- Beranda
- The Lounge
Beda Pilihan, Tak Perlu Bermusuhan
...
TS
froye
Beda Pilihan, Tak Perlu Bermusuhan


Quote:
Indonesia kembali akan megadakan pesta demokrasi besar pada April 2019. Pesta besar untuk menentukan siapa yang akan menjadi orang nomor satu untuk mempin negara tercinta, Indonesia.
Kedua sisi saling menjual ide untuk Indonesia yang lebih baik. Saling beragumen untuk memikat hati rakyat sang pemilih.
Argumen, ide, dan dukungan kian ramai menghiasi keseharian, kian gencar untuk menarik dukungan. Kubu 1 dan 2 tak ingin kalah karena mereka yakin merekalah yang terbaik.
Ya, hanya ada dua kubu saat ini 1 atau 2. Untuk sementara ini Indonesia terasa terbagi dua kubu. Hal yang sama seperti lima tahun lalu.
Jujur saja, tahun ini berbeda dengan lima tahun lalu. Suhu terasa lebih panas walaupun dengan dua sosok yang sama dalam perburuan untuk menjadi orang nomor satu.
Pendukung nomor satu mengkritik pendukung nomor dua, pendukung nomor dua mengkritik pendukung nomor satu. Wajar.
Tapi hal ini kian tidak wajar akhir-akhir ini. Salahsatunya ketika membaca arikel tentang seorang supir Taxi online yang menurunkan penumpangnya karena berbeda pilihan calon presiden.
Sedih rasaya membaca kabar seperti ini. Ketika rasa kemanusiaan tersimpan di bawah ego pribadi.
Lahir di tempat yang sama, tumbuh di tempat yang sama, kerja di tempat yang sama, tidak lantas harus menjadikan kita selalu sama dalam segala hal.
Berbeda itu wajar dan normal. Kita memang pasti berbeda satu dan yang lainnya tapi kita sama dalam kemanusian.
Kenapa berbeda pilihan menjadikan permusuhan di kehidupan,, Ada yang salah dengan cara pikir tersebut. Berbeda tidak harus membenci,, ketika berbeda kita harus menghargai dan saling bertoleransi.
Kita tak bisa menjadikan semua sesuai keinginan kita, ada jutaan pola pikir yang akan memiliki idenya masing-masing.
Menurunkan ego sangat penting dalam menyikapi perbedaan. Tidak seharusnya menjadi saling acuh atau bahkan memutuskan hubungan pertemanan karena berbeda pilihan.
Terkadang kita terlalu keras kepala terhadap pilihan kita. Bahkan hal baik di sisi yang lain menjadi buruk di mata kita. Hal yang buruk di sisi kita menjadi baik di mata kita.
Pendukung 1 harus melihat kelebihan sosok nomor 2 dan pendukung 2 harus melihat kelebihan sosok nomor 1.
Bukan tutup mata dan telinga seolah sisi yang lain adalah sosok yang tak pernah benar walau hanya sekali saja. Dan merasa yang didukung adalah sempurna layaknya sang Dewa.
Percayalah bahwa kedua sosok ini memiliki kelebihan yang bisa dipuji dan kekurangan yang bisa dikritik. Tapi bukan untuk dijadikan alasan dalam permusuhan.
Bertoleransi menjadi topik penting akhir-akhir ini. Perbedaan pilihan calon pemimpin, seolah menjadi perbedaan dalam memilih jalan hidup.
Maka dari itu diperlukan kerendahan hati untuk mau saling bertoleransi dalam perbedaan untuk menyatukan kita yang satu bangsa ini.
Menghargai dan dihargai adalah hal yang harus ditekankan dalam perbedaan. Kita punya hak untuk memilih tapi tidak punya hak untuk memaksakan pilihan.
Tidak perlu untuk mengolok-ngolok satu sama lain, bila ingin mendukung, tunjukkan hal terbaik dari sosok yang kita dukung. Karena olokan, ejekan, dan makian hanya akan membawa kita larut dalam perang argumen dan meredupkan rasa kemanusian.
Saling bertoleransi dalam kemanusian adalah sangat indah dalam dunia yang penuh perbedaan ini. Sikap saling menolong walaupun berebeda akan terasa lebih luar biasa dibanding hanya menolong mereka yang satu pilihan dengan kita.
Konyol bila hal itu terjadi lagi, karena kita tidak hidup untuk menjadikan dia Presiden tapi kita hidup untuk menjadikan kita berguna bagi sesama.
Kedua sisi saling menjual ide untuk Indonesia yang lebih baik. Saling beragumen untuk memikat hati rakyat sang pemilih.
Argumen, ide, dan dukungan kian ramai menghiasi keseharian, kian gencar untuk menarik dukungan. Kubu 1 dan 2 tak ingin kalah karena mereka yakin merekalah yang terbaik.
Ya, hanya ada dua kubu saat ini 1 atau 2. Untuk sementara ini Indonesia terasa terbagi dua kubu. Hal yang sama seperti lima tahun lalu.
Jujur saja, tahun ini berbeda dengan lima tahun lalu. Suhu terasa lebih panas walaupun dengan dua sosok yang sama dalam perburuan untuk menjadi orang nomor satu.
Pendukung nomor satu mengkritik pendukung nomor dua, pendukung nomor dua mengkritik pendukung nomor satu. Wajar.
Tapi hal ini kian tidak wajar akhir-akhir ini. Salahsatunya ketika membaca arikel tentang seorang supir Taxi online yang menurunkan penumpangnya karena berbeda pilihan calon presiden.
Sedih rasaya membaca kabar seperti ini. Ketika rasa kemanusiaan tersimpan di bawah ego pribadi.
Lahir di tempat yang sama, tumbuh di tempat yang sama, kerja di tempat yang sama, tidak lantas harus menjadikan kita selalu sama dalam segala hal.
Berbeda itu wajar dan normal. Kita memang pasti berbeda satu dan yang lainnya tapi kita sama dalam kemanusian.
Kenapa berbeda pilihan menjadikan permusuhan di kehidupan,, Ada yang salah dengan cara pikir tersebut. Berbeda tidak harus membenci,, ketika berbeda kita harus menghargai dan saling bertoleransi.
Kita tak bisa menjadikan semua sesuai keinginan kita, ada jutaan pola pikir yang akan memiliki idenya masing-masing.
Menurunkan ego sangat penting dalam menyikapi perbedaan. Tidak seharusnya menjadi saling acuh atau bahkan memutuskan hubungan pertemanan karena berbeda pilihan.
Terkadang kita terlalu keras kepala terhadap pilihan kita. Bahkan hal baik di sisi yang lain menjadi buruk di mata kita. Hal yang buruk di sisi kita menjadi baik di mata kita.
Pendukung 1 harus melihat kelebihan sosok nomor 2 dan pendukung 2 harus melihat kelebihan sosok nomor 1.
Bukan tutup mata dan telinga seolah sisi yang lain adalah sosok yang tak pernah benar walau hanya sekali saja. Dan merasa yang didukung adalah sempurna layaknya sang Dewa.
Percayalah bahwa kedua sosok ini memiliki kelebihan yang bisa dipuji dan kekurangan yang bisa dikritik. Tapi bukan untuk dijadikan alasan dalam permusuhan.
Bertoleransi menjadi topik penting akhir-akhir ini. Perbedaan pilihan calon pemimpin, seolah menjadi perbedaan dalam memilih jalan hidup.
Maka dari itu diperlukan kerendahan hati untuk mau saling bertoleransi dalam perbedaan untuk menyatukan kita yang satu bangsa ini.
Menghargai dan dihargai adalah hal yang harus ditekankan dalam perbedaan. Kita punya hak untuk memilih tapi tidak punya hak untuk memaksakan pilihan.
Tidak perlu untuk mengolok-ngolok satu sama lain, bila ingin mendukung, tunjukkan hal terbaik dari sosok yang kita dukung. Karena olokan, ejekan, dan makian hanya akan membawa kita larut dalam perang argumen dan meredupkan rasa kemanusian.
Saling bertoleransi dalam kemanusian adalah sangat indah dalam dunia yang penuh perbedaan ini. Sikap saling menolong walaupun berebeda akan terasa lebih luar biasa dibanding hanya menolong mereka yang satu pilihan dengan kita.
Konyol bila hal itu terjadi lagi, karena kita tidak hidup untuk menjadikan dia Presiden tapi kita hidup untuk menjadikan kita berguna bagi sesama.
Well, itu pendapatku..
Berbeda boleh, karena perbedaan itu indah ketika kita saling bertoleransi bukan membenci.

0
1.8K
Kutip
0
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
1.3MThread•106.7KAnggota
Komentar yang asik ya