Entertainment
Batal
KATEGORI
link has been copied
185
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5e822a9d7e3a7265065257ab/mencekam--guest-house-dan-arwah-yang-tak-ingin-dikunci
Pertanyaan itu ditujukan padaku saat tubuh ini muncul dari pintu kamar utama yang langsung terhubung ke ruang tamu. Entah bagaimana bentuk air muka ini saat menatap Pak Rivan, sang pemilik pertanyaan.
Lapor Hansip
31-03-2020 00:21

Mencekam : Guest House dan Arwah Yang Tak Ingin Dikunci!

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Mencekam : Guest House dan Arwah Yang Tak Ingin Dikunci!

Mencekam : Guest House dan Arwah Yang Tak Ingin Dikunci!


Written by : @anasabila


"Udah baikan, Bu Bila?"

Pertanyaan itu ditujukan padaku saat tubuh ini muncul dari pintu kamar utama yang langsung terhubung ke ruang tamu. Entah bagaimana bentuk air muka ini saat menatap Pak Rivan, sang pemilik pertanyaan. Pasti sangat semerawut karena ketakutan. Namun, jelas dapat terbaca wajah dari Kolega Kerjaku itu menerbitkan rasa cemas. Segera pertanyaannya tadi kujawab dengan anggukan pelan. Begitu juga dengan langkah kaki ini, lambat menuju sofa.

"Mohon maaf, Bu, saya telat datang karena tadi masih menghadiri meeting."

"Nggak apa, Pak Rivan." Aku membalas sambil menghempaskan tubuh ke sofa.

"Bu Bila nggak keberatan kalau nanti Security Komplek saya minta jaga di teras rumah?"

Lagi, aku mengangguk, tapi dengan ragu. "Apa nggak masalah?"

"Pos Security cuma 10 meter dari sini. Jadi, saya pikir nggak masalah. Nanti saya kontak Pimpinan Security."

"Okay. Terima kasih, Pak Rivan."

"Saya yang terima kasih, Bu Bila mau mengerti dan memaklumi kondisi kita di sini. Saran saya, istirahat saja biar tenang. Besok pagi saya ke sini sekalian jemput Bu Bila."
Pak Rivan tak mau berbasa-basi lebih banyak, segera berdiri dan menyalamiku untuk pamit.
Setelah mengantar beliau sampai ke teras depan, aku terburu-buru kembali ke kamar dan mengunci diri.

Bulan ke-empat aku mulai bekerja, dan ini adalah perjalanan kerja yang ke-sembilan. Memang tugas kerja mengharuskan untuk berkeliling ke setiap cabang perusahaan yang tersebar pada berbagai kota di Indonesia. Sudah lima hari berlalu dalam masa kunjunganku ke cabang perusahaan di salah satu kota pada Provinsi Sumatera Selatan.

Umumnya, setiap cabang sudah menyediakan Rumah Khusus Tamu alias Guest House. Begitu juga dengan rumah yang sedang aku tempati sekarang untuk waktu yang cukup panjang. Uniknya, semua rumah di area komplek cabang ini berbentuk kuno dan masih ada sentuhan infrastruktur Belanda bercampur adat lokal. Aku sangat hapal dengan bentuk, termasuk atap yang memiliki jendela. Itu sangat khas dengan bangunan Eropa tempo dulu, yang mana memiliki banyak pintu. Tak heran juga, sebab cabang di kota ini adalah lokasi pabrik produksi milik perusahaan yang tertua, sudah puluhan tahun berdiri.

Mencekam : Guest House dan Arwah Yang Tak Ingin Dikunci!
(denah rumah : dokpri)

Rumah ini posisinya sekitar 3 kilometer dari kantor cabang. Tentunya masih di areal Komplek Perumahan Karyawan. Dan, baru kali ini aku mendapat Rumah Tamu yang paling bermasalah. Sialnya, sedang tak ada rumah pengganti. Padahal sudah beberapa kali aku mendapati beberapa kejadian aneh.

Hari pertama, dengan jelas aku bermimpi melihat seorang pria menggendong sosok yang terbalut kain putih bercorak bunga-bunga. Tragisnya, mimpi itu berlatar di rumah ini. Sang Pria tak dikenal itu berjalan dari ruang tamu melintasi kamar ini melalui pintu utama yang terbuka lebar. Ia lalu menuju sepasang daun pintu satu lagi yang juga terhubung dengan kamar ini pada sisi berseberangan dari pintu utama. Sepasang pintu yang kenyatannya sekarang terkunci itu, menuju kamar sebelah yang kosong. Pada satu set kunci rumah di tanganku, tak ada satupun anak kunci yang cocok dengan sepasang pintu tersebut.

Lalu kejadian kedua, tepat dua jam sebelum ini, aku dikagetkan dengan anjing-anjing tak bertuan yang masuk rumah. Kejadiannya sekitar jam 3 sore. Komplek perumahan yang sangat luas ini memang terdapat banyak anjing tak bertuan. Puluhan ekor, aku yakin.
Ada 5 ekor anjing tak bertuan yang tiba-tiba nyelonong masuk saat aku melihat-lihat tanaman di taman depan. Sialnya, aku tak menutup pintu depan, juga pintu kamar. Itu pun baru tersadar saat terdengar bunyi mereka menyalak dari dalam rumah. Ketika itu sempat kaget, dan semakin panik saat memburu asal suara yang ternyata dari dalam kamar.
Anjing-anjing tersebut seperti hendak memaksa untuk masuk ke kamar yang kosong. Mereka menggaruk-garuk lantai sambil mengendus-endus celah pintu. Beruntung, sebagai anjing tak bertuan yang mungkin memiliki trauma di dekat manusia, mereka terkejut saat aku muncul sambil berteriak histeris untuk mengusir. Seketika anjing-anjing itu berlari.

Dug ... Dug!
Suara ketukan itu terdengar lagi. Aku tersentak bangun. Ini adalah hal mengganggu yang ke-tiga, tentu saja. Dari arah ruang tamu, pada sudut ruangan yang berseberangan dari pintu kamar, jelas terdengar suara ketukan.
Suara tersebut berasal dari guci tanah liat kuno yang besar dengan corak seni merupa seekor naga. Bentuknya mirip seperti gentong pada umumnya.
Pada hari pertama dan kedua, aku sampai membuka piring raksasa dari tanah liat yang menjadi tutup mulut guci tersebut. Nihil.
Isinya sampah, seperti kertas-kertas dokumen yang kalau dicermati, adalah dokumen perusahaan. Milik para tamu yang dulu pernah menginap di sini, aku rasa.

Kala itu juga sempat ada jump scare, karena saat fokus pikiran teralihkan dengan lembaran kertas di dalam guci, suara ketukan itu muncul lagi. Jelas sekali jika memang itu suara ketukan pada guci yang sedang berada tepat di depan mata. Suara antah berantah yang tak terlihat penyebabnya.
Takut? Tidak juga. Tapi entah kenapa, saat itu aku merasa desiran dalam dada, dan semua bulu kuduk berdiri beriringan. Karena itulah segera muncul keputusan untuk menyudahi rasa penasaran. Kembali menutup guci, dan membiarkan suara tersebut sesekali muncul.

Kali ini, setelah sekian hari aku diamkan, rasa penasaran kembali hadir. Ranjang dari anyaman rotan berderit saat tubuh ini bangkit dan kaki turun menapak pada lantai.
Namun, saat aku hendak menuju pintu utama ... Deg! Ada lompatan rasa di dada.
Sadar jika ada cercahan bayangan tampak menembus dari bawah celah sepasang pintu yang menuju kamar sebelah. Cahaya dari kamar tersebut mampu menerobos ke ruangan ini karena berbeda bias warna, sebab aku mematikan lampu utama dan menghidupkan lampu tidur yang berwarna kekuningan.

"Siapa?" Spontan bertanya. Itu karena memang aku bukan orang yang memikirkan takhayul dengan berat.
Tak ada jawaban atas pertanyaan itu. Hening.

Perlahan aku mendekati sepasang pintu tersebut, dan tanpa ragu mengintip dari celah-celah susunan kayu pada pintu yang membentuk ornamen ventilasi bergaya tempo dulu.

Mencekam : Guest House dan Arwah Yang Tak Ingin Dikunci!
(ilustrasi bentuk pintu, sumber : di siniedit via Picsay)

Tapi tak ada siapapun yang berdiri di dekat pintu. Lagi pula, arah pandangan dari ventilasi hanya menuju ke atas. Tampak langit-langit kusam dan lampu 10 watt yang menyala 24 jam nonstop.
Aku mengganti pandangan ke arah lantai, masih sangat jelas ada bayangan yang menutupi cahaya dari kamar sebelah.

"Siapa?" Lagi, aku bertanya dengan suara yang lebih keras.

Karena tak ada jawaban, aku menunduk hingga pipi menyentuh lantai. Tak ada penampakan fisik apapun. Tapi diri ini yakin sedang tak berhalusinasi jika ada sesuatu di dekat pintu hingga tercipta sebuah klise bayangan. Dan, ketika mata sedang fokus memperhatikan ...

"A-aa ..." Jeritanku melengking dengan singkat, karena tiba-tiba bayangan tersebut bergerak!

Panik, aku sampai bangkit karena takut, dan berlari keluar sambil menelepon. Tapi ketika sampai di teras, ada seorang Pak Tua berbadan tambun dengan jaket tebal dan celana hitam, berjalan masuk pekarangan. Bapak itu tersenyum ramah sambil melepas topi kupluk-nya.

"Bu Bila?"

"I-iya ..."

"Saya Septo, security yang ditugaskan untuk jaga Bu Bila selama di sini. Mohon kerja sama, Bu." Bapak tua menjulurkan tangan.

"Aduh, Pak Septo terima kasih. Kebetulan rumah ini memang nggak aman." Aku langsung mengadukan kondisi sambil menjabat tangan Pak Septo.

"Nggak aman?"

"Iya... Ada orang di kamar sebelah yang kosong, Pak! Maling atau mau mengintip mungkin?"

"Tenang, Bu Bila. Saya jamin nggak ada siapa-siapa." Kata Pak Septo yang mengikutiku kembali menuju rumah.
Tapi beliau terhenti, dan memilih duduk di teras.

"Nggak cek ke kamar itu dulu, Pak? Saya yakin kok, memang ada orang tadi. Karena dengan jelas saya lihat bayangannya bergerak!"
Pak Septo tersenyum mendengar penjelasanku.

"Gini aja, Bu Bila silahkan istirahat. Nanti saya jaga. Kalo takut, jangan kunci pintu!" Pak Septo masih sangat tenang menjelaskan dengan logat daerahnya yang kental.

Aku memperhatikan Pak Septo yang tetap tersenyum. Pikiran menuntun tangan untuk merapikan posisi kerah piyama. Pikiranku mulai melenceng. Bukan maksud men-judge beliau. Tapi, apa salahnya waspada. Mata dengan awas memperhatikan pakaian beliau yang sedikitpun tak melambangkan seorang security.

"Baik. Pak Septo bisa tidur di ruang tamu, tapi kamar saya kunci!" Aku tegaskan itu agar beliau tahu, aku bukan wanita bodoh yang mudah membuka kesempatan walau dalam kondisi dan situasi tak kondusif.

Tanpa meminta konfirmasinya, aku hendak berlalu dan membiarkan pintu ruang tamu tanpa terkunci. Namun, baru saja hendak merapatkan pintu, Pak Septo menahan. Tenaga wanita jelas kalah. Belum sempat aku menjerit ...
"Tenang Bu Bila. Tapi, tolong ingat saran saya, jangan kunci pintu!"

Walau nafas menderu karena jeritan yang batal, aku coba untuk tak panik dan langsung meninggalkan beliau. Ketika masuk ke dalam kamar, dengan sengaja tangan ini memperkuat suara saat menutup pintu, lalu menguncinya dengan gerakan cepat.

Malam semakin larut dan tidurku tak nyenyak. Sesekali suara ketukan pada guci masih terdengar. Perasaanku semakin tak menentu. Pukul 2:30 dini hari.
Aku menghela nafas sambil terus mencoba tenang. Dalam keheningan, kecuali deru mesin dari area pabrik dan nyanyian serangga malam, kudapati satu suara janggal. Bukan suara ketukan pada guci, karena aku setidaknya mulai terbiasa.

Seseorang berbicara sayup-sayup sambil mengisak tangis. Dan tebak? Ya! Ini adalah keanehan ke-empat. Aku sering mendengar suara orang menangis. Tapi kali ini jantung berdegup, saat coba memfokuskan pikiran untuk mempertajam pendengaran.

"Hu-hu ... Jangan dikunci ..."


Jelas, sangat jelas walaupun sayup-sayup terdengar suara rintihan yang aku yakin berasal dari seorang wanita.

"Siapa yang menangis tiap malam-malam begini?" Hati ini mulai bertanya-tanya. Apalagi aku yakin suaranya dari arah belakang.

Kaki mulai beranjak, tapi sangat pelan. Agar tak berderak dengan kuat suara dari anyaman pada ranjang rotan. Aku mengintip teras depan dari sela-sela ventilasi jendela kamar.

"Sial... Kemana Pak Septo?" batinku.

Aku memutuskan untuk mengintip ke arah ruang tamu dari pintu utama. Tapi lagi-lagi mata ini menangkap bayangan aneh dari sepasang pintu yang menuju kamar sebelah.

Jantungku mulai berdegup kencang. Semakin kencang saat perlahan menundukkan kepala, coba untuk mengintip dari celah bawah pintu.

Aku tersentak, lalu segera teduduk. Hendak menjerit tapi entah kenapa tak mampu keluar suara ini. Jelas yang terlihat kali ini. Itu adalah selimut putih dengan corak-corak bunga yang sangat mirip dengan penampakan dalam mimpiku pada hari pertama menginap. Padahal yakin sebelumnya diri ini tak melihat apapun.

Aku bangkit dan memberanikan diri mengintip.
"Siapa?" bisikku. Hening. Tak ada jawaban.

Penasaran, aku merapat dan ketika mengintip dari celah ventilasi pintu. Kali ini aku merasa mual karena lonjakan darah yang seketika deras mengalir di otak.

Mencekam : Guest House dan Arwah Yang Tak Ingin Dikunci!
(dokpri : sticker by Picsay)

"Rambut?" Hanya itu yang terlihat dan aku tak berani melanjutkan.
Ada sosok samar dengan juntaian rambut panjang tersandang pada bahu, dan sekujur tubuh berbalut selimut bercorak bunga tadi. Tanpa sadar, tubuhku bergerak mundur. Pertanda ada rasa takut menghampiri. Tapi, baru satu langkah aku menjauh.

"Buka ... Jangan dikunci!"

Sangat jelas terdengar sosok itu berbisik.

Duak!
Spontan, kakiku menerjang kuat ke arah pintu.
"Sialan! Mau bikin akunya takut?"

Begitulah. Kalau sudah terlalu takut, refleksku adalah melawan. Karena lebih yakin jika itu pasti orang yang hendak menakut-nakuti.

Tok ... Tok! Pintu utama diketuk. "Bu Bila? Ada apa, Bu?" Pak Septo sepertinya merespon suara pintu yang kutendang.

"Ini sudah aku bilang tadi. Ada orang di kamar sebelah! Jangan bilang ternyata Pak Septo bersekongkol!"

"Maksudnya apa, Bu?"

"Eh, Pak. Orang yang ada di kamar sebelah ini sama dengan Pak Septo, bilang pintu jangan dikunci. Sengaja bikin akunya takut, yaahh! Biar akunya buka kunci terus kalian mau niat jahat, kan?"

"Bu ... Harus gimana toh saya menjelaskan. Nggak ada orang di kamar sebelah, Bu Bila!"

"Oh ... Masih mau main orang baik dan orang jahat kalian berdua? Aku udah curiga dengan pakaian Pak Septo. Ngaku aja Pak Septo bukan Security, kan?"
Terdengar helaan nafas Pak Septo setelah mendengar tuduhanku.

"Terserah, Bu Bila mau nuduh gimana, tapi percaya saya, jangan kunci pintunya!"

Aku diam tak menjawab. Setelah menghidupkan lampu, segera tangan meraih HP. Kutelepon Pak Rivan berulang kali. Tak diangkat. Karena itu hanya pesan yang kukirimkan dengan mengisyaratkan situasi darurat dan minta dijemput segera.

Mataku terus waspada memperhatikan bayangan dari celah sepasang pintu. Terkadang ada, atau tak nampak. Suara ketukan pada guci masih sesekali terdengar, dan suara tangisan juga tetap samar muncul dan hilang, mendayu-dayu.
Sekitar 30 menit lamanya menunggu dalam rasa cemas, deru mesin mobil terdengar berhenti di depan rumah. Disusul dengan pesan singkat dari Pak Rivan, bahwa Team Security telah meluncur dan memintaku agar tak panik.

Aku mengintip dari jendela, ada sosok 2 orang berpakaian security tiba, dan satu orang berpakaian bebas. Team penjaga keamanan tersebut terlihat bersalaman formal dengan Pak Septo yang menyambut kedatangan mereka.

"Maaf Bu Bila, ini saya Herdi, Kepala Bagian Security. Mohon maaf kalau Bu Bila merasa tak aman. Tolong kerjasama untuk membuka pintu, Bu Bila!" Seseorang mendekat ke arah jendela.

"Tunjukin ID Pak Herdi, sama tolong menunduk biar saya juga bisa melihat muka Bapak!" Aku meminta dengan tegas.

Beliau menunduk sambil mendekatkan wajahnya ke ventilasi jendela yang bersekat-sekat ke arah bawah jika dilihat dari dalam kamar. Wajah beliau juga sesuai dengan ID yang ditunjukkan.

Aku segera membuka kunci pintu kamar dan menjumpai mereka. Pak Herdi menjelaskan bahwa beliau akan mengantarku ke Hotel terdekat. Tapi Pak Septo menyanggah dan memintaku tidur di rumah ini, tapi tanpa mengunci pintu kamar.

"Tak ada pilihan, tapi saya tetap serahkan sama Bu Bila." Pak Herdi berkomentar atas permintaan Pak Septo.

"Jelasin dulu, karena sepertinya gestur Bapak-Bapak sekalian ada menutupi sesuatu. Kalo sudah jelas, baru saya bisa memutuskan mau ke Hotel atau ikut saran Pak Septo." balasku.

"Mau bagaimana lagi. Susah juga mau ditutup-tutupi." Pak Herdi bercanda sopan dengan Pak Septo.

"Kita ke dalam saja, saya ndak masalah kalo diceritakan." Dengan gaya khas yang tenang dan tutur halusnya Pak Septo mengajak kami untuk ke ruang tamu.

(bersambung ke : klik ====> post 2...)
Diubah oleh anasabila
profile-picture
profile-picture
profile-picture
dwikusumad dan 52 lainnya memberi reputasi
49
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 8
Mencekam : Guest House dan Arwah Yang Tak Ingin Dikunci!
31-03-2020 00:21
Mencekam : Guest House dan Arwah Yang Tak Ingin Dikunci!

(sambungan dari : Thread)

Aku pun menceritakan semua keanehan-keanehan yang terjadi selama lima hari menginap di rumah ini. Saat kami semua duduk dan bercerita, lagi-lagi guci tua mengeluarkan suara ketukan. Salah satu Security sempat merekam fenomena tersebut dengan handphone-nya. Aku menjelaskan sempat memeriksa guci, tapi tak ada apapun di sana. Pak Septo dengan tenang menuju guci dan menggesernya.

"Sebenarnya, bukan di dalam guci ..." Beliau memperlihatkan lantai yang entah sudah berapa lama tertindih guci kuno tersebut.
Ada jejak telapak tangan yang sudah kabur, berwarna merah kehitaman.

Mencekam : Guest House dan Arwah Yang Tak Ingin Dikunci!
(dokpri : sticker from Picsay)

Sret! Pak Septo mencabut bayonet, lalu menusukkannya ke sela-sela sambungan marmer di lantai. Satu petak marmer 40 x 40 di mana jejak tangan itu terdapat, ternyata bisa dibongkar - pasang.

Pak Septo merogoh ceruk pada lantai yang sudah tak tahu berapa lama tertutup satu bagian marmer dan guci antik. Beliau lalu mengangkat tangannya dan menunjukkan pada kami, 4 set anak kunci.

"Ada 4 pintu yang tak boleh dibuka sembarang. Tapi harus dibuka, kalau sudah diminta."

"Maksudnya?" Aku yang tak paham, serta - merta langsung bertanya.

"Pamit, Bu Bila."
Pak Septo beranjak, dan berdiri di dekat pintu kamar. Beliau meminta izin untuk masuk. Walau aku belum mengiyakan, beliau sudah membuka pintu.

Lalu tanpa ragu beliau membuka kunci sepasang pintu yang menuju kamar sebelah. Kembali ia melanjutkan membuka kunci pintu kamar ke-tiga yang posisinya di samping dapur, juga kamar mandi ke-dua di belakang rumah.

"Kenapa kuncinya disimpan kalau ternyata masih ada?" Rasa penasaran akhirnya membuatku bersuara.

"Seperti yang saya bilang, bisa dibuka kalau sudah diminta."

"Siapa yang minta?"

"Yang berbicara dengan Bu Bila tadi di kamar kosong itu."

"Apa?" Takut bercampur bingung, aku bertanya. Tapi sambil membuntuti beliau yang kembali menuju kamar. Begitu juga dengan Pak Herdi dan 2 Petugas Security lainnya, juga mengekor.

Pak Septo mengucap suatu kalimat dalam bahasa keagamaan, sebelum membuka sepasang pintu menuju kamar kosong.
Trek! Aku yang penasaran, memburu duluan masuk ke kamar. Kosong.

"Nggak mungkin, deh! Jelas akunya lihat tadi ada orang, loh, Pak Herdi!"
Tapi Pak Herdi hanya mengangguk dengan ragu sambil melirik Pak Septo yang sedang membuka kunci pintu kamar satu lagi. Pintu yang langsung menuju pekarangan dan teras belakang rumah.

"Terus kenapa lantai bagian sini di semen?"
Aku bertanya karena memang ada satu luasan dengan lingkaran tak sempurna yang sepertinya ditutup pakai semen.

Pak Herdi menghela nafas. "Saya baru 2 tahun menjabat Kepala Security, dan ini tahun ke-tiga saya bekerja. Mungkin Pak Septo lebih layak menjelaskan."
Karena itu, kami semua kembali ke ruang tamu. Lalu Pak Septo memulai cerita. Ternyata ...

Quote:
Pada tahun '70-an, ada Karyawan Ekspatriat yang mana Isteri dan Anaknya sedang pergi berlibur. Bersamanya, seorang pembantu rumah tangga yang masih muda, dipekerjakan perusahaan untuk tinggal di sana. Entah mengapa, ternyata Ekspatriat tersebut malah memperkosa Si Pembantu malang.
Tapi nahas, korbannya meninggal saat diperkosa, dan Ekspatriat tersebut memutilasi jasadnya. Separuh potongan jasad dikuburkan pada kamar ke-tiga, dan sebagian lagi di kamar mandi belakang. Agar memperkuat alibi bahwa ia sedang melakukan renovasi marmer yang retak jika nanti bermasalah kedepannya.

Sialnya, sang isteri dan anaknya pulang, dan menyaksikan saat proses penguburan jasad pembantu malang di kamar mandi belakang. Berang, Ekspatriat tersebut seperti kesetanan sehingga menyerang isteri dan anaknya. Mereka dikurung bersama anjing penjaga yang ganas di dalam kamar selama 9 hari. Kemudian sisa-sisa jasad isteri dan darah dagingnya sendiri, ia kuburkan di dalam kamar.

Namun, kejadian tersebut terbongkar saat Ekspatriat menyerahkan diri berbulan-bulan kemudian, sebab mengaku sudah tak tahan dihantui oleh roh mereka semua.
Dan tebak di mana itu terjadi? Benar sekali, semua itu konon terjadi di rumah yang sedang aku tempati.

Dan begitulah, hingga kini rumah menjadi angker dan sebagai pilihan terakhir jikalau ada tamu yang harus menginap.
Konon menurut Pak Septo, sangat berbahaya jika yang menginap di rumah ini, namun bersikeras tidur dengan pintu terkunci. Seperti beberapa tamu sebelumnya yang menempati rumah ini bertahun-tahun lalu. Setelah hitungan bulan tamu-tamu tersebut selalu kembali. Hanya untuk menginap 9 hari, tanpa mengunci pintu.

Menurut Pak Septo, pintu bisa di buka apabila arwah isteri dan anak itu meminta untuk dibukakan. Jika tidak, mereka akan terus mengikuti sampai orang itu menginap dan membukakan kunci.
Tapi semua kunci tak bisa dibuka, apabila belum ada permintaan dari arwah yang berada di kamar. Sebab, itu lebih berbahaya. Katanya, arwah pembantu itu akan menghantui seumur hidup.

Entah, apakah itu adalah cerita sebenarnya. Atau memang rumah ini dari asalnya sudah angker?
emoticon-Takut


Aku mengantar Pak Herdi dan team-nya sampai ke pekarangan rumah. Pak Herdi bilang, Pak Septo memang selalu ditugaskan untuk mengurusi hal ini, walaupun sebenarnya sudah pensiun. Istilahnya, beliau adalah salah satu kunci untuk meredam gangguan aneh di rumah. Setelah mereka pergi, aku beranjak kembali bersama Pak Septo ke ruang tamu.

"Jadi sekarang sudah aman?"

"Semoga, Bu Bila."

"Saya mohon maaf sebelumnya, udah curiga sama Pak Septo." Aku menghela nafas.

"Saya paham, orang seperti Bu Bila jarang percaya hal-hal mistis. Dari dulu saya ditugaskan menjaga tamu ekspatriat yang menginap di sini, dan selalu sama. Pasti terjadi salah paham di awal."

"Jadi, Pak Septo dulu ikut saat proses pembongkaran jasad mereka?"

"Iya ..." Pak Septo membalas singkat. Seperti hendak melanjutkan, tapi ragu-ragu.

Aku diam sejenak, tak ingin memaksa. Namun, akhirnya kupilih pamit untuk beristirahat, mungkin lebih baik daripada memaksanya untuk terbuka. Tentu saja kali ini tanpa mengunci pintu kamar. Sepanjang malam menjelang tidur, hati ini komat-kamit membaca do'a-do'a.

Pagi pukul enam, aku terbangun. Terdengar suara Pak Septo berbicara dengan samar. Awalnya hendak menyambut keluar, tapi pikiran menyadari jika percakapan itu sedikit aneh. Perlahan kutempelkan telinga pada pintu.
Dan, saat itulah telinga menyimak sesuatu yang menjelaskan kenapa beliau adalah salah satu kunci untuk mengamankan rumah ini.

"Sudah bangun ..." Aku yakin sumber suara itu adalah seorang wanita, dan seperti sambil terisak, menangis.

"Tenang, ya Ibu, jangan ganggu. Yang tenang, anakmu di sini ..." balas Pak Septo.

Mendengar itu, urung niat diri untuk keluar dari kamar. Kunyalakan sebatang rokok, lalu menghisap dalam-dalam, sebelum terlepas kepulan asap tipis dalam helaan yang panjang.
Mencekam : Guest House dan Arwah Yang Tak Ingin Dikunci!
(dokpri : sticker from Picsay)



Asap rokok yang kuhisap berhembus sendirinya setelah kerongkongan ini menelan seteguk kopi. Sudah tiba hari terakhir bertugas, dan besok pagi harus berangkat pindah ke kota lain. Aku memilih bersantai menikmati malam di pekarangan belakang. Sampai di hari ke-17, tapi belakangan semua berjalan kondusif. Tak ada gangguan berarti semenjak semua kunci terbuka, dan juga Pak Septo yang 1 x 24 jam menginap dan tidur di ruang tamu.

Walaupun begitu, suara tangis masih sesekali terdengar, dan juga anjing-anjing tak bertuan itu tetap datang secara acak waktu. Mereka konon katanya adalah keturunan dari anjing yang dahulu dijadikan alat bantu pemusnah jasad korban pembantaian di rumah ini, berpuluh-puluh tahun silam. Entahlah. Terdengar tak masuk akal pikiranku, tapi juga tak mampu menemukan alasan logis kenapa anjing-anjing itu kerap kembali. Apalagi tujuannya hanya satu, menyalak dan melolong dengan beringas, juga mengais lantai dekat celah bawah pintu menuju kamar kosong. Sungguh aneh!

Sret! Tiba-tiba aku melihat sekelebat penampakan samar yang sangat membaur dengan keremangan malam. Namun cukup menggambarkan jika itu adalah orang dengan separuh badan, kecuali rambutnya yang tergerai panjang. Sosok itu melayang dari pepohonan pisang di pekarangan, lalu masuk menembus dinding kamar mandi belakang.

Mencekam : Guest House dan Arwah Yang Tak Ingin Dikunci!
(dokpri : sticker from Picsay)

Jantungku hendak berlari kuat. Antara jelas dan juga tidak, penampakan tersebut menunjukan fisiknya. Tapi lebih akurat bentuknya daripada sekelebat bayangan rambut dan selimut dari kamar kosong tempo hari. Aku bahkan tak yakin apakah hanya tersugesti, atau nyata?

Dengan segenap jiwa dan raga aku kumpulkan keberanian, coba untuk tenang. Sebelum memutuskan kembali ke kamar, aku membisikkan sesuatu.

"Ibu yang tenang, yaahh, jangan ganggu. Yang tenang ... Karena Anakmu ada di sini ..."



-T A M A T-
Written by : @anasabila
Diubah oleh anasabila
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ndank83 dan 20 lainnya memberi reputasi
21 0
21
Lihat 2 balasan
Memuat data ..
Mencekam : Guest House dan Arwah Yang Tak Ingin Dikunci!
31-03-2020 00:21
reserverd

Komen Kaskuser Di Luar Page One

Quote:Original Posted By phyu.03
Maaf telat mampir, gak dapat pejwan dahemoticon-Cape d...
Tapi tak mengapa, boleh komen sekarang daripada kaga komen sama sekaliemoticon-Cool

______

*Tema; inti cerita ini bahwa 'pintu jangan dikunci' karena menjadi kelaziman jika ada tamu yang nginap pasti akan mengunci pintu sehingga terjadilah kejadian2 yang tidak mengenakkan seperti kisah dalam trit.

*Alur; alurnya sudah keren, setiap perpindahan scene selalu diberi pengandaian yang luwes, tak terkesan terburu2 ingin mengungkap fakta, tetapi menggiring opini pembaca membuka nalar.

*Tokoh; Tokoh sentral dalam kisah ini jelas bisa membahasakan kejadian tiap kejadian yang terjadi, mulai dari ketukan di guci, anjing yang 'bertamu', bayangan berkelebat dan akhirnya pada titik epilog pada 'mantra'

Ini pointnya.

Kelemahannya? Sampe bersambung ke thread kedua, kepanjangan dan terkesan bertele2 dalam penyampaian ceritanya.

Tapi dari sisi ane, sudah sangat memuaskan kok ... inti horornya juga dapat, pembaca jadi bisa mengerti kondisi quest house yang dimaksud.

Sudah, gini aja review dan opini gw. Moga berkenan di hati mbak TSnyaemoticon-terimakasih


Quote:Original Posted By kicquck
Hehe dah keren banget kak
Niat kak ngerjainnya
Yakin ak seneng sama orang yang bikin tulisan nya tu niat. Jadi isinya padat dan enak dibaca


Quote:Original Posted By finalboss
Setuju banget aku bek, enak dibaca, pemilihan kata yg bagus, bisa bener2 bikin pembaca terbawa ke alur ceritanya emoticon-thumbsup


Quote:Original Posted By phyu.03
Selamat Bila
Threadnya naik htemoticon-Shakehand2


Quote:Original Posted By saptalan60
keren dan asik ceritanya ,.. nTapszzzz


Quote:Original Posted By rvbby
celeeem


Quote:Original Posted By katarock
Wanjeerr HT emoticon-Sundul Up

Pdhal ts ee pnakut knp trit horror ee jd ht wkwkwkwkwk emoticon-Leh Uga


Quote:Original Posted By joki.ngepot
Owwh mrs bila,,i think the scariest is youemoticon-Leh Uga


Quote:Original Posted By kurniawan.mgl
jd inget salah satu rumah di tempat nenek di kebumen, selalu terkunci.. sampe akhirnya dibuka pada saat ada anak SMK mau PKL, dan berakhir dengan tragis..


Quote:Original Posted By SENSORkidal
Seremm ui cerita nyaemoticon-Takutemoticon-Takutemoticon-Takut
Wajar masuk htemoticon-Toastemoticon-Toast


Quote:Original Posted By pabloo
ngeri pisan


Quote:Original Posted By actandprove
Ane kagak dimention
emoticon-cih
Diubah oleh anasabila
profile-picture
profile-picture
profile-picture
NecroTorture dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Mencekam : Guest House dan Arwah Yang Tak Ingin Dikunci!
31-03-2020 00:38
Quote:Original Posted By anasabila
reserverd


Kalo senior nyang nulis mah bedaaaaa reel nya dapat bgt wkkwkwwk
profile-picture
profile-picture
profile-picture
NecroTorture dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Mencekam : Guest House dan Arwah Yang Tak Ingin Dikunci!
31-03-2020 00:38
profile-picture
profile-picture
profile-picture
NecroTorture dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Mencekam : Guest House dan Arwah Yang Tak Ingin Dikunci!
31-03-2020 00:39
Quote:Original Posted By delia.adel
Kalo senior nyang nulis mah bedaaaaa reel nya dapat bgt wkkwkwwk


makasih adel... akunya pertama kali nulis horror... senior darimana xixixi emoticon-Takut (S)
Diubah oleh anasabila
profile-picture
profile-picture
profile-picture
NecroTorture dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Mencekam : Guest House dan Arwah Yang Tak Ingin Dikunci!
31-03-2020 00:43
Quote:Original Posted By anasabila
makasih adel... akunya pertama kali nulis horror... senior darimana xixixi emoticon-Takut (S)


Tulisan kakak emang bagus. Aku jarang komen tapi suka baca. ..sr aja sih.. soalnya kadang bingung kalo mau komen apalagi saat otak lagi gak baik...et dah aye pamit lah... Aye malu ah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
NecroTorture dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Mencekam : Guest House dan Arwah Yang Tak Ingin Dikunci!
31-03-2020 01:14
Quote:Original Posted By delia.adel
Tulisan kakak emang bagus. Aku jarang komen tapi suka baca. ..sr aja sih.. soalnya kadang bingung kalo mau komen apalagi saat otak lagi gak baik...et dah aye pamit lah... Aye malu ah


okay... selamat tidur yaahh... emoticon-Cendol (S)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
NecroTorture dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Mencekam : Guest House dan Arwah Yang Tak Ingin Dikunci!
31-03-2020 01:43
Quote:Original Posted By anasabila
janji mention
@kicquck
@phyu.03
@pe.rusuh


Wah udah jd threadnya, makasih loh kak udah di mention emoticon-Malu
---
Udah aku baca kak, serem jg ceritanya. Arwahnya pasti gentayangan tuh, tapi kalo aku sih yakin itu cuma jin yg lagi nyamar aja emoticon-Thinking
profile-picture
profile-picture
profile-picture
NecroTorture dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Mencekam : Guest House dan Arwah Yang Tak Ingin Dikunci!
31-03-2020 01:49
Quote:Original Posted By pe.rusuh
Wah udah jd threadnya, makasih loh kak udah di mention emoticon-Malu
---
Udah aku baca kak, serem jg ceritanya. Arwahnya pasti gentayangan tuh, tapi kalo aku sih yakin itu cuma jin yg lagi nyamar aja emoticon-Thinking

sama2 kak pe... akunya yang makasih beraattt...
mungkin nanti ada thread ke-dua... nggak tau bisa atau nggak satu akun, karena nggak ada clone... xixixi...
_______________
entah kak...akunya nggak paham... emoticon-Takut (S)
akunya percaya soal roh halus, tapi nggak tau apa mereka arwah orang atau iblis atau djin yang menyamar... emoticon-Takut (S)
_________________
sebenernya sering kalo suara2 dan sekelebat bayangan begini sering... karena emang gonta-ganti tempat menginap... cuma aku nggak terlalu memikirkan takhayul... cerita satu ini salah satu yang cukup jelas pengalamannya...
Diubah oleh anasabila
profile-picture
profile-picture
profile-picture
NecroTorture dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Mencekam : Guest House dan Arwah Yang Tak Ingin Dikunci!
31-03-2020 02:00
Quote:Original Posted By anasabila
sama2 kak pe... akunya yang makasih beraattt...
mungkin nanti ada thread ke-dua... nggak tau bisa atau nggak satu akun, karena nggak ada clone... xixixi...
_______________
entah kak...akunya nggak paham... emoticon-Takut (S)
akunya percaya soal roh halus, tapi nggak tau apa mereka arwah orang atau iblis atau djin yang menyamar... emoticon-Takut (S)
_________________
sebenernya sering kalo suara2 dan sekelebat bayangan begini sering... karena emang gonta-ganti tempat menginap... cuma aku nggak terlalu memikirkan takhayul... cerita satu ini salah satu yang cukup jelas pengalamannya...


Iya kak, masama loh..
Cerita keduanya udah jadi kak? emoticon-Thinking
---
Kalo sepengetahuan aku, roh manusia udah beda alam (alam kubur), jadi kemungkinan itu makhluk halus yg nyamar aja.
Kalo sekelebat bisa jadi makhluk halus jg, namanya kan kita hidup berdampingan. Di setiap tempat jg yakin pasti ada kak emoticon-Big Grin
Diubah oleh pe.rusuh
profile-picture
profile-picture
profile-picture
NecroTorture dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Mencekam : Guest House dan Arwah Yang Tak Ingin Dikunci!
31-03-2020 02:03
Quote:Original Posted By pe.rusuh
Cerita keduanya udah jadi kak? emoticon-Thinking
---
Kalo sepengetahuan aku, roh manusia udah beda alam (alam kubur), jadi kemungkinan itu makhluk halus yg nyamar aja.
Kalo sekelebat bisa jadi makhluk halus jg, namanya kan kita hidup berdampingan. Di setiap tempat jg yakin pasti ada kak emoticon-Big Grin


belum jadi emoticon-Ngakak (S)
_____________
thanks sharingnya kak pe... emoticon-Cendol (S)
akunya minim beneran pengetahuan soal ini emoticon-Takut (S)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
NecroTorture dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Mencekam : Guest House dan Arwah Yang Tak Ingin Dikunci!
31-03-2020 02:15
Quote:Original Posted By anasabila
belum jadi emoticon-Ngakak (S)
_____________
thanks sharingnya kak pe... emoticon-Cendol (S)
akunya minim beneran pengetahuan soal ini emoticon-Takut (S)


Tak tungguin thread ke-2 nya kak emoticon-Smilie

Iya kak, itu yg aku tau aja. Pemahamanku tentang makhluk halus jg masih kurang emoticon-Shakehand2
profile-picture
profile-picture
profile-picture
NecroTorture dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Mencekam : Guest House dan Arwah Yang Tak Ingin Dikunci!
31-03-2020 06:17
Kalau mencekam ya tidak perlu ke sana gan, di rumah yang aman saja. Berhubung memang kalau tidak mau dikunci barangkali ada jin di sana. Selanjutnya bisa enjoy tanpa ada yang mencekam.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
NecroTorture dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Mencekam : Guest House dan Arwah Yang Tak Ingin Dikunci!
31-03-2020 06:52
Yosh akhirnyaaaa bikin juga
Keren kak ceritanya
Runtut dan emang bagus
Aku suka penulis yang tipenya kaya kak bila... mengkonsep tulisannya dengan sangat rapi...gak asal tulis emoticon-Jempol jadi hasil tulisannya padat dan kesannya ga kosong
profile-picture
profile-picture
profile-picture
NecroTorture dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Mencekam : Guest House dan Arwah Yang Tak Ingin Dikunci!
31-03-2020 13:11
Quote:Original Posted By pe.rusuh
Tak tungguin thread ke-2 nya kak emoticon-Smilie

Iya kak, itu yg aku tau aja. Pemahamanku tentang makhluk halus jg masih kurang emoticon-Shakehand2

okay... xixixi tapi udah hari akhir... liat ntar yaahh kak pe...

Quote:Original Posted By vixitev
Kalau mencekam ya tidak perlu ke sana gan, di rumah yang aman saja. Berhubung memang kalau tidak mau dikunci barangkali ada jin di sana. Selanjutnya bisa enjoy tanpa ada yang mencekam.

makasih udah mampir yaahh...
#dirumahaja
#mumpungdirumah
emoticon-Goyang

Quote:Original Posted By kicquck
Yosh akhirnyaaaa bikin juga
Keren kak ceritanya
Runtut dan emang bagus
Aku suka penulis yang tipenya kaya kak bila... mengkonsep tulisannya dengan sangat rapi...gak asal tulis emoticon-Jempol jadi hasil tulisannya padat dan kesannya ga kosong

makasih banyak kak Kiki.. masih belajar2 akunya xixixi... terkadang typho atau ada kata yang nggak tepat itu susah beneran emoticon-Frown
emoticon-terimakasih
profile-picture
profile-picture
profile-picture
NecroTorture dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Mencekam : Guest House dan Arwah Yang Tak Ingin Dikunci!
31-03-2020 17:17
Wkwkwkwk sok berani buat horor emoticon-Leh Uga
Tapi ntapz dah
Slesain yg satu y noh emoticon-2 Jempol
profile-picture
profile-picture
profile-picture
NecroTorture dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Mencekam : Guest House dan Arwah Yang Tak Ingin Dikunci!
31-03-2020 17:26
Quote:Original Posted By katarock
Wkwkwkwk sok berani buat horor emoticon-Leh Uga
Tapi ntapz dah
Slesain yg satu y noh emoticon-2 Jempol

biarin wee... sekalian bantu cek typho kalo ada babang xixixi... emoticon-Ngakak (S)
makasih yaahh babang...
emoticon-terimakasih
profile-picture
profile-picture
profile-picture
NecroTorture dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Mencekam : Guest House dan Arwah Yang Tak Ingin Dikunci!
31-03-2020 19:28
Untung bacanya jam segini, kalau tengah malem bisa beda cerita lagi nanti bil emoticon-Takut (S)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
NecroTorture dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Mencekam : Guest House dan Arwah Yang Tak Ingin Dikunci!
31-03-2020 19:35
Quote:Original Posted By finalboss
Untung bacanya jam segini, kalau tengah malem bisa beda cerita lagi nanti bil emoticon-Takut (S)

akunya bikin begini juga nggak bisa sendirian... emoticon-Takut (S)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
NecroTorture dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Mencekam : Guest House dan Arwah Yang Tak Ingin Dikunci!
31-03-2020 19:36
Quote:Original Posted By anasabila
akunya bikin begini juga nggak bisa sendirian... emoticon-Takut (S)


Pas bikinnya ngerasa ada yg ngawasin ya bil? emoticon-Takut (S)
profile-picture
profile-picture
profile-picture
NecroTorture dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Halaman 1 dari 8
icon-hot-thread
Hot Threads
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia