- Beranda
- Berita dan Politik
Memaknai Perjalanan Hijrah
...
TS
kroco.ri
Memaknai Perjalanan Hijrah
Oleh: Anisa Tri Kusuma |
Belakangan sebutan hijrah kian ramai menjadi tren di kalangan milenial. Kini, gerakan hijrah marak kita temui di akun media sosial
Indonesiainside.id, Jakarta -- Hijrah, yang secara bahasa berarti berpindah, digunakan sebagai sebutan untuk menamai sebuah gerakan yang mengajak umat Islam, khususnya anak muda, untuk “berpindah” menjadi pribadi yang lebih baik dengan cara meningkatkan ketaatan dalam menjalankan perintah agama. Sebuah gerakan positif yang patut mendapatkan apresiasi, terlebih ketika gerakan ini lahir di tengah upaya pihak tertentu menjuhkan generasi muda dari ajaran agama.
Meningkatnya minat kalangan muda untuk mengetahui tentang hijrah, tentu harus dikawal dengan petunjuk ilmu yang benar. Sehingga hakikat hijrah ini tidak dipahami dengan salah. Sebab, ada semacam fenomena dimana aktivitas hijrah dipahami hanya menjadi tren sesaat saja. Maka tidak heran bila kemudian kita pernah mendengar ada sosok yang sudah menyatakan dirinya berhijrah, tapi yang berubah hanya penampilan luarnya saja. Sementara akhlak dan perilakunya masih tetap saja jauh dari nilai-nilai Islam. Bahkan, ada juga yang mengubah perilakunya secara total, namun tidak didasari dengan niat dan ilmu yang mapan. Semua dilakukan karena tren yang sedang berkembang saja. Akhirnya dengan berlalunya waktu, semangat untuk bertahan dalam kebaikan pun runtuh. Pelan-pelan perilakunya berubah kembali kepada kebiasaan buruknya yang dulu. Karena itu, siapapun hendak memutuskan untuk berhijrah atau yang sudah berada di atas jalan hijrah, maka tidak hanya dituntut memperbaiki niat saja, agar bisa istiqamah di atas jalan tersebut, ia juga mesti memahami apa itu hakikat hijrah dan bagaimana indikator keberhasilannya dalam berhijrah.
Indikator Keberhasilan Hijrah
Bila kita membaca kembali hikmah dibalik perjalanan Rasulullah SAW dan para sahabatnya, maka kita akan mendapati beragam hikmah dalam aktivitas hijrah ini. Salah satunya adalah bagaimana keberhasilan hijrah yang mereka tempuh. Setidaknya ada empat indikator utama keberhasilan hijrah yang patut kita pahami bersama, yaitu:
1. Ada Ketenangan Jiwa saat Mendekatkan Diri kepada Allah
Hadirnya ketenangan jiwa menjadi anugerah pertama yang diperoleh di jalan hijrah. Artinya ketika sudah berada di jalan hijrah namun ketenangan dalam menjalankan ketaatan belum muncul maka ada yang perlu dipertanyakan dengan kesungguhan seseorang dalam berhijrah. Ketaatan ini menjadi indikator utama keberhasilan hijrah seseorang. Sebab, dalam Al-Qur’an telah menjajikan dengan firman-Nya:
وَمَنْ يُهاجِرْ فِي سَبِيلِ اللهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُراغَماً كَثِيراً وَسَعَةً وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهاجِراً إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ ثُم يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللهِ وَكانَ اللهُ غَفُوراً رَحِيماً
“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (QS. An-Nisa: 100)
Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menyebutkan bahwa banyak para ulama—diantaranya Qotadah—yang menjelaskan bahwa maksud ayat, “niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak,” adalah menyelamatkannya dari kesesatan menuju jalan hidayah, dan menyelamatkannya dari kemiskinan kepada kecukupan. (Tasir Ibnu Katsir, 2/393)
Ketika menafsirkan ayat di atas, Muhammad Rasyid Ridha dalam tafsir al-Manar menjelaskan bahwa ayat tersebut merupakan janji Allah bagi orang-orang yang berhijrah dengan dimudahkan jalan hidupnya dan ditanamkan ketenangan dalam jiwanya. (Tafsir Al-Manar, 5/293)
Maknanya, janji berupa dilimpahkan rezeki yang banyak dalam ayat tersebut tidak melulu dimaknai sebagai rizki yang bersifat materi, akan tetapi termasuk juga di dalamnya rezeki yang bersifat maknawi dan rohani. Seseorang yang dulunya, terasa sempit hidupnya karena tidak bisa menjalankan ibadah dan akidahnya, akan tetapi setelah melakukan hijrah ia mendapatkan ketenangan hidup dan bisa mempraktikan dan menjalankan keyakinan agamanya.
Perhatikan kisah Nabi SAW dan para sahabatnya ketika berhijrah ke kota Madinah. Bila dilihat dari segi materi, mereka sama sekali tidak dikaruniakan kelapangan rezki berupa rumah yang mewah, harta yang melimpah dan sebagainya. Tapi justru yang mereka rasakan adalah adanya keluasan rezki berupa rasa ketenangan di dalam jiwa saat beribadah kepada Allah. Mereka lebih leluasa dalam menjalankan perintah Allah.
Demikian juga bila kita melihat kisah para muhajirin sebelumnya, yaitu tepatnya dalam kisah Ashabul Kahfi. Ketika mereka memutuskan untuk berhijrah dan meninggalkan kenyamanan hidup di tengah-tengah masyarakat jahiliyah, justru yang pertama kali Allah ta’ala perintahkan adalah masuk ke dalam gua dan meninggalkan seluruh harta kekayaan duniawi mereka.
“Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.” (QS. Al-Kahfi: 16)
Satu hal yang cukup menarik adalah ketika mereka berani meninggalkan itu semua dan menuruti perintah untuk masuk dalam gua, justru di situ Allah Ta’ala gantikan semua yang mereka tinggalkan dengan limpahan rahmat-Nya berupa ketenangan hidup walaupun di tempat yang cukup sempit.
2. Meningkatnya Kualitas Amal
Indikator keberhasilan hijrah berikutnya adalah adanya peningkatan amal ibadah dalam hidupnya. Perjalanan hidup para sahabat menjadi contoh nyata dalam hal ini. Ketika para sahabat berada di kota Mekah, mereka tidak bisa bebas megerjakan ibadah. Tekanan dan ancaman yang dialami cukup luar biasa. Tidak hanya psikis, namun ancaman terhadap fisik biasa mereka rasakan. Sehingga aktifitas ibadah pun terbatas pada kemampuan mereka. Maka ketika mereka berhijrah dan sampai di kota Madinah, hal yang pertama sekali menjadi perhatian Rasulullah SAW adalah membangun masjid sebagai pusat ibadah kaum muslimin. Dari situ segala amal ibadah bebas mereka kerjakan. Peningkatan ibadah terjadi luar biasa dalam hidup mereka. Karena itu, salah satu tanda keberhasilan hijrah bukan hanya berupah tampilannya saja, tapi juga berubah dalam tingkatan amal ibadahnya. Selalu bertaqarrub mendekatkan diri kepada Allah.
Dalam Risalah Tabukiyah, Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah menyatakan bahwa hijrah yang hukumnya wajib ‘ain adalah menuju kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak hanya berupa jasad, namun juga diikuti dengan hati. Allah berfirman, “Maka segeralah (berlari) kembali menaati Allah.” (QS. Adz-Dzariyaat: 50)
3. Berazam Meninggalkan Aktivitas Buruk
Sebagaimana makna hijrah itu sendiri, berpindah dari kekufuran menuju keimanan, dari maksiat menuju ketaatan, dari kebiasaan buruk berganti menjadi kebiasaan yang baik. Karena itu, salah satu indikasi berhasilnya hijrah adalah ketika ia siap meninggalkan segala aktivitas yang menungdang kemurkaan Allah. Sehingga dalam salah satu riwayat, Rasullullah SAW menjelaskan:
وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ
“Dan Al-Muhaajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan larangan Allah,” (HR. Bukhari-Muslim)
Maka hijrah tidak senantiasa dimaknai dengan perpindahan tempat atau berubahnya penampilan. Namun juga perpindahan secara batin. Berpindah untuk selalu mematuhi perintah Allah, menjauhi larangan-Nya dan berusaha menjadi yang lebih baik.
4. Lahirnya Ketundukan Hati Terhadap Syariat Allah
Hijrah merupakan amalan yang cukup berat. Orang yang menempuhnya akan dianggap asing di tengah-tengah keramaian manusia. Ia meninggalkan seluruh pendapat manusia dan menjadikan syariat Allah sebagai hakim di dalam segala perkara yang diperselisihkan. Sebab, demikianlah sejatinya orang mukmin. Siap tunduk dengan segala ketetapan syariat. Allah Ta’ala berfirman:
فَلَا وَرَبكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتىٰ يُحَكمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُم لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِما قَضَيْتَ وَيُسَلمُوا تَسْلِيمًا
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa: 65)
Dengan demikian seorang muslim yang hendak berhijrah kepada Allah, maka ia tidak pernah muncul keraguan untuk mengembalikan segala persoalan hidupnya sesuai dengan ketetapan syariat Allah. Dia rela meninggalkan pendapat kebanyakan manusia bilamana menyelisihi ketetapan Allah dan Rasul-Nya. Meskipun pada akhirnya ia dikucilkan oleh manusia. Dan terhadap orang-orang seperti, Allah Ta’ala janjikan dalam surah at-Taubah: 20 berupa pahala dan derajat yang tinggi di sisi-Nya:
“ Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih Tinggi derajatnya di sisi Allah; dan Itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS At-Taubah: 20)
Tren Hijrah Di Kalangan Millenial
Apabila dicermati dengan seksama, interpretasi kata ‘hijrah’ yang baru ini sebenarnya masih memiliki kaitan dengan apa yang didefinisikan oleh KBBI yakni ‘berpindah dari suatu tempat ke tempat lain yang lebih baik’. ‘Hijrah’ dalam perspektif yang baru dimaknai lebih personal, yakni perpindahan dari diri dengan segala masa lalu buruknya ke diri yang baru dan fitrah. Penggunaan kata ‘hijrah’ semakin marak di tahun 2016-an yang sering disandingkan dengan selebgram-selebgram saleh bersuara merdu. Kata ini seketika menjadi primadona, dipakai di mana-mana. Akun-akun Instagram dengan kata ‘hijrah’ bermunculan, hasthtag-nya pun demikian. ‘Hijrah’ ala generasi milenial tak mengharuskan Anda untuk meninggalkan suatu tempat. Alih-alih pindah, yang harus Anda lakukan adalah mengubah sikap dan prilaku yang sesuai dengan tuntunan Islam. Generasi milineal yang berhijrah identik dengan perubahan yang signifikan terhadap cara berpakaian, yang dulunya memakai jeans dan pakaian ketat, kini berubah menjadi lebih syar’i, dengan kerudung panjang dan lebar menutupi dada dan baju yang longgar, bahkan bercadar. Laki-laki cenderung memanjangkan jenggot dan memendekkan celananya di atas mata kaki. Konten-konten yang mereka bagi di media sosial pun cenderung sama, yakni ceramah singkat ustaz-ustaz yang sedang terkenal di media sosial seperti Ustaz Adi Hidayat, Ustaz Khalid Basalamah, Ustaz Hanan Attaqi dan Ustaz Abdus Somad. Konten lain berupa kata-kata motivasi untuk memperbaiki diri agar jodohnya dipercepat, motivasi untuk menjauhkan diri dari pacaran, termasuk konten-konten yang menyerukan untuk melakukan nikah muda.
Indikasi yang paling mudah dilihat, khususnya bagi para perempuan yang sedang memulai ‘hijrah’nya adalah terhapusnya foto-foto selfie yang menampakkan wajah mereka. Jikalau ingin mengunggah foto selfie, mereka akan menutupi wajah mereka dengan tangan atau meletakkan emoticon sedemikian rupa sehingga wajahnya tidak terekspos dengan sempurna. Hal ini dilakukan karena mereka meyakini pandangan bahwa wajah adalah aurat yang harus ditutupi, bukan diumbar dan menjadi konsumsi warganet.
Motivasi Berhijrah
Ada beragam motivasi berhijrah, umumnya dikarenakan kegagalan dalam hubungan romansa dan mendekatkan diri kepada Allah, agar segera digantikan dengan jodoh baru yang lebih baik. Ada pula yang memandang hijrah sebagai tren, sehingga untuk memperkukuh eksistensinya sebagai generasi kekinian yang islami, mereka juga ikut berhijrah. Namun, ada juga yang memang sungguh-sungguh dari awal ingin memperbaiki diri dikarenakan kesadaran dari dalam diri, bukan dipengaruhi oleh kegagalan percintaan di masa lalu atau ikut tren belaka. Ketika memutuskan berhijrah, mereka perlahan menarik diri dari pergaulan dan gaya hidup yang tidak bernapaskan Islam. Hal ini dikarenakan esensi hijrah yang memang erat kaitannya dengan nilai-nilai religius.
Selain cara berpakaian, mereka pun menghindari penggunaan bahasa Inggris dalam interaksi di media sosial. Istilah seperti goodluck, Get well soon, Thank you dsb dicarikan padanannya ke dalam bahasa Arab karena identitasnya sebagai “bahasa umat Islam”. Idola mereka pun berpindah haluan kepada para hafiz dan tokoh-tokoh Islam. Bagi mereka yang dahulunya sangat terobsesi dengan pesona artis, seorang k-popers, dan gemar belanja online, sekonyong-konyong akan timbul kegalauan seperti pembuka tulisan ini saat ingin berhijrah. Meskipun sebenarnya sah-sah saja menyukai artis korea dan belanja online, tetapi mereka yang berhijrah merasa bahwa gaya hidup semacam itu tidak relevan dengan apa yang sedang mereka jalani, sebab sekali lagi, hijrah dan gaya hidup islami adalah kesatuan yang utuh.
Menyadari atensi generasi milenial yang baru berhijrah, media sosial akhirnya memanfaatkan kesempatan ini dengan menjadikan akun-akun yang beratmosfer hijrah, tidak hanya untuk memberikan tuntunan dan motivasi berhijrah yang benar, tetapi juga sebagai sarana untuk berjualan. Tak jarang, akun-akun hijrah tersebut mengunggah gambar produk seperti gamis syar’i, satu set kerudung dan cadar, kaos, serta buku.Untuk meningkatkan daya tarik, biasanya produk tersebut dipromosikan (endorse) oleh selebgram yang juga melakukan hijrah yang sama. Mereka akhirnya memiliki ruang untuk menyalurkan hasrat belanja. Semakin kuatlah gaya busana khas para penghijrah yang modis nan syar’i. Begitulah, perkimpoian antara agama dan komodifikasi tak bisa dinafikan sebagai alasan mengapa hijrah ala generasi milenial sangat digandrungi.
Akhirnya, hijrah generasi milenial tidak hanya memindahkan gaya hidup yang dulu ke gaya hidup yang sekarang (yang diyakini jauh lebih baik dan islami), tetapi juga bagian dari fenomena sosial untuk memperkuat identitas sebagai generasi hitz zaman now versi syariah.
Hijrah menjadi tren masa kini, yang menyeimbangkan trend versi konvensional.
Selebriti Yang Memutuskan Untuk Berhijrah
Hidayah Allah bisa datang kepada siapa saja, lewat cara yang tidak terduga. Namun, tidak semua orang mampu mengambil hidayah itu dengan segera bertobat dan menjadi diri yang lebih baik di hadapan Allah. Ada yang mengulur-ulur, ada pula yang disegerakan berhijrah. Meski penuh liku, kedua selebriti ini sukses memberikan contoh hijrah inspiratif karena ditengah kesibukan mereka sebagai seorang selebriti, mereka masih dapat beristikamah.
Inneke Koesherawati
Inneke terketuk hatinya saat mendengarkan ceramah seorang ustaz yang menyebutkan bahwa Allah akan mengampuni dosa orang yang bertobat, pembunuh sekalipun. Wanita yang sudah memiliki karier cemerlang di dunia keartisan ini pun langsung memikirkan dosa-dosanya sebagai pemain bintang film panas. Akhirnya, ia memilih berhijrah. Jalan yang ia pilih tentunya tak mulus dan penuh perjuangan, ketika pertama kali memakai hijab, Inneke masih terikat kontrak bermain sinetron. Sang produser tidak mengijinkan jika ia harus syuting dengan kerudung, akhirnya Inneke dibolehkan berkerudung hanya setelah syuting selesai. Syuting tanpa hijab pun Inneke jalani, hingga suatu saat dia merasa ada yang salah dan tidak nyaman karena seperti membohongi diri sendiri. Keputusannya pun bulat; jika tidak diizinkan syuting memakai kerudung, Inneke yakin lebih baik mundur. Sejak saat itu, Inneke tidak hanya berkomitmen dengan hijab yang dikenakannya, tetapi juga dengan pekerjaannya di dunia hiburan. Inneke pun mulai memilah mana yang masih bisa dia terima dan yang tidak sesuai dengan jalan hijrahnya. Kini, berhijab menjadi bagian dari syiarnya di jalan Allah, dengan cara menginspirasi muslimah lain untuk ikut berhijab dan menaati seruan Allah.
Dewi Sandra
Cerita hijrah inspiratif berikutnya datang dari Dewi Sandra. Dewi butuh waktu kurang lebih setahun sebelum akhirnya mantap berhijrah. Ia mengaku sempat maju mundur dengan keputusannya untuk berhijab. Sampai suatu hari di puncak kegalauannya, Dewi memohon petunjuk kepada Allah. Dia pun membuka Al-quran dan membaca ayat secara acak. Surah Al-Ahzab ayat 59 tentang perintah Allah kepada setiap muslimah untuk menutup aurat adalah ayat yang dia baca dan menuntunnya untuk berhijrah di tahun 2015. Kini, Dewi masih aktif bernyanyi dan mempunyai segudang kegiatan lain di dunia hiburan yang tentu sejalan dengan hijrahnya. Tidak hanya itu, Dewi pun sibuk memperdalam keislamannya juga aktif di berbagai kegiatan amal. Salah satunya menggalang dana untuk pembuatan mesjid di Seville, Spanyol. Sebagai public figure, style hijab yang dikenakan Dewi Sandra juga tak pernah mengecewakan. Dewi kerap mengenakan hijab segi empat basic Turki, pashmina, hingga hijab instan layer.
Perjalanan hijrah seorang muslim tentu berbeda-beda dan selalu diwarnai godaan. Dan bagi anda yang saat ini sedang beristikomah di jalan Allah, semoga artikel ini menjadi penyemangat dan menginspirasi anda. Aamiin. (*\dry)
SUMBER

Belakangan sebutan hijrah kian ramai menjadi tren di kalangan milenial. Kini, gerakan hijrah marak kita temui di akun media sosial
Indonesiainside.id, Jakarta -- Hijrah, yang secara bahasa berarti berpindah, digunakan sebagai sebutan untuk menamai sebuah gerakan yang mengajak umat Islam, khususnya anak muda, untuk “berpindah” menjadi pribadi yang lebih baik dengan cara meningkatkan ketaatan dalam menjalankan perintah agama. Sebuah gerakan positif yang patut mendapatkan apresiasi, terlebih ketika gerakan ini lahir di tengah upaya pihak tertentu menjuhkan generasi muda dari ajaran agama.
Meningkatnya minat kalangan muda untuk mengetahui tentang hijrah, tentu harus dikawal dengan petunjuk ilmu yang benar. Sehingga hakikat hijrah ini tidak dipahami dengan salah. Sebab, ada semacam fenomena dimana aktivitas hijrah dipahami hanya menjadi tren sesaat saja. Maka tidak heran bila kemudian kita pernah mendengar ada sosok yang sudah menyatakan dirinya berhijrah, tapi yang berubah hanya penampilan luarnya saja. Sementara akhlak dan perilakunya masih tetap saja jauh dari nilai-nilai Islam. Bahkan, ada juga yang mengubah perilakunya secara total, namun tidak didasari dengan niat dan ilmu yang mapan. Semua dilakukan karena tren yang sedang berkembang saja. Akhirnya dengan berlalunya waktu, semangat untuk bertahan dalam kebaikan pun runtuh. Pelan-pelan perilakunya berubah kembali kepada kebiasaan buruknya yang dulu. Karena itu, siapapun hendak memutuskan untuk berhijrah atau yang sudah berada di atas jalan hijrah, maka tidak hanya dituntut memperbaiki niat saja, agar bisa istiqamah di atas jalan tersebut, ia juga mesti memahami apa itu hakikat hijrah dan bagaimana indikator keberhasilannya dalam berhijrah.
Indikator Keberhasilan Hijrah
Bila kita membaca kembali hikmah dibalik perjalanan Rasulullah SAW dan para sahabatnya, maka kita akan mendapati beragam hikmah dalam aktivitas hijrah ini. Salah satunya adalah bagaimana keberhasilan hijrah yang mereka tempuh. Setidaknya ada empat indikator utama keberhasilan hijrah yang patut kita pahami bersama, yaitu:
1. Ada Ketenangan Jiwa saat Mendekatkan Diri kepada Allah
Hadirnya ketenangan jiwa menjadi anugerah pertama yang diperoleh di jalan hijrah. Artinya ketika sudah berada di jalan hijrah namun ketenangan dalam menjalankan ketaatan belum muncul maka ada yang perlu dipertanyakan dengan kesungguhan seseorang dalam berhijrah. Ketaatan ini menjadi indikator utama keberhasilan hijrah seseorang. Sebab, dalam Al-Qur’an telah menjajikan dengan firman-Nya:
وَمَنْ يُهاجِرْ فِي سَبِيلِ اللهِ يَجِدْ فِي الْأَرْضِ مُراغَماً كَثِيراً وَسَعَةً وَمَنْ يَخْرُجْ مِنْ بَيْتِهِ مُهاجِراً إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ ثُم يُدْرِكْهُ الْمَوْتُ فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلَى اللهِ وَكانَ اللهُ غَفُوراً رَحِيماً
“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (QS. An-Nisa: 100)
Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menyebutkan bahwa banyak para ulama—diantaranya Qotadah—yang menjelaskan bahwa maksud ayat, “niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak,” adalah menyelamatkannya dari kesesatan menuju jalan hidayah, dan menyelamatkannya dari kemiskinan kepada kecukupan. (Tasir Ibnu Katsir, 2/393)
Ketika menafsirkan ayat di atas, Muhammad Rasyid Ridha dalam tafsir al-Manar menjelaskan bahwa ayat tersebut merupakan janji Allah bagi orang-orang yang berhijrah dengan dimudahkan jalan hidupnya dan ditanamkan ketenangan dalam jiwanya. (Tafsir Al-Manar, 5/293)
Maknanya, janji berupa dilimpahkan rezeki yang banyak dalam ayat tersebut tidak melulu dimaknai sebagai rizki yang bersifat materi, akan tetapi termasuk juga di dalamnya rezeki yang bersifat maknawi dan rohani. Seseorang yang dulunya, terasa sempit hidupnya karena tidak bisa menjalankan ibadah dan akidahnya, akan tetapi setelah melakukan hijrah ia mendapatkan ketenangan hidup dan bisa mempraktikan dan menjalankan keyakinan agamanya.
Perhatikan kisah Nabi SAW dan para sahabatnya ketika berhijrah ke kota Madinah. Bila dilihat dari segi materi, mereka sama sekali tidak dikaruniakan kelapangan rezki berupa rumah yang mewah, harta yang melimpah dan sebagainya. Tapi justru yang mereka rasakan adalah adanya keluasan rezki berupa rasa ketenangan di dalam jiwa saat beribadah kepada Allah. Mereka lebih leluasa dalam menjalankan perintah Allah.
Demikian juga bila kita melihat kisah para muhajirin sebelumnya, yaitu tepatnya dalam kisah Ashabul Kahfi. Ketika mereka memutuskan untuk berhijrah dan meninggalkan kenyamanan hidup di tengah-tengah masyarakat jahiliyah, justru yang pertama kali Allah ta’ala perintahkan adalah masuk ke dalam gua dan meninggalkan seluruh harta kekayaan duniawi mereka.
“Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu.” (QS. Al-Kahfi: 16)
Satu hal yang cukup menarik adalah ketika mereka berani meninggalkan itu semua dan menuruti perintah untuk masuk dalam gua, justru di situ Allah Ta’ala gantikan semua yang mereka tinggalkan dengan limpahan rahmat-Nya berupa ketenangan hidup walaupun di tempat yang cukup sempit.
2. Meningkatnya Kualitas Amal
Indikator keberhasilan hijrah berikutnya adalah adanya peningkatan amal ibadah dalam hidupnya. Perjalanan hidup para sahabat menjadi contoh nyata dalam hal ini. Ketika para sahabat berada di kota Mekah, mereka tidak bisa bebas megerjakan ibadah. Tekanan dan ancaman yang dialami cukup luar biasa. Tidak hanya psikis, namun ancaman terhadap fisik biasa mereka rasakan. Sehingga aktifitas ibadah pun terbatas pada kemampuan mereka. Maka ketika mereka berhijrah dan sampai di kota Madinah, hal yang pertama sekali menjadi perhatian Rasulullah SAW adalah membangun masjid sebagai pusat ibadah kaum muslimin. Dari situ segala amal ibadah bebas mereka kerjakan. Peningkatan ibadah terjadi luar biasa dalam hidup mereka. Karena itu, salah satu tanda keberhasilan hijrah bukan hanya berupah tampilannya saja, tapi juga berubah dalam tingkatan amal ibadahnya. Selalu bertaqarrub mendekatkan diri kepada Allah.
Dalam Risalah Tabukiyah, Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah menyatakan bahwa hijrah yang hukumnya wajib ‘ain adalah menuju kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak hanya berupa jasad, namun juga diikuti dengan hati. Allah berfirman, “Maka segeralah (berlari) kembali menaati Allah.” (QS. Adz-Dzariyaat: 50)
3. Berazam Meninggalkan Aktivitas Buruk
Sebagaimana makna hijrah itu sendiri, berpindah dari kekufuran menuju keimanan, dari maksiat menuju ketaatan, dari kebiasaan buruk berganti menjadi kebiasaan yang baik. Karena itu, salah satu indikasi berhasilnya hijrah adalah ketika ia siap meninggalkan segala aktivitas yang menungdang kemurkaan Allah. Sehingga dalam salah satu riwayat, Rasullullah SAW menjelaskan:
وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ
“Dan Al-Muhaajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan larangan Allah,” (HR. Bukhari-Muslim)
Maka hijrah tidak senantiasa dimaknai dengan perpindahan tempat atau berubahnya penampilan. Namun juga perpindahan secara batin. Berpindah untuk selalu mematuhi perintah Allah, menjauhi larangan-Nya dan berusaha menjadi yang lebih baik.
4. Lahirnya Ketundukan Hati Terhadap Syariat Allah
Hijrah merupakan amalan yang cukup berat. Orang yang menempuhnya akan dianggap asing di tengah-tengah keramaian manusia. Ia meninggalkan seluruh pendapat manusia dan menjadikan syariat Allah sebagai hakim di dalam segala perkara yang diperselisihkan. Sebab, demikianlah sejatinya orang mukmin. Siap tunduk dengan segala ketetapan syariat. Allah Ta’ala berfirman:
فَلَا وَرَبكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتىٰ يُحَكمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُم لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِما قَضَيْتَ وَيُسَلمُوا تَسْلِيمًا
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa: 65)
Dengan demikian seorang muslim yang hendak berhijrah kepada Allah, maka ia tidak pernah muncul keraguan untuk mengembalikan segala persoalan hidupnya sesuai dengan ketetapan syariat Allah. Dia rela meninggalkan pendapat kebanyakan manusia bilamana menyelisihi ketetapan Allah dan Rasul-Nya. Meskipun pada akhirnya ia dikucilkan oleh manusia. Dan terhadap orang-orang seperti, Allah Ta’ala janjikan dalam surah at-Taubah: 20 berupa pahala dan derajat yang tinggi di sisi-Nya:
“ Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih Tinggi derajatnya di sisi Allah; dan Itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS At-Taubah: 20)
Tren Hijrah Di Kalangan Millenial
Apabila dicermati dengan seksama, interpretasi kata ‘hijrah’ yang baru ini sebenarnya masih memiliki kaitan dengan apa yang didefinisikan oleh KBBI yakni ‘berpindah dari suatu tempat ke tempat lain yang lebih baik’. ‘Hijrah’ dalam perspektif yang baru dimaknai lebih personal, yakni perpindahan dari diri dengan segala masa lalu buruknya ke diri yang baru dan fitrah. Penggunaan kata ‘hijrah’ semakin marak di tahun 2016-an yang sering disandingkan dengan selebgram-selebgram saleh bersuara merdu. Kata ini seketika menjadi primadona, dipakai di mana-mana. Akun-akun Instagram dengan kata ‘hijrah’ bermunculan, hasthtag-nya pun demikian. ‘Hijrah’ ala generasi milenial tak mengharuskan Anda untuk meninggalkan suatu tempat. Alih-alih pindah, yang harus Anda lakukan adalah mengubah sikap dan prilaku yang sesuai dengan tuntunan Islam. Generasi milineal yang berhijrah identik dengan perubahan yang signifikan terhadap cara berpakaian, yang dulunya memakai jeans dan pakaian ketat, kini berubah menjadi lebih syar’i, dengan kerudung panjang dan lebar menutupi dada dan baju yang longgar, bahkan bercadar. Laki-laki cenderung memanjangkan jenggot dan memendekkan celananya di atas mata kaki. Konten-konten yang mereka bagi di media sosial pun cenderung sama, yakni ceramah singkat ustaz-ustaz yang sedang terkenal di media sosial seperti Ustaz Adi Hidayat, Ustaz Khalid Basalamah, Ustaz Hanan Attaqi dan Ustaz Abdus Somad. Konten lain berupa kata-kata motivasi untuk memperbaiki diri agar jodohnya dipercepat, motivasi untuk menjauhkan diri dari pacaran, termasuk konten-konten yang menyerukan untuk melakukan nikah muda.
Indikasi yang paling mudah dilihat, khususnya bagi para perempuan yang sedang memulai ‘hijrah’nya adalah terhapusnya foto-foto selfie yang menampakkan wajah mereka. Jikalau ingin mengunggah foto selfie, mereka akan menutupi wajah mereka dengan tangan atau meletakkan emoticon sedemikian rupa sehingga wajahnya tidak terekspos dengan sempurna. Hal ini dilakukan karena mereka meyakini pandangan bahwa wajah adalah aurat yang harus ditutupi, bukan diumbar dan menjadi konsumsi warganet.
Motivasi Berhijrah
Ada beragam motivasi berhijrah, umumnya dikarenakan kegagalan dalam hubungan romansa dan mendekatkan diri kepada Allah, agar segera digantikan dengan jodoh baru yang lebih baik. Ada pula yang memandang hijrah sebagai tren, sehingga untuk memperkukuh eksistensinya sebagai generasi kekinian yang islami, mereka juga ikut berhijrah. Namun, ada juga yang memang sungguh-sungguh dari awal ingin memperbaiki diri dikarenakan kesadaran dari dalam diri, bukan dipengaruhi oleh kegagalan percintaan di masa lalu atau ikut tren belaka. Ketika memutuskan berhijrah, mereka perlahan menarik diri dari pergaulan dan gaya hidup yang tidak bernapaskan Islam. Hal ini dikarenakan esensi hijrah yang memang erat kaitannya dengan nilai-nilai religius.
Selain cara berpakaian, mereka pun menghindari penggunaan bahasa Inggris dalam interaksi di media sosial. Istilah seperti goodluck, Get well soon, Thank you dsb dicarikan padanannya ke dalam bahasa Arab karena identitasnya sebagai “bahasa umat Islam”. Idola mereka pun berpindah haluan kepada para hafiz dan tokoh-tokoh Islam. Bagi mereka yang dahulunya sangat terobsesi dengan pesona artis, seorang k-popers, dan gemar belanja online, sekonyong-konyong akan timbul kegalauan seperti pembuka tulisan ini saat ingin berhijrah. Meskipun sebenarnya sah-sah saja menyukai artis korea dan belanja online, tetapi mereka yang berhijrah merasa bahwa gaya hidup semacam itu tidak relevan dengan apa yang sedang mereka jalani, sebab sekali lagi, hijrah dan gaya hidup islami adalah kesatuan yang utuh.
Menyadari atensi generasi milenial yang baru berhijrah, media sosial akhirnya memanfaatkan kesempatan ini dengan menjadikan akun-akun yang beratmosfer hijrah, tidak hanya untuk memberikan tuntunan dan motivasi berhijrah yang benar, tetapi juga sebagai sarana untuk berjualan. Tak jarang, akun-akun hijrah tersebut mengunggah gambar produk seperti gamis syar’i, satu set kerudung dan cadar, kaos, serta buku.Untuk meningkatkan daya tarik, biasanya produk tersebut dipromosikan (endorse) oleh selebgram yang juga melakukan hijrah yang sama. Mereka akhirnya memiliki ruang untuk menyalurkan hasrat belanja. Semakin kuatlah gaya busana khas para penghijrah yang modis nan syar’i. Begitulah, perkimpoian antara agama dan komodifikasi tak bisa dinafikan sebagai alasan mengapa hijrah ala generasi milenial sangat digandrungi.
Akhirnya, hijrah generasi milenial tidak hanya memindahkan gaya hidup yang dulu ke gaya hidup yang sekarang (yang diyakini jauh lebih baik dan islami), tetapi juga bagian dari fenomena sosial untuk memperkuat identitas sebagai generasi hitz zaman now versi syariah.
Hijrah menjadi tren masa kini, yang menyeimbangkan trend versi konvensional.
Selebriti Yang Memutuskan Untuk Berhijrah
Hidayah Allah bisa datang kepada siapa saja, lewat cara yang tidak terduga. Namun, tidak semua orang mampu mengambil hidayah itu dengan segera bertobat dan menjadi diri yang lebih baik di hadapan Allah. Ada yang mengulur-ulur, ada pula yang disegerakan berhijrah. Meski penuh liku, kedua selebriti ini sukses memberikan contoh hijrah inspiratif karena ditengah kesibukan mereka sebagai seorang selebriti, mereka masih dapat beristikamah.
Inneke Koesherawati
Inneke terketuk hatinya saat mendengarkan ceramah seorang ustaz yang menyebutkan bahwa Allah akan mengampuni dosa orang yang bertobat, pembunuh sekalipun. Wanita yang sudah memiliki karier cemerlang di dunia keartisan ini pun langsung memikirkan dosa-dosanya sebagai pemain bintang film panas. Akhirnya, ia memilih berhijrah. Jalan yang ia pilih tentunya tak mulus dan penuh perjuangan, ketika pertama kali memakai hijab, Inneke masih terikat kontrak bermain sinetron. Sang produser tidak mengijinkan jika ia harus syuting dengan kerudung, akhirnya Inneke dibolehkan berkerudung hanya setelah syuting selesai. Syuting tanpa hijab pun Inneke jalani, hingga suatu saat dia merasa ada yang salah dan tidak nyaman karena seperti membohongi diri sendiri. Keputusannya pun bulat; jika tidak diizinkan syuting memakai kerudung, Inneke yakin lebih baik mundur. Sejak saat itu, Inneke tidak hanya berkomitmen dengan hijab yang dikenakannya, tetapi juga dengan pekerjaannya di dunia hiburan. Inneke pun mulai memilah mana yang masih bisa dia terima dan yang tidak sesuai dengan jalan hijrahnya. Kini, berhijab menjadi bagian dari syiarnya di jalan Allah, dengan cara menginspirasi muslimah lain untuk ikut berhijab dan menaati seruan Allah.
Dewi Sandra
Cerita hijrah inspiratif berikutnya datang dari Dewi Sandra. Dewi butuh waktu kurang lebih setahun sebelum akhirnya mantap berhijrah. Ia mengaku sempat maju mundur dengan keputusannya untuk berhijab. Sampai suatu hari di puncak kegalauannya, Dewi memohon petunjuk kepada Allah. Dia pun membuka Al-quran dan membaca ayat secara acak. Surah Al-Ahzab ayat 59 tentang perintah Allah kepada setiap muslimah untuk menutup aurat adalah ayat yang dia baca dan menuntunnya untuk berhijrah di tahun 2015. Kini, Dewi masih aktif bernyanyi dan mempunyai segudang kegiatan lain di dunia hiburan yang tentu sejalan dengan hijrahnya. Tidak hanya itu, Dewi pun sibuk memperdalam keislamannya juga aktif di berbagai kegiatan amal. Salah satunya menggalang dana untuk pembuatan mesjid di Seville, Spanyol. Sebagai public figure, style hijab yang dikenakan Dewi Sandra juga tak pernah mengecewakan. Dewi kerap mengenakan hijab segi empat basic Turki, pashmina, hingga hijab instan layer.
Perjalanan hijrah seorang muslim tentu berbeda-beda dan selalu diwarnai godaan. Dan bagi anda yang saat ini sedang beristikomah di jalan Allah, semoga artikel ini menjadi penyemangat dan menginspirasi anda. Aamiin. (*\dry)
SUMBER

anjaultras memberi reputasi
1
1.9K
7
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
691.7KThread•56.9KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya