- Beranda
- The Lounge
Drama Di Balik Kemarahan Presiden
...
TS
sumarnisaja
Drama Di Balik Kemarahan Presiden
Oke, saya ikut bersuara mengenai video yang saat ini sedang viral.
Tanggal 18 Juni 2020, presiden beserta para menteri melaksanakan sidang paripurna kabinet. Dalam sidang itu, tampak kemarahan dan kekecewaan Presiden Joko Widodo mengenai kinerja para menterinya, yang paling disorot yaitu menteri kesehatan, menteri perekonomian, dan menteri sosial. Bukan tanpa alasan, kemarahan tersebut lantaran ketiga menteri itu dianggap kurang sigap dan terkesan lelet dalam bekerja, apalagi dalam situasi pandemi saat ini.
Sebenarnya hal yang lumrah jika seorang pimpinan menegur bawahan yang kinerjanya kurang baik. Namun, ada hal yang ganjal dari kemarahan presiden tersebut.
Pertama, kemarahan presiden seperti hanya sandiwara belaka. Ini terlihat dari beberapa kali presiden tampak membaca naskah. Padahal kalau dilogika mustahil seorang yang sedang marah pakai teks, kemarahan biasanya akan spontanitas.
Namun, saya mencoba berbaik sangka, mungkin dengan membaca teks poin-poinnya lebih dapat dan terarah. Tentu kita tidak akan lupa, kalau berkali-kali ucapan dari presiden kita beberapa waktu yang lalu selalu diklarifikasi oleh bawahnya. Nah, mungkin dengan membaca teks, bisa meminimalisir kesalahan. Kan, tidak lucu kalau kemarahan presiden pun harus diklarifikasi bawahan.
Kedua, tanggal 28 Juni 2020 video itu dipublikasikan, artinya perlu waktu sepuluh hari sebelum video itu dipublikasikan. Kenapa demikian? Mungkin mereka menunggu waktu yang pas untuk mempublikasikannya. Siapa tahu dengan begitu, semua masyarakat bisa menonton video itu dan mengubah penilaian masyarakat kepada para petinggi kita.
Ketiga, kenapa kemarahan itu harus dipublikasikan? Bukankah awalnya rapat itu bersifat intern? Mungkin ini cara untuk mengalihkan perhatian masyarakat. Kita tahu, saat ini masyarakat kita sedang gencar-gencarnya menolak RUU HIP.
Walaupun, sebenarnya kurang etis seorang pemimpin yang menegur bawahnya lalu dipublikasikan. Tidak mencerminkan sifat pemimpin yang baik. Bukankah berkali-kali petinggi negeri ini sifatnya disamakan dengan sahabat nabi? Padahal, kesuksesan bawahan juga tergantung pemimpinnya. Karena mereka memang satu tim, bukan malah melempar kesalahan pada bawahan, tapi dia sendiri lupa instrospeksi diri.
Keempat, dalam waktu sepuluh hari tersebut, tidak ada satu pun menteri yang diganti atau lembaga yang dibubarkan. Padahal awalnya presiden kita mengancam akan merestufle menterinya yang memang terbukti lelet.
Sebegitu burukkah penilaian masyarakat terhadap para petinggi negeri sampai-sampai dibuat skenario semacam ini? Sungguh ironi. Saya yakin tanpa pencitraan pun rakyat akan memberi nilai yang baik bagi pemimpin yang benar-benar amanah. Bukan malah semakin membuat citra yang baik, malah masyarakat semakin dibuat ilfiil dengan drama semacam ini.
Tanggal 18 Juni 2020, presiden beserta para menteri melaksanakan sidang paripurna kabinet. Dalam sidang itu, tampak kemarahan dan kekecewaan Presiden Joko Widodo mengenai kinerja para menterinya, yang paling disorot yaitu menteri kesehatan, menteri perekonomian, dan menteri sosial. Bukan tanpa alasan, kemarahan tersebut lantaran ketiga menteri itu dianggap kurang sigap dan terkesan lelet dalam bekerja, apalagi dalam situasi pandemi saat ini.
Sebenarnya hal yang lumrah jika seorang pimpinan menegur bawahan yang kinerjanya kurang baik. Namun, ada hal yang ganjal dari kemarahan presiden tersebut.
Pertama, kemarahan presiden seperti hanya sandiwara belaka. Ini terlihat dari beberapa kali presiden tampak membaca naskah. Padahal kalau dilogika mustahil seorang yang sedang marah pakai teks, kemarahan biasanya akan spontanitas.
Namun, saya mencoba berbaik sangka, mungkin dengan membaca teks poin-poinnya lebih dapat dan terarah. Tentu kita tidak akan lupa, kalau berkali-kali ucapan dari presiden kita beberapa waktu yang lalu selalu diklarifikasi oleh bawahnya. Nah, mungkin dengan membaca teks, bisa meminimalisir kesalahan. Kan, tidak lucu kalau kemarahan presiden pun harus diklarifikasi bawahan.
Kedua, tanggal 28 Juni 2020 video itu dipublikasikan, artinya perlu waktu sepuluh hari sebelum video itu dipublikasikan. Kenapa demikian? Mungkin mereka menunggu waktu yang pas untuk mempublikasikannya. Siapa tahu dengan begitu, semua masyarakat bisa menonton video itu dan mengubah penilaian masyarakat kepada para petinggi kita.
Ketiga, kenapa kemarahan itu harus dipublikasikan? Bukankah awalnya rapat itu bersifat intern? Mungkin ini cara untuk mengalihkan perhatian masyarakat. Kita tahu, saat ini masyarakat kita sedang gencar-gencarnya menolak RUU HIP.
Walaupun, sebenarnya kurang etis seorang pemimpin yang menegur bawahnya lalu dipublikasikan. Tidak mencerminkan sifat pemimpin yang baik. Bukankah berkali-kali petinggi negeri ini sifatnya disamakan dengan sahabat nabi? Padahal, kesuksesan bawahan juga tergantung pemimpinnya. Karena mereka memang satu tim, bukan malah melempar kesalahan pada bawahan, tapi dia sendiri lupa instrospeksi diri.
Keempat, dalam waktu sepuluh hari tersebut, tidak ada satu pun menteri yang diganti atau lembaga yang dibubarkan. Padahal awalnya presiden kita mengancam akan merestufle menterinya yang memang terbukti lelet.
Sebegitu burukkah penilaian masyarakat terhadap para petinggi negeri sampai-sampai dibuat skenario semacam ini? Sungguh ironi. Saya yakin tanpa pencitraan pun rakyat akan memberi nilai yang baik bagi pemimpin yang benar-benar amanah. Bukan malah semakin membuat citra yang baik, malah masyarakat semakin dibuat ilfiil dengan drama semacam ini.
Diubah oleh sumarnisaja 30-06-2020 16:09
0
516
6
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•107.7KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya