengan menerapkan lockdown, pembatasan sosial, dan menerapkan 3M secara disiplin, kita dapat menghentikan virus tanpa membuat orang-orang terinfeksi karena virus akan kehilangan inang baru untuk diinfeksi. Cara ini tentu saja akan menjaga kesehatan penduduk dari paparan COVID19 dan menekan risiko angka kematian yang tinggi. Penerapan skenario ini harus didukung dengan test dan contact tracing yang luar biasa intens dan disiplin karena orang-orang yang terpapar atau berpotensi terpapar harus segera diisolasi agar tidak menginfeksi virus ke orang lain. Skenario ini tentu akan sangat-sangat melukai ekonomi negara karena pembatasan di berbagai lapangan usaha dan biaya test dan tracking yang dilakukan.
Dilansir dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, Herd Immunity terjadi Ketika sebagian besar populasi kebal terhadap penyakit menular, ini memberikan perlindungan tidak langsung untuk mereka yang tidak kebal terhadap penyakit tersebut.
Misalnya, jika 80% populasi kebal terhadap virus, empat dari setiap lima orang yang menjumpai seseorang dengan penyakit tidak akan sakit (dan tidak akan menyebarkan penyakit lebih jauh). Dengan cara ini, penyebaran penyakit menular dapat dikendalikan. Bergantung pada seberapa menular suatu infeksi, biasanya 50% hingga 90% populasi membutuhkan kekebalan untuk mencapai Herd Immunity.
Pertanyaannya bagaimana membuat seseorang imun terhadap virus ini, ada dua cara, yaitu:
1) Membiarkan orang tersebut terkena COVID19 dan membiarkan tubuhnya menciptakan antibodi sendiri.
2) Membantu orang tersebut membuat antibodi sebelum terkena COVID19 dengan vaksin.
Dengan cara (1), kita tentu tidak membutuhkan vaksin namun, cara (1) merupakan cara yang megerikan karena di bawah orang-orang yang imun, akan banyak orang-orang yang tubuhnya tidak sanggup melawan virus dan akhirnya meninggal karena dampak COVID19 pada tubuh. Dengan kata lain, dengan cara (1) kita menerapkan prinsip survival of the fittest, dimana orang-orang rentan seperti lansia berisiko tinggi mengalami kematian. Dengan cara (2), kita dapat menciptakan imun dalam tubuh seseorang dengan model dari virus, sehingga dampak yang ditimbulkan terhadap tubuh tidak berarti namun, di sisi lain, tubuh kita sudah akan mengenal virus dan berpotensi imun terhadap infeksi virus dari lingkungan. Cara (2) tentu saja merupakan cara yang lebih manusiawi dalam mencapai Herd Immunity.
Quote:
1. Virus dibuat kehilangan inang
Dengan menerapkan lockdown, pembatasan sosial, dan menerapkan 3M secara disiplin, kita dapat menghentikan virus tanpa membuat orang-orang terinfeksi karena virus akan kehilangan inang baru untuk diinfeksi. Cara ini tentu saja akan menjaga kesehatan penduduk dari paparan COVID19 dan menekan risiko angka kematian yang tinggi. Penerapan skenario ini harus didukung dengan test dan contact tracing yang luar biasa intens dan disiplin karena orang-orang yang terpapar atau berpotensi terpapar harus segera diisolasi agar tidak menginfeksi virus ke orang lain. Skenario ini tentu akan sangat-sangat melukai ekonomi negara karena pembatasan di berbagai lapangan usaha dan biaya test dan tracking yang dilakukan.
Quote:
2. Terjadi Herd Immunity
Dilansir dari Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, Herd Immunity terjadi Ketika sebagian besar populasi kebal terhadap penyakit menular, ini memberikan perlindungan tidak langsung untuk mereka yang tidak kebal terhadap penyakit tersebut.
Misalnya, jika 80% populasi kebal terhadap virus, empat dari setiap lima orang yang menjumpai seseorang dengan penyakit tidak akan sakit (dan tidak akan menyebarkan penyakit lebih jauh). Dengan cara ini, penyebaran penyakit menular dapat dikendalikan. Bergantung pada seberapa menular suatu infeksi, biasanya 50% hingga 90% populasi membutuhkan kekebalan untuk mencapai Herd Immunity.
Pertanyaannya bagaimana membuat seseorang imun terhadap virus ini, ada dua cara, yaitu:
1) Membiarkan orang tersebut terkena COVID19 dan membiarkan tubuhnya menciptakan antibodi sendiri.
2) Membantu orang tersebut membuat antibodi sebelum terkena COVID19 dengan vaksin.
Dengan cara (1), kita tentu tidak membutuhkan vaksin namun, cara (1) merupakan cara yang megerikan karena di bawah orang-orang yang imun, akan banyak orang-orang yang tubuhnya tidak sanggup melawan virus dan akhirnya meninggal karena dampak COVID19 pada tubuh. Dengan kata lain, dengan cara (1) kita menerapkan prinsip survival of the fittest, dimana orang-orang rentan seperti lansia berisiko tinggi mengalami kematian. Dengan cara (2), kita dapat menciptakan imun dalam tubuh seseorang dengan model dari virus, sehingga dampak yang ditimbulkan terhadap tubuh tidak berarti namun, di sisi lain, tubuh kita sudah akan mengenal virus dan berpotensi imun terhadap infeksi virus dari lingkungan. Cara (2) tentu saja merupakan cara yang lebih manusiawi dalam mencapai Herd Immunity.
Quote:
SERBA-SERBI VAKSIN
Quote:

Quote:
Quote:
Menurut WHO, vaksin mengurangi risiko terkena penyakit dengan bekerja bersama pertahanan alami tubuh anda untuk menciptakan antibodi. Saat anda mendapatkan vaksin, sistem kekebalan anda dengan:
1) Mengenalkan virus yang menyerang kepada tubuh.
2) Membantu tubuh membangun antibodinya secara alami tanpa menyebabkan penyakit, karena secara awam, vaksin berisi virus yang dilemahkan atau sudah mati.
3) Mengingat penyakit yang disebabkan virus dan bagaimana melawannya, jadi saat anda terinfeksi di masa depan, sitem imun anda mampu dengan cepat menghancurkannya sebelum menyebabkan efek negatif pada tubuh.
Oleh karena itu, vaksin merupakan cara yang aman dan cerdas untuk menghasilkan respons imun dalam tubuh, tanpa menyebabkan penyakit. Jika obat bersifat responsif terhadap penyakit, vaksin bersifat preventif. Kebanyakan vaksinasi dilakukan dengan cara disuntik, namun ada beberapa cara vaksinasi dengan disemprot ke mulut atau disemprot ke hidung.
Saat seseorang divaksinasi untuk melawan suatu penyakit, risiko infeksinya juga berkurang - jadi mereka juga cenderung tidak menularkan virus atau bakteri ke orang lain.
Quote:
Hampir semua orang bisa divaksinasi. Namun, karena beberapa kondisi medis, beberapa orang tidak boleh mendapatkan vaksin tertentu, atau harus menunggu sebelum mendapatkannya. Kondisi ini bisa meliputi:
1) Penyakit kronis atau pengobatan yang sedang dijalani (misal kemoterapi) yang mempengaruhi sistem imun.
2) Alergi akut terhadap bahan tertentu dalam vaksin, yang mana sangat jarang terjadi.
3) Saat mengalami kondisi sakit parah atau demam saat divaksi.
Quote:
TEKNIK DASAR PEMBUATAN VAKSID COVID19
Quote:
Berbeda dengan vaksin yang dibuat dengan melemahkan, mematikan, atau mengambil bagian dari virus, dilansir dari situs Children's Hospital of Philadelphia, vaksin COVID19 dibuat dengan mRNA dari spike protein SARS-CoV-2 virus. Sel tubuh dari penerima vaksin ini kemudian menggunakan mRNA dari virus sebagai blueprint untuk mengenalkan spike protein virus ini kepada sistem imunnya, sehingga sistem imun akan merespon untuk membasmi protein yang dibuat virus dan mengingatnya jika sampai virus menginfeksi tubuh, sehingga sistem imun bisa bereaksi dengan cepat merespon infeksi. Vaksin ini memerlukan dua dosis untuk meningkatkan efektivitas.
Quote:
ALUR UJI-COBA VAKSIN
Quote:
Dilansir dari situs WHO, uji coba vaksin dilakukan terhadap hewan terlebih dahulu, dan setelah dirasa aman, barulah dilakukan pengujian terhadap manusia melalui tiga tahap
Setelah hasil uji klinis didapat, barulah vaksin direview untuk diberikan izin oleh lembaga terkait dan berwenang di masing-masing negara. Sejalan ini pemantauan terhadap kejadian ikutan pasca imunisasi terus dilakukan terhadap penerima vaksin untuk mengamati efek yang terjadi setelah vaksinasi.
Quote:
Tahap 1, vaksin diberikan kepada sejumlah kecil sukarelawan untuk menilai keamanannya, memastikannya menghasilkan respons imun, dan menentukan dosis yang tepat.
Quote:
Tahap 2, vaksin biasanya diberikan kepada ratusan sukarelawan, yang diawasi secara ketat untuk mengetahui efek samping apa pun, untuk menilai lebih lanjut kemampuannya untuk menghasilkan tanggapan kekebalan. Dalam fase ini, data juga dikumpulkan jika memungkinkan tentang hasil penyakit, tetapi biasanya tidak dalam jumlah yang cukup besar untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang pengaruh vaksin terhadap penyakit. Partisipan dalam fase ini memiliki karakteristik yang sama (seperti usia dan jenis kelamin) dengan orang yang akan divaksin. Dalam fase ini, beberapa relawan menerima vaksin dan yang lainnya mendapat placebo, yang memungkinkan dilakukannya perbandingan dan pengambilan kesimpulan tentang vaksin tersebut.
Quote:
Tahap 3, vaksin diberikan kepada ribuan sukarelawan - beberapa di antaranya menerima vaksin, dan beberapa placebo, seperti pada uji coba fase II. Data dari kedua kelompok dibandingkan dengan hati-hati untuk melihat apakah vaksin tersebut aman dan efektif melawan penyakit yang dirancang untuk dilindunginya.
Setelah hasil uji klinis didapat, barulah vaksin direview untuk diberikan izin oleh lembaga terkait dan berwenang di masing-masing negara. Sejalan ini pemantauan terhadap kejadian ikutan pasca imunisasi terus dilakukan terhadap penerima vaksin untuk mengamati efek yang terjadi setelah vaksinasi.
Quote:
APAKAH VAKSIN AMAN?
Quote:

Quote:
Sebagai pembuka, bisa dilihat video yang sangat mengedukasi ini dari seorang PhD:
Quote:
Quote:
Dengan melihat video tersebut, secara sederhana ditambah penjelasan pendahuluan di atas, kita bisa mengerti apa itu vaksin dan vaksinasi serta dampaknya terhadap tubuh sendiri, sehingga kita tidak perlu ragu lagi. Ditambah di Indonesia, vaksin yang beredar telah dijamin oleh WHO secara internasional, oleh BPOM dan bahkan MUI untuk menjamin keamanan dan kehalalannya. Tokoh-tokoh negara seperti Presiden Jokowi, Menteri, Gubernur, dan aparatur negara lain pun telah divaksin terlebih dahulu.Kurang apa untuk meyakinkan kita?
Quote:
HARUSKAH SAYA SEGERA DIVAKSIN?
Quote:
Dengan tingkat penularan yang sangat tinggi, kerusakan terhadap ekonomi dan kesehatan, kapasitas kesehatan yang terbatas di Indonesia, dan potensi terjadinya kematian, jawabannya adalah lebih baik anda segera divaksin, kenapa? Simple, semakin anda menunda vaksinasi secara efek domino anda berpotensi menyebabkan orang lain semakin kesulitan karena pandemi tidak segera terkendali dan membiarkan orang-orang rentan terkena masalah kesehatan.
"Two key reasons to get vaccinated are to protect ourselves and to protect those around us. Because not everyone can be vaccinated – including very young babies, those who are seriously ill or have certain allergies – they depend on others being vaccinated to ensure they are also safe from vaccine-preventable diseases." (WHO, 2021).
Semoga thread ini dapat bermanfaat dan memberikan pencerahan kepada kita semua, cheers!
"Two key reasons to get vaccinated are to protect ourselves and to protect those around us. Because not everyone can be vaccinated – including very young babies, those who are seriously ill or have certain allergies – they depend on others being vaccinated to ensure they are also safe from vaccine-preventable diseases." (WHO, 2021).
Semoga thread ini dapat bermanfaat dan memberikan pencerahan kepada kita semua, cheers!
Quote:

Quote:
Referensi:
https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019/interactive-timeline#!
https://www.who.int/emergencies/diseases/novel-coronavirus-2019
https://covid19.go.id/
https://www.bps.go.id/
https://www.jhsph.edu/covid-19/articles/achieving-herd-immunity-with-covid19.html#:~:text=When%20most%20of%20a%20population,not%20immune%20to%20the%20disease.
https://www.who.int/news-room/q-a-detail/vaccines-and-immunization-what-is-vaccination
https://www.chop.edu/centers-programs/vaccine-education-center/making-vaccines/how-are-vaccines-made
https://covid19.go.id/p/berita/komnas-kipi-sejauh-ini-semua-laporan-kipi-bersifat-ringan
Diubah oleh mangkok97 02-02-2021 18:04
andrerain5 dan Papa.T.Bob memberi reputasi
2
229
Kutip
0
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Health
25.2KThread•13.2KAnggota
Komentar yang asik ya