- Beranda
- Berita dan Politik
Ketika Angka Kematian akibat Covid-19 di Indonesia Tinggi dan Rumah Sakit Penuh
...
TS
Susu.Bahenol
Ketika Angka Kematian akibat Covid-19 di Indonesia Tinggi dan Rumah Sakit Penuh

Jumlah kematian di Indonesia akibat Covid-19 masih berada dalam angka yang mengkhawatirkan.
Berdasarkan data dari situs covid19.go.id, Sabtu (30/1/2021), jumlah kematian akibat Covid-19 adalah 29.518 kasus, atau 2.8% dari total kasus terkonfirmasi yang berjumlah 1.051.795.
Tidak hanya itu, kasus aktif di Indonesia berada pada posisi 170.071 atau 16.2% dari total kasus terkonfirmasi.
Sementara itu, Provinsi DKI Jakart masih berada di posisi pertama jumlah kasus Covid-19, tepatnya dengan jumlah kasus 259.305 kasus.
Bersamaan dengan tingginya angka ini, beberapa wilayah di Indonesia juga mulai melaporkan menipisnya ketersediaan ruangan untuk merawat pasien terjangkit virus corona.
Bahkan, beberapa rumah sakit turut melaporkan jika ruangan ICU yang dimiliki nyaris penuh.
Dikutip dari Kompas.com, akibat ruang-ruang perawatan yang penuh, banyak pasien Covid-19 yang membutuhkan penanganan medis terpaksa berkeliling ke sejumlah rumah sakit demi mendapat ruangan kosong, atau antre hingga ada ruang yang tersedia.
Tidak hanya di pihak pasien, pihak rumah sakit pun mengaku harus memilih di antara pasien-pasiennya, mana yang harus didahulukan mendapatkan ICU atau penanganan karena kapsitas yang terbatas.
Berbarengan dengan kondisi fasilitas layanan yang mulai kewalahan, angka kasus kematian Covid-19 di Indonesia juga menunjukkan peningkatan.
Hal ini bisa dilihat dari kurva kasus Covid-19 meninggal yang ditampilkan di laman covid19.go.id.
Peningkatan angka kematian setidaknya sudah terlihat sejak 24hingga 28 Januari 2021.

===
Lalu, adakah keterkaitan antara kedua hal tersebut?
Apakah penuhnya ruangan perawatan yang tersedia di rumah sakit bagi pasien Covid-19 berkorelasi dengan peningkatan kematian yang terjadi?
Epidemiolog dari Universitas Gadjah Mada, Riris Andono, menilai, ada keterkaitan antara kedua hal ini.
"Betul (ada hubungannya), rumah sakit yang penuh membuat banyak penderita tidak mendapat perawatan segera sehingga tak jarang menyebabkan fatalitas)," kata Riris saat dihubungi Kompas.com, Jumat (29/1/2021).
Riris menyebutkan, hal ini memiliki andil yang besar terhadap terjadinya kasus kematian, apalagi jika kesulitan mendapatkan ruang perawatan itu terjadi pada mereka yang memiliki kondisi sedang hingga parah.
"Jelas besar (andilnya), terutama kasus-kasus yang moderate dan severe tentu akan semakin meningkat (potensi kematiannya) dengan peningkatan jumlah kasus," ujar dia.
Berhasil sembuh atau tidaknya Covid-19 pada seseorang, menurut Risis, sangat bergantung dari bagaimana pelayanan klinis yang didapatkan.
"Untuk kasus-kasus tersebut outcome penyakitnya sangat tergantung pada kualitas manajemen klinis yang didapatkan," kata dia.

Seorang dokter di Amerika Serikat sudah bekerja 273 hari berturut-turut menangani pasien Covid-19 di Texas, Amerika Serikat. (Getty Images)
===
Seharusnya Lockdown
Dihubungi terpisah, pakar epidemiologi dari Griffith University, Dicky Budiman juga membenarkan apa yang disampaikan oleh Riris.
"Ini berkorelasi dengan turunnya (kapasitas) rumah sakit."
"Dua minggu ini banyak pemberitaan di media, kematian karena tidak tertangani, baik (terlalu lama menunggu) di IGD, atau tidak mendapat ICU, atau di perjalanan (tidak kunjung mendapatkan rumah sakit)," ujar Dicky.
Dengan kondisi seperti ini, Dicky menyebutkan, sudah tidak ada pilihan lain bagi Indonesia.
Pemerintah seharusnya segera memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang sesuai dengan regulasinya.
"Dengan penuhnya rumah sakit, kita itu ya memang harus PSBB (yang tidak setengah-setengah dan dilakukan sesuai regulasi), PSBB-nya itu ya lockdown."
"Memang situasinya sudah berat," ujar dia.
Upaya pemberlakuan PSBB itu juga harus dibarengi dengan penguatan upaya 3T dan 3M dari pemerintah dan masyarakat.
Jika upaya ini tidak juga diambil, Dicky khawatir pandemi ini tidak hanya akan berdampak pada aspek kesehatan dan ekonomi masyarakat, "Tapi juga trust publik makin menurun, mengganggu semua strategi, mau itu vaksinasi atau yang lain, keberhasilannya akan terpengaruh," ujar Dicky.
Ia juga sangat mengkhawatirkan terjadinya strain baru virus corona di Indonesia yang akan semakin memperburuk kondisi.
"Yang paling saya khawatirkan adalah timbulnya strain baru made in Indonesia yang akan memperburuk situasi."
"Dan itu masalah waktu (saja) kalau (pandemi) sudah tidak terkendali," kata Dicky.
https://palembang.tribunnews.com/202...penuh?page=all
Makin hari kopit makin menyeramkan aja bree... ngeriiii
Berdasarkan data dari situs covid19.go.id, Sabtu (30/1/2021), jumlah kematian akibat Covid-19 adalah 29.518 kasus, atau 2.8% dari total kasus terkonfirmasi yang berjumlah 1.051.795.
Tidak hanya itu, kasus aktif di Indonesia berada pada posisi 170.071 atau 16.2% dari total kasus terkonfirmasi.
Sementara itu, Provinsi DKI Jakart masih berada di posisi pertama jumlah kasus Covid-19, tepatnya dengan jumlah kasus 259.305 kasus.
Bersamaan dengan tingginya angka ini, beberapa wilayah di Indonesia juga mulai melaporkan menipisnya ketersediaan ruangan untuk merawat pasien terjangkit virus corona.
Bahkan, beberapa rumah sakit turut melaporkan jika ruangan ICU yang dimiliki nyaris penuh.
Dikutip dari Kompas.com, akibat ruang-ruang perawatan yang penuh, banyak pasien Covid-19 yang membutuhkan penanganan medis terpaksa berkeliling ke sejumlah rumah sakit demi mendapat ruangan kosong, atau antre hingga ada ruang yang tersedia.
Tidak hanya di pihak pasien, pihak rumah sakit pun mengaku harus memilih di antara pasien-pasiennya, mana yang harus didahulukan mendapatkan ICU atau penanganan karena kapsitas yang terbatas.
Berbarengan dengan kondisi fasilitas layanan yang mulai kewalahan, angka kasus kematian Covid-19 di Indonesia juga menunjukkan peningkatan.
Hal ini bisa dilihat dari kurva kasus Covid-19 meninggal yang ditampilkan di laman covid19.go.id.
Peningkatan angka kematian setidaknya sudah terlihat sejak 24hingga 28 Januari 2021.

Tangkapan layar kurva kasus kematian akibat Covid-19 di laman Covid19.go.id. (laman covid19.go.id)
===
Lalu, adakah keterkaitan antara kedua hal tersebut?
Apakah penuhnya ruangan perawatan yang tersedia di rumah sakit bagi pasien Covid-19 berkorelasi dengan peningkatan kematian yang terjadi?
Epidemiolog dari Universitas Gadjah Mada, Riris Andono, menilai, ada keterkaitan antara kedua hal ini.
"Betul (ada hubungannya), rumah sakit yang penuh membuat banyak penderita tidak mendapat perawatan segera sehingga tak jarang menyebabkan fatalitas)," kata Riris saat dihubungi Kompas.com, Jumat (29/1/2021).
Riris menyebutkan, hal ini memiliki andil yang besar terhadap terjadinya kasus kematian, apalagi jika kesulitan mendapatkan ruang perawatan itu terjadi pada mereka yang memiliki kondisi sedang hingga parah.
"Jelas besar (andilnya), terutama kasus-kasus yang moderate dan severe tentu akan semakin meningkat (potensi kematiannya) dengan peningkatan jumlah kasus," ujar dia.
Berhasil sembuh atau tidaknya Covid-19 pada seseorang, menurut Risis, sangat bergantung dari bagaimana pelayanan klinis yang didapatkan.
"Untuk kasus-kasus tersebut outcome penyakitnya sangat tergantung pada kualitas manajemen klinis yang didapatkan," kata dia.

Seorang dokter di Amerika Serikat sudah bekerja 273 hari berturut-turut menangani pasien Covid-19 di Texas, Amerika Serikat. (Getty Images)
===
Seharusnya Lockdown
Dihubungi terpisah, pakar epidemiologi dari Griffith University, Dicky Budiman juga membenarkan apa yang disampaikan oleh Riris.
"Ini berkorelasi dengan turunnya (kapasitas) rumah sakit."
"Dua minggu ini banyak pemberitaan di media, kematian karena tidak tertangani, baik (terlalu lama menunggu) di IGD, atau tidak mendapat ICU, atau di perjalanan (tidak kunjung mendapatkan rumah sakit)," ujar Dicky.
Dengan kondisi seperti ini, Dicky menyebutkan, sudah tidak ada pilihan lain bagi Indonesia.
Pemerintah seharusnya segera memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang sesuai dengan regulasinya.
"Dengan penuhnya rumah sakit, kita itu ya memang harus PSBB (yang tidak setengah-setengah dan dilakukan sesuai regulasi), PSBB-nya itu ya lockdown."
"Memang situasinya sudah berat," ujar dia.
Upaya pemberlakuan PSBB itu juga harus dibarengi dengan penguatan upaya 3T dan 3M dari pemerintah dan masyarakat.
Jika upaya ini tidak juga diambil, Dicky khawatir pandemi ini tidak hanya akan berdampak pada aspek kesehatan dan ekonomi masyarakat, "Tapi juga trust publik makin menurun, mengganggu semua strategi, mau itu vaksinasi atau yang lain, keberhasilannya akan terpengaruh," ujar Dicky.
Ia juga sangat mengkhawatirkan terjadinya strain baru virus corona di Indonesia yang akan semakin memperburuk kondisi.
"Yang paling saya khawatirkan adalah timbulnya strain baru made in Indonesia yang akan memperburuk situasi."
"Dan itu masalah waktu (saja) kalau (pandemi) sudah tidak terkendali," kata Dicky.
https://palembang.tribunnews.com/202...penuh?page=all
Makin hari kopit makin menyeramkan aja bree... ngeriiii

0
537
8
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
694.1KThread•58.3KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya