Kaskus

Story

prasetyanddyAvatar border
TS
prasetyanddy
Si Kembar
Si Kembar

Si Kembar

       

Quote:


  

Si Kembar

“Beneran, aku ga bohong!!! Buat apa juga aku bohong!!” Narsih mencoba meyakinkan

teman-temannya.

“Enggak Nar, kamu ini lagi halu. Lagian ini masih sore masa ada begituan sore-sore begini! Iya kan gin?” Tanya Raga terhadap kembaran si Narsih, yaitu Ginar. Namun Ginar hanya  diam dan menatap narsih yang masih setengah ketakutan. 


“ Udah ga. Kita juga pasti capek, kan baru dateng kita disini dan habis ini juga mau set uptenda kan. “ Ginar berusaha mengalihkan pembicaraan.


“ Sudah sudah, anggep aja salam karena pengen nyapa aja. Udah, yuk kalian ikut aku. Kita cari spot tenda buat regu kita ya.”  Bang Rudi sebagai Ketua Regu berusaha mencairkan suasana. 
     

Tak lama, setelah mereka mencari, akhirnya mereka menemukan bendera kecil

yang bertuliskan angka 9. Yang mana angka tersebut adalah nomer milik regu mereka.
      

“ Oke temen-temen semua. Mohon kerja sama serta tenaganya untuk mendirikan tenda. Yang mana tenda ini akan menjadi tempat regu kita bernaung 2-3 hari kedepan. Baik, mari kita mulai dengan letakan barang kalian disebelah utara petak tenda.” 


Bang Rudi memberikan instruksi kepada anak buahnya. 


Selanjutnya, semua cowok-cowok Bertugas mendirikan tenda. Namun tetap saja, Narsih tidak dapat melupakan begitu saja apa yang ia liat tadi. Terlihat terus termenung, Ginar berinisiatif menegur nya. 



“ Cut, udah dong. Malah ngelamun!” Ginar menegur kepada narsih sembari menepuk
pundaknya.  
“ Kamu liat juga kan cit?” tanya Narsih sinis kepada Ginar
“ Iya, tapi udah ya. Mau maghrib juga, udah jangan diomongin.” Ginar terus berusaha 
menenangkan Narsih.
“ Tempatnya gini banget sih cit, harus disini emang?” Narsih tetap menggerutu 

“ Cut, udah. Kan aku bilang udah. Hampir maghrib loh!” Ginar terus berusaha menenangkan narsih. Wajah narsih terus saja kusut, iya seperti tidak percaya dengan keputusan sekolah  dengan menentukan hutan ini sebagai tempat persami sekolah mereka.


Ginar memanggil narsih dengan sebutan Icut, dan Icit panggilan sebaliknya. Mengapa begitu? Karena Ginarsih adalah nama Nenek buyut mereka berdua. Menggunakan nama tersebut untuk panggilan sehari-hari membuat mereka sungkan dan canggung, terlebih sang nenek buyut sudah wafat. Tidak lama setelah mereka berdua lahir dan memberikan nama sang nenek menyematkan nama, Sang nenek pergi.


Tidak lama kemudian, tenda selesai didirikan. Tenda yang cukup besar, tenda tersebut mampu menampung 9 orang beserta barang-barang mereka. Anak-anak sibuk merapikan alas tidur mereka yang berupa matras panjang, serta sleeping bag tiap-tiap anak. Mereka juga membatasi tengah tenda dengan tas tas besar milik mereka yang digunakan sebagai pembatas tidur siswa dan siswi. 

Si Kembar

Adzan maghrib berkumandang, Bang Rudi menghimbau anak-anak regunya untuk melanksanakan ibadah shalat maghrib. 


“ Dah Maghrib, kalo semuanya udah beres segera ke musholla ya.” Tukas Bang rudi.


Karena musholla yang tidak terlalu besar, Anak-anak harus berjamaah secara bergantian.

Raga yang saat itu selesai menunaikan sholat, langsung kembali ke tenda regu untuk mengambil senter kecil yang lupa ia bawa saat itu. Ia berjalan menyusuri samping musholla, menuju tenda regu yang ia tuju. Mulai menjauh dari musholla, suara riuh anak-anak persami mulai tipis menjauh. Suasana petang yang gelap namun masih menyisakan segelintir cahaya, membuat sekitar hutan itu terlihat mencekam bagi Raga.
      

“Aduh, salah nih kesini sendirian. Btw ga gelap tapi kok berasa kelam gini suasanyanya” Raga mengguerutu dengan dirinya sendiri. Ketika mulai dekat dengan tenda, ia mendengar suara wanita sedang bersenda gurau tertawa.



“Loh ? dah ada yang balik ya?”Gumamnya dalam hati. Ketika membuka tirai tenda dan melihat kedalam, Raga menemukan Ginar dan narsih sedang terduduk berhadap-hadapan.



“ Loh, kalian ga sholat? Atau udah balik ya? Cepet banget” raga  menegur sambil melewati mereka berdua menuju tas nya yang berada di ujung tenda, diatas tempat tidurnya.



Raga tidak mendapat jawaban dari mereka berdua, ketika raga kembali menengok ke arah Ginar dan narsih. Hanya saja narsih melihat terus kearah Raga, sambil tersenyum kecil ia terus menerus melihat ke arah raga sambil tersenyum. Mendapat reaksi seperti itu, membuat raga salah tingkah melihat senyum narsih yang begitu manis saat itu.


“ apaan si ah, ditanyain malah senyum-senyum. Bikin orang salting aja”. Kata Raga sambil cengingisan.

Ia menuju keluar tenda sambil membawa senter yang ia cari tadi. Beberapa Langkah setelah keluar dari dalam tenda, Ia melihat dari jarak cukup jauh, Ginar dan Narsih berjalan ke arah tenda sambil membawa tas berisi mukenah. 


“Hah? Loh? gimana sih? “ Ia bingung. Sontak ia membanting pandanganya kebelakang, melihat ke arah 2 sosok yang berada di dalam tenda sebelumnya. Dan sosok itu, tidak ada. Raga shock, lalu siapa yang tadi ia ajak berbicara? 



“Woy!!” Ginar dan Narsih bebarengan menepuk pundak Raga. Hal itu membuat raga terkejut sontak melompat.



“ Duh! Kaget ya? Hahahaha” Narsih mengejek Raga yang memasang raut wajah shock


Edan Kalian ya, untung aku ga punya penyakit jantung. Bisa koit aku woy “


“ Hahaha sorry, lagian ngapain sih ngintipin dalem tenda gitu? Ga sholat ya ?” Ginar mendesak Raga untuk mengaku.


“ Helah, ga ada. Aku cuman ngambil senter ketinggalan. Mau Lapor ke Komandan tapi lupa bawa senter” Raga menjelaskan.


“ Yaudah sono buruan, kalo telat satu regu kena hukum kan” Kata Narsih mengusir Raga.


“ Iye-iye bawel lu hm” Jawab Raga kesal. Ia berlalu sambil terheran.


“ Kalo mereka baru datang, lalu siapa yang didalam tenda tadi? Aku melihat jelas bahwa itu Ginar dan Narsih!” Raga berjalan sambil bergumam dalam hatinya.



Masih tetap terheran, kemudian ia teringat kalau harus melaksanakan wajib lapor terhadap komandan, guna melaporkan kondisi regunya saat ini. Raga melanjutkan perjalanan dengan berlari kecil menuju balai yang ada tidak jauh dari tenda regunya.


 


“ Oke temen-temen semua, saya akan memanggil perwakilan regu satu persatu. Silahkan laporkan kondisi regu masing-masing!” Komandan Panca berseru terhadap semua perwakilan regu yang hadir. Sesaat kemudian, Raga baru saja tiba dengan terengah-engah karena berlari sedari depan tendanya.



“ Siap hah ... lapor komandan haaah... hah...” Ucap Raga dengan nafas tersengal.


“ Anda terlambat 2 menit, Laporkan kondisi” Tanya sang Komandan.


“ Siap komandan, haahhh,, haah... Regu sembilan... hahh,  siap melapor. Saya baru  selesai mengkondisikan regu saya ! ” Jawab Raga dengan nafas yang masih tersengal.


“ Siap. Penjelasan saya terima. Guna mempersingkat waktu laporan akan saya mulai sekarang.! Rapatkan Barisan! ”


SIAP KOMANDAN” Semua perwakilan regu menjawab dengan serentak.



Raga dapat bernafas lega, karena ia dan regunya luput dari hukuman meski ia datang terlambat. Sesaat ia terlupa oleh keaneahan yang baru saja ia alami. Komandan menghimbau kepada semua perwakilan regu untuk segera mengistirahatkan regunya. Tidak berlangsung lama, apel malam untuk laporan itu selesai. Perwakilan regu kembali ke tendanya masing-masing. Suasana di tenda pun masih ramai, semua anggota regu 9 berada diluar tenda sambil melingkari api unggun dan bernyanyi riang. Tak lama, Raga kembali ke tenda milik regunya.


Raga kembali dan melaporkan hasil apelnya kepada ketua regu, Bang Rudi.



“ Oke temen-temen semua, bagi yang ingin istirahat silahkan. Sudah hampir pukul 9, jika ingin bersantai silahkan, batas waktu hingga 9.15 setelah itu semua anggota diwajibkan tidur. Besok adalah hari yang panjang, siapkan fisik dan mental kalian!” Seru Bang Rudi menghimbau semua anggota regunya.



“ Siap Ketua!” Jawab semua anggota regu kompak.


Mereka yang saat itu beranggotakan 9 orang, terdiri dari 4 perempuan dan 5 laki-laki. Setelah menerima himbauan itu, ada beberapa anak yang memutuskan untuk tidur dan sisanya Ginar, Narsih, Raga dan Bang Rudi masih berada diluar. Menatap Ginar dan Narsih, seketika Raga teringat pada kejadian sebelumnya. Ia pun tergoda untuk menceritakanya dengan tujuan menakuti mereka berdua.


“ Eh, kalian berdua inget pas aku tadi ambil senter ga? “ Tanya Raga


“ Hm? Inget kok. Kenapa ga? “ Jawab narsih


“ Jadi sebenernya, itu aku ngalamin sesuatu... “ Raga menjelaskan perlahan.


Ginar dan narsih saling tatap, mereka seperti sudah tau tentang apa yang akan diceritakan oleh Raga.



“ Jadi, tadi pas aku balik, aku ketemu kalian didalem tenda... lagi ngobrol bercandaan”


“ Terus? “ Jawab narsih seperti tidak heran.


“ Ya aku ngira itu beneran kalian. Tapi begitu keluar, aku ngeliat kalian jalan menuju kesini.” Raga seperti ragu akan meneruskan ceritanya.


“ Yakin ga salah liat? “ Ginar bertanya seakan tak percaya.


“ Gin, bahkan aku ngobrol sama Narsih dan dija.... “ Tiba-tiba Raga berhenti, Ia merinding. Bulu kuduknya berdiri, seperti tersengat listrik melewati sekujur tubuhnya.


“ Cit, apa-apaan” Narsih menyenggol siku ginar yang ada disebelahnya.



Pandangan Narsih lurus menuju pohon bambu yang tidak jauh berada di utara tenda mereka. Tepat disampingnya, berdiri sesosok wanita dengan berbaju gelap, dengan rambut panjang yang lurus. Terlihat jelas mata nya seperti menyala merah kepada Narsih.


“ Iya cut, aku tau. Ini ga beres. “ Ginar menjawabnya singkat. Tak dapat terelak kan, Ginar juga melihat apa yang dilihat oleh Narsih.


“ Cit... mereka, kembar?” Narsih memalingkan pandanganya kepada Ginar.


“ Hah? Ngomong apaan si woy, aku merinding nih cuk jangan becanda lah! “ Jawab

Raga mulai panik mendengar percakapan mereka berdua.


Bang Rudi berada tidak jauh dari mereka bertiga, sedang merapikan batu sanggahan api unggun mereka. Mendengar anggota regunya berdebat, Bang Rudi menghampiri mereka.


“ Kenapa nih ? kalian ga tidur?” Tanya sang ketua Regu memecah suasana tegang.


“ Eh iya bang, ga ada apa-apa kok. Nih si Raga lagi cerita halu hehe” Ginar menjelaskan.

Mendengar itu Raga hanya tersenyum kecut kepada Bang Rudi.

“ Yakin gada apa-apa? Keknya tadi seru banget gitu ngobrolnya “ Tanya bang Rudi penasaran.

“ Ga ada kok bang ehehe” Jawab Narsih singkat.


“ Yaudah, kalian tidur aja. Saya jaga malam sama Dwi, gantian nanti tidurnya.”


Obrolan malam itupun buyar, mereka menuju ke tenda regu mereka.


“ Oi, yang tadi itu kenapa ? kelarin dong!” Raga berseru dengan suara sangat pelan.


“ Udah, intinya jaga sikap jangan aneh-aneh. Ini bukan hutan biasa” Jawab Ginar singkat.


“ Dah, bye. Tidur sana woy “ Narsih menimpali.


Merekapun terpisah oleh barisan ruang tidur pria dan wanita yang tentu saja berbeda.

Raga masih penasaran dengan serangkaian hal tidak jelas yang terjadi sebelumnya. Padahal mereka baru 6 jam mereka berada di tempat itu. Tetap saja, keanehan itu membuat Raga termenung dalam lamunan tidurnya. Setelah termenung beberapa saat, ia pun tertidur....



Tepat pukul 2 dini hari, Raga terbangun dari tidurnya oleh alarm jam tangan miliknya sendiri

“ Aaaarrgh, ganggu orang tidur aja sih? “ Raga memaki dalam hati. 

Menatap jam tangan dengan mata yang masih berkunang-kunang.

Terlihat samar, jam tangan itu menunjukan pukul 2 dini hari.

Ia mematikan bunyi alarm tersebut, setelah teringat ia sedang berada di tenda istirahat bersama teman-teman regunya.

Ia bingung, mengapa jam tanganya bisa berbunyi pukul 2 dini  hari. Ia bahkan tidak ingat kapan dirinya menyalakan alarmpada jam tangan miliknya.

“Ga, Raga.”

Suara itu mengejutkan Rega. Meski terdengar pelan, suara tersebut menggeliat ditengah keheningan tenda tempat regu mereka bernaung.

Raga kebingungan, ia mencari ke arah sumber suara. Ternyata ia menemukan Ginar terduduk di barisan tempat tidur wanita dengan wajah resah. Tempat tidur pria dan wanita hanya terpisah oleh tumpukan tas besar ditengah karena tenda mereka yang tidak terlalu luas. Raga mendekatkan dirinya perlahan menuju posisi Ginar tidur.


“Nar? Kenapa ?” Raga bertanya sepelan mungkin.

“Narsih Mana? “ Ginar bertanya dengan ketakutan.

Raga menengok kearah sleeping bag kosong setengah acak-acakan disamping Ginar. “Lah? Mana kutahu, Aku baru aja kebangun.” Ucap rega yang kebingungan dan kikuk karena belum lama terbangun dari tidurnya.

“Tadi Narsih tidur disebelahku, sekarang ga ada” Ginar menjawab dengan resah.

“Ya mungkin dia ke Toilet atau kemana gitu, yaudah kucoba keluar cari dia” Jawab Raga mencoba menenangkan Ginar. Sebagai wakil ketua regu, Raga merasa hal ini menjadi tanggung jawabnya.


Raga bergegas jalan menuju keluar tenda, dan menemukan dwi dan bang Rudi sang ketua regu sedang berjaga.


“Bang, liat si Narsih ga? “ Raga bertanya dengan wajah kusutnya.

“Narsih? Engga, daritadi ga ada yang ijin keluar tenda kok.” Dwi menjawab dengan santai.

“Emang kenapa? Ada yang keluar? Ga mungkin orang kita duduk menghadap ke tenda kok. Kalo ada yang keluar kita pasti lihat” Bang Rudi menjawab dengan yakin selaku ketua regu yang berjaga saat itu. Tentu saja jawaban tersebut membuat Raga bingung.


“Iya bang, Si narsih ga ada di Sleeping bag tempat dia tidur. Makanya saya keluar nanya ke abang, harusnya kalo dia keluar kan izin dulu ke abang.” Jawab Raga menjelaskan.


“Narsih? Kembaranya si Ginar? “ tanya Bang Rudi


“iya Bang, Si ginar nemuin tidurnya kosong” ucap Raga menjawab pertanyaan Bang Rudi.


“Yakin? Kamu ga ngigau kan?” Tanya Dwi mengejek sambil tertawa kecil.

“Yaelah, coba cek sendiri deh. Ngapain repot-repot aku bohong” Jawab Raga sedikit kesal. Tanpa menjawab, Dwi menuju kedalam tenda untuk membuktikan perkataan Raga. Tidak lama berselang, Dwi kembali sembari tersenyum kecil. 


“Udah dibilang, kau itu masih ngantuk. Jadinya ngigau kan, Orang lengkap semua ber-tujuh di tenda.” Dwi berkata sambil memukul kecil pundak Raga.Ia pun terdiam terdiam, bingung. 

“Coba kau cek sendiri lah, lengkap semuanya. Sekalian balik tidur saja sana, malam masih panjang”

“ Lah? Dikerjain ini ceritanya? sempet-sempetnya dasar si kembar!!” Raga memaki kesal dalam hatinya.


Countinue on #1 Comment.


Quote:



Si Kembar



anasabilaAvatar border
anasabila memberi reputasi
1
418
1
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33KThread54.9KAnggota
Urutkan
Terlama
Thread Digembok
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.