TS
madridist
Syetan itu Memang Cerdas

Terkait polemik pengaturan speaker mesjid saya jadi teringat artikel yg ditulis oleh almarhum imam besar masjid Istiqlal KH Ali Mustafa Yaqub. Beliau bilang syetan itu sangat cerdas. Syetan tidak memberi godaan yg sama kepada semua orang dengan hanya berupa godaan untuk berbuat maling, berzina, berjudi, narkoba dsb.
"Jam terbang iblis dalam menggoda manusia sudah sangat lama. Ia tahu betul apa kesukaan manusia. Iblis tidak akan menyuruh orang yang suka beribadah untuk minum khamr. Tapi Iblis menyuruhnya, antara lain, beribadah haji berkali-kali. Ketika manusia beribadah haji karena mengikuti rayuan iblis melalui bisikan hawa nafsunya, maka saat itu tipologi haji pengabdi setan telah melekat padanya," tulis dia.
KH Ali Mustafa kemudian mengutip hadis qudsi riwayat Imam Muslim. Dalam hadis tersebut ditegaskan bahwa Allah dapat ditemui di sisi orang sakit, orang kelaparan, orang kehausan, dan orang menderita. Nabi SAW tidak menyatakan bahwa Allah dapat ditemui di sisi Ka'bah.
Ayat mana yang menyuruh kita melaksanakan haji berkali-kali, sementara kewajiban agama masih segudang di depan kita? Apakah haji kita itu mengikuti Nabi SAW? Kapan Nabi SAW memberi teladan atau perintah seperti itu? Atau sejatinya kita mengikuti bisikan setan melalui hawa nafsu, agar di mata orang awam kita disebut orang luhur? Apabila motivasi ini yang mendorong kita, maka berarti kita beribadah haji bukan karena Allah, melainkan karena syetan.
Sayangnya, masih banyak orang yang beranggapan, syetan hanya menyuruh kita berbuat kejahatan atau syetan tidak pernah menyuruh beribadah. Mereka tidak tahu bahwa sahabat Abu Hurairah pernah disuruh syetan untuk membaca ayat kursi setiap malam. Ibadah yang dimotivasi rayuan syetan bukan lagi ibadah, melainkan maksiat.
Kita masih ingat saat pemerintah berusaha melakukan pemerataan keadilan dengan pembatasan ibadah haji maximal 1 kali seumur hidup, maka reaksi negatif pun banyak bermunculan. Banyak yg mencurigai aturan ini sebagai bentuk pelarangan kebebasan beribadah. Tuduhan sekularisasi dsb pun bermunculan, termasuk provokasi dalam khotbah2:
"Jika pemerintah ini dibiarkan terus, bukan tidak mungkin satu saat ibadah haji di negri kita ini akan dilarang!".
Sekarang kasus yg mirip di atas pun terjadi. Terkait protes atas volume speaker mesjid setelah jatuh vonis atas Meliana pada persidangan di Tanjung Balai. Memang banyak mesjid yg tidak peduli atas berbagai macam penggunaan speaker luar. Di beberapa mesjid di perkampungan bahkan hampir semua acara mesjid dilakukan dengan menggunakan speaker luar dg volume yg cukup pekak. Ini tentu didorong oleh keyakinan bahwa tiap acara mesjid jika pakai speaker luar adalah salah satu bentuk syiar agama. Beberapa khutbah yg isinya banyak menghujat orang lain juga dikumandangkan dg lantang.
Lalu saat Kemenag mengingatkan kembali bahwa sudah ada tuntunan Ditjen Binmas Islam th 1978 dalam soal penggunaan sepaker mesjid ini, apa reaksi yg terjadi? Oleh sekelompok orang imbauan yg baik ini dipelintir menjadi provokasi:
"Mari kita lawan pendzaliman pemerintah ini dengan gerakan menambah jumlah spekaer di setiap mesjid!"
"Sekarang di rezim ini adzan mulai di batasi. Bukan tidak mungkin satu saat adzan mesjid2 di negri ini akan dilarang!"
Rupanya perintah agama agar kita selalu tabayun dan hudnuzon ini hanya berlaku bagi orang lain, tidak berlaku bagi mereka ini. Mereka merasa sudah beriman, maka setiap pengaturan atas kegiatan ibadah adalah sama dengan memberi tantangan untuk berperang Badar.
Kasus lain yg juga mirip adalah maraknya penggunaan provokasi politik di ruang publik dengan menggunakan format dakwah yg dianggap punya resiko mengadu domba antar kelompok masyarakat. Saat polisi melarang pun mereka seringkali berkelit:
"Orang mau berdakwah kok dilarang! Apakah rezim ini memang sudah menjadi musuh Islam? Rezim ini diam2 berpaham komunis!"
Orang2 yg berpikiran pendek pun dg mudah terhasut dan amarahnya terbakar. Maka khutbah pun banyak yg berisi kedengkian dan fitnah. Tentu mereka akan selalu mengklaim dirinya sebagai orang2 yg membela Allah.
Begitu lah godaan syetan bagi orang2 yg beriman. Maka teguran dan pengaturan sebaik apa pun tujuannya, tapi jika terkait dengan kegiatan beribadah seringkali akan sulit diterima. Mengapa? Karena pada dasarnya mereka sangat menikmati posisi untuk selalu mengoreksi orang lain, bahkan dengan mencaci maki. Tapi saat mereka kita ingatkan untuk melakukan koreksi diri mereka ini langsung menjadi kejang2. Capek deh...!
😓
😓PERILAKU SETAN.
0
1.3K
3
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Spiritual
6.4KThread•2.9KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya