- Beranda
- The Lounge
Olahraga, Permainan yang selalu Dipermainkan ?
...
TS
froye
Olahraga, Permainan yang selalu Dipermainkan ?


Quote:
Dunia olahragamerupakan salah satu tempat “berperang” antar Negara di dunia Internasional. Tentu bukan perang dengan membawa senjata militer untuk saling menghancurkan tapi perang untuk saling mengalahkan dalam suatu arena sportifitas.
Olahraga juga bisa menjadi hal yang kita banggakan di dunia Internasional dan membuat suatu Negara semakin populer bahkan disegani oleh Negara lain. Seperti Brasil yang sangat disegani sepakbolanya dan semakain populer karena Sepakbola atau India yang begitu tangguh dan disegani di dunia Kriket.
Lalu bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia memiliki Bulutangkis yang cukup disegani oleh Negara lain, hanya sayangnya bulutangkis tidak cukup populer untuk membuat Indonesia lebih dikenal dan disegani oleh dunia olahraga internasional. Akan tetapi bulutangkis tetap menjadi kebanggan bagi rakyat Indonesia dan tetap menjadi andalan untuk bersuara di kancah internasional.
Cabang olahraga andalan Indonesia adalah Bulutangkis dan juga Angkat besi yang cukup konsisten dalam mengharumkan nama Indonesia di kancah Internasional, khususnya Ajang empat tahunan Olimpiade. Angkat besi berhasil menyumbang 10 medali (5 perak – 5 perunggu), sedangkan Bulutangkis berhasil menyumbangkan 19 medali (7 emas – 6 perak – 6 perunggu).
Dua olahraga ini seharusnya semakin dikedepankan untuk semakin konsisten dan juga semakin kuat agar semakin konsisten bersaing di level tertinggi. Disamping mengembangkan olahraga lain tentunya.
Olahraga juga bisa menjadi hal yang kita banggakan di dunia Internasional dan membuat suatu Negara semakin populer bahkan disegani oleh Negara lain. Seperti Brasil yang sangat disegani sepakbolanya dan semakain populer karena Sepakbola atau India yang begitu tangguh dan disegani di dunia Kriket.
Lalu bagaimana dengan Indonesia?
Indonesia memiliki Bulutangkis yang cukup disegani oleh Negara lain, hanya sayangnya bulutangkis tidak cukup populer untuk membuat Indonesia lebih dikenal dan disegani oleh dunia olahraga internasional. Akan tetapi bulutangkis tetap menjadi kebanggan bagi rakyat Indonesia dan tetap menjadi andalan untuk bersuara di kancah internasional.
Cabang olahraga andalan Indonesia adalah Bulutangkis dan juga Angkat besi yang cukup konsisten dalam mengharumkan nama Indonesia di kancah Internasional, khususnya Ajang empat tahunan Olimpiade. Angkat besi berhasil menyumbang 10 medali (5 perak – 5 perunggu), sedangkan Bulutangkis berhasil menyumbangkan 19 medali (7 emas – 6 perak – 6 perunggu).
Dua olahraga ini seharusnya semakin dikedepankan untuk semakin konsisten dan juga semakin kuat agar semakin konsisten bersaing di level tertinggi. Disamping mengembangkan olahraga lain tentunya.

Credit: www.brilio.net
Quote:
Dunia Olahraga Indonesia sebetulnya terlihat akan bangkit dengan keberhasilan Indonesia sebagai Tuan Rumah Asian Games 2018. Indonesia berhasil menduduki peringkat 4 klasmen akhir di Asian Games 2018 dengan torehan 31 Emas, 24 Perak, dan 43 Perunggu.
Memang keberhasilan ini terbantu oleh adanya olahraga pilihan yang tidak popular atau tidak muncul di Olimpiade seperti Pencak Silat, paragliding, atau Sport climbing. Akan tetapi, cabang-cabang populer pun sebetulnya sanggup memberikan kejutan, dengan menyumbangkan medali seperti Tenis yang berhasil mengakhiri puasa medali sejak 2002 bahkan berhasil meraih emas pada nomor ganda campuran (Christopher Rungkat / Aldila Sutjiadi).
Selain tenis, ada pula Voli pantai, Taekwondo, atletik, karate, boxing, cycling, ataupun gymnastic yang berhasil menyumbangkan medali di ajang olahraga terbesar se-Asia ini.
Keberhasilan ini tentu menjadi tonggak sejarah dan tentu banyak yang berharap hal ini sebagai titik balik prestasi Indonesia agar lebih disegani oleh dunia olahraga internasional.
Salah satu olahraga yang paling populer di dunia, Sepakbola, pun memberikan penampilan yang menjanjikan di Asian games 2018 walaupun terhenti dibabak perdelapanfinal. Ada harapan dibalik kegagalan Indonesia melangkah lebih jauh karena Timnas Sepakbola kita bermain dengan cara yang lebih rapih dan menjanjikan.
Memang keberhasilan ini terbantu oleh adanya olahraga pilihan yang tidak popular atau tidak muncul di Olimpiade seperti Pencak Silat, paragliding, atau Sport climbing. Akan tetapi, cabang-cabang populer pun sebetulnya sanggup memberikan kejutan, dengan menyumbangkan medali seperti Tenis yang berhasil mengakhiri puasa medali sejak 2002 bahkan berhasil meraih emas pada nomor ganda campuran (Christopher Rungkat / Aldila Sutjiadi).
Selain tenis, ada pula Voli pantai, Taekwondo, atletik, karate, boxing, cycling, ataupun gymnastic yang berhasil menyumbangkan medali di ajang olahraga terbesar se-Asia ini.
Keberhasilan ini tentu menjadi tonggak sejarah dan tentu banyak yang berharap hal ini sebagai titik balik prestasi Indonesia agar lebih disegani oleh dunia olahraga internasional.
Salah satu olahraga yang paling populer di dunia, Sepakbola, pun memberikan penampilan yang menjanjikan di Asian games 2018 walaupun terhenti dibabak perdelapanfinal. Ada harapan dibalik kegagalan Indonesia melangkah lebih jauh karena Timnas Sepakbola kita bermain dengan cara yang lebih rapih dan menjanjikan.

Credit: (ANTARA | Akbar Nugroho)
Quote:
Akan tetapi, harapan agar olahraga kita disegani oleh dunia, sekarang sedang menjauh.
Tim Nasional Sepakbola kita “hancur” ditangan dua Negara tetangga, Malaysia dan Thailand. Kekalahan melawan Malaysia bahkan semakin tercoreng ketika suporter Malaysia yang hadir di Stadion Gelora Bung Karno “diserang” oleh oknum yang menyatakan diri sebagai fans sepakbola.
Sungguh hal yang tidak bisa diterima karena olahraga yang dijadikan alat untuk mempererat solidaritas malah semakin memecah belah persaudaraan yang ada.
Ketika melawan Thailand kita “dibantai” 0-3, ini adalah kekalahan terbesar yang pernah kita alami di GBK saat bersua Thailand. Kekalahan ini diperburuk dengan kejadian memalukan ketika para suporter Indonesia yang datang malah berbalik menghujat pemain-pemain Indonesia bahkan mereka sempat mengalihkan dukungan dengan mendukung timnas Thailand.
Kegagalan mempertahankan Luis Mila menjadi salah satu hal yang menjengkelkan kala itu. Akan tetapi yang harus lebih disalahkan adalah organisasi dibalik olahraga ini, bukan hanya sepakbola tapi seluruh organisasi olahraga di Indonesia.
Kita sudah tahu bahwa Organisasi yang mengatur sepakbola kita misalnya tidak mampu memberikan kompetisi yang sehat, jadwal yang amburadul, kompetisi yang tidak jelas kapan dimulainya, kualitas wasit yang kurang, fasilitas yang terbatas, dan masih banyak kekurangan lainnya yang sudah menahun, dan seakan dibiarkan.
Olahraga tersukses di Indonesia, Bulutangkis pun sempat terserang ombak ketika sebuah klub bulutangkis yang berhasil menyumbangkan beberapa pemain juara seperti Lylyana Natsir atau Kevin Sanjaya diminta unutk menghentikan program pencarian bakat mereka oleh KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia).
Untungnya, polemik tersebut sudah berakhir dan mereka bisa kembali mencari bibit-bibit muda yang perpotensi untuk menjadi juara lainnya.
Sepertinya memang organisasi tertinggi di Indonesia yang mengayomi dunia olahraga harus lebih peka dengan keadaan yang ada. Cukup mengherankan ketika sebuah Organisasi besar dengan biaya besar kesulitan membangun jadwal yang teratur atau kesulitan dalam melakukan pencarian bakat secara mandiri.
Ketika kompetisi Sepkbola dibekukan, sempat tercipta kompetisi yang lebih sehat setidaknya dalam hal jadwal pertandingan. Lalu kenapa sekarang ketika dikembalikan kepada “sang empunya” jadwal pertandingan menjadi buruk kembali.
Melihat pertandingan sepakbola Indonesia melawan Malaysia dan Thailand, terlihat pemain Indonesia sangat kelelahan dibabak kedua, kaki terasa berat untuk mengejar si kulit bundar. Bandingkan dengan permainan Timnas ketika di Asian Game yang secara luar biasa menyamakan kedudukan di masa Injury time babak kedua ketika melawan Timnas UEA yang berhasil meraih medali perunggu.
Semangat juang yang turun atau kaki yang tak mampu melangkah karena terlalu lelah ?
Tim Nasional Sepakbola kita “hancur” ditangan dua Negara tetangga, Malaysia dan Thailand. Kekalahan melawan Malaysia bahkan semakin tercoreng ketika suporter Malaysia yang hadir di Stadion Gelora Bung Karno “diserang” oleh oknum yang menyatakan diri sebagai fans sepakbola.
Sungguh hal yang tidak bisa diterima karena olahraga yang dijadikan alat untuk mempererat solidaritas malah semakin memecah belah persaudaraan yang ada.
Ketika melawan Thailand kita “dibantai” 0-3, ini adalah kekalahan terbesar yang pernah kita alami di GBK saat bersua Thailand. Kekalahan ini diperburuk dengan kejadian memalukan ketika para suporter Indonesia yang datang malah berbalik menghujat pemain-pemain Indonesia bahkan mereka sempat mengalihkan dukungan dengan mendukung timnas Thailand.
Kegagalan mempertahankan Luis Mila menjadi salah satu hal yang menjengkelkan kala itu. Akan tetapi yang harus lebih disalahkan adalah organisasi dibalik olahraga ini, bukan hanya sepakbola tapi seluruh organisasi olahraga di Indonesia.
Kita sudah tahu bahwa Organisasi yang mengatur sepakbola kita misalnya tidak mampu memberikan kompetisi yang sehat, jadwal yang amburadul, kompetisi yang tidak jelas kapan dimulainya, kualitas wasit yang kurang, fasilitas yang terbatas, dan masih banyak kekurangan lainnya yang sudah menahun, dan seakan dibiarkan.
Olahraga tersukses di Indonesia, Bulutangkis pun sempat terserang ombak ketika sebuah klub bulutangkis yang berhasil menyumbangkan beberapa pemain juara seperti Lylyana Natsir atau Kevin Sanjaya diminta unutk menghentikan program pencarian bakat mereka oleh KPAI (Komisi Perlindungan Anak Indonesia).
Untungnya, polemik tersebut sudah berakhir dan mereka bisa kembali mencari bibit-bibit muda yang perpotensi untuk menjadi juara lainnya.
Sepertinya memang organisasi tertinggi di Indonesia yang mengayomi dunia olahraga harus lebih peka dengan keadaan yang ada. Cukup mengherankan ketika sebuah Organisasi besar dengan biaya besar kesulitan membangun jadwal yang teratur atau kesulitan dalam melakukan pencarian bakat secara mandiri.
Ketika kompetisi Sepkbola dibekukan, sempat tercipta kompetisi yang lebih sehat setidaknya dalam hal jadwal pertandingan. Lalu kenapa sekarang ketika dikembalikan kepada “sang empunya” jadwal pertandingan menjadi buruk kembali.
Melihat pertandingan sepakbola Indonesia melawan Malaysia dan Thailand, terlihat pemain Indonesia sangat kelelahan dibabak kedua, kaki terasa berat untuk mengejar si kulit bundar. Bandingkan dengan permainan Timnas ketika di Asian Game yang secara luar biasa menyamakan kedudukan di masa Injury time babak kedua ketika melawan Timnas UEA yang berhasil meraih medali perunggu.
Semangat juang yang turun atau kaki yang tak mampu melangkah karena terlalu lelah ?

Credit:Pixavay.com
Quote:
Dunia Olahraga ini seharunya bisa dimanfatkan lebih baik dan lebih bijak oleh para pemangku kekuasaan. Talenta yang ada di negeri ini sungguh luar biasa banyak namun jalur menuju panggung dunia memang kerap terganjal kepentingan pribadi.
Politikkepentingan masih menjadi momok bagi perkembangan dunia olahraga kita, bahkan sebetulnya menjadi momok pula bagi seluruh aspek di negeri ini. Politik yang lebih mengedepankan kepentingan dan keuntungan pribadi.
Teranyar, Menteri Pemuda dan Olahraga kita harus menjadi tersangka atas dugaan korupsi dana hibah. Tentu ini adalah pukulan telak kembali untuk dunia olahraga Indonesia. Di kala Indonesia ingin berkembang menjadi lebih baik, salah satu pemimpin tertinggi Olahraga kita harus berurusan dengan Kejaksaan.
Olahraga kita sebetulnya sedang berjalan menuju arah lebih baik, khususnya setalah pergelaran Asian Games 2018. Tahun ini kita akan melihat seberapa jauh olahraga kita berkembang dengan menyaksikan atlet kita berjuang di Sea Games 2019 di Filipina. Semoga harapan ini bukan harapan palsu lagi.
Sea Games 2011 dengan status sebagai Tuan Rumah Indonesia begitu perkasa dan berhasil menjadi juara umum, saat itu pula kebangitan Olahraga terlihat akan tiba. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya, setahun berselang pada ajang Olimpiade 2012 kita gagal meraih emas dan hanya mampu membawa pulang 1 perak dan 1 perunggu.
Satu tahun berselang pada Sea Games 2013, kita hanya mampu menduduki peringkat ke 4. Kita seperti hanya "jago" di kandang saja, hanya diperhatikan bila bermain di rumah sendiri, tapi dilepaskan ketika bersaing di rumah lawan.
Sekali lagi, Indonesia memiliki potensi yang sangat luar biasa untuk bersaing di panggung dunia. Tentu harapan itu masih ada, di tengah kondisi politik kita yang kembali memanas dengan berbagai persoalan dan issue yang berkembang, tetap harapan itu masih ada.
Yang bisa kita lakukan adalah memberikan dukungan untuk hal baik dan mengkritisi hal yang tidak baik, dan juga sambil berharap para petinggi olahraga kita mau untuk mengesampingkan kepentingan pribadi mereka dan mampu untuk menghalau para oknum yang ingin menghambat laju perkembangan olahraga kita.
Kita memang butuh sosok pemimpin yang berani melawan arus, pemimpin yang berani untuk menghukum mereka yang hanya peduli diri sendiri, pemimpin yang tak hanya omong besar tapi memberikan bukti dengan prestasi.
Politikkepentingan masih menjadi momok bagi perkembangan dunia olahraga kita, bahkan sebetulnya menjadi momok pula bagi seluruh aspek di negeri ini. Politik yang lebih mengedepankan kepentingan dan keuntungan pribadi.
Teranyar, Menteri Pemuda dan Olahraga kita harus menjadi tersangka atas dugaan korupsi dana hibah. Tentu ini adalah pukulan telak kembali untuk dunia olahraga Indonesia. Di kala Indonesia ingin berkembang menjadi lebih baik, salah satu pemimpin tertinggi Olahraga kita harus berurusan dengan Kejaksaan.
Olahraga kita sebetulnya sedang berjalan menuju arah lebih baik, khususnya setalah pergelaran Asian Games 2018. Tahun ini kita akan melihat seberapa jauh olahraga kita berkembang dengan menyaksikan atlet kita berjuang di Sea Games 2019 di Filipina. Semoga harapan ini bukan harapan palsu lagi.
Sea Games 2011 dengan status sebagai Tuan Rumah Indonesia begitu perkasa dan berhasil menjadi juara umum, saat itu pula kebangitan Olahraga terlihat akan tiba. Namun, yang terjadi adalah sebaliknya, setahun berselang pada ajang Olimpiade 2012 kita gagal meraih emas dan hanya mampu membawa pulang 1 perak dan 1 perunggu.
Satu tahun berselang pada Sea Games 2013, kita hanya mampu menduduki peringkat ke 4. Kita seperti hanya "jago" di kandang saja, hanya diperhatikan bila bermain di rumah sendiri, tapi dilepaskan ketika bersaing di rumah lawan.
Sekali lagi, Indonesia memiliki potensi yang sangat luar biasa untuk bersaing di panggung dunia. Tentu harapan itu masih ada, di tengah kondisi politik kita yang kembali memanas dengan berbagai persoalan dan issue yang berkembang, tetap harapan itu masih ada.
Yang bisa kita lakukan adalah memberikan dukungan untuk hal baik dan mengkritisi hal yang tidak baik, dan juga sambil berharap para petinggi olahraga kita mau untuk mengesampingkan kepentingan pribadi mereka dan mampu untuk menghalau para oknum yang ingin menghambat laju perkembangan olahraga kita.
Kita memang butuh sosok pemimpin yang berani melawan arus, pemimpin yang berani untuk menghukum mereka yang hanya peduli diri sendiri, pemimpin yang tak hanya omong besar tapi memberikan bukti dengan prestasi.
Semoga Dunia Olahraga Indonesia bisa semakin maju dan disegani dunia internasional.

Spoiler for Refeensi:
Wikipedia.org
Diubah oleh froye 22-09-2019 11:42
zafinsyurga dan 6 lainnya memberi reputasi
7
431
Kutip
0
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•108.9KAnggota
Komentar yang asik ya