babygani86Avatar border
TS
babygani86
Kekerasan Anak Dipicu oleh Kemudahan Interaksi Media sosial
Penganiayaan seorang siswi di Pontianak menambah panjang catatan kekerasan di kalangan anak dan remaja. Tren ini dipicu, antara lain, oleh kemudahan berinteraksi sekaligus membikin kelompok lewat media sosial. Polisi perlu memproses hukum kasus itu dengan tetap melindungi masa depan korban dan pelaku. ABZ dianiaya pada akhir Maret lalu, tapi keluarganya baru melapor sepekan kemudian.

Kasus penganiayaan ini ramai di media sosial setelah muncul tanda pagar alias tagar keprihatinan atas nama korban di Twitter, Facebook, dan Instagram. Ada juga petisi yang menyerukan agar para pelaku penganiayaan segera dihukum. Ada tiga orang yang disebut di media sosial sebagai pelaku utama. Sembilan pelajar teman pelaku hanya menonton tanpa menolong korban. Penganiayaan diduga dipicu oleh persoalan asmara antara salah seorang pelaku dan kerabat korban serta saling ejek komentar di media sosial.



Awalnya informasi di media sosial menyebutkan korban dirisak oleh sebelas siswi SMA hingga kemaluannya bengkak. Setelah memvisum korban, Rumah Sakit Bhayangkara Kalimantan Barat Sucipto tidak menemukan tanda kekerasan di area tersebut, tidak seperti yang disebutkan media sosial.

Keluarga korban memang baru melaporkan kasus pengeroyokan ini kepada polisi sepekan setelah peristiwa itu terjadi. Liliek Meiliani, ibu korban, baru mengetahui anaknya menjadi korban penganiayaan setelah mendapati ABZ kerap terbangun dari tidur sembari berteriak. Setelah ditanya, dia baru mengaku menjadi korban penganiayaan teman kakak sepupunya.

Rabu sore, penyidik Kepolisian Resor Kota Pontianak baru memeriksa ibu korban dan empat siswi SMA yang mengetahui pengeroyokan tersebut. Pemeriksaan para remaja yang mengeroyok korban ini sempat ramai diperbincangkan di media sosial karena mereka merekam aktivitas sebelum pemeriksaan di kantor polisi sembari bersenda gurau di akun Instagram masing masing.



Kepada polisi, orang tua korban melaporkan tiga nama sebagai terduga pelaku. Sampai Rabu siang, polisi belum menetapkan tersangka kasus itu. Tapi kasusnya sudah naik ke penyidikan, sore harinya, Presiden Joko Widodo memberikan pernyataan atas kasus tersebut. Jokowi meminta Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian menangani kasus pengeroyokan ini secara tegas.

Tak sampai tiga jam, Kepala Polres Kota Pontianak Komisaris Besar Anwar Nasir mengumumkan penetapan tiga tersangka kasus tersebut, yakni FZ alias LL, 17 tahun; TR alias AR (17); dan NB alias EC (17). Anwar mengatakan penetapan tersangka dilakukan setelah penyidik memeriksa sejumlah saksi dan menerima hasil rekam medis dari Rumah Sakit ProMedika, Pontianak. Mereka juga mengakui perbuatannya menganiaya korban.

Karena tersangka masih anak-anak, polisi menjerat ketiganya dengan Pasal 76C juncto Pasal 80 ayat 1 Undang-Undang Perlindungan Anak tentang kekerasan terhadap anak dengan ancaman tiga tahun enam bulan penjara. Sesuai dengan undang-undang ini, penyelesaian di luar pengadilan atau diversi dimungkinkan asalkan sesuai dengan ketentuan dan disepakati kedua belah pihak. Permintaan maaf para pelaku bisa menjadi modal untuk penyelesaian secara damai. Hanya pelaku dengan ancaman hukuman di bawah tujuh tahun penjara yang bisa menempuh penyelesaian di luar pengadilan.

Akibat kekerasan itu, ABZ harus dirawat di rumah sakit. Hasil pemeriksaan polisi menunjukkan punggung korban ditendang dan wajahnya dipukul berkali-kali. Kepala korban pun memar. Kejadian yang viral di media sosial itu mengundang keprihatinan publik. Polisi mesti serius menangani kasus itu demi menegakkan keadilan sekaligus memberikan pendidikan bagi kalangan remaja. Jika para pelaku masih berusia di bawah 18 tahun, mereka bisa memprosesnya lewat Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak.



Kekerasan mirip kasus ABZ pernah terjadi. Pada Januari lalu, dua siswi SMP di Amurang, Minahasa Selatan, Sulawesi Utara, mengeroyok seorang remaja perempuan dan videonya tersebar di media sosial. Komisi Perlindungan Anak Indonesia pun mencatat kasus anak dan remaja sebagai pelaku kekerasan fisik cenderung meningkat. Angka kekerasan anak berupa penganiayaan, pengeroyokan, dan perkelahian melonjak dari 46 kasus pada 2011 menjadi 112 pada 2017.

Peningkatan itu boleh jadi dipicu oleh kemudahan anak-anak dan kaum remaja zaman sekarang berinteraksi lewat media sosial. Media sosial menjadi kendaraan bagi anak muda dalam melakukan tindak kekerasan terhadap teman sebaya, seperti perundungan, pelecehan, kejahatan, dan kekerasan dalam berpacaran.



Proses hukum secara cepat dan adil merupakan salah satu cara untuk meredam meluasnya kekerasan di kalangan remaja. Hanya, orang tua dan kalangan pendidik juga perlu peduli terhadap perkembangan media sosial yang telah mengubah masyarakat, termasuk cara bergaul para remaja. Tak sedikit penganiayaan dan perkelahian remaja dipicu oleh saling ejek di media sosial. Geng-geng remaja pun mudah tumbuh lewat grup media sosial.

Efek interaksi di media sosial pula yang mungkin menyebabkan perilaku kurang wajar para pelaku penganiaya ABZ. Sebelum meminta maaf, para pelaku mengunggah foto-foto mereka saat diperiksa polisi ke media sosial seolah-olah tak menyesali perbuatannya.


Spoiler for Referensi:



edsixteenAvatar border
edsixteen memberi reputasi
1
573
6
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Kalimantan Barat
Kalimantan BaratKASKUS Official
1.6KThread1KAnggota
Terlama
Thread Digembok
Ikuti KASKUS di
© 2023 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.