- Beranda
- Perencanaan Keuangan
Adaptasi Ekonomi Digital agar Terhindar dari Krisis Ekonomi
...
TS
bintanghu
Adaptasi Ekonomi Digital agar Terhindar dari Krisis Ekonomi

bersama saya,dan....hy.
Quote:
Sejak awal penerapan social distancing atau PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) akibat dampak pandemi Covid-19 banyak pelaku usaha yang terdampak terutama bisnis bersaka kecil (UMKM).Akibatnya pertumbuhan ekonomi lesu bahkan mencatat rekor dengan pertumbuhan minus 5,23 persen pada Q2 2020.
Memang kita tidak sedang berada dalam krisis ekonomi tetapi Kalau kondisi ini terus berlanjut,tidak ada bantahan kalau kita akan memasuki krisis ekonomi.Dampak dari krisis ekonomi itu seperti pengangguran,kelaparan,kematian,hingga kerusuhan sosial.Lalu bagaimana caranya kita beradaptasi agar ekonomi bisa berjalan Kembali normal atau paling tidak gak lebih buruk dari sekarang?
Kami punya beberapa pandangan dan yang paling penting adalah :
Transformasi ke ekonomi digital oleh pelaku bisnis kecil (UMKM)
GambarYap,Sebagian besar perputaran ekonomi di Indonesia masih dijalankan secara ‘fisik’ yang artinya mereka harus punya tiga wadah untuk melakukan perputaran ekonomi
embeli fisik dan penjual fisik di pasar fisik.sementara hanya Sebagian kecil perekonomian Indonesia dijalankan secara ‘non-fisisk’ yang artinya mereka tetap perlu tiga sarana untuk perputaran ekonomi : pembeli,penjual dan pasar namun bedanya,ekonomi non-fisik (kita sebut digital) tidak perlu bertemu secara fisik di pasar.Mereka bisa berada dimana saja tanpa harus saling ketemu untuk melakukan perputaran ekonomi.Namun sayang ,kalau harus dibandingkan dengan pelaku ekonomi fisik,pelaku ekonomi digital masih kecil (tahun 2018 hanya menyumbang Rp 814 triliun atau 5,5 % dari total PDB)
embeli fisik dan penjual fisik di pasar fisik.sementara hanya Sebagian kecil perekonomian Indonesia dijalankan secara ‘non-fisisk’ yang artinya mereka tetap perlu tiga sarana untuk perputaran ekonomi : pembeli,penjual dan pasar namun bedanya,ekonomi non-fisik (kita sebut digital) tidak perlu bertemu secara fisik di pasar.Mereka bisa berada dimana saja tanpa harus saling ketemu untuk melakukan perputaran ekonomi.Namun sayang ,kalau harus dibandingkan dengan pelaku ekonomi fisik,pelaku ekonomi digital masih kecil (tahun 2018 hanya menyumbang Rp 814 triliun atau 5,5 % dari total PDB)Artinya di kondisi seperti ini,pelaku ekonomi fisik tidak bisa menjalankan usahanya secara normal (jika PSBB dicabut,mereka akan bisa berjualan secara fisik seperti biasa namun permintaannya tidak akan normal setidaknya sampai vaksin Covid-19 ditemukan-ini disebabkan oleh perubahan perilaku konsumen) jika ini terus berlanjut,akan berdampak kurang bagus terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Jadi solusinya,pelaku ekonomi fisik harus bertransformasi segera ke ekonomi digital untuk dua kepentingan,kesehatan dan ekonomi.
Namun masalahnya tak sampai disitu,kalau penjual telah bertransformasi,bagaimana dengan permintaan yang tetap lesu akibat banyak ‘pembeli’ ysng daya belinya turun drastis akibat PHK atau pemotongan gaji?well,kalau semua sektor bisnis (paling tidak 80 %) terutama UMKM bertransformasi ke ekonomi digital,masalah ini lambat atau laun akan teratasi.
Jadi sudah semestinya kita yang dulu jualan di pasar ketemu pembeli sekarang harus mulai transisi lambat laun ke ekonomi non-fisik agar terhindar dari penularan wabah dan ekonomi tetap lanjut normal---ya paling tidak tidak akan lebih buruk dari saat ini.Jika ini sudah diterapkan dari pelaku bisnis paling kecil yakni UMKM,tentulah bisnis skala besar juga ikut normal.
Untuk bertransformasi ke ekonomi non fisik atau digital tentu gampang-gampang susah tergantung apa jenis produk si pelaku bisnis.Dalam hal ini,bisnis entertainmentyang mengandalkan jumlah pengunjung/penonton secara fisik sangat kewalahan untuk bertransformasi ke ekonomi digital karena pasarnya sudah dikuasai raksasa-raksasa e-entertainment seperti Netflix,dan lainnya.Sementara pelaku bisnis sandang atau pangan cenderung mudah bertransformasi karena marketplace-nya cenderung sehat dan tidak dikuasai oleh satu atau dua raksasa.
Tentulah segala masalah dan tantangan menjadi tanggung jawab semua pihak terutama pelaku usaha itu sendiri dan kemudian pemerintah dalam hal menstimulasi serta menyiapkan sarana dan prasarana digital terlepas disana telah ada sarana prasarana swasta.Demikian.
Thank,
Saleum.
Sumber : opini pribadi
referensi dan sumber data : kesini ,, kesini .
Diubah oleh bintanghu 04-09-2020 20:06
0
345
0
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Perencanaan Keuangan
9.4KThread•8KAnggota
Komentar yang asik ya
