- Beranda
- Berita dan Politik
Jokowi Gempur Jabar dengan 23 Kepala Daerah, Prabowo harus Yakinkan PKS
...
TS
ikardus
Jokowi Gempur Jabar dengan 23 Kepala Daerah, Prabowo harus Yakinkan PKS
Merdeka.com - Tim kampanye Joko Widodo di Jawa Barat percaya bahwa konfigurasi dan kekuatan politik sudah berubah signifikan dibanding Pilpres 2014. Sebaliknya, dari kubu Prabowo tetap optimistis bisa mengalahkan petahana yang dinilai punya kekuatan dan didukung oleh puluhan kepala daerah.
BERITA TERKAIT
TKN: Jateng Dikejar Prabowo-Sandi, Jabar Ditinggal, Ya Sudah Kami Rebut...
Fadli Zon Enggan Minta Maaf, Ulama Muda Jabar: Artinya Sombong
Cak Imin: Ma'ruf Amin Jadi Pilar Utama Politik Pak Jokowi
Sekretaris Tim Kampanye Daerah (TKD) Jokowi-Maruf Amin Jabar, Abdy Yuhana menegaskan, semua relawan dan pendukung Capres 01 sudah makin mencengkram Jawa Barat. Ia bahkan mengklaim sudah menguasai hampir seluruh daerah di Jawa Barat.
Menurutnya, semua itu tidak terlepas dari intensitas kunjungan cukup tinggi Joko Widodo ke daerah Jawa Barat, ditambah program yang ditawarkan untuk lima tahun ke depan yang menarik untuk masyarakat.
Sosok Ma'ruf Amin yang didapuk sebagai calon wakil presiden berpengaruh besar untuk meraih suara masyarakat agamis di priangan Timur dan Barat. Faktor lain yang membuatnya optimistis adalah dukungan dari sejumlah tokoh dan 23 Bupati/Walikota di wilayah Jabar.
"Banyak tokoh yang mendukung dengan mengekspresikannya di bebagai macam media, seperti baliho. Ada Prof. Didi Turmudzi dengan Jokowi. Itu makna simbolik dukungan politik. tokoh agama banyak menampakan dukungannya. Pada saatnya akan diumumkan resmi ke publik," terangnya.
"Pak Jokowi juga kan didukung 23 kepala daerah di Jabar," sambungnya.
Selain itu, Partai Golkar sudah bergabung dalam partai koalisi pendukung Jokowi-Ma'ruf dalam Pilpres 2019 ini. Berbeda dengan Pilpres 2014 ketika Partai Golkar masih mendukung Prabowo. Jokowi juga didukung oleh tokoh Jabar Solihin GP. Abdy tidak menjelaskan rinci berapa hasil elektabilitas yang tertuang dalam survei internal.
" Pilpres 2019 ini ada perubahan konfigurasi politik. Partai yang bergabung (dalam koalisi pendukung Jokowi) semakin mencengkram Jawa Barat," katanya saat dihubungi, Kamis (14/2).
Meski mengalami tren yang baik dalam elektabilitas, yang menjadi catatan dari kubu ini adalah merebut suara di basis Prabowo yang berada di wilayah perbatasan dengan Ibu Kota, di antaranya Bogor dan Bekasi.
Abdy menilai, kawasan yang disebut masuk sebagai Megapolitan ini perlu mendapat pendekatan yang berbeda, rasional dan lebih konkret. Semisal, dalam sosialisasi maupun kampanye harus memberikan contoh capaian kerja berbasis data.
"Tren (perolehan suara di Jabar untuk Jokowi) semakin baik. Target selanjutnya adalah wilayah perbatasan, seperti Bogor. Masih ada waktu dua bulan bagi kami untuk meninggalkan pasangan nomer 02 (Prabowo-Sandi)," terangnya.
Seperti diketahui, bahwa dalam Pilpres 2014, Prabowo Subianto yang saat itu berpasangan dengan Hatta Rajasa meraih 59,78 persen dari pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla yang meraih 40,22 persen.
Angka itu didapatkan dari 23.990.089 pemilih, dengan toral suara sah dari kedua pasangan tersebut ialah 23.697.696. Prabowo-Hatta menang di 22 kabupaten/kota di Jabar. Sementara itu, Jokowi-JK hanya unggul di empat kabupaten/kota di Jabar, yakni Kabupaten Subang, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Cirebon, dan Kota Cirebon.
Sementara itu, politisi Gerindra sekaligus Wakil Ketua Tim Pemenangan Daerah (BPD) Prabowo- Sandiaga Uno, Bucky Wikagoe mengakui, jika petahana memiliki kekuatan dalam berbagai sektor. Namun, pihaknya dan partai yang tergabung dalam koalisi memiliki sejarah menjungkirbalikan prediksi maupun survei.
Seperti diketahui, dalam survei yang dirilis Indopolling Network pada Rabu (13/2) merilis hasil survei elektabilitas dua pasangan calon Pilpres 2019 khusus untuk wilayah Jawa Barat (Jabar). Pasangan Jokowi-Ma'ruf unggul tipis dengan elektabilitas 41,7 persen atas pasangan Prabowo-Sandi yang memiliki elektabilitas 37,9 persen.
Pakar ilmu politik Universitas Padjajaran Bandung, Firman Manan menyatakan, jika Prabowo ingin kembali unggul di Jabar seperti Pilpres 2014, pasangan nomor 02 itu harus meyakinkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) agar mau berkampanye ke masyarakat. Sebab, secara kepartaian, hanya PKS-lah mitra koalisi Prabowo yang bisa bekerja untuk menyosialisasikan pencalonannya itu.
Firman mengatakan, pertarungan pemilu presiden di Jawa Barat cukup seru karena memiliki karakteristik pemilih yang beragam. Kedua kandidat pun dinilai sangat fokus dalam meraup suara di Jabar.
"Jabar wilayah strategis, jumlah pemilih terbanyak. Ini swing province, battleground. Jabar harus dimenangkan, jadi ada semacam konsentrasi untuk menggarap Jabar," katanya.
Menurut Peneliti Indopolling Network, Wempy Hadir, pasangan Jokowi-Ma'ruf unggul di kawasan Cirebon Raya dengan meraih 55,3 persen, sedangkan 31,6 persen. "Sisanya, 13 persen, tidak menjawab," ujar Wempy saat pemaparan hasil survei tersebut, di Bandung, Rabu.
Menurut Wempy, di Jawa Barat selatan, Prabowo unggul dengan meraih 50 persen. Sedangkan, Joko Widodo 40 persen dan sisanya tidak menjawab.
Sedangkan di kawasan barat, tengah, dan utara Jawa Barat menurut Wempy, menjadi area pertempuran karena selisihnya tipis dan jumlah pemilih yang banyak. "Di tengah 01 41,9 persen, 02 41,2 persen. Di utara 01 35 persen, 02 30,7 persen, di barat 01 40 persen dan 02 39 persen," katanya.
[rnd]
sumber https://www.merdeka.com/politik/joko...ototi-tps.html
BERITA TERKAIT
TKN: Jateng Dikejar Prabowo-Sandi, Jabar Ditinggal, Ya Sudah Kami Rebut...
Fadli Zon Enggan Minta Maaf, Ulama Muda Jabar: Artinya Sombong
Cak Imin: Ma'ruf Amin Jadi Pilar Utama Politik Pak Jokowi
Sekretaris Tim Kampanye Daerah (TKD) Jokowi-Maruf Amin Jabar, Abdy Yuhana menegaskan, semua relawan dan pendukung Capres 01 sudah makin mencengkram Jawa Barat. Ia bahkan mengklaim sudah menguasai hampir seluruh daerah di Jawa Barat.
Menurutnya, semua itu tidak terlepas dari intensitas kunjungan cukup tinggi Joko Widodo ke daerah Jawa Barat, ditambah program yang ditawarkan untuk lima tahun ke depan yang menarik untuk masyarakat.
Sosok Ma'ruf Amin yang didapuk sebagai calon wakil presiden berpengaruh besar untuk meraih suara masyarakat agamis di priangan Timur dan Barat. Faktor lain yang membuatnya optimistis adalah dukungan dari sejumlah tokoh dan 23 Bupati/Walikota di wilayah Jabar.
"Banyak tokoh yang mendukung dengan mengekspresikannya di bebagai macam media, seperti baliho. Ada Prof. Didi Turmudzi dengan Jokowi. Itu makna simbolik dukungan politik. tokoh agama banyak menampakan dukungannya. Pada saatnya akan diumumkan resmi ke publik," terangnya.
"Pak Jokowi juga kan didukung 23 kepala daerah di Jabar," sambungnya.
Selain itu, Partai Golkar sudah bergabung dalam partai koalisi pendukung Jokowi-Ma'ruf dalam Pilpres 2019 ini. Berbeda dengan Pilpres 2014 ketika Partai Golkar masih mendukung Prabowo. Jokowi juga didukung oleh tokoh Jabar Solihin GP. Abdy tidak menjelaskan rinci berapa hasil elektabilitas yang tertuang dalam survei internal.
" Pilpres 2019 ini ada perubahan konfigurasi politik. Partai yang bergabung (dalam koalisi pendukung Jokowi) semakin mencengkram Jawa Barat," katanya saat dihubungi, Kamis (14/2).
Meski mengalami tren yang baik dalam elektabilitas, yang menjadi catatan dari kubu ini adalah merebut suara di basis Prabowo yang berada di wilayah perbatasan dengan Ibu Kota, di antaranya Bogor dan Bekasi.
Abdy menilai, kawasan yang disebut masuk sebagai Megapolitan ini perlu mendapat pendekatan yang berbeda, rasional dan lebih konkret. Semisal, dalam sosialisasi maupun kampanye harus memberikan contoh capaian kerja berbasis data.
"Tren (perolehan suara di Jabar untuk Jokowi) semakin baik. Target selanjutnya adalah wilayah perbatasan, seperti Bogor. Masih ada waktu dua bulan bagi kami untuk meninggalkan pasangan nomer 02 (Prabowo-Sandi)," terangnya.
Seperti diketahui, bahwa dalam Pilpres 2014, Prabowo Subianto yang saat itu berpasangan dengan Hatta Rajasa meraih 59,78 persen dari pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla yang meraih 40,22 persen.
Angka itu didapatkan dari 23.990.089 pemilih, dengan toral suara sah dari kedua pasangan tersebut ialah 23.697.696. Prabowo-Hatta menang di 22 kabupaten/kota di Jabar. Sementara itu, Jokowi-JK hanya unggul di empat kabupaten/kota di Jabar, yakni Kabupaten Subang, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Cirebon, dan Kota Cirebon.
Sementara itu, politisi Gerindra sekaligus Wakil Ketua Tim Pemenangan Daerah (BPD) Prabowo- Sandiaga Uno, Bucky Wikagoe mengakui, jika petahana memiliki kekuatan dalam berbagai sektor. Namun, pihaknya dan partai yang tergabung dalam koalisi memiliki sejarah menjungkirbalikan prediksi maupun survei.
Seperti diketahui, dalam survei yang dirilis Indopolling Network pada Rabu (13/2) merilis hasil survei elektabilitas dua pasangan calon Pilpres 2019 khusus untuk wilayah Jawa Barat (Jabar). Pasangan Jokowi-Ma'ruf unggul tipis dengan elektabilitas 41,7 persen atas pasangan Prabowo-Sandi yang memiliki elektabilitas 37,9 persen.
Pakar ilmu politik Universitas Padjajaran Bandung, Firman Manan menyatakan, jika Prabowo ingin kembali unggul di Jabar seperti Pilpres 2014, pasangan nomor 02 itu harus meyakinkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) agar mau berkampanye ke masyarakat. Sebab, secara kepartaian, hanya PKS-lah mitra koalisi Prabowo yang bisa bekerja untuk menyosialisasikan pencalonannya itu.
Firman mengatakan, pertarungan pemilu presiden di Jawa Barat cukup seru karena memiliki karakteristik pemilih yang beragam. Kedua kandidat pun dinilai sangat fokus dalam meraup suara di Jabar.
"Jabar wilayah strategis, jumlah pemilih terbanyak. Ini swing province, battleground. Jabar harus dimenangkan, jadi ada semacam konsentrasi untuk menggarap Jabar," katanya.
Menurut Peneliti Indopolling Network, Wempy Hadir, pasangan Jokowi-Ma'ruf unggul di kawasan Cirebon Raya dengan meraih 55,3 persen, sedangkan 31,6 persen. "Sisanya, 13 persen, tidak menjawab," ujar Wempy saat pemaparan hasil survei tersebut, di Bandung, Rabu.
Menurut Wempy, di Jawa Barat selatan, Prabowo unggul dengan meraih 50 persen. Sedangkan, Joko Widodo 40 persen dan sisanya tidak menjawab.
Sedangkan di kawasan barat, tengah, dan utara Jawa Barat menurut Wempy, menjadi area pertempuran karena selisihnya tipis dan jumlah pemilih yang banyak. "Di tengah 01 41,9 persen, 02 41,2 persen. Di utara 01 35 persen, 02 30,7 persen, di barat 01 40 persen dan 02 39 persen," katanya.
[rnd]
sumber https://www.merdeka.com/politik/joko...ototi-tps.html
1
1.5K
7
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
695.7KThread•59.2KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya