Kaskus

Entertainment

dewaagniAvatar border
TS
dewaagni
Perlawanan Kultural Sunda Wiwitan
Perlawanan Kultural Sunda Wiwitan
Perlawanan Kultural Sunda Wiwitan admin [email=klisin@yahoo.co.id] [/email] 03/19/2012
 1 39  1 minute read

“Kami dilahirkan sebagai orang Sunda bukan atas pilihan dan kehendak kami, ditakdirkan sebagai masyrakat Nusantara juga bukan pilihan kami, tetapi kehendak Sang Hyang Maha Kersa, maka izinkan kami hingga akhir kami menutup mata kembali padaNya dalam “keutuhan” menjaga tradisi leluhur kami, sembari mengejar “kebutuhan” administrasi negara.” Demikian ungkap penganut agama Sunda Wiwitan, Dewi Kanti, dalam Workshop Media Monitoring and Religious Intolerance yang diselenggarakan Freedom House di Jakarta, Minggu (18/03/2012) kemarin.

Sunda Wiwitan merupakan salah satu kepercayaan spiritual asli nusantara yang sudah lama berada di tanah air. Bahkan sebelum agama-agama “impor” datang, Sunda Wiwitan telah ada dan secara turun temurun dituturkan dan dilestarikan dari generasi ke generasi hingga kini.

Seiring berjalannya waktu, budaya spiritual dari luar mulai masuk, mendominasi, dan mengikis tradisi-tradisi asli nusantra layaknya Sunda Wiwitan. “Hal itu disebabkan karena pada metode penyampaian ajaran, budaya spiritual nusantara tidak menggunakan cara seperti misionaris dari luar nusantara” tegas Dewi Kanti.

Imbas dari dominasi tersebut adalah diskriminasi terhadap agama-agama lokal seperti Sunda Wiwitan, Jawa Kawitan, Bissu, Marappu, Tolotang, dll. Menurut Dewi Kanti, meskipun konstitusi melalui UUD 1945  melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah indonesia, tetapi pada kenyataanya konstitusi itu diingkari.

Salah satu pendiskriminasian yang dirasakan Dewi Kanti adalah implementasi dari Undang-Undang Nomer 23 tahun 2006 pasal 61 tentang Administrasi Kependudukan. Salah satu pengalaman Dewi Kanti adalah disaat membuat Kartu Tanda Penduduk (KTP). ”Pengalaman saya, harus berkalki-kali mengajukan koreksi kepada instansi terkait. Hingga diterbitkan 3 kali cetakan KTP. KTP pertama ditulis Islam, KTP kedua ditulis Aliran, KTP ketiga ditulis (-)” Pungkasnya.

“Meskipun begitu kami tetap cinta Indonesi. Sampai menutup mata tetap Bhineka Tunggal Ika” Simpulnya. [Mukhlisin]



https://icrp-online.com/perlawanan-k...unda-wiwitan/
0
227
0
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
The Lounge
KASKUS Official
1.3MThread108.7KAnggota
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.