Kaskus

Entertainment

sletingdolAvatar border
TS
sletingdol
Budaya Santun dan Bully di Sosial Media
Budaya Santun dan Bully di Sosial Media

Masyarakat indonesia terkenal ramah, sopan, cinta damai, santun dalam berkomunikasi termasuk basa basi halus. Tapi kenapa di era social media ini kata - kata kasar mudah sekali di temukan padahal tidak ada urusan dan kepentingan apa - apa tiba - tiba menghujat.

Dulu saya sempat heran ada anak kelas 2 SD yang bertanya pada saya,

"Pak kenapa di internet orang - orang suka sekali ngomong kasar?"

Dalam hati saya pikir masa anak ini sudah suka nonton film dewasa? Takut salah sangka saya tanya lebih jelas lagi.

"Maksud nya ngomong kasar gimana des?"

"Itu lho pak kalau di Facebook atau twitter apakah indonesia sudah kehilangan budaya santun dan ramah nya, emang bapak ga punya FB sama twitter ya?"

Ternyata dia membicarakan sosial media.

Masalah nya tidak ada kaitan dengan semangat santun bangsa indonesia yang memudar dan hal ini bukan terjadi di indonesia saja, masalah nya adalah karena kita menghadapi masalah yang belum pernah kita hadapi sebelum nya dan masalah saya sendiri saya tidak punya akun sosial media sampai sekarang komunikasi masih menggunakan yahoo mail.

Komunikasi itu bukan hanya verbal, dalam psikologi komunikasi verbal itu bahkan tidak sampai 50% dari komunikasi antar manusia sesungguh nya. Diluar itu ada komunikasi gestur, budaya dan lain sebagai nya yang justru inilah yang membuat komunikasi itu sedikit lebih lancar.

Komunikasi yang kita kenal sekarang adalah hasil adaptasi ratusan ribu tahun dan gaya komunikasi kita sekarang sama sekali tidak mengantisipasi apa yang akan terjadi di medsos. Medsos sendiri baru muncul sekitar 20 tahunan sedangkan kita dan nenek moyang kita menghasilkan gaya komunikasi yang kita kenal ribuan tahun sebelum ada medsos.

Budaya Santun dan Bully di Sosial Media

Jadi ketika komunikasi sekarang di medsos ini baru tahap adaptasi seperti berkomunikasi sama alien karena medsos adalah gaya komunikasi yang tidak kita hadapi dan antisipasi sebelum nya, Ini sebab nya kita gagal dalam berkomunikasi.

Derida adalah seorang phylosof post modern dia mengatakan

"Bahkan komunikasi kita sekarang pun masih menimbulkan banyak kesalah pahaman"

Ada banyak konflik dan keributan yang di hasilkan dari komunikasi yang salah. Gaya komunikasi yang sudah di adaptasi ratusan ribu tahun pun masih sangat rentan kesalahan apalagi komunikasi medsos yang baru hadir kemarin sore.

Ini fakta komunikasi yang bisa di temukan dalam kehidupan berpasangan, maaf bagi yang jomblo kemungkinan tidak tahu kondisi seperti ini. Pasti anda sering bertengkar pada saat chatingan / saling berkirim pesan tetapi kemarahan itu luntur pada saat anda berdua bertemu.

Ngaku? Memang seperti itu bukan?

Karena komunikasi di HP itu sangat berbeda dengan komunikasi di dunia nyata sehingga kita mengalami cerita yang berbeda.

"Biar ga salah paham kita ketemuan aja ya"
Budi
Murid berprestasi dan playboy

Sekali lagi ini tidak ada hubungan nya dengan luntur nya semangat budaya santun di indonesia tetapi gagal nya kita membangun komunikasi dan tidak mengantisipasi komunikasi di media sosial.

Kenapa bisa seperti ini?

1. Psikologi Psychoanalysis

Budaya Santun dan Bully di Sosial Media

Meskipun jadul, menurut saya teori sigmun freud ini sangat relevan. Setiap kita berkomunikasi dan bertemu dengan orang maka akan muncul konflik internal di dalam batin kita yaitu
‌1. Id
‌Gagasan untuk mempertahankan diri jadi dalam pikiran kita secara sadar atau tidak pertanyaan akan muncul seperti,
‌"apakah saya aman berkomunikasi dengan orang ini?"
‌"apakah jiwa saya terancam jika berkomunikasi?"

‌2. EGO
‌pertanyaan yang muncul dalam benak kita selanjutnya adalah,
‌"apakah berkomunikasi dengan orang ini rasional?"
‌"apakah komunikasi ini bisa memberi saya ke untungan?"

‌3. Superego
‌ini terkait dengan sosial dan moral contohnya
‌"apakah saya bisa bantu orang yang berkomunikasi dengan saya?"

Setiap kita berkomunikasi secara sadar atau tidak kita melakukan hal seperti itu. Makanya ketika bertemu pejabat, kiai, orang kaya (mungkin) dan sebagai nya biasanya kita jadi canggung seyum - senyum sendiri seperti di paksakan dengan gestur yang absurd seperti menunduk, mengusapkan kedua telapak tangan, dan sering mengeluarkan kata maaf sebelum berbicara.

"Ehhee ehhee begini pak"
"Ehhee ehhee maaf pak"
Joni
Karyawan swasta yang selalu curhat minta naik gaji

Kenapa kata "maaf" dan "ehhee ehhee" suka muncul ketika berhadapan dengan pejabat, orang kaya, kiai dan sebagai nya, karena secara naluriah kita tahu orang yang kita hadapu lebih tinggi jabatan, kekuasaan atau uangnya.

Tetapi di media sosial, kita kehilangan itu semua karena kita tidak merasa terancam, mau membully sekejam apapun dan kepada siapapun tidak masalah walaupun sekaranh ada UU ITE.

Jadi ketika di mediasosial kita hanya kenal hal - hal yang bersifat rasional dan moralis (EGO dan SuperEGO).

2. Jarak dan kepalsuan

Budaya Santun dan Bully di Sosial Media

Media sosial menawarkan kepada kita jarak dan privasi, kita bisa berbicara sebagai anonymous. Maka dari itu semua pertimbangan yang ada di atas itu tidak berlaku. Seperti di kaskus yang mulut, otak, dan jari nya enteng benar menghujat orang, kardun lah, cebong lah, kampret lah, bodoh dan sebagainya. konsekuensi nya kita tidak bisa di cerca secara moral juga fisik. Ada orang yang selalu ikut demo dan dia lantang sekali mengeluarkan caci maki tapi pada saat dia tertangkap di ajak ngobrol sama pak polisi mukanya berubah pucat pasi, air mata bercucuran kadang ingus keluar dari hidung dan telinga nya, gigi menguning, juga ketika dia semangat mengumpat orang di sosi media tetapi pas di samperin hampir berak di celana.

3. Sudut pandang filsafat (mode mikir)

Budaya Santun dan Bully di Sosial Media

Dalam tradisi antropologi surga dan neraka itu tidak pernah ada. Katanya Surga itu muncul karena ada ketertindasan oleh kekuasaan, dia merasa baik dan benar dan dia melihat sendiri bahwa ada orang jahat tetapi dia berkuasa dan dia sadar tidak bisa melawan itu dunia nyata. Maka dia menggambarkan tuhan menciptakan surga untuk orang baik, tertindas dan benar juga neraka yang di sediakan untuk orang yang berkuasa yang jahat.

Biasanya gagasan seperti ini di endorse oleh atheist, intinya penghujat itu adalah orang yang sering di hujat dan gagal membela diri, akibat nya dia akan menghujat secara sporadis dan kesempatan balas dendam sekarang di buka oleh media sosial. Jadi jika anda melihat atau mengalami penghujatan santai saja jangan marah mungkin mereka di dunia aslinya / nyata jadi seperti itu karena kehidupan nya menderita.

1. Stress
2. Tertekan
3. Tertindas
4. Tidak punya pekerjaan
5. Selalu kandas dalam asmara
6. Muka pecah - pecah
7. Telinga bernanah
8. "Kampungan"
9. Sering di bully tapi gagal membalas
10. Tidak punya pengatahuan lain selain kardun, cebong, kampret, selangkangan, dan seterusnya.

Dalam kajian sosiologi maka yang harus di tolong itu bukan orang yang di bully, tapi mereka yang membully. Jika anda melihat orang seperti ini kasihanilah dia karena dia sangat menderita, dan jika yang suka membully dan menghujat dengan kata kasar adalah anda sendiri, lihat lah cermin dan introspeksi diri maka anda akan tahu bahwa anda berada dalam genggaman kenistaan.

4. Naluri

Budaya Santun dan Bully di Sosial Media

Manusia itu senang kalau berada dalam kelompok besar. Misalkan ada 1 cebong bertemu 1 kampret atau 1 viking dan 1 the jak kemungkinan besar mereka tidak akan ribut. Tapi jika ada 1000 cebong dan 1 kampret mungkin si kampret akan meninggal / nangis / di bully, begitupun sebalik nya. Kenapa bisa seperti itu? Karena jika dia salam sebuah kelompok dia tidak merasa bertanggung jawab atas segala konsekuensi nya tapi kelompok nya yang bertanggung jawab.

Wajah asli kita adalah kepalsuan, wajah asli kita tertutup oleh banyak nya pertimbangan. Satu lawan satu dia tidak berani tetapi ketika dalam mode anonym atau dalam kelompok akan muncul arogansi mayoritas. Seperti di indonesia saat ini dimana muslim sebagai mayoritas mengintimidasi agama - agama lain.

Saya tekan kan ini menurut kajian psikogis bukan masalah agamanya.

5. Latah



Di media sosial jika ada orang yang di bully maka orang lain akan merasa perlu untuk ikut membully juga. Misal ada orang yang membuat konten kemudian ada penghujat di kolom komentar maka pikiran utama kita adalah kita ingin juga ikut menghujat. Jika kita masuk kedalam jajaran orang sepert ini sebenar nya kita belum merdeka pikiran nya.

Bukan hal buruk juga karena naluri kita memang demikian sudah sewajarnya, dan hal ini bukan lah hal yang bijak dan kita belum termasuk orang yang merdeka pikiran nya.



{thread_title}



0
2.3K
5
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
The Lounge
KASKUS Official
1.3MThread107.7KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.