Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
67
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/600801d4a727687003229a62/santet---dendam-berakhir-petaka
Prolog Enggan rasanya bagiku untuk menceritakan aib yang teramat kelam ini, namun di saat malam mulai menancapkan sisi kegelapannya dan di saat keheningan malam mulai menghadirkan suara suara tanpa raga yang silih berganti membisikan kisah kisah yang teramat sulit untuk aku terima dengan logika ini, aku hanya bisa terpaku dalam bisu dan membiarkan goresan tanganku ini mewakili jeritan hati dari su
Lapor Hansip
20-01-2021 17:11

SANTET - Dendam Berakhir Petaka

Prolog





Enggan rasanya bagiku untuk menceritakan aib yang teramat kelam ini, namun di saat malam mulai menancapkan sisi kegelapannya dan di saat keheningan malam mulai menghadirkan suara suara tanpa raga yang silih berganti membisikan kisah kisah yang teramat sulit untuk aku terima dengan logika ini, aku hanya bisa terpaku dalam bisu dan membiarkan goresan tanganku ini mewakili jeritan hati dari suara suara tanpa raga itu…

“ apakah mereka yang telah melakukan ini mbu….?” tanyaku kepada ambu diantara isak tangisnya yang terdengar begitu lirih


“ entahlah tang…”


“ atang yakin mbu…memang mereka yang melakukannya…”

Untuk sesaat aku terdiam, bibirku bergetar hebat, semuanya ini mewakili rasa amarah yang begitu besar dihatiku ini

“ atang bersumpah mbu, atang akan membalas semuanya ini….darah yang tertumpah…nyawa yang terenggut…adalah harga yang mereka harus bayar….”

Sepenggal percakapan yang kini telah terpatri dalam catatan kehidupanku di dunia ini, kini telah menjadi awal sebuah petaka yang menyeretku pada sebuah pilihan untuk menyelesaikan permasalahan hidupku ini dengan jalan yang kelam…SANTET – Dendam Berakhir Petaka




meta.morfosis



Chapter :
SANTET - Chapter 1
SANTET - Chapter 2
SANTET - Chapter 3
SANTET - Chapter 4
SANTET - Chapter 5
SANTET - Chapter 6
SANTET - Chapter 7
SANTET - Chapter 8
SANTET - Chapter 9
Diubah oleh meta.morfosis
profile-picture
profile-picture
profile-picture
edam dan 21 lainnya memberi reputasi
22
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 3
SANTET - Dendam Berakhir Petaka
20-01-2021 17:28
Chapter 1







Senja hari di bulan oktober 1979

Hembusan angin yang bertiup lembut mengiringi semakin memudarnya cahaya sang surya, diantara rasa nanar yang masih menggelayuti kedua bola mataku ini, kudapati selimut kegelapan telah menyelimuti keberadaan jendela kamar yang bergerak gerak mengikuti arah hembusan angin, mendapati hal itu, aku segera beranjak bangun dari tempat tidur lalu menutup jendela kamar

“ hoammm….” gumamku seraya menyalakan lampu kamar, dan mendapati bahwa jam telah menunjukan pukul setengah enam sore, dan hal itu menjadi tanda bagi aku untuk segera bersiap siap guna menyambut azan magrib yang tidak lama lagi akan berkumandang

“ akhirnya kamu bangun juga tang….”

“ ah ambu…masa iya sih atang enggak bangun bangun…” jawabku singkat, lalu beranjak menuju ke kamar mandi, namun belum sempat aku membuka pintu kamar mandi, suara rintihan yang terucap dari mulut ambu, telah membuatku menolehkan pandangan mata ini ke arah ambu, nampak terlihat ambu tengah menghempaskan tubuh kecilnya ke kursi

“ kambuh lagi mbu sakit kepalanya…?

Tanpa mengeluarkan sepatah katapun, ambu menganggukan kepalanya

“ sebaiknya ambu memeriksakan diri lagi ke dokter, atang takut mbu…sakit kepala yang telah ambu alami itu bukan sakit kepala biasa….” ucapku diantara pergerakan tangan ambu yang tengah mengambil beberapa helai kelopak bunga dari dalam piring lalu memakannya, entah sudah berapa lama ambu melakukan semua kebiasaannya itu, namun yang pasti di saat aku masih kecil, ambu telah melakukan hal itu, dan menurut ambu, hal itu dilakukan berdasarkan saran dari orang pintar guna mengatasi rasa sakit dari sakit kepala yang dirasakannya

“ kamu ini tang…kamu kan pernah ikut dengan ambu ke dokter, dan kamu sudah dengar sendiri kan jawabannya…mereka sendiri bingung dengan penyakit apa yang ambu alami ini…”

“ tapi mbu…enggak ada salahnya kan jika kita kembali memerik…”

“ sudahlah tang…sebaiknya sekarang kamu mengambil air wudhu dan menyusul abah ke masjid…” potong ambu dan berbalas dengan keterdiamanku, mendapati perkataan ambu yang memutus kemungkinan untuk melanjutkan pembicaraan ini, aku segera memasuki kamar mandi guna membersihkan diri dan juga mengambil air wudhu

“ penyakit aneh…mengapa penyakitnya itu hanya kambuh di saat waktu magrib seperti ini…” gumamku diantara suara kumandang azan magrib yang mulai terdengar, mendapati hal itu, aku segera menyudahi aktifitas mandiku ini, hingga akhirnya selepas aku berwudhu dan berganti baju, aku langsung menuju ke sebuah masjid yang keberadaannya bisa dikatakan cukup jauh dari rumahku ini, untuk sekedar gambaran, kampung yang menjadi tempat tinggalku ini, adalah sebuah kampung yang letaknya cukup terpencil dengan banyaknya pepohonan besar serta semak ilalang sebagai ornamen penghiasnya, akses dari kampungku menuju ke kota hanyalah mengandalkan kahar, yang pada akhirnya harus melanjutkan dengan mobil angkutan umum yang jumlahnya sangat terbatas, hampir bisa dikatakan sebagian besar mata pencaharian warga kampungku ini adalah sebagai penggarap sawah, ladang dan beternak, sedangkan untuk bentuk bangunan rumah di kampungku ini, rumah rumah warga kampung masih dibangun dengan menggunakan kayu, sedangkan jarak antara satu rumah dengan rumah yang lain cukup berjauhan, dan yang lebih menyedihkan lagi, hampir sebagian besar rumah di kampungku ini masih menggunakan penerangan tradisional yang dibuat sendiri (obor) sebagai sumber penerangan utama di luar rumah, sedangkan untuk penerangan di dalam rumah, warga kampung menggunakan lampu semprong, genset hanya digunakan pada aula kampung, masjid, dan juga rumah rumah yang mempunyai tingkat perekonomian yang baik, salah satunya adalah rumahku

Atang Karsa, yaa..delapan belas tahun sudah lamanya nama itu tersemat di dalam namaku, sebuah nama yang terlahir dari hasil pernikahan antara abahku yang bernama Icang Karsa dengan seorang wanita yang bernama Entin Hayati. Abahku adalah seseorang yang mempunyai kedudukan terhormat di kampung ini, kedudukannya sebagai kepala desa di kampung ini, telah membuat abah begitu dikenal oleh warga kampung ini dan juga warga kampung tetangga, namun dibalik kedudukannya yang terhormat itu, aku masih banyak mendengar info simpang siur dari mulut warga kampung yang menceritakan bahwa abahku banyak mempunyai musuh di saat saat masa pemilihan kepala desa di kampung ini, tapi bagiku semua info yang telah aku dapatkan itu, aku anggap sebagai info yang tidak bertanggung jawab, karena sangatlah tidak mungkin abahku yang bersifat penolong, rajin beribadah serta ramah pada warga sekitar, bisa mempunyai musuh seperti itu

“ assalamualaikum warahmatullahi…” salamku mengakhiri sholat, dan mendapati abah yang tengah duduk di sampingku, sepertinya saat ini abah memang sengaja menungguku mengakhiri sholat magrib

“ bah…” sapaku seraya mengecup tangan abah

“ tumben…kamu datang ke masjidnya telat tang…sampai sampai kamu ketinggalan sholat magrib berjamaah…”

“ iya bah…semalam itu atang agak sulit untuk tidur…”

“ sulit untuk tidur….?”

Abah mengarahkan tatapan matanya ke wajahku, sepertinya saat ini abah berharap adanya penjelasan yang lebih dari perkataanku itu

“ beberapa malam ini, atang bermimpi buruk bah….dan hal itu sangat mengganggu pikiran atang…”

“ kamu bermimpi apa tang…?”

Untuk sesekali kulayangkan pandangan mata ini ke beberapa warga kampung yang mulai meninggalkan masjid, beberapa diantaranya terlihat berpamitan kepada abah

“ atang bermimpi seekor ular hitam masuk ke dalam rumah kita, dan menggeliat geliat kesana kemari, entah tujuan ular itu hendak kemana, tapi di saat atang hendak mencari tahu….”

Mendadak aku menghentikan perkataanku, firasatku yang mengatakan bahwa ada seseorang diluar sana yang tengah memperhatikanku, kini telah membuatku melayangkan pandangan mata ini ke arah jendela masjid

“ ada apa tang….?” tanya abah dengan rasa heran

“ enggak ada apa apa bah….” jawabku seraya mengembangkan senyum

“ lanjutkan ceritamu itu tang….”

“ entah mengapa bah…di saat atang hendak mencari tahu, tiba tiba ular hitam itu berbalik arah ke arah atang dan menunjukan rasa tidak senangnya karena telah di ikuti…”

Mendapati perkataanku itu, terlihat abah mengernyitkan dahinya

“ maaf bah…bukannya atang lancang…boleh atang bertanya sesuatu…?” tanyaku dan berbalas dengan anggukan kepala abah

“ apakah benar abah…mempunyai banyak musuh…?”

“ banyak musuh, apa maksud dari pertanyaan kamu itu tang….”

Dengan tersenyum, abah menggeleng gelengkan kepalanya

“ maksud atang, apakah abah mempunyai banyak musuh sewaktu pemilihan menjadi kepala desa di kampung ini….?”

Mendapati pertanyaanku itu, abah terdiam sejenak, dan kini terlihat abah mengarahkan pandangan matanya ke wajahku

“ ini untuk kali ketiganya, abah menjadi kepala desa di kampung ini tang…apakah pernah kamu melihat abah mempunyai musuh, bahkan untuk pemilihan kepala desa yang kedua dan ketiga, sama sekali enggak ada kandidat lain selain abah…jadi mana mungkin abah mempunyai musuh…”

“ bagaimana dengan pemilihan kepala desa yang pertama bah…?” tanyaku penuh dengan rasa keingintahuan yang tinggi

“ ceritanya panjang tang…tapi saat itu justru abah yang nyaris menjadi korban dari persaingan dalam pemilihan kepala desa itu…”

“ maksud abah dengan korban dari persaingan itu apa…?”

“ abah diguna guna tang…abah nyaris mati…”

“ hahhh…” gumamku dalam rasa tidak percaya

“ untungnya saat itu abah masih diberikan keselamatan dan panjang umur, justru apa yang mereka lakukan itu, telah berbuah keburukan bagi mereka…”

“ berbuah keburukan..?, memangnya pesaing abah pada saat itu ada berapa….?”

“ ada dua orang tang…dan kedua pesaing abah itu kedua duanya menemui ajal karena perbuatan jahatnya itu, mungkin itulah yang dinamakan dengan karma…”

“ apakah pesaing abah itu sudah berkeluarga…? dan apakah mereka mengalami nasib yang sama…?”

Diantara pertanyaanku yang belum terjawab itu, terlihat seorang warga kampung yang semula sepertinya tengah mencuri dengar pembicaraan antara abah dan aku, kini beranjak pergi setelah abah mengarahkan pandangan matanya ke arahnya

“ manusia enggak tahu sopan santun….” gumam abah dengan wajah yang tidak menyukai karena pembicaraannya ini telah di curi dengar

“ kedua duanya sudah berkeluarga tang, untuk pesaing abah yang pertama, adalah pasangan suami istri yang belum dikaruniai anak, mereka meninggal karena sakit keras, sedangkan pesaing abah yang kedua, adalah pasangan suami istri yang sudah mempunyai anak perawan, di saat suaminya meninggal karena sakit keras, istrinya menjadi gila dan pergi entah kemana….”

“ kasihan mereka bah, mereka termakan oleh perbuatan jahatnya sendiri, lantas bagaimana dengan nasib anaknya itu bah…?”

“ setelah kejadian itu tang, entah apa penyebabnya, rumah dari pesaing abah yang kedua itu terbakar, dan setelah peristiwa kebakaran itu, ditemukan jasad seorang wanita di dalamnya, mungkin itu adalah anak perawan dari pesaing abah yang kedua itu…”

“ ya tuhannn….” gumamku dalam rasa miris

“ ohh ya, kalau abah boleh tahu, siapa yang telah mengatakan kepada kamu kalau abah banyak mempunyai musuh…?” tanya abah dengan penuh selidik

“ atang hanya mendengar pembicaraan simpang siur dari beberapa warga kampung bah, memangnya kenapa bah…?”

“ enggak kenapa napa tang, tapi lebih baik kamu jangan mendengarkan perkataan mereka, karena kita enggak akan pernah mengetahui apa yang ada di hati mereka, karena di balik wajah wajah mereka yang terlihat sopan kepada kita, bisa jadi di hati mereka ada yang membenci kita….”

“ iya bah…”

“ sebaiknya kita pulang, kasihan ita dan ambu, mungkin mereka telah terlalu lama menunggu kita untuk makan malam….”

Untuk sekedar diketahui, aku mempunyai seorang adik wanita yang berbeda jarak usia empat tahun dari aku, dia bernama Nurlita Karsa. Selepas dari perkataan abah itu, aku dan abah memutuskan untuk kembali ke rumah, dan kini dengan bermodalkan batangan bambu yang kami pergunakan sebagai obor, kami menapaki jalan kampung yang hampir seluruhnya masih beralaskan tanah, hingga akhirnya di saat langkah kaki kami hendak mencapai keberadaan rumah, pergerakan dari rerimbunan semak ilalang yang berada di sisi jalan, telah membuat aku dan abah terhenti sejenak

“ bah…” gumamku dan berbalas dengan keterdiaman abah yang tengah mengarahkan pandangan matanya ke arah rerimbunan semak ilalang

“ ada siapa bah….?” tanyaku diantara keberadaan rerimbunan semak ilalang yang kini tidak lagi bergoyang, namun kini belum sempat abah mengeluarkan jawabannya untuk menjawab pertanyaanku itu, rerimbunan semak ilalang kembali bergoyang dan untuk kali ini, pergerakan dari rerimbunan semak ilalang itu di iringi dengan hembusan angin yang menebarkan aroma wangi di udara, dan hal ini jelas telah membuat bulu kuduk di sekitar tengkukku ini sedikit menebal

“ siapa di situ….!” tegur abah dengan suaranya yang sedikit meninggi, dengan langkah yang perlahan, abah mulai berjalan menghampiri keberadaan rerimbunan semak ilalang, mendapati hal itu, aku segera berjalan mengikuti abah, berbagai pikiran menyeramkan yang kini bersarang di pikiranku, telah membuat tubuhku ini sedikit berkeringat diantara udara malam yang sebenarnya terasa dingin, hingga akhirnya seiring dengan keberadaan tangan abah yang mulai menyibak rerimbunan semak ilalang, aku segera menarik tangan abah untuk menjauhi keberadaan rerimbunan semak ilalang, karena entah nyata atau tidak, aku seperti melihat sesuatu diantara kegelapan yang menyelimuti rerimbunan semak ilalang, rasanya sinar terang dari cahaya obor yang menyibak selimut kegelapan yang menyelimuti rerimbuan semak ilalang, tidak cukup untuk meyakinkan aku atas apa yang telah aku lihat saat ini

“ kamu ini kenapa sih tang….?” tanya abah dengan rasa gusar karena mendapati tangannya tertarik secara tiba tiba

“ tadi itu bah…atang seperti melihat…”

Belum sempat aku menyelesaikan perkataanku itu, rerimbunan semak ilalang kembali terlihat bergoyang, dan begitu mendapati hal itu, tanpa berkeinginan untuk mendengarkan lanjutan dari perkataanku yang tadi belum sempat terselesaikan, abah kembali bergerak ke arah rerimbunan semak ilalang, lalu menyibaknya

“ bah….!” teriakku tanpa bisa menghentikan pergerakan abah yang telah memasuki sebagian langkah kakinya ke dalam rerimbunan semak ilalang


Diubah oleh meta.morfosis
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rinandya dan 13 lainnya memberi reputasi
14 0
14
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
SANTET - Dendam Berakhir Petaka
20-01-2021 18:28
Wajib pantau ini mah
profile-picture
profile-picture
nomorelies dan aan1984 memberi reputasi
2 0
2
SANTET - Dendam Berakhir Petaka
20-01-2021 18:28
Kayaknya menarik nih, ijin nenda gan...semoga lancar apdetnyaemoticon-Jempol
profile-picture
profile-picture
profile-picture
nomorelies dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
SANTET - Dendam Berakhir Petaka
20-01-2021 19:37
gelar tiker
moga gak panen kentang
profile-picture
aan1984 memberi reputasi
1 0
1
SANTET - Dendam Berakhir Petaka
20-01-2021 20:18
Wah trit maestro Horor nih.... Mantap ceritanya bre... Ane pantau trus ampe tamat.. Moga az rajin update ya bre... emoticon-Cendol Gan
profile-picture
profile-picture
senja87 dan banditos69 memberi reputasi
2 0
2
SANTET - Dendam Berakhir Petaka
20-01-2021 20:31
Mang atang !! Di antos ku simkuring carios salajeung na. !! Nuhun
profile-picture
aan1984 memberi reputasi
1 0
1
SANTET - Dendam Berakhir Petaka
20-01-2021 21:05
Master,anda punya hutang thread yang harus diselesaikan
0 0
0
SANTET - Dendam Berakhir Petaka
20-01-2021 21:56
Siap2 bikin tenda.....
Sambil menunggu kelanjutannya.....
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan banditos69 memberi reputasi
2 0
2
SANTET - Dendam Berakhir Petaka
20-01-2021 22:58
nice, lanjut terus.
profile-picture
profile-picture
aan1984 dan senja87 memberi reputasi
2 0
2
SANTET - Dendam Berakhir Petaka
20-01-2021 23:55
izIn ngedeprok lanjutkan suhu emoticon-Cool
profile-picture
aan1984 memberi reputasi
1 0
1
SANTET - Dendam Berakhir Petaka
21-01-2021 01:12
Mesti dilanjut ini..
profile-picture
profile-picture
profile-picture
redbaron dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
SANTET - Dendam Berakhir Petaka
21-01-2021 03:27
Menusia terkadang butuh pelajaran hidup yang menyakitkan demi suatu pencerahan. Selamat belajar menuju positif....
profile-picture
aan1984 memberi reputasi
1 0
1
SANTET - Dendam Berakhir Petaka
21-01-2021 07:16
Pasang patok dulu gan disini
profile-picture
aan1984 memberi reputasi
1 0
1
SANTET - Dendam Berakhir Petaka
21-01-2021 09:38
wahh cerita yg menarik nih..
pasang tenda disini.
profile-picture
aan1984 memberi reputasi
1 0
1
SANTET - Dendam Berakhir Petaka
21-01-2021 11:24
ninggalin kenangan di sini dulu... mau ambil tenda dulu.... siap gelar tiker
profile-picture
aan1984 memberi reputasi
1 0
1
SANTET - Dendam Berakhir Petaka
21-01-2021 13:35
Masih kentang nih jilid pertama?
profile-picture
aan1984 memberi reputasi
1 0
1
SANTET - Dendam Berakhir Petaka
21-01-2021 14:26
Lanjut gan
profile-picture
aan1984 memberi reputasi
1 0
1
SANTET - Dendam Berakhir Petaka
21-01-2021 16:32
Chapter 2







“ bah….!” teriakku kembali diantara tubuh abah yang kini telah benar benar menghilang memasuki rerimbunan semak ilalang, mendapati situasi yang kurang menguntungkan seperti ini, aku memutuskan memilih untuk memasuki rerimbunan semak ilalang daripada aku harus berdiam diri dalam kegelapan malam

“ tang…” tegur abah begitu melihat aku yang telah memasuki rerimbun semak ilalang, nampak terlihat abah tengah memperhatikan keadaan di sekitar rerimbunan semak ilalang

“ tadi itu kamu kenapa sih tang…?”

“ tadi itu bah…atang seperti melihat sesuatu yang menyerupai ular, tapi atang enggak bisa memastikannya….”

“ ahh kamu itu tang…apa yang kamu lihat itu pasti karena pengaruh dari mimpi buruk yang kamu alami itu….” ujar abah sambil menggelengkan kepalanya

“ tapi bah…”

“ sudahlah tang….abah sudah tahu, pasti kamu mau membantah perkataan abah itu dengan menghubungkannya pada aroma wangi bunga yang tadi sempat tercium itu kan…”
Dengan tersenyum abah menunjukan jari tangannya ke arah belakang tubuhku, mendapati hal itu, aku segera melihat ke arah belakang dan mendapati sebuah pohon kemuning yang berukuran tidak begitu besar dan tengah berbunga lebat

“ lebih baik mulai sekarang ini, kamu lupakan mimpi buruk kamu itu…karena apa yang kamu impikan itu enggak lebih dari pada bunga tidur semata….”

Selepas dari perkataannya itu, abah menarik tanganku untuk keluar dari rerimbunan semak ilalang lalu kembali meneruskan berjalan menuju ke arah rumah, hingga akhirnya setibanya kami di rumah, seperti apa yang telah abah katakan, ambu dan ita nampaknya telah lama menanti kepulangan kami untuk melaksanakan makan malam, karena memang sudah menjadi kebiasaan di keluarga kami untuk melaksanakan makan malam bersama

“ kalian ini kemana aja sih, kok pulangnya agak malam seperti ini….?”

Beberapa sendok nasi diletakan oleh ibu pada piring makan yang telah tersedia di meja makan, ita yang sepertinya sudah sedari tadi menahan laparnya, terlihat mulai mengambil beberapa lauk yang tersedia lalu mulai menyantap makan malamnya

“ maaf mbu…tadi itu abah terpaksa rembukan dulu dengan warga kampung, untuk membahas masalah menjaga keamanan di kampung kita ini…” jawab abah berbohong seraya memberikan isyarat agar aku tidak menceritakan kejadian yang baru saja kami alami sewaktu perjalanan pulang ke rumah

“ ohh begitu…memangnya kampung kita ini mulai enggak aman ya bah….?” tanya ambu yang sepertinya menginginkan adanya lanjutan dari perkataan abah tersebut

“ bukannya enggak aman mbu…semua itu dilakukan hanya untuk berjaga jaga aja….kita kan enggak akan pernah tahu, kapan kejahatan itu akan terjadi….” selepas dari perkataannya itu, abah mulai menyantap makan malamnya, sedangkan di sisi yang lain, ita yang sudah terlebih dahulu menyantap makan malamnya, sepertinya akan mulai menyelesaikan makan malamnya

“ tumben makan kamu sedikit ta…”

“ iya kang, lagi agak kurang bernafsu nih….oh iya kang…apa kang atang sudah mendengar berita yang lagi ramai diperbincangkan oleh warga kampung tetangga…?”

“ apaan tuh ta…akang enggak tahu…kamu kan tahu sendiri, selepas akang udah enggak sekolah lagi, akang jadi malas untuk keluar rumah…..”

Ambu dan abah yang semula tengah sibuk dalam menyantap makan malamnya terlihat mengarahkan pandangan matanya ke arah aku dan ita

“ di kampung tetangga kedatangan warga baru kang….dan dari apa yang ita dengar, menurut warga setempat, warga baru itu berprofesi sebagai ahli pengobatan alternatif….”

“ ya ampun ta…hanya karena kedatangan warga baru yang berprofesi sebagi ahli pengobatan alternatif, warga kampung tetangga jadi ramai memperbincangkannya…?”

“ ahh akang…bukan itu yang ramai diperbincangkannya….”

“ lantas apa….?”

“ kecantikannya kang….bisa dibilang, warga baru itu kini menjadi primadona di kampung tetangga….” jawab ita seraya mengembangkan senyumnya, mendapati jawaban ita tersebut, aku hanya membalas senyuman ita seraya mereguk air yang ada di dalam gelas sebagai tanda aku telah mengakhiri makan malamku

“ ishh…pasti akang penasaran kan….tenang aja kang, kampung kita ini juga enggak kalah kok dengan kampung tetangga, hanya saja kalau yang di kampung kita ini, enggak ramai diperbincangkan oleh warga kampung….”

“ maksud kamu apa sih ta…memangnya kampung kita ini kedatangan warga baru juga…?”

“ iya kang…kalau ita lihat sih, usia warga baru yang datang di kampung kita ini, mungkin seusia dengan akang, dan mengenai kecantikannya, ita rasa…kecantikannya enggak kalah kok dengan warga baru kampung tetangga, hanya saja yang membedakannya profesinya, warga baru kampung tetangga memiliki profesi sebagai ahli pengobatan alternatif, sedangkan warga baru di kampung kita, berprofesi sebagai penjaga kantin sekaligus menjadi petugas kebersihan di tempat ita bersekolah….”

Selepas dari perkataan ita tersebut, ambu mengarahkan tatapan matanya ke wajah abah

“ ada apa mbu…?” tanya abah yang merasa bingung dalam memaknai maksud dari tatapan mata ambu

“ apa abah sudah mengetahui ini semua….?”

“ untuk warga baru di kampung sebelah itu, abah udah mengetahuinya, wanita itu bernama ibu diswaya, dan menurut kepala kampung di kampung tetangga, ibu diswaya itu memang berencana untuk tinggal dan menetap di kampung mereka, sedangkan untuk warga baru yang datang di kampung kita ini, abah baru mengetahuinya sekarang ini…”

“ ya ampun bah…masa dengan warga pendatang baru kampung kita sendiri, abah bisa enggak tahu sih…” ujar ambu seraya menggelengkan kepalanya, mendapati perkataan ambu tersebut, aku dan ita hanya bisa saling tersenyum

“ ishh abah…enggak boleh lihat yang cantik cantik nih….”

“ hushh ita..enggak sopan kamu berbicara seperti itu sama abah kamu…” ujar ambu dalam merespon candaan ita

“ iya mbu…ita minta maaf…”

“ lagipula enggak ada yang salah ta, jika abah mengenal ibu diswaya, karena dengan abah mengenal ibu diswaya, yaa…siapa tahu, ibu diswaya itu dapat memberikan bantuan pengobatan alternatif yang mungkin akan bisa menghilangkan penyakit ambu…”

Mendapati perkataanku tersebut, abah dan ambu saling bertukar pandang

“ bagaimana bah…mbu…apakah abah dan ambu setuju dengan usulan atang, untuk mengundang ibu diswaya ke rumah kita ini…?”

“ kalau ambu sih terserah apa kata abah aja tang…” jawab ambu diantara keterdiaman abah

“ bagaimana bah…?”

“ yaa..kita lihat nanti aja tang, walaupun kemungkinannya kecil ibu diswaya bisa mengobati penyakit ambu, tapi memang enggak ada salahnya jika kita mengundang ibu diswaya untuk mengobati ambu, hal ini sekaligus untuk menepis prasangka kamu dan ita yang selama ini mungkin masih menyangka kalau abah ini enggak bersungguh sungguh dalam mengobati ambu…”

“ ahh..itukan prasangka abah aja, dari dulu atang enggak pernah kok mempunyai prasangka seperti itu…”

“ iya nih, abah suka ngaco ngomongnya….” ujar ita menimpali penyangkalanku atas perkataan abah, hingga akhirnya selepas dari pembicaraan ini, ita dan ambu terlihat mulai berjalan meninggalkan meja makan menuju ke arah dapur dengan turut serta membawa piring dan juga gelas kotor, sedangkan abah, abah masih terdiam di kursinya, sepertinya saat ini abah tengah memikirkan sesuatu

“ tang….”

Sebuah perkataan yang terucap dari mulut abah, memecah keterdiamannya

“ ada apa bah….?”

“ kamu dan ita, sudah semakin beranjak dewasa tang…dan abah pikir, sudah waktunya bagi abah untuk memikirkan pembagian atas harta yang abah miliki….”

Diantara perkataan abah yang kini terhenti, aku hanya bisa terdiam dengan pandangan menatap ke arah wajah abah, nampak terpancar ekspresi keseriusan di wajah abah

“ abah berencana untuk memberikan rumah serta kebun abah yang terletak di kampung tetangga kepada kamu, sedangkan untuk tanah yang kita tempati saat ini, abah berencana menyerahkannya kepada ita, jadi selepas abah dan ambu tua nanti, abah berharap kalian masih mau untuk menjaga abah dan ambu…”

“ duh…abah kok ngomongnya jadi serius seperti ini sih….?”

“ ini sudah menjadi kewajiban abah tang…dan kamu harus sudah mulai tahu dari sekarang, bahwa abah memang berencana untuk membagikannya seperti apa yang telah abah katakan tadi….lalu mengenai kamu sekarang ini, abah ingin…kamu mulai merintis usaha di kampung ini, kamu bisa menggunakan warung kosong yang berada di depan rumah kita ini sebagai tempat usaha kamu, karena abah enggak ingin melihat kamu menjalani hari demi hari tanpa aktifitas yang berarti tang….”

“ kalau memang itu keputusan abah, atang mengikuti aja bah….karena atang juga malu untuk menjalani hidup tanpa aktifitas yang berarti seperti ini….”

“ kalau kamu memang setuju dengan usulan abah, mulai besok kamu bersihkan warung kosong itu, dan jika semuanya sudah siap, kamu ikut abah ke kota untuk membeli segala sesuatu yang di perlukan guna menunjang usaha kamu itu…” ujar abah dan berbalas dengan anggukan kepalaku

“ apakah kamu sudah mempunyai gambaran ingin membuka usaha apa tang….?”

“ mengingat lokasi kampung kita ini berada jauh dari kota, atang ingin membuka toko yang berhubungan dengan penyediaan bahan kebutuhan pokok dan juga bensin untuk bahan bakar genset bah…”

Mendapati jawabanku itu, abah menganggukan kepalanya sebagai tanda menyetujui akan ide usaha yang akan aku lakukan

Keesokan paginya, seperti apa yang telah abah dan aku rencanakan, aku mulai membersihkan warung kosong yang berada di depan rumah, dan kini ditengah kesibukanku dalam membersihkan warung, terlihat abah pergi meninggalkan rumah di saat ita belum menjalankan aktifitasnya untuk berangkat ke sekolah, mungkin saat ini, abah mempunyai keperluan yang mengharuskannya untuk meninggalkan rumah di saat hari masih sepagi ini

“ ehemmm….”

“ ehh ta…ngagetin aja kamu…”

“ ahh kasihan kang atang…maaf ya kang…ita enggak bisa membantu bersih bersih…” ucap ita dan berbalas dengan terhentinya pergerakan tanganku dalam menyikat lantai warung yang kotor akibat sudah terlalu lama tidak dibersihkan, nampak terlihat ita yang tengah berdiri di depan pintu rumah, lengkap dengan seragam sekolah yang dikenakannya

“ kamu mau berangkat sekolah ta…?”

“ iya atuh kang…masa iya pakai seragam seperti ini, mau ke empang….” jawab ita yang berbalas dengan gelak tawaku

“ ehh kang…ita punya ide nih…”

“ ide apa ta…?” tanyaku dengan sedikit menaruh rasa curiga atas ide yang akan ita utarakan

“ kalau memang akang setuju….bagaimana kalau selepas sekolah nanti, ita mengajak ka ningtias ke rumah ini, untuk membantu membereskan warung…sekaligus…”

Ita menghentikan perkataannya, senyumnya terlihat mengembang lebar

“ sekaligus apa ta…?”

“ sekaligus mengenalkannya ke kang atang….”

Mendapati perkataan ita tersebut, sejujurnya saat ini, aku sangat menyetujui ide ita, karena semenjak ita menceritakan tentang kedua sosok wanita pendatang baru yang hadir di kampungku ini dan juga di kampung tetangga, entah mengapa, ada rasa keingintahuan yang tinggi atas kedua sosok wanita itu…selain aku ingin membuktikan atas cerita ita mengenai kecantikan dari kedua sosok wanita itu, aku juga mempunyai pertanyaan yang mungkin bisa menjawab rasa keingintahuanku atas latar belakang dari kedua sosok wanita itu

“ bagaimana kang….?”

“ sebaiknya jangan ta….akang merasa enggak enak kalau harus merepotkan orang yang baru kita kenal…”

“ ahh akang salah….justru dengan kita meminta bantuan kepada ka ningtias, itu akan sedikit membantu ka ningtias dalam hal pendapatannya….”

“ hahh…maksud kamu…akang harus membayar ka ningtias untuk merapihkan warung ini…?”

“ iya kang…kasihan loh ka ningtias….pendapatannya apa sih selain menjaga kantin dan juga membersihkan sekolah, apa kang atang enggak berniat untuk membantunya….”

“ duh ta…tapi apa enggak nantinya akan membuat ka ningtias itu merasa enggak enak, karena kita telah membayarnya dalam membantu merapihkan warung ini….”

“ ya ampun kang…itu sih urusan ka ningtias, mau ka ningtias menerimanya, mau ka ningtias enggak menerimanya, yang penting niat baik kita sudah tersalurkan…”

Selepas dari perkataan ita tersebut, terlihat kehadiran ambu keluar dari dalam rumah

“ loh kok belum jalan juga ta…?”

“ ini baru mau jalan mbu…” jawab ita seraya mengarahkan pandangannya ke wajahku

“ kang atang bagaimana….?”

Mendapati pertanyaan itu, aku hanya menjawabnya dengan menganggukan kepala, dan sepertinya jawabanku itu kini telah membuat ita begitu bergegas untuk berangkat ke sekolah

“ sampai jumpa siang nanti kang…” ujar ita seraya mencium tangan ambu lalu berjalan pergi meninggalkan rumah

Diubah oleh meta.morfosis
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rinandya dan 14 lainnya memberi reputasi
15 0
15
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
SANTET - Dendam Berakhir Petaka
21-01-2021 17:00
adik sendiri jadi mak comblang ?, lancar dah urusan........emoticon-Peluk
profile-picture
aan1984 memberi reputasi
1 0
1
SANTET - Dendam Berakhir Petaka
21-01-2021 17:19
Nah klo udah d dukung sama adik sendiri mah enak,, tinggal gimana Atang speak2nya ke Ningtyas
profile-picture
aan1984 memberi reputasi
1 0
1
Halaman 1 dari 3
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
air-mata-sang-kupu-kupu-malam
Stories from the Heart
terulang-kembali
Stories from the Heart
urban-legend-pantai-trisik-1990
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Heart to Heart
apakah-ini-cinta
B-Log Collections
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia