- Beranda
- Berita dan Politik
Luhut Mengaku Beri Amplop ke Kiai Bangkalan karena Sedang Sakit
...
TS
ikardus
Luhut Mengaku Beri Amplop ke Kiai Bangkalan karena Sedang Sakit
Merdeka.com - Menteri Koordinator (Menko) Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan menganggap tidak ada yang salah dengan pemberiannya kepada Kiai Zubair Muntasir di Bangkalan, Madura, beberapa waktu lalu. Pemberian dinilai wajar karena sang ulama sedang sakit.
"Kenapa apa-apa? Orang sakit kita kasih. Bego itu yang anu," ucap Luhut dari dalam mobil.
Belakangan ini video pemberian Luhut kepada Kiai Zubair Muntasir di Pondok Pesantren Nurul Cholil, Bangkalan, Madura beredar di media sosial. Dalam video, Luhut terlihat memberikan amplop putih kepada sang ulama. Dia sempat berbicara dan meminta sang ulama menyampaikan kepada umat dan santri untuk pergi ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) dengan mengenakan baju putih. Saat mengucapkan 'baju putih' itu, Luhut terekam dengan gestur berbisik.
Video itu pun sempat viral di media sosial. Tagar #AmplopLuhutAdaMaunya pun digaungkan kelompok oposisi, yang menilai pemberian tersebut sebagai bentuk upaya membeli suara. Tagar itu bahkan sempat bertengger di puncak trending topic Twitter Indonesia.
Luhut menjelaskan video tersebut merekam kunjungannya ke Pondok Pesantren Nurul Cholil di Bangkalan pada Sabtu 30 Maret 2019 lalu. Kunjungannya dalam rangka bersilaturahmi yang menjadi kebiasaannya sejak bertugas di Jawa Timur.
"Silaturahmi di pondok pesantren sudah biasa saya lakukan sejak menjadi Komandan Korem 081/Dhirotsaha Jaya di Madiun Jawa Timur pada tahun 1995. Bagi saya keberadaan pesantren telah menjadi pilar penting untuk menjaga kekokohan NKRI," ujar Luhut.
Luhut mengatakan dari kebiasaan itu, dia kemudian mengenal mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Oleh Gus Dur, dia mengaku diajari tentang tradisi pesantren dan Islam.
"Dari kebiasaan itulah saya mulai mengenal almarhum Gus Dur yang kemudian banyak mengajari saya tentang tradisi pesantren, sejarah Islam, dan tentang Islam yang membawa kedamaian," katanya.
Tak hanya bersilaturahmi, kunjungan ke Ponpes Nurul Cholil dilakukan Luhut khusus untuk menjenguk KH Zubair Muntasor. Sebab, dia mendapat kabar sang kiai tengah memiliki masalah kesehatan.
"Khusus mengenai kunjungan ke Bangkalan, saya sengaja menjenguk KH Zubair Muntasor yang saya dengar memiliki masalah kesehatan. Tentu hal ini tidak patut saya ceritakan ke publik secara lebih mendetail karena privasi Beliau," ujar Luhut.
Luhut pun menegaskan pemberian amplop kepada KH Zubair Muntasor tak terkait dengan Pilpres 2019. Amplop tersebut merupakan bisyaroh atau tanda terima kasih dari jemaah yang mendengar tausiah, untuk membantu biaya pengobatan sang kiai.
"Sebagai tamu yang dijamu dan disambut dengan hangat, saya hanya dapat membalas dengan memberi bisyaroh sekedarnya untuk membantu pengobatan Beliau. Sayapun lebih dulu diberi oleh-oleh berupa batik dan batu akik. Begitulah tradisi yang kami lakukan untuk menjaga tali silaturahmi," tuturnya.
Luhut juga menjelaskan dalam pertemuan yang berlangsung selama 15 menit itu dia hanya menitipkan pesan agar jangan sampai ada umat atau santri yang golput pada Pemilu 2019. Dia pun menyesalkan peristiwa tersebut seolah 'dipelintir' sebagai aksi jual beli suara yang dilakukannya kepada KH Zubair Muntasor.
"Saya menyesalkan adanya pihak-pihak yang mengatakan telah terjadi jual beli suara dalam pertemuan tersebut. Bagi saya, fitnah yang keji itu mencoreng kehormatan terutamanya KH Zubair Muntasor dan pondok pesantren yang diasuhnya," kata Luhut.
Dia meminta semua pihak untuk mengedepankan pikiran jernih ketimbang berprasangka buruk kepada orang lain. Jangan sampai tradisi silaturahmi yang telah turun temurun dirusak oleh kecurigaan-kecurigaan yang tidak berdasar.
Sementara itu, jubir Barisan Muda Aswaja An-Nahdliyyah Indonesia (BARMAWI), Gus Robith Wajdy memberikan tanggapan. Menurutnya, cara pandang mantan Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief yang pertama kali menyoroti soal amplop itu dianggap keliru.
"Disimpulkan untuk menangkan hati kiai, rebut hati kiai, bahwa kiai bisa dibeli, kiai bisa kasih amplop selesai. Bagi kami bukan gitu," katanya saat dihubungi merdeka.com.
Pengurus Ponpes Nurus Shobar Umbulsari mengatakan, cuitan itu semakin menunjukan kapasitas Andi yang tidak memberi contoh politik baik bagi bangsa ini.
"Jenengan ngawur. Yang dilakukan Bang Luhut sangat hormati, unggah ungguh anak sowan ke orang tua. Istilah pesantren (akhlak santri), sowan, hormati kiai. Tweet jenengan tak ada artinya," tutur Robith.
Dia mengaku bereaksi bukan karena bagian dari tim yang bertugas menangkan Jokowi. Walaupun secara politik, Robith secara terbuka menyebut pasangan Joko Widodo dan Ma'ruf Amin adalah pemimpin terbaik.
"Cuitan Bang Andi sangat menyudutkan kami kalangan pesantren, santri. Makanya kami tidak terima, kami semakin yakin dengan pilihan kami", tandasnya.
Sumber
https://m.merdeka.com/peristiwa/luhu...ang-sakit.html
"Kenapa apa-apa? Orang sakit kita kasih. Bego itu yang anu," ucap Luhut dari dalam mobil.
Belakangan ini video pemberian Luhut kepada Kiai Zubair Muntasir di Pondok Pesantren Nurul Cholil, Bangkalan, Madura beredar di media sosial. Dalam video, Luhut terlihat memberikan amplop putih kepada sang ulama. Dia sempat berbicara dan meminta sang ulama menyampaikan kepada umat dan santri untuk pergi ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) dengan mengenakan baju putih. Saat mengucapkan 'baju putih' itu, Luhut terekam dengan gestur berbisik.
Video itu pun sempat viral di media sosial. Tagar #AmplopLuhutAdaMaunya pun digaungkan kelompok oposisi, yang menilai pemberian tersebut sebagai bentuk upaya membeli suara. Tagar itu bahkan sempat bertengger di puncak trending topic Twitter Indonesia.
Luhut menjelaskan video tersebut merekam kunjungannya ke Pondok Pesantren Nurul Cholil di Bangkalan pada Sabtu 30 Maret 2019 lalu. Kunjungannya dalam rangka bersilaturahmi yang menjadi kebiasaannya sejak bertugas di Jawa Timur.
"Silaturahmi di pondok pesantren sudah biasa saya lakukan sejak menjadi Komandan Korem 081/Dhirotsaha Jaya di Madiun Jawa Timur pada tahun 1995. Bagi saya keberadaan pesantren telah menjadi pilar penting untuk menjaga kekokohan NKRI," ujar Luhut.
Luhut mengatakan dari kebiasaan itu, dia kemudian mengenal mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Oleh Gus Dur, dia mengaku diajari tentang tradisi pesantren dan Islam.
"Dari kebiasaan itulah saya mulai mengenal almarhum Gus Dur yang kemudian banyak mengajari saya tentang tradisi pesantren, sejarah Islam, dan tentang Islam yang membawa kedamaian," katanya.
Tak hanya bersilaturahmi, kunjungan ke Ponpes Nurul Cholil dilakukan Luhut khusus untuk menjenguk KH Zubair Muntasor. Sebab, dia mendapat kabar sang kiai tengah memiliki masalah kesehatan.
"Khusus mengenai kunjungan ke Bangkalan, saya sengaja menjenguk KH Zubair Muntasor yang saya dengar memiliki masalah kesehatan. Tentu hal ini tidak patut saya ceritakan ke publik secara lebih mendetail karena privasi Beliau," ujar Luhut.
Luhut pun menegaskan pemberian amplop kepada KH Zubair Muntasor tak terkait dengan Pilpres 2019. Amplop tersebut merupakan bisyaroh atau tanda terima kasih dari jemaah yang mendengar tausiah, untuk membantu biaya pengobatan sang kiai.
"Sebagai tamu yang dijamu dan disambut dengan hangat, saya hanya dapat membalas dengan memberi bisyaroh sekedarnya untuk membantu pengobatan Beliau. Sayapun lebih dulu diberi oleh-oleh berupa batik dan batu akik. Begitulah tradisi yang kami lakukan untuk menjaga tali silaturahmi," tuturnya.
Luhut juga menjelaskan dalam pertemuan yang berlangsung selama 15 menit itu dia hanya menitipkan pesan agar jangan sampai ada umat atau santri yang golput pada Pemilu 2019. Dia pun menyesalkan peristiwa tersebut seolah 'dipelintir' sebagai aksi jual beli suara yang dilakukannya kepada KH Zubair Muntasor.
"Saya menyesalkan adanya pihak-pihak yang mengatakan telah terjadi jual beli suara dalam pertemuan tersebut. Bagi saya, fitnah yang keji itu mencoreng kehormatan terutamanya KH Zubair Muntasor dan pondok pesantren yang diasuhnya," kata Luhut.
Dia meminta semua pihak untuk mengedepankan pikiran jernih ketimbang berprasangka buruk kepada orang lain. Jangan sampai tradisi silaturahmi yang telah turun temurun dirusak oleh kecurigaan-kecurigaan yang tidak berdasar.
Sementara itu, jubir Barisan Muda Aswaja An-Nahdliyyah Indonesia (BARMAWI), Gus Robith Wajdy memberikan tanggapan. Menurutnya, cara pandang mantan Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief yang pertama kali menyoroti soal amplop itu dianggap keliru.
"Disimpulkan untuk menangkan hati kiai, rebut hati kiai, bahwa kiai bisa dibeli, kiai bisa kasih amplop selesai. Bagi kami bukan gitu," katanya saat dihubungi merdeka.com.
Pengurus Ponpes Nurus Shobar Umbulsari mengatakan, cuitan itu semakin menunjukan kapasitas Andi yang tidak memberi contoh politik baik bagi bangsa ini.
"Jenengan ngawur. Yang dilakukan Bang Luhut sangat hormati, unggah ungguh anak sowan ke orang tua. Istilah pesantren (akhlak santri), sowan, hormati kiai. Tweet jenengan tak ada artinya," tutur Robith.
Dia mengaku bereaksi bukan karena bagian dari tim yang bertugas menangkan Jokowi. Walaupun secara politik, Robith secara terbuka menyebut pasangan Joko Widodo dan Ma'ruf Amin adalah pemimpin terbaik.
"Cuitan Bang Andi sangat menyudutkan kami kalangan pesantren, santri. Makanya kami tidak terima, kami semakin yakin dengan pilihan kami", tandasnya.
Sumber
https://m.merdeka.com/peristiwa/luhu...ang-sakit.html
Diubah oleh ikardus 05-04-2019 12:53
0
1K
10
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
695.8KThread•59.3KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya