Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
204
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ceba127f0bdb259db3ad594/warung-itu-tempatku-berbagi-cerita-hantu
Ini adalah tempat mangkal.. dimana orang dari berbagai kalangan pernah bersinggah, tempatnya tak jauh dari keramaian dan ini adalah posnya para hantu, dimana manusia tengah bergosip mengenai 'mereka', kita tak pernah tau jika ternyata mereka pun ikut dalam bergosip ria ini. Terkadang cerita didapatkan dari kejadian yang dialami langsung oleh pencerita, terkadang hanya kabar burung yang di
Lapor Hansip
27-05-2019 15:34

Warung itu Tempatku Berbagi Cerita Hantu

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Warung itu Tempatku Berbagi Cerita Hantuemoticon-Rate 5 Star
Warung itu Tempatku Berbagi Cerita Hantu

Ini adalah tempat mangkal.. dimana orang dari berbagai kalangan pernah bersinggah, tempatnya tak jauh dari keramaian dan ini adalah posnya para hantu, dimana manusia tengah bergosip mengenai 'mereka', kita tak pernah tau jika ternyata mereka pun ikut dalam bergosip ria ini.

Terkadang cerita didapatkan dari kejadian yang dialami langsung oleh pencerita, terkadang hanya kabar burung yang didengar dan terkadang nyomot diinternet karena viral, namun tak jarang ada yang mengarang untuk mendapatkan sensasi. Entahlah, mereka begitu saja menceritakan berbagai macam kisah bergenre horor yang terkadang ceritanya tak tuntas dan biasa saja.

Warung itu Tempatku Berbagi Cerita Hantu

Cerita pertama di tuturkan oleh seorang pemuda yang tinggal disebuah desa dan di desa itu menjadi jalan provinsi yang menjadikannya ramai akan kendaraan transportasi umum seperti bis. Karena sehari sebelumnya ada bis yang masuk ke sungai dibawah sebuah jembatan kecil, maka mencuat lagi cerita yang lama terpendam ini..

"Di situ angker mas, sudah banyak yang jadi korban. Coba dulu pas belum ramai kan sering orang-orang dicegat sama mbak-mbak ayu di jembatan, kalau bus yang lewat biasanya mbaknya sudah naik bus, pas kondektur cari, orangnya sudah tidak ada", tutur dia kepada orang yang juga tengah ngopi disebelahnya.

"Kemarin saya juga dengar kalau bus yang terjun ke sungai itu tidak ngebut, jalannya pelan, kata penumpangnya ada orang-orang sedang benerin jalan, lalu ada yang ngarahin belok kiri pakai bendera kuning, ga taunya itu jurang, pas ditengok tak ada satupun kegiatan benerin jalan disitu", lanjutnya.

Yah mungkin tak banyak dia bercerita mengenai jembatan angker di salah satu kota kecil yang berada di Jawa Timur itu.. malam semakin larut, angin dingin berhembus di belakang tubuhku yang hanya bisa menggigil sambil menyeruput teh yang ada dihadapanku, bulan masih tak terlihat dan hanya ada beberapa kendaraan bermotor melewati warung ini.

"Berarti mirip Sadikem yo mas", sahut orang yang disebelahnya itu.

Warung itu Tempatku Berbagi Cerita Hantu

Sadikem, nama yang tak asing dan memang sering disebut di sini.. ia adalah hantu wanita yang cantik bersemayam di sebuah jembatan entah untuk apa, dia sering mengganggu rumah yang berada disekitar jembatan itu hingga pengendara yang lewat di malam hari. Konon Sadikem ini meninggal karena tidak menaati adat temanten anyar, yakni tidak boleh keluar rumah sebelum 7 hari setelah menikah, Sadikem mencuci baju di sungai Bakung dan akhirnya hanyut ketika pernikahannya belum genap seminggu atau biasa disebut dengan sepasaran. Sadikem kerap menghantui pengendara laki-laki karena dikira sebagai suaminya, salah satu kecelakaan bus hebat terjadi beberapa tahun silam yang menewaskan seluruh penumpangnya, kejadian ini pun disangkutpautkan dengan hantu Sadikem.



"Sadikem memang seram mas, sampai dimasukin ke Tu*ul Ja*an-Ja*an", balasnya kepada orang yang baru ditemuinya itu.

Selain untuk mampir makan & minum, warung ini menjadi tempat bertemunya orang-orang baru seperti itu..

"Ngomong-ngomong soal kecelakaan bus, dulu pernah juga ada jeritan dan tangis korban di daerah Par*n sana, katanya itu ada 4 orang yang meninggal, kecelakaannya sekitar pukul 4 pagi. Warga di situ banyak yang dengar jam 2 pagi ada jeritan minta tolong dan ada suara nangisnya. Serem ya kalau sudah tentang kecelakaan, badannya ada yang hancur tak berbentuk", pukasnya sembari akan meninggalkan warung karena sudah larut.

" Bu, kopi 2 gorengan 5", beranjaklah dia mengendarai motor yang diparkir disebelahnya.

Tak lama kemudian ada truk yang menepi dan duduklah sopir serta keneknya di warung ini.

"Mpok es teh 1, kopi item 1", pinta salah satu dari kedua orang yang turun dari truk. Kemungkinan mereka berasal dari ibu kota, dilihat dari nomor polisi kendaraan yang ada di truk itu.

"Bang, bagi koreknya", sambil menyikutkan sikunya pada orang disebelahnya itu, ia mulai mengoceh tentang macam-macam, dari truknya yang bocor ban, hampir nabrak orang, jumpa cewe cantik, hingga ketemu setan di perjalanan.

"Bagaimana tuh yang ketemu setan?", tanya pembeli yang tadi sempat ditinggal sendiri setelah bercerita tentang bus tadi, Adnan namanya.

"Seperti biasa bang, kunti terbang sama pocong nebeng hahaha", terang pak sopir sambil merebahkan badannya di dipan yang sedang kosong.

" Memang banyak sekali cerita tentang itu, aku pernah dengar ada cewek lagi pulang kerja malem jam 10 an, saat melewati jalan yang lumayan rimbun pohonnya, ia sangat ingin nengok keatas, ternyata diatas ada sosok putih-putih sedang melayang. Pasti sangat berdebar tu cewe liat ada yang nongolin di atas, kejadian seperti itu biasanya sepi jalanannya, dia sendirian, lalu tancap gas, untung gak apa apa sampai di pemukiman warga", jelas Adnan yang memang hobi sekali mendengarkan cerita seram.

"Jangan lupain juga kalau ketemu gituan harusnya berdoa, gue dulu juga pernah nih diikutin, tapi gak kelihatan sosoknya, hanya ada sorot lampu gitu. Jadi gue ketempat nenek di Jogja, pas mau ke Imo*iri jalannya gelap, ga tau dah lewat mana, sama ponakan yang asli situ soalnya. Jalannya udah gelap, belok-belok, masih asri gitu, jadi pas malem ngeri. Sepanjang perjalanan tuh rasanya sepi, ga ada yang lewat baik nyalip atau dari depan. Pas ada sorot lampu dari belakang gue lega soalnya jadi ada temennya, eh die kaga lewat-lewat malah dibelakang mulu, padahal ponakan gue dah ngasih jalan. Akhirnya kita nengok dong ke belakang, gelap gulita brooo... kita kaget, keringet gue keluar semua, akhirnya dengan hati dagdigdug ponakan gue geber tu motor butut sampe kayak berat motornya, gue juga ngerasa pundak gue pegel, takut ada yang numpang akhirnya ya gue diem aja sambil merem sampe ada pemukiman hahaha", tanpa diminta bang kenek memberikan sebuah cerita yang menurutnya sangat mengganggu padahal hanya sorot lampu yang tak bertuan.

Sambil berbincang ringan sembari menghabiskan rokok sebatang demi sebatang, kami saling memberikan pengalaman mistis yang entah didapat darimana, nyata ataupun tidak, yang jelas obrolan itu sangat diminati.

Sebagai penutup cerita dengan pak sopir, Adnan berkata "Pak, kalau siang coba lihat ada warung ga di sini, ntar kayak temenku yang berhenti di warung malam-malam siangnya ga ada apa-apa, hahaha", cetusnya dan langsung pergi tanpa menyapa penjual, sudah biasa dia menumpuk uang hanya untuk bilang siang lihat warung ini ada atau tidak.

Malam ini berakhir dengan meninggalkan raut muka memucat dari pak sopir dan kenek yang tengah mencoba santai.

Ceritanya masih panjang dan satu reserved di bawah untuk index dikemudian hari...
Diubah oleh ibliss666
profile-picture
profile-picture
profile-picture
zafranramon dan 42 lainnya memberi reputasi
43
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Warung itu Tempatku Berbagi Cerita Hantu
12-06-2019 07:15
"Pelaris berarti sama kayak pesugihan ya?", celetuk Adnan.

Sembari menerawang jauh, Adnan jadi teringat tulisan seseorang bernama Tyra yang dituturkannya kepada Bang Billy dan dikemas sebagai cerita mistis yang nyata, dimana ia melihat kematian tumbal pesugihan. Tanpa dikurangi atau ditambahkan, penuturannya menjadi sebuah kisah menarik yang dirahasiakan, jadi agan sista jangan beritahukan cerita ini kepada siapa-siapa.. karena ini rahasia ~

Warung itu Tempatku Berbagi Cerita Hantu

KKN atau Kuliah Kerja Nyata umumnya berlangsung selama 1-2 bulan di daerah pedesaan. Lokasi KKN saya berada di Cianjur, sekitar 3 – 4 jam perjalanan dari terminal Pasir Hayam, tapi saya tidak mau menyebutkan secara detail nama daerahnya.

Tim KKN saya terdiri dari 16 orang yang berasal dari 7 fakultas berbeda. Ada fakultas ekonomi, komunikasi, hukum, sosial politik, pertanian, peternakan dan psikologi. Masing-masing fakultas diwakili 2 orang, kecuali pertanian dan peternakan yang mengirim 3 mahasiswa.
Setiba di lokasi, tempat tinggal tim dibagi dua. Tujuh anggota cewek menempati rumah lama milik Sekdes. Rumah ini bukanlah bangunan yang lama tidak dihuni. Sekdes pindah ke rumah barunya sekitar 1 minggu sebelum kedatangan kami.

Rumah ini menjadi base camp resmi, atau biasa kami sebut dengan Sekretariat. Anggota tim KKN sisanya menempati rumah yang cukup besar di dekat perbatasan desa dengan hutan. Rumah ini kami jadikan base camp tidak resmi karena lokasinya yang agak terpencil sehingga tidak khawatir mengganggu tetangga karena suara obrolan kami. Jarak terdekat tetangga dari base camp ini sekitar 100 meter.

Suatu malam, kami sedang berkumpul di basecamp. Tidak semua anggota tim KKN karena ada yang sedang belanja barang kebutuhan ke Cianjur, ada juga yang sedang ijin kembali ke Bandung. Sebelas orang yang tersisa malam itu, termasuk saya, sibuk membicarakan progres program-program yang sudah kami buat.

Tiba-tiba hujan turun sangat deras diikuti oleh petir dan angin. Kami yang sedang duduk di teras langsung pindah ke dalam rumah karena air hujan masuk akibat hembusan angin yang sangat kencang. Di ruang tengah, pembicaraan soal program pun kami lanjutkan.

Salah satu teman pamit buang air kecil sekaligus menawarkan diri membuatkan kopi. Tawaran yang langsung diterima dengan baik.

Sekitar 5 menit kemudian, teman tadi kembali tanpa membawa kopi.

“Mana kopinya? Katanya mau bikinin kopi?” Tanya Fitri, teman saya satu fakultas.

“Tunggu airnya mendidih. Eh, kalian tadi denger suara orang jerit nggak?” Miftah mengalihkan bahan pembicaraan.

Kami saling berpandangan. Bingung. Kemudian serempak menggelengkan kepala.

“Tadi pas lagi di kamar mandi, aku kayak denger suara orang njerit. Kayaknya suara perempuan. Atau nggak, suara anak-anak.”

Kami bersepuluh sama sekali tidak mendengar suara lain kecuali riuhnya bunyi hujan menimpa atap rumah.
Miftah kembali ke dapur tanpa bilang apa-apa lagi. Tidak lama kemudian, dia datang lagi sambil membawa nampan berisi kopi.

Menjelang tengah malam, hujan masih turun cukup deras namun tidak lagi dibarengi petir dan angin. Cuaca tidak memungkinkan saya dan teman-teman pulang ke Sekretariat, ditambah lagi kondisi jalanan yang gelap dan becek. Malam itu, kami putuskan untuk tidur di base camp. Toh, teman kami yang sedang ke Cianjur sudah mengabari mereka tidak bisa kembali karena hujan deras.

Saya dan teman-teman perempuan menempati kamar tengah, kamar yang paling besar. Kami berempat langsung pelor, nempel (bantal) molor (tidur).

Tok. Tok. Tok…

Sayup-sayup, saya mendengar bunyi ketukan halus.

Tok. Tok. Tok…

Apa saya lagi mimpi?

Tok. Tok. Tok…

Saya berusaha bangun dan mengaktifkan indera pendengaran, mencari sumber bunyi. Jendela? Pintu kamar? Atau… bunyi tetesan air sisa hujan?

Terdengar suara berderit pelan. Seseorang membuka pintu.

Jantung saya berdegub sangat kencang. Rasa kantuk mendadak hilang. Kondisi kamar yang remang menyulitkan saya melihat siapa yang membuka pintu. Selarik cahaya lampu dari ruang tengah masuk dari balik pintu.

Aah, ternyata Fitri yang membuka pintu kamar. Saya pun lega.

Fitri berbicara dengan seseorang dalam nada rendah. Saya tidak bisa melihat siapa lawan bicaranya karena terhalang daun pintu. Fitri kemudian mengalihkan pandangannya ke arah saya.

“Kenapa, Fit?” Saya bertanya.

“Elu belum tidur, Ty?” Fitri balik bertanya.

“Tadi sih udah, tapi kebangun lagi. Ada apa? Siapa itu?”

Dari balik pintu muncul wajah Reza. “Ty, elo bisa keluar sebentar? Urgent.”

Saya keluar kamar bersama Fitri. Di ruang tengah tempat kami berdiskusi tadi sudah berkumpul teman-teman cowok lainnya. Lengkap. Ada apa ini?

“Ty, Fit, elu inget tadi Miftah tanya soal orang njerit?” Reza membuka percakapan.

Kami berdua mengangguk mengiyakan.

“Tadi kita denger lagi. Kita semua, bukan cuma Miftah.” Reza melanjutkan.

Saya dan Fitri cuma diam.

“Kayaknya, asalnya dari rumah yang di ujung kebun itu.” Miftah menambahkan.

Aku ingat rumah kecil di ujung kebun belakang. Rumah itu ditinggali oleh seorang ibu muda bersama mertua perempuannya. Kami biasa memanggilnya Teh Siti dan Mak Unyeh. Belum lama ini Teh Siti melahirkan anak pertamanya, seorang putri yang cantik. Kami sempat menjenguknya sekitar seminggu yang lalu sambil membawakan barang-barang kebutuhan bayi. Saat kami datang, kami tidak melihat suami atau bapak mertuanya. Kabar yang beredar, suami dan bapak mertuanya pergi merantau ke kota Jakarta.

“Aku sama Miftah mau ngelihat ke situ. Takutnya ada apa-apa.” Kata Reza.

Saya paham alasan Reza mengajak Miftah. Selain berbadan paling kekar, Miftah juga menguasai ilmu bela diri.

Dengan berbekal dua senter beam besar dan radio komunikasi portable, Reza dan Miftah keluar dari pintu belakang. Hawa dingin yang menusuk menyeruak masuk saat pintu terbuka.

Di ruang tengah, kami menunggu kabar dengan cemas. Sementara di luar, hujan sudah berhenti. Keadaan sangat senyap. Sama sekali tidak terdengar bunyi kodok yang biasanya bersuka ria setelah hujan. Begitu pula serangga dan burung malam, tidak ada satu pun yang bersuara. Saya ingat paman saya (dia seorang pecinta alam sejati) pernah bilang, alam yang terlalu sunyi bukanlah pertanda baik.

Sudah lebih dari 15 menit belum juga ada kabar dari Reza dan Miftah. Takut terjadi apa-apa dengan mereka berdua, Indra mencoba memanggil lewat radio komunikasi.

“Za… Miftah…”

Tidak ada jawaban.

“Reza…. Miftah…” Panggil Indra lagi.

Masih belum ada jawaban.

“Reza… Miftah… Kalian baik-baik aja? Kalian di mana? Ganti!” Indra menaikkan volume suaranya.
Sedetik kemudian terdengar suara radio bergemersik.

“Roger, ini Reza. Ini siapa? Ganti.”

“Gue, Indra. Gimana, Za? Ganti.”

Kembali tidak ada jawaban.

“Za…!” Panggil Indra.

“Roger, Ndra. Sebentar gue balik dulu ke rumah. Nanti gue ceritain. Over and out.” Reza memutus komunikasi.

Sepuluh menit kemudian Reza dan Miftah sampai base camp. Dari wajah mereka berdua, kami tahu sesuatu yang buruk telah terjadi.

Sesampainya di ruang tengah, Reza langsung mendatangi peranti radio yang tadi digunakan Indra, sementara Miftah bergabung dengan kami tanpa bilang apa-apa. Reza kemudian mencari frekuensi radio yang biasa dipakai perangkat desa.

Saya melirik jam di tangan kanan. Sudah hampir jam 2 dini hari. Apa masih ada yang bangun?

Tiba di frekuensi yang dicari, terdengar suara-suara orang ramai bicara. Rupanya hujan deras dan angin kencang semalam sudah membuat beberapa pohon tumbang. Bahkan, ada satu yang menimpa bangunan sekolah dasar.

Reza memanggil Pak Kades melalui radio komunikasi.

“Muhun, Jang. Aya naon? Bapak keur mariksa tangkal nu ngarubuhan gedung sakolah.” Jawab Pak Kades. (Iya, Nak. Ada apa? Bapak lagi meriksa pohon yang menimpa gedung sekolah.)

“Ieu, Pak. Abdi aya kaperyogi ka Bapak. Penting pisan. Ganti.” Kata Reza. (Begini, Pak. Saya ada keperluan dengan Bapak. Penting banget.)

Reza berusaha bicara setenang mungkin, namun tetap tidak bisa menyembunyikan kegelisahan yang dirasakannya. Atau… rasa takut? Setidaknya itu yang saya rasakan.

Reza meminta Pak Kades datang ke base camp saat itu juga. Jika memungkinkan, Pak Kades juga mengajak seorang pemuka agama dan tenaga kesehatan. Pak Kades menyanggupi setelah mendengar penjelasan singkat Reza.

Sambil menunggu kedatangan Pak Kades, Reza menceritakan apa yang dialaminya bersama Miftah….

 

Sesampainya di rumah teh Siti, kondisi rumah sangat gelap. Tidak ada satu pun penerangan yang terlihat menyala. Situasi sekeliling rumah pun sama. Gelap dan sangat sunyi. Saya memanggil-manggil Teh Siti.

“Teh Siti… Teh Siti… Ieu abdi, Reza, budak KKN.” (Teh Siti… Teh Siti… Ini saya, Reza, anak KKN).

Tidak ada jawaban.

Saya mengulangi panggilan dibantu Miftah. Masih tidak ada jawaban.

Kami mengetuk pintu depan rumah sambil terus memanggil-manggil Teh Siti dan ibu mertuanya, Mak Unyeh. Tetap tidak ada jawaban. Ada yang tidak beres, bisik hati kecil saya.

Miftah menggamit saya, mengajak untuk memeriksa kondisi sekeliling rumah. Saya langsung menyetujui. Kami beranjak dari teras menuju ke samping rumah.

Kami menyorotkan senter ke sekeliling untuk memastikan kondisi aman. Di samping rumah, kami melihat satu jendela yang daunnya sedikit terbuka. Seberkas cahaya redup kekuningan berpendar dari celah-celah kayu daun jendela.

Miftah mengetuk daun jendela seraya memanggil Teh Siti dan Mak Unyeh.

“Mak Unyeh… Teh Siti… Ieu Miftah, jeung Reza. Teteh teu naon-naon?”

Senyap. Sunyi. Terlalu sunyi malah. Bahkan suara dengkuran halus khas orang tidur pun tidak terdengar.

“Mak Unyeh… Teh Siti… Ieu abdi, Reza. Abdi jeung Miftah. Teteh teu naon-naon?”

Gantian saya yang memanggil. Masih tidak ada jawaban apa-apa.

Ratusan perasaan menyelinap masuk ke hati saya dan Miftah. Berbagai skenario terburuk hinggap di otak kami. Sesudah mengumpulkan keberanian, kami membuka jendela lebih lebar dan melihat ke dalam kamar.

Ruangan yang hanya diterangi lampu minyak tempel menyulitkan kami melihat dengan jelas. Terpaksa kami menggunakan senter yang dibawa.

Firasat terburuk kami menjadi kenyataan tapi tetap saja kami tidak siap dengan apa yang kami lihat.
Mak Unyeh berbaring dengan mata terbelalak dan mulut terbuka lebar. Di samping kirinya, si bayi mungil juga berbaring tidak bergerak. Di sebelah bayi, terbujur ibunya, Teh Siti. Kondisi Teh Siti sama persis dengan Mak Unyeh.

Saking kagetnya, hampir saja senter yang saya pegang terlepas. Belum hilang kaget melihat kondisi Mak Unyeh sekeluarga, radio di tangan kiri berbunyi. Terdengar suara Indra memanggil.

“Za… Miftah…”

…..

 

Selama Reza bercerita Miftah hanya diam. Wajahnya masih sedikit terlihat pucat akibat shock. Kami juga terdiam. Sulit bagi kami membayangkan apa yang sudah pada keluarga Mak Unyeh. Kami juga tidak bisa membayangkan perasaan Reza dan Miftah yang pertama kali melihat kondisi mereka.

Sekitar pukul setengah tiga subuh, terdengar suara mobil memasuki halaman rumah. Dari ruang tengah, kami melihat Pak Kades turun dari mobil diikuti oleh 4 orang lainnya. Rupanya Pak Kades mengajak Mantri Puskesmas, Pak Kyai dan 2 orang hansip.

“Assalamualaikum,” salam Pak Kades.

“Wa alaikum salam.” Kami menjawab nyaris serempak.

Pak Kades, Pak Mantri dan Pak Kyai bergabung dengan kami di ruang tengah, sementara 2 orang hansip memilih duduk di teras.

Reza mengulangi lagi ceritanya. Kali ini, Miftah ikut bicara, melengkapi bagian-bagian yang terlewatkan. Rupanya dia sudah lebih tenang. Sementara itu, Pak Kades dengan seksama menyimak cerita Reza dan Miftah sambil sesekali mencatat. Pak Kyai dan Pak Mantri pun demikian. Mereka sama sekali tidak menyela pembicaraan.

Selesai Reza dan Miftah bercerita, Pak Kades mengajak untuk memeriksa kondisi Mak Unyeh sekeluarga. Hanya 7 orang yang berangkat ke rumah Mak Unyeh, termasuk 2 orang hansip.

Kami yang tidak ikut ke rumah Mak Unyeh tidak bisa lagi melanjutkan tidur. Rasa penasaran sekaligus takut sudah menggantikan rasa kantuk. Kami semua berkumpul di ruang tengah, termasuk dua teman yang tadi tidur di kamar bersama saya dan Fitri. Tidak ada satu pun yang mau melewatkan kejadian penting dini hari ini. Namun tidak ada yang sanggup membicarakannya. Kami cuma diam, sibuk dengan pikiran masing-masing.

Tiga puluh menit berlalu, rasanya seperti sudah ribuan jam kami menunggu. Lamat-lamat kami mendengar bunyi langkah kaki dan suara orang bicara. Suara semakin jelas dan pintu depan terbuka. Reza yang pertama masuk diikuti Pak Kades, Pak Kyai, dan Miftah. Tidak lama, terdengar suara mobil dinyalakan dan pergi meninggalkan halaman base camp.

Dari wajah-wajah mereka semakin jelas bahwa sesuatu yang sangat luar biasa sudah terjadi. Melalui radio komunikasi, Pak Kades memerintahkan anak buahnya untuk menyiapkan masjid dan menggali 2 lubang di pemakaman desa. Pak Kyai berulang kali terdengar mengucapkan kalimat istighfar secara lirih. Matanya menerawang ke langit-langit rumah. Selesai memberi instruksi, Pak Kades mengajak Pak Kyai pindah ke teras.

Reza berbisik di telinga saya, minta tolong dibuatkan kopi untuk Pak Kades dan Pak Kyai. Saya mengajak Hanny menemani ke dapur. Selesai membuat kopi untuk dan mengantarkan ke teras, kami dikumpulkan di ruang tengah. Reza mengupdate kami peristiwa di rumah Mak Unyeh.

Setelah memastikan situasi rumah aman, kami berempat masuk ke dalam rumah. Miftah dan kedua hansip berjaga-jaga di luar.

Pak Mantri langsung memeriksa kondisi Mak Unyeh, Teh Siti dan bayi mungil yang belum sempat diberi nama. Ketiganya dipastikan sudah meninggal dunia. Di sekeliling jenazah tidak ditemukan genangan darah, obat serangga, atau barang-barang yang bisa menyebabkan kematian. Namun, di lengan kanan Mak Unyeh ditemukan 2 titik kecil berwarna merah yang mencurigakan. Titik kecil yang sama ditemukan di betis kiri Teh Siti. Pada si bayi, ditemukan pada paha kanannya. Dua titik kecil ini mirip dengan bekas patukan ular.

Pak Kyai kemudian meminta kami membaca Al Fatihah demi ketenangan almarhumah. Beliau lalu menutup mata dan mulut Mak Unyeh dan Teh Siti.

Pak Kyai meminta jenazah dimakamkan secepat mungkin karena ada yang tidak wajar pada kematian ketiganya. Pak Kades agak keberatan. Menurut Pak Kades, lebih baik menunggu suami-suami mereka datang dari kota.

“Mereka tidak akan datang,” tegas Pak Kyai.

Kami kaget mendengar ucapan Pak Kyai.

“Semoga saya salah. Tapi Insya Allah, firasat saya bilang mereka tidak akan datang,” lanjut Pak Kyai.

“Kematian Mak Unyeh, Siti dan anaknya sepertinya disebabkan oleh sesuatu yang tidak biasa. Bapak bisa lihat, mata dan mulut Mak Unyeh dan Siti terbuka lebar. Mereka seperti melihat sesuatu yang sangat menakutkan sesaat sebelum kematian. Ditambah lagi ada 2 titik kecil yang mencurigakan. Lagi pula kalau harus menunggu suami mereka pulang, kasihan arwah Mak Unyeh, Siti dan anaknya,” tambah Pak Kyai.
Mendengar penjelasan Pak Kyai, Pak Kades pun menyetujui pemakaman dilaksanakan secepat mungkin.

***

Pemakaman Teh Siti, bayinya, serta Mak Unyeh dilakukan dini hari itu juga, dipimpin langsung oleh Pak Kyai. Ada sekitar 20-an orang yang menghadiri pemakaman, termasuk saya dan 5 anggota tim KKN lainnya.
Usai prosesi pemakaman, rombongan pengantar bersiap-siap untuk pulang. Dengan hati-hati kami berjalan di antara nisan. Kami juga harus menghindari genangan lumpur di sana sini akibat hujan lebat semalam.
Tiba-tiba terdengar suara mirip ledakan yang cukup keras dari tengah komplek makam. Semua orang terkejut sekaligus ketakutan, khawatir ada ledakan susulan. Satu-satunya orang yang tetap tenang hanya Pak Kyai. Beliau berdiri tegap. Wajahnya menghadap ke arah 2 makam yang baru saja selesai ditutup.

Jemarinya terus bergerak meniti butiran tasbih di tangan kanan.

Mendadak muncul asap tipis (awalnya saya mengira itu adalah kabut yang terkena sinar lampu senter) dari 2 makam yang baru saja kami tinggalkan. Asap itu kemudian bergerak ke arah pintu masuk komplek pemakaman. Aneh, karena saat itu sama sekali tidak ada angin. Asap tersebut bergerak seperti seekor ular yang sedang melata. Mata kami mengikuti terus kemana arah asap bergerak. Sayang, pekatnya malam seolah menelan asap dan kami kehilangan jejak.

Pak Kyai memanggil kami berkumpul kembali. Beliau meminta makam digali lagi.

Selapis demi selapis tanah digali. Perlahan, kayu padung penutup liang lahat mulai muncul. Setelah semua kayu padung telihat, Pak Kyai meloncat masuk ke dalam lubang makam dan berdoa. Beliau lalu mengangkat 2 lembar kayu padung di bagian paling atas dan meletakannya di sisi kanan. Pak Kyai kembali menengadahkan tangan, memohon perlindungan Allah SWT. Usai berdoa, beliau berlutut dan membungkuk, mendekati jenazah Mak Unyeh. Perlahan, kain kafan mulai dibuka.

“Masya Allah…! Astaghfirullahal ‘adzim…!” Semua yang hadir berteriak kaget.

Dari balik kain kafan muncul batang pisang. Ya, betul batang pisang.

Pak Kyai merapikan kembali kain kafan Mak Unyeh, lalu pindah ke makam Teh Siti. Prosesi yang sama diulangi sekali lagi. Hasilnya pun sama. Alih-alih wajah Teh Siti, kami kembali melihat batang pisang dari balik kain kafan.

Pak Kyai memerintahkan makam kembali ditutup. Sambil memandangi butiran tanah mengisi lubang makam Mak Unyeh dan Teh Siti, saya membacakan Al Fatihah dan Al Ikhlas untuk mereka bertiga. Semoga arwah mendapat ketenangan dalam istirahat abadinya.

Para penggali kubur masih menimbun makam dengan tanah ketika samar-samar telinga saya menangkap suara derap langkah kuda. Saya menatap Reza dengan pandangan bertanya, apakah dia juga mendengar yang saya dengar. Reza mengangguk kecil. Dia juga mendengar. Seseorang mendadak berteriak seraya menunjuk ke pintu masuk komplek pemakaman. “Eeee.. ta… Eta nnaaooon?!”

Kami sontak memandang arah yang ditunjuk. Dari tengah keremangan dini hari, muncul bayangan 2 ekor kuda. Di punggung kuda, masing-masing 2 orang… Satu orang penunggang dan satu orang yang duduk di belakang penunggang. Tunggu… Di kuda yang terakhir, penumpangnya terlihat seperti menggendong bayi dalam pelukannya. Kedua kuda tersebut langsung melesat, seolah terbang, dan menghilang dari pandangan kami.

Pak Kyai mengumpulkan kami dan berpesan agar apa yang kami alami dan lihat barusan bisa menjadi pelajaran. Beliau juga berpesan jangan menambah-nambahi kejadian malam ini dengan bumbu-bumbu cerita yang tidak perlu. Namun, jauh lebih baik lagi jika tidak membicarakannya. Kasihan para almarhumah, tidak perlu lagi menambah penderitaan mereka.

***

Kejadian itu sangat membekas di benak kami, bahkan setelah bertahun-tahun kemudian. Ketika reuni untuk pertama kalinya, sekitar 5 tahun sesudah kelulusan, hal pertama yang kami kenang adalah tragedi keluarga Mak Unyeh.

Beredar kabar bahwa Mak Unyeh, Siti dan sang bayi menjadi tumbal pesugihan yang dilakukan oleh suami-suami mereka. Pesugihan apa namanya, kami tidak tahu, dan tidak tertarik ingin tahu. Hanya saja, sampai acara tahlilan 7, 40 dan 100 hari, baik suami Teh Siti maupun suami Mak Unyeh, tidak pernah datang. Bahkan, mereka tidak pernah lagi muncul di desa tersebut.
Diubah oleh ibliss666
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 18 lainnya memberi reputasi
19 0
19
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Warung itu Tempatku Berbagi Cerita Hantu
29-05-2019 12:47
Warung ini baru buka jika jam sudah menunjukkan pukul 18.30 WIB, jadi tak ada ceritanya warung tutup jam 9 malam walau ada setan yang nongol sekalipun, begitu kata pemilik warung..

Seperti warung yang dulu pernah kusinggahi dan beberapa kali kulihat, kalau malam sudah beranjak mereka sudah mulai menutup warungnya. Kata tetangga warung itu memelihara makhluk gaib sebagai pelaris, mudah saja melihatnya, biasanya kalau malam hari sebuah warteg yang ada jin pelarisnya itu tak memiliki lampu penerangan, tempatnya ramai namun enggan direnovasi, dapur yang terpisah dengan tempat makannya hingga adanya buntelan/bungkusan yang disimpan di warung.

Dulu pernah ada seorang gadis yang bekerja di sebuah restoran soto. Restoran itu kalau tidak salah berada di pinggir jalan raya atau jalan tol, memang tempat itu ramai sekali jika siang hari, karyawannya juga termasuk banyak, ada sekitar 10 orang. Semua berjalan lancar, tapi di sana ada satu ruangan di sebelah toilet yang tidak boleh dimasuki siapapun termasuk para karyawan. Suatu hari ada seorang ibu-ibu yang ingin ke toilet, diberitahukanlah arah menuju toilet, namun ia salah masuk ruangan.. ruangan itu memiliki pintu berwarna merah, di dalamnya lembab dan sedikit gelap, di dipannya terdapat seorang nenek.. Nenek yang tengah duduk dengan kaki tercelup...ke dalam kuah soto dan kakinya penuh dengan luka terbuka dengan sayatan rapi, menandakan luka itu diiris menggunakan benda tajam. Ibu itu pun tersentak kaget, lalu segera keluar dari ruangan itu dan kembali ke meja mengajak keluarganya untuk pulang walau belum sempat memesan makanan. Ibu yang tiba-tiba pulang itu membuat gadis tadi keheranan, kemudian ia mencoba mencari tahu dengan masuk ke ruangan itu, tak di sangka dengan apa yang dilihatnya, keesokan harinya pun ia memilih resign.. kabarnya gadis itu tak berumur panjang semenjak ia resign dari restoran itu..

Entah bisa dipercaya atau tidak cerita ini, begitulah yang pernah terdengar..

Warung yang menggunakan pelaris tak hanya satu dua saja, dan korban karena pelarisan itu juga tak hanya tumbal saja. Seorang penjual bubur dengan gerobak yang biasa mangkal di pinggir jalan dekat Stasiun X merasa dagangannya sepi sekali sejak ada seorang penjual bakso di dekatnya, mungkin para pembeli memang sedang ingin membeli bakso, begitu pikirnya. Hingga ada seorang pelanggan yang tak sengaja berpapasan dengannya bilang, "Pak kemarin kok tidak jualan?", tanyanya. Ia pun bingung karena setiap hari ia jualan di sana, "Jualan kok buk tiap hari", jawabnya. Pelanggan itu pun menyangkal karena hari itu ia sudah mencari di tempat biasa ia jualan namun tak didapatinya.

Karena kejadian itulah ia pun bertanya ke sana ke sini tentang hal ganjil ini, lalu ia melakukan hal-hal yang dianjurkan oleh beberapa rekannya seperti menyiramkan air garam, membaca rapalan, hingga memasang pagar gaib, walau ia agak ragu namun akhirnya sedikit demi sedikit dagangannya ada yang beli lagi. Ia menyebutnya "warung yang ditutup paksa".

Kalau lagi makan sebaiknya ajak teman yang bisa "melihat" seperti cerita ini.

Ada seorang santri, hari itu ustadznya sedang berkunjung ke kotanya, lalu mengajak beliau makan di sebuah tempat makan yang ramai.

"Mari pak masuk, di sini enak makanannya", terang ia pada gurunya.
"Jangan di sini ke tempat lain saja", kata pak ustadz
"Kenapa pak?", tanyanya penasaran.
"Lihatlah di sana", sambil menepuk pundak muridnya itu, kagetlah ia karena melihat satu makhluk di depan yang entah apa bentuknya, gimbal dengan wajah menyeramkan sedang melambai-lambaikan tangannya seperti mengajak orang untuk datang.
"Yasudah yuk pak pergi", setelah melihat itu merekapun langsung pergi menuju tempat makan lain.

Tak hanya membuat kontrak dengan makhluk lain, terkadang ada pula orang itulah yang menjadi pemikatnya. Seorang nenek yang masih ingin muda mengadakan perjanjian dengan iblis, sehingga perawakannya terlihat cantik di depan manusia biasa.

"Neng, sini abang mau pesan makanan", teriak seorang pelanggan di warungnya Neng Mina. Dengan lemah gemulai dan body sexy Mina pun menghampiri Tarjo, lelaki yang memanggilnya.

"Iya bang, silakan mau pesan apa", tanya Mina dengan nada yang lembut.
"Nasi pake sayur sama ikan ye, minumnya es teh, dua ya sama temen ", setelah itu Mina pun melengang pergi ke dapur untuk menyiapkan pesanannya.
"Jo, cantik banget itu, semok lagi, pantesan lu sering ke sini", kata Rio yang berada di sebelahnya.
"Yoi bro, katanya sih dia bisa di BO", pukasnya.
"Emang pernah lu?", tanya Rio
"Ya belum sih hehehe", jawab Tarjo sambil memainkan jarinya di meja.
"Yaelah Jo.. bohong kali tuh", tukas Rio yang menyangkal hal itu.

Kalau bisa di boking boleh juga nih..Rio pun berfikir yang tidak-tidak siang itu, dengan sedikit speak-speak Rio pun memberanikan diri untuk menyapa dan sok dekat dengan Mina agar jalan buat boking dia terbuka lebar.

"Jo, lu punya nomer hapenya Mina kaga", tanya Rio.
"Lah lu kaga pernah pesbukan apa? nomernya terpampang nyatah di grup kuliner, bisa delivery order, yang nganter Mina sendiri", jelas Tarjo yang ternyata tahu banyak tentang Mina ini.
"Ya mana tau Mina yang ini atau yang mana Jo...", tukas Rio.
Akhirnya Rio pun menghubungi lewat FB yang tertera di layarnya, awalnya Rio hanya memesan makanan satu dua kali saja, lalu mereka saling bertukar foto dan pernah juga video call. Lambat laun Rio dan Mina semakin dekat, Rio semakin berani dengan blak-blakan mengutarakan keinginan awalnya pada Mina.

Warung itu Tempatku Berbagi Cerita Hantu

Saat malam, Rio pun menghampiri Mina di warungnya, ia melihat Mina sedang membereskan meja, setelah warung dikunci, merekapun berjalan-jalan menggunakan motornya Rio.

"Mina, dingin banget ya malam ini", kata Rio di perjalanan.
"Iya bang aku juga ngerasa dingin", balasnya
"Yaudah yuk cepet ke kontrakanku, kita ngobrol di sana", ajak Rio dengan sigap.
Motorpun ditancap menuju kontrakan Rio yang tak terlalu jauh dari warung Mina, di dalam kontrakan yang semakin larut dan semakin dingin itu menjadi awal tragedi yang sangat mengejutkan bagi Rio.

"Gimana bang, enak gak?", tanya Mina yang tengah berpakaian lagi.
"Gila Min, ini sih enak banget, punyamu beda sama yang lain", kata Rio yang masih asyik memeluk Mina.
"Yaudah bang ini udah pagi, anterin Mina pulang", tukas Mina.

Setelah mengantar Mina, Rio pun ke tempat Tarjo untuk memamerkan kejadian semalam. Di rumah Tarjo sudah ada temennya Tarjo yang bernama Edi. Edi dan Rio baru berjumpa, namun pertemanan lelaki ya tanpa ditanyapun sudah bisa akrab dalam sekejap.

"Jo, ni semalem gw sama Mina", sambil memberikan handphonenya yang terdapat foto dirinya dan Mina tengah berada di ranjang.
"Gileee... lu apain Mina sampai bisa ngikut", tanya Tarjo takjub.
"Biasa lah hahaha", dengan bangga Rio tertawa lebar.
Tarjo memberikan handphone Rio kepada Edi untuk memberitahu tentang apa yang sedang dibicarakannya.
" Buset ini nenek-nenek kenapa ditidurin?", kata Edi yang keheranan.
"Ha?, nenek-nenek gimana, wong cantik gini dibilang nenek", timpal Tarjo pada Edi.
" Jo ini beneran nenek-nenek lah, mata batin lu kaga kebuka sih", ucap Edi yang membuat Rio lebih keheranan daripada Edi tadi.
"Emang bener ini tu nenek-nenek? gw bisa lihat kaga kalau bener nenek-nenek?", tanya Rio pada Edi.
" Bisa sih, tapi langsung ketemuan ya sama neneknya", kata Edi.
"Oke, nanti siang jam 2 ke warungnya aja, dia di sana ntar", sambil memikirkan apa yang dikatakan Edi, Rio masih bingung dan tidak percaya, gimana bisa nenek-nenek wujudnya cantik seperti itu.
Sambil menunggu waktu, mereka bertiga ngobrol ringan dan menghabiskan berbagai makanan yang ada di rumah Tarjo.
" Yok dah jam 2, Mina lagi di warung katanya", ajak Rio kepada kedua temannya itu.
"Sini dulu gw buka matabatinnya", kata Edi.
Akhirnya ketiga orang itu pun meluncur menuju ke warungnya Mina dan benar saja ternyata yang mereka temui adalah nenek-nenek dengan baju sexy dan jalan yang dilenggok-lenggokkan. Betapa syok dan kagetnya Rio karena dia telah meniduri seorang nenek-nenek. Akhirnya Rio dan Tarjo kapok ke warungnya Mina dan Rio memilih pulang kampung untuk menghindari Mina karena menurut Edi, Mina mengambil sedikit demi sedikit sukma milik Rio dengan berhubungan badan yang bisa menyebabkan sakit hingga kematian.

Hal diluar nalar seperti itu mungkin hanya sebagian saja yang mempercayainya, termasuk Adnan yang sedari tadi hanya mengangguk-angguk mendengar cerita pelaris ini..
Diubah oleh ibliss666
profile-picture
profile-picture
profile-picture
qoni77 dan 11 lainnya memberi reputasi
12 0
12
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Warung itu Tempatku Berbagi Cerita Hantu
03-07-2019 22:48

selingan

Warung itu Tempatku Berbagi Cerita Hantu


Seperti biasa aku akan menggunakan bahasa aku sebagai pelaku,kisah ini nyata terjadi di sebuah kota L di Jawa Timur yang dialami oleh sahabat saya sendiri, bahkan hingga kisah ini dimuat sesungguhnya yang terjadi masih tersimpan rapat, tiada satupun keluarga yang tau, namun itu menjadikan dia dihimpit perasaan yang sedikit mencekam, mungkin dengan dia berbagi kisah disini, bisa sedikit memberi kelonggaran apa yang selama ini dia rasakan.

Aku anak sulung dari tiga bersaudara,hidup keluarga kami terbilang pas pasan namun aku sebagai anak sulung ingin cepat cepat membantu meringankan beban orangtua ,dan agar asap didapur terus mengepul serta membantu membiayai adik adik sekolah,meskipun sempat terpampang dibenak saya ingin menikmati bangku kuliah.Namun semua itu aku tepis,aku sadar masih ada dua adikku yang masih membutuhkan biaya hingga SMU,orang tuaku menghidupi kami dari sebuah hasil panen padi saja,ya orang tuaku seorang petani.Jadi sebagai anak sulung aku harus bisa memberi contoh ke adikku ,nikmati hidup yang ada didepan kita.

Setelah tamat SMU, aku mencari kerja di Surabaya hingga bertemu dengan sahabat saya,ya dia ini admin salah satu di page ini,dan disinilah kisah ini saya mulai.Aku bekerja disebuah Finance Pembiayaan Kredit motor,sebagai tenaga penagihan,gajipun terbilang cukuplah buat seorang bujangan seperti diriku,setiap dua minggu sekali aku menyempatkan diri pulang menenggok ayah dan ibu dan tak lupa memberi jajan pada kedua adikku,tidak seberapa sih,namun cukup membuat mereka senang.

Awal bencana ini,bermula dari adikku,ya namanya anak tau ada temannya punya HP dia pasti kepingin apalagi dia sudah SMP,aku hanya janji.
“ nanti ya kalau kakak gajian,nanti kakak belikan”,kataku padanya.
Namun ternyata adikku tidak sabaran terus merengek pada ibuku,alhasil ibu pinjam uang pada seorang rentenir,dikampung saya ada seorang rentenir,dia pendatang dikampungku dia berasal dari Pulau S,namun semua mengatakan kejamnya luar biasa dan anehnya tiada satupun warga yang berani menentang dia,semua takut dan tunduk walaupun rentenir itu menyita barang sebagai jaminan ketika tidak bisa membayar tepat waktunya,belum lagi bunga terus berbunga,dan dendapun bisa juga berbunga,gilakan??namun yang namanya keperluan,semua itu membutakan mata semua warga.Padahal dikampung waktu itu ada koperasi Simpan Pinjam,gak tau juga banyak warga yang pinjam ke rentenir tersebut.

Awalnya aku tidak tau,kalau ibu saya salah satu orang yang ikut hutang di rentenir tersebut,setiap saya pulang ku lihat seperti ibu memendam sesuatu namun diam saja,dan aku sedikit terkejut sewaktu kulihat adikku sudah punya HP.
“aduh hp baru,siapa yang belikan?”tanyaku
“ibu,kak “jawab adikku
Aku kekamar ibu dan bertanya kepada beliau,dan ibuku mengiyakan katanya hasil tabungan yang sedikit demi sedikit dikumpulkan buat belikan HP kedua adikku,aku percaya saja.
Seminggu sudah aku pulang dari kampung halamanku,rasanya letih tubuh ini,setelah seharian bekerja dibawah teriknya,namun saat mau merebahkan tubuhku dengan mata sedikit terkantuk,tiba tiba ,HP ku berbunyi ,aku lihat adikku yang telepon.
“ya ,dek ada apa”tanyaku
Hanya isak tangis yang kudengar,dengan suara yang tersendat sendat adikku berbicara juga.
“ibu kak,ibu,”jawabnya sambil terisak
“ya,ada apa ama ibu”jawabku seolah tidak ingin terjadi apa apa.
“cepat pulang sekarang kak,”isak adikku.
Tanpa membuang waktu aku langsung beranjak,tak kupedulikan tubuh letihku,yang ada dalam benakku aku harus pulang,aku ingin tau ada apa ama ibuku,sosok wanita yang paling aku sayangi.
Kupacu motorku denganku kecepatan tinggi,namun tak lupa doa doa terus kupanjatkan agar aku sampai dengan selamat dirumah.tak perlu waktu lama 2jam sudah aku tempuh,akhirnya sampai juga.
Aku masuk disana,kulihat ibuku mengerang kesakitan dan ayah serta adikku hanya menangis,akupun langsung menubruk tubuh ibuku.
“Ibu,ibu kenapa bu”,tanyaku
“ibu,tidak apa apa nak,”jawabnya
Aku marah pada ayah dan adikku,kenapa tidak dibawa kedokter?kata ayahku,ibuku yang tidak mau.
Aku lihat pucat pasi wajahnya,sambil mulutnya meringis menahan sakit didalam tubuhnya,aku semakin menangis dan terus memberikan kata kata ,ibu ucap bu Istiqfar.
Allah Allah Allah,aku terus membisikkan kalimat itu ditelinga ibuku.
Namun Allah berkehendak lain,ibuku meninggal tepat pukul 3 dini hari,bisa terbayangkan gimana meledaklah tangis seisi rumah.aku hanya termenung,aku belum bisa membahagiakan dia.dan ada satu ganjalan dihatiku ibuku sakit apa?karena selama ini dia baik baik saja,esok paginya acara pemakaman ibupun dilaksanakan,dengan perasaan belum ikhlas aku mengantar kepergian ibuku,aku harus mencari tau ada apa dengan ibuku,mungkin ini nuraniku sebagai anak merasakan ada yang tidak wajar dengan kematian ibuku,mata melotot seolah tercekik dan raut wajah seolah ketakutan yang teramat sangat.

Malam hari setelah acara Tahlilan,aku menemui ayahku,aku merasa ayah pasti tau,pasti ada yang diarahasiakan dibelakangku,akhirnya ayah cerita,bahwa ayah dan ibu mempunyai hutang pada rentenir dengan nominal 5 juta dan dalam tempo 5 bulan tidak bisa kembalikan dengan bunga berbunga hutang itu kini jadi 12 juta,gilaaa itu teriakku,aku menyesalkan kenapa tidak cerita ke aku?semenjak tidak bisa bayar hutang itu,ibuku gelisah teramat sangat.
Paginya aku belum kembali bekerja,sengaja aku mengajukan cuti ,dan pergi ke warung kopi tak jauh dari rumah,ya sekedar ingin mencari info tentang gimana sepak terjang rentenir itu,jujur dalam hatiku langsung negative ke rentenir itu,bahwa kematian ibuku ada hubungannya dengan dia.
‘hai,sapaku pada kawan kampungku,mereka teman saya sewaktu kecil’
“hai,Aldi.”sapa mereka
Aku ikut membaur bersama mereka,dan mereka mengucapkan turut berduka cita,kepadaku. diakhir perbincangan aku pamit pada mereka karena terdengar suara adzan dhuhur sudah berkumandang.

Tiba tiba ditengah jalan,ada temanku tadi yang memanggilku,
Aku berhenti,aku tanya ada apa?
Aku mau sedikit cerita tentang yang tadi kamu tanyakan diwarung,tentang rentenir itu,aku ajak temanku itu berhenti dan duduk sejenak di bawah pohon rindang yang ada didepanku.temanku bercerita dia rentenir kejam dan sudah ada tiga nyawa yang melayang karena ulahnya,aku tidak langsung percaya ,kok bisa ?tanyaku.ya semua yang meninggal pasti yang berhutang padanya,dia punya ilmu yang itu pesugihan kuda,jika mata kamu bisa menembus alam gaib,maka didepan rumahnya kamu akan lihat dipintu rumahnya dijaga seekor kuda berkepala manusia,dan coba kamu lihat dibawah ranjang ibumu pasti ada bulu seperti bulu kuda,ahhh masak?jawabku.coba kamu cari sekeliling kamar ibummu,karena dua orang kemaren yang meninggal sempat menemukan ada bulu kuda dibawah ranjangnya dan bermimpi dikejar kejar kuda.

Aku langsung pamit pulang,dan mencoba percayai kata temanku ini,aku masuk kamar ibuku,tak kupedulikan ada ayahku yang lagi sholat,aku cari dibawah tempat tidur tak ada bekas bulu,namun aku masih belum puas juga,namun tiba tiba pikiranku ingin membuka dibawah kasurnya,Ya Allah aku temukan banyak sekali bulu bulu halus disana,ayahkupun bertanya dan mendekatiku,
“Ada apa?tanya ayahku.”
Aku ceritakan yang tadi disampaikan ayahku,dan sepertinya ayah sudah tau itu semua,memang sempat ibuku sebelum meninggal seperti mimpi dikejar kejar kuda,itu kata ayahku,namun ayahku tidak mau cerita takut melahirkan dendam dihatiku,namun ternyata semua itu benar nyatanya,ya aku dendam,aku harus menuntut balas kematian ibuku.

Pagi pagi benar aku berangkat ke kota B,di Jawa Timur dimana yang notabene banyak orang bilang dikota tersebut rajanya santet,nyawa orang disana hanya seharga satu pak rokok,dan bisa juga pagi sehat sorenya gila hanya imbalan satu batang rokok.tergantung permintaan kita dan segala risikonya kita yang menanggung.
Dengan bekal alamat yang kudapat dari seorang sahabat,akhirnya pondokan didalam hutan dipinggiran desa di Kota tersebut aku temukan juga,katakanlah dia seorang dukun sakti bernama Ki P,dan aku menceritakan semua permasalahan yang terjadi dengan keluargaku,tujuanku sebenarnya hanya ingin cari tau apa bener ibuku jadi tumbal atau santet dari rentenir tersebut,dan rupanya Ki tersebut cukup paham apa yang berkecamuk dihatiku.dia meninggalkan aku disebuah ruangan yang dengan bau kemenyan teramat sangat menyesakkan nafasku,Aki tersebut masuk ketempat spiritualnya,dan satu jam kemudian aku tersebut membawa sebuah gunting.dia mengatakan padaku.

“ibumu meninggal belum ada 40 hari,ya ibumu jadi tumbal dan nyawanya ada diantara dua alam,ibumu tidak tenang dan akan jadi budak dikerajaan kuda.namun jika kamu berani bongkar kuburan ibumu dan tanamlah gunting ini disamping pocongnya dengan mulut kamu yang menaruhnya,setelah itu baca mantra yang aku kasih ini,dan ibumu akan bangkit dia akan menunjukkan siapa yang telah menyakitinya,jika memang terbukti bahwa rentenir itu yang membunuhnya maka gunting ini akan menancap di jantungnya,jika kamu sanggup,aku akan beri mantranya dan hari hari dimana itu sebuah pengapesan/hari sial bagi sang pemuja kekayaan,dan hari itu juga kamu harus membongkar kuburan ibumu.akupun mengiyakan demi kesempurnaan ibuku,itu yang ada dipikiranku.

Aku langsung pulang kerumah,dan aku panggil 4 sahabat kecilku,aku butuh bantuan mereka buat perencaan yang telah aku dapat dari si Aki,rupanya temanku tidak keberatan karena rentenir itu cukup meresahkan penduduk.namun mungkin ini hari yang kutunggu, si Aki memberi petunjuk lewat mimpi bahwa malam ini adalah hari naas nya rentenir tersebut,cepat cepat pagi itu juga aku menghubungi temanku. Untuk mempersiapkan acara bongkar kuburan ibuku. Tepat pukul 12 malam aku langsung kekuburan ibu dan tak lama aku lihat pocongnya berubah jadi sebuah gedebog pisang dimataku tapi dimata temanku tetap masih pocong ibu,aku lakukan semua sesuai perintah Aki, dan aku kuburkan gunting di samping pocongnya, setelah itu kembali tanah aku urukkan tanah,dan seperti sedia kala,biar besok tidak heboh ada kuburan orang terbongkar.

Aku kembali kerumah pukul 3 dini hari dan aku pergi tidur,esok harinya berkumandang dari suara balai desa bahwa rentenir itu meninggal dunia terkena serangan jantung. Aku langsung loncat dan buru buru mandi ingin menyaksikan jenazahnya, Masya Allah aku lihat dadanya tertusuk gunting yang ku taruh di kubur ibu,bdan wajah wanita itu seolah melotot dan jarinya menunjuk padaku,itu yang aku lihat, aku berteriak dan langsung keluar, namun dimata semua orang rentenir itu meninggal biasa saja tanpa ada darah dengan mata terpejam layaknya orang mati biasa,namun di mataku dia meninggal dengan amarah yang memuncak, seolah akan ada balas dendam.

Demikian kisah ini masih saya simpan rapat dari keluarga dan hanya sahabat saya tadi yang tau dimana mereka membantu membongkar kuburan ibuku, kini aku setiap malam dan setiap hari tiada pernah ketenangan hingga cerita ini aku kisahkan. Masih terus terngiang ringkik kuda setiap malam terkadang aku melihat sosok wanita yang mirip dengan rentenir itu dengan terus menunjukkan tangan padaku. Aku hampir gila terus terusan dikejar ama bayangan semua itu.kini aku menetapkan tinggal disebuah pesantren yang dipimpin seorang seorang Kyai dia akan merukyah aku, dan menghindarkan aku dari dendam wanita itu yang memang arwahnya menuntut balas, karena didalam wanita itu ada iblis yang bersemayam.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 10 lainnya memberi reputasi
11 0
11
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Warung itu Tempatku Berbagi Cerita Hantu
18-06-2019 22:04
Terakhir ini. Ini ane sendiri yang alamin.
Jam udah nunjukin waktu 2 pagi, suasana makin sunyi, ane njaga kelas 9C bareng sama Risma. Nah Apesnya si Risma ini lagi M gan, dan ya dia jadi bulan bulanan si penunggu kelas itu.

Begini kronologinya, ane duduk di kursi Guru, si Risma ini duduk di lantai, beralas sarung kepunyaan ane 😭. Si Risma ini agak cengeng gan, orangnya agak manja manja gitu, dia lebih milih rebahan di lantai make sarung ane ketimbang duduk di kursi guru.

Dia dari duduk santai jadi duduk tegang, meluk lututnya sendiri sambil nangis.
"ah kampret, rasanya kok gw merinding liat Risma nangis gitu," pikir ane pas itu. Ane beraniin nanya
"Ris, Lu napa?,"
Dia ga nengokin ane gan, dia liat ane pake lirikan doAng dari sela lutut dan lengannya, dia berbisik lirih
"ada nenek nenek, liatin gw di pojokan sana. Mukanya kek lagi marah melototin gw,"
Deg, udah merinding disko seluruh badan ane gan, ini ngetik merinding lagi as###. Ye pura pura pasang badan dong Gan, cewe cakep loh ini yang ketakutan emoticon-Betty
"udah Ris, baca ta'awudz. Minta perlindungan sama Allah," kata ane kan.
"udah gw baca, masih ada!1!1!" katanye
"duh gimana, tidur aja deh Lu, biar gw yang jaga adek adek,"
"seriusan lu gapapa?,"
"Ris, kalo lu kenapa kenapa gw yang repot, mending Lu tidur,"
Nah si Risma ini beneran tidur Gan,
@s#($;$;*(@($;9$
Melempem dia tidur, dah ane termenung sendiri menikmati dinginnya jam 2 pagi di sekolah tercinta ini.
Pikiran ane main main entah kemana gan, entah ada angin apa ane pengen bat nengok kanan ane ada apaan
"a$jsbsyakaffkfkdkdkdmsssmmm,"
Ane terkejut sampe ane bangun dari ane duduk posisi semula, mau tau ga gan yang ane liat apaan.
Cewe mukanya rata pucet natapin ane, anjirrr badan gw merinding disko jedag jedug sampe lemes as###
Biarpun mukanya rata Gan, tapi kerutnya itu keliat bat dia lagi senyumin ane asOoooooo, ah ane nyender duduk di kursi guru lagi, ane liat sekeliling ada bayangan item muter muter ruangan, padahal Gan, ga ada itu hewan apa yang terbang muterin lampu, atau apapun yang nyebabin bayangan muter muter ruangan
"ah ampun, ga kuat gw."
Ane udah nunduk Gan di meja Guru, ane nyerah, kalo gini caranya sekali aja dah ane ikut acara begonoan. Eh ane malah ketiduran sampe pagi emoticon-Kiss

Udah. Ya gan segitu aja Pengalaman ane, barang kali ada yang nyamain ya maap, terlepas mau nganggep ini real atau rekaan ya terserah agan semua. Saya cuman cerita pengalaman pribadi. Terima kasih emoticon-I Love Indonesia
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kinocode dan 8 lainnya memberi reputasi
9 0
9
Warung itu Tempatku Berbagi Cerita Hantu
16-06-2019 10:51

Sharing CERITA

Izin nyumbang cerita ya agan-agan sekalian emoticon-Nyepi sambil nyantai diwarkop

Kejadian ini ane alami sendiri, waktu tahun 2004 masih kelas XI SMA. Rumah ane di kabupaten madiun dan ane waktu itu ngapel ke rumah mbak mantan yang ada di kota madiun, jaraknya sekitar 15km an. Dulu jalur madiun-caruban ga seramai sekarang, dulu jam 9 udah sepi jalan, kebanyakan yang lewat truk dan bis klo jam segitu.
Alkisah waktu itu ane baru cabut dari rumah mbak mantan jam setengah 10, sejak di rumah mbak mantan perasaan ane ga enak.
Ketika dijalan pulang juga biasanya ada 1-2 sepeda motor atau mobil buat dibarengi, tapi ini ga ada sama sekali, lalu ketika sampai dijembatan desa garon telinga ane berdenging dan merasa merinding di bagian tengkuk, feeling ane semakin ga enak, ketika sampai di ditikungan setelah jembatan ada asap/kabut di depan ane, dan saat itulah ane mencium adanya menyan emoticon-Takut serta terasa berat diboncengan belakang ane.
Apa agan pernah bonceng cewek menyamping? Seperti itulah yang ane rasakan, ada yang menyandar dipunggung ane emoticon-Takut
Ketika dijalan, di jalur berlawanan ada bus SK yang dari jauh ngedim2 terus, padahal tuh bis kagak ada yang disalip dan ane pun ngendarainya minggir.
Setelah melewati batas desa balerejo barulah terasa ringan boncengan ane.

Barulah setelahnya setelah ditanyakan ke orang yang ngerti, waktu itu ane bonceng medon/sugus/poci emoticon-Betty
profile-picture
profile-picture
profile-picture
indrifonni dan 8 lainnya memberi reputasi
9 0
9
Warung itu Tempatku Berbagi Cerita Hantu
19-06-2019 17:03
"Kok ngeri gitu sih Nan", kata penjual warung yang tengah duduk di dekat kompornya yang menyala..

"Tapi dulu pernah juga sih anak tetanggaku jadi korban pesugihan.. yang numbalin bapaknya sendiri. Tumbal pesugihan monyet di gunung apa itu lupa", katanya lagi.

Warung itu Tempatku Berbagi Cerita Hantu

Awalnya tak ada yang tahu tentang pesugihan yang dilakukan Pak Bagus ini, namun yang namanya orang baru punya harta sedikit banyak saja pasti ada rasa ingin memamerkannya. Mungkin dari situlah saudara-saudaranya itu curiga, namun karena tak punya bukti dan hanya asumsi, maka tak ada yang mempermasalahkan hartanya. Hingga suatu malam Rahmat, anaknya pak Bagus melihat bapaknya membawa uang menggunakan sepeda sampai pak Bagus tak bisa membuat uang itu muat diboncengannya. Rahmat hanya diam karena memang tak ada yang perlu ditanyakan dalam benaknya. Namun tak lama setelah Rahmat tahu itu, dia kesurupan seperti monyet. Tubuhnya mencakar dan kejang seperti seekor monyet, sudah didatangkan orang pintar namun belum sembuh juga. Kesana-kesini keluarga besar Pak Bagus mencoba menyembuhkan Rahmat, tapi tak berhasil. Entah bagaimana ada informasi bahwa pak Bagus sendirilah yang menumbalkan Rahmat anaknya untuk pesugihan, kemudian pak Bagus disidang oleh keluarganya dan akhirnya ia pergi ke tempat pesugihan itu, pesugihan Ngujang.. Rahmat sembuh dari sakitnya dan tidak kesurupan lagi, Rahmat bilang saat kesurupan ia melihat tubuhnya gelinjangan seperti monyet, arwahnya meninggalkan raganya sendiri.. melihat seluruh kejadian yang menimpanya, terlebih tersangka utamanya adalah bapaknya sendiri.. seseorang yang harusnya menjaga dia, seseorang yang seharusnya menjadi panutannya. Akhirnya Rahmat pergi meninggalkan rumah, hingga sekarang ia dewasa, sudah beristri dan memiliki buah hati, tak sekalipun ia pulang menemui bapaknya, karena masih takut dan trauma.

Entah bagaimana pesugihan dengan tumbal dibatalkannya.. sangat beruntung dia tidak menjadi tumbal pesugihan.

"Wah parah itu kalau anak sendiri dijadiin tumbal, dulu juga pernah dengar ada yang mau numbalin anaknya, tapi ga mati, cuma jadi idiot. Pesugihan buto ijo katanya, duitnya cuma 1 milyar untuk 1 anak, murah sekali ini sihemoticon-Cape d... (S) ", Adnan menambahkan sedikit ceritanya.

"1 Milyar yo banyak Nan, tapi rugi kalau jadi idiot kan kasian tu anak", timpal penjual warung dan duduk diseberang Adnan.

"Yang viral iki lho ...", kata Adnan sambil menyodorkan ponselnya.

Quote:
Warung itu Tempatku Berbagi Cerita Hantu
Kecelakaan lalu lintas yang dikabarkan terjadi di di kawasan Tr*c*k, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah (Jateng), Rabu (12/6/2019), viral di media sosial. Perempuan yang diduga menjadi korban dan sempat dikira meninggal dunia dikabarkan kesurupan secara tiba-tiba.

Kejadian yang masih simpang siur itu terekam kamera dan videonya viral di media sosial setelah diunggah di akun Instagram @jogja_ig, Kamis (13/6/2019). Pengelola akun Instagram tersebut mengabarkan kisah misteri itu terjadi di Desa Sajen, Kecamatan Tr*c*k, Kabupaten Klaten.

"Seorang ibu-ibu tertabrak kemudian tidak sadarkan diri, diduga sudah meninggal, tetapi pada saat mau di naikan ke mobil dan di bawa ke RS ibu itu tiba-tiba kesurupan," tulisnya.

Berdasarkan video yang diunggah, memang tampak seorang perempuan berteriak. Perempuan tersebut tak mau meninggalkan lokasi kecelakaan dan menyatakan dirinya adalah tumbal. "Iki tumbalku iki, aja mbok gawa lunga! [Ini tumbalku, jangan kau bawa pergi!]," begitu ucap si permpuan di video viral
Video tersebut lantas dikaitkan dengan kisah misteri bahwa jalanan di kawasan Tr*c*k memang angker. Banyak yang menyebut perempuan pada video viral itu hidup lagi setelah meninggal pada kecelakaan lalu lintas lantaran ada makhluk halus di kawasan tersebut yang membuatnya kesurupan
Namun demikian, sejumlah warganet yang mengaku sebagai warga sekitar lokasi kejadian menyangkal beberapa kisah misteri yang beredar. Pengguna akun Instagram @irawanbayuadi menyebut perempuan yang kesurupan pada video viral itu sebenarnya bukan korban kecelakaan yang sempat diduga meninggal dunia, melainkan adalah orang lain yang kebetulan ada di lokasi. Lokasi kejadian sebenarnya pun dijelaskan di Desa Puluhan, bukan Desa Sajen

"Itu yang kesurupan orang yang melihat kecelakaan, bukan korban, korban mau dilarikan ke rumah sakit bawa mobil tiba tiba ada yang kesurupan," jelasnya.

Hingga kini, belum diketahui identitas korban kecelakan yang kemudian viral itu. Perempuan yang kesurupan di video viral itu pun juga belum diketahui asalnya. Hingga berita ini diturunkan, Kamis sore WIB, aparat terkait belum menerima laporan terkait peristiwa yang menghebohkan ini. 



"Walah, siang-siang kok ya kesurupan itu ibunya Nan?, setan sekarang ga tau apa ya dia bisa viral hahah", begitu komentarnya setelah membaca berita yang ada di ponselnya Adnan.

"Mungkin ibunya itu sudah diikutin dari awal, soalnya katanya tuh yang mau jadi tumbal sering diikutin, kayak liat setan, mencium bau kemenyan/melati, mendengar suara-suara, kalau dipanggil jangan nyahut pokoknya", terang Adnan yang sok tahu.

"Ini gak diikutin Nan, beberapa tahun di situ sering ada yang kecelakaan. Sepertinya berita ini viral ngalahin ojol yang kemarin ya Nan", Kata penjualnya yang akan membuatkan kopi karena ada seseorang yang baru datang di warungnya.

"Oalah yang itu sih sudah agak lamaan beritanya. Pesugihan kayak gitu ada ciri ciri jelasnya kaga ya.Takut kalau tiba-tiba dijadiin tumbal Hahaha", tanya Adnan yang tak tahu kapan akan pulang.

Warung itu Tempatku Berbagi Cerita Hantu

"Pesugihan yang mana dulu mas, banyak jenisnya, kalau disebutin kagak bakal kelar sejam. Tapi saya tahu sedikit tentang pesugihan, karena dulu pernah ditumbalin sama bapak sendiri", terang tamu yang baru datang itu.

Adnan dan penjual warung tertegun dan hanya bisa saling menatap tanda mengerti namun tak ada yang berani nanya langsung.

"Gimana pak?", tanya Adnan dengan mata berbinar penasaran.

Untuk rumah yang menggunakan pesugihan, biasanya mewah bahkan terlampau megah bak istana, dari luar terlihat sunyi dan bagi yang bisa melihat, rumahnya pastilah angker serta hawa dingin yang menyeruak, rumah itu juga pasti tersedia kamar rahasia, selain itu ada wangi-wangian khusus untuk menyenangkan makhluk halus yang ada di sana, patung patung juga dipasang di dalam rumah, atap dan depan sebagai pelindung dari marabahaya, rumah juga sering dimasuki hal aneh semacam hewan-hewan seperti ular, kuda, hingga wanita cantik mengenakan kebaya.

Pesugihan tak hanya di gunung atau alas/hutan, di goa pun juga ada seperti kejadian pada tahun 1994, ada seorang tamu yang datang dari Cirebon ke Goa Landak yang berada di Sukabumi, menurut Kuncen goa Landak, ia datang ke goa karena akan menukarkan uang kuno Bung Karno menjadi uang sekarang, yang bisa dibelanjakan. Saat malam ia pun melakukan ritual untuk menukarkan uangnya di dalam goa, kuncen yang penasaran akhirnya mengintip ke dalam goa, benar saja ternyata uang Bung Karno berubah menjadi pecahan 50 dan 100 ribuan.

Di Malang, Jawa Tengah, ada tempat pesugihan yang sudah terkenal ke mana-mana, bahkan sampai ke manca negara. Apalagi kalau bukan Gunung Kawi. Tempat keramat ini sejak dulu telah dijadikan ajang pendulangan harta gaib. Umumnya, mereka yang datang kesana meminta kekayaan materi. Tapi tak jarang pula jabatan, kecantikan, bahkan kelanggengan usia. Tentu saja dengan sejumlah syarat kusus yang tak main-main.

Seperti yang dialami oleh Mukmin, ia menjadi tumbal pesugihan gunung Kawi dan berhasil ditolong oleh guru supranaturalnya.

Gara-gara makan sepotong roti,  nyaris saja kehilangan nyawanya .Sebut saja namanya, Mukmin (38).Pasalnya begitu roti buatan pabrik tempatnya bekerja masuk ke dalam rongga perut, sekonyong-konyong sekujur badan Mukmin terasa panas. Suhu tubuh naik drastis hanya dalam hitungan detik. Lalu tak ayal ia pun jatuh pingsan.

Mukmin yang tidak sadarkan diri itu pun dibawa Iari ke rumah sakit terdekat. Tetapi sayang belum juga mendapat penanganan medis dan dokter jaga yang bertugas di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Mukmin sudah divonis meninggal dunia. Tetapi anehnya seorang praktisi metafiska bersikeras bahwa buruh pabrik roti itu belum meregang nyawa.

Guru Besar sebuah perguruan silat tenaga dalam itu yakin Mukmin masih hidup. Mengapa hal itu bisa terjadi?

“Peristiwa itu terjadi sekitar tahun 2003 lalu,” kata Pak Syafruddin (58) mengenang peristiwa bertahun silam ketika dirinya melihat fenomena kematian ganji yang dialami oleh Mukmin. Saat itu dengan mata batinnya yang terlatih melihat bahwa anggota perguruan silat yang dipimpinnya itu mengalami kematian yang tidak wajar.

Ia melihat sejumlah dedemit dan siluman dengan paksa merenggut nyawa Mukmin. Mereka membawa nyawa buruh pabrik roti itu ke sebuah tempat di puncak Gunung Kawi. Keganjilan itulah yang dilihat oleh Pak Syafruddin dengan mata batinnya. Ia menduga Mukmin telah jadi korban tumbal pelaku pesugihan. Pasalnya Ia pernah “kenal” dengan siluman dan dedemit yang membawa nyawa Mukmjn. ‘Mereka adalah iblis-iblis penghuni Gunung Kawi.

"Mereka adalah iblis yang menjadi tuan para pelaku pesugihan,” kata Pak Syafruddin yang dalam perjalanan spiritualnya telah banyak mengenal jin dengan berbagai karakternya Dan rupanya Ia juga hafal benar dengan kawasan Gunung Kawi yang banyak didatangi orang yang sudah terbutakan oleh harta kekayaan. Mereka kerap datang ke tempat itu untuk membuat ‘kontrak kerja” dengan dedemit-dedemit di sana.

Pelaku pesugihan tidak peduli soal syarat maupun tumbal yang mesti disediakan. Yang ada dalam otak mereka adalah tumpukan harta yang berlimpah. Kekayaan yang sesungguhnya semu itu telah menyeret mereka ke dalam jurang kesesatan.

Melihat fenomena ganjil demikian Pak Syafruddin sempat bimbang. Dalam hatinya bertanya-tanya apakah benar yang terikat di atas tandu itu adalah nyawa Mukmin anggota perguruan silatnya? Apakah itu cuma sekadar ilusi gaib yang ditebarkan oleh bangsa lelembut?

Beberapa saat Pak Syafruddin hanya bisa termangu. Hingga akhirnya sebuah tepukan halus mendarat di bahunya. Sesosok wanita menegurnya dan belakang.

“Cepat tolong dia...!” kata wanita itu yang tidak lain adalah Ibu Wati. lstrinya!.
“Ya...ya sahut Pak Syafruddin tergagap. Laki-laki itu pun segera memburu siluman-siluman yang tengah membawa ruh Mukmin ke suatu tempat.

Ia sudah membentengi diri dengan ajian-ajian yangsekiranya bisa menangkal serangan makhluk dari alam astral itu. Dan benar saja dan kejauhan siluman-siluman itu sudah mencium gelagat tidak beres. Mereka seolah serempak menoleh ke belakang serta bersiap untuk menyambut kedatangan Pak Syafruddin dan istrinya yang juga sama-sama memiliki kemampuan supernatural. Wajah bengis, menyeramkan penuh amarah, serta menjijikkan dan para dedemit Gunung Kawi itu hampir membuat Pak Syafruddin mengurungkan niatnya menolong Mukmin. Ia hampir urung merebut kembali ruh salah satu anggota perguruan silatnya itu yang terikat di atas tandu tanpa daya.

"Hai, manusia! Apa mau kamu, hah?", hardik sosok siluman yang berdiri paling belakang. Ia sepertinya sudah slap untuk membantai dua sosok manusia yang dapat menembus dimensi alam kehidupan bangsa lelembut.

“Kami hanya ingin meminta agar kalian melepaskan nyawa Si Mukmin,” kata Pak Syafruddin seraya menoleh ke arah istrinya yang berdiri di belakang.
“Ya, lepaskan dia atau kalian akan berhadapan dengan kami berdua...” sambung Ibu Wati tidak sedikit pun menunjukkan rasa gentar berhadapan dengan bangsa siluman.

“Ha...ha...ha... Mengapa kalian peduli kepada manusia ini? Ini bukan urusan kalian.Orang ini sudah dijadikan tumbal untuk kami oleh majikannya,” kata siluman lain diiringi tawa yang bisa membuat orang awam semaput pingsan.

“Siapa yang menumbalkan orang tidak berdosa itu?” kata Pak Syafruddin coba menahan emosi. Ia coba mengambil kembali nyawa Mukmin tanpa harus menggunakan kekerasan.
“Kalian tidak perlu tahu soal itu. Yang jelas orang ini akan kami jadikan penghuni Gunung Kawi. Ha...ha...ha...” kata siluman dengan pongah.

“Baiklah, kalau begitu. Kami berdua akan menjemput nyawa Mukmin dengan cara kami,” ujar Pak Syafruddin dan istrinya.

Mereka berdua lalu menerjang ke arah siluman-siluman tu dan berusaha membebaskan nyawa Mukmin dan ikatan tali gaib yang sedemikian kuat. Mantera atau jampi-jampi tingkat rendah mungkin tidak akan mampu melepas ikatan tali gaib tersebut.

Entah ajian macam apa yang dimiliki oleh Pak Syafruddin maupun istrinya, Ibu Wati. Yang jelas hanya dalam hitungan menit kelima sosok siluman yang membelenggu nyawa Mukmin kini dibuat kocar-kacir. Sementara sesosok lagi pergi entah ke mana. Mereka meninggalkan sukma Mukmin yang masih terikat di atas tandu.

Akan tetapi urusan tidak selesai sampai di situ. Karena ternyata siluman yang melarikan din tadi kini kembali dengan diiringi sosok siluman lain yang kelihatan lebih sangar. Pak Syafruddin menduga sosok siluman sangar itu adalah “panglima” bangsa dedemit yang menghuni kawasan Gunung Kawi.

“Kalian bangsa manusia memang kurang ajar! Mengapa kalian mengusik urusan kami?", kata panglima siluman dengan nada sangat tidak bersahabat. Kegeraman tampak sekali di raut wajahnya yang rusak dan menjijikkan. Bau anyir darah menyemburat dan sekujur tubuh panglima siluman.

“Maaf, kami bukannya usil dengan urusan kalian. Kami hanya bermaksud meminta agar kalian sudi membebaskan nyawa Mukmin untuk dikembalikan ke raganya,” jawab Ibu wati dan Pak Syafruddin. Keduanya bermunajat kepada Allah Swt dan minta perlindungan dari-Nya. Dan begitulah, Mukmin kembali selamat...

Di Sragen, Jawa Tengah, ada pula jalur penambangan uang gaib. Masyarakat disana lebih suka menyebutkan praktek Peminjaman Uang Gaib. Sudah banyak orang yang mencoba dan konon berhasil. Mereka semula tak menyangka pada pekerjaan mustahil itu, namun setelah ada hasilnya mereka jadi ketagihan. Sutoyo misalnya. Karyawan paramedis yang tinggal di Sragen ini mengaku sempat menikmati uang gaib hasil ritual gaibnya.

“Waktu itu tahun 1994. Saya mulai mencoba melakukannya. Oleh kuncen sakti itu, saya disuruh menyediakan uang seratus ribu guna modal awalnya. Benar saja, ketika sudah menunggu 40 hari, karung yang semula kosong kini telah dipenuhi tumpukan penuh uang yang terbungkus rapih. Katanya, uang tersebut hasil jarahan para jin yang telah ditugaskan kuncen untuk memenuhi permohonan sang pemuja,” kisah yang sangat menggoda untuk para pemalas.

Lain lagi dengan pengalaman yang dilakoni oleh Sarlito. Dia tidak melalui jalur peminjaman uang gaib ataupun muja ke Gunung Kawi. Hidupnya berubah berkat melakukan ritual yang disebutnya sebagai Pesugihan Bajang Kembar.

Sarlito mengaku, sejak melakukan pesugihan itu, perekonomiannya semakin baik bahkan berlebihan. Tentu saja syaratnya tak mudah. Selain sudah dititisi bakat ilmu sesat tersebut, biasanya sesudah melakukan pemujaan orang itu akan jadi seks maniak.

“Pesugihan Bajang Kembar mengharuskan pelakunya melakukan zinah sebanyak-banyaknya dengan wanita selain istrinya,” tegas Sarlito tanpa tedeng aling-aling.

Bajang Kembar itu sendiri sebetulnya adalah dua bocah gaib yang kembar, bisa dipergunakan untuk menumpuk kekayaan secara gaib. Tentu saja permohonan itu baru dikabulkan jika sudah mengadakan perjanjian dengan sang pemilik Bajang Kembar tersebut.

Di Desa Citepus, Kecamatan Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Misteri berhasil mengendus kisah seorang pemilik hotel yang kedapatan praktek muja. Menurut sumber yang wanti-wanti tak mau disebutkan namanya, orang tesebut sengaja menciptakan kamar pribadinya di antara kamar hotel miliknya.

Diceritakan, pernah seorang karyawan hotel tersebut mendengar suara aneh di kamar misterius itu. Kejadian ganjil ini berlangsung tepat tengah malam, persisnya ketika si Room Boy sedang membersihkan kamar di sebelah kamar khusus dimaksud. Pada saat yang sama dia mendengar suara ringkikan kuda serta desisan ular yang saling bersahutan.

Rupanya, bukan hanya pemuda ini saja yang sempat menyimak keanehan tersebut. Beberapa karyawan lain di hotel itu juga pernah menyimak pengalaman yang sama. Apalagi sejak kejadian aneh itu, pemilik hotel berbintang satu itu semakin makmur hidupnya. Hal ini menambah kuat indikasi masyarakat terhadapnya.

Lain lagi kisah yang terjadi di daerah perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di daerah ini ada sebuah lokasi pesugihan yang disebut sebagai Pesugihan Kandang Bubrah. Menurut Wongso, salah seorang pelaku pesugihan ini, siapapun yang ingin berlimpah harta lewat ritual Pesugihan Kandang Bubrah, maka mereka harus merenovasi rumahnya setahun sekali. Sedangkan syarat rutinnnya melakukan intim dengan lawan jenis yang bukan pasangannya.

“Kalau Anda melakukan pesugihan ini, maka Anda harus mengikhlaskan isteri Anda ditiduri pria lain. Demikian juga isteri Anda, juga harus ikhlas mengijinkan suaminya tidur dengan perempuan lain,” ungkap Wongso.
Dia menceritakan, bahwa dia dan istrinya sudah melakukan Pesugihan Kandang Bubrah itu, dan kekayaan mereka terus meningkat tajam dari tahun ke tahun.

Ada juga Pesugihan Ratu Biawak yang konon bermarkas di Gunung Slawi. Konon, persyaratan muja jenis ini masih tergolong ringan. Setelah mengucap janji setia dengan Sang Ratu Biawak, si pemuja harus telanjang bulat di daerah rawa-rawa. Ketika melihat wanita, diusahakan agar dapat memanggilnya, lalu menyuruh wanita tersebut untuk memegang kemaluannya. Itu saja persyaratannya. Setelah persyaratan itu terpenuhi, biasanya uang segera dikirim ke kamar pribadinya.

Pesugihan lain yang tak kalah uniknya adalah Pesugihan Siluman Kuda. Pesugihan ini dapat dipraktekan oleh siapapun, dengan syarat harus menemui kuncennya yang tinggal di atas sebuah gunung di Jawa Timur, yang tak dijelaskan apa namanya dan di mana lokasinya. Namun, Pesugihan Siluman Kuda ini memerlukan tumbal, yaitu orang-orang yang disayangi, seperti anak, istri atau sanak keluarga sendiri.

Jika semua perjanjian dan syarat itu telah terpenuhi maka Raja Siluman Kuda akan segera mengirim uang dalam jumlah yang sulit diterima akal. Uniknya, utusan Raja Siluman itu mengutus kuda beserta gerobak kayu yang secara gaib dapat dilihat oleh orang yang peka mata bhatinnya. Konon, gerobak itu berisi penuh sejenis daun sirih namun panjang yang diberikan oleh Raja Siluman Kuda. Pada saat kiriman itu diterima oleh sang pemuja, maka daun dalam gerobak itu bisa berubah menjadi uang kertas pecahan lima puluh ribuan, atau seratus ribuan. Peristiwa gaib ini akan terus berlangsung selama sang Pemuja masih setia dengan perjanjiannya.

Lain lagi dengan kisah Pesugihan Ratu Ular. Si pemuja harus melakukan perjanjian setia dengan Sang Ratu. Karena itu dia harus menetap di kamar untuk waktu-waktu tertentu, dan hanya boleh keluar seperlunya saja. Pasalnya, jika sewaktu-waktu Sang Ratu ingin menyalurkan kebutuhan biologisnya pada saat si pemuja tak ada di kamar, maka Sang Ratu akan murka.

Pesugihan jenis ini lebih dikenal dengan nama Ngipri, pelakunya dinamakan Centring Manik. Mengenai jumlah kekayaan yang didapat, hampir tak dibatasi, asal kuat saja melayani libido seks Sang Ratu Ular.
Konon bagi orang yang melihat persetubuhan terlarang ini, dan kebetulan sang pemuja melihatnya, maka spontan si pengintip itu akan mati secara mendadak.

Secara fisik, persetubuhan itu amat mengerikan. Ya, sebab si pemuja sesungguhnya bersetubuh dengan seekor ular raksasa berkepala perempuan cantik. Namun di mata si pemuja, Sang Ratu berwujud gadis cantik bak bidadari kayangan. Pada saat persetubuhan itu berlangsung, sisik ular itu rontok secara perlahan. Makin lama maka sisik itu semakin banyak, dan setelah usai, sisik itu akan berubah menjadi kepingan emas. Demikian menurut cerita. Benar dan tidaknya tentu amat sulit kita buktikan.

"Itu beberapa pesugihan yang pernah saya baca dari sebuah website", kata bapak yang tengah duduk sembari meminum kopi yang sudah tersedia.
Diubah oleh ibliss666
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Warung itu Tempatku Berbagi Cerita Hantu
18-06-2019 21:22
Terus setelah itu, cewek yang jaga 8D, keluar, dia jalan buru buru bgt, sebut saja Yuni. Dia jalan buru buru dan ga sengaja ane liat setengah lari depan kelas Ke arah 9F. Terus katanya ada adek kelas cewek yang kesurupan. suasananya senyap, kakak kakak kelas yang lain menjaga ketentraman dan ga bikin bising murid lain, takutnya gempar dan ganggu yang istirahat, datanglah Pak Suryo buat ngobatin si eneng yang kesurupan, ane pun ngikutin di belakang Pak Suryo, karena keepo sama yang namanya Kesurupan itu kek gimana. Pas masuk 8D, si eneng ini udah nangis aja sambil meluk temennya. Katanya dia liat bapak bapak pake seragam batik masuk kelas 8H (malem itu kelas 8G, 8H itu ga dipake gan, karene lokasinya di belakang kelas 8B, C, D, dan kurangnya penerangan) bro itu kelas digembok bro, dan ga mungkin kelas terbuka. Terus kata temennya si eneng ini ketawa ngekek kecil terus nangis sampe Pak Suryo dan Ane dateng gan, di jampe jampe lah si eneng, kemudian si Feri yang njaga itu kelas. Dia duduk di tengah dengan posisi bersila.
"ah bodo amat," pikir ane. Ane pun kembali ke kelas
profile-picture
profile-picture
profile-picture
eja2112 dan 7 lainnya memberi reputasi
8 0
8
Warung itu Tempatku Berbagi Cerita Hantu
18-06-2019 21:09
bismillah tak beraniin cerita buat idup idup trit.. Sebelumnya maap kalo bahasanya kurang santun atau pilihan kata itu itu aje

(nama ane samarkan, lokasi ane samarkan, kalo adayang tau ya pura pura ga tau)

Ane lupa tepatnya tahun berapa, kejadiannya pas kelas 2 SMP. Karena ane orang yang aktif di pramuka, ane dipanggil buat jadi kakak pembina pramuka, dan disuruh ikut kemah (dulu kalo ada MOS Pasti ada kemah sabtu-minggu) dan malem minggunya ane disuruh partisipasi ikut jagain adek adek kelas.

Sekolah ane itu. Udah lumayan tua Gan, kurang lebih tahun 1984\1986 dibangunnya. Dan ente tau lah "urban lejen" yang pasti melekat sama sekolah agak tua, udah banyak. Tapi ane ga mau cerita itu. Takut salah, jadi mau ane ceritain yang ane sendiri alami malem itu aje.

Pas jam 11, ronda buat memastikan adek adek udah pada tidur. dilakuin pembagian ruangan pengawasan udah dibagi, 4 orang di kelas 8D, 3 orang di kelas 8A, 2 orang di 8B, 8C, 8F, 9A, 9B, ane sama Risma 9C, 4 orang di 9D, 2 di 9E, 2 di kelas 9F. Jam 11 malem makin sunyi (sekolah ane Mewah gan alias Mepet saWah) bunyi jangkrik (kebetulan musim panas) dan hewan hewan malam lainnya saling sahut sahutan. Ga lama kemudian, pecahsuara orang teriak, ternyata dari kelas 8A, kakak pembina yang sebut saja Marni teriak lari tunggang langgang dari kelas 8A. Ane langsung ikut ngejar kan si Marni lari ketengah lapangan, dia sambil nangis nangis ngomong gini
"pocong Ndra, Pocong, terbang di jendela pojok an kelas, (ye as# gw merinding lagi ngingetnye)"
Ane yang mapasin dia di lapangan itu senyum kecut bayangin pocong terbang terbang di jendela yang tingginya hampir 2 meter. Ya udah ane anterin si Marni ke kantor sekolah,buat bikin teh anget, baliklah ane ke ruangan ane jaga. 8A diganti Supri yang jaga. Then agak adem sekitar 15an menit
profile-picture
profile-picture
profile-picture
eja2112 dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Warung itu Tempatku Berbagi Cerita Hantu
14-06-2019 00:27
Ane takjub gan baca ceritanya ..

Disini juga pernah kejadian kaya cerita 2 & 3

Sebelum ane lahir pernah ada kejadian dimana pembantu ada yg ganggu doi dipanggil2 namanya "darsih.. darsih" dari luar belakang dan untungnya darsih lagi tidur gan .nenek & kakek ane ngedenger sehabis ngaji.. ah iyeu mh nu keur neangan tumbal ..

Ternyata besoknya etangga sebelah yg meninggal dan doi sebelumnya nanyain nama pembantu tsb ..

ternyata diri sendiri yg jadi tumbal emoticon-Berduka (S)

Pagi2 nenek ane lagi diluar , tiba tiba ada lelaki yg masuk ke gang sebelah rumah ane.. dia tanya "bu aya istri teu didieu anu jangkung geulis buukna panjang " disini ada ga perempuan yg tinggal disini yg tinggi cantik rambut panjang? Disini gada .. di gang ini gada yg ciri2 nya kaya gitu .

Dia cerita, tadi malem dia ngelewat jalan ini dideket pohon kelapa yg didepan ada cw cantik minta dianter kerumahnya.. ternyata itu dedemit nenek2 yg suka usilin orang yg lewatemoticon-Blue Guy Bata (S) Kejadian kaya gitu ga sekali doang ahrinya lapor ke orang yg bisa ngusir hantu dsb setelah ditanya ternyata nenek itu dari pohon waru di burujul pindah ke pohon waru yg didaerah sini.. diusir makluknya dan ga kejadian lagi

Dulu pernah kejadian ada buta ntah gederuwo ngamuk soalnya tempat doi ada yg ganggu.. emang kita gabisa liat tapi ngerasain gan suara langkahnya genting juga bunyi krek krek2 tetangga yg lagi punya bayi atau balita nangis bersamaan

Ada juga kejadian dimana ane denger langkah kuda dini hari, lari gan kuda nya ane penasaran eh pas diliat udah gada. Bukan cuma ane aja yg denger orang rumah juga sama, ane tanya ke kang delman katanya gada kuda yg keluar buat dilatih atau narik delman dini hari emoticon-Takut (S)
Diubah oleh lusilverstalker
profile-picture
profile-picture
profile-picture
eja2112 dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
Warung itu Tempatku Berbagi Cerita Hantu
27-05-2019 15:35
emoticon-Rate 5 StarBantu Rate Gan emoticon-Rate 5 Star


Pelaris
Pesugihan
Pesugihan 2
Selingan
pesugihan 3

CERITA KASKUSER
Diubah oleh ibliss666
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 6 lainnya memberi reputasi
7 0
7
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
friend-ghost
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
permintaan-ibu
B-Log Collections
Stories from the Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia