TS
lynna123
Tips Menarik Minat Gen Z Supaya Brand Anda Laris Manis
Menurut penelitian yang dilakukan researchandmarkets, kebiasaan berbelanja Gen Z (anak kelahiran 1995-2010) lebih besar daripada generasi lainnya. Sayangnya, beberapa brands belum mempertimbangkan Gen Z sebagai target audience nya. Mengutip dari Forbes, sekitar 47% Gen Z menyatakan mereka bingung harus kemana karena tidak ada perusahaan yang mengerti kebutuhan mereka.
Mengingat tingginya pola konsumsi Gen Z, brand anda harus bisa menyelam agar mendapatkan profit lebih. Nah untuk, itu inilah beberapa tips untuk membuat brand anda makin diminati Gen Z sampai laris manis;
1. Cerita tentang brand anda, bukan produk.
Percayalah, jika anda menggunakan jargon ‘kekinian’ untuk menarik mereka, hal tersebut malah terlihat cringey dan makin tidak diminati. Sejatinya, Gen Z lebih tertarik melihat cerita dibalik brand anda, alih-alih branding secara hard selling yang belum tentu pesannya sampai ke mereka.
Maka dari itu, brand anda harus mampu menjadi storyteller yang baik. Pastikan Gen Z mengetahui visi misi dibalik brand anda agar mereka percaya. Setelah brand anda sukses menggaet Gen Z, keinginan mereka untuk membeli produk dari brand anda juga akan naik dengan sendirinya.
Salah satu contoh, iklan Ramayana selalu menjadi pembicaraan hangat Gen Z. Iklan Ramayana selalu menampilkan kisah-kisah menyentuh dan relate dengan masyarkat. Ramayana memang tidak menjual produknya secara gamblang, namun memberi pesan eksplisit bahwa produk-produknya menjadi penolong di segala situasi.
Dengan ini, Ramayana juga sukses mengubah stigma brand mereka. Dulu Ramayana dikenal sebagai brand jadul, dan saat ini berhasil meraih hati Gen Z.
2. Kolaborasi dengan Sosial Media Influencer yang tepat
Saat ini Gen Z lebih percaya apa yang dilihat di Internet. Segala bentuk keputusan mereka berdasarkan dari apa yang mereka lihat di Internet, termasuk idola juga. Sejauh ini, Gen Z bergantung kepada social media Influencer untuk membantu mereka menentukan pilihan. Bagi mereka apabila seorang influencer sudah berkata “ya” maka mereka akan mengikutinya.
Kesempatan ini bisa digunakan untuk brand anda berkolaborasi dengan social media influencer yang sejalan dengan visi misi brand anda. Sebelum anda berkolaborasi, pastikan anda menyeleksi siapa influencer yang sekiranya berpotensial mendobrak brand anda.
Untuk membantu memastikan, anda bisa mengecek engagement rate calon influencer di Analisa.io. Cukup mengetik username profil Instagramnya, anda akan mendapatkan angka-angka engagements yang diperoleh sang influencer di. Angka-angka tersebut tentunya menjadi salah satu pertimbangan anda untuk melakukan kerjasama dengan influencer.
Salah satu contoh nyata yaitu bagaimana produk kosmetik Focallure bersama Tasya Farasya bisa laku keras di masyarakat. Focallure mengerti bagaimana seorang Tasya Farasya bisa memberikan engagement yang besar karena target dominannya adalah Gen Z.
Yang terpenting adalah pilihlah seseorang yang tepat daripada mengajak beberapa influencers yang tidak jelas untuk mengendorse produk anda.
3. Menjadi jawaban yang mereka inginkan
Supaya bisa engaged dengan Gen Z, anda harus bisa menjadi brand yang mampu menyuarakan keinginan Gen Z. Sebelum memulai, anda harus meriset behavior mereka, apa yang dibutuhkan oleh mereka.
Seperti yang dilakukan Gopay, mereka melakukan kolaborasi dengan XXI untuk memudahkan Gen Z membeli tiket. Gopay sadar kebiasaan Gen Z saat ini ingin serba cepat dan kalau bisa bayar belakangan setelah membeli sesuatu. Maka dari itu, Gopay juga mengaktifkan system paylater. Gopay mampu menjawab kegundahan Gen Z yang konsumtif tetapi dananya kurang.
Anda bisa sekreatif mungkin untuk menarik Gen Z, tetapi selalu ingat 3 tips diatas untuk menjawab keinginan Gen Z. Sangat disayangkan apabila peluang ini tidak dimanfaatkan mengingat Gen Z lebih konsumtif daripada generasi lain.
Mengingat Gen Z umumnya menghabiskan waktu di social media, ajaklah mereka untuk berpartisipasi di social media anda. Sebagai contoh, anda bisa melempar sebuah topic atau challenge yang membuat mereka menjawab atau reshare kepada followersnya. Semakin giat mereka menjalankan, maka semakin besar engagement brand anda.
Untuk mengetahui seberapa besar engagement anda, anda bisa mengecek engagement rate Instagram Profil anda di Analisa.io. Disini, anda akan mengetahui siapa saja dan dari mana saja orang-orang yang engaged terhadap brand maupun produk anda di Instagram.
Angka-angka ini membantu anda memahami siapa saja yang setia terhadap brand anda, dan mungkin akan memberitahu potensial target baru.
Mengingat tingginya pola konsumsi Gen Z, brand anda harus bisa menyelam agar mendapatkan profit lebih. Nah untuk, itu inilah beberapa tips untuk membuat brand anda makin diminati Gen Z sampai laris manis;
1. Cerita tentang brand anda, bukan produk.
Percayalah, jika anda menggunakan jargon ‘kekinian’ untuk menarik mereka, hal tersebut malah terlihat cringey dan makin tidak diminati. Sejatinya, Gen Z lebih tertarik melihat cerita dibalik brand anda, alih-alih branding secara hard selling yang belum tentu pesannya sampai ke mereka.
Maka dari itu, brand anda harus mampu menjadi storyteller yang baik. Pastikan Gen Z mengetahui visi misi dibalik brand anda agar mereka percaya. Setelah brand anda sukses menggaet Gen Z, keinginan mereka untuk membeli produk dari brand anda juga akan naik dengan sendirinya.
Salah satu contoh, iklan Ramayana selalu menjadi pembicaraan hangat Gen Z. Iklan Ramayana selalu menampilkan kisah-kisah menyentuh dan relate dengan masyarkat. Ramayana memang tidak menjual produknya secara gamblang, namun memberi pesan eksplisit bahwa produk-produknya menjadi penolong di segala situasi.
Dengan ini, Ramayana juga sukses mengubah stigma brand mereka. Dulu Ramayana dikenal sebagai brand jadul, dan saat ini berhasil meraih hati Gen Z.
2. Kolaborasi dengan Sosial Media Influencer yang tepat
Saat ini Gen Z lebih percaya apa yang dilihat di Internet. Segala bentuk keputusan mereka berdasarkan dari apa yang mereka lihat di Internet, termasuk idola juga. Sejauh ini, Gen Z bergantung kepada social media Influencer untuk membantu mereka menentukan pilihan. Bagi mereka apabila seorang influencer sudah berkata “ya” maka mereka akan mengikutinya.
Kesempatan ini bisa digunakan untuk brand anda berkolaborasi dengan social media influencer yang sejalan dengan visi misi brand anda. Sebelum anda berkolaborasi, pastikan anda menyeleksi siapa influencer yang sekiranya berpotensial mendobrak brand anda.
Untuk membantu memastikan, anda bisa mengecek engagement rate calon influencer di Analisa.io. Cukup mengetik username profil Instagramnya, anda akan mendapatkan angka-angka engagements yang diperoleh sang influencer di. Angka-angka tersebut tentunya menjadi salah satu pertimbangan anda untuk melakukan kerjasama dengan influencer.
Salah satu contoh nyata yaitu bagaimana produk kosmetik Focallure bersama Tasya Farasya bisa laku keras di masyarakat. Focallure mengerti bagaimana seorang Tasya Farasya bisa memberikan engagement yang besar karena target dominannya adalah Gen Z.
Yang terpenting adalah pilihlah seseorang yang tepat daripada mengajak beberapa influencers yang tidak jelas untuk mengendorse produk anda.
3. Menjadi jawaban yang mereka inginkan
Supaya bisa engaged dengan Gen Z, anda harus bisa menjadi brand yang mampu menyuarakan keinginan Gen Z. Sebelum memulai, anda harus meriset behavior mereka, apa yang dibutuhkan oleh mereka.
Seperti yang dilakukan Gopay, mereka melakukan kolaborasi dengan XXI untuk memudahkan Gen Z membeli tiket. Gopay sadar kebiasaan Gen Z saat ini ingin serba cepat dan kalau bisa bayar belakangan setelah membeli sesuatu. Maka dari itu, Gopay juga mengaktifkan system paylater. Gopay mampu menjawab kegundahan Gen Z yang konsumtif tetapi dananya kurang.
Anda bisa sekreatif mungkin untuk menarik Gen Z, tetapi selalu ingat 3 tips diatas untuk menjawab keinginan Gen Z. Sangat disayangkan apabila peluang ini tidak dimanfaatkan mengingat Gen Z lebih konsumtif daripada generasi lain.
Mengingat Gen Z umumnya menghabiskan waktu di social media, ajaklah mereka untuk berpartisipasi di social media anda. Sebagai contoh, anda bisa melempar sebuah topic atau challenge yang membuat mereka menjawab atau reshare kepada followersnya. Semakin giat mereka menjalankan, maka semakin besar engagement brand anda.
Untuk mengetahui seberapa besar engagement anda, anda bisa mengecek engagement rate Instagram Profil anda di Analisa.io. Disini, anda akan mengetahui siapa saja dan dari mana saja orang-orang yang engaged terhadap brand maupun produk anda di Instagram.
Angka-angka ini membantu anda memahami siapa saja yang setia terhadap brand anda, dan mungkin akan memberitahu potensial target baru.
0
584
4
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Bisnis
71KThread•14.5KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya