Kaskus

Story

Visiliya123Avatar border
TS
Visiliya123
Surat Izin untuk Hidup
JSurat Izin untuk Hidup


#SIUH_3



Dentingan sendok yang beradu dengan piring kini memenuhi sebuah ruangan kecil. Aku terdiam, memandang benda logam dengan ujung cekung dalam genggaman.

Kulirik ke arah mama dan papa yang duduk berhadapan denganku. Keduanya sama-sama diam, menikmati suap demi suap makanan yang masuk ke dalam mulut mereka.

"Ma, Pa, Bu-"

Ting

Suara sendok yang dijatuhkan begitu saja, hingga membentur piring dan menimbulkan suara kini memotong ucapanku. Mama mengalihkan pandangannya, ia menatapku lama begitu pun dengan diriku.

"Mama, tidak suka ada yang bicara saat makan," ucap mama tegas yang mampu membuatku terdiam.

Suasana kini bertambah dingin, bahkan terkesan mencekam. Aku menghela napas, mama berhak bersikap seperti itu padaku. Ini semua memang salahku, wajar saja jika mama marah dan merasa kecewa. Siapa yang ingin dipertanyakan kasih sayangnya? Tentu saja tidak ada yang menginkannya, bukan?

Pandanganku kini beralih pada papa, merasa diperhatikan papa tiba-tiba melihat ke arahku. Papa tersenyum tipis, yang membuatku mengernyit bingung karenanya. Apa arti sebuah senyuman tipis saat kita merasa kecewa? Entahlah, aku tidak tau tentang itu.

"Habiskan makananmu, sayang! Setelah itu papa akan mengantarmu ke sekolah barumu," ucap papa, aku hanya mengangguk sebagai balasan atas ucapannya. Pandanganku kini kembali fokus pada makanan di depan.

Setelah selesai dengan sarapan, aku melangkah keluar untuk menemui papa yang katanya menunggu di teras depan. Benar saja, di sana kulihat papa yang sedang sibuk mengelap mobil butut kesayangannya.

Saat kakiku hendak melangkah mendekat, tiba-tiba seorang pemuda dengan jaket jeans hitam dan tas kecil yang tersampir di salah satu bahunya menghampiri papa. Aku hanya diam, mengurungkan niat dan hanya memperhatikan mereka dari jauh. Mereka kini tengah berbicara, entah apa yang mereka bicarakan hingga keduanya terkadang tertawa.

"Bunga." Aku tersentak kaget dari lamunan, ternyata papa tengah memanggilku. Papa tersenyum, kulihat pemuda yang di sampingnya ikut menatapku. Tapi, aku tidak bisa melihat dengan jelas, tatapan seperti apa yang dia berikan, karena jarak yang agak jauh. Aku tersenyum tipis, melangkahkan kaki mendekati papa.

"Bunga, ini Ravin tetangga depan rumah kita," ucap Papa, aku sedikit mendongak untuk melihat wajah pemuda itu. Sebuah kerutan tercetak di dahiku, ada apa dengan pemuda itu? Mengapa ia melihatku seperti itu? Mata hitam legamnya menatapku dengan datar, tapi terkesan sangat aneh. Ku lirik penampilanku sendiri dari atas hingga bawah. Tidak ada yang salah dengan seragam sekolah yang kupakai, tapi mengapa dia menatapku aneh seperti itu?

"Ravin, ini Bunga anak saya." Pemuda itu mengerjapkan matanya ketika mendengar suara papa. Dia mengalihkan pandangan dariku, kembali menatap papa dengan senyuman.

Diacuhkan, aku kembali merasa diacuhkan, karena mereka berdua sibuk berbincang sendiri. Hello, di sini orang woi, bukan patung pancoran. Aku memutar bola mata malas, melipat tangan di dada menatap mereka. Bagai makhluk tak kasat mata, mereka mengabaikan diriku.

"Papa."

"Jadi gitu, Rav?"

"Iya, Om." Aku ternganga karena papa kembali mengacuhkanku.

"Papa, Bu-"

"Tunggu dulu!" potong Papa. Kesal bukan main, kulirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan. Jarum jam menunjuk pada angka delapan dan dua belas. Oh, tidak, bukankah aku sudah terlambat sekarang?

"Bunga, berangkat sendiri saja," ucapku melangkah pergi. Lagi-lagi aku tak percaya, karena papa tidak mencegah dan menyusulku.

Kuhentakkan kaki pada aspal jalanan, sebagai pelampiasan atas rasa kesal. Kaki terus saja melangkah menyusuri jalanan, meskipun aku tak tau arah tujuanku sekarang.

Tin-tin

Suara klakson sepeda motor kini menusuk indra pendengaran. Sebuah kuda besi metik berwarna merah kini melaju di sampingku.

"Biar kuantar!" ucap sang pengendara, aku hanya diam tak memperdulikannya dan terus melangkah.

"Berhenti, aku akan mengantarmu! "

"Aku bisa sendiri, kau tak perlu repot-repot. "

"Jangan keras kepala, aku tau kau belum mengenal jalan di sini." Kuhentikan langkah kakiku, hingga dia menghentikan laju motornya. Aku menghela napas, kemudian menatap dirinya.

"Aku tidak bisu, jadi aku tidak akan tersesat. Lebih baik kau-" ucapanku terhenti ketika, mataku melihat perubahan ekspresi dari pemuda itu. Ia terdiam cukup lama, memandang ke depan dengan tatapan kosong.

"Jangan membuatku kembali menyesal, Bunga." Bungkam, mulutku tiba-tiba terkunci. Entah mengapa aku merasakan keanehan saat dia menyebut namaku. Dia menatapku, dia menyebut namaku, tapi aku merasa dia memanggil orang lain dari matanya.

"Lebih baik kau ikut denganku, jika tak ingin membuat papamu kecewa." Lanjutnya, mengapa dia begitu santai berbicara padaku, padahal kita baru saja mengenal?

"Nih," ucapnya sambil menyodorkan helm berwarna putih ke arahku.

"Tidak perlu, aku tidak ter-" Lagi-lagi, ucapanku terhenti. Aku menahan napas, jantungku kini berdetak cepat, embusan napasnya kini terasa hangat di wajah, karena jarak kami yang terlalu dekat. Pemuda itu sibuk memakaikan pengait helm pada kepalaku.

"Ayo, naik!" ucapnya, menyadarkanku dari keterdiaman. Bahkan aku tak menyadari kapan pemuda itu sudah duduk di atas motor metiknya.

Aku menghela napas, kemudian naik di jok belakang motor. Sepanjang perjalanan, tak ada pembicaraan di antara kami. Dia sibuk terhadap jalanan, sedangkan aku sibuk dengan pemikiranku yang membuatku pusing, apalagi ditambah helm yang termasuk hal baru untukku.

Motor yang kutumpangi berhenti, tepat di depan sebuah gerbang yang tinggi dan besar dengan tulisan SMA Laksana di gambar logonya.

Aku turun dari motor tersebut. Melepas helm yang menutupi wajah dan memberikan kepadanya.

"Tidak perlu, aku bisa sendiri," ucapku ketika dia hendak membuka helmnya dan turun dari motor. Dia mengangguk, diurungkan niatnya itu untuk melepas helmnya, kemudian tangannya kembali menekan tombol starter.

Motor miliknya melaju meninggalkan diriku, dalam hati aku merutuki perbuatanku sendiri. Kenapa aku menyuruhnya pergi? Ah, aku memang bodoh, karena gengsi yang besar aku sendiri yang akan rugi. Sekarang bagaimana caraku menemukan ruang kepala sekolahnya, apa aku harus memutari setiap sudut dari sekolahan ini? Ya Tuhan, sepertinya hanya itu pilihannya.

Aku menghela napas, dengan langkah pelan aku memasuki gerbang sekolahan itu. Sepi, itulah yang terlihat di mataku. Sepertinya saat ini pelajaran sedang berlangsung, makanya sepi. Lalu aku harus bertanya pada siapa kalau begini?

Kuedarkan pandangan ke segala arah, berharap akan ada seseorang yang bisa kutanyai. Sepertinya semesta kini berpihak padaku, seulas senyuman terpatri di wajah. Kulangkahkan kaki menuju beberapa siswa yang sedang berkumpul di sebuah kantin.

"Permisi." Seketika pandangan semua orang tertuju padaku. Mereka terdiam, menatapku keheranan. Tidak, tidak, mungkin mereka bukan sedang menatapku. Aku menoleh ke belakang, tapi tak ada siapa-siapa di belakangku, atau mungkin mereka memang sedang menatapku?

"Em, ... permisi," ucapku agak canggung, kuselipkan beberapa helai rambut ke belakang telinga untuk mengurangi kegugupan. Bayangkan saja, jika kau berada di posisiku. Apa yang akan kau lakukan jika ditatap seperti itu oleh empat cowok sekaligus.

"Permisi," ucapku lagi.

"Bunga," ucap seorang cowok dengan hidung macung serta kulit yang terbilang bersih, terlihat tampan meski tubuhnya sedikit berisi.

Aku mengernyit bingung ketika mendengarnya, bagaimana dia tau namaku? Bahkan sebelum aku memperkenalkan diriku. Ini sungguh aneh.

Cowok dengan seragam yang sengaja tidak dikancingkan dan dikeluarkan itu melangkah mendekat. Aku semakin melangkah mundur, ketika ia terus saja mendekat. Keringat dingin kini membasahi seluruh tubuhku.

"Ka-kau, Bu-bunga," ucapnya terbata, aku mengumpat dalam hati. Tubuhku terkunci di dinding dengan tubuh cowok itu. Kulihat tangan cowok itu bergetar, tangannya terulur ke arahku. Aku begitu ketakutan sekarang, jantungku berpacu dengan cepat. Aku menjerit dalam hati, berharap ada yang mendengarnya dan menyelamatkanku.

Cukup lama aku menutup mata, tapi aku tak merasakan apa-apa. Dengan perlahan, aku membuka mata. Seseorang telah menahan tangan cowok itu, mata hitam legam beradu tatap dengan mata coklat terang.

"Jangan mengulangi hal yang sama!" ucap pemuda beriris hitam legam itu, ia menghempas kasar tangan cowok beriris coklat.

Ya, dia Ravin, pemuda itu Ravin, pemuda yang sama, yang mengantarku tadi. Kak Ravin menarik pergelangan tanganku dan membawaku pergi bersamanya.

"Kau masih tidak berubah, kau belum menerima semuanya," ucap cowok berseragam itu, yang membuat langkah kak Ravin terhenti.

Pemuda itu terdiam, perlahan genggamannya terlepas dari tanganku. Kak Ravin berbalik, ia melangkah mendekat ke arah cowok itu.

"Selama kau tidak berubah, maka aku tidak akan berubah. Jangan pernah lupa, bahwa aku bisa melakukan apapun, jauh dari apa yang kau pikirkan," ucap kak Ravin dingin, kulihat kak Ravin menepuk pundak cowok di depannya dengan senyuman tipis. Sedangkan cowok di depannya terlihat mengepalkan tangan, hingga buku-buku jarinya memutih.

Kak Ravin kembali berbalik, dan menarikku melangkah pergi dari sana. Entahlah, aku bingung dengan semua ini. Semoga ini bukan awal yang buruk untukku.



Sumber pict : Geulgram(Photo by Neven Krcmarek/Unsplash) yang diedit.



Minta saran untuk alurnya, Gan.

Reynaphi08Avatar border
bleedingscreamAvatar border
bleedingscream dan Reynaphi08 memberi reputasi
2
349
2
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33.1KThread•55.1KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.