TS
madridist
Sepakbola Spanyol: Potret Ekspresi Identitas Etnik

Spanyol adalah kiblat sepakbola Eropa dan dunia, setidaknya dalam 3-4 tahun terakhir. Prestasi mentereng dengan menjadi kampiun Piala Eropa 2008 dan dilanjutkan Piala Dunia 2010 menjadi sebab utama. Prestasi tersebut menjadikan tim nasional Spanyol (La Furia Roja) sebagai tim yang paling ingin dikalahkan, tak peduli di ajang resmi ataupun sekadar laga persahabatan. Masalahnya, gaya permainan Spanyol dengan pola tiki-taka (umpan satu dua sentuhan) nya sangat sulit diatasi oleh lawan-lawannya. Komposisi skuad Spanyol, khususnya di lini tengah menjadi poros utama kekuatan tim yang diakui oleh publik sepakbola dunia sangat berkualitas. Maka tak heran jika sampai saat ini Spanyol masih menjadi tim nomor satu di dunia versi FIFA.
Prestasi mentereng Spanyol sebenarnya adalah ironi karena bertahun-tahun sebelumnya tim ini sangat sulit berbicara banyak di ajang internasional. Selain menjadi juara Piala Eropa tahun 1964, dimana mereka bertindak sebagai tuan rumah, Spanyol tidak pernah mencetak prestasi di level timnas senior. Diantara sebab-sebab yang diyakini menjadi penghambat timnas Spanyol untuk berprestasi, salah satu teori yang mengemuka adalah adanya “konflik” internal di dalam skuad timnas Spanyol yang terdiri dari pesepakbola kelas atas dari etnis yang berbeda-beda. Meskipun tidak semajemuk India atau Indonesia yang memiliki ribuan suku dan etnis, tetapi adalah sebuah kesalahan mengidentifikasi Spanyol sebagai negara dengan suku bangsa tunggal. Kini, meskipun timnas Spanyol terlihat sangat bersatu, ternyata ekspresi etnisitas masih sangat dipelihara dalam kompetisi sepakbola Spanyol.
Spanyol adalah negara multietnis yang bisa diketahui dari pembagian provinsi di negara ini. Hampir sebagian besar provinsinya berbentuk comunidad autonomia (daerah otonomi) karena memiliki kekhasan masing-masing. Beberapa provinsi memiliki kekhasan etnis yang spesifik, sebut saja Pais Vasco yang didominasi etnis Basque di sebelah utara Spanyol. Ada pula Galicia yang bahasa Spanyolnya banyak terpengaruh bahasa Portugal di barat laut Spanyol. Provinsi Catalonia, Comunitat Valenciana, dan Balearic Island adalah region dengan bahasa utamanya bahasa Catalan, meski secara politik tidak mesti mereka merasa sebagai bangsa atau orang Catalan. Di wilayah selatan, provinsi Andalucia memiliki kekhasan budaya sendiri meskipun berbahasa sama dengan etnis Castilla yang berada di tengah-tengah Spanyol, termasuk ibukota Madrid. Lalu, bagaimana aspek etnisitas tersebut dimunculkan dalam sepakbola Spanyol?
Kompetisi Liga Spanyol (kini dikenal dengan LIga BBVA) barangkali boleh dibilang kurang menarik, karena hampir selalu didominasi dua super power: Real Madrid dan FC Barcelona. Tetapi, dari situ pula dapat ditilik “rivalitas” sengit yang tidak hanya bernuansa kompetitif, tapi juga menyentuh isu-isu etnik yang menjurus politik. Sudah banyak yang menulis tentang rivalitas kedua klub tersebut. Intinya Real Madrid adalah klub dengan identitas Spanyol tulen (etnis Castilla), sedangkan FC Barcelona adalah klub kebanggaan bangsa Catalan dengan semboyannya “mes que un club” (more than just a club). Rivalitas yang bermula di masa kediktatoran Francisco Franco (memerintah Spanyol tahun 1939-1975) yang anti Catalan dan (entah kebetulan atau tidak) mendukung Real Madrid masih bertahan hingga kini. Setiap duel akbar El Classico dihelat di Camp Nou, markas El Barca (sebutan FC Barcelona), nuansa itu jelas terlihat. Sebelum pertandingan dimulai, 90 ribuan suporter El Barca membentuk mozaik raksasa dari kertas di dalam stadion dengan warna utama merah, kuning, dan biru. Apa tujuannya? Tentu saja menunjukkan identitas mereka bahwa FC Barcelona adalah simbol dan kebangsaan bangsa Catalan.
Tidak cukup hanya menyebut Real dan Barca saja untuk melihat etnisitas sepakbola Spanyol. Rival sekota FC Barcelona yang bernama RCD Espanyol de Barcelona adalah klub yang meskipun bermarkas di Catalan tetapi dianggap lebih loyal terhadap Spanyol daripada Catalan. Sebenarnya dari sisi nama, Espanyol menggunakan ejaan bahasa Catalan (Reial Club Deportieu Espanyol, bukan Real Club Deportivo Espanol jika menggunakan bahasa Spanyol), tetapi stigma tersebut sudah terlanjur terbentuk. Jika El Barca bermain di Camp Nou, banyak bendera khas Catalan berwarna kuning strip merah menghiasi stadion, tidak seperti suasana di stadion Espanyol yang sepi dari simbol-simbol Catalan. Rivalitas kedua klub ini memang tidak sengit, karena Barca adalah salah satu jagoan di Liga Spanyol, sedangkan Espanyol minim koleksi trofi. Tetapi pendukung FC Barcelona kerap menuding RCD Espanyol sebagai klub antek Real Madrid di Catalan, antara lain dengan kerap memberi “kemenangan mudah” dalam kompetisi. Sebaliknya, pendukung Espanyol menganggap pendukung FC Barcelona sebagai Catalan radikal.
Bagaimana dengan etnis lain? Valencia adalah salah satu wilayah yang cukup menarik. Berbahasa nyaris identik dengan orang-orang Catalan, mereka menolak dianggap sebagai bangsa Catalan. Mereka lebih senang disebut sebagai bangsa Valencia dan berbicara dengan bahasa Valencian (llengua valenciana). Karena sikap ini pula, banyak orang Catalan menganggap mereka tidak ada bedanya dengan orang Castilla yang loyal kepada Spanyol. Di level sepakbola, ekspresi ini ditunjukkan oleh tim kelelawar hitam, Valencia Club de Futbol. Dalam lambang klub ini terdapat bendera Senyera khas Valencia yaitu kuning strip merah ditambah aksen strip biru. Berbeda dengan senyera Catalan yang hanya kuning strip merah polos saja (walaupun Catalan radikal menambahkan segitiga biru dan bintang sebagai bentuk dukungan kemerdekaan Catalan dari Spanyol). Di wilayah penutur bahasa Catalan lain, Balearic Island, terdapat klub bernama RCD Mallorca. Di sini, ekspresi etnik ditunjukkan dengan sebatas penggunaan armband (ban kapten tim) dengan bendera khas Mallorca yang tipikalnya serupa dengan senyera Catalan dan Valencia. Jika di Valencia terdapat aksen strip biru, maka di sini aksennya berwarna ungu tua. Baik Barcelona, Espanyol, Valencia, dan Mallorca semua kapten timnya ketika berlaga hampir selalu menggunakan armband bercorak senyera khas masing-masing.
Wilayah lain yang menunjukkan identitas etniknya adalah di provinsi Pais Vasco. Etnis Basque sangat mendominasi demografi wilayah ini. Tidak seperti etnis Catalan yang meskipun berbeda dengan Castilla, masih memiliki beberapa kemiripan dari segi bahasa, orang-orang Basque memiliki bahasa khas yang jauh berbeda. Oleh sebab itu, ekspresi etnik di wilayah ini lebih ekstrem dibanding di wilayah lain. Tidak perlu menyoroti Euskadi Ta Aztakasuna (ETA) sebagai organisasi garis keras yang mencita-citakan kemerdekaan Basque dari Spanyol dengan jalan kekerasan. Di level sepakbola, ekspresi yang ditunjukkan klub Athletic Bilbao sungguh luar biasa. Klub ini ibarat tim nasional Basque mini, karena pemainnya hanya diisi dari etnik Basque saja! Maka, pesepakbola Castilla, Catalan, atau bahkan luar Spanyol tidak bisa meniti karier di sini. Kebanggaan terhadap etnisnya sendiri ini menjadi dua sisi mata uang bagi tim ini. Di satu sisi mereka bersama Real Madrid dan FC Barcelona adalah tiga tim yang belum pernah terdegradasi dari divisi utama Liga Spanyol. Di sisi lain, di era sepakbola modern yang kompetitif ini, Athletic Bilbao sulit meraih trofi juara. Rival Bilbao di wilayah Basque adalah Real Sociedad. Meskipun menggunakan titel Real yang merupakan pemberian dari raja Spanyol, Sociedad tidak kehilangan akar Basque nya. Di lengan kiri seragam tim yang berwarna putih strip biru ini terpampang jelas dengan ukuran yang cukup besar bendera berwarna merah strip putih dan hijau yang merupakan bendera nasional bangsa Basque. Dua ekspresi radikal dengan cara yang berbeda dari dua klub Basque.
Itulah sedikit ilustrasi mengenai ekspresi etnisitas yang ditunjukkan oleh klub-klub peserta kompetisi Liga Spanyol. Tentu masih banyak ekspresi menunjukkan identitas etnik yang belum tereksplore di sini. Lalu bagaimana korelasi hal itu dengan kondisi timnas Spanyol saat ini? Setidaknya untuk sementara waktu, boleh jadi publik sepakbola mengelu-elukan Spanyol, mengingat status mereka masih sebagai tim juara dengan kualitas permainan jempolan. Tetapi kelak jika suatu saat Spanyol mengalami kekalahan dan terus merosot prestasinya, barangkali isu penonjolan identitas etnik yang dipelihara akan menjadi salah satu atau bahkan faktor utama yang dipersalahkan. Bagaimanapun juga, untuk saat ini kita nikmati saja indahnya permainan sepakbola Spanyol. ViVA ESPANA !!!!

-1
1.2K
0
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Budaya
2.5KThread•1.6KAnggota
Komentar yang asik ya