- Beranda
- Stories from the Heart
MENERIMA
...
TS
rahmata.p
MENERIMA
Spoiler for 1:
pada suatu pagi, seseorang teman dekat menelpon aku dan memeberitahukan bahwa hubungan asmaranya harus berakhir karena pasangannya sudah terlalu lelah untuk melanjutkannya. lelah karena pasangannya merasa bahwa temanku memiliki suasana hati seperti ayunan. naik turunnya selalu ekstrim.
setelah mendengar percakapan itu temanku mengatakan, " bukankah kita harus menerima apapun keadaan pasangan kita ya?"
aku tertarik dengan apa yang dikatakannya dan setuju dengan pendapatnya tersebut. namun tidak berakhir disitu saja, sebab penerimaan itu mengandung batas kekuatan seseorang dalam menerima. batasan itu di tentukan banyak hal. aku kemudian mengambil contoh saat temanku itu kesal sekali kepadaku, karena menurutnya aku tidak prihatin sama sekali dengan ayahnya yang saat itu sedang sakit, sebab penyakit yang di derita ayahnya itu sangat ringan menurutku. jika melihat keadaan hidup saya yang sejak kecil sudah hidup terpisah dengan ayah dan ibu. buat aku penderitaan ayahnya hanya seringan kapas.
karena itu aku menjelaskan kapas di tangannya terasa berat, sedangkan buat aku tidak sama sekali. jadi ketika menerima sesuatu keadaan tidak semua manusia bisa disamakan kekuatannya dalam menerima keadaan itu. jadi menerima pasangan itu berbeda dengan menerima diri sendiri.
bagaimanapun dalamnya cinta seseorang kepada orang lain, orang lain itu tetap bukan diri kita. dengan demikian kita bisa menerima suasana hati seperti ayunan karena itu adalah kita dan kita sendiri sudah pasti menerima diri kita sendiri dengan senang hati. namun tidak demikian dengan pasangan kita alias orang lain itu. dia juga bukan diri kita.
jadi buat aku, sungguh egois jika seseorang yang memiliki hubungan mengartikan menerima adalah menerima orang lain tapi memperlakukan mereka seperti diri sendiri. setelah percakapan itu aku yang sebelumnya berencana mandi menjadi tetap berdiam di sofa sambil memikirkan hubungan dia dengan orang lain.
aku pernah berkata pada temanku "mengapa ya, orang mau di cintai saja sulitnya setengah mati, kan hanya ingin dicintai bukan ingin di bunuh, lalu mengapa rumitnya seperti mencari jerami di tumpukan jarum?"
aku merasa ada orang yang hanya untuk di cintai saja sudah terkaget kemudian lari menjauh padahal di awa; perjalanan semuanya lancar dan memberi angin unguk melakukan sebuah perjalanan asmara.
awalnya aku kesal dengan keadaan seperti itu, belum lagi dengan sejuta alasan melarikan diri dan yang paling memuakan sambil berkata "kamu adalah orang yang paling baik yang pernah aku kenal, dan kamu pantas mendapatkan yang lebih baik daripada aku" aku kemudian berpikir, jika aku baik mengapa tidak bisa di terima, mengapa harus meyakinkan aku untuk mencari yang lebih layak menerimaku. yang tidak bisa di terima kalau aku tidak baik, nah ini aku baik kok. temanku bilang begini " itu berarti dia menolak secara halus"
kemudian aku berpikir, jika memang berniat menolak mengapa harus bilang bahwa aku ini baik? mengapa dia menghembuskan angin harapan jika hanya berakhir penolakan? bukankah ada resiku yang harus di pikirkan ketika ada angin yang di hembuskan kehadapan orang lain?
nah saat itulah aku mengerti bahwa persiapan selalu di perlakukan dalam semua keadaan. menerima itu membutuhkan persiapan. maka aku katakan pada temanku bahwa menerima itu penting tapi membuat persiapan sebelum menerima itu jauh lebih penting. persiapan itu adalah assessment terhadap diri sendiri.
jika suasana hati seseorang masih seperti ayunan, jika seseorang masih tak mau di kekang dalam suatu hubungan alians memang nakal dan susah melepaskan kenakalannya, jika secara finansial tidak mencukupi untuk memiliki hubungan, jika biasanya hanya meniupkan harapan tetapi masih takut jika harapan itu benar terjadi, jika ini dan itu, janganlah sekali-kali bermain api.
masalahnya, apabila anda bermain api dan anda sendiri yang terbakar. itu tidak masalah. namun membakar orang lain hanya karena persiapan anda kurang atau sama sekali tidak ada, itu namanya kurang ajar. menerima itu bukan mengorbankan seseorang untuk menderita bersama anda.
memiliki hubungan apapun bentuknya bukan jalan pintas untuk membuang sampah di sebuah lokasi baru karena lokasi lama sudah penuh. menerima itu tidak sama dengan menjadikan seseorang sebagai sukarelawan balai keselamatan untuk hidup anda.
saat pasangan kita merasa tidak senang diperlakukan seperti tong sampah atau sebagai tenaga sukarela, jangan dengan mudahnya mulut kita berbicara begini, "kan seharusnya dia bisa menerima keadaan pasangan seutuhnya"
selamatkan diri anda sendiri sebelum berperang !
setelah mendengar percakapan itu temanku mengatakan, " bukankah kita harus menerima apapun keadaan pasangan kita ya?"
aku tertarik dengan apa yang dikatakannya dan setuju dengan pendapatnya tersebut. namun tidak berakhir disitu saja, sebab penerimaan itu mengandung batas kekuatan seseorang dalam menerima. batasan itu di tentukan banyak hal. aku kemudian mengambil contoh saat temanku itu kesal sekali kepadaku, karena menurutnya aku tidak prihatin sama sekali dengan ayahnya yang saat itu sedang sakit, sebab penyakit yang di derita ayahnya itu sangat ringan menurutku. jika melihat keadaan hidup saya yang sejak kecil sudah hidup terpisah dengan ayah dan ibu. buat aku penderitaan ayahnya hanya seringan kapas.
karena itu aku menjelaskan kapas di tangannya terasa berat, sedangkan buat aku tidak sama sekali. jadi ketika menerima sesuatu keadaan tidak semua manusia bisa disamakan kekuatannya dalam menerima keadaan itu. jadi menerima pasangan itu berbeda dengan menerima diri sendiri.
bagaimanapun dalamnya cinta seseorang kepada orang lain, orang lain itu tetap bukan diri kita. dengan demikian kita bisa menerima suasana hati seperti ayunan karena itu adalah kita dan kita sendiri sudah pasti menerima diri kita sendiri dengan senang hati. namun tidak demikian dengan pasangan kita alias orang lain itu. dia juga bukan diri kita.
jadi buat aku, sungguh egois jika seseorang yang memiliki hubungan mengartikan menerima adalah menerima orang lain tapi memperlakukan mereka seperti diri sendiri. setelah percakapan itu aku yang sebelumnya berencana mandi menjadi tetap berdiam di sofa sambil memikirkan hubungan dia dengan orang lain.
aku pernah berkata pada temanku "mengapa ya, orang mau di cintai saja sulitnya setengah mati, kan hanya ingin dicintai bukan ingin di bunuh, lalu mengapa rumitnya seperti mencari jerami di tumpukan jarum?"
aku merasa ada orang yang hanya untuk di cintai saja sudah terkaget kemudian lari menjauh padahal di awa; perjalanan semuanya lancar dan memberi angin unguk melakukan sebuah perjalanan asmara.
awalnya aku kesal dengan keadaan seperti itu, belum lagi dengan sejuta alasan melarikan diri dan yang paling memuakan sambil berkata "kamu adalah orang yang paling baik yang pernah aku kenal, dan kamu pantas mendapatkan yang lebih baik daripada aku" aku kemudian berpikir, jika aku baik mengapa tidak bisa di terima, mengapa harus meyakinkan aku untuk mencari yang lebih layak menerimaku. yang tidak bisa di terima kalau aku tidak baik, nah ini aku baik kok. temanku bilang begini " itu berarti dia menolak secara halus"
kemudian aku berpikir, jika memang berniat menolak mengapa harus bilang bahwa aku ini baik? mengapa dia menghembuskan angin harapan jika hanya berakhir penolakan? bukankah ada resiku yang harus di pikirkan ketika ada angin yang di hembuskan kehadapan orang lain?
nah saat itulah aku mengerti bahwa persiapan selalu di perlakukan dalam semua keadaan. menerima itu membutuhkan persiapan. maka aku katakan pada temanku bahwa menerima itu penting tapi membuat persiapan sebelum menerima itu jauh lebih penting. persiapan itu adalah assessment terhadap diri sendiri.
jika suasana hati seseorang masih seperti ayunan, jika seseorang masih tak mau di kekang dalam suatu hubungan alians memang nakal dan susah melepaskan kenakalannya, jika secara finansial tidak mencukupi untuk memiliki hubungan, jika biasanya hanya meniupkan harapan tetapi masih takut jika harapan itu benar terjadi, jika ini dan itu, janganlah sekali-kali bermain api.
masalahnya, apabila anda bermain api dan anda sendiri yang terbakar. itu tidak masalah. namun membakar orang lain hanya karena persiapan anda kurang atau sama sekali tidak ada, itu namanya kurang ajar. menerima itu bukan mengorbankan seseorang untuk menderita bersama anda.
memiliki hubungan apapun bentuknya bukan jalan pintas untuk membuang sampah di sebuah lokasi baru karena lokasi lama sudah penuh. menerima itu tidak sama dengan menjadikan seseorang sebagai sukarelawan balai keselamatan untuk hidup anda.
saat pasangan kita merasa tidak senang diperlakukan seperti tong sampah atau sebagai tenaga sukarela, jangan dengan mudahnya mulut kita berbicara begini, "kan seharusnya dia bisa menerima keadaan pasangan seutuhnya"
selamatkan diri anda sendiri sebelum berperang !
Spoiler for sumur:
selaput otak ane, isinya ga ada
0
388
Kutip
1
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33KThread•54.9KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya