- Beranda
- Berita dan Politik
DPRD Koreksi Anies soal Testing Jakarta Lampaui Standar WHO
...
TS
physch00
DPRD Koreksi Anies soal Testing Jakarta Lampaui Standar WHO
DPRD menyebut Anies Baswedan terlalu percaya diri tes virus corona di Jakarta sudah melampaui standar WHO. Ilustrasi. (AP/Esteban Felix).
Jakarta, CNN Indonesia --
Anggota DPRD DKI dr. Gilbert Simanjuntak mengoreksi pernyataan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang menyebutkan standar testing virus corona di ibu kota sudah melebihi standar yang dianjurkan oleh World Health Organization (WHO).
Gilbert menerangkan bahwa yang masuk hitungan untuk dilakukan test harusnya orang yang bergejala, bukan seluruh masyarakat.
"Selama ini Gubernur terkesan selalu terlalu percaya diri mengatakan bahwa tes sudah dilakukan 5 kali standar WHO," kata Gilbert kepada CNNIndonesia.com, Senin (21/9).
Lihat juga: Anies Minta Warga Bantaran Ciliwung Bersiap Hadapi Banjir
"Ini harus dikoreksi, bahwa yang perlu dites adalah mereka yang bergejala dan yang terpapar atau kontak," lanjut dia.
Sementara menurut Gilbert, hitungan tracing yang dilakukan DKI selama ini ialah bagi seluruh masyarakat dan khusus angka yang bergejala. Sehingga DKI masih harus bekerja lebih keras lagi untuk mencapai standar WHO.
"Melakukan tes secara sporadis adalah sia-sia, dan gampang menemukan orang yang mau dites agar melebihi standar WHO," jelas dia.
Lalu, Gilbert mengkritik Anies karena tidak terbuka mengenai data tracing. Data tracing ialah data yang menunjukkan jumlah pihak diperiksa setelah satu satu orang dinyatakan positif.
"Setelah tes lalu contact tracing pada yang positip, ini yang tidak pernah dilaporkan gubernur, dan angkanya di Mei sangat jelek, 1:3. Bulan Juni-September tidak pernah dibuka angka contact tracing," beber dia.
Lihat juga: Dokter Reisa: 72 Persen Pasien Corona Telah Sembuh
Karena kesalahpahaman ini, Gilbert menyarankan Anies agar menyerahkan penjelasan angka kepada Satgas Covid DKI yang memahami masalah corona secara menyeluruh. Anies, kata dia, harusnya lebih fokus pada kebijakan.
"Selama ini kita misleading oleh paparan yang selalu menyampaikan RT, positivity rate, dan fatality rate. Sebaiknya hal tersebut diserahkan ke Satgas Covid DKI dan Gubernur fokus ke kebijaksanaan atau policy," tutup dia.
Dikutip dari laman corona.jakarta.go.id, jumlah orang yang di tes PR dalam sepekan terakhir ialah sebanyak 61.694 orang. Dituliskan di laman tersebut ialah target WHO untuk Jakarta setiap pekan minimal 10.645 testing.
https://m.cnnindonesia.com/nasional/...ui-standar-who
Abud tracing asal-asalan. Itu klaster pasar kantor dll udah ditelusuri blom? Mana bisa soalnya blunder parah akibat ganjil genap dan efek kejut antri busway yang dulu. Sumber masalah penularan yg tak terobati lagi. Sekarang habisin alat tes yg mahal buat cfd dan pejabat2 sekedar omongkosong melampaui tes who. Kapan pemukiman padat? Buka datanya dong. Klaster bukannya berkurang malah makin parah.
Seperti SBY bilang, tidak tepat sasaran

Jakarta, CNN Indonesia --
Anggota DPRD DKI dr. Gilbert Simanjuntak mengoreksi pernyataan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang menyebutkan standar testing virus corona di ibu kota sudah melebihi standar yang dianjurkan oleh World Health Organization (WHO).
Gilbert menerangkan bahwa yang masuk hitungan untuk dilakukan test harusnya orang yang bergejala, bukan seluruh masyarakat.
"Selama ini Gubernur terkesan selalu terlalu percaya diri mengatakan bahwa tes sudah dilakukan 5 kali standar WHO," kata Gilbert kepada CNNIndonesia.com, Senin (21/9).
Lihat juga: Anies Minta Warga Bantaran Ciliwung Bersiap Hadapi Banjir
"Ini harus dikoreksi, bahwa yang perlu dites adalah mereka yang bergejala dan yang terpapar atau kontak," lanjut dia.
Sementara menurut Gilbert, hitungan tracing yang dilakukan DKI selama ini ialah bagi seluruh masyarakat dan khusus angka yang bergejala. Sehingga DKI masih harus bekerja lebih keras lagi untuk mencapai standar WHO.
"Melakukan tes secara sporadis adalah sia-sia, dan gampang menemukan orang yang mau dites agar melebihi standar WHO," jelas dia.
Lalu, Gilbert mengkritik Anies karena tidak terbuka mengenai data tracing. Data tracing ialah data yang menunjukkan jumlah pihak diperiksa setelah satu satu orang dinyatakan positif.
"Setelah tes lalu contact tracing pada yang positip, ini yang tidak pernah dilaporkan gubernur, dan angkanya di Mei sangat jelek, 1:3. Bulan Juni-September tidak pernah dibuka angka contact tracing," beber dia.
Lihat juga: Dokter Reisa: 72 Persen Pasien Corona Telah Sembuh
Karena kesalahpahaman ini, Gilbert menyarankan Anies agar menyerahkan penjelasan angka kepada Satgas Covid DKI yang memahami masalah corona secara menyeluruh. Anies, kata dia, harusnya lebih fokus pada kebijakan.
"Selama ini kita misleading oleh paparan yang selalu menyampaikan RT, positivity rate, dan fatality rate. Sebaiknya hal tersebut diserahkan ke Satgas Covid DKI dan Gubernur fokus ke kebijaksanaan atau policy," tutup dia.
Dikutip dari laman corona.jakarta.go.id, jumlah orang yang di tes PR dalam sepekan terakhir ialah sebanyak 61.694 orang. Dituliskan di laman tersebut ialah target WHO untuk Jakarta setiap pekan minimal 10.645 testing.
https://m.cnnindonesia.com/nasional/...ui-standar-who
Abud tracing asal-asalan. Itu klaster pasar kantor dll udah ditelusuri blom? Mana bisa soalnya blunder parah akibat ganjil genap dan efek kejut antri busway yang dulu. Sumber masalah penularan yg tak terobati lagi. Sekarang habisin alat tes yg mahal buat cfd dan pejabat2 sekedar omongkosong melampaui tes who. Kapan pemukiman padat? Buka datanya dong. Klaster bukannya berkurang malah makin parah.
Seperti SBY bilang, tidak tepat sasaran

Diubah oleh physch00 22-09-2020 13:04
tukangbeling7 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
740
8
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
695.3KThread•59KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya