- Beranda
- Beritagar.id
Akhiri konflik 20 tahun, PM Ethiopia raih Nobel Perdamaian
...
TS
BeritagarID
Akhiri konflik 20 tahun, PM Ethiopia raih Nobel Perdamaian

113/5000Perdana Menteri Ethiopia Abiy Ahmed Ali saat konferensi pers di Istana Chigi di Roma, Italia, 21 Januari 2019.
Perdana Menteri Ethiopia, Abiy Ahmed, mendapat penghargaan Nobel Perdamaian tahun ini. Penghargaan itu diumumkan oleh Komite Nobel Norwegia pada, Jumat (11/10/2019). Abiy akan menerima hadiah senilai 9 juta krona Swedia, atau sekira Rp12,9 miliar.
Dilansir dari The Guardian, Abiy mengalahkan beberapa kandidat lain yang masuk nominasi penghargaan tahun ini, seperti aktivis lingkungan muda yang tengah naik daun, Greta Thunberg, Kanselir Jerman Angela Merkel, dan beberapa nama aktivis Hong Kong.
Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern, yang mendapat banyak pujian saat menangani penembakan Christchurch, juga diunggulkan untuk mendapatkan penghargaan bergengsi tersebut. Seperti juga Perdana Menteri Yunani Alexis Tsipras dan Perdana Menteri Makedonia Utara Zoran Zaev yang mengakhiri sengketa kedua negara yang telah berlangsung selama 30 tahun.
Abiy menjabat sebagai Perdana Menteri pada April 2018, menggantikan posisi Hailemariam Desalegn yang mengundurkan diri. Ketika menjabat, ia langsung mengumumkan serangkaian reformasi yang menjanjikan perubahan mendasar bagi negara berpenduduk sekira 100 juta jiwa itu.
Abiy adalah pemimpin negara di benua Afrika yang selama ini dikenal represif. Namun peran Abiy dalam mendamaikan konflik dua dekade antara Ethiopia dan negara tetangganya, Eritrea, berhasil mencuri perhatian.
Konflik Ethiopia dan Eritrea telah berlangsung sejak Mei 1998. Dua negara yang terletak di Afrika Timur itu saling bertengkar tentang masalah keuangan dan perdagangan, serta saling mengklaim daerah perbatasan. Konflik itu telah merugikan kedua negara dalam hal biaya hidup, sumber daya yang langka, dan pembangunan ekonomi yang lambat.
Namun pada Juli 2018, keduanya akhirnya berhasil mencapai kata damai. Pada saat itu Abiy dan Presiden Eritrea, Isaias Afwerki, saling bertemu dan berpelukan di ibukota Eritrea dan disiarkan secara langsung oleh televisi pemerintah Eritrea.
Merayakan perdamaian, Abiy dan Afwerki melakukan perjalanan melintasi ibu kota dalam iring-iringan mobil besar disambut warga yang bersorak-sorai sambil mengenakan kaos bergambar para pemimpin negara.
Peristiwa ini menjadi momen yang dinilai sangat berharga dan bersejarah bagi kedua negara. Ethiopia dan Eritrea belum memiliki hubungan diplomatik sejak perang dimulai pada tahun 1998.
"Perdamaian tidak muncul dari tindakan satu pihak saja. Ketika Perdana Menteri Abiy mengulurkan tangannya, Presiden Afwerki menggenggamnya, dan membantu memformalkan proses perdamaian antara kedua negara. Komite Nobel Norwegia berharap perjanjian damai akan membantu untuk membawa perubahan positif bagi seluruh populasi Ethiopia dan Eritrea," ujar Komite Nobel Perdamaian dilansir dari situs resmi.
Jika dibandingkan dengan pemimpin negara-negara Afrika lainnya, Abiy termasuk pemimpin yang progresif. Dia membebaskan ribuan aktivis oposisi dari penjara dan membiarkan para pembangkang yang diasingkan kembali ke rumah. Di bawah kepemimpinannya, beberapa perempuan juga ditunjuk untuk menjabat posisi terkemuka.

Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...bel-perdamaian
---
Baca juga dari kategori BERITA :
-
Jepang bersiap hadapi topan terbesar dalam 60 tahun terakhir-
41 emiten perkasa lambungkan LQ45 akhir pekan ini - Jumat (11/10/2019)-
Spot dengan kualitas udara terbaik dan terburuk (Jumat, 11/10/2019)anasabila dan tata604 memberi reputasi
2
448
6
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Beritagar.id
13.5KThread•851Anggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya