Kaskus

News

faranidaindriAvatar border
TS
faranidaindri
Pekatnya ‘Aroma’ KADIN di Kementerian BUMN


Pekatnya ‘Aroma’ KADIN di Kementerian BUMN

KORPORAT.COM, JAKARTA – “Kita masih ada pekerjaan rumah untuk diselesaikan dari Pak Presiden, yaitu holding. Karena sektornya BUMN ini sangat besar. Targetnya, per sektor ada holding company, kemudian jadi super holding seperti Temasek”.


Salah satu pesan Rini Soemarno, mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kepada penerus jabatannya, Erick Thohir. Hal itu disampaikan Rini dengan nada rendah dan dibaluti rasa sedih di hadapan awak media, pegawai Kementerian dan para pucuk pimpinan BUMN dalam momentum simbolis serah terima jabatan (sertijab) di Sinergi Lounge Gedung Kantor Kementerian BUMN, pada 23 Oktober kemarin.


Momen tersebut bisa dibilang hari terakhir Rini berkantor di Kementerian BUMN yang telah dinahkodainya sejak 2014 lalu. Sejak awal, Rini memang langsung ngebut mencanangkan pembentukan holdingisasi perusahaan-perusahaan plat merah. Hingga hari ini, setidaknya sudah ada enam holding terbentuk, yakni holding Kehutanan, holding Semen, holding Perkebunan, holding Pupuk, holding Migas, dan holding Pertambangan.


Holding Migas dan holding Pertambangan merupakan dua holding yang disukseskan pada era kepemimpinan Rini Soemarno. Kata ‘terjal’ mungkin padanan yang tepat ketika Rini membentuk dua holding tersebut. Sebab, kebijakan itu menuai kontroversi dari berbagai kalangan. Tidak banyak yang mendukung, tidak sedikit pula yang menolak.


Kini komando tertinggi BUMN berada di tangan Erick Tohir. Masih ada beberapa holding yang perlu direalisasikan seperti Farmasi, Asuransi, Perbankan, Konstruksi dan lainnya, hingga pada akhirnya menyulap Kementerian BUMN Superholding sebagaimana Temasek yang dimiliki Singapura dan Khazanah milik Malaysia.


Mampukah Erick Tohir merealisasikan mimpi Presiden Joko Widodo tersebut? Menarik untuk kita tunggu langkah apa yang akan ditempuhnya.

Boyong Rosan Roslani dan Anindya Bakrie

Pesan Rini perihal holding hanyalah satu dari beberapa hal menarik dalam momen sertijab kemarin. Hal menarik lainnya yakni kehadiran konco dari Menteri BUMN yang baru, yakni Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Rosan P Roeslani, Wakil ketua Kadin Bidang Hubungan Internasional Shinta Widjaja Kamdani, dan Putra Aburizal Bakrie sekaligus Presiden Direktur PT Bakrie Brothers Tbk (BNBR), Anindya Novyan Bakrie.

Kehadiran mereka seolah ingin menegaskan eksistensinya kepada para pejabat Kementerian BUMN dan para bos BUMN. Wajar saja, sederet nama konglomerat seperti Alim Markus, Sofjan Wanandi, Arifin Panigoro, Haryadi Soekamdani, Rosan Roeslani, serta keluarga Thohir dan keluarga Bakrie merupakan segelintir konglomerat yang mendukung Jokowi-Maruf pada Pilpres lalu. Dukungan mereka tentu saja tidak mungkin tanpa timbal balik. Sebab, di kalangan pengusaha dikenal istilah, “there’s no such thing as a free lunch.”
Kembali ke kehadiran Rosan pada sertijab, spontan, mengingatkan kita dengan perseteruan Rosan Roeslani dengan Rini Soemarno pada Oktober 2017 silam. Kala itu Rosan mempermasalahkan perihal BUMN yang dinilainya memonopoli proyek-proyek Pemerintah.


“Di banyak kesempatan Pak Presiden, saya sampaikan, berikan kesempatan pertama pada pengusaha nasional, kalau enggak mampu baru BUMN. Mohon maaf, BUMN ambil banyak porsi swasta dan UMKM. Karena kita tahu, BUMN itu katering sama pakaiannya saja dibikin sama cicit (perusahaan) mereka. Ini kan jatah UMKM,” kata Rosan di hadapan Presiden dalam acara penutupan Rakornas Kadin 2017, di Jakarta, 3 Oktober 2017.


Rini yang tersinggung dengan pernyataan tersebut pun langsung merespon dua hari kemudian. Di fasilitasi PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Rini bersama Sekretaris Kementerian BUMN, Imam Apriyanto menggelar jumpa pers di Plaza mandiri Jakarta.


Menurut Rini, yang membuat dirinya tersinggung yakni poin mengenai jatah UMKM. Pasalnya, BUMN justru terus berupaya mendorong pengembangan usaha UMKM melalui beragam program pembinaan, pendampingan hingga pendanaan. “Saya sangat tersinggung mengenai UMKM itu. Yang mana UMKM-nya? Tanya ketua Kadin, UMKM yang mana? Kalau BUMN pasti milik negara, milik rakyat, kok dipersoalkan. Kalau swasta dimiliki beberapa orang tidak dipersoalkan.”


“Saya selama tiga tahun ini mengajak dirut-dirut untuk keliling. Ingin menekankan kita punya fungsi sebagai agen pembangunan,” ungkap Rini dengan nada sedikit geram.


Tak hanya itu, kepada Presiden Rosan pun mengkritisi konsep Sinergi BUMN yang kerap digaungkan Rini Soemarno. Menurut Rosan, seharusnya sinergi yang didorong adalah sinergi antara BUMN dengan Swasta. “Bukan sinergi BUMN dengan BUMN, tapi BUMN dan swasta.”

‘Titipan’ Swasta Untuk Menteri Baru

Pada kesempatan Sertijab Rini dan Erick kemarin, Rosan kembali menyinggung perihal ‘bagi-bagi jatah’ proyek antara swasta dan BUMN kepada awak media. Ia berharap sahabatnya tersebut bisa mendongkrak sinergi antara swasta dan BUMN.


“Kami berjuang bareng, dan sangat mengerti untuk mengembangkan perekonomian di negara kita ini, harus dilakukan bersama-sama. Kerja sama BUMN dengan swasta itu adalah mutlak harus dilakukan,” kata Rosan.


Duduknya Erick di kursi Menteri BUMN, nampaknya akan menjadi angin segar bagi para pengusaha swasta. Sejatinya, kolaborasi BUMN dan Swasta dalam pembangunan nasional bukanlah hal negatif. Asalkan pelaksanaannya dilakukan sesuai dengan prinsip Good Corporate Governance (GCG), saling menguntungkan, dan manfaatnya berdampak langsung kepada masyarakat.
Jangan lupa pula dengan poin pertama dari tujuh pesan Presiden Jokowi kepada jajaran kabinet: “Jangan Korupsi. Ciptakan system yang menutup celah terjadinya korupsi.”


SUMBER >>> korporat
saya.kiraAvatar border
saya.kira memberi reputasi
1
1.3K
3
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
Berita dan Politik
KASKUS Official
695.6KThread59.2KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.