alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
137
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d9b23fde83c720c3915d4c1/kujual-rahimku-demi-keluarga-suamiku
Empat puluh hari sepeninggal suamiku, hampir setiap hari ada orang yang datang ke rumah. Awalnya aku kira mereka adalah sahabat mendiang suami, tapi ternyata dugaanku salah. Mereka ada debt colector.
Lapor Hansip
07-10-2019 18:39

Kujual Rahim Demi Keluarga Suamiku

Past Hot Thread
Kujual Rahim Demi Keluarga

Kujual Rahimku Demi Keluarga Suamiku
Sumber gambar inspirasku.wordpress


Empat puluh hari sepeninggal suamiku, hampir setiap hari ada orang yang datang ke rumah. Awalnya aku kira mereka adalah sahabat mendiang suami, tapi ternyata dugaanku salah. Mereka ada debt colector dan orang-orang suruhan rentenir yang meminjamkan uang pada suamiku. Kaget? Tentu saja. Karena sepengetahuanku, mendiang suamiku adalah orang yang tidak suka berhutang. Dan yang membuatku lebih kaget lagi adalah nominalnya yang tidak masuk akal. Kalau ditotal semua hampir 150 juta, jumlahnya.

Ya ... Tuhan, untuk apa sebenarnya dia meminjam uang sebesar itu.

Belum lagi habis masa berkabung, sudah dihadang pula dengan masalah seperti ini. Bingung, bagaimana caranya harus mengembalikan uang itu. Sedangkan gajiku hanya cukup untuk biaya hidupku dan seorang anak.

Untuk meringankan beban pikiran, aku memilih mendatangi keluarga mendiang suami dan meminta saran pada ayah dan ibu mertua. Malang tak dapat dihindari, untung tak dapat diraih. Bukannya solusi, justru caci maki dan kenyataan pahit yang aku dapat.

Ternyata suamiku meminjam uang pada rentenir demi memenuhi nafsu dunia keluarganya sendiri tanpa sepengetahuanku, istrinya.

Ya Tuhan ....

Rasanya seperti ingin mati saja, menyusul kedua orang tuaku. Tak kuat rasanya menanggung beban ini. Mereka yang menikmati, mengapa aku yang harus membayar hutang-hutangnya?

Di tengah kemelut yang kuhadapi, aku terus memikirkan apa yang harus dilakukan demi membayar hutang peninggalan suamiku itu.
Tanpa sengaja aku membaca sebuah postingan, tentang seorang publik figur. Dia mempunyai kelainan orientasi seksual, sedang bahagia karena baru saja mengadopsi seorang bayi hasil dari meminjam rahim seseorang.

Mungkinkah? Antara terkejut dan senang, seolah mendapat angin segar untuk masalah yang tengah mendera, aku berselancar di dunia maya. Mencari akses untuk bisa "menjual" rahimku ini. Hanya ini cara satu-satunya agar aku bisa mendapatkan uang banyak dengan cepat.

Tiga hari berselang, ada seorang lelaki yang menghubungi via telepon. Dia bilang, dia dan pasangannya bersedia menggunakan jasaku. Tawar-menawar sempat terjadi, tapi akhirnya dia tidak jadi menggunakan jasaku sebab harga yang kuminta terlalu tinggi, begitu katanya. Huft

Hingga akhirnya suatu sore, seorang lelaki datang ke rumah. Kutaksir usianya baru menginjak angka 30an. Perawakannya tegap, tinggi, kulitnya sawo matang tapi bersih, wajahnya cerah. Sekilas mirip artis yang sering kulihat di layar kaca.

"Ada yang bisa saya bantu, Mas?" Tanyaku setelah mempersilahkannya duduk.

"Saya Fery, Mbak." Jawabnya sambil mengulurkan tangan. Aku menjabatnya dengan raut bingung. Karena kupikir mendiang suamiku tidak punya teman yang modelnya kece begini. Pun tidak mungkin dia suruhan rentenir sialan itu. Terlalu necis dan terlalu sopan, menurutku.

"Maaf, Mas. Ada perlu apa, ya?" Tanyaku.

Dia tersenyum, manis sekali.

"Begini, Mbak Yanti, saya menemukan postingan Mbak di grup BMG, betul kan, Mbak yang posting di sana?"

Ah, iya. Aku ingat, postingan di grup Bima Menginginkan Gatutkaca. Sebuah grup tertutup yang isinya adalah pasangan yang menginginkan anak.

"Iya, Mas. Saya posting sesuatu di sana," jawabku kikuk.

"Betul, Mbak Yanti ingin meminjamkan rahim Mbak?"

Aku mengangguk lemah, keyakinanku agak goyah, sebenarnya. Tapi kepalang tanggung.

"Berapa harga yang Mbak minta?" Lanjutnya.

Aku terkesiap, dia begitu to the point sekali.

"Seratus lima puluh juta rupiah saja, Mas" jawabku ragu. Sedangkan dia malah tersenyum sumringah.

"Dua ratus juta buat Mbak, tapi besok langsung ikut saya cek kesehatan. Gimana?"

Dan tanpa pikir panjang aku langsung menyetujuinya.

General check up sudah beres. Kini kami -aku dan Fery- menuju kantor pengacara yang sudah dia tunjuk untuk mengurus keperluan kami. Kami akan membuat pernyataan hitam di atas putih demi keabsahan kerjasama kami. Biar lebih jelas saja, katanya.

"Nanti, kalau semua sudah beres, Mbak Yanti bisa pindah ke apartemen saya." Katanya sambil menoleh padaku.

Ya ... Kami sudah banyak saling bercerita. Tentang alasanku meminjamkan rahim, juga tentang anakku yang terpaksa aku titipkan pada pamanku di kota sebelah. Dari situ pula aku tahu, bahwa istrinya mengalami lumpuh total, sedangkan keluarga Fery terus saja mendesak untuk segera memiliki momongan. Sehingga terpaksa Fery mengambil langkah ini.

Anehnya, Fery lebih memilih menggunakan jasaku dibanding memperistri wanita lain. Ah, itu bukan urusanku, sih, sebenarnya.

Setelah semua urusan beres, hasil cek kesehatan sudah keluar dan urusan dengan pengacara kelar, Fery benar-benar memboyongku ke apartemennya. Tidak ada siapapun di sana.

"Anggap saja rumah sendiri, ya, Mbak!" Katanya setelah menunjukkan isi apartemennya. Aku tersenyum mengiyakan.

"Ehm, lalu istri Mas, di mana?"

"Dia, di rumah."

"Mungkin saya akan jarang kemari, jadi semua kebutuhan Mbak sudah saya siapkan semuanya. Kalau mau masak silakan pakai saja apa bahan-bahan yang di dapur."

Dia berlalu meninggalkan apartemennya, meninggalkanku sendirian. Baiklah .... Bagaimanapun, keputusan sudah kuambil. Mau tidak mau aku harus menjalankan ini semua. Sudah tidak bisa mundur meskipun dia belum menyentuhku.

Ya, meskipun canggung, sepertinya aku harus membiasakan diri tinggal serumah dengan lelaki ini. Dia bukan suamiku, tapi dia akan jadi ayah untuk anakku.

#Tbc
#bbb
#fiksi
Diubah oleh UchieSuciani
profile-picture
profile-picture
profile-picture
istijabah dan 31 lainnya memberi reputasi
32
Halaman 1 dari 7
Kujual Rahimku Demi Keluarga Suamiku
07-10-2019 18:40

Kujual Rahimku Demi Keluarga Suamiku (2)

Kuputuskan untuk segera melunasi hutang pada rentenir-rentenir itu setelah Fery memberi sejumlah uang sesuai permintaanku. Aku tidak ingin menanggung malu karena para penagih itu pasti terus saja mendatangi rumahku. Ya... Meskipun aku tidak lagi tinggal di sana, rasanya itu tetap memalukan, bukan?

Sesuai dugaan, ketika kembali ke rumah ada beberapa orang yang tampak tengah menggedor-gedor pintu rumahku. 

"Hey, Bang? Nih, saya lunasin hutang-hutang suami saya. Tolong setelah ini kalian jangan pernah datang lagi kemari karena urusan kita sudah beres!"

Mereka tertawa senang setelah menghitung jumlah uang yang kuberikan. Kemudian berlalu diiringi tawa kemenangan.

Ah, sial. Tinggal satu lagi hutang yang harus kulunasi. 
Mudah-mudahan setelah semua ini hidupku akan kembali berjalan dengan normal.

Mengunjungi anakku, hal terakhir sebelum aku pulang ke apartemen dan menjalani takdirku sebagai ibu sewaan. Mau tidak mau aku harus berbohong pada paman, menutupi kenyataan yang sebenarnya. Berpamitan untuk bekerja sebagai TKW di luar negeri, itu yang aku bilang. 

Dengan berat hati harus kutinggalkan anakku disana.

Memang benar, sekali kamu berbohong maka perlu kebohongan yang lain demi menutupi kebohongan sebelumnya. 

"Hai, Mbak. Baru pulang?" Sapa Fery ketika aku sampai di apartemen.

Aku mengangguk kecil sambil tersenyum. Kemudian berlalu ke dalam kamar.

Setelah dua hari dia tak mengunjungiku, hari ini dia tiba-tiba muncul begitu saja. 

"Ada yang ingin saya bicarakan dengan Mbak Yanti, bisa?" Tanyanya ketika aku hendak mengambil minum.

Setelah membersihkan diri rasanya pikiranku mulai terasa lebih segar. 

"Ya?"

"Ehm, tentang kerjasama kita. Apa mbak sudah siap?"

Uhuk! Ya Tuhan, kerongkonganku sakit sekali.

Apa ini? Apa memang di se-to the pointbegitu? Bisa pake prolog nggak, sih?

Aku menggigit bibir bawahku demi menekan rasa gugup ini. Harus jawab apa?
Secepat ini? Apa aku siap?

Namun, jika tidak sekarang, kapan lagi? Siap tidak siap, aku harus siap mengingat ini memang yang harus aku lakukan. Mengandung dan melahirkan anaknya.

"Ten-tu saya siap," ucapku sambil tersenyum untuk menutupi kegugupan yang masih mendera.

Aku masih belum berani menatapnya. Tapi dari ujung mataku aku bisa melihat dia sedang menatapku sambil tersenyum. 

Sial, jantungku mulai tak sehat.

Setelah makan malam sederhana kami, aku melanjutkan aktivitasku membersihkan meja makan plus mencuci semua peralatan makan kami tadi. Dia, masih duduk santai di sofa sambil menonton televisi.

Setelah semua beres, aku menghampirinya. Rasanya tidak ada salahnya, 'kan mengakrabkan diri?

Tidak mungkin aku akan terus bersikap canggung padanya. Mengingat kerjasama kami melibatkan keintiman. Yah, anggap saja membangung chemistry. 

"Mau minum teh, Mas?" Tanyaku basa-basi.
"Enggak, deh. Makasih." Jawabnya singkat.

Dan begitulah. Kami ngobrol cukup lama, hingga kantuk menyerang. 

"Malam ini, saya menginap di sini, ya?"

"Boleh, kan?"

Apa? Ini kan apartemennya, kenapa harus nanya aku? Hadeeh

Kujawab dengan anggukan kecil. 

Baru saja selesai dari kamar mandi, aku dikagetkan dengan seorang lelaki yang sudah berbaring di ranjangku.

Ah, iya. Apartemen ini cuma ada satu kamar. Jadi sudah pasti dia tidur di sini. Mana mungkin dia tidur di sofa?

Oke, jadi inilah waktunya.
Diubah oleh UchieSuciani
profile-picture
profile-picture
profile-picture
eja2112 dan 8 lainnya memberi reputasi
9 0
9
Kujual Rahimku Demi Keluarga Suamiku
07-10-2019 18:40
Kujual Rahimku Demi Keluarga Suamiku

Aku menggeliat, saat sinar mentari tepat mengenai mataku. Mencoba mengumpulkan kesadaran, dan mencari sesuatu di atas nakas. Ponselku. Rasanya tadi malam aku menaruhnya di sini. Kenapa sekarang tidak ada?

Ah, tadi malam.

Ya ampun. Malu sekali rasanya jika ingat kejadian tadi malam. Aku menutup mukaku dengan selimut. Astaga ... Ternyata ini nyata. Tubuh polos ini bukti bahwa apa yang terjadi semalam memang nyata. Bukan hayalanku saja karena terlalu lama tak mendapat kasih sayang seorang lelaki.

Menggigit bibir, lalu menoleh ke sisi lain ranjang. Barangkali tersangkanya masih tidur. Tapi, nihil. Sudah kosong. Pasti dia sudah pergi ke kantornya.

Setelah membersihkan diri dan mematut di cermin aku segera beranjak ke dapur. Lapar rasanya, apalagi setelah pertempuran semalam. Hihihi

"Astaga,"

Aku terlonjak kaget saat menemukan Fery tengah duduk dengan santainya sambil menatap layar laptopnya.

"Sudah bangun?" Dia menyapaku dengan senyum manisnya.

Kubalas dengan anggukan kecil.

"Sudah kubuatkan sarapan untukmu, makanlah!" Katanya sambil mendorong piring berisi dua keping sandwich.

Dia duduk tepat di hadapanku.

"Makasih, kamu nggak makan?" Aku bertanya balik.

"Udah kok. Semalem." Hah? Maksudnya?

Aku cuma bisa mengernyitkan dahi ku demi mendengar jawabannya yang tidak nyambung itu.

Dan, ya ... Kecanggungan itu tidak berlangsung lama, karena Fery sangat pandai mencairkan suasana.

"Aku cuti tiga hari." Begitu jawabnya waktu kutanya kenapa dia masih di apartemen.

"Mau ngerjain yang lain dulu," katanya sambil terkekeh.

"Oya? Ngerjain apa?" Sahutku dengan antusias.

"Ngerjain kamu,"

Uhuk....
Menyembur sudah semua yang ada dalam mulutku. Ya ampun, orang ini. Bisa disaring nggak sih itu omongannya. Pipiku pasti sudah serupa tomat hampir busuk, sekarang.

Dengan cepat dia memberikan air minum padaku.

Aku berusaha mengalihkan pembicaraan, tapi tampaknya dia tengah berada pada mode serius ingin membicarakan hal itu.

"Iya sih, aku lagi dalam masa subur. Semoga saja langsung jadi, ya?"

Aku tau rasanya orang yang sedang mengusahakan sesuatu yang benar-benar dia impikan. Segiat itu dia berusaha. Sampai bela-belain cuti demi "kejar deadline" ya ampun.

"Aku akan menginap di sini selama masa cutiku." Katanya lagi.

Apa? Aduh... Mati aku!

Dan benar saja, tiga hari kami lalui layaknya pasangan suami-istri pada umumnya. Makan, tidur, beberes rumah hingga belanja kebutuhan rumah tangga pun berdua.

Kini sudah tidak ada lagi kecanggungan diantara kami. Bahkan dia sudah tidak memanggilku dengan embel-embel "mbak" lagi seperti sebelumnya. Karna memang kenyataannya kita seumuran.

Ini sudah tiga hari sejak masa cutinya habis, itu artinya sudah tiga hari pula Fery tidak menemui ku. Rasanya ada sedikit rasa tidak rela saat harus menyadari bahwa dia memang bukan hanya milikku.
Tapi, ya sudahlah. Toh, hubungan kami memang hanya sebatas itu saja. Jadi, tidak ada alasan kenapa aku harus begitu mengharapkannya. Satu-satunya hal yang mengikat kami hanyalah kontrak itu, selebihnya tidak ada.
Sudah tiga hari mual dan pusing ini kurasakan, tapi rasanya malas kalau harus ke klinik. Alhasil, disinilah aku, terbaring sendirian di kamar setelah mengkonsumsi obat seadanya. Berharap saat bangun nanti semua rasa itu sudah enyah.
“Hei, sudah bangun?” sapanya sambil mengukur kan tangan. Bersiap membantuku bangun. Tapi kutolak secara halus.
Setelah hampir tiga pekan menghilang, kini dia muncul di depanku. Tanpa rasa bersalah?
“Kapan datang?” tanyakan basa-basi.
“Makan, yuk?” katanya, tanpa menjawab pertanyaanku. Ish, menyebalkan!
“Maaf, aku baru bisa mengunjungimu lagi.” Dia duduk di sebelahku setelah membereskan bekas makan kami.
Kujawab dengan gumaman kecil. Entahlah, rasanya aku masih kecewa sama dia.
“ Kita ke dokter, yuk?” ajaknya lembut. Senyuman itu, belum lenyap dari bibirnya. Iya, senyum manis yang membuat aku jadi begini.
“Sekalian periksa kandungan, siapa tahu sudah berhasil.”

Uhuk!
Diubah oleh UchieSuciani
profile-picture
profile-picture
profile-picture
istijabah dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
Lihat 1 balasan
Kujual Rahimku Demi Keluarga Suamiku
07-10-2019 18:44
Wowww... 200 jt. VA ja 80 jt 😁
profile-picture
UchieSuciani memberi reputasi
1 0
1
Lihat 1 balasan
Kujual Rahimku Demi Keluarga Suamiku
07-10-2019 18:45
Mungkin di dunia nyata ada, ya.. Bikin sedih juga, sih. Kalau dipinjam hanya untuk melahirkan anak mungkin memang ada di dunia nyata, karena rahim istrinya si lelaki itu yang lemah.
Diubah oleh ilafit
profile-picture
UchieSuciani memberi reputasi
1 0
1
Kujual Rahimku Demi Keluarga Suamiku
07-10-2019 18:47
Duh, mengharukan sekali kisahnya. Untunglah kisah ini hanya fiksi.
Lanjut Sistemoticon-Angel
Diubah oleh cattleyaonly
profile-picture
UchieSuciani memberi reputasi
1 0
1
Kujual Rahimku Demi Keluarga Suamiku
07-10-2019 18:51
masih banyak serangan kata "ku" atau "aku".

contoh:


Belum lagi habis masa berkabung ku, sudah dihadang pula dengan masalah seperti ini. Bingung, bagaimana caranya aku harus mengembalikan uang itu. Sedangkan gajiku hanya cukup untuk biaya hidupku dan seorang anakku. 

paragraf ini saja sudah banyat kata "ku" nya. Padahal bisa dihilangkan sebagian.

Misal,

Belum lagi berakhir masa berkabung, sudah dihadang pula dengan masalah seperti ini. Bingung, bagaimana caranya mengembalikan uang itu. Sedangkan gajiku hanya cukup untuk biaya hidup bersama anakku.

Nah, dua "ku" di atas sudah mewakili. So, jangan banyak-banyak "ku" nya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
istijabah dan 9 lainnya memberi reputasi
10 0
10
Kujual Rahimku Demi Keluarga Suamiku
07-10-2019 18:57
Quote:Original Posted By cattleyaonly
Duh, mengharukan sekali kisahnya. Untunglah kisah ini hanya fiksi.
Lanjut Sistemoticon-Angel


Kagak sanggup ane kalo ini kisah nyata, sis 😭😭😭
profile-picture
trifatoyah memberi reputasi
1 0
1
Kujual Rahimku Demi Keluarga Suamiku
07-10-2019 18:58
Quote:Original Posted By darmawati040
masih banyak serangan kata "ku" atau "aku".

contoh:


Belum lagi habis masa berkabung ku, sudah dihadang pula dengan masalah seperti ini. Bingung, bagaimana caranya aku harus mengembalikan uang itu. Sedangkan gajiku hanya cukup untuk biaya hidupku dan seorang anakku. 

paragraf ini saja sudah banyat kata "ku" nya. Padahal bisa dihilangkan sebagian.

Misal,

Belum lagi berakhir masa berkabung, sudah dihadang pula dengan masalah seperti ini. Bingung, bagaimana caranya mengembalikan uang itu. Sedangkan gajiku hanya cukup untuk biaya hidup bersama anakku.

Nah, dua "ku" di atas sudah mewakili. So, jangan banyak-banyak "ku" nya.


Siyap gan, next bakal diperbaiki lagi. Tengkyuuuuu
profile-picture
darmawati040 memberi reputasi
1 0
1
Kujual Rahimku Demi Keluarga Suamiku
07-10-2019 18:59
Quote:Original Posted By hvzalf
Wowww... 200 jt. VA ja 80 jt 😁


Ekwk, beda atuh. VA kan cuma 2 jam, kalo Mbak Yanti 9 bulan gan 😔
profile-picture
profile-picture
profile-picture
AntiMAHOgan dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Kujual Rahimku Demi Keluarga Suamiku
07-10-2019 19:00
Quote:Original Posted By ilafit
Mungkin di dunia nyata ada, ya.. Bikin sedih juga, sih. Kalau dipinjam hanya untuk melahirkan anak mungkin memang ada di dunia nyata, karena rahim istrinya si lelaki itu yang lemah.


Betul sis, mereka diberi kelebihan rezeki berupa harta, bukan berupa keturunan.
profile-picture
profile-picture
ilafit dan trifatoyah memberi reputasi
2 0
2
Kujual Rahimku Demi Keluarga Suamiku
07-10-2019 19:10
Quote:Original Posted By UchieSuciani
Maaf bila banyak typo, masih belajar Gan






Sama ini juga, kata "ku" nya bisa diminimalisir


Untuk meringankan beban pikiranku, aku memilih mendatangi keluarga mendiang suamiku dan meminta saran pada ayah dan ibu mertua. Malang tak dapat dihindari, untuk tak dapat diraih. Bukannya solusi yang aku dapat, justru caci maki dan kenyataan pahit yang aku dapat.

Jadi seperti di bawah ini,

Untuk meringankan beban pikiran, aku memilih mendatangi keluarga mendiang suami, dan meminta saran ayah dan ibu mertua. Malang tak dapat dihindari, untuk? Untung kali, ya?

Untung tak dapat diraih. Bukannya solusi yang aku dapat, melainkan caci maki dan kenyataan pahit.

Kata "ku" atau "aku" nya tersisa dua saja, kan?

Bacanya jadi lebih enak.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
cowoalay dan 5 lainnya memberi reputasi
4 2
2
Kujual Rahimku Demi Keluarga Suamiku
07-10-2019 19:11
Quote:Original Posted By UchieSuciani
Siyap gan, next bakal diperbaiki lagi. Tengkyuuuuu


Ok, selamat menulis. Ane perwmluan, ya. Bukan agan 😆
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ajang.dee dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Kujual Rahimku Demi Keluarga Suamiku
07-10-2019 19:29
Yupemoticon-Jempol serangan 'ku' masih mendominasi setiap paragraf yang padat kalimat.

Penggunaan kata 'karena' dan 'dan' jangan digunakan di awal kalimat, tetapi di tengah kalimat. Ganti pemakaian kata itu dengan kata yang sepadan atau kalau tidak mengganggu keseimbangan kalimat boleh ditiadakan sajaemoticon-Cool
Diubah oleh evywahyuni
profile-picture
profile-picture
profile-picture
istijabah dan 6 lainnya memberi reputasi
6 1
5
Kujual Rahimku Demi Keluarga Suamiku
07-10-2019 19:37
Dipake krna lebih berpengalaman ngerawat janin dan anak.
Kalau cri yg gadis susah jdi ribet...
profile-picture
profile-picture
ajang.dee dan UchieSuciani memberi reputasi
2 0
2
Kujual Rahimku Demi Keluarga Suamiku
07-10-2019 19:50
ahhh nertenda dl... biar paham...

jual rahim macam progam bayi tabung atau... ehem2 dl sampai lahir? emoticon-Bingung
profile-picture
profile-picture
ajang.dee dan UchieSuciani memberi reputasi
2 0
2
Kujual Rahimku Demi Keluarga Suamiku
07-10-2019 19:51
Quote:Original Posted By UchieSuciani
Ekwk, beda atuh. VA kan cuma 2 jam, kalo Mbak Yanti 9 bulan gan 😔


Berarti mahalan VA 😂😂😂
profile-picture
ajang.dee memberi reputasi
1 0
1
Kujual Rahimku Demi Keluarga Suamiku
07-10-2019 20:26
Ada episode selanjutnya g nihh..???
Atau chapter 2 atau semacamnya lahh
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ajang.dee dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Kujual Rahimku Demi Keluarga Suamiku
07-10-2019 20:49
nice.
nilai2 yg bisa diambil, ambilah...
sensasi yg ditimbulkan indikasi seni menulis.
perbanyaklah menulis dg value yg bs diambil pelajaran.
meskipun fiksi, logis untk terjadi di dunia nyata.
profile-picture
profile-picture
ajang.dee dan UchieSuciani memberi reputasi
2 0
2
Kujual Rahimku Demi Keluarga Suamiku
07-10-2019 21:07
gelar tiker ah....
profile-picture
profile-picture
ajang.dee dan UchieSuciani memberi reputasi
2 0
2
Kujual Rahimku Demi Keluarga Suamiku
07-10-2019 21:08
Quote:Original Posted By hvzalf
Berarti mahalan VA 😂😂😂


Iya😂😂😂
profile-picture
profile-picture
graybpn dan hvzalf memberi reputasi
2 0
2
Halaman 1 dari 7
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
gelora-sma
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.