- Beranda
- Beritagar.id
Kerusuhan cekam Jakarta, gas air mata nyasar ke posko medik
...
TS
BeritagarID
Kerusuhan cekam Jakarta, gas air mata nyasar ke posko medik

Suasana di daerah Pejompongan, Tanah Abang, Jakarta Pusat jelang malam pada Senin (30/9/2019) malam. Suasana mulai ricuh dan bertambah parah pada malam hingga Selasa dini hari.
Seharusnya, Senin (30/9/2019) itu menjadi hari yang biasa saja bagi Benny Susetyo. Menjalani aktivitas normal sepanjang hari, dan sore atau malamnya ia bisa pulang ke rumah untuk mengistirahatkan tubuh dan pikirannya.
Namun, hari itu berubah menjadi hari yang sangat panjang bagi pria yang biasa disapa Romo Benny tersebut. Rohaniwan Katolik dan anggota Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) itu harus menghabiskan waktunya lebih dari enam jam dengan tidak melakukan kegiatan berarti: menunggu.
"Saya sudah terjebak di sini enam jam lebih. Tadi habis menghadiri acaranya Glenn (Fredly/Tanda Mata Koes Plus Bersaudara)," kata Romo Benny kepada Beritagar.id, Senin (30/9) sekitar pukul 22.00 WIB di Gedung Semanggi, Jakarta Pusat.
Romo Benny memang tak bisa berbuat apa-apa. Pasalnya, di luar gedung, ratusan demonstran, bentrok dengan aparat keamanan. Peristiwa itu tak lepas dari kejadian sore harinya.
Ribuan massa dari gabungan mahasiswa dan sejumlah elemen masyarakat melakukan demonstrasi di depan Gedung DPR/MPR di Jl. Gatot Subroto, Senayan, Jakarta Pusat, dengan tuntutan yang sama seperti sebelum-sebelumnya.
Selain menolak sejumlah RUU yang dianggap bermasalah, aksi juga dilandasi bentuk solidaritas terhadap rekannya yang terluka maupun meninggal dalam unjuk rasa sepanjang pekan lalu.
Demonstrasi yang berjalan sejak siang itu, awalnya berjalan normal. Bentrok tak terlalu besar memang beberapa kali terjadi, tapi masih dalam eskalasi yang mampu ditangani pihak kepolisian.
Kondisi makin runyam setelah azan Magrib berkumandang. Kepolisian mulai mencoba membubarkan aksi massa. Usaha itu mendapat perlawanan demonstran. "Pukulan" pihak Kepolisian ini membuat massa menyebar ke sejumlah arah. Hal inilah yang membuat kondisi Jakarta malam itu cukup mencekam.
Pasalnya, pecahnya masa demonstran saat itu tersebar ke sejumlah tempat di Jakarta. Ada yang ke arah Palmerah, Gelora Bung Karno (GBK), Bendungan Hilir, dan mayoritas ke Jl. Sudirman.
Pun, yang ke arah Jl. Sudirman tak berhenti di daerah itu saja. Dimulai dengan bentrok di depan Markas Kepolisian Daerah Metro sampai perempatan Kuningan. Kejadian berlangsung dalam hitungan jam, sekira pukul 19.45 sampai lebih dari 21.00.
Pun, sebaran tak berhenti ke titik-titik tersebut. Bagi massa yang lari ke arah Jl. Sudirman, mereka berkumpul kembali sekitar pukul 21.30 di depan taman Semanggi. Bentrok dengan polisi kembali terjadi.
Untuk massa yang satu ini, setelah dipukul mundur pihak aparat, mereka berlari ke arah Karet Bivak hingga menuju ke sekitaran Tanah Abang. Luasnya sebaran demonstrasi ini bukan hanya membuat takut sejumlah warga, juga mengakibatkan kerugian.
Salah satunya, Romo Benny itu tadi. Pun demikian dengan para pekerja di sekitar rute kericuhan. Mereka sulit pulang karena kondisi tak memungkinkan, entah karena banyak kerusuhan atau pun jalan ditutup di sejumlah titik.
"Saya sudah pulang dari jam lima (17.00). Cuma nggak bisa lewat juga, di mana-mana ada demo," ucap salah seorang pekerja CNBC Indonesia kepada Beritagar.id sekitar pukul 21.00 di Jl. Gatot Subroto.
Gas air mata di posko medik
"Sudah cukup adik-adik. Pulang, sudah malam. Orang tua menunggu di rumah." Begitu petugas kepolisian berteriak meminta massa untuk bubar. Atau, dia bolak-balik berkata, "Kalau adik-adik cinta Indonesia, cinta damai, pulang. Sudah selesai demonya."
Kalimat-kalimat seperti itu bukan sekali dua kali disuarakan petugas kepolisian. Sudah berulang kali, bahkan saya sampai bosan mendengarnya. Namun, langkah persuasif kepolisian itu tidak diindahkan massa. Mereka tetap melawan aparat dengan menggunakan segala benda: batu, mercon, kayu, dan lain-lain.
Aksi tersebut dibalas oleh pihak keamanan dengan tembakan gas air mata--tanpa didahului dengan peringatan dari water canon. Masalahnya, semakin malam, arah tembakan gas air mata para polisi itu jadi ngawur.
Salah satunya, aparat menembak ke arah pos medik di pinggir Universitas Atmajaya, Jakarta. Di tempat itu, sekitar pukul 21.00, puluhan mahasiswa yang tengah beristirahat, harus merasakan pedihnya gas air mata.
Musababnya, massa pendemo, yang sebagian besar masih berusia SMA, melakukan perlawanan di daerah taman Semanggi. Namun, apa pun itu, tindakan polisi yang menembakkan gas air mata ke daerah petugas kesehatan, disesalkan sejumlah pihak.
Atas laku ini, pihak Kepolisian pun mengatakan hal itu tidak disengaja. "Mungkin polisi refleks karena melihat massa berlarian ke sana. Polisi tidak bermaksud menembak gas air mata ke arah Posko Farmasi Atma Jaya," Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono, seperti dilansir detikcom.

Kondisi Dukuh Atas, Jakarta Pusat, pada Senin (30/9/2019) tengah malam. Suasana mencekam saat aparat dan pendemo kembali bentrok.Mereka dipiting dan ditendang
"Nah, pakai identitas (wartawan). Ambil aja," ucap salah seorang anggota Kepolisian kepada saya sambil memberi minuman botol. Dalam baris tempur Kepolisian, penyedia konsumsi ini berada di barisan belakang.
Biasanya, mereka memakai baju bebas dengan celana kargo saja--beberapa mengenakan tas kecil. Namun, hari itu, banyak dari mereka yang juga membawa kayu atau sejenis tali dengan ketebalan bervariasi.
Alat-alat itu tergenggam di tangan mereka bukan tanpa tujuan. Pasalnya, mereka bukan hanya "seksi konsumsi", tapi juga "penyapu demonstran". Maksudnya, jika ada demonstran yang lepas dari kawanan, akan mereka kejar untuk diamankan.
Misalnya, di Jl. Gatot Subroto, tepatnya di dekat jembatan Senayan sekitar pukul 19.00, ada beberapa demonstran yang terpencar. Mereka langsung mengejar sambil berteriak, "Ada yang lepas. Hajar saja."
Begitu tertangkap, biasanya mereka akan dipiting--menjepit leher dengan pergelangan tangan. Lantas, demonstran itu akan ditendang atau dipukul oleh aparat lainnya. Hal ini terjadi berulang-ulang.
Seperti kala bentrok di depan Polda Metro Jaya. Sayang, sulit untuk mengambil gambar, karena aparat menyuruh siapa pun di sana untuk menonaktifkan kamera. "Jangan ambil gambar. Matikan hp," ucap seorang aparat kepada saya.
Warga sipil juga tak diperkenankan mengambil gambar. "Tadi saya di jembatan (JPO Semanggi) mau merekam tapi diperingati petugas. Dia bilang 'saya hanya sekali memperingatkan, kalau masih mereka tanggung sendiri akibatnya'," ucap warga tersebut.
Aksi unjuk rasa di depan gedung DPR/MPR itu sepertinya bukan yang terakhir. Hari ini, Selasa (1/10), aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) akan kembali bergerak ke Senayan, seiring pelantikan anggota baru DPR periode 2019-2024.
Penyampaian pendapat melalui unjuk rasa memang bagian dari demokrasi. Namun masyarakat tentu berharap para pengunjuk rasa dan aparat keamanan tak terus-menerus bentrok.

Sumber : https://beritagar.id/artikel/berita/...ke-posko-medik
---
Baca juga dari kategori BERITA :
-
Spot dengan kualitas udara terbaik dan terburuk (Selasa, 01/10/2019)-
Gerobak martabak saksi bisu melesatnya peluru tajam di Kendari-
Jalur layang kereta cepat Jakarta-Bandung mulai dipasanganasabila memberi reputasi
1
283
5
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Beritagar.id
13.5KThread•875Anggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya