- Beranda
- Beritagar.id
Jokowi tutup periode pertama dengan defisit neraca perdagangan
...
TS
BeritagarID
Jokowi tutup periode pertama dengan defisit neraca perdagangan

Calon Presiden nomor urut 01 Joko Widodo berpidato saat kampanye di GOR Dispora Sumut, Deli Serdang, Sumatera Utara, Jumat (5/4/2019).
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indonesia kembali mencatat neraca perdagangan defisit pada September lalu sebesar AS$160 juta (Rp2,26 triliun). Posisi ini berbanding terbalik dari kondisi Agustus 2019 yang surplus AS$80 juta.
Laporan neraca dagang dari BPS ini menjadi yang terakhir di periode I Joko "Jokowi" Widodo sebagai Presiden. Jokowi akan dilantik kembali menjadi presiden untuk kedua kalinya pada Minggu, 20 Oktober 2019.
Jika diakumulasi, defisit neraca perdagangan Januari-September 2019 mencapai AS$1,95 miliar. Realisasi defisit ini lebih rendah ketimbang periode Januari-September 2019 yang masih mencapai AS$3,78 miliar.
Kepala BPS, Suhariyanto, mengatakan defisit perdagangan terjadi karena nilai ekspor yang lebih rendah jika dibandingkan dengan impornya. Sepanjang Januari-September, Indonesia mencetak ekspor dengan nilai AS$14,1 miliar, sementara untuk impor tercatat mencapai AS$14,26 miliar.
Suhariyanto berpendapat defisit neraca perdagangan ini masih disebabkan oleh kinerja ekspor yang masih tidak ekspansif. Hal ini disebabkan oleh perekonomian global yang masih tidak pasti sebagai imbas dari perang dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat (AS).
BPS juga menambahkan bahwa yang memengaruhi defisit neraca perdagangan pada bulan September 2019 adalah sektor minyak dan gas (migas). Sektor ini mengalami defisit sebesar AS$761,8 juta.
Selain itu, tingginya impor dari Tiongkok juga menjadi penyebab neraca dagang Indonesia selalu tekor. Secara konsisten, dalam beberapa tahun terakhir defisit Indonesia dengan Tiongkok menempati posisi tertinggi dibanding defisit dengan negara lain. Defisit neraca perdagangan Indonesia dengan Tiongkok mencapai AS$13,9 miliar.
Indonesia juga kalah dagang dengan Australia hingga Thailand, dengan nilai defisit perdagangannya masing-masing mencapai AS$1,9 miliar dan AS$2,9 miliar. Meski demikian, Indonesia masih mengalami surplus dagang dengan beberapa negara. Misalnya AS, India, dan Belanda.
Suhariyanto mengatakan Indonesia masih memiliki tanggungan untuk lebih keras lagi dalam menggenjot ekspor. Indonesia juga harus lebih mengokohkan fondasi dalam menghadapi kondisi global yang tidak pasti.
"Menggenjot kinerja ekspor ini bisa dimulai dari provinsi asal barang ekspor," kata Suhariyanto dalam konferensi pers, Selasa (15/1/2019).
Rapor merah di akhir periode I
Menurut Ekonom Indef, Faisal Basri, defisit neraca dagang September ini menjadi catatan merah untuk pemerintahan Jokowi di periode pertama.
Mencermati data detail dan tren neraca perdagangan, semua pemangku kepentingan harus waspada. Ia mengatakan ini merupakan alarm atau tanda bahaya yang tidak boleh dianggap remeh.
Tahun lalu Indonesia juga menderita rekor tertinggi defisit perdagangan sepanjang berdirinya Republik ini, senilai AS$8,57 miliar, bukan mustahil tahun Indonesia bisa terperosok ke jurang yang lebih dalam.
"Terlebih lagi saat ini isu perang dagang antara AS dan Tiongkok kian panas dan belum ada tanda-tanda kapan mereda," ujar Faisal di Cikini, Jakarta, Selasa (15/10/2019).
Jika dirunut dalam kurun waktu lima tahun ke belakang, defisit neraca perdagangan dengan nilai yang fantastis pernah terjadi pada tahun lalu.
Pada 2018, kinerja ekspor Indonesia masih menunjukkan tren penaikan, meskipun tipis. Sepanjang Januari-Desember 2018, total ekspor Indonesia senilai AS$180,06 miliar, tumbuh 6,65 persen dibanding tahun 2017.
Namun, pada 2018, impor tumbuh lebih kencang daripada ekspor. Pertumbuhan impor tertinggi terjadi pada April, yakni sebesar 35,24 persen. Sepanjang Januari-Desember 2018, total nilai impor Indonesia sebesar AS$188,63 miliar. Secara akumulatif, nilai impor Indonesia 2018 tumbuh sebesar 20,15 persen dibanding tahun 2017.
Walhasil, neraca perdagangan Indonesia 2018 mengalami defisit sebesarAS $8,57 miliar. Ini merupakan defisit tahunan pertama dalam empat tahun terakhir dan yang terparah selama selama Republik berdiri.
Sepanjang era reformasi, neraca perdagangan Indonesia sempat mengalami defisit selama tiga tahun berturut-turut (2012-2014) tapi nilainya tidak ada yang sampai AS$5 miliar.

Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...ca-perdagangan
---
Baca juga dari kategori BERITA :
-
Pemerintah buka peluang pemekaran Papua-
VONA orange Merapi bahayakan penerbangan-
BEM SI segera tentukan sikap soal larangan demo dari polisianasabila dan tata604 memberi reputasi
2
294
5
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Beritagar.id
13.5KThread•884Anggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya