Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Pengumuman! Ikuti Surveynya, Dapatkan Badge-nya! Klik Disini
54
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5cf53f419a972e0585587e2d/the-wisdom-of-love
Bahwa dalam mencintai itu minimal harus adil, idealnya harus bijak. “Dan sebaliknya... Jika berpenampilan menarik, agar mendapat simpatik, maka dia adalah penipu” *** Waringin, Kabupaten Hulu Sungai Utara, 1957. Dua orang berpakaian serba putih, memakai kacamata putih, dan berpeci hitam turun d
Lapor Hansip
03-06-2019 22:39

The Wisdom of Love

Past Hot Thread
icon-verified-thread

The Wisdom of Love


THE WISDOM OF LOVE
(Tamat)

♡♡♡
DAFTAR ISI

♡♡♡♡
Sebuah Roman Picisan
By Aboeyy

***
“…Bahwa dalam mencintai itu minimal harus adil, idealnya harus bijak.”
***

PASAL 1:
NASEHAT SANG PENGEMIS

***
“Dan sebaliknya...
Jika berpenampilan menarik, agar mendapat simpatik,
maka dia adalah penipu”
***

Waringin, Kabupaten Hulu Sungai Utara, 1957.

Dua orang berpakaian serba putih, memakai kacamata putih, dan berpeci hitam turun dari mobil tua buatan Jepang.

Orang yang duduk di samping stir yang pertama keluar, disusul oleh sopir. Belakang bajunya yang bermerek Rafles basah oleh keringat. Mobil yang sering rewel memaksanya menyumbangkan energi untuk membangkitkan tenaga mobil itu.

Sebuah pulpen tinta berwarna putih mengkilat seperti perak, terselip di saku baju, sementara tangan kirinya mengapit sebuah stopmap yang kumal sudut-sudutnya. Keduanya membawa misi yang sangat penting.
***
Waktu pendaftaran tinggal 1 hari, namun belum ada seorang pun yang mendaftar, padahal pengumuman disebar ke seluruh pelosok desa, sejak 4 bulan sebelumnya. Sebuah waktu yang cukup panjang untuk menutup alasan masyarakat tidak mengetahuinya.

Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten mondar mandir di kantornya. Hanya beberapa detik duduk di kursi, ia bangkit lagi menuju meja pendaftaran, seolah-olah pantatnya tidak betah dengan busa empuk itu. Keringat membasahi mukanya.

“Sudah ada yang mendaftar?” tanyanya resah.

“Belum ada, Pak!” jawab petugas pendaftaran.

Ia balik lagi ke ruang kerjanya. Di puncak keresahan, ia mengambil alih posisi bagian regestrasi. Tidak puas di depan pintu, ia beralih ke tepi jalan.

Papan plakat yang bertuliskan “Tempat Pendaftaran Calon Guru Agama” dipindahkannya dengan posisi melintang setengah ruas jalan. “Mungkin masyarakat tidak tahu tempatnya,” duganya.

Matanya tajam memandang setiap orang yang lewat, dari hilir ke hulu, hulu ke hilir. Jika ada orang yang membawa map, atau yang mirip dengannya, tak segan-segan beliau bertanya ke mana tujuannya.

Panasnya sinar ultra violet tidak menyurutkan semangatnya. Tubuhnya berteman akrab dengan matahari. Kulitnya tidak menghitam, namun hatinya terbakar. Ia mempertaruhkan jabatan dan reputasinya. Jika sampai batas waktu tidak ada pendaftar, ia merasa sangat bersalah kepada Kepala Depag Propinsi.

Kalaupun Kakandepag Tingkat I tidak memberikan sanksi, namun rasa bersalah itu cukuplah sebagai hukuman yang paling berat baginya.

Rasa penyesalan akan terus menghantui dirinya, sekalipun setelah ia pensiun nanti. Walaupun kesalahan itu bukan karena kelalaian, ia tetap menganggap itu sebagai hal yang tak dapat dimaafkan.

Begitulah loyalitasnya terhadap tugas, memposisikan pendidik dan pendidikan lebih berharga dari jabatannya.

Ia melepas baju dinas yang basah oleh keringat yang mengalir bersama semangatnya, bertepatan dengan jarum jam ditangannya yang menunjukkan berakhirnya waktu pendaftaran.

Petugas registrasi telah menutup buku. Ia bersiap-siap pulang, ketika sang Kepala Kantor itu menyapa dengan ekspresi yang teramat serius:

“Beritahu semua karyawan, jangan ada yang pulang. Kita rapat darurat hari ini.”

“Saudara-saudara, saya benar-benar mohon maaf, karena seharusnya sekarang kita sudah pulang. Saya minta waktu kalian sebentar, namun waktu yang beberapa menit ini lebih berharga dari pengabdian kalian selama ini, dan pengorbanan hingga pensiun nanti.”

Kepala Kantor hanyut dalam kata-katanya. Seumur hidup, baru kali ini beliau memimpin rapat seperti itu. Semua karyawan mematung bagai menantikan vonis hakim.

Biasanya dalam setiap rapat, pasti ada yang interupsi. Kini, mereka benar-benar bisu, sampai ia mengucapkan kalimat terakhir mukaddimah-nya:

“Kalian tentu sudah tahu masalah yang akan kita bahas, yaitu sampai detik ini belum ada seorangpun yang mendaftar. Karena itu, kita rapat untuk mencari solusinya.”

Suasana hening. Bapak Kepala memberi mereka waktu sekitar 10 menit untuk menguras otak.

“Pak Ahmad, bagaimana pendapat Bapak?” tanya sang Kepala memecah kesunyian. Yang ditanya diam dengan wajah menunduk, tak berani menatap wajah beliau.

“Pak Halim, bagaimana saran Bapak?” Yang ditanya semakin menekur, seolah masih berpikir.

“Kalau begitu, bagaimana kalau kita sendiri yang harus bertindak, mencari calon guru agama?” usul Pak Tamrin, sang Kepala Depag, ketika tak seorang pun memberikan masukan.

“Setuju Pak!” jawab mereka serentak dan spontan sambil mengangkat wajah.

Akhirnya diambil sebuah keputusan bulat dari rapat yang mendadak itu: Panitia harus proaktif. Walaupun waktunya habis, namun kesempatan masih terbuka.

Kakandepag Provinsi meminta daftar calon guru agama paling lambat satu minggu setelah masa pendaftaran berakhir.
***
Diubah oleh Aboeyy
profile-picture
profile-picture
profile-picture
emineminna dan 8 lainnya memberi reputasi
9
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 3
The Wisdom of Love
03-06-2019 22:41
Diubah oleh Aboeyy
profile-picture
djoeragancendol memberi reputasi
1 0
1
The Wisdom of Love
03-06-2019 22:41
bakal update ga nih? emoticon-cystg
0 0
0
The Wisdom of Love
03-06-2019 22:45
Quote:Original Posted By djoeragancendol
bakal update ga nih? emoticon-cystg


Insya Allah sampai tuntas. emoticon-Big Grin
profile-picture
djoeragancendol memberi reputasi
1 0
1
The Wisdom of Love
04-06-2019 16:22
Quote:Original Posted By Aboeyy
Insya Allah sampai tuntas. emoticon-Big Grin


emoticon-Siap Gan monggo dilanjutkan emoticon-Monggo
0 0
0
The Wisdom of Love
04-06-2019 19:00

Part 1.1


Kedua orang itu dipersilahkan masuk. Setelah duduk di rumah yang tak mempunyai kursi itu, orang yang membawa stopmap memperkenalkan diri tanpa basa-basi, seolah-olah waktunya sangat berharga. Bagai mengenal lama dengan pemilik rumah, ia berkata:

“Bapak kami daftarkan sebagai calon guru agama.”

“Tapi, saya tak punya ilmu dan kepandaian.”

“Kami tidak perlu orang pintar, tapi orang jujur. Tidak mencari orang yang pandai intelektual, tapi yang cerdas spiritual.”

Pemilik rumah terdiam. Tidak ada kata yang tepat untuk diungkapkan. Otaknya terlalu lambat untuk mengambil keputusan. Akal pikirannya masih bertarung antara memilih mengabdi pada keluarga atau negara. Melihat manfaatnya, jelas lebih utama mengabdi kepada bangsa.

Menilik resikonya, lebih logis memilih sebagai petani, sebuah profesi tak bertuan, yang tidak mengharuskan berangkat pagi dan pulang sore dalam pengaturan waktu yang absolut.

“Sudah, begini saja. Ini formulirnya. Silakan diisi kalau bersedia. Tiga hari lagi kami kembali ke sini mengambilnya,” kata petugas itu karena merasa waktunya terbuang untuk menanti sebuah jawaban yang tak pasti.
***
Itulah ayahku, Hormansyah, sang pemilik rumah yang lebih pantas disebut gubuk itu. Seorang lelaki yang berperawakan 145 cm, bertubuh agak kurus, dengan kulit yang kencang berwarna sawo matang membalut tubuhnya yang agak ringkih, menandakan pribadi yang ulet dan pekerja keras. Matanya agak sipit, namun pandangannya sangat tajam, memancarkan wawasannya yang jauh ke depan.

Kata-katanya keras dan tegas, apalagi ketika marah, namun sangat hemat dalam berbicara, menggambarkan sifatnya yang efektif dan efisien dalam berpikir, dan sederhana serta bijak dalam bertindak.

Ayah diangkat sebagai PNS dengan golongan terendah dalam struktural pemerintahan, sesuai dengan jenjang pendidikan formal terakhir yang ditempuhnya. Beliau lebih banyak menempuh pendidikan non formal. Pendidikan formalnya hanya tamat Sekolah Rakyat. Non formalnya adalah sekolah yang tidak mengenal istilah tamat belajar dan tingkatan kelas, serta tidak mempunyai bangku dan kursi, sehingga disebut Sekolah Duduk.

Setiap sore, ayah mengayuh sepeda ontel puluhan kilo meter untuk mendatangi rumah guru, melewati jalanan yang belum mengenal aspal. Jika berpapasan, maka salah satunya harus berhenti dan menepi. Baginya, ilmu adalah mutiara yang tiada tara nilainya.

Karena itu, suatu hari ayah menasehatiku:

“Di antara adab penuntut ilmu adalah kita yang mendatangi guru, bukan mendatangkan guru. Ilmu itu adalah harta yang paling berharga, karena itu harus sungguh-sungguh mencarinya, sebagaimana kegigihan mencari harta.”
***
Tahun 1992, setelah mengabdi kurang lebih 35 tahun, 20 tahun sebagai guru agama, dan 15 tahun terakhir sebagai Penghulu Nikah di KUA, ayah menikmati hari tuanya dengan golongan III/b.

Ia memilih pekerjaan tukang servis elektronik, sebagai penghasilan sampingan.

“Kalau hanya mengandalkan gaji pensiun, mana cukup untuk membiayai ibu, dan keempat saudaramu,” kata Ayah.

Hanya saja terasa janggal bagiku, mengapa Ayah memilih profesi ini. Ketika kutanyakan, ayah hanya menjawab singkat, “Karena Ayah di waktu kecil pernah merusak radio tetangga.”

“Bagaimana ceritanya, Ayah?” tanyaku penasaran.

Setelah menarik napas panjang, ayah bercerita:

“Pada tahun 1947, radio termasuk barang mahal dan langka. Ayah sangat suka berita. Hanya radio satu-satunya sumber berita. Ayah pergi ke rumah tetangga, Pak Karma. Pak Karma menyuruh Ayah mengecilkan suara radio. Di radio itu hanya ada dua tombol Tuning dan Volume. Karena tidak tahu, Ayah memutar tombol Tuning ke kiri, hingga terdengan bunyi “Tik”.

“Apa yang terjadi ayah,” tanyaku penasaran.

“Ternyata suara penyiar hilang, digantikan oleh bunyi mendesis yang keras. Pak Karma keluar dari kamar dengan wajah merah, dan berkata sambil menghentakkan kakinya ke lantai: Disuruh mengecilkan malah dibesarkan suara.”

“Pak Karma menghampiri radio itu. Ia memutar tombol tuning karena menduga letak frekuensinya tidak tepat.
Keningnya terangkat ketika mengetahui tombol itu tidak berfungsi. Dengan berang ia bertanya: Kamu apakan radio ini? Kalau rusak, tukang servisnya hanya ada di Banjarmasin, biayanya sangat mahal, dan kamu harus menggantinya.”

“Bagaimana akhirnya, Ayah?” tanyaku penasaran.

Setelah menghembuskan asap rokoknya, ayah melanjutkan:

“Karena takut, Ayah lari ke rumah sambil nangis. Kakekmu kaget dan bertanya. Dengan polos ayah ceritakan semuanya.

Akhirnya beliau mendatangi Pak Karma. Dari hasil negosiasi disepakati kakekmu membayar separoh biaya perbaikan radio itu.

Karena itu, ketika jadi guru, di sela-sela jam mengajar atau waktu luang, Ayah pelajari buku-buku elektronik, sehingga sekarang sedikit menguasai bidang ini.”
Diubah oleh Aboeyy
0 0
0
The Wisdom of Love
04-06-2019 19:04

Part 1.2


Ketika kakak perempuanku terlihat frustasi karena dua kali gagal dalam tes CPNS, sambil berbaring di lantai tanpa bantal, ayah menghiburnya dengan menceritakan pengalamannya waktu awal diangkat menjadi pegawai:

“Dulu masyarakat enggan jadi PNS, termasuk Ayah. Hanya karena diminta, maka Ayah bersedia. Seminggu setelah mengisi formulir, tes seleksi dilaksanakan di Kandepag Kabupaten Hulu Sungai Utara.

Melalui serangkaian tes yang sederhana, mungkin hanya formalitas, semua peserta yang berjumlah 99 orang dinyatakan lulus, dan diangkat jadi guru agama. Tidak seperti zaman sekarang, para pendaftar berjubel, namun hanya sedikit yang diterima. Mereka berlomba-lomba ingin jadi pegawai, seolah-olah tak bisa hidup kalau tidak jadi PNS.

Mereka anggap kerja di kantor adalah satu-satunya sumber penghasilan. Padahal pintu rezeki itu bermacam-macam, namun sang Pemberi Rezeki hanya satu. Siapa yang tidak diberi kesempatan jadi orang kantoran, ia akan diberi rezeki dari sumber yang lain.”

Ayah menarik napas, lalu melanjutkan cerita:

“Materi ujiannya hanya hal-hal yang berhubungan dengan Fiqih praktis, seperti tentang shalat, zakat dan puasa.

Tujuannya semata-mata untuk mengukur tingkat penghayatan dan pengamalan terhadap ajaran agama. Bukan seperti masa kini, materi ujian lebih difokuskan untuk mengukur tingkat kepandaian intelektual.

Akibatnya, banyak PNS yang korupsi dengan menggunakan otak cerdasnya. Di zaman orang-orang saleh dulu, dalam memilih seorang Qadi, peserta diuji kewara’an dan kezuhudannya terhadap harta dan wanita.”

Ayah meminum setegok kopi, seolah-olah membasahi tenggorakannya yang kering. Setelah menarik napas panjang, ia meneruskan:

“Rendahnya gaji PNS saat itu, membuat tujuh dari sepuluh teman ayah meminta berhenti menjadi pegawai, dan lebih memilih berwiraswasta. Bayangkan, gaji per bulan hanya sepuluh rupiah, sementara pengeluaran rata-rata lima puluh rupiah. Jika tak punya pekerjaan sampingan, tentu sulit untuk bertahan. Itulah sebabnya dulu ayah sempat ragu mengisi formulir pendaftaran.”

Ketika ayah melihat kakak kurang memperhatikan ceritanya, beliau menggugah pikirannya dengan berkata:

“Coba kamu lihat keadaan Pak Rasyid sekarang. Dia dulu seangkatan dengan Ayah menjadi guru. Hanya setahun menjalani, ia berhenti, dan memilih berdagang. Bisnisnya sukses, dan menjadi orang terkaya di desa ini. Beberapa kali ia mengajak Ayah berhenti menjadi PNS dan menjadi rekan bisnisnya, namun selalu Ayah tolak. Mungkin kecewa tawarannya ditampik, dengan nada melecehkan ia berkata:

Berapa sih gaji pegawai ?”

“Tapi, saya lihat keadaannya biasa-biasa saja,” bantah kakakku.

Ayah tersenyum, seolah-olah ia berhasil membuat kakak kembali mendengarkan ceritanya.

“Itulah yang ingin Ayah ceritakan. Setelah lima tahun menikmati kesuksesannya, ia bangkrut. Hutangnya di mana-mana, sehingga semua aset kekayaannya disita oleh pemberi piutang. Sebab modal usahanya adalah dana pinjaman. Ia hanya mengandalkan teori spekulasi.”

“Kalau tidak berani berspekulasi, gimana kita bisa maju? Bukankah ketika Ayah memilih jadi PNS, itu juga sebuah spekulasi?” bantah kakak, membuat ayah makin bersemangat.

“Berspekulasi itu boleh, tapi harus dengan perhitungan yang matang. Jika tidak, berarti nekat bunuh diri. Orang yang mampu melompat hanya 5 meter, jangan berspekulasi meloncati sungai yang lebarnya 7 meter. Bahkan kalau lebar sungai itu hanya 4,5 meter, menurut Ayah itu termasuk spekulasi yang nekat, sebab tidak memperhatikan faktor resiko terkecil. Misalnya jika salah mengambil ancang-ancang, maka lompatannya hanya sampai 4 meter,” jawab ayah.
Diubah oleh Aboeyy
0 0
0
The Wisdom of Love
04-06-2019 19:05

Part 1.3


Ibuku tampak sepuluh tahun lebih tua dari usianya yang sebenarnya. Tubuhnya tampak kurus, karena dalam usia kurang dari 30 tahun, ia telah melahirkan 5 orang anak.

Pipinya yang digandrungi para pemuda di masa remajanya, kini mulai keriput. Ia tak pernah mengenal kosmetik. Satu-satunya alat kecantikan – itupun kalau tepat disebut kosmetik – adalah pupur bangkal yang biasa dipakai sebelum pergi ke sawah sebagai pelindung muka dari sengatan matahari. Namun wajahnya selalu berseri dan senyumnya senantiasa mengambang, melambangkan sifatnya yang arif, sabar dan penyayang.

Bibirnya hanya terbuka sedikit ketika berbicara, namun kata-katanya selalu dapat menghentikan tangisan anak-anaknya yang berebut mainan. Tak seorang pun yang berminat menyentuh mainan itu, setelah beliau memberi wejangan.

Setelah adikku yang bungsu lahir, ibu tak bisa hamil lagi, walaupun belum menopause, dan tidak pernah berurusan dengan alat kontrasepsi. Mungkin Allah menyatakan “lulus” bagi ibu menjalani cobaan dalam mengasuh anak-anaknya.

Bayangkan, jarak usia kami rata-rata hanya satu tahun, kecuali aku dan kakakku yang berjarak 3 tahun. Ibu sudah terbiasa menghadapi dua anaknya yang terkecil menangis, yang lebih tua kencing di tilam, dan yang lainnya berak di lantai, sementara ia sibuk di dapur.

Namun tak pernah terjadi masakannya gosong, pekerjaan rumahnya tak beres, raut mukanya cemberut, atau kata-katanya menunjukkan kegusaran hatinya.

Ketika ibu melihat kakak perempuanku memarahi anak pertamanya, dengan lembut ia menasehati:

“Kelakuan anakmu ini, tidak ada apa-apanya dibanding dengan kebandelanmu dan adik-adikmu di masa kecil. Kalau menurutkan emosi, tentu kalian semua tidak akan hidup sampai saat ini.”
Diubah oleh Aboeyy
0 0
0
The Wisdom of Love
04-06-2019 19:36

Part 1.4


Aku anak kedua dari lima bersaudara. Akulah satu-satunya anak laki-laki.

Keluargaku tinggal dalam sebuah rumah yang terbilang kecil untuk menampung 7 orang penghuninya.

Adik-adikku masih sekolah. Ada yang masih SD, dan SMP.

Rumah berukuran 4x6 meter ini, terasa sesak jika semua penghuninya berkumpul.

Hanya ada dua kamar tidur, yaitu kamar ayah ibu, dan kamar kami semua. Semula kamar ini diberikan khusus untukku. Namun aku tidak membiarkan keegoanku mengundang iri hati semua saudariku. Walaupun mereka ikhlas, namun kunilai hal itu tidak adil buat tubuh-tubuh yang lebih rentan terhadap angin malam.

Sebagai calon pemimpin, aku harus belajar mengutamakan kepentingan orang yang akan dipimpin. Kamar itu kuberikan kepada keempat saudariku.

Aku memilih tidur di ruang tamu, atau di mana saja yang kurasa lebih nyaman untuk memejamkan mata.

Ketika kakakku menikah, kamar itu menjadi kamar pengantin. Kami tidur nimbrung di kamar ayah dan ibu. Kakak ipar hanya 3 malam dapat bertahan di rumah ini.

Mungkin karena memahami kondisi adik-adiknya, atau karena merasa bulan madunya terusik oleh keributan kami memperebutkan bantal, ia memboyong istrinya ke rumahnya.

Kini kamar itu kembali ditempati oleh adik-adikku. Aku terkadang ikut nimbrung pula bersama mereka, terutama jika adikku yang paling kecil memintaku untuk membawakan cerita sebagai pengantar tidurnya.

Sebagai anak laki-laki, akulah yang menjadi tumpuan harapan ayah untuk menyambung kehidupan adik-adikku. Untuk itu, ayah menanamkan kedisiplinan, kemandirian dan kerja keras padaku.

Sejak tamat SMA, ayah tak pernah lagi memberiku uang, kecuali untuk keperluan yang sangat penting dan mendesak. Kata ayah, aku harus mendapat uang dari hasil kerja sendiri.

Aku tidak mengerti pola pikir ayah. Bagaimana mungkin anak baru lulus SMA dapat mencari nafkah. Jangankan untuk mencari pekerjaan, bekerja saja aku belum bisa.

Walaupun ibuku bertani, namun sampai detik ini, aku tak pernah menyentuh pohon padi, apalagi sampai mengetahui proses penyemaian dan penanamannya.

Ketidak mengertianku terhadap sikap ayah semakin terakomolasi, ketika aku teringat kejadian pada tahun 2003. Waktu itu, aku masih duduk di kelas 2 SMA.

Saat itu, aku menemani ayah menemui sahabatnya di kota. Sewaktu pulang, hari menunjukkan pukul 14.00 WITA. Perut sudah tak dapat diajak kompromi.

Ayah berhenti di sebuah restoran. Ia memarkir sepeda motor bututnya di pojok halaman yang tidak terlihat oleh pengunjung. Entah karena malu atau apa, aku tidak tahu. Yang jelas, ia menyandarkan motornya di sebuah pohon, sebagai pengganti standar samping yang patah.

Saat itu ayah berpakaian ala petani. Sandal jepit, celana dari kain karung tepung, kaos oblong, topi purun yang lebar, dan sebuah bakul purun, entah apa isinya. Pakaianku sendiri tidak jauh berbeda dengan ayah. Celana jeans pendek hingga lutut dengan dua buah kain bulat menempel di bagian pantat seperti kacamata, kaos oblong dan topi yang hilang merek dan warna aslinya.

Memasuki restoran, ayah memilih tempat duduk di pojok kiri belakang. Kebiasaan di restoran, pelayan datang menyodorkan Daftar Menu yang tersedia, disertai dengan daftar harganya.

Ditunggu 10 menit, tak seorangpun pelayan yang menghampiri, seolah-olah tidak mengetahui kehadiran kami. Dinanti 15 menit, mereka semakin cuek, sementara desakan perut membuat tubuh semakin lemas.

Ayah bangkit dari tempat duduknya. Ia memesan langsung dua porsi nasi putih plus nasi tambahnya. Lauknya udang galah goreng yang besar. Dengan alasan kesehatan, ayah hanya memesan air putih sebagai minumannya.

Minuman segera disuguhkan, namun nasi dan lauknya sampai 15 menit belum juga disajikan. Sementara pengunjung lain yang datang belakangan, sudah selesai makan. Ayah mendatangi lagi pelayan restoran itu, dan bertanya dengan setengah dongkol:

“Nasi dan udangnya mana?”

“Maaf, sudah habis Pak!”

“Yang di atas piring itu apa?” tanya ayah dengan nada lebih keras sambil menunjuk ke etalase makanan.

“Ooo, itu tidak dijual, sebab harganya sangat mahal.”

Ayah beranjak dari tempat itu dan mengambil bakul yang terletak di sampingku. Ia menghampiri lagi pelayan yang berdiri di samping meja kasir.

“Berapa harganya? Cukupkah ini untuk membelinya?” tanya ayah sambil mengeluarkan dan menghempaskan puluhan lembar isi bakulnya di meja kasir.

Kasir, pelayan, dan aku tercengang melihatnya. Saat itu, uang kertas nominal Rp. 50.000,- baru diedarkan. Jadi, belum semua orang pernah melihatnya. Kasir dan pelayan terkejut mungkin karena menduga ayah adalah seorang pengemis yang takkan mampu bayar.

Aku terpana lantaran tidak menduga bakul yang selama ini selalu dibawanya, ternyata berisi uang. Sungguh, selama ini aku tak pernah tertarik untuk mengetahui isi bakul itu.

Akhirnya kami makan dengan perasaan tidak enak, walaupun lauknya enak.
0 0
0
The Wisdom of Love
04-06-2019 19:41

Part 1.5 (End of Pasal 1)


Selesai makan, kami beranjak pulang. Ayah kembali menghentikan motornya di sebuah toko perhiasan emas.

“Untuk apa berhenti di sini?” tanyaku heran.

“Lihatlah adik-adikmu! Seumur hidup mereka tidak pernah memakai perhiasan emas. Mereka tidak pernah minta dibelikan. Kecantikan anak perempuan bukan karena emas dan sutra yang dipakainya, tapi lantaran akhlak dan kerapatan pakaian yang menutupi auratnya,” jawab ayah.

Selesai bicara, ayah menghampiri toko itu. Ia mengamati model dan motif gelang emas yang tersedia, seolah-olah mencari tipe terbaik yang sesuai dengan karakter pemakainya.

“Maaf, Pak! Lewati dulu!” kata penjaga toko itu.

Ayah berlalu hingga tiga buah toko emas berikutnya. Ia kembali mengarahkan pandangannya dengan teliti, bagai seorang yang bimbang di antara banyak pilihan.

Ketika ayah menjulurkan tangan untuk menunjuk pilihannya, seorang pelayan membuka laci meja kasir. Ia mengambil uang receh Rp. 100,-

Dengan ekpresi kasihan, namun dalam penilaianku sangat keterlaluan, ia berkata sambil menyerahkan uang itu:

“Ini, Pak! Tolong doakan dagangan kami banyak laku hari ini!”

Dalam hati aku mengomel:

“Masa, sebuah toko emas dengan aset ratusan juta rupiah, memberi infaq cuma seratus rupiah, disertai minta doa pula. Pembaca doa sekelas orang desa saja honornya minimal lima ribu. Itupun untuk doa sapu jagad. Lebih panjang doanya, tentu lebih banyak isi amplopnya.”

Dengan menutupkan topi ke dahi, mungkin karena malu atau agar wajahnya tak dikenali, ayah menerima pemberian itu. Ia terus berlalu.

Kali ini ayah tidak terlihat emosi seperti di restoran tadi, tapi dengan ikhlas dianggap sebagai pengemis. Mungkin waktu di restoran perut lagi lapar, sehingga lebih mudah emosi. Sekarang sudah kenyang karena telah menyantap seporsi udang galah dan dua piring nasi.

Kami pulang. Tak ada emas yang dibeli, dan tiada oleh-oleh yang dibawa. Di atas motor, sepanjang perjalanan, ayah berceramah.

“Ternyata penampilan lahir itu cukup penting. Orang akan menilai kita berdasarkan apa yang mereka lihat dari penampilan kita. Karena itu, sebagian orang hanya berusaha memperbaiki penampilan lahir semata.

Orang seperti itu tak ubahnya seperti seorang yang memakai pakaian yang sangat gemerlap, namun pakaian dalamnya sangat kotor dan penuh tambalan.”

Aku tetap diam. Ayah melanjutkan khutbahnya:

“Berapa banyak orang yang berpakaian compang camping, dan rambut kusut masai, namun ketika berdoa, langsung dikabulkan oleh Allah swt. Hal itu disebabkan kebersihan hatinya.”

“Bukankah kotor itu berarti najis? Bagaimana doanya dikabulkan, kalau berpakaian tidak bersih?” tanyaku kritis.

“Pakaian kotor dan kumal bukan berarti najis. Tanah adalah kotor dalam pandangan manusia, namun suci dalam pandangan-Nya, sehingga dapat dijadikan alat bersuci atau tayammum.

Bahkan dalam mensucikan najis mughallazhah, tanah merupakan salah satu syaratnya. Misalnya membersihkan wadah yang dijilat anjing atau babi, harus dicuci tujuh kali, dan salah satunya dengan air yang dicampur dengan tanah,” jawab ayah menjelaskan.

“Karena itu, jangan menilai seseorang dari tampilan zahirnya saja. Jangan pula berpakaian sederhana dengan harapan menarik belas kasihan, dan berpakaian mewah agar mendapat pujian.

Kalau demikian, kamu adalah penipu. Berbusanalah dengan niat menutup aurat, dan mensyukuri nikmat-Nya, sesuai dengan kemampuan dan keadaan yang semestinya.

Imam Abu Hanifah terkadang berpakaian seperti seorang pengemis, dan terkadang seperti seorang raja,” tambahnya.

“Selain menutup aurat, tak kalah pentingnya adalah menutup mulut dari ghibah, menyakiti, dan memakan yang syubhat, apalagi yang haram.

Betapa banyak orang yang berpuasa, mati-matian menjaga sesuatu agar tidak masuk ke mulutnya, namun tak sedikitpun berusaha mencegah sesuatu yang keluar darinya. Dan aku mendidik anak-anakku dengan Kebijakan Cinta.”

Aku tidak mengerti, kebijakan cinta seperti apa yang telah ayah berikan. Ketika aku ingin bertanya, ternyata kami telah tiba di depan rumah.(*)
Diubah oleh Aboeyy
0 0
0
The Wisdom of Love
08-06-2019 04:02
Klo bisa di tuntasin.. sama di rapihin yaa gan
profile-picture
Aboeyy memberi reputasi
1 0
1
The Wisdom of Love
20-06-2019 18:26
Quote:Original Posted By BananaMilk
Klo bisa di tuntasin.. sama di rapihin yaa gan


Oke, tq masukannya, akan ane tuntasin minggu depan.
0 0
0
The Wisdom of Love
26-06-2019 00:42

Pasal 2 : Mencari Jati Diri


PASAL 2: MENCARI JATI DIRI

“Dan sebaliknya...
Jika berbuat jahat terhadap orang lain,
Berarti mencelakakan diri sendiri”


Tahun 2004. Siang itu, semua siswa kelas III SMA Negeri Amuntai berkumpul di halaman sekolah. Bapak Kepala Sekolah memberikan amanat kepada para alumni:

“Kalian sebagai alumni, wajib menjaga nama baik sekolah ini, kapan dan di manapun berada,” dan disambut tepuk tangan kami dengan meriah.

Lalu beliau menyerahkan STTB kami satu persatu.
Setelah menerima ijazah, teman-temanku berpesta di ruang kelas. Mereka bernyanyi dan berjoget sesuka hati, seolah-olah guru-guru tidak berhak lagi menegur dan menasehati, sebab dalam opini mereka, setiap alumni telah dinyatakan bebas dari semua ikatan Tata Tertib Sekolah.

Seusai pesta, Fandy, anak kota yang ke sekolah selalu mengendarai motor Honda Astrea Prima, dengan bangga menyatakan cita-citanya untuk kuliah ke Fakultas Kedokteran, padahal nilai NEM-nya paling rendah di antara kami.

Bandi yang selalu menggunakan sepeda balap, mengutarakan ingin kuliah di Akademi Komputer.

Sementara Wati, cewek yang paling cerdas dalam urusan berhitung, mau melanjutkan ke Jurusan MIPA.

Begitulah semua teman sekelasku yang berjumlah 20 orang itu, dengan optimis menyebutkan Perguruan Tinggi yang diinginkannya.

Sementara aku hanya diam menyaksikan kepongahan mereka. Walaupun dalam hati aku punya rencana, namun tak berani untuk menyampaikannya. Karena itu, ketika teman-teman memburu jawabanku, segera aku beranjak dari ruang kelas III IPA itu.

Sepanjang perjalanan pulang sejauh 15 km, di atas sepeda laki, aku berpikir:

“Aku ingin lebih baik dari ayah, terutama di bidang pendidikan. Kuliah akan mengangkat prastasi dan prestise. Kuliah untuk menuntut ilmu bernilai ibadah. Orang yang berilmu pasti kaya, tetapi belum tentu sebaliknya. Adapun jika niat belajar untuk mendapatkan jabatan, maka ia akan sangat kecewa ketika gagal meraih cita-citanya. Ia tak ubahnya seperti seorang yang kalah di meja judi. Kekalahan itu harus ditebus dalam permainan berikutnya. Karena itu, tak segan-segan ia memberikan sogokan agar bisa diterima bekerja. Selanjutnya ia berpikir untuk mengembalikan modalnya. Salah satu jalannya adalah Kolusi, Korupsi dan Nipotisme.”

Pikiranku terhenti ketika kurasakan roda belakang seperti tidak bundar. Aku sudah menduga penyebabnya.

Untuk meyakinkan, aku turun dan memeriksa tekanan angin. Ternyata benar firasatku. Sebilah paku terlihat menancap di permukaan ban luar yang telah licin itu.

Untungnya, kejadian itu berdekatan dengan bengkel.
“Ban saya gembos, tapi saya tak punya uang, Pak!” kataku memelas kepada pemilik bengkel yang sedang sibuk memperbaiki sebuah kendaraan.

“Tak mengapa. Kapan saja kamu bisa bayar, asal ada jaminan”, jawabnya memberikan solusi. Satu-satunya yang bisa kuberikan saat itu hanyalah STTB. Maka dengan berat hati, aku menggadaikannya.

Selama pemilik bengkel menambal ban, aku kembali melamun:

“Jika tidak kuliah, tentu aku akan jadi petani, seperti penduduk desaku pada umumnya. Yang lebih tinggi, mungkin hanya jadi Kepala Desa.

Jika punya banyak sawah, tentu tidak masalah. Aku bisa jadi bos para petani. Sedangkan ayahku hanya punya dua petak sawah. Itupun sebagai harta warisan yang harus dibagi dengan saudari-saudariku.

Mereka dapat dua per tiga, sedang aku sebagai ashabah hanya menerima sisa”.
Diubah oleh Aboeyy
0 0
0
The Wisdom of Love
26-06-2019 00:42

Part 2.1


“Ayah! Saya ingin kuliah,” kataku setiba di rumah, tanpa menceritakan ijazah yang tersandera.

“Kuliah di mana?” tanya ayah dingin dan singkat.

“Fakultas Teknik, melanjutkan profesi ayah.”

“Ayah merestui keinginanmu. Tapi selama kuliah, ayah hanya memberi biaya untuk SPP. Untuk keperluan sehari-hari, kamu harus berusaha sendiri. Kamu seorang anak laki-laki, punya tangan, otak dan kaki.”

Aku tak berani lagi menyahut. Aku sudah hafal dengan karakter ayah. Jika dibantah, ia pasti marah. Aku pun hanya bisa pasrah.

Aku bagaikan sebuah batu kecil yang dilemparkan melalui sebuah katapel mainan anak-anak. Meluncur tanpa kendali, dan jatuh tanpa sasaran.

Hanya sebuah harapan yang menyertai, semoga batu itu jatuh di sebuah sawah, tepat mengenai kepala seekor burung yang sedang mematok bulir padi petani.

Jika serdadu berprinsip, satu peluru satu nyawa dan kalau bisa tiga sekaligus, maka ayah melepaskan peluru satu-satunya tanpa prinsip apapun, selain ingin membuang peluru itu dari selongsong senapannya.

Begitulah kuumpamakan diriku setelah mendapat jawaban ayah.

Jawaban ayah membuatku terombang ambing dalam menentukan langkah. Ayah hanya menunjukkan arah, namun tidak memberikan petunjuk jalan.

“Apa gunanya tangan, otak dan kaki? Bisakah semua organ tubuh itu mendatangkan uang secara spontan? Mengapa anak sendiri tidak diberi nafkah? Apakah aku ini anak pungut atau anak tiri?" tanyaku jengkel di dalam hati.

Ayah berlalu seakan tak dapat membaca kegundahan yang tertulis di wajahku. Ia dengan tenang memejamkan mata, menunggu shalat Ashar.

Kesempatan itu kugunakan untuk membuka Kartu Taspen ayah. Kulihat namaku tercantum di sana.

“Jika berhenti sekolah, namaku akan dihapus, dan digantikan oleh adikku. Jika terus, tetap dapat tunjangan sampai selesai kuliah,” batinku.
Diubah oleh Aboeyy
0 0
0
The Wisdom of Love
26-06-2019 00:44

Part 2.2


Bagiku, menjawab misteri sikap ayah, bagai mengisi TTS tersulit yang tak pernah tuntas. Lebih baik aku berpikir mencari jalan keluar.

Kuputar logika, kumainkan akal dan merenung yang dalam, sejauh mimpi ayah yang sedang mendengkur.

Kuanalisis pendapat beliau itu, hingga akhirnya aku menemukan kebenaran dalam kata-katanya “Gunakan otak,” setelah aku teringat kata-kata Imam al-Bushiri dalam qasidah Burdah yang kugubah dengan terjemah bebas:

"Nafsu itu seperti balita,
akan terus menyusu sampai dewasa,
jika sang ibu tidak segera menyapihnya
pada usia tahun kedua."

“Bagaimana jika ibunya wafat? Kepada siapa ia harus menyusu? Kalau ayahku tiada, dan aku belum bekerja, kepada siapa aku minta uang belanja? Karena itu, aku harus mandiri, bebas dari semua ikatan yang dapat membuatku terus menggantungkan diri kepada orang lain hingga dewasa,” demikian kesimpulanku dari perenungan itu.

Kata-kata ayah itu menjadi tantangan bagiku. Aku termotivasi, seperti orang yang baru membaca sebuah pengumuman perlombaan berhadiah ratusan juta rupiah.

Sebuah hadiah fantastis yang membangkitkan semangat setiap orang untuk mengikutinya, sekalipun tidak punya kemampuan.

“Aku harus dapat gelar sarjana, bagaimanapun caranya,” tekadku saat itu.
Azan shalat Ashar membangunkanku dari alam bawah sadar.

Setelah memohon petunjuk-Nya, aku menemui ibu. Ibu baru saja melipat sajadahnya, ketika aku berkata kepadanya:

“Saya ingin kuliah ke Banjarmasin. Ayah merestui, tapi tidak akan memberi nafkah untuk keperluan sehari-hari. Bagaimana pandangan Mama?”

“Apa yang menjadi ketetapan Ayahmu, itulah keputusan Mama. Kamu tahu, selama ini Mama tidak pernah berani menentang kehendak Ayahmu, dan bagaimana sikap Ayahmu kalau pendapatnya dibantah. Karena itu, Mama merestui, dan hanya membekalimu dengan doa. Ingat, jangan pernah sedikit pun terlintas di hatimu rasa marah dan dendam terhadap ayahmu. Sesungguhnya apa yang dilakukannya, pasti ada maksudnya. Tidak ada orangtua yang tega mencelakakan anaknya sendiri.”
Diubah oleh Aboeyy
0 0
0
The Wisdom of Love
26-06-2019 00:45

Part 2.3


Kata-kata ibu membuat hatiku berbunga-bunga. Seluruh tubuhku bagai dialiri energi langit yang menguatkan fisik dan mentalku. Semua keraguanku sirna bagai debu di atas batu yang disiram air hujan.

Besoknya baru kuceritakan kepada ayah tentang STTB itu. Ia hanya memberikan uang Rp. 3,000,- untuk menebusnya, tanpa ada uang jajan atau ongkos jalan.

Setengah bulan kemudian, dengan bermodalkan ijazah SMA, doa restu dari orangtua, serta uang dua ratus ribu dari ayah, dengan bismillah kulangkahkan kaki meninggalkan desa. Di Banjarmasin, aku tak punya keluarga, teman atau kenalan, serta tidak tahu harus ke mana aku bermalam.

Energi matahari mulai terkuras menerangi siang. Sinar-sinar lampu mengambil alih fungsinya. Burung-burung kembali ke habitatnya, sementara azan Maghrib mulai berkumandang.

Aku tiba di Terminal Km. 6 Banjarmasin bersamaan dengan bersemayamnya si raja siang di Ufuk Barat. Di sebuah masjid dekat terminal aku bermalam.

Hari pertama di kota yang asing. Langkah pertamaku adalah mencari rumah sewa yang paling murah. Kupikir tidak etis kalau terus menginap di “Hotel Umat Islam.” Kuusahakan mencari kost yang dekat dengan kampus.

Jalan sepanjang 2 km kutempuh dengan setengah berlari, menuju Km.4 Jalan A.Yani, dekat kampus IAIN Antasari.

Gang demi gang yang ada di sekitar kampus itu aku masuki. Sambil mengatur napas yang kapasitasnya lebih besar dari salurannya, aku bertanya di sana-sini.

“Adakah kost yang kosong?”
“Tidak ada Mas. Semuanya penuh.”

Masuk ke gang berikutnya, aku kembali bertanya dengan soal serupa.

“Tidak ada Mas. Mungkin di gang sebelah ada.”

Di gang berikutnya aku mendapat jawaban: “Ada Mas, tapi sewanya seratus lima puluh ribu per bulan. Belum termasuk biaya listrik dan air ledeng.”

“Berapa rata-rata sewa kost di sini,” tanyaku lagi.

“Ya, segitu deh Mas. Itu pun untuk rumah kost yang sesederhana ini. Kalau yang lebih bagus, tentu lebih mahal.”

Hampir setengah hari aku berjalan. Tak satu pun kutemukan rumah kost yang sesuai dengan kantongku. Dengan langkah lunglai setengah putus asa, aku kembali ke km. 6, dan berteduh di masjid itu.

Seorang ibu setengah baya kulihat tertatih-tatih membawa barang belanjaan menuju mobil taksi. Segera kutolong mengangkatnya.

“Terima kasih, Dik!” ucapnya setelah duduk di taksi menunggu penumpang penuh. Aku hanya mengangguk.

“Ngomong-ngomong, Adik dari dan mau ke mana?” tanyanya ketika aku beranjak dari tempat itu.

Kuceritakan asal dan tujuanku. Ia mendengarkan dengan serius, seikhlas pertolongan yang kuberikan padanya.

“Kebetulan rumahku mau disewakan. Kalau Adik berminat, silakan dilihat dulu. Tidak jauh kok, cuma 2 km dari sini.”

“Baiklah!” jawabku sambil naik ke taksi dan duduk di sampingnya. Tak lama kemudian, penumpang telah penuh. Taksi meluncur menuju Gambut, dan kami turun di km 8.

Akhirnya dengan pertimbangan ekonomis, aku memilih rumah kost itu. Sewanya hanya empat puluh ribu per bulan. Sudah termasuk biaya listrik. Sebuah rumah yang sederhana.

Dindingnya terbuat dari papan kayu, atapnya daun rumbia. Hanya ada sebuah kamar tidur, ruang tamu, dan ruang dapur yang menyatu dengan WC dan kamar mandi.

Air untuk memasak, mandi dan mencuci diambil dari sebuah sumur. Airnya bersih dan tak berbau, sehingga tampak seperti dari PDAM.

Hanya dua bulan bertahan, uang saku mulai menipis. Jangankan untuk kuliah, bayar sewa kost bulan itu saja sudah menunggak. Bahkan untuk hidup sehari-hari, harus lebih banyak berpuasa.

Kuantitas dan kualitas makan juga terpaksa dikurangi. Sebungkus mie cukup untuk mengganjal perut pagi dan sore.

Diubah oleh Aboeyy
0 0
0
The Wisdom of Love
26-06-2019 00:45

Part 2.4


Hari itu, sejak pagi tak sebutir nasi pun masuk ke perut. Aku tiarap di atas kursi, dengan muka melongok ke arah pintu. Pintu sengaja kubuka agar setiap orang yang lewat melihat wajahku yang pucat, lalu menanyakan “Kamu sakit”? Lebih jauh kuharapkan dia tidak bertanya, tapi langsung mengerti.

Aku benar-benar seperti pengemis yang mengharap belas kasihan, namun malu menadahkan tangan.

Setelah shalat Zuhur, mataku ikut layu bersama tubuh yang lunglai, terpejam bersama harapan yang sirna.

Pandanganku kembali mengembang, ketika telingaku mendengar daun pintu seperti diketuk orang.

Tanpa mengucap salam, sang tamu langsung masuk begitu melihatku membuka mata.

Dalam pandanganku yang masih kabur, tidak jelas siapa yang datang, namun harapan perutku dialah sang penolong, hingga kudengar sebuah suara yang lantang:

“Hei Budi, kamu sudah satu bulan tidak bayar sewa kost. Jika sampai bulan depan belum bayar juga, silakan kemasi barang-barangmu, dan angkat kaki dari sini!”

“Maaf Bu! Saya belum punya uang. Insya Allah bulan depan saya lunasi jika ada rezeki,” jawabku nanar sambil menahan perut yang lapar.

“Oke! Saya beri waktu hingga bulan depan,” kata Ibu Kost berlalu sambil membanting pintu. Engsel bawah pintu yang disangga dua buah paku karatan itu lepas dari kayu rapuh yang menahannya, bersamaan dengan pupusnya harapanku.

Aku mengelus perut, sementara otakku berputar untuk menemukan kepada siapa aku harus meminta tolong, selain kepada-Nya.

Akhirnya kusimpulkan bahwa satu-satunya yang dapat mendengar keluhanku adalah ayah.

Dengan usus yang terasa melilit, kuberanikan diri menulis sebuah surat: Ayah! Tolong segera kirimi saya uang.

Kumasukkan surat itu ke dalam amplop, dan kutempel sebuah prangko bekas, yang stempel posnya telah kuhapus.

Dengan tenaga yang masih tersisa, aku menuju sebuah kotak pos yang berjarak 2 km. Ketika ingin memasukkannya, tanganku tertahan karena melihat di atas kotak surat itu sebuah selebaran: Balai Latihan Kerja, menerima siswa baru.

Langsung kubatalkan mengirim surat itu. Semangatku kembali bangkit, bersamaan dengan munculnya harapan baru.

Tanpa memperdulikan lapar, aku menuju Kantor Kecamatan Kertak Hanyar untuk mendaftar.

Pukul 14.00 WITA, aku tiba di sana. Kulihat petugas sudah merapikan berkas untuk bersiap-siap pulang. Dengan terburu-buru aku bertanya:

“Tempat Pendaftaran BLK di mana, Pak?”

“Oh, di sini Dik! Ini hari terakhir pendaftaran, tapi masih sempat,” katanya sambil menyerahkan sebuah blangko yang harus diisi lengkap.

Ketika mengisi formulir itu, Bapak itu menyodorkan segelas aqua, dan sepoting roti. “Silakan sambil minum, Dik!” katanya mempersilakan.

Gerakan penaku terhenti ketika melihat roti itu. Segera kuraih roti itu, dan memakannya untuk menguatkan tanganku menulis dua kolom lagi di kertas putih itu.

“Besok sudah mulai belajar. Tempatnya di Banjarbaru. Sore ini saya ke sana untuk menyerahkan berkas semua pendaftar secara kolektif.

Kalau kamu mau ikut, silakan!” kata petugas itu setelah memeriksa formulir yang kuisi lengkap.

Tanpa membawa pakaian selain yang kupakai, aku berangkat. Tepat azan shalat Ashar, aku tiba di Banjarbaru dan menginap di Mess yang disediakan. Di sini aku bisa bertahan. Biaya kursus, akomodasi dan konsumsi gratis, ditambah modal kerja.

Hari pertama, hanya diisi dengan pengarahan dan pemberian uang saku, sehingga sore itu aku bisa pulang ke kost untuk mengambil pakaian, tanpa memberitahu pemilik rumah.

Setiap kesempatan kumanfaatkan dengan maksimal. Penjelasan instruktur kudengarkan setiap huruf. Jika tidak sedang belajar atau praktik, kusempatkan untuk membaca buku-buku elektronik yang tersedia di perpustakaan.

Setiap judul dan lembarannya selalu kulahap, mulai dari dasar-dasar elektronik, hingga masalah robot dan remote control. Jika ada yang tak dapat kupahami, tak segan-segan aku bertanya.

“Apa beda Dioda Zener dengan dioda biasa?” tanyaku kepada senior, setelah membaca jenis-jenis Dioda.

“Wah, masalah itu belum pernah saya pelajari. Materi itu diajarkan pada kursus tingkat profesional,” jawabnya sambil menggelengkan kepala.

Dua bulan mengikuti kursus, aku menguasai teknik servis berbagai elektronik. Dari jenis analog hingga digital. Aku juga mampu melakukan instalasi komputer, baik hardware maupun software. Mampu pula menggunakan Microsoft Windows serta Officenya, dan beberapa aplikasi multimedia. Bahkan dapat memecahkan pertanyaan mahasiswa yang tidak dapat dijawab oleh dosennya di Akademi Komputer.

“Ketika membuat sebuah dokumen di Power Point, saya memasukkan beberapa suara dan animasi, lalu saya copy ke CD. Ketika dibuka di komputer lain, ternyata suara dan animasi itu tidak bisa muncul. Apa penyebabnya?”

“Itu karena reading error pada CD,” jawab sang dosen.

Argumen itu tidak memuaskan dahaga sang mahasiswa. Karena tempat tinggalnya berdekatan dengan asrama, ia sering bertamu, sehingga suatu hari ia menanyakan kembali masalah itu kepadaku. Kujelaskan padanya:

“Itu bukan karena reading error, tapi karena missing link. Link suara dan animasi itu menuju ke path (jalur) drive, folder, dan file asal ketika dokumen itu dibuat. Misalnya, suara dalam CD itu mempunyai link ke C:\my documents\ my music\ salam.mp3. Ketika dibuka di komputer lain, maka komputer akan memeriksa link tersebut, dan ternyata sumbernya tidak ditemukan, sehingga suara itu tidak bisa ditampilkan.

Solusinya, file salam.mp3 itu harus dicopy ke komputer itu, sesuai path-nya,” jawabku yang membuatnya mengangguk.

Walaupun aku menguasai dasar-dasar pengoperasian komputer, sayangnya aku belum punya PC apalagi Laptop yang saat itu harganya relatif mahal. Hanya sebuah mesin tik tua yang kumiliki.

Hal ini membuat mahasiswa itu heran dan bertanya mengapa aku bisa begitu mahir komputer. Aku hanya tersenyum, lalu menjawabnya dengan sebuah kisah:

“Ini mungkin karena bakat yang kuperoleh dari ayahku yang juga tukang servis elektronik. Aku sering membantu ayah ketika menyervis. Sebagian besar komponen elektronik sudah kuketahui nama dan fungsinya.

Di samping itu, mungkin juga karena doa dan harapan ayahku. Menurut ayah, aku diberi nama “Budi,” karena sebuah kejadian yang dialaminya. Waktu berumur 2 hari dan belum diberi nama, aku dibawa ke Puskesmas untuk diimunisasi. Di tengah perjalanan pulang, motor yang dipakai ayah mogok. Berbagai cara ayah coba, namun tetap tak mau hidup. Ayah menuntun motornya, dan ibu menggendongku. Seorang pengendara motor yang lewat, menghentikan motornya.

“Kenapa Pak motornya didorong?”

“Mogok,” jawab ayah singkat.

“Sini Pak saya coba. Mungkin businya kotor.”

“Businya sudah saya bersihkan.”

Orang itu memegang motor ayah. Ia ingin menghidupkan motor untuk mengetahui ada tidaknya tekanan udara dari piston. Baru saja orang itu memegang pedal gas dan menginjak kick starter, motor ayah langsung hidup.

Ayah sangat berterima kasih padanya. Orang itu mengenalkan namanya “Budi.”

Ia mengaku kenal dengan ayah, namun ayah tidak mengenalnya.

“Bapak dulu yang menikahkan saya di KUA,” katanya.

“Oh, iya, saya sudah lupa,” kata ayah sambil sekali lagi mengucapkan terima kasih.
Setiba rumah, ayah langsung memberiku nama “Budi,” dengan harapan semoga hanya dengan melihat atau memegang, aku bisa menguasainya, seperti Budi, sang penolong itu.

Tamat kursus elektronik, aku membuka praktik servis elektronik di rumah sewaanku.

Dua minggu buka, hanya sebuah radio mini yang datang. Kerusakannya hanya tali tuning yang putus. Dua bulan praktik, hanya bertambah sebuah tape recoder tua. Penyakitnya cuma pita kaset yang selalu kusut jika diputar, sehingga suara Evi Tamala terdengar seperti tersumbat di tenggorokan.

Mungkin masyarakat belum mengenalku atau belum mengetahui profesiku, karena aku tidak memasang papan nama apalagi iklan. Namun lama-kelamaan, televisi ukuran 12 hingga 42 inchi mulai menumpuk di ruang kerjaku yang sempit, antre menanti giliran diservis. Hal ini membuat pemilik kost mendatangiku dan berkata:

“Maaf, Nak Budi! Mulai bulan depan sewa kost naik jadi delapan puluh ribu. Kalau Nak Budi bersedia, silakan tetap tinggal di sini. Kalau keberatan, maka silakan cari tempat yang lain. Soalnya, bulan kemarin tagihan listrik melonjak hingga dua kali lipat.”

Aku tidak tahu benar tidaknya ucapan Ibu kost itu. Dugaanku itu hanya alasan yang dibuat-buat. Listrik yang kupakai rasanya tidak sebanyak yang ia katakan. Namun aku tidak bisa menolak apalagi membantahnya, karena kalimatnya disertai ancaman,

“Kalau keberatan..., maka....” Artinya, jika aku membantah, maka aku harus pindah.
Aku terpaksa menerima kenaikan sewa itu. Ini menjadi beban tambahan bagiku, karena selain pelanggan yang tidak bertambah, biaya hidup semakin tak berbanding dengan pendapatanku.

Namun Alhamdulillah, berkat sabar dan jujur aku mampu menabung yang disisihkan dari pendapatan jasa servis.

Di samping itu, aku juga mencari pekerjaan sampingan, seperti membantu tetanggga membersihkan halaman, mengecat rumah, atau apa saja yang bisa menghasilkan uang secara halal.

Dalam opiniku, buruh itu jauh lebih mulia dari peminta-minta. Bahkan, andai melacur itu bukan pekerjaan yang diharamkan agama, maka aku menilai pekerjaan itu lebih terhormat daripada menadahkan tangan.

Apalagi mengemis dengan mengeksploitasi diri sendiri dengan berpura-pura cacat, mengaku tiga hari belum makan, menggunakan anak-anak sebagai ikon kemiskinan, dan berbagai trik untuk mengharap belas kasihan manusia. Padahal semua hati manusia tak punya rasa kasihan, kalau bukan karena curahan rahmat-Nya.

Prinsip itu kupegang, karena aku pernah membaca dalam teks khutbah Jumat ayah:

“Barang siapa yang menganggap kamu sebagai penjamin rezekinya, maka usirlah dia dari rumahmu, sebab ia hanya menjadi beban bagimu. Kamu sendiri tidak bisa menjamin rezekimu, apalagi rezeki orang lain. Namun jika ada orang yang menganggap Allah sebagai penjamin rezekinya, maka lindungilah ia dalam rumahmu, sebab Allah akan memberikan rezeki kepadanya dan kepadamu.”

Artinya, orang yang menadahkan tangan sebagai pekerjaannya, maka ia adalah makhluk yang pantas diusir, sebab ia menggantungkan rezekinya kepada manusia.
Diubah oleh Aboeyy
0 0
0
The Wisdom of Love
26-06-2019 00:46

Part 2.5 (End of Pasal 2)


Aku juga berusaha untuk tidak terbiasa merokok sebagaimana layaknya laki-laki lain seusiaku. Mereka menganggap merokok sebagai identitas kejantanan, maskulin. Lelaki yang tidak bisa merokok dianggap wadam. Kupikir itu hanya pemborosan, dan efeknya dapat membahayakan kesehatan. Dengan alasan itu, suatu hari aku berdebat dengan seorang temanku yang perokok:

“Merokok itu pemborosan, membakar uang.”

“Itu bagi orang yang tidak bisa merokok. Bagiku merokok ini merupakan suatu kebutuhan sebagimana halnya makan dan minum. Apakah makan dan minum itu pemborosan? Berarti kamu yang makan dan minum setiap hari juga melakukan pemborosan.”

“Tapi, merokok dapat merusak kesehatan. Membinasakan diri sendiri dilarang oleh agama.”

“Dibandingkan perokok dan pengendara motor di jalan raya, jauh lebih banyak orang yang cedera bahkan mati di jalan raya. Kalau begitu, berkendara di jalan raya hukumnya juga haram, karena dapat memudaratkan dirinya dan orang lain.”

“Itu kecelakaan, tidak disengaja,” bantahku.

“Orang yang mati karena makan daging kambing, jauh lebih banyak daripada yang mati karena merokok. Orang yang mengalami hipertensi, lalu makan daging kambing, maka darah tingginya kumat, terus mati. Kalau begitu, makan daging kambing dengan sengaja hukumnya juga haram.”

Aku tak bisa lagi membantah argumennya. Karena itu, aku hanya ingin mengetahui bagaimana sikap perokok ketika lagi kantong kering.

“Bagaimana kalau tidak punya uang untuk beli rokok?”

“Ya ditahan, tidak merokok,” jawabnya enteng.

“Apakah makan dan minum bisa ditahan? Katanya merokok sama dengan kebutuhan makan dan minum.”

Kali ini ia yang terdiam. Lalu aku memberikan solusi:

“Kalau begitu, uang untuk beli rokok ditabung saja, sehingga tidak punya uang untuk beli rokok.”

“Tapi aku teringat cerita orang tentang hal ini: Dulu ada orang yang mempraktikkan seperti yang kamu katakan. Uangnya ditabung agar tidak beli rokok. Setahun kemudian, jumlahnya mencapai ratusan ribu. Suatu hari rumahnya kebakaran, dan semua tabungannya menjadi abu. Dengan sangat menyesal orang itu berkata: Kalau memang rezeki api, pasti dimakan api. Lebih baik dulu uangnya kubelikan rokok,” jawab temanku yang membuat kami spontan tertawa.

Hampir satu tahun aku tinggal di kost dengan biaya sendiri. Jauh dari orangtua dan keluarga. Selama itu pula aku tak pernah mendengar kabar tentang mereka. Kutahan kerinduanku.

Kupegang teguh kata-kata ayah yang selalu terngiang di telingaku ketika akan berangkat ke Banjarmasin:

“Kamu tak boleh pulang atau memberi kabar apapun kepada ayah. Ayah tak ingin dengar tentang kamu kecuali tentang kesuksesanmu.”

Teringat pula akan kata-kata ayah:

“Aku mendidik anak-anakku dengan kebijakan cinta.”

Aku tidak mengerti apa yang ada di benak ayah. Namun aku yakin, seorang pencinta tidak akan menelantarkan orang yang dicintainya, sebagaimana yang dinasehatkan ibu.

Kata-kata itu selalu kuputar dalam memori otakku, sebagai obat demam kerinduanku.

Beberapa tahun kemudian baru kuketahui isi kepala ayah, dan kebenaran firasat ibu.

Diubah oleh Aboeyy
0 0
0
The Wisdom of Love
29-06-2019 08:22
Bagus ceritanya ....
0 0
0
The Wisdom of Love
29-06-2019 15:44
Threadnya bagus banget, auto HT nih.
saya jadikan HT ya gan.
thnx
profile-picture
Aboeyy memberi reputasi
1 0
1
The Wisdom of Love
13-07-2019 12:42

Pasal 3: Ujian Hidup


PASAL 3: UJIAN HIDUP

"Dalam bisnis, Profesionalisme adalah relatif,
Namun kejujuran adalah absolut”


Suatu hari di tahun 2005. Sekelompok orang laki-laki dan perempuan berkerumun, bak para pengunjung pasar yang sedang menonton akrobat yang dimainkan oleh seorang penjual obat.

Jika ada seorang yang keluar dari kerumuman, maka beberapa orang berdesakan untuk menggantikannya.

Mereka tidak sabar lagi untuk melihatnya. Dengan mata berbinar-binar, mereka menerobos kerumuman massa, namun ketika keluar, ada yang matanya berkaca-kaca, dan tubuhnya lunglai. Sangat kontras dengan keadaannya ketika mau masuk.

Mata mereka terfokus pada satu tujuan. Mencari satu kalimat dari ribuan kata yang tersebar pada beberapa lembar kertas putih yang ditandangani oleh seorang pejabat, yang ditempel pada sebuah papan pengumuman.

Tanpa berkedip memandang huruf dari A sampai Z. Susunan kata yang tidak diurut berdasarkan abjad, membuat mata mereka bersinar tajam untuk menemukan tulisan, “Anda Beruntung, atau Coba Lagi.”

Aku adalah satu dari ribuan orang yang berdesakan itu, dan satu dari lima puluh orang yang dinyatakan beruntung.

Alhamdulillah aku diterima di Perguruan Tinggi itu, sebab aku mempertaruhkan semua hasil perih payahku selama satu tahun untuk mendaftar di Fakultas Teknik Jurusan Elektro itu.

Jurusan ini sengaja kupilih dengan pertimbangan untuk meneruskan dan mengembangkan profesi. Seseorang harus profesional di bidangnya. Semua pekerjaan harus dikerjakan oleh ahlinya.

Dengan memilih jurusan ini, aku berharap suatu saat nanti bukan lagi menjadi tukang servis elektronik, tapi sebagai pembuatnya.

Diterima di Perguruan Tinggi itu kuanggap sebagai suatu kesuksesan, maka aku memberanikan diri untuk pulang ke desa, menemui orang-orang yang telah membuatku tersiksa menahan beban rindu selama kurang lebih 12 bulan.

Satu minggu berada di kampung halaman serasa bagai sehari. Tidak banyak yang berubah dengan wajah desaku. Hanya raut muka teman-temanku yang banyak tak kukenali. Tubuh mereka lebih tinggi dan kekar dari tubuhku, dan kulit mereka semakin hitam, sebagai efek dari pekerjaan menantang matahari setiap hari.

Kuceritakan kepada ayah dan ibu serta adik-adikku semua pengalaman sejak menginjakkan kaki di Banjarmasin hingga diterima di Perguruan Tinggi itu. Ayah terlihat bangga dengan prestasiku.

Sebagai ungkapan kebahagiaannya, ia berkata setelah membaca tanggal daftar ulang: “Dua hari lagi kita berangkat ke Banjarmasin. Ayah ingin ikut mengantarmu. Kita naik motor saja untuk menghemat biaya.”
Diubah oleh Aboeyy
0 0
0
Halaman 1 dari 3
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
cerita-waras-untold-story
Stories from the Heart
langkah-kecil-kecil
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
B-Log Collections
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia