Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
86
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5f332c92c342bb3e3e1029df/ku-bunuh-istriku-demi-pelakor
"Sayang, hari ini aku mau ke luar kota karena ada proyek yang harus ditangani," ucapku pada Laila--istriku--sambil menyetel jas kerja. Aku dan Laila sudah menikah selama tiga tahun tapi belum juga dikaruniai seorang anak walaupun begitu rumah tangga kami tetap harmonis tanpa adanya gangguan dari pihak ketiga. "Berapa lama, Mas?" tanyanya. "Mungkin seminggu," jawabku agak tidak acuh. "Hati-hati
Lapor Hansip
12-08-2020 06:41

KU BUNUH ISTRIKU DEMI PELAKOR

Past Hot Thread
icon-verified-thread
KU BUNUH ISTRIKU DEMI PELAKOR
Quote:"Sayang, hari ini aku mau ke luar kota karena ada proyek yang harus ditangani," ucapku pada Laila--istriku--sambil menyetel jas kerja.

Aku dan Laila sudah menikah selama tiga tahun tapi belum juga dikaruniai seorang anak walaupun begitu rumah tangga kami tetap harmonis tanpa adanya gangguan dari pihak ketiga.

"Berapa lama, Mas?" tanyanya.

"Mungkin seminggu," jawabku agak tidak acuh.

"Hati-hati di sana, ya," ucapnya.

Laila sedang duduk di sisi tepian ranjang. Mata indah itu menyipit saat sebuah lengkungan terbit di bibir tipisnya. Laila lalu meraih dasi dari dalam lemari memakaikannya padaku dengan sigap seperti biasa.

Sebuah kecupan hangat kudaratkan pada keningnya lalu dengan manja wanita yang berstatus sebagai istriku itu memeluk erat tubuh ini seakan ia tidak ingin aku pergi dari sisinya.

****

Malam menyapa, menggantikan semburat indah berwarna jingga yang tadinya sempat menaungi bumi. Menggeser posisi matahari yang sudah lama menyinari bumi pertiwi, bulan muncul membawa serta cahayanya yang indah bersama tebaran bintang di angkasa. Menjadi pelita di saat gelapnya malam menyiksa raga.

Suara jangkrik berirama berpadu dengan binatang malam lainnya menambah kesan sunyi pada hari yang kian gulita. Di tengah gelapnya malam Laila tertidur di atas kasur dengan nyenyak. Remang cahaya bulan yang menyusup dari balik jendela kaca menerpa wajah ayu yang tidak pernah berubah sama sekali selama tiga tahun ini.

Dengkuran halus kentara terdengar saat kaki ini makin mendekat pada wanita cantik itu. Wajah yang teduh itu kini tengelam dalam buaian mimpi indah. Teringat kembali bagaimana gigihnya wanitaku itu menemaniku di saat cobaan-cobaan hidup yqng begitu pahit menyiksa jiwa dan raga. Namun, tak sekali pun kudapati kata kasar yang keluar dari bibir indahnya.

Ia selalu memotivasi diri ini ketika jatuh dan terpuruk dalam jurang keputus asaan. Laila, terima kasih untuk semua yang kau berikan padaku selama ini.

Kupandangi wajah cantik itu tanpa berkedip, sungguh indah ciptaanmu Tuhan. Wajah yang manis, mata sipit, bibir tipis dan kulit yang putih berpadu sempurna dengan keperibadian yang lembut. Benar-benar wanita idaman.

Perlahan tapi pasti tangan ini mulai mengusap lembut surai hitam seketiak itu. Ia sedikit terusik dan memindahkan posisi kepalanya, tanpa sadar meraih tangan ini dan menjadikannya bantal.

"Laila," lirihku.

"Engkau adalah wanita terhebat yang pernah aku temui, di kala diri ini jatuh terpuruk kau akan selalu ada untukku, di saat amarah mulai menguasai kau selalu ada sebagai penyejuk hati dan di saat kaki ini salah melangkah kau akan selalu menegur serta meluruskan dan menunjukan jalan yang benar."

"Laila, tak pernah kudapati sekali pun kata-katamu yang menyakiti hati, kesetiaan serta kepatuhanmu pada suami pasti akan membuat lelaki manapun akan menggila jika melihat kelembutan dan keindahanmu.

Meskipun selama ini kau belum bisa memberiku seorang anak tapi dirimu yang indah permai amat berharga untuk kumiliki."

Kuhembuskan napas dengan kasar, sebanarnya aku sendiri tidak tega jika harus menyakiti wanita yang dengan tabah menemaniku di saat suka maupun duka itu. Namun, aku juga ingin bahagia.

"Tapi aku juga ingin seperti pria-pria di luaran sana, Laila. Mempunyai istri dan anak-anak yang dapat melengkapi kebahagiaanku menjadi seorang kepala rumah tangga. Sayangnya kau tidak bisa mewujudkan impianku itu. Laila maafkan aku ...."

Kukeluarkan sebuah pisau yang sedari tadi sengaja kusimpan di bawah tempat tidur. Menaikan tangan ke udara dengan pisau tajam yang kilaunya menggetarkan hati lalu menancapkannya dengan bringas pada perut Laila.

Mata indah itu terbuka lebar. Ia mengerang kesakitan melihat tumpahan darah segar yabg keluar dari dalam perutnya. Tanpa ampun kusayat perut ramping itu dengan menggila bak setan jahannam yang keluar dari neraka.

Laila meraung kesakitan tapi aku malah mengeringai, puas melihatnya menderita. Bibir itu bergetar hebat merasakan sayatan demi sayatan pisau yang merobek perutnya.

"M-Mas ...." lirihnya hampir tak terdengar hingga akhirnya kejora indah itu tertutup untuk selamanya.

Merasa aksi gila dan sadisku berhasil aku lalu menghempaskan pisau yang tadi kupakai untuk membunuh Laila dengan kasar ke lantai. Menatap wajah ayu yang kini terlihat pucat itu sebab kehilangan banyak darah.

Bau anyir menyeruak memenuhi rongga hidung. Perut indah nan ramping Laila kini hancur dan robek bersimbah darah bahkan saking hancurnya ususnya pun menyembul keluar.

"Maafkan aku, Laila. Kau sudah banyak menderita saat bersamaku mungkin dengan kematian kau bisa tenang di sana walaupun itu tanpa adanya diriku."

"Hahaha ... kau memang hebat, Sayang." Seorang wanita seksi muncul dari dalam persembunyian.

Dengan pakain minim dan high heels setinggi dua senti ia menghampiriku, bibir ranum itu tersenyum indah melihat kemejaku yang kini penuh dengan noda darah yang keluar dari perut Laila.

"Sekarang kau bisa mendapatkanku, Tuan Raihan Sheptiano," ucapnya sambil bergelanyut manja di tangan kekarku.

Safira, seindah namanya ia adalah seorang wanita cantik dan juga memiliki bentuk tubuh yang indah, bibir ranum, kulit putih bersih, dan tahi lalat di hidung.

Safira wanita normal dia pasti bisa memberikanku keturunan tidak seperti Laila yang mandul itu.

"Tentu saja, Safira," ucapku tersenyum miring sambil mengelus lembut dagunya.

Kami lalu membawa jasad Laila dari dalam kamar. Menjatuhkan mayatnya dengan kasar pada lubang setinggi pinggang yang sudah kami gali sebelumnya dan mulai menutupnya dengan tanah.

Aku lalu menanamkan sebuah bunga mawar di atas makam Laila sebagai tanda terima kasih karena telah menemaniku dengan sabar selama tiga tahun ini.

Selamat tinggal istri tuaku yang malang ....

ku bunuh istriku demi pelakor part 2

ku bunuh istriku demi pelakor part 3

ku bunuh istriku demi pelakor part 4

ku bunuh istriku demi pelakor part 5

ku bunuh istriku demi pelakor part 6

ku bunuh istriku demi pelakor part 7


Diubah oleh tutorialhidup
profile-picture
profile-picture
profile-picture
lumut66 dan 18 lainnya memberi reputasi
11
icon-close-thread
Thread sudah digembok
Halaman 1 dari 3
KU BUNUH ISTRIKU DEMI PELAKOR
12-08-2020 18:32
ngeri sekali judulnya.
emoticon-Takut
0 0
0
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 4 balasan
KU BUNUH ISTRIKU DEMI PELAKOR
12-08-2020 19:15
hmm, pengalaman hidup ts nih, gila ts kejam
profile-picture
tutorialhidup memberi reputasi
1 0
1
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
KU BUNUH ISTRIKU DEMI PELAKOR
13-08-2020 15:08
Masih ada lanjutannya lagi tidak gan....?. Mungkin setelah dengan Safira ternyata juga tidak punya anak... dan kejadian itu terulang kembali.....emoticon-Takut
Diubah oleh key.99
profile-picture
tutorialhidup memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
KU BUNUH ISTRIKU DEMI PELAKOR
14-08-2020 19:22
judul sadis
profile-picture
tutorialhidup memberi reputasi
1 0
1
Lihat 3 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 3 balasan
KU BUNUH ISTRIKU DEMI PELAKOR
14-08-2020 21:43
KU BUNUH ISTRIKU DEMI PELAKOR
profile-picture
tutorialhidup memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
KU BUNUH ISTRIKU DEMI PELAKOR
14-08-2020 22:32
Wahhh parah ini gak punya hati emangg nih orang
profile-picture
tutorialhidup memberi reputasi
1 0
1
KU BUNUH ISTRIKU DEMI PELAKOR
14-08-2020 22:32
Dasar gak punya akhlak apa yahh tega bunuh istri sendiri
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
KU BUNUH ISTRIKU DEMI PELAKOR
15-08-2020 00:16
nekat....
profile-picture
tutorialhidup memberi reputasi
1 0
1
KU BUNUH ISTRIKU DEMI PELAKOR
15-08-2020 01:55
Dasarrr
profile-picture
tutorialhidup memberi reputasi
1 0
1
KU BUNUH ISTRIKU DEMI PELAKOR
15-08-2020 05:23
literally "drug candy"
0 0
0
KU BUNUH ISTRIKU DEMI PELAKOR
15-08-2020 10:43
Halo Pak pulici ada pembunuhan
0 0
0
KU BUNUH ISTRIKU DEMI PELAKOR
15-08-2020 12:43
coba dicocokkan apakah ts pernah menikah sebelumnya

apakah istrinya masih idup?
0 0
0
KU BUNUH ISTRIKU DEMI PELAKOR
15-08-2020 12:46
istri sy masih idup😂😂
0 0
0
KU BUNUH ISTRIKU DEMI PELAKOR
15-08-2020 16:49
Agan2 semua ayok cari tau alamat ts dimana...
Psikopat ni TS
0 0
0
KU BUNUH ISTRIKU DEMI PELAKOR
15-08-2020 17:12
gila edan..sakit jiwa ini mah. .amit2 ya jangan ketemu orang kaya ginian..ga punya anak kan bisa adopsi..
0 0
0
KU BUNUH ISTRIKU DEMI PELAKOR
15-08-2020 21:25
Kok malah dibunuh sih" Mendi di Piara Dua-duanya kan enak emoticon-Big Grin
0 0
0
KU BUNUH ISTRIKU DEMI PELAKOR
16-08-2020 16:43
Kaga berkah hidup lelaki model gini
Mang udah ketauan si Lela nyang mandul
Pegimana kalo tu laki yang mandul
Gw gedeg ma orang yang selalu nuduh cewe yang mandul tanpa bukti
0 0
0
KU BUNUH ISTRIKU DEMI PELAKOR
16-08-2020 16:52
Pagi menjelang, cahaya matahari menyusup lewat celah-celah jendala kaca bening dengan gorden berwarna peach. Cahaya itu berhasil mengusik tidur nyenyakku.

Mata ini mengerjap, mencoba untuk mengumpulkan nyawa ke dalam tubuh. Aku dan Safira tertidur pulas setelah mengubur jasad Laila. Safira mengganti seprai dan selimut yang penuh dengan noda darah semalam dengan yang baru.

Laila adalah seorang yatim piatu jadi kalaupun dia mati pasti tidak 'kan ada orang yang mencarinya.

Tapi di mana Safira sekarang? Kenapa ia tidak ada di sini? Setelah membersihkan diri dalam kamar mandi dan mengganti pakaian aku beranjak turun ke lantai bawah. Rumah besar ini benar-benar sepi sebab tiga hari yang lalu aku meliburkan semua pembantu dan penjaga.

Itu sengaja kulakukan agar rencana buruk menyingkirkan Laila bisa berjalan dengan lancar. Para pambantu dan penjaga itu aku liburkan selama satu bulan tapi gaji mereka tetap jalan.

Aroma masakan yang lezat menguar menembus indra penciuman ini. Sepertinya arahnya dari dapur. Kaki terus melangkah menuju sumber aroma.

Netra ini menangkap seorang wanita cantik yang tengah asyik berkutat dengan peralatan dapur. Lihai tangan mungil itu dengan mengaduk nasi di salam wajan dan sesekali ia menambahkan bumbu-bumbu serta sayuran lainnya untuk menambah cita rasa masakannya.

Safira Ratina--istri mudaku--aku menikahinya satu bulan yang lalu dan tentu itu semua tanpa sepengetahuan dari Laila. Sengaja aku berdehem agar dia berbalik dan melihatku. Berhasil, Safira berbalik dengan senyuman tipis di wajahnya yang dapat menggentarkan hati pria manapun jika melihatnya.

"Kau sudah bangun, Sayang?"

Aku hanya mengangguk tanda mengiyakan pertanyaanya. Sigap istri mudaku itu menyajikan nasi goreng ke atas meja dengan asapnya yang masih mengepul di udara.

Safira lalu memgambil piring menyendokkan nasi ke dalam piring tersebut lalu memberikannya padaku. Meneguk air lalu aku mulai menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulut. Menguyahnya secara perlahan ini pertama kalinya Safira memasak untukku.

Istriku itu ikut duduk di meja makan bersamaku. Safira memerhatikanku yang sedang mengunyah nasi goreng buatannya dengan tatapan seperti ragu.

"Huek ... asin!" ucapku memuntahkan nasi dari dalam mulut.

Safira segera menyodorkan segelas air padaku. Kuminum air dalam gelas hingga tandas. Lalu kembali meletakkan gelasnya ke atas meja dengan kasar hingga Safira terkejut.

"Kamu gak papa, Sayang," ucapnya dengan sorot mata khawatir.

"Kamu gak bisa masak?!" Aku menatap tajam ke arah Safira.

Wanita cantik itu menunduk takut sambil menggelengkan kepalanya.

"Maaf, Mas, aku gak bisa masak," ucapnya.

Ck, aku pikir dia sama seperti Laila. Cantik,lembut dan pintar memasak ternyata dugaanku salah. Memasak nasi goreng saja dia tidak bisa apalagi makanan yang lain. Huft, ya sudahlah walaupun Safira tidak bisa memasak tapi setidaknya ia bisa memberikanku keturunan nantinya.

"Ya sudah tidak apa-apa, nanti akan kucarikan pembantu untuk memasak untuk kita," ucapku.

****

Malam kembali menyapa. Tubuh ini remuk hampir tak bertenaga setelah bekerja seharian penuh. Setelah sampai di rumah aku langsung menghempaskan tubuh di sofa ruang tamu.

"Laila! Tolong pijitin aku dong, Sayang!" teriakku.

Hening, tak ada yang menyahut. Menengok ke belakang tidak ada siapa-siapa di rumah ini selain diriku ke mana Laila sebenarnya?

Astaga! Aku menepuk jidat lupa kalau Laila sudah aku bunuh kemarin malam. Ck, aku sendirian di rumah ini Safira pasti masih belum pulang dari rumah orang tuannya.

Ya sudahlah aku sangat lelah. Kuputuskan untuk naik ke atas dan membersihkan diri di kamar mandi.

Lima belas menit berlalu aku keluar dari dalam kamar mandi dengan bertelanjang dada hanya ada sebuah handuk yang melilit di pinggang ini.

Netra ini terfokus pada jendela kamar yang terbuka. Angin malam berhembus membuat gorden melayang-layang, segera aku mendekat dan mulai menutupnya.

Bulu kudukku meremang saat tangan menyentuh jendela kaca yang bening. Bau bunga melati menguar memasuki rongga hidung tapi beberapa detik kemudian bau lembut bunga melati ini terganti oleh bau busuk serta anyir darah.

Hampir saja aku muntah karena bau anyir yang begitu menyengat itu. Menutup hidung dengan kedua belah tangan tapi bau itu tetap saja menyesak rongga hidung.

Tiba-tiba saja kurasakan ada sentuhan halus di pinggang. Aku menunduk menatap ke bawah perut, mata melebar kala mendapati sebuah tangan putih nan pucat melingkar di pinggang ini.

Seketika aku berbalik. Namun tak ada siapapun yang di tangkap oleh mata ini.

Tes!
Tes!
Tes!

Terdengar suara air menetes bak rintik hujan. Mata ini kembali melebar kala mendapati sesuatu yang menetes tersebut. Bukan, itu bukanlah suara air tapi darah segar dari atas ranjang menetes mengotori lantai.

Kudapati kasur king size bersprai putih milikku kini berubah menjadi merah bersimbah darah. Dari mana datangnya darah sebanyak ini?

Tangan ini terulur menyentuh seprai berdarah tersebut. Mengusap cairan berwarna merah pekat itu tiba-tiba saja sebuah nama terlintas di kepalaku.

"Laila," gumamku.

Semilir angin malam berhembus dari jendela kaca yang belum sempat kututup tadi. Membawa rasa dingin yang teramat sangat menusuk tulang belulang terlebih diriku yang saat ini hanya menggunakan sebuah handuk di pinggang.

Kembali bulu kuduk meremang. Aku merasakan seolah ada seseorang yang berdiri di belakangku sekarang. Kembali kurasakan sebuah tangan halus melingkar di pinggang ini tanpa adanya suara derap langkah kaki mendekat dari tadi.

"Kau masih mengingat diriku, Mas." Sebuah bisikan halus mendarat di telingaku.

"L-Laila, apakah itu kau?"

"Ini aku, istri tuamu yang telah kau bunuh," bisiknya lagi dengan suara lirih.

"Pergi! Pergi kau dari sini!" teriakku mengibas-ibaskan tangan ke udara.

"Pergi!"

Berjalan memutar sambil menatap tajam ke sekeliling kamar. Lagi-lagi mahkluk itu hilang dari pandangan.

"Jangan ganggu aku, Laila!" teriakku lagi.

Namun, hanya ada suara angin malam yang berhembus menyambut suara ini yang pecah memenuhi seisi kamar.

"Mas! Kau kenapa?" Suara seorang wanita menyadarkanku.

Segera aku berbalik, kudapati Safira tengah berdiri di depan pintu dan menatapku heran. Perempuan cantik itu lalu mendekat dan menanyakan keadaanku sekarang sambil menyandarkan sebelah tangannya di bahuku.

"Aku tidak apa-apa," ucapku sambil menggeleng.
profile-picture
key.99 memberi reputasi
1 0
1
KU BUNUH ISTRIKU DEMI PELAKOR
16-08-2020 16:56
Minggu pagi, suara lalu-lalang kendaraan terdengar hingga ke rumah ini. Beberapa tetangga terlihat sedang joging melintas dari depan rumah. Salah satu diantara mereka menyapa serta mengajak untuk ikut tapi kutolak dengan berbagai alasan.

Letak rumahku agak jauh dari rumah-rumah lainnya di kompleks ini sehingga aku jarang berkomunikasi dengan para tetangga.

Duduk termenung di teras rumah sambil menyeruput segelas teh hangat, pikiran ini masih berkecamuk soal peristiwa semalam. Menghembuskan napas dengan kasar sambil menjambak rambut.

Laila, apa yang telah aku lakukan padamu pasti sangat menyakitimu. Apakah jalan yang kuambil ini salah? Menyakiti wanita yang sudah bertahun lamanya berjuang bersamku demi mendapatkan keturunan dari wanita lain.

Huft ... hati ini mulai bimbang, sebuah bisikan kecil di dalam sana berkata kalau jalan yang aku tempuh ini salah tapi pikiranku mengatakan 'kau layak bahagia tak apa menyakiti satu wanita demi mendapatkan kebahagiaan yang selama ini dicita' oh Tuhan, pikiranku benar-benar kalut sekarang antara bahagia,menyesal, atau ... argh aku tidak bisa menentukan rasa di dada.

"Mas," panggil seseorang.

Menoleh ke belakang, seorang wanita cantik berdiri di sana dengan senyum manja.

"Jalan-jalan, yuk!" Antusias Safira.

"Jalan-jalan?" ulangku.

Safira menghampiriku, menarik tangan ini seperti anak kecil dan menggoyang-goyangkannya dengan manja.

"Iya, Mas kan gak pernah bawa aku jalan-jalan setiap minggunya kayak Laila," ucapnya cemberut.

Hmm, benar juga dengan apa yang dikatakan oleh Safira selama satu bulan aku menilakahinya tidak pernah sekali pun kuajak dia jalan-jalan. Lain halnya dengan Laila setiap minggu pasti kami akan pergi ke suatu tempat menghabiskan waktu berdua.

"Baiklah, kita pergi. Sana kamu siap-siap dulu," suruhku.

"Asyik, oke tunggu, ya, Mas, aku dandan yang cantik dulu," ucapnya seraya berlalu masuk ke rumah.

Aku menggelengkan kepala dengan sikap manja yang Safira tunjukan. Entah kenapa tapi aku sedikit risih jika Safira bermanja padaku. Namun, saat Laila masih hidup dan bermanja aku malah sangat suka melihatnya. Aneh, ada apa sebenarnya denganku?

Apakah ini terjadi karena aku tidak mencintai Safira? Ah, pertanyaan konyol tentu saja ku mencintainya bahkan sangat mencintainya sehingga aku rela kehilangan istri tuaku demi dia.

Satu jam lamanya aku menunggu Safira berdandan. Dia keluar dengan memakai baju kaos ketat serta rok hitam di atas lutut. Aku sedikit risi melihat penampilan istri mudaku itu yang terkesan kurang sopan.

"Ganti baju kamu," ucapku.

"Lah, kenapa harus diganti?"

"Pakaianmu itu tidak sopan, Fira. Ayo ganti sana."

"Aku harus pakai apa, Mas? Daster gitu kayak istri tuamu?" sanggahnya.

"Fira kau ini... ah, sudahlah terserah!" Aku benar-benar kesal dengan Safira yang tidak mau menuruti perkataanku.

Dia sangat berbeda dari Laila, Safira selalu saja berpakaian kurang bahan yang membuat mata lelaki manapun akan tergoda melihat tubuh langsingnya. Berbeda dengan Laila ia mempunyai bentuk tubuh yang indah tapi tidak pernah memamerkannya pada siapapun kecuali diriku.

Laila selalu memakai hijabnya dengan gamis panjang sampai mata kaki jika ingin keluar rumah.

***

Kami sampai di taman kota pukul 10:12 wib saat matahari mulai meninggi. Duduk-duduk sebentar di bangku taman tepat di bawah pohon pohon.

Setelah itu bersua poto bersama di berbagai tempat. Istri mudaku menarik-narik tangan ini dari tadi ke spot tang menurutnya bagus untuk berpoto.

Beberapa pasang mata lelaki hidung belang dari tadi memperhatikan paha Safira yang terbuka serta bentuk tubuhnya yang indah dan itu semua membuatku emosi. Aku paling tidak suka jika wanitaku di pandang-pandang oleh lelaki lain.

Hampir saja terjadi perkelahian antara aku dan salah satu pengunjung taman karena mata lelaki sialan itu sedari tadi tak lepas dari memerhatikan bentuk tubuh Safira yang indah. Beruntung istri mudaku itu cepat-cepat menarikku pergi dari sana agar perkelahian tidak langsung terjadi.

Setelah Safira lelah dengan aksi poto-potonya kami kemudian duduk di salah salah satu bangku taman. Matahari mulai meninggi, silau cahayanya kini mulai terasa membakar kulit.

Safira merengek dari tadi merasa kepanasan dan minta di belikan es krim. Ya ampun, Fira. Kalau kamu memang ingin dibelikan es krim dari tadi ya tinggal bilang aja kali gak perlu merengek bak anak kecil minta mainan.

"Iya, mas beliin bentar," ucapku seraya bangkit dari kursi.

Mengambil beberapa langkah ke depan lalu mulai menelisik ke setiap sudut taman. Setelah netra ini menemukan seorang penjual es krim segera kulangkahkan kaki menuju ke sana.

"Pak, es krimnya dua, ya," ucapku.

Pedangang itu memberikan dua buah es krim rasa coklat pesananku tadi. Menyerahkan selembar uang dan mulai melangkah kembali ke tempat Safira berada.

Baru beberapa meter pergi dari pedangang es itu tiba-tiba saja dari arah samping seorang perempuan muda menabarak dan membuat es yang betada di tanganku jatuh ke tanah.

"Maaf," ucapnya menagkupkan tangan di dada setelah membersihkan sisa es krim yang mengotori bajunya.

Perempuan itu lalu pergi begitu saja tanpa merasa bersalah dan mengganti es yang sudah tidak bisa dimakan lagi. Aku menggelengkan kepala menatap kepergiannya.

Pakaiannya sungguh aneh dan mencurigakan. Dia memakai jaket kulit,topi,celana jeans juga masker dan semuanya berwarna hitam. Jika diperhatikan perempuan itu lebih mirip pencuri atau buronan yang sedang menyamar.

Benar-benar misterius pikirku. Ah, sudahlah, kenapa aku harus peduli dengannya toh kami tidak punya hubungana apa-apa.

Aku mendengkus kesal memandangi es tadi yang audah mencair terpaksa kubeli lagi. Berjalan menghampiri Safira yang terlihat tengah asyik mengobrol dengan seseorang melalui telepon.

Sesekali istri mudaku itu tertawa sambil memerhatikan sekitarnya seperti tengah mengawasi. Dia kelihatan sangat bahagia berbicara dengan seseorang di seberang sana dapat dilihat dari ekspresi wajahnya.

"Bahagia banget kayaknya, lagi bicara sama siapa sih?" tanyaku.

"Eh, M-Mas Raihan? Kok tiba-tiba ada di sini?" ucapnya gelagapan sambil menutup telpon.

Keningku mengernyit, apa dia kaget melihat kedatanganku tadi?

"Kenapa kok mukamu kayak lagi nyembunyiin sesuatu?" tanyaku.

"Haha, enggak papa kok, Mas. Aku cuma kaget aja tadi," ujar Safira sambil nyengir kuda.

"Tadi ngomong sama siapa?"

"Oh, yang tadi sama sahabat lamaku."

"Oh, ini es tadi," ucapku seraya menyodorkan sebuah es krim padanya.

Safira menyambutnya dengan antusias dan langsung mulai menikmati esnya. Huh, suasana seperti ini jadi mengingatkanku kembali pada Laila. Biasanya hari minggu seperti ini kami pasti akan makan ea krim di pantai bersama sambil menikmati angin pantai yang sejuk menerpa wajah.

Ini baru dua hari tapi aku sepertinya sudah sangat merindukannya. Ck, ada apa sebenarnya denganku?
profile-picture
profile-picture
lumut66 dan key.99 memberi reputasi
2 0
2
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
KU BUNUH ISTRIKU DEMI PELAKOR
16-08-2020 21:23
real or fiksi gan
0 0
0
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Halaman 1 dari 3
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
kematian-cahaya-harapan
Stories from the Heart
janji-manis-100-real-story
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Stories from the Heart
Stories from the Heart
firasat-kematian
Stories from the Heart
lika-liku-kehidupan-nina
Stories from the Heart
rekomendasi-film-romantis
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia