alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5ca806556cc64863b208d43f/kisah-nyata-rumah-angker-di-tempat-prakerin
Lapor Hansip
06-04-2019 08:52
[Kisah Nyata] Rumah Angker di Tempat Prakerin
Past Hot Thread
[Kisah Nyata] Rumah Angker di Tempat Prakerin
Sumber : https://pixabay.com/id/photos/hantu-...-horor-572038/

PERKENALAN

Quote:
Haii, selamat malam, selamat membaca di thread saya yang ke lima, eh lupa ke berapa. Ini adalah pertama kalinya saya menuliskan kisah yang bergenre beda. Yups, ini horor sekali menurut saya, karena ini adalah perjalanan mistis saya yang benar-benar membuat saya tidak bisa move on.

Sebelumnya, kita kenalan dulu ya. Jangan lupa buat agan dan sista yang datang ke sini, gelar tikar boleh, tapi harus bawa minum, minimal ada cendolnya gitu ya Gan. Biar gak boring ke sayanya. Eh, malah jadi ke suguhan gitu, haha.

Oke, perkenalkan, nama saya Shabrina, Agan bisa manggil Brina, neng Brina cantik (haha) atau panggil Sayang juga boleh deh, asal sayangnya beneran, bukan gombal ya. Haha. Saya sekolah di salah satu SMK di kota saya, jurusannya, gak usah dikasih tau kali ya?

Nanti kalau baca ceritanya, kalian bisa tau saya jurusan apa. wiiiih sekolahnya termasuk sekolah favorit loh kalo lagi musimnya tapi. Buat Agan yang bingung mau sekolah di mana, sekolah di tempat saya aja deh, dijamin betah.

Btw (red : bay de wey), kalau pakai kata 'saya' jadi rada kaku gitu, biasanya pakai 'aku'. Jadinya ganti aja ya, jadi Aku. Aku masih labil memang, maaf ya. hihiihi.

Entah apa yang terjadi sama sekolahku, kalau pada umumnya orang Prakerin atau bisa disebut PKL, itu biasanya kelas sebelas, tapi sekolahku melaksanakannya saat kelas dua belas semester ganjil. Tau lah ya kapan terjadinya? Kurasa kalian sudah sedikit tahu tentangku, cie.

Oke, setelah melalui beberapa pembekalan untuk prakerin, akhirnya aku tahu siapa saja yang sekelompok denganku. Kami terdiri dari 11 orang, berasal dari kelas yang berbeda. Hal ini sangat menjengkelkan, sebab aku bisa pisah dengan teman satu gengku. Menyedihkan juga.

Dari sebelas orang itu, ada perempuan 6 orang dan laki-laki 5 orang. Perempuan terdiri dari aku, Siti, Roros, Siti, Ranti, dan Eva. Sedangkan laki-laki terdiri dari Arif, Ari, Dede, Falaq, dan Rizal. Aku dijadikan ketua perempuan dan Ali ketua laki-laki.

Ada banyak karakter dari mereka yang belum aku ketahui, wajar saja, di sekolah aku hanya bergaul dengan anak organisasi, boleh dikatakan anak yang agak pilih-pilih. Bukannya sombong, biasanya mereka tahu aku, tapi aku tidak tahu mereka. Sombong sekali aku!

Dan, di tempat prakerin inilah aku bisa mengenal mereka yang sesungguhnya...



[1] Pemberangkatan

Waktu itu pembekalan terakhir di sekolah yaitu hari Senin, aku sudah menyiapkan perlengkapan dari mulai alat mandi, alat makan, alat ibadah, pakaian praktek, dan alat untuk di lapangan. Tak lupa aku selalu membawa buku harian ke mana-mana, bila ada waktu untuk menulis, biasanya kucatat setiap kejadian dalam setiap harinya.

"Brin, pulang sekolah, jangan lupa kita kumpul dulu ya, kita bagi-bagi alat untuk masak, karena kita akan tinggal di kontrakan yang tidak ada alat-alatnya. Secara, kita kan bukan di perusahaan kayak temen-temen yang lain," ujar Ali ketua kelompokku.

"Oh, oke siap. Biar kucatat dulu ya." 

Setelah perbincanganku di kantin dengan Ali, aku segera menuliskan apa saja yang sekiranya kurang. Perlengkapan memasak tidak mungkin dilupakan, hidup di tengah hutan, siapa yang akan memasakkan kita kalau tidak ada alat masaknya.

Sebenarnya, aku hanya tahu nama daerahnya saja, tapi tidak tahu persis tempatnya seperti apa. Belum sempat melihat di google maps juga. Aku curiga akan ditempatkan di daerah yang jauh dari keramaian kota. Kata kakak kelas sih biasanya begitu. Tapi mereka yang sudah pengalaman, tidak ada yang memberikan masukan pada kami.

"Hei, Brin sedih banget kita bakalan pisah selama tiga bulan"

Ica memelukku, kami bersahabat dari mulai kelas satu sampai sekarang. Kita berjanji akan selalu memberi kabar jika sudah berada di tempat prakerin masing-masing.

"Iya, sedih banget ya. Tapi kita harus tetap semangat. Baru juga tiga bulan kan?"

Aku berusaha menghibur walau sebenarnya aku juga sedih jika harus berpisah dengan Ica. Ke mana-mana biasa sama dia.

"Abis pulang pembekalan, kamu mau ke mana? Bisa gak kita ke tempat batagor kuah? Kita makan di sana, yuk?"

"Duh maafin, aku mau kumpulan anak kelompok dulu Ca, gak bisa kayaknya" aku menolaknya.

Sebenarnya aku juga ingin makan bareng dia, kapan lagi sih. Tapi sayangnya tidak bisa lagi. Aku juga harus mementingkan urusan kelompok prakerinku.

Seperti yang sudah disepakati, sepulang pemebekalan, aku segera ke kelasnya Ali, aku juga belum begitu dekat dengan Ali, yang aku tahu dia salah satu pemain bola terbaik di sekolah. Tapi aku tidak begitu sering memperhatikannya. Buat apa?

Aku berjalan menyusuri lorong sekolah, kelas demi kelas telah kulewati, kelasnya Ali ada di paling ujung, dekat kantin. Lumayanlah kalau bibi kantin belum tutup, aku bisa nongkrong juga di sana.

"Hai, ke mana yang lain?" tanyaku pada Ranti yang ternyata sudah duluan ada di kelas Ali.

"Tadi yang lain telat katanya. Lah, kamu kenapa sendiri? Ke mana Roros dan Arif? Kalian kan sekelas" tanya Ranti yang seakan mengintrogasiku.

"Haha, iya aku tadi ninggalin mereka, habisnya mereka lama" jawabku singkat.

"Oke deh, gapapa." jawab Ali yang tiba-tiba sudah ada di belakangku.

Tak berselang lama dari perembukan untuk pemberangkatan itu, satu persatu anggota pun berdatangan. Begitulah Indonesia, ngaretnya memang keterlaluan. Bikin kesal tingkat dewa.

Rembukan itu hanya berlangsung sekitar tiga puluh menit, lusa adalah pemberangkatan ke tempat yang sesungguhnya.

**Dua Hari Kemudian**

Pagi-pagi sekali aku bangun. Semangat di dada begitu sangat membara. Ya, hari ini aku akan pergi ke tempat prakerinku. Rasanya saat tidur pun terbayang terus pertanyaan akan seperti apa di tempat itu.

Setelah aku mandi dan persiapn segalanya, mama memanggilku, ada salah satu nasihat dari kedua orang tuaku yang paling kuingat.

"Jika kamu sudah ada di sana, kamu harus bisa menitipkan diri ya, di mana kaki berpijak, di situ langit harus dijunjung."

Perkataan sederhana tapi mampu mewakili semua pesan di dalamnya.

Setelah berpamitan, akhirnya aku segera ke sekolah. Aku memasukan beberapa barang bawaanku sekelompok ke mobil pick up yang disediakan oleh sekolah. 

"Hati-hati di sana ya anak-anakku, jaga nama baik sekolah. Kami di sini selalu menunggu kehadiran kalian kembali" kepala sekolah melepas kepergian kami dengan melambaikan tangan.

Berpisah dengan teman yang selalu bersama memang tidak mudah. Seperti yang sedang aku alami. Butuh pembiasaan yang tidak mudah.

"Aku sudah tau di sebelah mana kita akan ditempatkan"

Ratih memulai obrolan yang bisa dilihat serius. Biasanya dia tidak seserius itu. Dan aki juga biasanya malas mendengarkan ocehan gak jelas dari anak-anak lain.

Aku sibuk memainkan ponselku, mengisi kekosongan sepanjang perjalanan.

"Iya kah kamu sudah tau?" Siti menanggapi ucapan Ratih dengan wajah yang tak kalah serius.

"Iya, aku nyari tahu ke mamaku, kata mama sih itu daerahnya yang lumayan jauh dari jalan raya, di sekitar pembangunan proyek tol, tapi masih agak jauh" Ratih sibuk dengan cermin yang digunakannya untuk bersolek.

"Ah, kamu sok tahu!" Arif yang terlihat cuek, ternyata di belakang mendengarkan juga perbincangan.

Sementara aku sibuk sendiri, tapi sebenarnya aku mendengarkan juga apa yang mereka bicarakan.

Hingga mobil Avanza yang membawa kami ke tempat prakerin pun sampai di sebuah jalan yang penuh dengan tanah, sudah diaspal tapi masih lebih banyak tanah merah.

"Pak, ini di mana? Kok jalannya lain ya?" Tanyaku penasaran.

"Iya Neng, kita lewat akses sini, biar gak macet, nanti Neng sama temen-temen yang lain bisa lewat ke sini juga kalo mau pulang"

Kulihat sepanjang jalan, jarak antara rumah yang satu ke rumah yang lainnya cukup jauh. Tapi kupikir ini baru di jalan, siapa tau nanti di sana akan banyak penduduk juga.

Lima belas menit menyusuri jalan kecil itu, ada tanjakan yang begitu curam, jalannya rusak, jika dalam kondisi hujan, hanya sebagian kecil kendaraan bisa lewat.

Aku membayangkan jika bawa motor di jalanan seperti ini, pastinya aku gak akan bisa. Aku orang yang tomboy, tapi ya begitulah.

"Waaaw, jalannya keren! Kayaknya kita bakalan susah kalau mau main" ucap Dede.

"Ah, otak lu main aja. Kita mau belajar di sana, bukan mau main. Lagian juga belum sampai di sana" Ali menenangkan kerisuhan dalam mobil.

Tak berselang lama, sampailah mobil kami di sebuah tempat yang bisa dikatakan desa, tapi bangunan yang kita datangi mewah sendiri.

Di depannya ada plang 'Kelompok Tani'.
Yaa, kami akan prakerin di tempat ini. Sebuah desa yang sangat desa dan masih kental dengan adat desa tersebut.

Pak Hartono, pembina kelompokku. Beliau sudah berada di tempat lebih dulu.

"Sini anak-anak. Kita masuk dulu ke kantornya! Atang, Brina ajakain teman-teman kamu!"

Aku pun segera dengan penuh rasa gembira menghampiri pembinaku yang sudah ada di sana dengan induk semangku.

Kakiku melangkah memasuki bangunan paling mewah di sana, kulihat ada hiasan kepala kerbau di sana. Aku merasa dipelototi oleh makhluk tak kasat mata. Tiba-tiba aku kaku melihat patung kepala itu.

Dan, aku masih sibuk memikirkan patung kepala kerbau, tidak mendengarkan apa yang sedang dibahas.

"Briiinn !!!!"

Like, komen and subscribe channel gua, gan. Gua bakalan up tiap hari. See you next time, jangan rindu aku. Muuuuaachhhemoticon-Big Kissemoticon-Big Kissemoticon-Big Kissemoticon-Big Kissemoticon-Big Kiss
Polling
47 Suara
Apa yang harus TS lakukan jika viewers tembus 100k ? 
Diubah oleh brina313
profile-picture
profile-picture
profile-picture
spam.hunter dan 60 lainnya memberi reputasi
61
Beri apresiasi terhadap thread ini Gan!
12-04-2019 16:44
MALAM JUMAT PERTAMA


Setelah acara selesai. Aku heran, kenapa induk semangku tidak ikutan acara yasinan. Malam jumat adalah ritual rutin warga untuk membaca yasin. Tapi Pak Adeng dan keluarga tidak ada.

Oh iya, aku lupa. Pak Adeng adalah salah satu Insinyur Pertanian yang terkenal saat itu. Bahkan banyak anak-anak Un**d yang melakukan penelitian demi selesainya skripsi mereka.

Pasalnya, kenapa orang-orang seakan segan. Bahkan ada juga sebagian orang yang agak mencibir ketika salah satu di antara kami membicarakan tentang Pak Adeng.

Pak Adeng memiliki tiga anak laki-laki semua. Anak ke satu dan ke dua adalah hasil dari pernikahan pertamanya dengan Bu Lasmi,lalu setelah pernikahan anak pertamanya, Bu Lasmi diceraikan. Dan anak ke tiga yang sekarang berusia kelas 3 SD, adalah anak bawaan dari istri yang ke duanya.

Tubuh tegap, rambut agak panjang dan sering menggunakan kaca mata hitam ke mana pun ia pergi. Lalu, mobil jip hijau pun menemaninya jika hendak ke luar kota. Orang yang disiplin dan sangat sangar menurut orang yang belum kenal dengannya.

"Hei, ini kumpul kita yang pertama kali, semoga prakerin kita berjalan dengan baik dan lancar ya. Dan semoga kita bisa bisa mendapatkan hasil yang memuskan. Kita harus kompak ya?" Ucap Ali memulai pembicaraan setelah selesai membaca yasin.

"Eh, pak ketu , kenapa pak Adeng tidak ikutan acara kita?" Tanya Roros.

"Iya, aku tidak tau, tadi sih aku sudah mengundangnya, tapi beliau bilang ini acara intern kita jadi gak usah ikutan"

"Loh, kok gitu?" aku makin penasaran.

"Sudahlah, yang penting kita sudah mengajaknya"

Suasana hening. Kita duduk melingkar di garasi mobil yang kita tempati. Angin gunung berhembus menyentuh pori-pori kulit. Kegelapan di luar mengundang kita untuk segera mengakhiri malam pertama ini.

Saat itu aku sudah lupa dengan kejadian tadi siang saat aku melihat perempuan di kontrakan cowok. Aku hanya ingat, semua sudah berakhir. Sudah baca yasin tidak mungkin ada lagi yang namanya hantu. Semua hanya halusinasi.

Setelah Ali mengakhiri perbincangan. Kita segera berhambur ke kamar. Laki-laki pun berpamitan. Dan berpesan agar jangan tidur larut malam. Besok sudah mulai prakerin.

Teman-teman sekamarku semuanya bercepat-cepat pergi ke kamar, aku terkahir sendiri. Aku ke pintu depan dulu, menggembok garasi. Pasalnya, jika garasi tidak ditutup, maka kamar kami akan kelihatan.

Sebelum masuk kamar. Aku ke kamar mandi dulu, maksud hati ingin cuci muka, kuambil pencuci muka merk Citra yang beras jepang. Betapa terkejutnya aku, di dalam kamar mandi yang sangat kecil hanya muat sendiri. Di baknya ada air yang sangat keruh, berwarna kecokelat-cokelatan dan berbau amis.

Aku membatalkan niatku untuk cuci muka. Aku berlari menuju kamar tidur. Teman-temanku terkejut.

"Kamu kenapa sih Brin?" tanya Eva dengan begitu marahnya padaku.

"Gak kenapa-kenapa!" Jawabku gugup.

Sampai aku mengalami kejadian itu pun aku tidak mau bercerita pada teman-temanku. Aku tidak pernah sekelas dengan mereka. Jadinya aku bingung jika aku bercerita takut dikira mengada-ada.

Belum juga sehari, kita sudah sama-sama rindu dengan geng masing-masing. Aku pun begitu, kami di kamar sama-sama asyik dengan handphone.

Di dalam kamar, aku membuat peraturan tidak boleh tidur lebih dari jam 11 malam kecuali jika ada tugas dari pembina. Walau pun aku ketua, aku harus konsisten dengan peraturan itu.

"Sudahlah, simpanlah HP kalian tuh. Kita harus bangun pagi, besok sudah mulai kita harus bekerja dengan baik. Tenaga kita harus cukup" ucapku pada mereka.

"Iya lah, Brina. Kami tidur" ucap Ranti.

"Boleh aku matikan lampu kamarnya?" tanya Eva.

"Boleh!"

Kebetulan mataku minus, aku tidak suka tidur dalam keadaan terang. Di kamarku pun lampunya redup.

Malam itu, aku menutup mataku setelah membaca doa-doa penjagaan yang dikasih oleh mama. Doa itu bisa digunakan untuk di tempat yang baru.

Aku resah. Sulit untuk tertidur. Hawa dingin menyelimuti seluruh tubuhku. Aku jadi teringt pada air kamar mandi yang kotor dan bau amis itu. Terus ingat sampai ke perempuan berambut panjang.

Ketika aku berusaha untuk memejam. Kudengar suara...

Quote:Awalnya, aku termasuk orang yang menentang dengan adanya kisah makhluk tak kasat mata. Lama-lama aku sungguh mengalaminya sendiri


To be continued..

Quote:aku rindu cendol dan bintangmuu...
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jrie dan 33 lainnya memberi reputasi
34
profile picture
kaskus maniac
12-04-2019 17:43
Semangat selalu ya
06-04-2019 20:12
[2] Penyesuaian Lingkungan[/B]


"Brina..!!" Pak Sartono membuyarkan lamunanku. Meski sudah sadar, aku masih saja menatap tajam ke arah kepala kerbau di ruangan tempat kami berkumpul.

"Oh,mmmaaf Pak" aku berusaha agar tidak terlihat aneh di depan induk semang dan pembinaku.

"Kamu tuh, Brina. Baru juga sampe kita nih di sini, kenapa kamu udah gak jelas gitu sih? Semangat dong Neng Ketua!" Falaq memecah suasana menjadi ramai kembali.

Aku sendiri sebenarnya kebingungan, apa yang aku lihat pun tidak seperti yang kubayangkan. Sulit bagiku menjelaskannya. Patung kepala kepala kerbau itu seakan menunjukan wajah yang geram.

Aku menundukan pandangan, ada rasa malu yang tak bisa kutahan lagi. Iya, baru juga datang, aku sudah salah fokus gini. Gimana mau ngambil hatinya induk semang.

"Oh, ini Pak Adeng, yang kacamata ini namanya Brina, dia ketua perempuannya. Terus yang ini namanya Ali ketua laki-lakinya"

Pak Sartono memperkenalkan satu persatu dari kami.

Induk semangku namanya Pak Adeng, beliau punya anak satu yang baru saja menikah. Aku tidak tahu tentangnya lagi selain yang diceritakan oleh Pak Sartono. Mungkin nanti ketika sudah dimulai yang sesungguhnya baru aku tahu siapa beliau. Syukur-syukur aku bisa dekat dengan keluarganya. Karena kebetulan rumah Pak Adeng dekat dengan kantor, pas di depan kantor.

Setelah kami berbincang-bincang dan menyerahkan beberapa surat pengantar dari sekolah. Pak Adeng pun memperkenalkan nama kelompok tani yang beliau bawahi. Tanahnya pun sangat luas.

"Oh iya anak-anak mari bapak antar ke tempat tinggal kalian." Pak Adeng mengantar kami ke tempat tinggal kami.

Tadinya kami akan ditsatukan di satu rumah, tapi atas dasar berbagai pertimbangan, akhirnya permempuan ditempatkan di kamar yang ada di belakang kantor, dan laki-laki diberi rumah kontrakan.

"Iya pak, boleh," ujarku tanpa basa-basi.

Kami yang perempuan pun bergegas membawa barang masing-masing. Tampak wajah yang ceria di wajah kami.

"Bagaimana barangnya sudah diturunkan semua?" tannya Pak Sartono.

"Sudah pak" jawab kami serentak.

Tak terasa waktu pun sudah menunjukan pukul 14.00, kami bersiap-siap untuk melaksanakan solat duhur berjamaah. Tempat tinggal perempuan ternyata hanya sebuah kamar yang berukuran sekitar 4x3m, jika dihuni oleh 6 orang perempuan ya sudah cukup. Di depan kamar kami adalah garasi mobil, jika siang hari digunakan untuk berkumpulnya para ketua kelompok tani.

Di samping kiri kamar ada kamar mandi kecil. Meskipun seperti itu, kami sangat mensyukurinya. Alat masak kami yang dibawa ke kontrakan lakki-laki, aku penasaran dengan tempat tinggall teman laki-lakiku.

Atas perintah dari Pak Adang, rencananya selepas beres-beres dan sholat ashar, kami akan mengunjungi pak RT, untuk sekedar perkenalan atas kedatangan kami di tempat ini.

Aku segera ke kamar dan menggelar karpet yang kubawa dari rumah. Di dalamnya sudah ada surpret yang bisa digunakan untuk tidur, lalu kami beri serpei di atasnya. Sederhana, tapi mudah-mudahan bisa betah di tempat ini.

Tak terasa adzan ashar berkumandang. Pak Sartono sudah meninggalkan kami saat kami sedang asyik di kamar. Beliau hanya berpamitan pada Ali. Katanya ada urusan mendadak. Kami memaklumi kesibukannya. Sangat semangat ketika telah diberi wejangan oleh pembina tercinta.

"Eh, Ranti kita bentar lagi harus ke Pak RT, kalian siap-siap dong. Kita ke kontrakan anak cowok dulu nanti" aku segera berdiri merapikan hijabku.

"Iya Brina, kalem. Kami sudah siap sebenarnya"

Aku baru ingat kalau kedatanganku ini di hari Kamis, pantasa saja Ali ngajakin buat Yasinan setelah solat Magrib nanti. Katanya sebagai salam penghormatan pada orang yang ada di desa ini. Baik untuk makhluk yang terlihat atau pun yang tidak terlihat. Kata sesepuh, itu harus dilakukan jika bertempat di tempat baru.

Sebagai ketua kelompok, Ali tidak ingin jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada anggotanya. Ali pun mengajakku untuk berdiskusi. Akhirnya aku mengiyakan ajakannya. Meski dekat, kami tetap mengobrol lewat chat WhatsApp.

"Heiii, kalian lama betu. Ayo kita ke sana dulu, anak cowok udah nungguin katanya"

"Iya sbar atuh Brinaaaaaaaaa!" Ranti teriak. ia tak ingin jika harus ditinggal sendiri. Sementara yang lainnya sudah merapat.

Posisi kantor berada di tanjakan, sehingga untuk ke kontrakan laki-laki harus turun dulu. Aku pun segera turun bersama teman-temanku. Kontrakannya tepat di bawah turunan jalan itu, ada di pinggir jalan ukuran satu mobil.

Aku tiba di bangunan lawas, berpagar besi, di depannnya ada pohon mangga yang besar, seperti sudah berusia beberpa tahun. Daun dan dahannya berwarna kehitam-hitaman. Bangunan ini seperti sudah lama tidak dihuni.

"Hei, Falaq, Ali aku sudah di luar, cepetlah kalian keluar!" aku berteriak.

Ngeri sekali rumah ini. Untuk saat ini aku belum berani masuk ke dalam kontrakan mereka. Takut kesorean mau ke rumah pak RT.
Aku masih melihat ke arah jendela kamar mereka yang terlihat ada tralisnya, jendela penutupnya bermodel jaman dulu sekali.

Angin sepi-sepoi membuatku betah berlama-lama melihat ke arah jedela itu. Tiba-tiba ada seorang wanita berambut panjang, ia tersenyum padaku dari kejauhan. Bulu kudukku merinding, sesekali aku membuka kacamataku dan menggisik-gisik kedua mataku, apa ada yang salah dengan penglihatanku?

"Brinaaaaa, kamu kenapa?" tanya Ratih penasaran.

"Ituuuu...." ketika aku melihat lagi ke arah jendela. Wanita itu sudah tidak ada.

"Itu apa? Gak ada apa-apa" Ratih menepis tanganku yang berusaha menunjukan di mna perempuan itu berada.


Bagi gua, ini adalah pengalaman yang paling bikin gua setengah gila. Gua sempat bingung, apa ada yang salah dengan mata gua? Jangan lupa kasih cendolnya gan, gua haus dari tadi ngoceh mulu. Bagi gue, niulis itu sama dengang ngomong. Jadi cendolnya janagn lupa biar gua ga kehausan terus bisa gua lanjutin deh.

Thanks sudah mampir di Thread gua, gua update lagi nih kalo rame. Malam ini juga bisa? Keep enjoyed gan!



emoticon-Cendol Gan emoticon-Cendol Gan emoticon-Cendol Gan emoticon-Big Kiss emoticon-Big Kiss
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jrie dan 31 lainnya memberi reputasi
32
09-04-2019 23:11
3. YASINAN


"Bapak, kami pamit dulu" Ali berpamitan pada pak Rt.

Setelah berpamitan, kami segera mungkin menuju ke kontrakan cowok. Sudah jam 5 sore, sementara kamar belum juga beres.

Karena sekarang mau ke kontrakan anak cowok, aku jadi ingat lagi pemandangan di rumah itu sebelum pergi ke rumah pak RT.

Perempuan berambut panjang dengan wajah yang tidak begitu jelas. Aku tak dapat mengenalinya. Lengah sedikit, aku semakin penasaran.

Saking asyiknya sendiri, tak terasa sampailah di kontrakan cowok. Bangunan yang sudah tua dan terdapat pagar besi setinggi dada, lalu ada pohon mangga besar di dekat jalan kecil menuju teras rumah.

Mataku tertuju pada setiap benda yang ada di depan teras. Sapu lidi yang sudah tua, tergeletak di teras depan.

Langkah kakiku semakin ingin terus menyusuri apa yang ada di dalam kontrakan itu. Akhirnya aku pun segera masuk.

"Assalamualaikum.." kumulai dengan kaki kanan melangkah ke pintu utama.

Di ruang depan, kita sudah disajikan dengan kursi tamu yang sudah sangat kusam, kursi yang sudah robek sebagian sampulnya, dan entah rumah ini seperti sudah lama tidak dipakai.

"Hei, kamar kalian di mana?"tanya Siti dengan mata yang tidak juga diam mengikuti ke setiap penjuru.

"Kamar kita di depan sendiri,kita dikasih satu kamar bebas untuk kita" tutur Ali.

Ali menggiring aku dan teman-teman untuk melihat tempat tidur mereka.

Sebuah kamar yang lebih sempit dari kamar kita yang di atas. Banyaknya koper dan baju yang sudah dipakai membuat kamar itu terlihat kumuh.

"Kalian yakin akan tidur di tempat seperti ini?" Mataku tertuju pada sebuah patung kuda yang hanya kepalanya di atas kusen pintu kamar mereka.

"Iya lah, yakin. Walaupun seperti ini, kita bisa bersihin kok,tenang aja Brina!" Falaq merayuku dengan kedipan matanya.

"Ah! Kalian sok jago. Inget ya harus bersih biar nanti kalian bisa tenang tidurnya, gak diganggu setan! Hahah" mulut Ranti mulai sompral.

"Hus ! Kamu jangan ngomong gitu dong, kita kan baru aja dateng masa iya ada setannya?" Arif si kecil badannya dari kita pun tak kalah berargumen.

"Oy maafin aku, dong. Aku becanda" ucap Ranti.

Meski dalam keadaan yang menggembirakan. Aku tidak bisa bertanya sekarang pada mereka tentang apa yang aku lihat tadi.

Aku hanya takut mereka percaya dan malah menjadi penakut. Setelah itu,aku juga takut nanti mereka tidak percaya dan menganggap aku anak yang suka mengkhayal.

Lalu bagaimana aku harus berkata? Entah.

Akhirnya aku memutuskan untuk segera ke kamar cewek, sebenarnya aku juga masih ingin berkeliling di kontrakan anak cowok. Tapi waktu yang tidak memungkinkan.

Sesampainya di kamar, aku segera merebahkan diri di atas kasur karpet yang tadi digelar. Rasanya lega bisa bernafas dengan leluasa sebab jendela dibuka semua.

Sambil menunggu adzan magrib, aku membereskan pakaian yang belum sempat kubereskan. Lalu menggelar tikar di tempat mobil tepat di ruang tengah.

"Mau ngapain, Neng?" Tanya Roros.

"Ini kan kita mau yasinan, tapi nunggu anak cowok dulu ya" kataku.

Tak berselang lama adzan magrib berkumandang, mereka solat di kontrakannya., akhirnya anak-anak cowok pun datang.

Hari pertama pertemuan di tempat PKL kita mengadakan Yasinan. Acara berlangsung sangat khidmat. Bahkan rasa-rasa takut itu perlahan mulai menghilang.

Ada rasa tenang yang tidak sembarangan orang dapat merasakannya.

Agan dan Sistaku tecinta, aku keburu ngantuk nih, gak ada cendolnya.

Jangan lupa like, komen and subscribe chanelku


Ada yang penasaran kelanjutannya?

I Love You emoticon-Big Kissemoticon-Big Kiss
Diubah oleh brina313
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jrie dan 26 lainnya memberi reputasi
27
08-04-2019 14:42
Rumah Pak RT


Bukankah seharusnya aku menyadari bahwa makhluk tak kasat mata itu memang benar adanya. Buktinya saat itu juga aku melihatnya dengan kedua mataku. Tapi, semua membuat aku gila. Tak ada yang percaya satu orang pun padaku.

"Ayo kita pergi!" Ali mengajakku untuk segera pergi.

Sementara aku masih berdiri meratapi jendela yang tadi ada wanita cantik itu.

"Briiinn.. cepatlah! Kamu masih ngapain sih di sini?" Roros menarik tanganku lalu menarik ke arah teman-teman yang sudah jauh membelakangiku.

Di sepanjang perjalanan menuju rumah pak RT, mataku dimanjakan dengan pemandangan sawah-sawah di sekitarnya. Usia padi, seperti sudah saatnya untuk dipanen.

Kami melewati beberapa rumah tetangga sekitar, di halaman mereka ada yang menunggu senja dengan ditemani secangkir teh dan pisang goreng di teras rumah.

Setiap lewat ke rumah penduduk, kami mengucapakan permisi sambil bersalaman.

"Permisi" Ali mulai menyalami dan disusul dengan anggota lainnya.

"Iya A, ada apa? Silakan mampir dulu" ucap salah satu warga dengan santunnya.

"Ini pak,kami nyari rumah Pak Rt, sebelah mana ya?" tanyaku spontan.

"Oh, aa sama teteh ini yang prakerin dari SMK itu, bukan? Iya tiap tahun memang suka ada yang prakerin di sini"

"Iya pak," ujarku.

"Teteh lurus saja ke sana, nanti di dekat jalan utama yang kecil ini ada rumah bercat biru muda, itu rumahnya" bapak itu mengisyaratkan ujung ibu jarinya berharap kami dapat mengerti petunjuknya.

"Hatur nuhun Pak" ucapku dengan nada yang lebih rendah dari bapak itu.

"muhun sami-sami, Neng" jawabnya.

Kami melanjutkan kembali perjalanan, sebenarnya tidak begitu jauh jarak dari kontrakan laki-laki ke rumah Pak RT, tapi karena kita masih baru, jadi masih bertanya-tanya.

"Nah mungkin ini rumahnya" dengan bahagianya, Arif menujukan rumah yang dia maksud.

"Iya ini." timpal Siti.

Tanpa pikir panjang lagi, kami langsung ke teras rumahnya. Ali mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Tak lama, seorang bapak yang usianya sekitar 45 tahun, membukakan pintu.

"Waalaikumsalam.. silakan masuk!" Bapak itu yang aku tidak tahu namanya, ia mengajak kami masuk.

Satu persatu dari kami pun masuk, di atas meja tamu sudah tersedia makanan berupa jagung rebus dan air teh hangat.

Peka sekali bapak ini. Sepertinya sudah tahu kalau kami akan silaturahmi ke rumahnya. Ya berprasangka baik saja.

"Teteh dan Aa ini yang prakerin di tempat Pak Adeng ya?" Ucap pak RT membuka pembicaraan.

"Iya Pak," jawb kami serempak "kenapa bapak bisa tau?" Tanyaku penasaran.

"Iya tadi bapak lihat kalian saat baru saja datang"

"Oh begitu,"

Pembicaraan berlangsung sangat menyenangkan. Bapak Edi, sebagai ketu RT, sangat mengayomi pada warga di sini. Terlihat jelas dari caranya menggambuhi kami.

"Kalian selama prakerin di sini, harus memanfaatkan waktu ini sebaik-baiknya. Jangan sampai tidak mempersungguh. Pak Adeng ini orangnya...." Pak Edi memutus penbicaraannya.

"Bagaimana pak?" tanya Falaq penasaran.

Aneh. Seakan ada sesuatu yang ingin disampaikan pada kami, tapi Pak RT ragu. Dan saat Falaq bertanya sampai mengulangi pertanyaan itu.

"Ya, namanya orang beda-beda. Kalian harus bisa mengimbanginya. Ambil hatinya, suatu saat kalian akan tahu bagaimana caranya bekerja"

Begitulah hidup, terkadang ada banyak hal yang tidak perlu untuk disampaikan tapi suatu saat akan terungkap dengan sendirinya

Quote:mau tau kelanjutannya? Ayo dukung deengan cara kasih cendol dan rate ya, gan. Love you. Mmmuuaachhemoticon-Big Kissemoticon-Big Kiss
profile-picture
profile-picture
profile-picture
jrie dan 20 lainnya memberi reputasi
21
14-04-2019 12:57
BAPAK MATA HITAM


Kubaca doa penjagaan berkali-kali sampai tidak beraturan. Hingga tak terasa aku tertidur lelap sekali.

Pukul setengah lima subuh, aku terbiasa bangun untuk mengerjakan solat subuh. Tidak dengan teman-temanku. Aku berusaha membangunkan mereka lebih awal, tapi hanya sebgaian kecil yang mau bangun, itu pun tidur lagi.

Kuambil handuk dan alat mandi menuju kamar mandi. Air di dalam bak tidak lagi seperti semalam. Aku tidak percaya. Masa iya air yang semalam berwarna keruh dan bau amis,kini tidak lagi seperti itu.

Tanpa memikirkan terlalu panjang. Aku langsung saja membersihkan badanku. Lalu segera menunaikan solat subuh di belakang mobil jip.

Pagi ini aku mulai kebingungan, aku tidak boleh tidur lagi. Harus ada yang aku kerjakan setelah solat subuh. Aku ingat dengan tugasku. Anak cewek menanak nasi di tempat sendiri lalu memasak lauknya di tempat cowok.

Tapi ini masih gelap. Apa mungkin anak cowok sudah bangun. Rasa bimbang pun menghantui. Aku segera menuju ke pintu garasi dan melihat teras di depan ternyata kotor. Akhirnya kuputuskan untuk mnyapu lalu mengepelnya.

Di sebelah kanan garasi, ada kolam ikan yang lumayan besar. Di pinggirnya ada pohon yang besar dan aku tidak tahu itu namanya pohon apa. Lalu di bawah pohon itu ada saung lesehan yang biasa dipakai oleh bapak-bapak untuk memancing ikan.

Tepat lurus di depan teras kantor, kulihat ada pohon nangka yang besar, hitam dan mengerikan jika malam hari. Lalu di sampingnya rumah Pak Adeng. Ya, rumah pak Adeng berhadapan dengan kantor yang ada kamar tempat aku tidur.

Saat aku baru saja mau mengambil pel-pelan dan air di kolam. Aku melihat orang berdiri dan memperhatikanku di bawah pohon nangka itu. Wajahnya seperti ada sedikit cahaya kemerah-merahan dan matanya aku tidak bisa melihat, hanya hitam, tak ada yang putih-putihnya. Aku melihat seperti seorang bapak yang sedang berdiri menatapku sambil merokok. Tapi aku berpikir tidak mungkin, apa kerjaan orang itu pagi-pagi buta berdiri di bawah pohon besar.

Yang membuat aku semakin merinding adalah depan rumah pak Adeng tidak ada cahaya terang. Cahayanya redup. Sehingga tidak jelas. Aku berusaha mempertajam penglihatanku dengan sesekali melepas kacamataku dan menggisik mataku.

Aku semakin dibuat jantungan, bagaimana bisa aku melihat hantu ssubu-subuh. Saat ia semakin terlihat memperhatikan aku, aku pun langsung melempar pel-pelan dan berhambur ke dalam kamar.

Nafasku ngos-ngosan, seperti biasa teman-teman malah memarahiku dengan sikap konyolku. Rasanya pengen nangis. Tapi gak bisa. Pengen pulang secepatnya.

Aku duduk lemas. Aku yakin itu bukan hantu. Itu hanya orang gak ada kerjaan berdiri di bawah pohon nangka. Aku berusaha memfositifkan pikiranku. Sebab kata orang kalau hantu itu tidak napak kakinya di tanah. Tapi aku tidak sempat melihat kakinya. Aku sangat ketakutan.

Haha.. ini konyol sih. Tapi aku benar-benar mengalaminya. Kamu tau kali gimana rasanya?

Aku berusaha untuk selalu berpikiran postif saja.

Quote:Terima kasih untuk dukungannya, Kak Yuda dan yang lainnya. Kamu penguat😂
profile-picture
profile-picture
profile-picture
ajaymarsa dan 12 lainnya memberi reputasi
13
profile picture
KASKUS Plus
14-04-2019 20:14
Aku gak berani baca kalo malem.
profile picture
kaskus maniac
14-04-2019 14:33
Belum naik HT yah ini, sebentar lagi sepertinya
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
pewaris-terakhir
Stories from the Heart
senandung-black-n-blue
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.