- Beranda
- Stories from the Heart
Pandemi Kapan Kau Pergi
...
TS
agusmulyanti
Pandemi Kapan Kau Pergi
"Bt..bt..bt, kapan sih corona pergi ?, aku bosen tau ?," sungut bungsuku sambil melemparkan buku yang sedang dibacanya ke tempat tidur.
"Hei !!, kamu kenapa sih ?, koq marah-marah gitu ?."
"Aku bosen tau mah, gak bisa ke sekolah, gak ketemu temen-temen dan yang paling bikin aku bt, aku gak dapat uang jajan," celotehnya lagi sambil memancungkan mulutnya.
Aku tersenyum sambil menepuk pipinya yang chubby. Semenjak pandemi berat badannya naik hingga 5 kg, sehingga pipinya yang putih terlihat lebih berisi.
*******
Tiba-tiba pintu kamar putriku yang ke-dua terbuka. Gadisku yang ke-dua sedang bersiap berangkat ke kantor. Dilemparkannya sebungkus coklat ke arah adiknya.
"Fii nih buat kamu."
Dengan sigap bungsuku menyambutnya.
"Wih asiik.... coklat. Yeayyy....alhamdulillah. Terimakasih mban. Sering-sering ya," ujarnya sambil tersenyum riang.
******
"Mah aku berangkat dulu ya."
"Iya nak, hati-hati di jalan. Oh iya kamu sudah bawa sanitizer belum ?."
"Sudah mah. Aku juga bawa masker cadangan dan payung."
"Yasudah kalau gitu."
"Si Fifi kenapa mah ?, koq manyun gitu ?."
"Bt katanya, pandemi gak selesai-selesai."
"Oh."
Dibukanya tas kerja yang disandangnya. Dikeluarkan selembar uang sepuluh ribu rupiah.
"Mah, titip ini untuk Fifi ya. Aku berangkat dulu, sudah siang."
Seusai mengucap salam dan mencium tanganku, putri keduaku menghilang di pertigaan jalan.
******
Suara lagu dari opa-opa Korea masih terdengar dari laptop si bungsu. Aku menghampiri dan memberikan titipan kakaknya, sambil mencubit pipinya
"Dek...ini dari mbak."
"Aduh !!, apa nih mah."
Saat dilihatnya aku memberikan uang sepuluh ribu, ia tertawa riang sambil menggoyang-goyangkan kedua kakinya.
"Alhamdulillah, akhirnya aku dapet uang jajan....yuhuyyy."
Sesaat ia terdiam, dan menatapku dengan wajah terlihat bersungguh-sungguh.
"Mah..Januari nanti, sekolah jadi masukkan ?."
"Kata pak menteri sih gitu, tapi kalau masih kayak gini keadaannya, mama takut dek."
Bungsuku yang tadi tiduran, bangkit dan duduk disebelahku.
"Mah, denger ya !!, kita itu jangan terlalu takut sama si Corona. Kata pak ustadz setiap orang itu sudah tercatat jadwal kepulangannya, Allah sudah menetapkan qadha dan qadarnya, jadi gak bisa digeser atau diutak atik mah."
Aku tersenyum geli melihat mimiknya saat menirukan ucapan ustadz. Kupeluk tubuhnya yang sudah hampir sama denganku.
"Dek, mama mau tanya, apa adek tau si A meninggal karena apa ?, juga si B, meninggal karena apa?."
Dia menggelengkan kepalanya.
"Nah karena kita tidak tau, kapan dan karena sebab apa seseorang akan meninggal, makanya kita harus selalu waspada dan hati-hati."
"Jadi maksud mama kita gak akan jalan-jalan gitu ?."
Aku mengangguk dan mengiyakan ucapannya.
"Menurut mama itu pilihan yang paling bijak, kecuali ada hal-hal yang tidak bisa kita hindari, dan memang mengharuskan kita untuk ke luar, tapi itupun tetap harus hati-hati."
"Dek..mama melarang adek keluar, juga pemerintah melarang kamu dan teman-teman kamu untuk datang ke sekolah, karena memang virus ini sangat berbahaya dan bisa merenggut jiwa. Kalau bukan kalian yang terinfeksi, bisa saja kalian menularkan virus itu ke mama atau bapak di rumah. Nah kalau sudah begitu, siapa yang akan rugi dan sedih ?."
"Iya mah, aku ngerti sekarang."
"So..."
"So..kita tetap di rumah saja, sampai si Corona itu pergi. Aku sayang mama sama bapak, aku gak mau mama dan bapak celaka."
******
Pandemi masih ada
Dia tak dapat diraba dan dirasa
Tapi akibatnya terlihat begitu nyata
Dan membuat kita semua menderita dan terluka.
Jagalah dia yang kau cinta
Ingat kehati-hatian kita, jauhkan kita dari petaka.
Kecerobohan kita hadirkan bencana
Dan sesal tiada guna.
Jika ikhtiar telah terlakoni
Tapi musibah tetap menghampiri
Pasrahkan diri pada illahi
Semoga semua Allah sudahi. Aamiin
"Hei !!, kamu kenapa sih ?, koq marah-marah gitu ?."
"Aku bosen tau mah, gak bisa ke sekolah, gak ketemu temen-temen dan yang paling bikin aku bt, aku gak dapat uang jajan," celotehnya lagi sambil memancungkan mulutnya.
Aku tersenyum sambil menepuk pipinya yang chubby. Semenjak pandemi berat badannya naik hingga 5 kg, sehingga pipinya yang putih terlihat lebih berisi.
*******
Tiba-tiba pintu kamar putriku yang ke-dua terbuka. Gadisku yang ke-dua sedang bersiap berangkat ke kantor. Dilemparkannya sebungkus coklat ke arah adiknya.
"Fii nih buat kamu."
Dengan sigap bungsuku menyambutnya.
"Wih asiik.... coklat. Yeayyy....alhamdulillah. Terimakasih mban. Sering-sering ya," ujarnya sambil tersenyum riang.
******
"Mah aku berangkat dulu ya."
"Iya nak, hati-hati di jalan. Oh iya kamu sudah bawa sanitizer belum ?."
"Sudah mah. Aku juga bawa masker cadangan dan payung."
"Yasudah kalau gitu."
"Si Fifi kenapa mah ?, koq manyun gitu ?."
"Bt katanya, pandemi gak selesai-selesai."
"Oh."
Dibukanya tas kerja yang disandangnya. Dikeluarkan selembar uang sepuluh ribu rupiah.
"Mah, titip ini untuk Fifi ya. Aku berangkat dulu, sudah siang."
Seusai mengucap salam dan mencium tanganku, putri keduaku menghilang di pertigaan jalan.
******
Suara lagu dari opa-opa Korea masih terdengar dari laptop si bungsu. Aku menghampiri dan memberikan titipan kakaknya, sambil mencubit pipinya
"Dek...ini dari mbak."
"Aduh !!, apa nih mah."
Saat dilihatnya aku memberikan uang sepuluh ribu, ia tertawa riang sambil menggoyang-goyangkan kedua kakinya.
"Alhamdulillah, akhirnya aku dapet uang jajan....yuhuyyy."
Sesaat ia terdiam, dan menatapku dengan wajah terlihat bersungguh-sungguh.
"Mah..Januari nanti, sekolah jadi masukkan ?."
"Kata pak menteri sih gitu, tapi kalau masih kayak gini keadaannya, mama takut dek."
Bungsuku yang tadi tiduran, bangkit dan duduk disebelahku.
"Mah, denger ya !!, kita itu jangan terlalu takut sama si Corona. Kata pak ustadz setiap orang itu sudah tercatat jadwal kepulangannya, Allah sudah menetapkan qadha dan qadarnya, jadi gak bisa digeser atau diutak atik mah."
Aku tersenyum geli melihat mimiknya saat menirukan ucapan ustadz. Kupeluk tubuhnya yang sudah hampir sama denganku.
"Dek, mama mau tanya, apa adek tau si A meninggal karena apa ?, juga si B, meninggal karena apa?."
Dia menggelengkan kepalanya.
"Nah karena kita tidak tau, kapan dan karena sebab apa seseorang akan meninggal, makanya kita harus selalu waspada dan hati-hati."
"Jadi maksud mama kita gak akan jalan-jalan gitu ?."
Aku mengangguk dan mengiyakan ucapannya.
"Menurut mama itu pilihan yang paling bijak, kecuali ada hal-hal yang tidak bisa kita hindari, dan memang mengharuskan kita untuk ke luar, tapi itupun tetap harus hati-hati."
"Dek..mama melarang adek keluar, juga pemerintah melarang kamu dan teman-teman kamu untuk datang ke sekolah, karena memang virus ini sangat berbahaya dan bisa merenggut jiwa. Kalau bukan kalian yang terinfeksi, bisa saja kalian menularkan virus itu ke mama atau bapak di rumah. Nah kalau sudah begitu, siapa yang akan rugi dan sedih ?."
"Iya mah, aku ngerti sekarang."
"So..."
"So..kita tetap di rumah saja, sampai si Corona itu pergi. Aku sayang mama sama bapak, aku gak mau mama dan bapak celaka."
******
Pandemi masih ada
Dia tak dapat diraba dan dirasa
Tapi akibatnya terlihat begitu nyata
Dan membuat kita semua menderita dan terluka.
Jagalah dia yang kau cinta
Ingat kehati-hatian kita, jauhkan kita dari petaka.
Kecerobohan kita hadirkan bencana
Dan sesal tiada guna.
Jika ikhtiar telah terlakoni
Tapi musibah tetap menghampiri
Pasrahkan diri pada illahi
Semoga semua Allah sudahi. Aamiin
0
238
1
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.1KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya