Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
21
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5c99865a28c99135d2669dc0/karena-aku-tulus-mencintai-mu
Aku tidak sedang bercanda. Aku juga tidak sedang berkhayal. Meskipun kau anggap aku gila karena apa yang akan kau dengar adalah sesuatu hal yang jauh dari logika manusia biasa. Logika yang justru malah mengurung dan membuat aku semakin tersiksa. Tentang apa yang aku rasakan. Tentang apa yang seharusnya ku lakukan. Tentang apa yang mungk
Lapor Hansip
26-03-2019 08:54

Karena Aku Tulus Mencintai Mu

Past Hot Thread
icon-verified-thread
KARENA AKU TULUS MENCINTAI MU


Karena Aku Tulus Mencintai Mu


Prolog



Dengarkan aku ...


Aku tidak sedang bercanda. Aku juga tidak sedang berkhayal. Meskipun kau anggap aku gila karena apa yang akan kau dengar adalah sesuatu hal yang jauh dari logika manusia biasa. Logika yang justru malah mengurung dan membuat aku semakin tersiksa. Tentang apa yang aku rasakan. Tentang apa yang seharusnya ku lakukan. Tentang apa yang mungkin akan kau katakan. Dan semua ketakutan akan pikiran itulah yang membuat ku selalu hidup dalam kebohongan. Hanya supaya agar aku bisa terus melihat senyum mu. Untuk bisa terus mendengar keluh mu. Menerima semua emosi sesaat mu kala kau masih belum bisa menerima kenyataan kecil hidup yang berbeda. Kenyataan hidup yang bagiku justru ku syukuri. Karena memberi ruang untuk semakin mendekatkan aku pada dirimu. Ya, aku mungkin telah memanfaatkan semua kelemahan mu. Tanpa pernah sedikit pun ku sesali. Bahkan jujur aku menikmati dan merindukan nya. Hanya pada saat-saat seperti itu, aku bisa bebas memandang wajah mu, mendengar suara mu.

Percayalah ...

Tak akan pernah aku paksakan hatiku pada mu. Tak juga akan kupaksakan agar kau mau menerima ku. Ku akui sulit bagi mu untuk menerima segala ucapan ku. Mencerna dan memahami maksud perkataan ku. Sebuah kalimat yang tak pernah kau bayangkan akan keluar dari mulut ku. Mulut yang selau berbicara tentang hal-hal duniawi. Hal-hal yang sebetulnya tidak terlalu penting buat hidup mu.

Lihat aku ...

Bukan sebagai sosok keseharian ku. Yang tak lebih hanya memberi sedikit warna dalam hari mu. Sosok yang hadir bukan karena suatu kewajiban.  Rutinitas tak terbantah yang harus aku dan kau jalani. Cukup bagi ku jika kau sadar bahwa aku juga sama seperti mereka. Lawan jenis mu yang punya rasa. Yang juga tak berdaya melawan kuatnya batas tak terlihat. Batas yang tercipta akibat status kita yang berbeda. Yang membuat semua nya semakin rumit. Yang selalu berujung pada aturan tak tertulis. Yang aku yakin akan semakin membuat mu ragu untuk bergerak.

Kalau memang rasa itu ada ...

Tak akan lagi aku perduli pada dunia. Terserah mereka akan berkata apa. Aku tak perduli. Mereka mungkin akan mengucilkan aku. Menjauhkan aku dari semua kegiatan ku. Melemparku kembali ke dasar pencarian. Bahkan, mereka mungkin juga tak akan menganggap aku ada. Tapi tetap aku tak perduli. Selama rasa itu ada dalam hati mu. Cukup buat ku.

Karena aku tulus mencintaimu sebagai seorang lelaki.







INDEX


Quote:Prolog
Maya
Seno
Diubah oleh omboth
profile-picture
profile-picture
profile-picture
rens09 dan 8 lainnya memberi reputasi
9
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Karena Aku Tulus Mencintai Mu
31-03-2019 21:05
Maya



Saat itu aku masih belum tahu apa yang harus aku pilih.

Tetap di kota ini, dengan segala hal yang bisa membuatku nyaman namun akan membuat ku tidak bisa mengepakan sayap. Terbuai oleh kehangatan rumah dan orang-orang di dalamnya yang sudah aku kenal sejak aku lahir di dunia. Atau memilih untuk berkelana ke tempat-tempat asing yang ayah ku sendiri belum pernah injakan kakinya di tanah itu. Fantasi bertemu orang-orang baru, hal-hal baru yang mungkin bisa menambah pengalamanku. Dan juga mungkin akan menambah panjang deretan luka hati.

Di satu sisi aku ngga mau ninggalin mereka yang udah banyak memberikan rasa aman dan kebahagiaan seorang anak, tapi di sisi lain aku berontak ingin merasakan hal-hal yang belum pernah aku dapatkan. Hal-hal yang hanya bisa aku raih jika aku mungkin tetap bersikap keras kepala. Nekat atau apalah namanya. Yang mungkin harus di bayar dengan sindiran sinis bahkan tangis dari orang yang dulu melahirkan diri ku.

"Kamu anak perempuan satu-satunya di keluarga ini ... "

Apa itu artinya jika aku terlahir laki-laki maka segalanya akan lancar? Aku juga nda pernah minta untuk lahir sebagai seorang wanita. Jenis manusia yang selalu dianggap lemah. Ngga bisa apa-apa. Yang ngga bakal tahan hidup sendirian tanpa ada nya pelukan seorang mama. Betapa aku iri dengan Mas Dimas yang di usia nya yang ke-16 udah di bolehin untuk hidup sendiri jauh dari kami. Cerita-cerita seru nya saat ia pulang liburan kuliah, saat ia naik gunung, saat ia bermain jeram, saat ia ... ahhhh ... Aku juga ingin mengalami itu semua. Bukan hanya rutinitas monoton rumah-sekolah-tempat les dan rumah lagi. Sesekali aku juga ingin merasakan adrenalin ku naik. Merasakan rasa takut, penasaran dan senang jadi satu.

"Tunggulah sampai kau lulus SMA, baru nanti kita bicarakan lagi ..."

Nggak. Aku nggak mau. Itu artinya aku harus bertahan tiga tahun lagi bersama semua kebosanan ini. Itu berarti aku juga harus bertahan selama tiga tahun lagi untuk tetap menjadi seorang pendengar bagi cerita-cerita nya Mas Dimas.

Air hangat terasa mengalir di pipi ku.

Aku menangis karena aku tahu apa pun yang akan aku katakan tidak akan bisa mengubah kenyataan yang ada di hadapan ku. Papa yang aku kenal karena ketegasan nya, nampak enggan mengesampingkan sifatnya itu. Mama sendiri seperti biasa hanya bisa memandang ku dengan segala macam perasaan yang hanya ia sendiri yang tahu.

"Maya hanya ingin belajar mandiri, Pa. Sama seperti Mas Dimas ...

Tinininininininit ... tinininininininit ...

Suaraku terputus panggilan masuk ke HP Mama.

"Ya ...? Ada apa, Mas?"

Mas Dimas? Yang nelpon Mama Mas Dimas?

"Dimas pengen ngomong, Pa ..."

Papa meraih HP lalu beranjak berdiri dan berjalan ke ruangan lain. Meninggalkan aku dan Mama berdua dalam diam di ruangan ini.

"Kau yakin? ..."

Samar aku mendengar Papa bicara lewat telepon. Tak lama kemudian Papa kembali ke ruangan dan menyerahkan HP yang ia pegang ke arah ku.

"Mas mu mau ngomong ..."

"Mas Dimas?"

"Mas mu ono piro to?"

Tanpa menjawab pertanyaan Papa aku langsung meraih HP.

"Halo, Mas ..."

"Hallo, May ... sehat?" Suara Mas Dimas terdengar kecil. Mungkin jaringan sedang kumat seperti biasanya.

"Saat ini masih. Mbuh nek sesuk ..." Suara tertawa terdengar dari ujung sana.

"Malah ngguyu ki ..." Aku pura-pura ngambek.

"Wes wes ..., Mas udah ngomong sama Papa. Kamu boleh kok ngelanjutin SMA mu di Jogja. Tapi ..."

"Iki tenanan Mas?" Aku setengah teriak tak percaya.

"Iya..., tapi ada syarat nya. Kamu harus mau tinggal satu rumah kontrakan dengan aku."

"Ngga masalah, Mas."

"Terus ..."

Aku tak lagi mendengar apa kata Mas Dimas di telepon. Aku melihat ke arah Papa dan Mama mencoba mencari penegasan. Aku melihat Papa tersenyum. Sedang Mama, walaupun ada perasaan terpaksa, juga tersenyum ke arah ku.

Aku berhambur memeluk mereka berdua.

"Makasih, Ma. Makasih, Pa ..."

Aku menangis sambil memeluk orang-orang yang sangat kucintai itu.

"Anu ... ini masih nyambung loh teleponnya, pulsa ku masih jalan ini ..."

Suara Mas Dimas terdengar dari HP yang masih ku genggam. Wes ben ...
4 0
4
Karena Aku Tulus Mencintai Mu
31-03-2019 22:09
Seno



"Udah kau beres in semuanyo? Dak ado lagi yang ketinggalan?"

"Idak, Bu."

Tangan Ibu tampak sibuk memasukan barang-barang terakhir ke dalam koper hitam tua milik Bapak. Dari arah luar, Bapak dan adik perempuan ku satu-satunya, Inggrit, tampak masuk ke dalam rumah setelah memasukan kardus-kardus ke dalam bagasi mobil.

"Tiket kek mano? Jangan pulak dah nyampe bandara kau suruh aku balik ngambik ..."

"Idak lah, Pak. Tiket tu dah aman di tas depan."

Sahut ku sembari menepuk bagian depan tas punggung. Tas yang setia menemaniku selama beberapa tahun terakhir. Dari samping Inggrit mendekat dan duduk di sebelahku. Sebelah tangan ku dipeluk nya.

"Jangan pulak lupo pesenan aku yo, Bang" Matanya mengerling manja ke arahku yang hanya membalas dengan senyuman.

"Kau ni! Abang kau ni belum lah lagi nak pegi dah macam-macam pulak mintak nyo."

Sembari menutup koper hitam tua yang akan aku bawa, Ibu pura-pura memukul kepala Inggrit.

"Dak ado aku mintak macam-macam. Aku cuman mintak kaos biaso yang ado tulisan nyo Jogja bae."

"Yaela, Ibu bae lom lagi dapat apo-apo, kau lah nak minta aneh-aneh."

"Nah ... ngapo Ibu dak minta mumpung orangnya belum pegi."

Aku tertawa mendengar percakapan mereka. Perasaan kehangatan keluarga yang bertahun-tahun aku rasakan, dalam beberapa jam kedepan mungkin akan aku rindukan.

"Dah ... sudah. Ibu samo anak samo bae. Ribut bebalak manjang. Tapi jangan lupa yo, Sen. Pesenan Bapak. Dompet kulit."

"Bapak samo bae ..."

Ibu dan Inggrit kompak tanpa di komando berteriak sambil memajukan mulut mereka.

Hari itu hari keberangkatan ku. Hari di mana aku akan memulai hidup baru di tanah Jogja. Sebuah kota yang katanya ramah orang-orangnya. Murah harga barang-barangnya. Namun panas udaranya. Aku diterima bekerja di suatu sekolah swasta yang ada di kota pelajar tersebut. Ya, sebagai seorang guru. Lebih tepatnya, Guru Bahasa Inggris. Empat tahun aku menimba ilmu di salah satu universitas di kota kelahiranku, dua tahun belajar mengajar di suatu instansi bahasa asing, dan kini aku mendapat kesempatan untuk menjadi seorang guru. Sebenar-benarnya guru. Bukan seorang instruktur, bukan pula seorang guru private. Tapi benar-benar guru. Suatu profesi yang mungkin tidak pernah aku mau memilihnya karena sadar betapa besar dosa-dosaku saat sekolah dulu pada semua guru-guru.

Mobil sudah masuk area parkir bandara. Agak susah juga mencari tempat yang enak buat parkir. Bukan karena tidak ada tempat kosong, tapi lebih karena mencari tempat parkir yang lumayan teduh itu yang rada susah. Akhirnya Bapak menyerah setelah muter-muter dua kali dan hasilnya sama. Mobil di parkir di tempat yang paling dekat dengan terminal.

"Kau ambik dulu sano troli nyo. Biak enak bawak barang-barang di bagasi ni."

Tanpa di suruh dua kali oleh Bapak, aku langsung bergegas ke tempat di mana troli-troli di parkirkan.
Setelah semua barang berada di atas troli, aku mulai mendorongnya di ikuti rombongan keluarga ku. Mungkin seperti ini rasanya kalo naik haji diantar sama keluarga.

"Inget pesen Ibu. Jangan nak macam-macam di tempat orang. Jago baek namo keluargo."

Ucapan yang sama saat di dalam mobil pun terjadi lagi.

"Terserah kalo kau nak pacaran. Tapi jangan ambik sembarangan anak orang. Pilih yang bener."

Aku mengangguk. Nda usah di jawab ntar malah tambah panjang.

"Sampe sano telepon yo, Bang"

Aku menoleh ke Inggrit. Tumben nih anak melow.

"Ngapo? Dah kangen samo Abang po?" Tangan ku memegang kepala Inggrit dan mengacak-acak rambutnya.

"Beh, ... dak lah. Man mau ngingetin jangan lupo pesenan aku be ..."

"Udah ... udah. Siapin tiket kau. Bentar lagi dah di suruh boarding itu."

Suara Bapak menghentikan tanganku yang mencoba meraih Inggrit yang lari sembunyi di balik Ibu.

"Seno pamit, Pak, Bu."

Kucium tangan kedua orang tua ku.

"Abang berangkat yo, Nggrit ..."

Tangan ku di cium oleh Inggrit.

Aku lalu melangkah ke arah petugas. Memberikan boarding pass ku lalu berjalan masuk ke arah dalam bandara.

Tanpa sadar aku berbalik. Melihat ke arah mereka.

Bapak tersenyum sambil melambaikan tangan nya.

Ibu dan Inggrit tampak menangis.



3 0
3
Karena Aku Tulus Mencintai Mu
03-04-2019 07:07
Ada lanjutannya ngga?
Penasaran ...
1 0
1
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Karena Aku Tulus Mencintai Mu
03-04-2019 08:48
Di tunggu lanjutan nya ...
Semangat ...
emoticon-2 Jempol emoticon-2 Jempol emoticon-2 Jempol
0 0
0
Lihat 2 balasan
Memuat data ..
Karena Aku Tulus Mencintai Mu
09-04-2019 18:04
seru nih emoticon-Matabelo
Lanjut gan emoticon-2 Jempol
0 0
0
Karena Aku Tulus Mencintai Mu
09-04-2019 21:07
lanjut gan emoticon-Sundul Up
0 0
0
Karena Aku Tulus Mencintai Mu
09-04-2019 23:12
lanjut
0 0
0
Karena Aku Tulus Mencintai Mu
10-04-2019 01:10
Inspiratif gan, semoga bisa buat thread lainnya yang bermanfaat
0 0
0
Karena Aku Tulus Mencintai Mu
10-04-2019 20:59
Quote:Original Posted By omboth
Maya



Saat itu aku masih belum tahu apa yang harus aku pilih.

Tetap di kota ini, dengan segala hal yang bisa membuatku nyaman namun akan membuat ku tidak bisa mengepakan sayap. Terbuai oleh kehangatan rumah dan orang-orang di dalamnya yang sudah aku kenal sejak aku lahir di dunia. Atau memilih untuk berkelana ke tempat-tempat asing yang ayah ku sendiri belum pernah injakan kakinya di tanah itu. Fantasi bertemu orang-orang baru, hal-hal baru yang mungkin bisa menambah pengalamanku. Dan juga mungkin akan menambah panjang deretan luka hati.

Di satu sisi aku ngga mau ninggalin mereka yang udah banyak memberikan rasa aman dan kebahagiaan seorang anak, tapi di sisi lain aku berontak ingin merasakan hal-hal yang belum pernah aku dapatkan. Hal-hal yang hanya bisa aku raih jika aku mungkin tetap bersikap keras kepala. Nekat atau apalah namanya. Yang mungkin harus di bayar dengan sindiran sinis bahkan tangis dari orang yang dulu melahirkan diri ku.

"Kamu anak perempuan satu-satunya di keluarga ini ... "

Apa itu artinya jika aku terlahir laki-laki maka segalanya akan lancar? Aku juga nda pernah minta untuk lahir sebagai seorang wanita. Jenis manusia yang selalu dianggap lemah. Ngga bisa apa-apa. Yang ngga bakal tahan hidup sendirian tanpa ada nya pelukan seorang mama. Betapa aku iri dengan Mas Dimas yang di usia nya yang ke-16 udah di bolehin untuk hidup sendiri jauh dari kami. Cerita-cerita seru nya saat ia pulang liburan kuliah, saat ia naik gunung, saat ia bermain jeram, saat ia ... ahhhh ... Aku juga ingin mengalami itu semua. Bukan hanya rutinitas monoton rumah-sekolah-tempat les dan rumah lagi. Sesekali aku juga ingin merasakan adrenalin ku naik. Merasakan rasa takut, penasaran dan senang jadi satu.

"Tunggulah sampai kau lulus SMA, baru nanti kita bicarakan lagi ..."

Nggak. Aku nggak mau. Itu artinya aku harus bertahan tiga tahun lagi bersama semua kebosanan ini. Itu berarti aku juga harus bertahan selama tiga tahun lagi untuk tetap menjadi seorang pendengar bagi cerita-cerita nya Mas Dimas.

Air hangat terasa mengalir di pipi ku.

Aku menangis karena aku tahu apa pun yang akan aku katakan tidak akan bisa mengubah kenyataan yang ada di hadapan ku. Papa yang aku kenal karena ketegasan nya, nampak enggan mengesampingkan sifatnya itu. Mama sendiri seperti biasa hanya bisa memandang ku dengan segala macam perasaan yang hanya ia sendiri yang tahu.

"Maya hanya ingin belajar mandiri, Pa. Sama seperti Mas Dimas ...

Tinininininininit ... tinininininininit ...

Suaraku terputus panggilan masuk ke HP Mama.

"Ya ...? Ada apa, Mas?"

Mas Dimas? Yang nelpon Mama Mas Dimas?

"Dimas pengen ngomong, Pa ..."

Papa meraih HP lalu beranjak berdiri dan berjalan ke ruangan lain. Meninggalkan aku dan Mama berdua dalam diam di ruangan ini.

"Kau yakin? ..."

Samar aku mendengar Papa bicara lewat telepon. Tak lama kemudian Papa kembali ke ruangan dan menyerahkan HP yang ia pegang ke arah ku.

"Mas mu mau ngomong ..."

"Mas Dimas?"

"Mas mu ono piro to?"

Tanpa menjawab pertanyaan Papa aku langsung meraih HP.

"Halo, Mas ..."

"Hallo, May ... sehat?" Suara Mas Dimas terdengar kecil. Mungkin jaringan sedang kumat seperti biasanya.

"Saat ini masih. Mbuh nek sesuk ..." Suara tertawa terdengar dari ujung sana.

"Malah ngguyu ki ..." Aku pura-pura ngambek.

"Wes wes ..., Mas udah ngomong sama Papa. Kamu boleh kok ngelanjutin SMA mu di Jogja. Tapi ..."

"Iki tenanan Mas?" Aku setengah teriak tak percaya.

"Iya..., tapi ada syarat nya. Kamu harus mau tinggal satu rumah kontrakan dengan aku."

"Ngga masalah, Mas."

"Terus ..."

Aku tak lagi mendengar apa kata Mas Dimas di telepon. Aku melihat ke arah Papa dan Mama mencoba mencari penegasan. Aku melihat Papa tersenyum. Sedang Mama, walaupun ada perasaan terpaksa, juga tersenyum ke arah ku.

Aku berhambur memeluk mereka berdua.

"Makasih, Ma. Makasih, Pa ..."

Aku menangis sambil memeluk orang-orang yang sangat kucintai itu.

"Anu ... ini masih nyambung loh teleponnya, pulsa ku masih jalan ini ..."

Suara Mas Dimas terdengar dari HP yang masih ku genggam. Wes ben ...


Seru nih
0 0
0
Karena Aku Tulus Mencintai Mu
10-04-2019 21:00
Quote:Original Posted By omboth
Seno



"Udah kau beres in semuanyo? Dak ado lagi yang ketinggalan?"

"Idak, Bu."

Tangan Ibu tampak sibuk memasukan barang-barang terakhir ke dalam koper hitam tua milik Bapak. Dari arah luar, Bapak dan adik perempuan ku satu-satunya, Inggrit, tampak masuk ke dalam rumah setelah memasukan kardus-kardus ke dalam bagasi mobil.

"Tiket kek mano? Jangan pulak dah nyampe bandara kau suruh aku balik ngambik ..."

"Idak lah, Pak. Tiket tu dah aman di tas depan."

Sahut ku sembari menepuk bagian depan tas punggung. Tas yang setia menemaniku selama beberapa tahun terakhir. Dari samping Inggrit mendekat dan duduk di sebelahku. Sebelah tangan ku dipeluk nya.

"Jangan pulak lupo pesenan aku yo, Bang" Matanya mengerling manja ke arahku yang hanya membalas dengan senyuman.

"Kau ni! Abang kau ni belum lah lagi nak pegi dah macam-macam pulak mintak nyo."

Sembari menutup koper hitam tua yang akan aku bawa, Ibu pura-pura memukul kepala Inggrit.

"Dak ado aku mintak macam-macam. Aku cuman mintak kaos biaso yang ado tulisan nyo Jogja bae."

"Yaela, Ibu bae lom lagi dapat apo-apo, kau lah nak minta aneh-aneh."

"Nah ... ngapo Ibu dak minta mumpung orangnya belum pegi."

Aku tertawa mendengar percakapan mereka. Perasaan kehangatan keluarga yang bertahun-tahun aku rasakan, dalam beberapa jam kedepan mungkin akan aku rindukan.

"Dah ... sudah. Ibu samo anak samo bae. Ribut bebalak manjang. Tapi jangan lupa yo, Sen. Pesenan Bapak. Dompet kulit."

"Bapak samo bae ..."

Ibu dan Inggrit kompak tanpa di komando berteriak sambil memajukan mulut mereka.

Hari itu hari keberangkatan ku. Hari di mana aku akan memulai hidup baru di tanah Jogja. Sebuah kota yang katanya ramah orang-orangnya. Murah harga barang-barangnya. Namun panas udaranya. Aku diterima bekerja di suatu sekolah swasta yang ada di kota pelajar tersebut. Ya, sebagai seorang guru. Lebih tepatnya, Guru Bahasa Inggris. Empat tahun aku menimba ilmu di salah satu universitas di kota kelahiranku, dua tahun belajar mengajar di suatu instansi bahasa asing, dan kini aku mendapat kesempatan untuk menjadi seorang guru. Sebenar-benarnya guru. Bukan seorang instruktur, bukan pula seorang guru private. Tapi benar-benar guru. Suatu profesi yang mungkin tidak pernah aku mau memilihnya karena sadar betapa besar dosa-dosaku saat sekolah dulu pada semua guru-guru.

Mobil sudah masuk area parkir bandara. Agak susah juga mencari tempat yang enak buat parkir. Bukan karena tidak ada tempat kosong, tapi lebih karena mencari tempat parkir yang lumayan teduh itu yang rada susah. Akhirnya Bapak menyerah setelah muter-muter dua kali dan hasilnya sama. Mobil di parkir di tempat yang paling dekat dengan terminal.

"Kau ambik dulu sano troli nyo. Biak enak bawak barang-barang di bagasi ni."

Tanpa di suruh dua kali oleh Bapak, aku langsung bergegas ke tempat di mana troli-troli di parkirkan.
Setelah semua barang berada di atas troli, aku mulai mendorongnya di ikuti rombongan keluarga ku. Mungkin seperti ini rasanya kalo naik haji diantar sama keluarga.

"Inget pesen Ibu. Jangan nak macam-macam di tempat orang. Jago baek namo keluargo."

Ucapan yang sama saat di dalam mobil pun terjadi lagi.

"Terserah kalo kau nak pacaran. Tapi jangan ambik sembarangan anak orang. Pilih yang bener."

Aku mengangguk. Nda usah di jawab ntar malah tambah panjang.

"Sampe sano telepon yo, Bang"

Aku menoleh ke Inggrit. Tumben nih anak melow.

"Ngapo? Dah kangen samo Abang po?" Tangan ku memegang kepala Inggrit dan mengacak-acak rambutnya.

"Beh, ... dak lah. Man mau ngingetin jangan lupo pesenan aku be ..."

"Udah ... udah. Siapin tiket kau. Bentar lagi dah di suruh boarding itu."

Suara Bapak menghentikan tanganku yang mencoba meraih Inggrit yang lari sembunyi di balik Ibu.

"Seno pamit, Pak, Bu."

Kucium tangan kedua orang tua ku.

"Abang berangkat yo, Nggrit ..."

Tangan ku di cium oleh Inggrit.

Aku lalu melangkah ke arah petugas. Memberikan boarding pass ku lalu berjalan masuk ke arah dalam bandara.

Tanpa sadar aku berbalik. Melihat ke arah mereka.

Bapak tersenyum sambil melambaikan tangan nya.

Ibu dan Inggrit tampak menangis.


lanjut
0 0
0
Karena Aku Tulus Mencintai Mu
11-04-2019 17:56
seru nih
0 0
0
Karena Aku Tulus Mencintai Mu
13-04-2019 05:00
ikutan nitip jejak dimari gan. keknya seru nih, kisah perantauan. lanjut gan emoticon-Blue Guy Cendol (L)
0 0
0
Karena Aku Tulus Mencintai Mu
02-07-2020 21:05
sedihnya
0 0
0
Karena Aku Tulus Mencintai Mu
03-07-2020 00:37
Numpang naroh sendal dulu gan,
Belum sempat baca..
0 0
0
Karena Aku Tulus Mencintai Mu
03-07-2020 02:35
nitip sendal dulu
0 0
0
Karena Aku Tulus Mencintai Mu
03-07-2020 12:10
Semangat selalu buat lanjutin kisahnyaemoticon-thumbsup
0 0
0
Karena Aku Tulus Mencintai Mu
04-07-2020 12:59
jangan sia siakan orang yang tulus mencintaimu
0 0
0
Karena Aku Tulus Mencintai Mu
06-07-2020 20:59
Karena Aku Tulus Mencintai Mu

Very Nice stories gan/ sis..


Janga lupa visite trit ane July 2020:
emoticon-Keep Posting Gan



Janga lupa visite trit ane June 2020:
emoticon-Keep Posting Gan


0 0
0
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
mau-gak-jadi-istriku
Stories from the Heart
olivia
Stories from the Heart
kamu-hujan-yang-kunantikan
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
tipe---tipe-kaskuser
Heart to Heart
Stories from the Heart
tentang-waktu
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia