- Beranda
- Berita dan Politik
Beda Tapi Rukun Dilestarikan, Bijak Bermedia Sosial Dimaksimalkan
...
TS
lostcg
Beda Tapi Rukun Dilestarikan, Bijak Bermedia Sosial Dimaksimalkan
Beda Tapi Rukun Dilestarikan, Bijak Bermedia Sosial Dimaksimalkan
Pelajaran Toleransi dari Desa Lima Kepercayaan, Banjarpanepen, Banyumas
Wed, 30 Oct 2019 - 10:12 WIB
472

BIJAK BERMEDSOS: Remaja peserta Sekolah Minggon Keragaman Forsa Banyumas mendapatkan materi bijak bermedia sosial saat kegiatan di Vihara Ratna Vidya Loka, Banjarpanepen, Sumpiuh, Minggu (21/7). (suaramerdeka.com / Susanto)
MINGGU (21/7) lalu, 13 anak dan remaja berbeda agama itu berada di ruangan Vihara Ratna Vidya Loka, Dusun Panuan, Desa Banjarpanepen, Kecamatan Sumpiuh, Banyumas. Pagi itu, mereka bukan sedang beribadah, melainkan mengikuti Sekolah Minggon Keragaman yang diselenggarakan Forum Persaudaraan Lintas Iman (Forsa) Banyumas.
Dalam sekolah komunitas itu pelajaran dan praktik kerukunan lima agama dan kepercayaan yang sudah ada di desa ini semakin dikuatkan. Belasan remaja milenial lintas iman ini dari sejumlah desa ini juga diberikan pelajaran bijak bermedia sosial. Pasalnya meski di wilayah terpencil dan tertinggi di wilayah Kecamatan Sumpiuh, Banyumas ini juga tak bisa terhindar dari pengaruh dunia digital.
"Saya senang, karena selain mendapat teman baru, ada juga materi kerukunan, bijak bermedia sosial, permainan, tanam pohon hingga makan bersama. Dari sini kita semakin sadar, meski berbeda kita bisa melakukan berbagai hal untuk kerukunan dan kelestarian lingkungan," ujar Reffy Friztadianti (14), remaja penganut Hindu yang menjadi peserta Sekolah Minggon Keragaman.
Pemateri yang datang itu berasal dari Generasi Muda Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Banyumas, tokoh agama setempat dan luar desa, komunitas GusDurian, jurnalis hingga peneliti. Dari materi bijak bermedia sosial, generasi milenial ini mendapatkan pelajaran pentingnya menyaring informasi dari media sosial sebelum menyebarkan.
Hal ini penting karena di era disrupsi informasi, informasi sudah layaknya seperti tsunami. Berbagai hoaks atau berita palsu, provokasi Suku Agama Ras Antargolongan (SARA), intoleransi, radikalisme dan terorisme dengan mudah tersebar, marak, masif dan sistematis melalui media sosial.
"Internet dengan segala isinya sudah bisa masuk dan diakses warga khususnya remaja milenial di wilayah desa ini. Untuk itulah, kita memberi pengertian kepada mereka soal pentingya menyaring isi sebelum 'sharing'(menyebarkan, red) ke orang lain," kata Budi Rohadi yang juga aktif di Komunitas GusDurian Purwokerto.
Meski masih usia SD dan SMA ternyata 13 anak peserta sekolah minggon itu telah mengenal media sosial. Ke depan, 13 peserta yang berasal dari berbagai desa ini akan menjadi pelopor penyebar bijak bermedia sosial untuk kawan-kawan di lingkungannya. Mereka diharapkan menjadi agen promosi bijak bermedia sosial, pembuat konten pesan toleransi, kerukunan, perdamaian hingga promosi potensi ekonomi desa masing-masing.
"Kita bekali mereka bagaimana mengidentifikasi berita hoaks atau informasi yang bisa mengajak pada intoleransi hingga provokasi Suku Agama Ras dan Antargolongan (SARA). Kami berharap Banjarpanepen bisa menjadi mercusuar pesan perdamaian," jelas Budi Rohadi.
Dipilihnya Desa Banjarpanepen sebagai tempat Sekolah Minggon Keragama ini tak lepas dari aspirasi sejumlah tokoh agama di desa tersebut. Dari kegiatan inilah, Forsa juga menggandeng berbagai pihak yang sevisi untuk turut serta menebar nilai perdamaian. Diharapkan sekolah komunitas ini bisa menjadi formula preventif atau penangkal isu, paham dan gerakan radikalisme, intoleransi yang saat ini menyasar generasi muda.
"Tujuan dari 'sekolah' ini sebagai bagian urun generasi muda lintas iman untuk meneguhkan kebhinekaan, menjaga NKRI. Melalui sekolah ini pula, diharapkan pengetahuan, pengalaman kerukunan, toleransi terhadap perbedaan semakin dijaga, dipupuk dan disebarkan kepada generasi muda calon penerus bangsa. Sebelumnya angkatan pertama sekolah ini dilaksanakan di kompleks Pedaleman Giri Kendheng di Dusun Wanasara, Desa Klinting, Kecamatan Somagede," jelas Musmuallim, Ketua Forsa Banyumas sekaligus pengajar Pendidikan Agama Islam di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto itu.
Desa Sadar Kerukunan
Banjarpanepen, desa yang berjarak 50 meter arah tenggara Kota PUrwokerto ini, 2 September 2019 lalu ditetapkan sebagai Desa Sadar Kerukunan oleh Kementerian Agama bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Pemkab Banyumas. Dari data Kantor Kementerian Agama Banyumas, di desa berpenduduk 6350 jiwa ini, terdapat sekitar 530 pemeluk Hindu, 470 pemeluk Budha, 380 orang Kristiani, 350 orang penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Selebihnya mayoritas penduduk adalah muslim.
"Desa Sadar Kerukunan merupakan salah satu program unggulan Kemenag. Program ini bertujuan untuk melestarikan pengembangan kerukunan umat beragama sampai di tingkat desa atau kelurahan agar kerukunan terjaga dengan baik," jelas Pelaksana harian Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas, Ibnu Asaddudin di sela kegiatan Grebeg Suran sekaligus Peresmian Desa Sadar Kerukunan, di lokasi wisata religi Watu Jonggol, Banjarpanepen, Senin (2/9) lalu.
Di desa yang mayoritas penduduknya berpencaharin penderes gula kelapa dan petani ini, kegiatan agama dan tradisi berjalan beriringan. Umat berbeda agama dan kepercayaan saling bahu membahu, membantu dan menghormati ketika ada pearayaan agama serta tradisi Jawa.
"Jadi hari besar keagamaan baik itu Lebaran, Natal, Waisak semua saling merayakan dan menghormati. Saling bergantian mengucapkan selamat bahkan saling membantu proses tersebut," ujar Wasimin, Perangkat Desa Banjarpanepen, Kecamatan Sumpiuh.
Selain kehidupan agama, warga juga terus memelihara gotong royong dan tradisi dan adat istiadat Jawa. Ketika ada tradisi Sadran, Sedekah Bumi, Suran atau peringatan tahun baru Jawa, warga juga turun bersama. Watu Jonggol yang menjadi pusat kegiatan Grebeg Suran juga dipercaya sebagai petilasan Patih Gajah Mada di Banyumas.
"Sebagaimana kegiatan Suran ini, di kegiatan adat lainnya warga akan turun bersama. Kita lokasi, membawa makanan, doa bersama dan makan bersama. Semua berbahagia, melebur jadi satu tanpa melihat perbedaan latar belakang ekonomi, sosial budaya, agama. Semua tujuannya sama untuk kerukunan dan keselamatan bersama sebagaimana diajarkan para leluhur," kata Kepala Desa Banjarpanepen, Mujiono.
Warga Banjarpanepen juga terbuka menerima kegiatan dari pihak luar untuk kemajuan, kerukunan dan kesejahteraan warga. Tak heran jika bakti sosial mahasiswa, kunjungan wisata, Sekolah Minggon Keragaman hingga penetapan Desa Sadar Kerukunan ini bisa masuk ke desa ini.
Warga berharap kerukunan akan semakin tumbuh dan berkembang di desa ini. Warga berharap frekuensi kegiatan yang memupuk kerukunan dan penambahan pengetahun khususnya warga milenial dari pihak luar desa bisa ditingkatkan.
"Kami selalu mendorong berbagai aktivitas yang mendorong kerukunan antar warga. Ini penting agar warga di sini juga semakin memahami betapa kerukunan yang mereka jaga selama ini sangat berharga dan telah menjadi perhatian dan contoh bersama," kata Maryono, tokoh Budha desa setempat yang mendampingi Sekolah Minggon Keragaman.
Di Desa Banjarpanepen, menjadi desa tempat umat Budha mayoritas di Kabupaten Banyumas. Di desa ini lima vihara telah didirikan berdampingan dengan masjid, musala, gereja, hingga sanggar tempat ibadah penghayat kepercayaan. "Sejak kecil kami telah hidup bersama dengan perbedaan. Kakak saya ada yang muslim dan penghayat. Namun semua rukun dan nyaman menjalankan agama beserta ibadah masing-masing," kata Wagiman, Ketua Gereja Kerasulan Baru, Banjarpanepen.
Banjarpanepen memang sulit dicari padannya dengan tempat lain. Tak heran jika desa ini kerap menjadi tujuan para peneliti, jurnalis, akademisi dan berbagai pihak terkait soal rujukan hingga tempat studi banding, penelitian soal sosial agama, budaya dan kerukunan beragama. Di sinilah potret desa yang asri, rukun, bahagia sejahtera terlihat jelas.
"Di sini 'sunnatullah' kebhinekaan menjadi rahmat berkah perdamaian dan keselamatan kehidupan warganya. Dinamika kehidupan desa ini mencerminkan kerukunan, kekompakan,kemandirian serta kerjasama yang baik antar seluruh unsur dalam bingkai spiritual dan kearifan lokal," kata Ketua FKUB Banyumas, KH Mohammad Roqieb yang juga Rektor IAIN Purwokerto ini.
Banjarpanepen telah membuktikan betapa nilai universal perdamaian agama dan kearifan lokal bisa menjadi benteng pemersatu keragaman. Pemerintah kabupaten mendorong warga desa lain berkaca dan mencontoh pada Banjarpanepen. Apalagi di tengah situasi bangsa dan negara yang saat ini rawan ancaman radikalisme berbungkus SARA.
"Meski kita telah punya Banjarpanepen yang menjadi ikon Desa Sadar Kerukunan, namun kita harus memperhatikan dan memetakan wilayah yang masih rawan potensi konflik antara agama, etnik maupun budaya," tegas Bupati Banyumas, Achmad Husein.
(Susanto/CN26/SM Network)
https://www.suaramerdeka.com/news/ba...-dimaksimalkan
Semoga aja bisa ditiru daerah lainnya
Pelajaran Toleransi dari Desa Lima Kepercayaan, Banjarpanepen, Banyumas
Wed, 30 Oct 2019 - 10:12 WIB
472

BIJAK BERMEDSOS: Remaja peserta Sekolah Minggon Keragaman Forsa Banyumas mendapatkan materi bijak bermedia sosial saat kegiatan di Vihara Ratna Vidya Loka, Banjarpanepen, Sumpiuh, Minggu (21/7). (suaramerdeka.com / Susanto)
MINGGU (21/7) lalu, 13 anak dan remaja berbeda agama itu berada di ruangan Vihara Ratna Vidya Loka, Dusun Panuan, Desa Banjarpanepen, Kecamatan Sumpiuh, Banyumas. Pagi itu, mereka bukan sedang beribadah, melainkan mengikuti Sekolah Minggon Keragaman yang diselenggarakan Forum Persaudaraan Lintas Iman (Forsa) Banyumas.
Dalam sekolah komunitas itu pelajaran dan praktik kerukunan lima agama dan kepercayaan yang sudah ada di desa ini semakin dikuatkan. Belasan remaja milenial lintas iman ini dari sejumlah desa ini juga diberikan pelajaran bijak bermedia sosial. Pasalnya meski di wilayah terpencil dan tertinggi di wilayah Kecamatan Sumpiuh, Banyumas ini juga tak bisa terhindar dari pengaruh dunia digital.
"Saya senang, karena selain mendapat teman baru, ada juga materi kerukunan, bijak bermedia sosial, permainan, tanam pohon hingga makan bersama. Dari sini kita semakin sadar, meski berbeda kita bisa melakukan berbagai hal untuk kerukunan dan kelestarian lingkungan," ujar Reffy Friztadianti (14), remaja penganut Hindu yang menjadi peserta Sekolah Minggon Keragaman.
Pemateri yang datang itu berasal dari Generasi Muda Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Banyumas, tokoh agama setempat dan luar desa, komunitas GusDurian, jurnalis hingga peneliti. Dari materi bijak bermedia sosial, generasi milenial ini mendapatkan pelajaran pentingnya menyaring informasi dari media sosial sebelum menyebarkan.
Hal ini penting karena di era disrupsi informasi, informasi sudah layaknya seperti tsunami. Berbagai hoaks atau berita palsu, provokasi Suku Agama Ras Antargolongan (SARA), intoleransi, radikalisme dan terorisme dengan mudah tersebar, marak, masif dan sistematis melalui media sosial.
"Internet dengan segala isinya sudah bisa masuk dan diakses warga khususnya remaja milenial di wilayah desa ini. Untuk itulah, kita memberi pengertian kepada mereka soal pentingya menyaring isi sebelum 'sharing'(menyebarkan, red) ke orang lain," kata Budi Rohadi yang juga aktif di Komunitas GusDurian Purwokerto.
Meski masih usia SD dan SMA ternyata 13 anak peserta sekolah minggon itu telah mengenal media sosial. Ke depan, 13 peserta yang berasal dari berbagai desa ini akan menjadi pelopor penyebar bijak bermedia sosial untuk kawan-kawan di lingkungannya. Mereka diharapkan menjadi agen promosi bijak bermedia sosial, pembuat konten pesan toleransi, kerukunan, perdamaian hingga promosi potensi ekonomi desa masing-masing.
"Kita bekali mereka bagaimana mengidentifikasi berita hoaks atau informasi yang bisa mengajak pada intoleransi hingga provokasi Suku Agama Ras dan Antargolongan (SARA). Kami berharap Banjarpanepen bisa menjadi mercusuar pesan perdamaian," jelas Budi Rohadi.
Dipilihnya Desa Banjarpanepen sebagai tempat Sekolah Minggon Keragama ini tak lepas dari aspirasi sejumlah tokoh agama di desa tersebut. Dari kegiatan inilah, Forsa juga menggandeng berbagai pihak yang sevisi untuk turut serta menebar nilai perdamaian. Diharapkan sekolah komunitas ini bisa menjadi formula preventif atau penangkal isu, paham dan gerakan radikalisme, intoleransi yang saat ini menyasar generasi muda.
"Tujuan dari 'sekolah' ini sebagai bagian urun generasi muda lintas iman untuk meneguhkan kebhinekaan, menjaga NKRI. Melalui sekolah ini pula, diharapkan pengetahuan, pengalaman kerukunan, toleransi terhadap perbedaan semakin dijaga, dipupuk dan disebarkan kepada generasi muda calon penerus bangsa. Sebelumnya angkatan pertama sekolah ini dilaksanakan di kompleks Pedaleman Giri Kendheng di Dusun Wanasara, Desa Klinting, Kecamatan Somagede," jelas Musmuallim, Ketua Forsa Banyumas sekaligus pengajar Pendidikan Agama Islam di Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto itu.
Desa Sadar Kerukunan
Banjarpanepen, desa yang berjarak 50 meter arah tenggara Kota PUrwokerto ini, 2 September 2019 lalu ditetapkan sebagai Desa Sadar Kerukunan oleh Kementerian Agama bersama Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Pemkab Banyumas. Dari data Kantor Kementerian Agama Banyumas, di desa berpenduduk 6350 jiwa ini, terdapat sekitar 530 pemeluk Hindu, 470 pemeluk Budha, 380 orang Kristiani, 350 orang penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Selebihnya mayoritas penduduk adalah muslim.
"Desa Sadar Kerukunan merupakan salah satu program unggulan Kemenag. Program ini bertujuan untuk melestarikan pengembangan kerukunan umat beragama sampai di tingkat desa atau kelurahan agar kerukunan terjaga dengan baik," jelas Pelaksana harian Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas, Ibnu Asaddudin di sela kegiatan Grebeg Suran sekaligus Peresmian Desa Sadar Kerukunan, di lokasi wisata religi Watu Jonggol, Banjarpanepen, Senin (2/9) lalu.
Di desa yang mayoritas penduduknya berpencaharin penderes gula kelapa dan petani ini, kegiatan agama dan tradisi berjalan beriringan. Umat berbeda agama dan kepercayaan saling bahu membahu, membantu dan menghormati ketika ada pearayaan agama serta tradisi Jawa.
"Jadi hari besar keagamaan baik itu Lebaran, Natal, Waisak semua saling merayakan dan menghormati. Saling bergantian mengucapkan selamat bahkan saling membantu proses tersebut," ujar Wasimin, Perangkat Desa Banjarpanepen, Kecamatan Sumpiuh.
Selain kehidupan agama, warga juga terus memelihara gotong royong dan tradisi dan adat istiadat Jawa. Ketika ada tradisi Sadran, Sedekah Bumi, Suran atau peringatan tahun baru Jawa, warga juga turun bersama. Watu Jonggol yang menjadi pusat kegiatan Grebeg Suran juga dipercaya sebagai petilasan Patih Gajah Mada di Banyumas.
"Sebagaimana kegiatan Suran ini, di kegiatan adat lainnya warga akan turun bersama. Kita lokasi, membawa makanan, doa bersama dan makan bersama. Semua berbahagia, melebur jadi satu tanpa melihat perbedaan latar belakang ekonomi, sosial budaya, agama. Semua tujuannya sama untuk kerukunan dan keselamatan bersama sebagaimana diajarkan para leluhur," kata Kepala Desa Banjarpanepen, Mujiono.
Warga Banjarpanepen juga terbuka menerima kegiatan dari pihak luar untuk kemajuan, kerukunan dan kesejahteraan warga. Tak heran jika bakti sosial mahasiswa, kunjungan wisata, Sekolah Minggon Keragaman hingga penetapan Desa Sadar Kerukunan ini bisa masuk ke desa ini.
Warga berharap kerukunan akan semakin tumbuh dan berkembang di desa ini. Warga berharap frekuensi kegiatan yang memupuk kerukunan dan penambahan pengetahun khususnya warga milenial dari pihak luar desa bisa ditingkatkan.
"Kami selalu mendorong berbagai aktivitas yang mendorong kerukunan antar warga. Ini penting agar warga di sini juga semakin memahami betapa kerukunan yang mereka jaga selama ini sangat berharga dan telah menjadi perhatian dan contoh bersama," kata Maryono, tokoh Budha desa setempat yang mendampingi Sekolah Minggon Keragaman.
Di Desa Banjarpanepen, menjadi desa tempat umat Budha mayoritas di Kabupaten Banyumas. Di desa ini lima vihara telah didirikan berdampingan dengan masjid, musala, gereja, hingga sanggar tempat ibadah penghayat kepercayaan. "Sejak kecil kami telah hidup bersama dengan perbedaan. Kakak saya ada yang muslim dan penghayat. Namun semua rukun dan nyaman menjalankan agama beserta ibadah masing-masing," kata Wagiman, Ketua Gereja Kerasulan Baru, Banjarpanepen.
Banjarpanepen memang sulit dicari padannya dengan tempat lain. Tak heran jika desa ini kerap menjadi tujuan para peneliti, jurnalis, akademisi dan berbagai pihak terkait soal rujukan hingga tempat studi banding, penelitian soal sosial agama, budaya dan kerukunan beragama. Di sinilah potret desa yang asri, rukun, bahagia sejahtera terlihat jelas.
"Di sini 'sunnatullah' kebhinekaan menjadi rahmat berkah perdamaian dan keselamatan kehidupan warganya. Dinamika kehidupan desa ini mencerminkan kerukunan, kekompakan,kemandirian serta kerjasama yang baik antar seluruh unsur dalam bingkai spiritual dan kearifan lokal," kata Ketua FKUB Banyumas, KH Mohammad Roqieb yang juga Rektor IAIN Purwokerto ini.
Banjarpanepen telah membuktikan betapa nilai universal perdamaian agama dan kearifan lokal bisa menjadi benteng pemersatu keragaman. Pemerintah kabupaten mendorong warga desa lain berkaca dan mencontoh pada Banjarpanepen. Apalagi di tengah situasi bangsa dan negara yang saat ini rawan ancaman radikalisme berbungkus SARA.
"Meski kita telah punya Banjarpanepen yang menjadi ikon Desa Sadar Kerukunan, namun kita harus memperhatikan dan memetakan wilayah yang masih rawan potensi konflik antara agama, etnik maupun budaya," tegas Bupati Banyumas, Achmad Husein.
(Susanto/CN26/SM Network)
https://www.suaramerdeka.com/news/ba...-dimaksimalkan
Semoga aja bisa ditiru daerah lainnya
4iinch dan sebelahblog memberi reputasi
2
1.1K
4
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
695.6KThread•59.2KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya