Kaskus

Story

robbolaAvatar border
TS
robbola
Menikah di masa Covid-19 siapa takut???

...........................
Pelaminan.

Setiap calon pengantin pasti akan bersemangat menyiapkan segala pernak-pernik pernikahan. Ini yang aku rasakan. Perasaan bercampur aduk antara senang, cemas, takut dan bahagia. Semua larut dalam satu waktu. Tanggal pernikahan sudah ditetapkan. Tinggal tiga bulan lagi. Subhanallah tak sabar rasanya aku menunggu waktu itu. Ingin segera meresmikan diri ini menjadi istri Mas Hamzah. Lelaki yang mengkhitbahku seminggu yang lalu.

Persiapan demi persiapan aku lakukan bersama keluargaku. Tentu pihak mempelai wanita akan lebih sibuk dibandingkan dengan pihak mempelai pria. Akad nikah akan dilaksanakan di rumah ku jadi sewajarnya kesibukan itu mulai terlihat dari sekarang. Ibu dengan Tante Liz serta Budhe Etik sibuk menyiapkan suguhan dan pernak pernik pelaminan. Mulai dari riasan, dekorasi, catering bahkan sampai pelaminan. Sedangkan Ayah, sibuk menyiapkan berkas yang akan diserahkan ke penghulu. Menyiapkan segala tetek bengek prosesi akad nikah agar berjalan dengan lancar.

Santer berita perkembangan virus Covid-19 ini tak ayal membuatku gusar, sedih, bercampur marah. Memang di daerahku masih termasuk zona hijau sehingga belum ditemukan PDP atau ODP. Hatiku terasa lega untuk sementara waktu. Semoga pernikahanku dengan Mas Hamzah dimudahkan Allah SWT.

Dua bulan berlalu. Tinggal satu bulan lagi menuju hari-H pernikahanku. Sampai sore tadi kabar mengejutkan itu datang dari Ayah.

“Salma...” suara Ayah memanggilku.

“Dalem, yah..” aku segera duduk disebelah ayah.

Ternyata ibu, Tante Lis, Budhe Etik semua sudah berkumpul jadi satu disana. Ada apa gerangan sampai semua dikumpulkan ayah sore hari ini. Banyak sekali pertanyaan yang hinggap di otakku. Raut wajah tegang Ayah dan sorot kecemasan dari kedua mata membuatku resah.

“Nduk, Salmaku. Jadi begini, ini ayah baru dapat telpon dari petugas KUA. Daerah kita ternyata sudah ada beberapa orang yang sudah terjangkit penyakit COVID-19. Nah kemungkinan besar, pernikahan mu bisa terancam batal, sampai situasi di kelurahan kita dinyatakan kondusif.”

Tanpa terasa air mata menetes tanpa bisa ditahan. Meluncur begitu saja dan semakin deras. Aku tidak bisa menjawab apapun. Jawabanku atas informasi yang ayah berikan hanyalah linangan air mata. Aku melihat ibu dan kedua saudaranya juga kaget dan bingung. Mereka juga memikirkan segala tetek bengek nya karena uang DP sudah dibayar untuk catering, rias dan kursi pelaminan. Apa mungkin bisa di tarik lagi. Entahlah. Aku cukup syok dan sedih mendengar berita ini. Surat undangan juga sudah siap disebar. Bahkan dari pihak Mas Hamzah sudah dahulu menyebarkan surat undangan pernikahan kami. Ya Robb, tolong bantu kami. Izinkan kami bisa menjalankan Sunnah Rasulullah ini.

Tiap malam aku gelar sajadah. Begitu juga dengan Mas Hamzah. Dia langsung menelepon ku ketika mendapat kabar ini. Kami saling menguatkan. Meski kami tau tidak mudah melewatinya. Bencana virus ini memang bukan hanya ada di Indonesia, tapi terjadi di sebagian besar belahan bumi lainnya. Bahkan pemerintah Arab Saudi sampai menutup Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Benar-benar wabah yang mendunia.

Teringat Pesan dari Mas Hamzah, Hanya Doa dan pertolongan Allah SWT yang bisa kita harapkan sekarang. Siang malam doa kami panjatkan. Tilawah dan sholawat Nabi semakin kami gencarkan. Semua fokus untuk mendoakan yang terbaik. Apapun keputusanNya pasti itu yang terbaik untuk kami. Selebihnya kami hanya bisa pasrah.

Hari berganti hari. Keadaan tetaplah belum berubah. Tidak ada kabar apapun yang datang dari petugas KUA. Doa-doa pun setiap hari dilangitkan. Tidak terhitung berapa banyak air mata ini keluar. Mencoba mengikhlaskan dan menguatkan diri ini. Semakin mendekati hari H semakin resah hati ini. Memang mudah mengucapkan kata ikhlas, tetapi sangat berat untuk dilakukan. Ikhlas kadang cuma terucap di lisan saja, tetapi hari belum menerima. Ya Robb, aku harus kuat.

Hari-H pun tinggal dua hari lagi. Kami selaku calon pengantin dan keluarga tiada berhenti berdoa. Memohon agar diberi keajaiban. Memohon agar dimudahkan dengan caraNya.

Ketika pasrah itu mulai merasuki jiwa. Berita bahagia itu datang. Pagi yang cerah. Secerah sang mentari menyinari bumi tanpa lelah, tanpa mengeluh. Hembusan angin sepoi-sepoi menerbangkan tangkai mawar di halaman rumah. Sayup-sayup aku mendengar ayah menerima telepon dari seseorang. Entahlah kabar bahagia apa yang dibawanya. Seketika ucapan hamdalah, takbir dan tahmid terucap dari lelaki cinta pertamaku. Raut wajah ayah begitu bahagia. Beliau segera menemui ku dan langsung memelukku. Tanpa berucap kata-kata. Genangan dipelupuk mata menyiratkan kabar bahagia ini bukan cuma kabar bahagia. Kabar bahagia yang paling dinantikan.

Sesuai titah ayah, aku segera menghubungi Tante Liz dan Budhe Etik untuk segera ke rumah. Rapat dadakan juga akan segera dilakukan. Tak lupa utusan dari pihak Mas Hamzah juga dipanggilnya. Aku hanya bisa menebak-nebak berita bahagia untukku kah? Karena yang akan berkumpul orang-orang yang menjadi penanggung jawab acara bahagiaku.

Semua undangan ayah sudah berkumpul di ruang tamu. Kemudian ayah segera membuka pertemuan dan rapat terbatas. Aku sengaja duduk di sebelah ibu. Takut kalau berita yang disampaikan tidak sesuai dengan keinginan. Jika itu terjadi maka aku akan meminta ibu untuk menguatkanku. Ayah mengabarkan bahwa tadi pagi petugas KUA menelepon Ayah. Dia mengabarkan kepada Ayah bahwa pernikahan tetap bisa dilakukan dengan syarat mematuhi prosedur pernikahan yang sudah ditentukan oleh Kemenag. Ayah mengabarkan kepada kami berita gembira in dengan berlinang air mata. Air mata bahagia tentunya.

Menurut info yang diberikan pernikahan bisa dilaksanakan di dua tempat, di kantor KUA atau di rumah calon mempelai. Ayah memutuskan untuk melakukan pernikahan di rumah calon mempelai putri. Pernikahan bisa dilakukan di rumah dengan syarat menyediakan hand sanitizer dan masker. Keluarga dan saksi dibatasi, maksimal sepuluh orang. Proses menjabat tangan juga dilakukan dengan menggunakan sarung tangan. Meski tanpa perayaan. Pernikahan akan tetap dilakukan. Berita bahagia juga datang dari budhe Etik dan Tante Liz, semua uang DP alhamdulillah bisa dikembalikan dengan utuh. Nanti yang akan di pakai hanya jasa perias pengantin dengan konsep yang sederhana yang menjadi pilihannya.

Seketika itu takbir, tahmid, dan takbir kembali dilafadzkan. Alhamdulillah. Atas izin Allah pernikahanku benar-benar nyata dan akan menjadi kenyataan. Berharap pernikahan ini menjadi pernikahan sekali seumur hidup dan bisa meraih rumah tangga yang sakinah mawadah warohmah dengan ridho Allah SWT.
nona212Avatar border
bukhoriganAvatar border
bukhorigan dan nona212 memberi reputasi
2
261
1
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33KThread54.7KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.