Kaskus

News

ikardusAvatar border
TS
ikardus
Ombudsman Bandingkan Impor Pangan Era SBY dan Jokowi, Ini Jawaban Istana
Komisioner Ombudsman, Alamsyah Saragih, membandingkan data impor pangan seperti beras, jagung, gula, dan garam, pemerintah saat ini dengan sebelumnya. Dia menilai, total impor beras, jagung dan garam di masa Jokowi masih lebih rendah dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Namun, kata Alamsyah, ini merupakan perbandingan 5 tahun kedua SBY dan 4 tahun Jokowi. Menurut dia, impor akan lebih banyak karena Jokowi tidak bisa menghindar dari komoditas seperti gula, garam, dan jagung di 2019.

Staf Khusus Presiden, Ahmad Erani Yustika, pun angkat bicara atas tudingan yang disampaikan Ombudsman. Dia memandang data mengenai volume dan pertumbuhan impor pangan perlu dijelaskan secara detail agar tidak menjadi simpang siur di kalangan masyarakat.

"Perlu dibaca secara cermat agar didapati deskripsi yang lebih utuh," kata dia kepada kumparan, Selasa (29/1).

Dia membeberkan, pertama soal pertumbuhan impor gula pada periode 2011-2014 rata-rata 15 persen per tahun. Sedangkan pada periode 2015-2018 (November) rata-rata 13 persen per tahun. Sepanjang 2011-2014 harga gula pasir naik rata-rata 1,65 persen per tahun. Sedangkan pada 2015-2018 naik rata-rata 1,31 persen per tahun.

Komisioner Ombudsman RI Ahmad Alamsyah Saragih sebelumya mengatakan pada lima tahun periode kedua dari SBY, total impor beras yaitu 6,6 juta ton, sementara dalam empat tahun, Jokowi sudah mengimpor 4,7 juta ton. "Jadi tergantung tahun ini, apakah masih ada impor."

SBY juga mengimpor sebanyak 11,3 juta ton garam pada lima tahun periode kedua, sedangkan Jokowi sebanyak 10 juta ton. Sementara untuk memenuhi kebutuhan industri, pada tahun 2019, diperkirakan akan ada impor di atas 2 juta ton lagi. Maka dari keempat komoditas itu, kata Alamsyah, masa pemerintahan Jokowi jumlah impor lebih banyak dibandingkan dengan masa pemerintahan SBY.

Menurut Alamsyah, impor jagung memang tidak melonjak drastis karena sejak 2015, pemerintah menerapkan kebijakan substitusi industri pakan dari jagung ke gandum. Tapi secara total, Jokowi telah mengimpor 12,5 juta ton gabungan dari impor jagung dan gandum untuk kebutuhan pakan hingga 2018. Sedangkan, SBY mengimpor jagung sebanyak 12,9 juta ton. Walau begitu, Ombudsman memperkirakan impor jagung tahun 2019 akan melampaui capaian selama lima tahun masa pemerintahan kedua SBY.

Menjawab hal itu, Erani memaparkan pada 2011-2014 impor beras mencapai 5,87 juta ton sedangkan pada 2015-2018 (September) mencapai 4,46 juta ton. Jadi, volume impor beras pada 2011-2014 masih lebih tinggi dibandingkan impor 2015-2018 maupun data yang dirilis oleh lembaga lain, yang menetapkan total impor mencapai 4,7 juta ton.

"Sepanjang 2011-2014 harga beras naik rata-rata 6,09 persen per tahun sedangkan pada 2015-2018 naik rata-rata 5,85 persen per tahun," sebutnya.

Dia menambahkan pada 2014 (September), peranan beras terhadap garis kemiskinan di perkotaan mencapai 23,39 persen sedangkan di perdesaan 31,61 persen. Pada 2018 (September) peranan beras terhadap garis kemiskinan di perkotaan sebesar 19,54 persen dan di perdesaan 25,51 persen. Penurunan kontribusi beras dalam garis kemiskinan menunjukkan bahwa komoditas ini semakin terjangkau bagi golongan menengah ke bawah.

Imbasnya, inflasi harga barang-barang bergejolak (volatile food) cenderung menurun sepanjang 2015-2018. Menurut BPS, pada 2015-2018 inflasi volatile food rata-rata 2,29 persen; sedangkan pada 2011-2014 rata-rata 7,94 persen. Artinya, kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pokok semakin jauh membaik.

"Nilai tukar petani (NTP) tanaman pangan meningkat cukup tinggi. Pada 2014 NTP tanaman pangan hanya 98,89 sedangkan pada 2018 mencapai 107,03. Hal ini menggambarkan kesejahteraan petani relatif kian meningkat," ucapnya.

Dia menilai secara keseluruhan kemampuan pemerintah dalam menyediakan pangan dari produksi domestik makin meningkat, meskipun permintaan juga terus naik (salah satunya karena pertambahan jumlah penduduk dan daya beli). Di luar itu, pemerintah juga lebih mampu menjaga stabilitas harga dengan ditunjukkan oleh gejolak harga yang rendah.

"Hal itu masih ditambahkan dengan kesanggupan memberikan harga yang lebih baik pada tingkat petani, salah satunya ditampilkan oleh kenaikan NTP secara konsisten," tutupnya.

sumber https://kumparan.com/@kumparanbisnis...72850083001792
0
2K
8
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
Berita dan Politik
KASKUS Official
695.3KThread1Anggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.