Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
104
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5d204538d43972091c5caa84/back-to-black
Kapan saat lo merasa paling bahagia? Saat lo ingin tetap tinggal di masa itu, mengisolasi masa lalu dan masa depan agar tak ada ruang gerak yang akan membuat lo berpindah dari kemarin ke esok, ah, jangankan satu hari, happy bisa berlangusng hanya satu menit, satu jam, atau sesaat saja, yang pasti saat lo hanya ingin bilang: gue ingin hidup di saat ini saja.
Lapor Hansip
06-07-2019 13:52

BACK TO BLACK

Past Hot Thread
Welcoming Party!

Party krackers!






Bagian 1: Hitam


Panggil dia El.

Siapa dia? Apa artinya perkenalan sekarang jika kalian akan membaca kisah ini? Kalian akan kenal dia dari setiap titian kisah yang akan dia tulis. Mungkin kalian akan membenci karena kenal dia, mungkin juga sebaliknya. Tapi selama kalian masih hidup, dia akan menjadi bagian dari diri kalian.

Satu hal yang pasti: She is not a nice person.

Kapan saat kalian merasa paling bahagia? Saat kalian ingin tetap tinggal di masa itu, mengisolasi masa lalu dan masa depan agar tak ada ruang gerak yang akan membuat kalian berpindah dari kemarin ke esok, ah, jangankan satu hari, happy bisa berlangusng hanya satu menit, satu jam, atau sesaat saja, yang pasti saat kalian hanya ingin bilang: dia ingin hidup di saat ini saja.

Karena kalian sudah merasakan bahwa kemarin kalian berhasil bertahan dari setumpuk kegagalan dan esok...kalian tidak ingin bertahan dari hal yang sama lagi dan lagi. Tapi hari ini, sesuatu yang berbeda terjadi dan sesuatu itu membuat kalian happy dan akhirnya kalian ingin tinggal disini, di hari ini, karena yang terjadi hari ini tidak akan terjadi lagi esok hari, atau hari setelah esok hari, atau hari-hari yang lain lagi.

Buat El, hari itu adalah saat El kecil melihat Bapaknya mengayuh sepeda dan membawa kresek putih di boncengan. El kecil tau apa isi dalam kreseknya sehingga:

“Cepet buka Pak, cepet buka!” teriak El girang. Pria paruh baya yang kulitnya legam terpanggang sinar matahari setiap hari tertawa lebar melihat tingkah anaknya yang melompat-lompat kegirangan.

Beng-beng satu kotak,
wafer Selamat satu bungkus,
wafer Tango satu bungkus,
nugget ayam yang tidak beku tapi masih dingin satu bungkus,
es krim Campina satu kotak.

Semua makanan yang El kecil sukai. Tak sabar El segera menarik tutup beng-beng hingga sobek dan membuka satu bungkus wafer berlapis karamel, butiran krispi dan coklat yang sudah meleleh lantaran panas yang tedeng aling-aling.

“Pelan-pelan, Nak!” Bapak tertawa melihat tingkah gadis kecilnya. Dengan mulut belepotan coklat, El kecil lari ke kulkas dan memasukkan nugget ayam dan eskrim ke dalam pendingin yang pintunya sudah karatan dan penyok di beberapa bagian.

Mereka berdua duduk di teras semen yang beratap asbes. Tak hanya matahari, namun angin yang turut mengalir panas membuat udara terasa engap di perumahan yang berjejer lima pintu dalam satu atap.

Mereka tak peduli.

Sang Bapak yang lelah namun sumringah melihat anaknya makan jajan demi jajan dan selalu menggeleng saat anaknya menawarkan bungkusan demi bungkusan.

Hingga sang Bapak berbaring di lantai melepas lelah dan kantuk, El kecil masih terus ngganyang. Suara radio milik tetangga terputar pelan melantunkan campursari yang El kecil bisa pahami artinya namun tak pernah bisa ia ucapkan lafalnya. Enam bungkus beng-beng berserakan di lantai, wafer tango sudah terbuka dan habis setengah baris, sendok eskrim yang lengket dan gelas air minum yang kosong tergeletak di lantai.

El kecil kekenyangan.
El kecil bahagia.
El kecil menyusul Bapaknya tidur dengan senyum lebar di bibir yang masih belepotan coklat dan remah-remah wafer.

Kenapa dia ingin mengisolasi diri dia di saat singkat itu?

Karena:

“BRAKKK!!”

El kecil dikejutkan dengan bantingan pintu kamar bedeng. Bapaknya sudah tidak ada di sampingnya, bungkus kosong beng-beng juga sudah tidak ada, sendok bekas eskrim juga sudah tidak ada, gelas berikut sisa beng-beng yang masih ada di dalam kotak dan jajan-janan lainnya juga sudah tidak ada.

“GAJI LEMBUR BUKANNYA DIPAKE BAYAR UTANG MALAH DIPAKE BELI JAJAN!” Teriakan yang tak asing lagi dari siapa asalnya.

Diam.

El kecil duduk lesu mengamati selokan yang airnya hampir setengahnya dan tak mengalir. Matahari mulai hijrah meninggalkan jejak abu-abu dengan liris jingga yang menirai langit. Sebentar lagi maghrib.

“GA USAH MIKIRIN MAUNYA ANAK KECIL KALO BERAS AJA MASIH NGUTANG! AKU MALU DITAGIH TERUS SAMA WARUNG, PAK!”

“Iya Bu, besok aku yang bilang ke Mbak Yana soal utang kita.”

“KAMU JADI LAKI-LAKI GA BECUS! GA BECUS MIKIR! GA BECUS AMBIL TINDAKAN! KALO HIDUP CUMA MAU SIA-SIA KAYAK GINI, AKU MENDING JADI TKW AJA, NGIKUT BOSKU! LIAT AJA UDAH PADA KAYA TEMEN-TEMENKU, GA KERE TINGGAL DI PETAKAN DAN NABUNG UTANG!”

“Maafin aku, Bu. Ayo sama-sama sing sabar.”

Mata Ibu nanar melihat El kecil yang mengintip lewat celah pintu. Ibu berdiri, menghampiri El kecil, lalu tamparan, jeweran, dan jambakan bergantian mendarat di tubuh El kecil.

Bapak berteriak. Ibu berteriak.

El kecil menangis tak berani bersuara, karena semakin ia bersuara maka akan semakin banyak jumlah hantaman yang ia tanggung.

Bapak dan Ibu bersuara keras.

Kepala-kepala terlongok dari pintu-pintu bedeng. Ibu masuk bedeng lagi. Bapak memeluk El kecil. Ibu keluar bedeng. El masih meringkuk. Bapak berdiri.

Lalu semuanya berteriak dan berlari ke bedeng keluarga El.

Tubuh Bapak terkapar dengan pisau dapur yang tertancap di perutnya.

Tamparan, jambakan, tendangan, pukulan. El kecil tau caranya menangis tanpa suara, El tau caranya tidak menangis, El tau caranya melindungi diri agar tidak menerima lebih banyak lagi hantaman dari Ibunya.

Tapi melihat tubuh Bapaknya kejang dengan darah mengalir dari tempat pisau itu bersarang, El kecil mengeluarkan semua udara dalam paru-parunya, berteriak memanggil Bapaknya…

Apakah cerita ini nyata? Entahlah, dia juga kehilangan batas nyata dan tidak nyata saat dia banyak menyaksikan kekejian prilaku yang bisa dilakukan oleh manusia ke manusia lainnya.

Apakah ini mimpi? Dia juga tidak bisa membedakan apakah dia terbangun atau tertidur karena tak jarang tidur dengan mimpi indah adalah satu-satunya salvation/penyelamat namun selalu terjaga saat dia masih ingin diayun dalam tilam, dan tak sedikit mimpi buruk yang justru tak kunjung membuat diri terbangun.

What’s the point of being real or not when the only sure thing is being alive? Sadness and happiness are two fragilest interchangeable things.

Bukankah bertahan adalah satu-satunya hal yang makhluk hidup lakukan setiap hari sejak jaman purba hingga kini?

This is El’s survival story.

I know you will love her,
I know you will hate her,
I know you will kiss her,
I know you will kill her,

I know she will make you feel nothing.

This is Back To Black.

Diubah oleh ladeedah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
bukhorigan dan 21 lainnya memberi reputasi
22
Tampilkan isi Thread
Masuk untuk memberikan balasan
Halaman 2 dari 6
BACK TO BLACK
08-07-2019 21:04
Oalah Ajeeeeng, dikau kemana aja sih
*Jiwitbokongnya
Sehat?
Hans tambah ganteng Ndak?
emoticon-Ngakak
0 0
0
BACK TO BLACK
08-07-2019 21:51
Quote:Original Posted By dtvaganza
Geser dikit dong, numpang duduk emoticon-linux2

Bah wkwkkwkw u kok ad dsni jg mbah? Jan godain ts ny ye emoticon-Ngakak (S)

Quote:Original Posted By vaaviivoo
Hai, Bund.

Haiii gan unyu..lama amat ga liat dirimu neh emoticon-Malu (S)

(Ye gimana bisa liat kl ud hampir setaun ngaskus cm cari kuis) emoticon-Nohope
0 0
0
BACK TO BLACK
08-07-2019 23:16
Quote:Original Posted By otihime

Haiii gan unyu..lama amat ga liat dirimu neh emoticon-Malu (S)

(Ye gimana bisa liat kl ud hampir setaun ngaskus cm cari kuis) emoticon-Nohope

Ngaskusnya sekalian buat dapur tetep ngebul yekan. Wkwk
Gimans kuisnya? Lancar ga?
profile-picture
midim7407 memberi reputasi
0 1
-1
BACK TO BLACK
09-07-2019 18:49

Bagian 4: Kejutan

Kedua tangan itu masih menutup mata gue dari belakang. Tak ada suara, tapi gue rasa gue tau pemilik tangan ini. Dia tidak benar-benar merapatkan tangannya sehingga gue masih bisa melihat cahaya putih dan hangat menerobos masuk.

Gue tersenyum.

Bukan.

Gue tertawa.

Lalu dia tertawa. Bukan gelak seperti gue, tapi desah tawa. Bisa gue rasakan getar pelan tubuhnya di punggung. Lalu udara hangat menerpa pipi.....

....mendekati telinga...

Tawa gue terhenti, berganti dengan nafas yang hati-hati, menunggu apa yang akan dia lakukan...

"Hanum."

HAH!!

Gue tersentak bangun. Kesima, kejut dan gairah bercampur dalam senggal nafas yang perlahan teratur. Lalu berganti dengan rasa sipu malu.

Sial.

Sesederhana mimpi. Seperti itulah gue membuka hari ini.

Sekolah itu membosankan jika dilihat dari rutinitas belajar ilmu alam, matematika, sosial, dan bahasa. Tidak akan ada yang bisa bertahan tanpa motivasi pribadi. Ide pergi ke sekolah karena ingin meraih cita-cita dan membahagiakan orang tua terdengar dusta saat ini berlangsung dalam waktu yang saklek dan terus-menerus. Manusia memiliki individualitas diri yang berisi keinginan untuk memilih dan hak untuk menjadi diri sendiri.

Buat mereka yang punya teman, bertemu dengan teman di sekolah menjadi penyemangat sendiri. Buat mereka yang punya pacar satu sekolah, ini lebih jadi motivasi lagi: pulang pergi bareng, di sekolah curi-curi kesempatan untuk sekedar lewat di depan kelas masing-masing, berpapasan, menyelinap ke perpustakaan untuk berdua di antara rak-rak buku, atau duduk berdua di kantin, menebalkan telinga dan rasa malu tapi mau atas ledekan teman-teman.

Atau seperti gue, yang pergi ke sekolah demi melihat siswa yang gue sukai? 

Dan kini, guru yang gue sukai.

Kaki ini ringan. Hati ini riang.

Wajah ini....siapa yang akan peduli jika wajah ini akan tertawa atau menangis?

Pelajaran pertama adalah Matematika.

Ummmm....

Oke, gue memimpikan guru baru gue. Pria yang baru gue lihat beberapa kali dan terakhir semalam sudah bisa membuat otak gue berimajinasi lancang hingga ke mimpi.

Kedekatan maya tadi malam membuat gue seketika tertunduk saat Pak Damian masuk kelas.

"Selamat pagi! Gimana tidur kalian semalam?"

Pak Damian belum mendapatkan seragam. Hari ini dia mengenakan kemeja lengan pendek berwarna merah marun dan celana panjang hitam. Ia letakkan bukunya di atas meja lalu duduk di sudutnya. Tampaknya itu posisi kesukaannya. Ia kantongi kedua tangannya di saku celana dan melihat ke semua murid.

Pertanyaannya membuat gue malu. Gue memilih menyibukkan mata menatap ke rambut Wanda yang hari ini dikepang dengan aksesoris buah ceri di karetnya. Sesekali gue melihat Pak Damian, namun dia tidak melihat gue.

"Mimpi enak, Pak!" Jawab Jojo disusul tawa sekelas.
"Makan di rumah makan mana Jo?" Pak Damian mengubah candaan Jojo.

Candaan yang menyambung ke candaan berikutnya dan berikutnya.

"Oke, hari ini kita serius belajar Matematika ya! Kalo ada yang mau belajar bilang cinta jangan ke saya tanyanya!"
"Eciee jomblo nih si Bapaaak!" Umpan Nanda. Pak Damian terkekeh sambil mengusap matanya yang berair akibat tawa.

Dia semakin tampan saat tertawa. Jantung gue berhenti sejenak untuk menunggu jawaban atas candaan Nanda, jawaban yang sangat ingin gue ketahui jika bagus, namun jangan dikatakan jika tidak bagus.

"Cukup Nanda! Nanti banyak yang daftar kalo saya bilang saya jomblo!"

Apa artinya? Dia memang single?

Ada buncah senang dalam hati. Tapi tergantung tanpa kepastian dari Pak Damian karena setelah itu dia langsung berbalik badan, mengambil kapur dan menulis di papan tulis.

“Mbak El!”

Zen menghampiri meja gue saat pelajaran Matematika selesai.

“Sore ini latian baris bareng sama temen-temen dari kelas lain Mbak, jam 3 di lapangan. Bisa kan?”

Gue mengangguk dan melanjutkan menyalin catatan di papan tulis yang belum selesai. Zen tidak beringsut, justru duduk di kursi kosong sebelah gue.

“Mbak El mau masuk kepengurusan di OSIS ga?”
Diubah oleh ladeedah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
BACK TO BLACK
09-07-2019 19:02
Ada apa ini rame2? emoticon-Belo

Anyiang, gue ga tau cara bikin indeks di UI yang baru emoticon-Ngakak
Gimana sih?

komen
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
BACK TO BLACK
09-07-2019 19:07
Ketinggalan emoticon-Ngakak (S)

Quote:Original Posted By Cahayahalimah


Ok akak salam kenal,emoticon-Shakehand2emoticon-Shakehand2

Salam kenal kembali, semoga ga betah disini wkwkwkwk
makasih ijo2nya, lagi winter disini, pesennya cindul anget ya Mbak, kalo pake es nanti batuk kata Mama emoticon-Leh Uga
Quote:Original Posted By evywahyuni

Okelah kalo begituemoticon-Shakehand2

Oke Mbak Evy, makasih ya cindulnya emoticon-Malu (S)
kata Mama semoga rejekinya lancar selalu, mau nomer teleponku ga? emoticon-Betty
Quote:Original Posted By asrulrahimsyah
Hallo tante nay akhirnya penulis favorit ane comebackemoticon-Malubettyemoticon-Betty

Haloooohhhh!!!! Pakabar??
Penulis uyuhan, ini kayak keluar dari gua, temen2nya dah pada ilang emoticon-Nohope
Quote:Original Posted By doctorkelinci
+1 for tonight

Sundul ya, biar kamu semangat update. emoticon-Matahari










emoticon-Paw


Makasih cindulnya Bang emoticon-Malu (S)
Ga usah disundul, gue malu kalo trit gue muncul di deretan post pejwan emoticon-Leh Uga
profile-picture
profile-picture
i4munited dan evywahyuni memberi reputasi
2 0
2
BACK TO BLACK
09-07-2019 19:13
Quote:Original Posted By ladeedah
Ada apa ini rame2? emoticon-Belo

Anyiang, gue ga tau cara bikin indeks di UI yang baru emoticon-Ngakak
Gimana sih?

komen

Hehehe iya tant,dari kemaren di cariin tante oti mulu ampe dia ga bisa tidur 3 hari 2 malememoticon-Leh Uga
0 0
0
BACK TO BLACK
10-07-2019 05:49
Quote:Original Posted By kucingkuncung
Hehehe iya tant,dari kemaren di cariin tante oti mulu ampe dia ga bisa tidur 3 hari 2 malememoticon-Leh Uga

Ga tidur 3 hari 2 malem masih belum membuktikan apa2, kecuali kalo dia kurus sekurus gue, gue beru pecaya emoticon-Leh Uga
Quote:Original Posted By rezaegamo
Baik, tante kemana saja? tak kira sudah dimaem Cthulhu emoticon-Malu


Gue muter2 d usus Our Lord Savior Ctulhu Za, terus gue dimuntahin lagi kesini lagi deh emoticon-Ngakak (S)
0 0
0
BACK TO BLACK
10-07-2019 09:58
Quote:Original Posted By ladeedah
Gue muter2 d usus Our Lord Savior Ctulhu Za, terus gue dimuntahin lagi kesini lagi deh emoticon-Ngakak (S)


Terdampar disini, atau memang seharusnya ada disini tan? emoticon-Ngakak
0 0
0
BACK TO BLACK
11-07-2019 07:39

Bagian 5: Tiang Bendera

Sudah ada beberapa orang di lapangan saat gue bergabung untuk latihan bersama siang itu. Kumpulan yang terdiri dari siswa kelas dua dan kelas tiga. Mereka mengobrol berkelompok dan saling sapa dengan yang baru datang bergabung, tidak dengan gue. Beberapa orang tersenyum ke gue namun tidak menunjukkan ketertarikan untuk mengobrol lebih.

“Mbak El kepilih juga? Sama siapa Mbak dari kelas 2 F?”

Sasi menghampiri gue. Dia siswi kelas 3 C.

“Sama Gema, Sas.”

“Zen ga kepilih?” Ada gurat kecewa dalam pertanyaannya.

“Zen kan ketua OSIS Sas, banyak yang harus dia kerjain kali.” Timpal Danes, teman akrab Sasi.

“Eh itukan guru baru itu ya??” Danes menarik lengan Sasi untuk melihat ke arah yang dia tunjuk.

“Ada Pak Ganteng! Ada Pak Ganteng!” Beberapa siswi berbisik gelisah.

Pak Damian berjalan bersama Kak Restu dan Zen menuju ke arah kami. Kak Restu adalah anggota keperwiraan yang bekerja di kantor kecamatan. Dia baru lulus pendidikan tahun lalu dan usianya yang masih muda sering menjadi bahan pembicaraan inspiratif dan kekaguman di antara orang-orang yang mengenalnya. Gue menguping pembicaraan beberapa murid tadi bahwa Kak Restu ditunjuk menjadi pelatih kami bersama dua orang temannya. Tapi hari ini hanya dia yang datang.

Zen segera membariskan kami bersama Kak Restu yang mengatur posisi tinggi badan. Kemudian Zen mengabsen kami satu persatu. Semuanya hadir.

“Selamat sore, Anak-Anak!” Pak Damian mengawali latihan perdana kami.

“Selamat pagi, Pak!” Jawab beberapa siswa laki-laki disertai cekikik pelan saat hampir sebagian besar menjawab dengan selamat sore.

“BUKAN WAKTUNYA BERCANDA! JAWAB DENGAN BENAR!” Bentak Kak Restu yang seketika membuat kami ciut dan diam. Kak Restu mengangguk ke arah Pak Damian.

“Selamat sore, Anak-Anak!” Ulang Pak Damian.

“Selamat sore, Pak!” Jawab kami serentak. Takut namun serentak.

“Saya ditugaskan oleh Pak Ardi untuk mendampingi sekolah kita selama latihan hari ini dan saat latihan bersama setiap akhir pekan di lapangan. Pak Lukas dan Pak Remo juga akan hadir, mungkin akan bergantian menyesuaikan jadwal kesibukan masing-masing juga. Saya harap kalian akan melaksanakan yang terbaik dan membawa nama baik sekolah kita. Di samping saya ini adalah Pak Restu, beliau yang akan melatih kalian bersama sekolah yang lain juga. Pak Restu juga akan dibantu oleh beberapa tim pelatih. Pesan Pak Ardi adalah satu: kalian harus disiplin dan mendengar instruksi pelatih. Mengerti?”

“Mengerti Pak!”

Pak Damian tersenyum singkat ke arah Kak Restu untuk mengambil alih pidato.

Kak Restu mengamati kami dari ujung barisan kiri ke ujung barisan kanan. Pakaian dinas berwarna hijau lumut yang agak pressed body membuat postur langsing, tegap dan tingginya semakin jelas.

“Beberapa dari kalian yang mengenal saya dengan panggilan Kak Restu WAJIB memanggil saya Pak Restu selama proses pelatihan berlangsung! Setelah upacara 17 Agustus selesai, kalian boleh menganggap saya teman kalian dan bercanda lagi, tapi selama proses ini berlangsung saya adalah pelatih kalian dan saya tidak akan ragu-ragu menghukum jika ada yang main-main! Paham?”

“Paham, Pak!”

Latihan pun dimulai. Kali ini lebih tegang karena langsung dibawahi Pak Restu. Gue tau rumahnya. Gue sering melihat dia bersama teman-temannya. Tapi melihatnya bertugas dalam keadaan seperti ini adalah pertama kalinya bagi gue. Hari ini kami hanya latihan di tempat, tidak berpindah tempat seperti jalan, geser, maju atau mundur. Kami hanya belajar hadap kanan-kiri, balik kanan, lencang kanan dan depan, dan berhitung dalam barisan. Namun begitu, rasa lelah yang sebenarnya didominasi rasa takut akan kelantangan suara Pak Restu sangat terasa saat matahari senja menukik di ufuk barat.

Sepanjang latihan Pak Damian berdiri melihat kami bersama Zen. Sesekali mereka mengobrol, namun tampak ikut hikmat mengamati latihan. Di belakang mereka tiang bendera dengan benderanya yang berkibar seakan menjadi gada-gada penunjuk rasa campur aduk dalam dada.

“Sas!” Panggil Zen ke Sasi saat barisan dibubarkan. Sasi menoleh ke arah Danes yang selalu bersamanya, Danes hanya melambaikan tangan dan menjauh dari Sasi dan Zen.

Beberapa siswa laki-laki dan perempuan menghampiri Pak Damian dan becanda sembari berjalan kembali ke kelas untuk mengambil tas masing-masing.

Di antara jingganya cahaya senja, gue mengamati senyum, binar mata dan tawa Pak Damian.

Jadi dia akan mendampingi selama latihan?

“Mbak El, aku dibilangin Zen, katanya kamu masuk divisiku ya?” Veda meraih pundak gue dan berjalan sejajar.
“Makasih ya Mbak!” Veda menambahkan lagi sebelum gue menjawab apapun.
“Kita juga udah dapet pembina OSIS, tadi aku sama Zen dipanggil Pak Ardi sebelum ke lapangan.”

“Siapa?” Tanya gue.

“Tuh Pak Ganteng!” Veda memanyunkan bibirnya ke arah Pak Damian.

Ada tawa yang tersenggal dari mulut gue. Untung gue segera sadari itu sehingga segera gue tarik kembali. Veda tampak tak tau atau tak peduli, ia sudah berlalu menghampiri teman-temannya di depan.

Beberapa jam lalu di dalam kelas:

“Gini Mbak, kami kan lagi membentuk kepengurusan baru, nah gue belum dapet temen yang mau nemenin Veda jadi divisi humas. Tenang-tenang, Mbak El ga akan banyak--"

Zen mungkin melihat kepanikan gue saat dia bilang humas, atau mungkin dia sudah mempersiapkan reaksinya karena semua orang juga tau El adalah orang yang tidak banyak bergaul. Dia memberi jeda bicaranya dan membuat bahasa dengan tangan.

"....ga akan banyak bicara dan berhubungan dengan orang-orang. Itu maksud gue. Veda udah sangat jago dalam hal itu, cuma kita kan punya program sekolah yang ngajar ke sekolah TK tiap akhir bulan, nah gue butuh orang yang--justru ga banyak omong tapi mau kerja. Review tahun lalu, programnya banyak ga kelaksana karena pada males Mbak."

Gue mendengarkan Zen, mendengarkan setiap kata-katanya. Sejak gue mengenal dia di kelas satu, gue bisa melihat kharismanya sebagai pemimpin dengan dia selalu tampil memimpin kelas, kapten di sepak bola, sabuk coklat di karate, memimpin kelompok kelas atau sekolah saat lomba di luar sekolah, dan pasti juara kelas setiap semester. Pembawaannya juga kalem, tak banyak bicara tapi tegas saat harus berbicara.

Gue juga memilih dia menjadi ketua OSIS saat kami voting.

"Gue--ga bisa."

Mungkin suara kodok terinjak masih lebih indah dibanding suara gue. Saking seringnya gue diam, gugup dan tak siap bicara, tenggorokan ini sering kering dan mungkin trakea gue juga karatan sehingga aliran udara yang tiba-tiba mengakibatkan pita suara meliuk ringsek. Kadang serak, kadang terbelok, kadang terputus.

Kali ini serak, hingga harus gue bangkitkan pita suara dengan berdehem dan mengulang jawaban yang semakin terdengar bodoh.

"Ga usah khawatir Mbak, kita semua juga ga bisa berorganisasi kok. Kita belajar bareng-bareng. Ya?"

Gue menggeleng.

"Tolong Mbak El. Gue bisa liat kok kemampuan Mbak El. Ga semua orang bisa liat itu dan gue rasa Mbak cuma butuh temen buat menyemangati itu."

Ini pertama kalinya gue berani menatap mata Zen, mencari kebenaran dari kalimatnya barusan. Akhirnya ada orang yang bisa melihat gue!

"Gue ga punya pengalaman apa-apa."

"Ga apa-apa Mbak, gue nyari orang yang mau belajar, punya pengalaman percuma kalo gabisa diajak kerja bareng."

Sumringah di wajah Zen berbarengan dengan anggukan gue. Gue senang ada yang bisa melihat diri gue....dan itu Zen. Pria yang pernah gue tulis namanya di halaman paling belakang buku-buku gue, pria yang pernah gue idamkan, pria yang pernah gue mimpikan, pria yang terletak dideret "pacar impian", tentu saja sebelum Pak Damian datang.

Apakah ini juga kesempatan gue untuk punya teman? Menjadi bagian dari organisasi yang anggotanya dikenal oleh penjuru kampus dan guru? Dengan begitu orang akan mengajak gue berteman tanpa gue perlu berandai-andai memiliki teman baru?


Tapi motivasi gue bertambah lagi, gue akan mempunyai waktu lebih yang lain untuk melihat Pak Damian.

Bendera masih berkibar di tiang bendera yang hanya setengahnya terkena rona senja.
Diubah oleh ladeedah
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rinandya dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
BACK TO BLACK
13-07-2019 14:47
jadi pengen nangis, ceritanya bikin sedih gan. tunggu update selanjutnya ya gan
profile-picture
midim7407 memberi reputasi
0 1
-1
BACK TO BLACK
13-07-2019 17:18
5 meter persegi
mampir jika berkenan
0 0
0
BACK TO BLACK
14-07-2019 18:12
Titip sendal
profile-picture
fatille memberi reputasi
1 0
1
BACK TO BLACK
14-07-2019 20:06

Bagian 5: Teman

Gue tidak sabar menunggu kapan akan kumpul perdana pengurus OSIS. Gue tidak sabar melihat Pak Damian dari dekat dan mengobrol tentang kegiatan OSIS. Gue tidak sabar pergi ke sekolah-sekolah TK sebagai kegiatan rutin kami bersama Pak Damian yang akan mendampingi kami. Gue hanya ingin melihat dia dari dekat dan mendengarkan dia bicara lebih lama dengan semua keindahan yang dia miliki di wajahnya.

Latihan paskibra benar-benar menguras energi. Seluruh latihan di dominasi oleh Pak Restu dan dua temannya, Pak Malik dan Pak Andi. Keduanya tidak semuda Pak Restu, tapi bisa kami lihat jabatan keduanya jauh lebih tinggi dibanding Pak Restu karena Pak Restu memanggil mereka dengan panggilan Ndan (Komandan). Di Sabtu pertama ini juga Pak Lukas, Pak Remo, Pak Ardi dan Pak Damian mendampingi kami. Pembukaan dan waktu istirahat diisi oleh Pak Ardi dan kepala sekolah yang lain, sementara guru-guru yang lain lebih sering mengobrol dengan pelatih dan sesama mereka.

“Gue tau lo.” Celetuk siswi yang duduk di sebelah gue. Dari logo lokasi di lengan bajunya, dia berasal dari SMP 3, tak jauh dari sekolah kami, namun memiliki akreditasi lebih tinggi.

“Lo yang sering nganterin tempe ke pasar kan kalo pagi?” Tanyanya meyakinkan.

Gue tidak keberatan dengan pekerjaan rutin itu setiap pagi, namun gue selalu mengenakan jaket diluar seragam. Pertama karena gue tidak ingin seragam gue kotor, kedua, gue berusaha meminimalisir kemungkinan orang lain melihat gue adalah siswi SMP dan mengenali lokasi sekolah gue. Karena seperti ini, saat dia mengenali gue dari pekerjaan gue setiap pagi, yang sudah berusaha gue sembunyikan, dia tetap tau. Intinya, yaa, gue sedikit malu dengan rutinitas gue. Tapi tanpa begitu, gue tidak akan mendapatkan uang jajan lebih.

Ada rasa yang seperti terjun dari jantung ke perut saat dia menegaskan itu, rasa yang merupa dalam rasa malu untuk sekedar mengangguk.

“Emak gue juga jualan di pasar! Kan ngambil tempenya ke Kakak lo juga! Lo ga pernah liat gue?”

“Enggak.”

“Iyalah lo jalan nunduk mulu sih! Nganter tempe juga kagak ngomong apa-apa! Padahal gue juga selalu nemenin Emak gue nyusun dagangan di pasar!”

“Gue Poppy! Lo El kan?”

Poppy mengulurkan tangannya menyalami gue.

“Itu guru lo ya?” Poppy menunjuk ke arah Pak Damian yang sedang mengobrol dengan Pak Ardi.

Gue mengangguk.

“Itu yang katanya ganteng banget? Sampe ke sekolah gue itu gosipnya guru ganteng!”

“Masa??” Jawaban gue lebih terdengar tak rela dibandingkan tak percaya.

“Iya! Banyak yang ngefans sama tuh guru, balik sekolah aja pada nungguin di deket tokonya Bu Salma, rumahnya kan deket situ katanya.”

Gue mengikuti arah mata Poppy yang masih memandang Pak Damian. Gue baru tau kalau rumah Pak Damian di dekat toko Bu Salma.

“Menurut gue biasa aja ah, ga ganteng-ganteng amat!” Kilah Poppy sambil mengelus-elus dagunya.

“Kenapa lo ketawa?” Poppy berpaling ke gue lagi. Gue langsung diam.

“Baru kali ini gue denger ada yang bilang Pak Damian ga ganteng.”

“Si Poppy kebanyakan gaul sama kuli di pasar!” Celetuk seorang siswi yang ditanggapi Poppy dengan lemparan sejumput rumput-rumput lapangan yang dia cabuti.

“Hari ini gue ga liat lo ke pasar, El?”

“Gue takut kesiangan kesini jadi gue ga nganter pagi ini.”

Pak Restu memanggil kami untuk berbaris lagi. Gue melihat Poppy menuju ke bagian ujung dari tempat gue berada. Dia berada di barisan dengan tinggi badan yang tidak setinggi gue. Deretan barisan yang didominasi oleh para siswi. Poppy tersenyum ke gue. Ada rasa girang yang menghinggapi hati gue, rasa yang selalu ingin melihatnya masih di barisannya atau tidak.

“Lo bekel apa?” Poppy membawa kotak bekalnya mendekati gue saat tatapan mata kami bertemu sama-sama mencari teman makan siang.

“Nasi goreng!” Gue buka tutup bekal gue.

“Eh sama!” Poppy juga membuka miliknya, dia dengan tempe dan telor dadar, gue dengan telor ceplok.

“Ini tempe bikinan Kakak lo loh, enak tau, ga kecut meskipun udah dari kemaren pagi! Lo pasti udah bosen makan tempe ya El hahaha!”

Kami mulai makan dan saling mencicipi masakan masing-masing. Nasi goreng Poppy ia bumbui kunyit dan terasi, itu baru bagi gue tapi rasanya sangat lezat. Sedangkan menurut Poppy, nasi goreng gue pedasnya pas. Kami pun berujung bertukar bekal.

“Lo ga punya temen ya El?” Poppy merangkul lengan gue setelah kami menyelesaikan rutinitas latihan pertama kami saat waktu sudah menjelang pukul lima sore.

Gue tau tidak adalah jawaban yang benar, tapi jawaban itu pasti terdengar menyedihkan sehingga gue memilih diam.

“Gue juga ga punya temen deket. Gue kenal sama banyak orang tapi mereka cuma kenal gue anak pasar, pacar gue kuli pasar, tambah aja banyak yang ngejekin gue.” Jelas Poppy enteng.

“Lo punya pacar?” Bagian itu membuat gue tidak bisa menahan diri untuk tidak menanyakan, terutama bagian kuli pasar, sebenarnya.

“Iya gue udah enam bulan pacaran sama dia! Dia kerja di pasar situ, tukang ngangkutin sayuran kalo pagi. Tapi lo jangan bilang-bilang emak gue ya! Backstreet!” Bisik Poppy sambil melirik sekitarnya, lalu ia tambahi dengan tawanya yang lepas.

Gue mengangguk mantap dan menunjukkan dua jari membentuk V sebagai tanda gue akan jaga rahasianya.

“Besok-besok kita berangkat bareng aja ke sekolah dari pasar! Oke!”

Gue mengangguk berkali-kali sambil mengacungkan jempol. Poppy masih belum melepaskan rangkulan tangannya di lengan gue, namun gue menyukai kehangatan pertemanan yang baru ini. Ini adalah pertama kalinya ada yang sedekat ini dengan gue. Tanpa melihat gue dengan canggung dan rikuh. Tanpa memanggil gue Mbak. Orang pertama yang melihat gue seperti teman-teman sebayanya.

“Lo suka ya sama guru lo itu?”

Gue terkejut dengan pertanyaan Poppy dan segera mengalihkan pandangan gue yang memang sedari tadi mencuri pandang ke arah Pak Damian yang berjalan tak jauh dari kami.

“Kok—lo bisa bilang gitu?” Tanya gue gugup.

“Semua cewek suka sama dia! Kecuali gue. Gue sukanya sama pacar gue!” Poppy mencibir ke arah Pak Damian.

“Karena Pak Damian ga seganteng pacar lo?” Tanya gue berusaha guyon.

“YESS! Beneran! Kata emak gue kalo kita jatuh cinta ke seseorang, orang itu akan jadi yang paling ganteng atau yang paling cantik! Ga ada yang ngalahin wajah pasangan yang saling jatuh cinta!”

“Tapi tetep aja Nicholas Saputra paling ganteng diantara semua pria! Mutlak!” Celetuk seorang siswi, gue tidak tau namanya dan dia bukan dari sekolah gue.

“Eh lo jangan deket-deket dia, ntar lo dibawa gaul sama kuli pasar!” Tambahnya ke gue. Poppy mendaratkan tendangan ke betis siswi itu namun dia sudah lebih dulu berlari sambil menjulurkan lidahnya ke Poppy. Poppy hanya mendengus kesal dan mengepalkan tinjunya ke arah siswi yang hanya cekikikan melihatnya.

“Terserah lo mau temenan sama gue apa enggak, tapi emang temen-temen gue banyaknya orang-orang pasar yang pada ga sekolah.”

Ada nada kesal bercampur putus asa di pernyataan Poppy.

“Gue udah biasa diejekin begitu.” Poppy melihat ke arah siswi yang berjalan bersama teman-temannya jauh di depan kami.

“Gue ga punya temen dan selalu pengen punya temen. Gue ga akan milih-milih siapa yang akan dateng ke gue dan ngajak temenan, sekalipun sama temen-temen lo yang kuli pasar, kalo mereka mau temenan sama gue, kenapa enggak?”

Gue rangkul balik lengan Poppy dan kami tertawa bersama.

profile-picture
profile-picture
profile-picture
rinandya dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
BACK TO BLACK
14-07-2019 20:18
Quote:Original Posted By rezaegamo
Terdampar disini, atau memang seharusnya ada disini tan? emoticon-Ngakak

Hahaha nowhere to go ya emoticon-Ngakak (S)
Quote:Original Posted By itik.buruk.rupa
jadi pengen nangis, ceritanya bikin sedih gan. tunggu update selanjutnya ya gan

Jangan nangis sekarang, nanti aja gan disimpen dulu emoticon-Malu (S)
Quote:Original Posted By ih.sul
5 meter persegi
mampir jika berkenan

Siap! Kalo sudah luangan dikit ane mampir emoticon-Kiss (S)
Quote:Original Posted By kribo.alim
Titip sendal

Silakan, jangan lupa di aibon sendal kanan dan kirinya biar ga ilang emoticon-Big Grin

====

Kaskus auto generate picture kah? Kok udah ada gambarnya kalo di notif hape tapi di trit sininya ga ada emoticon-Bingung
Dan baru tau klo sempet hate ya kemaren emoticon-Leh Uga
0 0
0
Post ini telah dihapus
BACK TO BLACK
15-07-2019 07:02
bagian awalnya ajah udah nyesekkk
0 0
0
Post ini telah dihapus
BACK TO BLACK
16-07-2019 09:29
ya ampuuun ajeeeeeng, lo ga tau berapa purnama gw nungguin lo, pantes akhir2 ini tiba2 terbesit buat nengokin trit yang lama lo selingkuhin haaa....

welkombek darling, i miss you alot... i adore you alot
0 0
0
BACK TO BLACK
18-07-2019 09:55
Welcome back mbak nay emoticon-Selamat
Akhirnya ada yg membuatku kembali lagi ke kaskus emoticon-Malu

Btw mbak, itu Remo memang muncul dua orang yak emoticon-Bingung
0 0
0
Halaman 2 dari 6
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
denting-waktu-dalam-ruang-sepi
Stories from the Heart
tenung-based-on-true-story
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Heart to Heart
Heart to Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia