Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
134
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5b68acdd60e24b3f628b4567/tell-me-why-i-cant-stop-thinking-of-ya
Pikiranku tidak bisa fokus melelapkan mata yang sebenarnya sudah lelah. Paras wajahnya selalu muncul di depan wajahku persis, seperti saat itu. Dia terbaring ke samping tepat di depan wajahku. Jantungku berdegug tak menentu, penasaran dengan apa yang di depanku. Hembusan napasnya yang hangat begitu terasa dan masuk ke aliran darahku yang mulai memanas. Begitu menyiksa menahan semuanya. Bada
Lapor Hansip
07-08-2018 03:17

Tell Me Why I Cant Stop Thinking of Ya

Past Hot Thread
icon-verified-thread
Tell Me Why I Cant Stop Thinking of Ya

Pikiranku tidak bisa fokus melelapkan mata yang sebenarnya sudah lelah. Paras wajahnya selalu muncul di depan wajahku persis, seperti saat itu. Dia terbaring ke samping tepat di depan wajahku. Jantungku berdegug tak menentu, penasaran dengan apa yang di depanku. Hembusan napasnya yang hangat begitu terasa dan masuk ke aliran darahku yang mulai memanas. Begitu menyiksa menahan semuanya.


Badanku agak kunaikan pelan-pelan agar tidak terlalu sejajar wajah kami. Aku bisa gila malam ini. Sekarang keningnya simetris dengan bibirku. Sulit menahan semua gejolak hati, akhirnya ku kecup keningnya. Tanpa melepas kecupanku, mataku mulai terlelap. Rasanya nyaman, dan lumayan untuk mengobati rasa yang tidak karuan sejak awal mulai tidur.



--------------------------------------------*-----------------------------






Untuk di kenang

Jalan ini, setapak berbatu
Kenang aku, bila kau dengarkan
Lagu ini, terlantun perlahan

Reff:
Barisan puisi ini
Adalah yang aku punya
Mungkin akan kau lupakan
Atau untuk dikenang

Ingat aku bila kau terasing
Dalam gelap keramaian kota

Reff:
Tulisan dariku ini
Mencoba mengabadikan
Mungkin akan kau lupakan
Atau untuk dikenang



Lirik-lirik lagu jikustik yang diarasemen oleh endah dan resha cukup menyejukkan pagiku. Meskipun familiar namun terdengar baru dan fresh.

Mata mulai terbuka akibat cahaya pagi yang sudah menyusup lewat celah-celah jendela

Bayangan wanita dengan cepolan rambut sedang duduk menunduk membelakangi wajahku. Selanjutnya terdengar pemotong kuku yang telah berhasil mengerjakan tugasnya dengan suara khasnya, ceklik... ceklik.

Selagi belum ketahuan olehnya, aku kembali menutup kedua mataku dan mempererat pelukanku pada sebilah guling.

"Bangun", ucapnya tanpa bergeser ataupun menoleh.

Sangat kurang beruntung. Bukan pekara mudah menyembunyikan sesuatu dengan dia.

Mencoba keberuntungan, aku tidak menjawab dan mencoba pura-pura mau tidur.

"Mau dibangunin pake cara lembut apa cara kasar?! ".

Dengan sigap mataku langsung terbelalak. Ku lihat tangannya sudah mengangkat bantal di kedua tangannya, mata yang menakutkan dan siap menerkamku habis-habisan.


" STOP IT! Gw dah bangun".
Diubah oleh bonesky
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 10 lainnya memberi reputasi
11
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Halaman 1 dari 7
Tell Me Why I Cant Stop Thinking of Ya
27-11-2020 14:27
Apakah thread ini perlu dilanjutkan?
0 0
0
Lihat 4 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 4 balasan
Tell Me Why I Cant Stop Thinking of Ya
26-11-2020 13:35
menarik sih threadnya....ijin nenda ya
0 0
0
Tell Me Why I Cant Stop Thinking of Ya
11-06-2020 17:10
Beneran tamat ne gan?
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Tell Me Why I Cant Stop Thinking of Ya
11-06-2020 16:06

Part 44 Final

Ketika seseorang mencintai hal yang pertama diinginkan adalah memiliki. Akan muncul beberapa rasa yang muncul yang membuat seseorang lupa segala sesuatunya, atau orang menyebutnya buta. Love is blind. Tersenyum hanya melihat orang yang dicintai tersenyum, tak melihatnya membuat hati gusar, marah karena cemburu, menyukai apa disukai walaupun kita tak menyukainya, semua serba termaklumkan karena dia yang kita cinta.

Segalanya diciptakan berpasanganya, ada siang ada malam, ada gelap ada terang, ada senang ada sedih, ada mencintai dan ada menyakiti. Segala yang dilakukan harus melalui proses pengorbanan. Pengorbanan yang memang kita iklas menjalani atau yang menyakitkan untuk kita.

***

Riana bergegas ingin pulang dan menyiapkan masakan. Dia menghubungi Bima agar bisa makan malam bersama. Dia mencari beberapa resep masakan yang disukai oleh suaminya.

Setelah semuanya siap, ia menunggu sambik menonton TV namun pikirannya membayangkan sesuatu yang ingin sekali ia beritahukan. Sambil senyum-senyum sendiri, riana menatap layar tv tanpa tahu isi acara yang ia tonton.

"Sayang....", teriak Bima dari balik pintu depan.

Riana bangun dan segera menghampirinya.
"Capek?", tanyanya.

"Lumayan", jawabannya sambil tersenyum.

Bima langsung bersih-bersih diri dan langsung makan. Riana menyiapkannya dan melihatnya makan dengan lahap.

"Kenapa? Kamu ga makan?", tanya Bima.

"Aku mau ngasih kamu hadiah".

"Hm? Sekarang aku ulang tahun?"

"Bukan"

"Terus? Hadiah buat apa?"

"Hadiah sekaligus tugas baru buat kamu. Karena habis ini kamu bakal banyak pekerjaan tambahan"

"Hm? Ga mudeng"

Riana diam, dan masih menatap suaminya yang masih kebingungan mencerna kata-katanya.

"Aku hamil"

Bima diam dan mencoba memastikan apa yang barusan istrinya ucapkan, "Apa sayang?"

"Kamu dengarnya apa?"

"Hamil?", ucap Bima pelan-pelan takut perkataannya salah, karena kata itu sangat sensitive untuk ia ucapankan, takut menyinggung hati riana.

Riana tersenyum dan mengangguk.

Bima langsung meledak rasanya, ia bangun dan memeluk istrinya.

"Bim, aku sesak", ucap riana masih dengan senyumannya.

"Maaf. Hmmm, kamu pengin apa sekarang?"

"Maksudnya?"

"Katanya kalau orang hamil ngidam sesuatu".

"Haha, kebanyakan denger kata orang"

"Hmmmm"

"Jangan ngambek, ga pantes kamu ngambek gitu haha"

"iiish"

"Udah selesai makannya? Biar ta beresin"

"Biar aku aja. Kamu duduk manis saja"

"Hmm, jadi perhatian banget. Coba dari dulu gini"

Bima hanya tersenyum dan membereskan makanannya.

***

"Bim, aku pengin tanya"

"Apa?"

"Setelah banyak kejadian yg kita lewati dari awal sampai sekarang, kejadian terberat menurut kamu yang mana?"

"Hmmm.... Saat kamu dah benar-benar tidak percaya dan kita saling menjauh satu sama lain"

"yang mana?"

"Saat aku memilih untuk mencari pelarian yg salah".

"Oh"

"Kamu?"

"Saat ku pikir kamu punya anak dari dia"

"Dia? Yang mana"

"Aish, berapa banyak cewek yg kamu ajak kencan?"

"Hahaha, maaf. Coba lanjutan ceritanya"

"Aku tahu kamu orang yg cepat sekali akrab dengan orang lain. Kamu awalnya terlihat judes bin kejam tapi setelahnya kamu tidak tahan buat bantu orang. Dan perhatian kamu itu yg sering buat orang lain salah paham sekaligus menyukaimu dengan cepat. Aku tidak suka itu"

"Hm, begitu? Wah, aku baru sadar"

"Jengkelin!"

"Tapi kamu cinta kan? Hahaa"

"Hmmm, aku benar-benar terperangkap terus. Mau pergi kemanapun bahkan pisah pun akhirnya balik lagi"

"Tapi aku sempat hampir putus asa dan nyerah"

"Kenapa?"

"Aku mulai capek, maksa kamu juga tidak baik, apalagi sudah ada seseorang yg dari dulu perhatian denganmu lama. Rasanya aku bakal kalah"

"emmmm, maksudmu erik? *

" Heem"

"Haha, aku ga nyangka. Berarti kamu sebenarnya cemburu saat kita masih kuliah. Tapi aku lihat kamu g ada ekspresi cemburu. Ta kira aku gagal"

"Maksudmu kamu sengaja?"

"Iya. Tapi karena g berhasil akhirnya aku pikir itu g masalah kalo aku pergi sama erik. Toh kamu ga akan marah atau berpikir aneh2 karena kamu tahu dia temanku"

"Hah, benar-benar bikin hati anak orang terbakar"

"Haha, tapi aku hanya deket sama dia aja. Kalo kamu kan banyak banget"

"Tapi kamu juga sedingin es. Bahkan dari saat aku pdkt. Ahhh, aku kerja keras banget itu"

"Haha, siapa yg percaya sama kamu. Kamu dah terkenal dekat dengan banyak cewek walaupun g kamu pacari secara resmi"

"Waahhh, ternyata aku terkenal juga"

"Ish, g punya prinsip"

"Pencemaran nama baik nih. Aku cuma pacaran sama kamu loh pas kuliah"

"Yang deket? Aku juga denger kamu sering nginep di rumah teman cewek kamu"

"Haha, kami hanya teman ko. Tapi sekali aku memutuskan sesuatu bakal terus fokus dengan satu hal, seperti ke kamu"

"Gombal"

"Hahaha. Oh ya, aku pengin tanya sebenarnya kamu pernah ada rasa dengan erik?"

"emmm, pernah nyoba buka hati"

"Hasilnya?"

"Sulit, yg keinget wajah tengilmu terus. Nyebelin banget ta kira kamu guna2 aku"

"Hahaha, masih percaya gitu. Itu kamu saking cintanya sama aku"

"Narsis"

"Haha"

"Aku pengin tanya yg terakhir"

"Apaan?"

"Jawab jujur"

"Hm? Nanti akhirnya bakal di usir dari kamar ga?"

"Tergantung"

"G mau"

"Ish, oke g bakal. Tapi jawab jujur. Aku pengin tahu"

"Oke"

"Aku sebelum nikah sama aku sudah tidak itu?"

"Ya"

"Hmmm"

"Seberapa jauh aku lari, yang terlintas kamu terus. Aku ga bisa lupa tentang kita. Untung kamu punya adik yg sangat koopertif hahaha"

"Ish"

"Kita tidur ya, dah larut. Terima kasih sayang, untuk kembali lagi. Love you"

"Love you too, night"

"Nite"
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Tell Me Why I Cant Stop Thinking of Ya
26-05-2020 01:06

Part 43

Riana cerita apa yang terjadi dengan harinya tadi. Tentang ia yang bertemu dengan ibu putri dan apa yang disampaikan. Bima menghela napas dan menenangkan istrinya. Tidak banyak yang dijelaskan karena yang riana butuhkan adalah dukungan, semangat dan bukti. Bima mengingatkan kembali tentang janjinya dan usaha yg telah ia lakukan.

Riana pun sekarang sudah tenang. Ia kembali sedikit mengenang masa lalunya mengenang Bima, namun ia ketiduran saat di tengah-tengah cerita.

Riana keluar kamar dan melihat hp suaminya yang tergeletak di meja depan TV ada notifikasi masuk. Ia iseng membukanya. Dari dulu ia tidak pernah bermasalah dengan privasi Bima pada HPnya, namun kali ini ingin membukanya.

Bima kadang kala memberitahu password hp nya tapi riana hanya menjawab ia dan sama sekali tidak memperhatikannya. Akhirnya ia letakkan kembali hp nya.

***

Pagi-pagi riana sudah siap dengan hidangan sarapan untuk berdua. Bima keluar dari kamar dan langsung sarapan.

"Bim, password hp kamu apa?", tanya riana sambil menyangka dagu dengan kedua tangannya.

"The date I was born", jawabnya santai.

"Mudah banget"

"Tapi aku balik"

"Ko kamu g ada romantis-romantisnya?"

"Maksudnya?"

"Kalau di drakor biasanya tanggal ultah pasangannya, tanggal jadinya, tanggal pernikahannya, atau hari-hari penting lainnya"

"Hahaha"

"Ketawa"

"Kamu kumat ya sayang haha"

"Ish!"

"Aku berangkat dulu ya sayang. Gunakan weekend ini buat kamu istirahat"

"Heem"

Bima mengecup kening istrinya, sebelum pamit ia mengatakan sesuatu.

"Aku memang tidak pintar menghafal tentang tanggal-tanggal penting kita. But, i can't stop thinking of you"

Kalimat itu seketika membius riana, namun setelah bima keluar rumah, ia melihat kenyataan kembali. Banyak sekali hal yang membuatnya jengkel karena sulitnya mengatur kerapian bima dalam menaruh barang-barang.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Tell Me Why I Cant Stop Thinking of Ya
24-05-2020 15:26

Part 42

"Silahkan duduk"

"Terima kasih, bu. Maaf agak terlambat, tadi menyelesaikan pekerjaan dulu"

"Gapapa, saya yang merepotkan. Kamu jadi harus terburu-buru ke sini. Mau pesan apa? "

"Saya pesan minum saja, tadi dah makan"
"Pasti capai ya habis kerja? ", tanya ibu dengan wajah tersenyum.

"Sudah terbiasa".

"mmm, sudah berapa lama di sana?"

"Mau satu tahun".

"Baru ya?"

"Iya, ke sini karena ikut suami".

"Memang Bima anak yang baik", puji ibu tersebut.
Bola mata riana bergerak ke atas ketika ibu itu menyebut suaminya dengan namanya.

"Ngomong-ngomong sudah sejak kapan Riana kenal Bima?"

"Hmm?".

"Iya, suamimu"

"Saya kenal suami pas di perkuliahan"

"Satu jurusan?"

"Bukan"

"Kegiatan kampus bareng?"

"Hm, bukan juga"

"Terus?"

"Memang kita mau membicarakan tentang apa ya? Ko sampai ke suami saya?"

Riana bertanya-tanya sebenarnya dia siapa dan apa hubungannya dengan Bima. Dan ketika memang mau mencari tahu tentang Bima, kenapa tidak menghubungi langsung. Kenapa dia?

"Hanya ingin tahu saja", jawabnya masih dengan kepala tegak.

Riana mencoba lebih sabar lagi menghadapi ibu yang tidak dikenalnya dan langsung membicarakan tentang Bima.
"Apakah tidak sebaiknya ditanyakan langsung ke Bima?"

"Apakah saya mengganggu privasimu?"

"Itu memang sudah masuk privasi seseorang", jawab riana dengan senyum yang masih bisa ia tampilkan.

"Maaf. Saya akan langsung saja. Kamu pernah dengar nama putri dari Bima?"

Riana mencoba mengingat putri yang ia maksud putri yang mana.

"Bima sering antar jemput putri. Pernah denger?"

Saat itu juga putri langsung ingat putri yang ia maksud.

"Oh, iya"

"Mereka berteman baik, bahkan sepertinya pernah dekat juga sebelum kalian menikah dan setelah menikah juga"

Riana menarik napas panjang sebelum menjawabnya.
"Jadi sebenarnya apa yang mau ibu sampaikan?"

"Putri hanya mau mendengarkan Bima. Namun sepertinya Bima pelan-pelan menghindar sampai tidak pernah lagi terlihat sekarang"

"Bukankah itu wajar karena dia sudah berkeluarga sekarang"

"Sepertinya saat kalian baru menikah saja, Bima masih sering terlihat main ke rumah. Dan sekarang sudah tidak, akhirnya putri sekarang jadi tidak terkendali"

"Maksud anda, anak ibu jadi seperti itu karena Bima?"

"Permintaan saya untuk kamu tidak melarang Bima menemui Putri. Putri sudah keluar jalur dan hanya Bima yang bisa menanganinya"

Sekarang riana sudah kehilangan kontrolnya untuk bersikap lebih manis lagi.

"Kurasa anda sudah lebih berpengalaman dari pada saya dalam berkeluarga. Bagaimana jika suami anda pergi-pergi dengan perempuan lain. Apakah itu benar?"

"Saya baik-baik meminta bantuanmu, bukan berkata kurang sopan dengan orang tua. Kamu sudah kelewatan bersikap seperti itu".

Riana bangun dari kursinya, ia berdiri dan mengambil tasnya. Sebelum pergi ia berkata, "Kurasa anda yang lebih kelewatan. Maaf, saya pamit".

Ia pulang dengan suasana hati yang tidak karuan. Sungguh ia ingin sekali memaki-maki orang sebagai pelampiasannya.


***

Di rumah Bima menyambut kedatangan istrinya dengan senyum sumringah karena kerjasama dengan kliennya sukses sesuai harapannya.

Riana nampaknya datang dengan muka asem gula jawa, walaupun kesal tetapi tetap manis.

Bima masuk kamar dan melihat istrinya yang sedang duduk di bibir ranjang.
"Sayang, tau nggak kenapa aku nggak suka minuman yang banyak gulanya?".

Istrinya hanya melirik dan melihat kelakuan Bima yang nonsense banget di saat yang menjengkelkan.

"Karena kamu sudah terlalu manis buatku", ucap bima sambil ketawa sendiri.

Ia mengira kalau riana bakal tersipu malu atau bahkan bilang ah gombal, basi, pengin muntah atau apa. Tapi ternyata ia hanya diam saja dengan muka yang masih cemberut.

Bima semakin kikuk di situasi seperti ini. Akhirnya ia mendekat dan menanyakan yang terjadi pada riana, "Ada apa sayang?".

"Gapapa"

Yah, seperti itulah perempuan kalau sedang kesal dan saat ditanya jawabnya gapapa, padahal mukanya sudah menjelaskan bahwa ia ada apa-apa. Saat kita mencoba buat mikir kalau kaum hawa beneran ga ada apa-apa yang ada kita bakal dikick dari kamar atau bahkan dari rumah, didiemin terus sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Di saat suruh tebak-tebakan beginilah rasanya kaum adam pengin pinjam bola ramalannya kaum penujum buat ngramal atau pinjam tongkat saktinya sung go kong buat ngancurin seisi dunia. Jadi bagaimana gais? Mari kaum adam langsung pakai pikiran kaum hawa juga untuk menunjukan kerendahan hati kaum adam.

"Aku salah ya sayang? Aku minta maaf ya". Bima tidak tahu harus bilang apa lagi selain itu, karena kalau ditanya lagi pasti jawaban bakal sama atau melebihi.

"Iya, kamu salah".

"Oke, aku salah. Aku minta maaf ya".

"Kamu sering godain perempuan-perempuan lain juga leg gitu juga dari dulu?"

"Hah?", Bima mulai bingung. Sepertinya ia salah waktu menggoda istrinya. Bakalan tidur di luar ini, umpat bima dalam hati.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Tell Me Why I Cant Stop Thinking of Ya
22-05-2020 14:19

Part 41

"Bim.... Bim... Bima..."

Aku bangun dengan rasa sesak di dada.

"Mimpi buruk?", ucap riana.

Aku belum bisa menjawabnya, hanya melihat ke arahnya.

Saat riana hendak bangun, tanganku reflek menahan pergelangan tangannya.
"Aku mau ambil minum buat kamu".
Aku belum mau melepasnya karena masih terbawa mimpi.
"Gapapa, sebentar aja". Tangannya pun ku lepas. Napasku masih belum beraturan.

Riana masuk lagi dan membawa minum.
"Minum dulu. Pelan-pelan... ", ucapnya lembut. Riana kembali menaruhnya setelah ku minum.

"Tidur lagi ya".

"Nanti saja"

"Kali ini aku yang egois. Aku tidak mau tidur sendiri", katanya sambil menahan tanganku.

Terdengar sangat manis ucapannya bagiku, aku menanggalkan niatku untuk bangun dan memeluk erat tubuhnya yang kecil.

***

Bima mimpi buruk lagi, itu artinya ada sesuatu yang menganggu pikirannya. Mau kutanyakan pasti jawabannya tidak lah beda.

Pagi ini ia nampak biasa-biasa saja, ku harap semuanya memang baik-baik saja. Tidak ada nama putri atau putri-putri lainnya di kehidupan kami lagi. Dia orang yang terlalu cuek dengan oramg-orang yang tak ia kenal, tapi ia akan berubah jadi orang yang terlalu baik jika sudah mengenal seseorang. Aku benci itu walaupun itu yang membuatku suka dengannya.

"Hari kemana aja, sayang?".

"Ketemu klien di luar, mau ngomongin bahan baku. Moga-moga deal, karena bagus", jawab Bima.

"Oh, kenapa mau pindah?".

"Kapan-kapan ta ceritain. Siang ini free?"

"Mau ngajak makan siang bareng?".

"Iya"

"Kayaknya belum bisa. Aku ke lapangan"

"Kecewa ini abang. Istrinya mainnya di lapangan terus"

"Lebay, lebay... "

"Hahaha"

Setelah sarapan, kami berangkat ke pekerjaan masing-masing. Bima mengantarku sampai kantor dan melesat pergi.

Di kantor aku diberitahu bahwa pagi-pagi begini sudah ada wanita berusia 50an tahun ingin menemuiku. Aku menaruh barang-barangku di meja dan segera menemuinya.

Wajahnya tak pernah ku kenal, namun sepertinya ia tidak terlalu asing dan pernah menemuinya.

"Pagi, bu"

"Pagi. Kamu riana ya?", tanya ibu itu.

"Iya. Maaf dari mana ibu?"

"Begini, saya mau minta bantuannya"

"Untuk kasus?"

"Bukan"

"Bagaimana kalau nanti siang kita makan siang bareng. Kita bicarakan di san"

"Saya ada pekerjaan luar kantor hari ini"

"Kalau begitu sore, bagaimana? *

Ibu ini tidak mau menjelaskan secara detail tentang dirinya dan keperluannya. Namun ia memohon untuk meminta bantuanku.

Belum banyak yang orang yang ku kenal semenjak pindah ke sini tapi tiba-tiba ada ibu yang meminta bantuannya. Mau ku tanyakan ke Bima, sepertinya nanti saja kalau sudah jelas. Aku tidak ingin membuatnya repot untuk hal-hal kecil.

Aku dan rekanku segera bergegas ke lapangan.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 5 lainnya memberi reputasi
6 0
6
Lihat 2 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 2 balasan
Tell Me Why I Cant Stop Thinking of Ya
09-03-2020 22:57

Part 40

Bima bersegera menjemput putri di rumahnya. Sambil jalan, ia menelpon istrinya untuk memberitahukan bahwa ia dimintai tolong putri, anak dari sahabat ibunya. Riana sempat aneh dengan putri yg minta bantuan suaminya untuk bertemu dengan gebetannya, Bima pun menjelaskan hubungannya dengan putri. Ia memgizinkan suaminya mau tak mau karena ia tidak mau terlalu melarangnya, apalagi itu dari anak sahabat mertuanya. Ia coba memahaminya kali ini.

Sampai di depan rumah, Bima segera menelpon putri untuk segera keluar. Sesaat, putri keluar pagar dan segera masuk mobil.

"Cantik banget?", ucap Bima.

Putri sedang merapikan rambutnya lewat kaca depan dan tidak terlalu mendengarnya.

"Apaan?"

Bima hanya senyum2 dan mulai jalan.
"Apaan tadi?!", desak Putri.

"Haha, gapapa"

"Yah gitu. Apaan? Ntar ta laporin ke istrinya kak Bim kalo kak Bim nakal".

"Hahaha ya sana."

Bima sesekali melihat putri dan tersenyum. Mungkin jika hatinya tidak menyerah dengan riana, dia bisa jatuh hati dengannya. Ia melirik ke arah jari manisnya yg telah melingkar sebuah cincin sebagai penanda komitmennya dengan riana. Satu wanita yang ia mau.

Sampai mereka ditempat tujuan, keduanya turun dan mulai masuk. Risih rasanya memasuki tempat seperti itu kembali tapi di sisi lain jika Bima tidak menemani, ia kuatir terjadi sesuatu hal yang akan putri sesali.

Putri masih mencari dimana teman-temannya sedangkan bima hanya mengekor saja. Ia mencoba melihat sampai 360 derajat, teman-teman yang dimaksud putri. Ada satu wanita yg melambaikan tangan dan sepertinya menunjuk ke putri. Bima segera memberitahu.

***

Di sana ada tujuh orang, tiga diantara adalah seorang wanita yang penampilannya mirip laki-laki dan yang lainnya adalah wanita. Kami berkenalan satu per satu.

Putri mulai bercakap dengan seseorang yang berpenampilan seperti laki-laki. Aku mulai risih melihatnya, sepertinya mereka sudah dekat sebelum ini. Rasanya ingin cepat-cepat ku tarik tangannya dan keluar dari tempat ini.

"Bima, kenapa ga minum?"

Salah seorang dari mereka yg tulen wanita bertanya.

"ini aja", sambil kutunjukkan botol mineral waterku.

"Okay".

"Kalian suka nongkrong di sini?".

"iya. Dari sorot matamu, sepertinya lu masih kaget?"

"Lumayan. Sejak kapan putri gabung?"

Pertanyaan terakhirku hanya ia jawab dengan senyuman sambil mengangkat kedua bahu.

Ku tahan sampai satu jam di sana dan meminta putri untuk segera balik. Ku tahan sampai kami keluar dari tempat itu.

Tengah perjalanan, kucoba tanyakan satu persatu semua yang mengganggu pikiran.

"Sejak kapan km main sama mereka?"

"Belum lama"

"Km tau itu ga wajar?"

"Tahu. Aku nyaman, lagian sekarang hal keg gitu bukan sesuatu yg tabu"

"Put, km bisa buat ibu jantungan"

"Aku tidak ingin dinasihati"

Bima diam dan fokus kembali ke depan. Ia tidak habis pikir kenapa putri sampai terjerumus ke sana.
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan v1masku memberi reputasi
2 0
2
Tell Me Why I Cant Stop Thinking of Ya
26-01-2020 21:20

Part 39

Pohon itu mahluk yang paling tidak pamrih, begitu kata andrea hirata. Tidak akan memilih siapa yang menanamnya, yang merawatnya bahkan yang merusaknya. Mereka akan tetap diam dan memberikan oksigen secara gratis untuk manusia. Coba bayangkan jika pohon itu pemilih seperti layaknya manusia ataupun hewan? Pertanyaan-pertanyaan gila kadang muncul begitu saja dipikiran. Sambil menyiram tanaman yang ditanam bunda, terlintas pemikiran2 yang sebenarnya tidak perlu repot2 dipikirkan.

Pagi-pagi terdengar suara pagar yang sedang dibuka dari luar. Ku perhatikan sampai terlihat batang hidungnya, siapa gerangan di awal pagi sudah datang.

"Pagi, ka Bima 😁", ucapnya dengan muka polos.

"Ngapain ke sini pagi-pagi, Put?"

"Kok gitu nanyanya? Gw boleh main?! "

Bima ketawa lihat ekspresi putri yg berubah jadi kesal.

"Boleh. Cuma tumben sekali kamu datang, pagi pula? Pasti ada maunya???", katanya sambil menaikkan alisnya.

"Ih, nethink gitu!"

"Tapi bener?", goda bima kembali.

"Emmm, dikit".

"Hahaha, yaudah masuk dulu".

"Gimana kalo duduk di luar aja?"

Tampaknya putri agak sedikit canggung mau masuk ke dalam.

"Hm, ya".

Yang terbesit dalam pikiranku tak lain adalah kebiasaannya yang selalu putri minta, jadi "Supir" pikirku.

"Kamu mau dianterin kemana?".

"Ko tau?", jawabnya dengan mata berbinar-binar.

"Apa lagi yg kamu minta kalo bukan minta anterin ya traktir".

"Hehe. Tp sebelumnya jangan kaget".

"Apaan?".

"Q mau ketemu temen. Lagi proses hehe".

"Trs kenapa ngajakin gw, enakan berdua saja. Kan jadi bisa ehem...", goda bima kembali.

"Sampah doang isinya tu kepala. Pertama pasti ga dibolehin, beda kalo sama kak bim. Kedua, q butuh kak bim. Q masih canggung".

"canggung?? Putri bisa canggung? Haha , ogah nanti jadi obat nyamuk doang "

"Ntar ta kenalin sama temen2ku deh. Hehe", bujuk putri.

"Nggak bisa, ntar bini gw marah".

"Hah??? Q ga pernah liat kak bim ma pacarnya".

"Haha. Gw ga pacaran, langsung nikah abis taaruf. Nih, kami baru nikah".

"Serius??!!!".

"Iya. Sorry ya nggak ngundang2. Soalnya kami pengin sederhana biar sama2 ga cape nyiapin atau pas pelaksanaan. Yg penting ijab qobulnya".

"Halu nih orang. Sekarang istri kak Bim dimana coba?"

"Jogja. Baru kemarin malem balik. Kita masih LDR-an".

"Serius?"

"Haha, 3000 serius"


Putri mulai memperhatikan jari2 Bima. Ada cincin yg memang melingkar di jarinya. Dia baru menyadarinya, entah sejak kapan. Dan tidak tahu kenapa, mendengar berita itu rasanya dada sesak dan mata mulai berair. Ia tahan-tahan sekuat tenaga.

"Selamat ya".

"Heem, terima kasih. Jadi kamu mau ditemenin jam berapa? "

"Nanti malem. Ntar ta kabari lagi. Yaudah gw pulang dulu."

"Hooh, hati2".

Putri pergi dengan senyum yg sedikit dipaksakan.

Bima tenang karena selama ini ia kira bahwa putri menyukainya. Agak canggung menyampaikan tentang statusnya kepada putri, tapi untungnya pikiran itu salah. Dia tengah dekat dengan teman sebayanya. Dan secara mengalir ia dapat menyampaikan bahwa ia telah menikah.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Tell Me Why I Cant Stop Thinking of Ya
13-01-2020 11:59
kwkwkw ente ngilang lagi brayyyyemoticon-Wakaka
0 0
0
Tell Me Why I Cant Stop Thinking of Ya
03-01-2020 22:31

Part 38

Pagi ini hujan pertama di bulan September, tepat ketika bidadari menapakkan kakinya ke kota dimana aku pulang. Jarang-jarang riana mau menyusulku sampai ke sini, tapi kali ini beda. Adakah pengaruh statusnya sekarang yang menuntut dia ingin mengurusku, atau karena rindu atau hanya aku saja yang kege-eran. Tak payah dipikirkan hal macam ini, aku selalu bersyukur bagaimanapun dia. Selama masih positif aku akan selalu mendukungnya walaupun dunia berkata lain.

Quote:"Sayang, aku ke toko dulu. Mau ngecek persediaan barang yang ada sekalian monitor. Kamu istirahat dulu aja, nanti kalo dah cukup, hubungi aku saja. Nanti aku jemput".

"Iya. Hati2".

"Okay".


Aku segera bergegas dan mengecup keningnya.

***

Kini tinggal riana seorang diri di apartment. Tadinya ia ingin sekali berbaring di tempat tidur tp setelah masuk apartment bima. Ia ingin sekali melihat-lihat semua yang ada di ruangan tersebut.

Peralatan cukup lengkap di berbagai sudut ruangan. Bunda berkata kalo bima sempat lama menempati apartment ini sewaktu ia masih awal merintis usahanya. Kalau dipikir2 saat itu berarti waktu mereka sudah putus. Kalau tidak salah saat itu dia sedang menjalin hubungan, tapi riana kurang paham karena pasca putus riana melepas sesuatu yang berbau bima, termasuk kabarnya.

Saat akan membuat teh, riana mengambil cangkir dan dia mengambil salah satu cangkir yang imut. Ia mencoba melihat lebih detail gelas tersebut dan ternyata bernama. Lulu.
Ia terdiam dan berpikir, apakah nama Lulu ini adalah lulu yang ia maksud. Riana meletakkan kembali cangkir itu dan menggantinya.

Rasa penasarannya semakin tinggi. Ia ingin melihat lebih jauh lagi, apakah ada hal lain tentang lulu ini. Ia masuk ke kamar dan membuka laci meja kerjanya. Ditemukan beberapa foto yg tertumpuk, ia melihat satu per satu foto bima yg sedang melakukan berbagai aktivitas di sini. Dan pada lembar2 terakhir ada foto orang lain bersama bima. Ia mulai ingat kembali, orang yg bersamanya memang wanita itu. Ia terus menyusuri kembali barang2 yang ada di sana. Ia mulai tergulai lemas ketika menemukan beberapa barang yg menandakan mereka sempat hidup berdua di kamar ini.

Menjelang jam makan siang, Bima sampai kembali di apartmentnya. Dari awal dia bergegas menyelesaikan segala urusannya. Dia ingin segera menemui riana. Bima masuk dan melihat istrinya sedang duduk di sofa sendiri, ia sangat bersalah karena meninggalkannya sendiri.

Quote:"Sayang, lagi ngelamun?", tanya Bima.

"Eh dah pulang?", jawabnya lemah.

"Kita cari makan siang yuk", ajak bima.

"Bim, gimana kalo kita ke rumah orang tua kamu saja. Aku tinggal di sana saja?".

"Di sini kamu sendirian ya? Baiklah kalo gitu, nanti kita pulang ke rumah".

Bima membawa barang2 yg dibawa riana untuk diangkut ke mobil. Mereka berdua melesat menuju tempat makan. Bima sedikit penasaran kenapa raut muka riana berubah dan ia juga merubah rencananya. Saat makan awalnya mereka masih diam saja, untuk mencairkan suasana akhirnya bima membuka obrolan ringan. Pembicaraan berjalan apa adanya, sampai riana akhirnya menanyakan sesuatu hal yg membuka bima tersedak.

Quote:"Kamu dulu tinggal di apartment sama wanita lain?".

Bima bertanya sekali lagi, dan benar apa yg ia dengar.

"Ia sempat."

"Apa kalian tinggal layaknya pasangan?".

"Iya."

"Kalian menikah?".

"Ri, saat itu aku sedang terluka dan ada seseorang datang. Tanpa pikir panjang aku melakukan banyak kesalahan di waktu itu".

"Maksudnya gara2 aku?"

"Bukan. Aku saja yg tidak bisa menghadapi masalah2 saat itu. Kamu ingat Bona kan? Dia mengaku kalau dia mengandung anakku dan kita harus putus. Tapi akhirnya ia mengaku kalau dia bohong."

"Hmm"

"Dan saat itu dari sisa2 perasaanku, lulu datang."

"Di apartment tadi aku berpikir tempat itu begitu memuakkan buatku karena tahu kamu banyak melakukan hal yang tidak seharusnya di sana. Aku sekarang merasa tidak tahu apapun tentang kamu
"

"Sayang, aku janji apapun yg kamu tanyakan tentang masa lalu akan aku jawab sejujurnya. Kita mulai semuanya dari nol. Aku memang bukan suami yang baik tapi aku akan berusaha untuk kita."

Riana mencoba membesarkan hatinya dan menerima bima dan masa lalunya ketika mereka sempat terpisah.

Sampai di rumah, bunda langsung menyambutnya dengan hangat. Ia tidak kaget menantunya datang ke sana karena bima memberikan kabar. Yang ia ingin tanyakan adalah alasannya.

Bima mengantarkan istrinya ke kamarnya. Setelahnya, ia dipanggil untuk menghadap bunda di ruang kerja ayahnya.

Bima menjekaskan apa yang terjadi. Sebagai laki2 menurutnya tak masalah seberapa kelam masa lalunya yang penting adalah saat itu dan esoknya. Namun, ia benar-benar tidak memahami perasaan wanita. Bunda menjelaskan seberapa terlukanya riana.

Setelah obrolan banyak akhirnya mereka keluar dan bersikap biasa. Bunda bilang kalau hari ini sampai besok ada acara kantor ayahnya dan ia juga akan mengajak kinan. Kinan ingin tinggal di rumah saja, namun beliau ingin ada seseorang yg menemaninya saat ayahnya sibuk mengobrol dengan rekan kerjanya. Akhirnya kinan mau. Agak sedikit ganjil kedengarannya. Namun riana hanya mengiyakan saja.

Malamnya bima mengajak untuk jalan2 tetapi riana menolak. Ia hanya ingin stay di rumah saja karena di luar pasti ramai. Ia duduk di sofa sambil menonton acara tivi. Bima mendekat dan menarik bahunya agar bersender di bahunya.

Quote:"Acara apaan?"

"Berita"

"Hmm"


Bima mengucup pipi dan hidung riana. Tapi riana menghalanginya dengan telapak tangannya.

Quote:"Sayang, gimana kalau kita tidur. Apa kamu nggak cape?"

"Heem, kamu bener. Aku tidur dulu ya, jangan lupa matiin tv nya".

Bima tersenyum melihat tingkah polos istrinya. Ia mematikan tv lalu menyusul istrinya ke kamar.

Bima memeluk istrinya dari belakang dan membalikannya ke hadapannya, "Sayang, bagaimana kalo kita melakukan hal yang biasa suami istri lakukan sebelum tidur? Hm?".

Riana menjawab dengan malu-malu karena dia merasa belum menyiapkan semuanya , "emmmm, jangan sekarang ya. Aku dah ngantuk dan pengin tidur".

Bima terus mendekapnya dan riana mencoba melepaskannya, namun bima sedikit jahil ia pura2 kehilangan keseimbangannya dan ambruk ke tempat tidur. Dengan susah payah riana melepas dekapan suaminya yg sedang becanda, "Ayo kamu keluar. Aku mau tidur", ucap riana dengan kesal bercampur malu. Ia menarik agar bima bangun dan tidur di luar. Karena merasa kasiha akhirnya bima berdiri.

Quote:"Sebelumnya, kasih ini", sambil menunjuk pipinya.

"Nggak, sana tidur".

"Ini dulu".


Riana mengalah dan ia mngecup pipi bima, tapi ia palah berbalik dan riana mengecup bibir suaminya. Bima membalasnya dengan intens dan mendorongnya ke tembok. Satu tangannya mematikan saklar listrik kamar. Dan bima mulai menggiringnya ke tempat tidur. Kini tangan mungil riana berada di leher bima, dan mereka saling menatap ke dalam matanya. Riana hanya pasrah ketika suaminya menanggalkan pakaiannya. Sedikit masih tersisa rasa kuatir bahwa itu akan sakit. Tubuhnya mulai menggeliat menerima respon bima. Dengan lembut, bima mencoba masuk. Mereka melakukan pelepasan bersama-sama. Dan mereka mengulanginya tiga kali dengan posisi yang sebaliknya.


Saat membuka mata, riana sudah tidak di sampingnya. Ia pun memanggil2 dan keluar ia dari kamar mandi dengan pakaian sudah lengkap.

Quote:"Kenapa ga ngajak2?"

"emmm, enak aja"

"Kan kita dah suami istri, haha."

"Jangan jadikan itu alasan terus ya. Sana mandi, bentar lagi bunda pulang".

"Iya... Iya..."


Bima senyum2 melihat istrinya malu-malu.

***

Riana menyiapkan sarapan roti panggang untuk bima. Beberapa kali ia harus terhenti karna bima terus mendekapnya dari belakang. Tanpa sadar bundanya sudah di rumah dan melihat kelakuan manja anaknya pada riana. Ia merasa lega karena sepertinya semua berjalan lancar.

"Ehem"

Riana dan bisa berbalik dan melihat bunda. Keduanya tampak kaget dan segera bima melepas dekapannya. Rianapun merasa malu.

Quote:"Lah gini kan enak dipandang."

"Eh, bunda dah pulang?"

"Udah, barusan. Bunda juga bawa makanan itu di meja."

"Siapppp".

"Nak riana balik ke Jogja jam berapa?"

"Nanti sore sekitar jam 5", jawab riana.

"Bima nganterin?"

"Belum bisa, Bun. Hari senin ada meeting penting."

"Oh. Kapan nih nak riana netap di Jakarta. Apa kalian tidak bosan LDR an terus dari pacaran. Apalagi kalian dah nikah, ga baik."


Keduanya diam. Hal ini sebenarnya sudah dibahas, dan akan melihat bagaimana ke depannya setelah beberapa bulan. Namun menjawab orang tua tidak sopan walaupun mereka ingin menjelaskannya. Keduanya cukup diam, mengiyakan dan senyum saja.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Tell Me Why I Cant Stop Thinking of Ya
02-01-2020 15:07
hajar terus partnya gan biar ga sepi lagi threadnyaemoticon-Toast
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Tell Me Why I Cant Stop Thinking of Ya
01-01-2020 20:13

Part 37

Hari pertama riana kembali bekerja, saat kedatangannya saja sudah membuat rame isi kantor. Semua menggodanya, ada juga yang memberi selamat, atau iseng-iseng menanyakan malam pertamanya, terkecuali erik yang hanya senyum melihat kedatangan riana. Dia paham apa yang erik rasakan, sudah lama menunggu bahkan ia sempat memberinya harapan, namun pada akhirnya ia kembali dan kembali lagi pada Bima.

Riana duduk dan mulai menyalakan komputernya. Ia mengecek beberapa berkas yang ada di mejanya.

"Ehemmm, yang pengantin baru. Mau dong diceritain malam pertamanya", tandas Jasmine, teman sekantornya.

"Hmmm, ratu gosip. Enyah.... Enyah...", jawabnya.

"Beneran ini cerita dong", keluhnya.

"Nanti saja, gw harus kerja rodi nih".

"Hahah, makanya cutinya jangan lama2. Numpuk tuh kerjaan".

"Biarin, sayang kalo ga diambil. Dah ah sana pergi", usir riana.


Ia melirik hpnya karna ada pesan masuk. Seperti biasa suaminya selalu menggodanya setiap pagi dan memberikan semangat yang kadang terdengar konyol. Kami sudah lama menikah tapi berasa baru pacaran.

Dengan telaten, riana mengecek kembali berkas2nya. Ia kerap sekali berteriak ke jasmine karena ketidakjelasan dokumen yang dibuat kawan sekaligus rekan kerjanya.

Quote:"Ini kenapa sih pengantin baru marah2 terus, biasanya jadi pada baik hati".

"Kamunya juga nyetor file masih belum finish".

"Sorry, sorry kalo ga ada bos emang gini jadi lengah".

"Haduhh".


"Makan siang dulu yuk, ntar lanjut lagi".

"Yaudah yuk lah".


Mereka segera ke kantin kantor dan memilih tempat duduk di pojokan. Jasmine mulai kepo tanya hal yang tadi pagi.

Quote:"Jadi gimana?", buru jasmine.

"Apaan?", tanya riana.

"Ah kamu mah pura2 ga inget, gw tanya yang keras atau gimana?".

"Hah. Okay".

"Jadinya?".

"Dia tidur di sofa dan aku di kamar".

"Ko bisa?".

"Aku lupa ngunci kamarku".

"WHAT?!!!!! Kebangetan".

"Nggak usah kaget gitu. Bima juga ga ngetok pintu, aku juga ketiduran dan otomatis kelupaan."

"Parah lu, ri. Tapi hari selanjutnya ga kan???", goda jasmine.

"Engga, tapi gw langsung dapet siangnya. Lu tau periode gw agak lama".

"Serius?"

"Heem".

"Suami lu sekarang dimana?"

"Balik Jakarta lah."

"Jadi lu masih virgin???"


Riana hanya mengangguk, dan itu sungguh membuat jasmine gemas.

Quote:"Sampe berapa lama?".

"Bisa satu, dua, tiga atau sabulan".

"Riana, sahabat terpolosku. Kamu segera nyusul sanah jangan lama2."

"Hei, hubungan itu ga harus buru2 kali. Semuanya akan terjadi pada waktunya".

"Ih, gw tambah gemas ma ibu yg satu ini!".

"Hahaha".

"Mending buruan deh, lu samperin laki lu sebelum diambil orang atau sebelum sama orang lain karna ketidakpekaan istrinya".


Diam-diam riana mulai memikirkan perkataan jasmine. Mungkin benar apa yang dikatakan temannya itu walaupun ia percaya kalau Bima tidak akan seperti itu. Tapi kembali ke kondratnya, dia tetap laki-laki tulen.


***


Pulang kantor, riana pergi ke pusat perbelanjaan. Dia menuju ke tempat baju tidur, ia ingin melihat lingerie2 seperti apa yang pas untuk dia.

Melihat satu persatu, rasanya ia merasa tidak cocok dengan pakaian seperti itu. Namun ia tetap ingin membuat suaminya senang. Akhirnya dipilihlah salah satunya,

Baru dipikirkan, orangnya sudah menelponnya.

Quote:"Sayang, lagi ngapain".

"Belanja".

"Emang beli apaan?"

"Mau tau aja"

"Ya harus tau dong. Eh, kenapa ga ada pemberitahuan kl kamu belanja. Kartu aku ga dipakai?".

"Engga, aku pakai uang aku sendiri".

"Ko gitu, pakai aja. Aku kerja kan buat kamu".

"Iya bawel. Oh ya, weekend ini aku ke Jakarta ya?".

"Senin kamu libur?".

"Engga".

"Jadi bolak balik gitu? Emang ga cape?"

"Nggak ah, kan naik pesawat pakai uang kamu hehehe".

"Oh".


"Eh, pakai kereta aja lah".

"Lebih lama dong?".

"Engga, aku lagi pengin naik kereta".

"Ya terserah kamu aja yang penting hati2 ya".

"Huum".

"Yaudah aku tutup dulu telpnya. Love you"

"Love you tooemoticon-heart "


Berdasarkan diskusi bersama, nantinya riana akan tinggal di apartmentnya. Mereka ingin quality time bersama tanpa gangguan.

Bima segera mengobrol dengan bundanya agar tidak salah paham. Ia sangat mengerti putranya walaupun ia ingin sekali melihat menantunya.

Quote:"Ka Bim, kak riana mau ke sini?", tanya kinan.

"Eh, bocah nguping aja".

"Nggwk nguping tapi kedengeran. Ajak ke sini aja napa? Aku kan juga kangen".

"Dah kalian berdua jangan berantem. Kak riana jauh2 ke sini buat nemuin kakak kamu. Mereka kan sudah berkeluarga, adek ngertiin ya".

"Hah, yasudahlah kalo bunda bicara gitu."

"Kakak, jangan lupa apartmentnya dibersihin dulu. Kamu dah lama ga make kan?"

"Siap bun emoticon-Cool "


***

Tiba hari Sabtu pagi, bima harus segera bergegas ke stasiun untuk menjemput istrinya. Di sana ia berdiri dengan beberapa driver taksi, bajaj, tukang ojek. Ia menunggu kadatangannya di depan gate tepat setelah pengumuman kereta yg riana tumpaki datang. Sekitar tujuh menit, sosok riana muncul dan bima segera melambaikan tangannya.

Quote:"Cape nyonya? Sini tasnya saya bawakan", ledek bima.

"Yuk capcus"

"Hmmm?", bima tersenyum dan melebarkan matanya sambil berkedip.

Rasanya riana salah menyampaikan sesuatu. Rasanya apa yg ia maksud dan yang bima tangkap berbeda emoticon-Malu .

"Ih, maksudnya kita segera balik. Pengin istirahat. Bukan itu".

"Itu apaa emoticon-Embarrassment ?", goda bima.

"Maksudnya bukan itu, yg kamu maksud emoticon-Nohope ."

"Emang aku mikir apaan emoticon-Big Grin ?".


Riana gemas menerangkan pada bima, seolah dia tidak tahu dan sekaligus sedang menggodanya. Pipinya berubah merah dan riana segera berjalan ke mobil.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 3 lainnya memberi reputasi
4 0
4
Tell Me Why I Cant Stop Thinking of Ya
01-01-2020 05:31

Part 36

Seminggu setelah pernikahan, riana dan Bima masih harus menempuh LDR. Bima masih harus mengurus bisnisnya di Jakarta. Tak banyak yang tahu kalau dia sudah menikah. Bukan untuk menutupi bahwa dia masih lajang, tp lebih ke prinsip mereka berdua yang tidak mau repot. Riana masih harus bekerja di kantornya. Banyak teman kantornya yang gemas dengannya karena tidak semua tahu acara pernikahannya. Mereka berdua belum memutuskan akan tinggal dimana agar bisa satu rumah, sementara mereka sama2 ingin menjalani dulu apa yang ada dihadapannya sekarang.

Hari ini bima mulai memasarkan propertinya ke luar negeri. Awalnya ia masih ingin mempelajari dulu, namun sekarang ia akan nekat karena ada permintaan pasar.


From Putri:
"Sudahkah anda menapakkan kaki di ibu kota?"

To Putri:
"Sudah anak bawel. Ada yg bisa dibantu?"

"Anda hutang traktir makan karena minggu kemarin aku g bisa nonton konser!".

"Haha, masih saja takut jujur sama mama ya".

"Pasti g diizinin. Pokoknya nanti jemput aku di studio jam 3 habis tu traktir!"

"Iya"

Bima tersenyum melihat tingkah putri yang mirip sekali dengan kinan. Ia seperti punya dua adik perempuan yang mempunyai sifat yang sama.


***

Teringat beberapa hari sebelumnya, pasca pernikahan. Baik bima maupun riana ingin memghabiskan waktu di luar kota, namun pihak keluarga riana memintanya agar tidak pergi2 dulu sampai akhirnya masa cuti riana berakhir.

Esok paginya saat bima sudah harus balik ke Jakarta, riana menyiapkan perlengkapan yang akan dibawa suaminya. Ia sangat telaten dalam menyusun satu per satu barang suaminya.

Bima mengendap-endap mendekati riana yang tengah fokus. Ia memeluk istrinya dari belakang.

Quote:"Ikut yuk", ajak bima.

"Kita udah bahas ini ya".

Bima hanya tersenyum sambil masih erat memeluk.

"Sayang, kalau kamu meluk aku terus kapan aku selesainya nyiapin barang kamu?", papar riana.

"Aku masukkin kamu juga ke koper ya", goda bima.

"Hmmm, kayaknya kamu setelah nikah jadi tambah manja ya....", protes riana.


Bima mulai mengecup tengkuk riana, riana mulai berbalik. Bima tersenyum dan mulai memagut bibir riana. Ia menuntunnya sampai di atas ranjang dan membaringkannya dengan pelan. Bima mulai turun ke leher dan mulai tersadar dan menelungkupkan kedua tangannya ke wajah bima.

Quote:"Sayang, aku masih merah", paparnya.

Seketika Bima terdiam, dan ia mulai sadar kembali.

"Masih? Kapan selesainya? Ini dah satu minggu sejak kita nikah", protes bima kecewa.

"Biasanya memang sekitar sepuluh hari", jelas riana.

"Okay. Kalo gitu temenin aku tidur bentar sayang".

"Bim, ini kamu belum selesai beberes dan ga enak juga sama orang rumah, pagi2 masih di kamar".

"Bentar, kali ini aja sebelum au berangkat".


Riana tidak bisa menolak permintaan suaminya yang sedang manja seperti ini. Mungkin setelah ini mereka harus berjarak kembali dan memendam rindu bersama.

Setelah suaminya tertidur, riana bangun kembali dan menyelesaikan packing. Ia lalu keluar dan melihat dinda yang tengah duduk menonton kartun.

Quote:"Din, nonton apaan?".

"Biasa, kak. Oh ya, hari ini kak bima balik Jakarta ya? ".

"Iya. Lagi tidur dulu orangnya".

"Aku besok pengin punya suami kaya kak bima juga".

"Hahaha, kenapa din? Banyak yg lebih keren dari dia"

"Dia keren, yang dipikirin kakak terus. Padahal udah kepisah dengan berbagai masalah tapi ujung2nya tetap ke kak riana."

"Hmmmm, Kak bima itu unpredictable man. Kakak ga nyangka juga akhirnya nikah sama dia. Kadang ia bisa dikendalikan, kadang ia berlaku semuanya tanpa diskusi terlebih dulu. Dia juga terlalu baik ma orang. Tapi ada saatnya dia bisa marah semarah2nya sampai keluar batas dan ga pakai akal sehatnya. "

" Masa kak? "

" Heem. Kamu pasti taunya pas dia minta bantuanmu buat ngasih tahu tentang kakak".

"Iya".

"Yang penting kita mau sama2 menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing".

"Nantinya kakak tinggal dimana?".


Riana hanya mengangkat kedua bahunya.

***

Bima melihat arlojinya, waktu sudah menunjukan setengah tiga. Ia ingat ada janji dengan putri. Segera ia beberes dan meninggalkan kantornya.

Putri melipat tangannya di atas dadanya sambil menggerakkan telapak kaki kanannya karena Bima tidak kunjung datang. Setengah 10menit berdiri akhirnya mobil Bima datang. Ia bergegas masuk ke mobilnya.

Quote:"Muka ditekuk-tekuk keg adonan, hha" ucap bima asal.

"Apaan nunggu lama banget!!".

"Hmmm?", bima berpikir sambil melihat arlojinya. "Cuma 10menit".


Putri diam dan hanya melihat ke depan. Bima menanyakan akan pergi makan kemana, dia bilang mau langsung pulang saja.

Sampai di lampu merah, mobil berhenti dan bima melihat ke arah putri. Ia melihat seatbeltnya belum terpasang.

Bima mulai mendekat dan memasang seatbeltnya, "Boleh ngambek tapi safety riding ia number one".

Mobil kembali melaju, masih tidak ada suara putri maupun bima. Sebetulnya puti masih merasa jantungnya berdegup lebih kencang dari biasa semenjak pemasangan seatbelt. Ia tidak menyangka akan merasakan hal yang berbeda. Ia diam2 melihat tangan bima, andai ia bisa menggenggamnya erat, bersandar di bahunya yang lebar dan bercanda sepanjang jalan. Ya, ia membayangkan mereka lebih dari sekedar teman.

Putri segera sadar dan membelalakan matanya, tanpa sadar ia membayangkan hal-hal yang tidak mungkin seperti itu. Ia tidak akan menyukai laki-laki yang ada di sampingnya. Sekali dia menyebalkan, maka ia akan tetap menjadi menyebalkan, tandasnya dalam pikirannya.

Quote:"Maaf ya, tafi aku memang telat karna semenjak aku tinggal ke jogja banyak sekali yg harus ku cek di kantor", ucap bima sambil menyetir.


Putri masih diam saja, memang harusnya ia tidak bersikap seperti ini pada bima. Lagian kenapa harus marah seperti ini, hal ini membuat rencananya hancur sendiri. Ego masih menguasai, rasanya terlalu memalukan kalau harus mengalah.

Sampai di rumah putri, ia masih menunduk dan belum menyadarinya. Segera bima mendekat ke putri untuk melepaskan seatbeltnya. Putri sempat kaget dan dia menahan napas, jantungnya kembali berdebar cepat. "Tidak mungkin!", serunya dalam hati.

Quote:"Aku langsung balik ke kantor lagi. Aku janji lain kali tidak akan telat", ucap bima sembari mengusap kepala putri.

Dengan lirih, putri menjawab "Huum, terima kasih".


Bima pun pergi, dan putri sedikit berpikir ada yang beda dengan bima tadi. Ia sepertinya memakai cincin, sebelumnya tidak pernah. Tapi ia lupa di jemari sebelah mana cincin yang tadi terpasang.
Diubah oleh bonesky
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan v1masku memberi reputasi
2 0
2
Tell Me Why I Cant Stop Thinking of Ya
31-12-2019 23:37

Part 35

Riana berjalan sambil tersenyum kepada anggota keluarganya yang masih tinggal di rumah. Sumringah rasanya wanita itu sekarang sudah resmi menjadi pendamping hidupku, wanitaku yang paling berharga. Walaupun ia masih bisa tersenyum dan menjawab satu per satu pertanyaan dan gurauan yang dilontarkan orang-orang, aku tahu ia sudah lelah dan ingin sekali istirahat. Aku kembali fokus mengobrol dengan ayah dan ayah mertua. Ini kali pertama kami bertiga mengobrol agak lama dan dengan topik random. Mungkin ini hal yang sama yang dilakukan oleh riana kepada saudara-saudaranya. Aku kembali menengok ke tempat riana semula di sela obrolan, namun dia sudah tak ada.

Setelah beberapa jam kemudian, obrolan kami selesai. Aku ingin bergegas bertemu dengan riana dan menanyakan tentang hari ini. Aku berjalan menuju kamarnya melewati orang-orang yang masih terjaga malam itu dengan lontaran2 kecil yang sempat membuatku sedikit malu. Ku tarik handle pintunya pelan, aku berhenti sejenak dan bergumam dalam hati, "Kenapa riana mengunci pintunya?".

Ku lepas handle pintunya dan berbalik badan ke ruang tengah. Di sana ada sofa kosong pas sekali untuk merebahkan badan. Hari ini sungguh melelahkan. Mata ku tutupi dengan lengan sebelah kananku, pencahayaannya terlalu cerah, ini sangat menyilaukan mata.

Aku masih mendengar langkah beberapa orang yang lewat sambil bergumam pelan tentang aku yang tidur di sofa, mereka sengaja tidak bertanya langsung dan membangunkanku karena melihat aku yang kelelahan.


***


"Bim bangun...... Bima..... Bangun...."

Sayup-sayup suara seseorang membangunkanku. Kalau mungkin sekarang adalah di rumah sendiri mungkin yang ku lakukan adalah mengunci pintu kamar dan melanjutkan tidurku yang baru sebentar.

Ngomong-ngomong tentang kunci, sepertinya orang yang membangunkanku sekarang adalah orang yang tega membiarkan suaminya tidur di sofa di malam pertamanya. Sungguh jauh sekali dari kata romantis.

Quote:"Bim, bangun...sudah pagi", ucapnya.

Aku mulai membuka mata dan menjawabnya, "Hmmm, ini sudah bangun, ri".
"Kamu ko tidur di luar?", ucapnya polos.


Seseorang menjawabnya sebelum aku membuka mulut, "Kamarnya di kunci cemana bisa masuk. Haha, kasian tuh pengantin baru".

Riana melihat tepat ke mataku dengan tatapan menusuk, aku benar-benar merasa terintimidasi. Yang jadi korban aku tapi sekarang aku yang harus disalahkan. Laki-laki memang tempatnya salah.

Quote:"Maaf, tadi malem ga enak mau bangunin kamu", jelasku.

"Tapi sekarang aku jadi orang yang paling disalahkan gara2 kamu tidur di sini", paparnya.

"Nggak usah dengerin orang lain, ini baru awalan. Yang penting kita sama2 ngertiin keadaan. Ga akan selesai kamu dengerin orang lain. Ini hidup kita".


Akhirnya riana mau menerima dan ia kembali seperti biasa. Mungkin hal-hal romantis seperti ini tidak akan terjadi tatkala pernikahan kami sudah lumayan lama. Gemas rasanya liat reaksinya. Lima tahun atau sepuluh tahun lagi mungkin ia akan mengatakan hal yang sama sekali ga ada manis2nya, mungkin dia akan bilang, "Biarin saja. Biar tahu rasa ngobrol terus sampe pagi". Akan kunikmati proses demi proses kehidupan kami berdua.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 4 lainnya memberi reputasi
5 0
5
Tell Me Why I Cant Stop Thinking of Ya
29-12-2019 02:25
Thank you gan, suka ama ceritanya!! Tetap semangat nulis ya
0 0
0
Lihat 1 balasan
Memuat data ...
1 - 0 dari 1 balasan
Tell Me Why I Cant Stop Thinking of Ya
27-12-2019 07:01

Part 34

Hari ini pernikahanku dan Bima berlangsung. Acaranya sangat sederhana dan private. Bima hanya mengajak keluarga dan teman dekatnya saja. Bagitupun aku, kami sama2 ingin tidak diributkan sana sini. Jujur aku menginginkan pernikahan yang seperti ini, beberapa minggu sebelum pelaksanaan Bima jadi sosok crewet karena dia ragu apakah aku benar-benar menginginkan acara yang begitu simple nya.


Tiba saat pengucapan janji pernikahan, Bima yang biasanya tenang berubah muka jadi sangat cemas. Ia menarik napas panjang dan mengontrol dirinya, bagiku itu adalah ekspresi termanis daei seorang Bima.

Selesai pengucapan janji, mukanya terlihat lega, bahagia dan mungkin jika tidak ada orang lain mungkin dia akan menjerit untuk keberhasilan dirinya. Aku ingin selalu melihat ekspresinya itu lebih sering lagi. Sekarang dia benar-benar lelakiku, satu-satunya yang aku andalkan di setiap kondisi.

Ada seseorang yang menangis di tengah-tengah kami. Dia terisak dan menahan agar tangisannya tidak terlalu keras. Dia menangis setelah kami resmi menjadi pasangan, tepat setelah itu. Dia adalah kinan. Gadis kecil yang selalu dimanjakan oleh Bima, hanya dia yang paling berharga. Dia menganggap setelah kami menikah maka ia akan kehilangan kasih sayang seorang kakaknya. Kini dia harus berbagi denganku. Ekspresi yang sama dengan Bima, suasana ini terasa menggemaskan buatku.

Bima melirikku dan aku pun mengangguk. Lalu dia mendekat ke Kinan dan memeluknya erat sambil berbicara tentang mereka. Orang-orang yang di sana hanya melihat dan tersenyum, mereka sangat memaklumi kondisi itu.

Kami lanjutan acaranya setelahnya yakni ucapan selamat dan makan bersama. Dinda memelukku dan aku tau air matanya sudah di ujung tapi ia tetap menahannya agar tida jatuh.


***


Acara pernikahan selesai, Bima masih asik ngobrol dengan ayah dan ayah mertuanya. Dinda dan kinan tampaknya sudah menyatu satu sama lain, mereka sudah lupa kesedihan kehilangan kakak2nya tadi. Aku ke kamar terlebih dahulu karena sudah sangat lelah.


Aku masuk kamar dan melihat sekeliling, semuanya nampak seperti tidak nyata. Aku dan Bima sama2 pernah punya impian seperti hari ini tapi diperjalanan kami dipisahkan oleh banyak masalah yang membuat mimpi ini sempat tidak mungkin terjadi tapi Bima selalu punya caranya sendiri untuk selalu menggoyahkan pendirianku sampai akhirnya aku kembali dengannya dan sampai ke tahap ini. Aku sangat bersyukur karena dia adalah Bima, orang yang menjadi pasangan seumur hidupku.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Tell Me Why I Cant Stop Thinking of Ya
24-12-2019 06:24

Part 33

Jam 4 pagi aku bangun, riana masih memelukku erat. Aku ingin selalu melihat wajah ini setiap bangun pagi. Rasanya tak tega membangunkan dia yang tertidur lelap. Ku tunggu beberapa menit sambil membelai rambutnya yg halus.

Riana mulai bergerak dan membuka matanya.

"Kamu dah bangun?", ucapnya.

"Heem. Kamu tidur lagi aja dulu. Nih.... (sambil memberikan guling padanya)".

"Ko guling?", tanyanya heran.

"Aku mau ke kamar mandi dulu".

Riana langsung menggambil dan segera berbalik badan.

"Satu bulan lagi kita nikah ya, biar tiap pagi bisa gini", ucapku sambil mengecup kepalanya dan bergegas ke kamar mandi.


***


Putri cukup kewalahan karena Bima tidak di sana. Entah sejak kapan ia mulai ketergantungan dengan dia, padahal sebelumnya ia lebih nyaman sendiri. Ia mulai kesal karena tidak ada yang mengantarnya atau melindungi dia dari ibunya.

Hari ini dia ingin sekali keluar bareng teman-temannya buat nonton konser. Ia bingung alasan apa yang harus ia pakai agar mamanya memgizinkan.


Ia mulai mencari kontak Bima dan mengetik perihal masalahnya. Tinggal menekan tombol kirim tapi rasanya bimbang untuk mengirimkannya. Susah untuk menjelaskannya tapi ia butuh. Ia menghitung cukup lama sampai akhirnya jempol kanannya tak sengaja menekan tombol kirim. Ia langsung mematikan layar hp dan menaruhnya di bawah. Penasaran balasan apa yang akan ditulis oleh bima.

Beberapa kali ia menengok layar HPnya tapi tidak ada pesan yang masuk. Ia kesal karena bima tak membalasnya.

Putri keluar kamar dan bergabung bersama mamanya. Ia mencoba keras minta izin tapi keberanian dirinya selalu luruh, dan lidah seolah kaku dan membelok untuk membahas hal lain. Semakin kesal ia dengan bima karna tidak ada balasan apapun. Ia berjanji akan membalas perlakuan bima ketika nanti sudah pulang.

***
Bima balik dari kamar mandi dan melihat riana yang masih betah di balik selimut.

Quote:"Aku nanti balik Jogja buat ngurusin kerjaan ya", ucap Bima.

Riana pun menjawab dengan nada datar, "Ia silahkan mau kemana saja terserah kamu. Seperti biasa kan, usai kamu mati2an dapetin abis itu ditinggalin".

"Sayang, bukannya kamu juga pulang?".

"Aku masih ada 1 meeting lagi, tadi erik baru ngasih tau karena klien minta dipercepat saja prosesnya. Jadi aku harus nyiapin dokumennya".

"Ya disiapkan dqn segera selesaikan. Aku tunggu kamu pulang. Atau kita kimpoi dulu??? ".

"Maunya..."

"Kamu ga mau?", goda bima.

"serah, aku mau siap2".

"Terserahnya cewe maksudnya iya kan. Oh ya, sayang aku langsung balik sekarang saja ya ngambil barang di hotel terus ngejar kereta".

"Oh ya, aku nanti bareng erik rapatnya kemungkinan kita masih nginap 1malam paling lama".


Bima mendekat dan mengecup sisi mata riana, "Ini milikku jangan sampai orang lain menyentuhnya". Selanjutnya ia mengecup satu sisi mata riana lagi lagi sambil mengatakan hal yang sama, lanjut ke hidung, kedua pipi dan bibir.

Riana hanya tersenyum dan memeluk erat Bima, "Terima kasih, Bim".

Bima mengiyakan saja tanpa menanyakan alasannya.
profile-picture
profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan 2 lainnya memberi reputasi
3 0
3
Tell Me Why I Cant Stop Thinking of Ya
16-12-2019 06:08

Part 32

Hujan deras mengguyur bumi nan lama tak tersentuh air. Bau tanah lekat sekali terendus di indra penciuman. Banyak berubah kota yang beberapa bulan lalu ini ku kunjungi ini. Berbagai perubahan infrastruktur sudah mulai merubah tatanan kota. Nampak semakin modern tapi tetap menampilkan kesan retronya. Suasana ini yang tak ku dapat di ibu kota.

Aku masih menginginkan riana, sama seperti sebelum-sebelumnya. Rasanya masih tidak terlalu percaya jika rasa memiliki ini hanya sepihak. Aku ingin berlari dan memastikannya lagi, walaupun aku tahu jawaban yang kudapat pasti sama.

Jika bisa, aku ingin jatuh hati lagi dan melupakan semua pikiran yang enggan beranjak dalam benak.


Pikiranku semakin kalut, aku sudah tidak bisa menahan diri untuk sekali lagi memastikan apa yang riana tadi bicarakan adalah isi hatinya.

Segera ku ambil jaket dan keluar dari kamar hotel. Hari menjelang tengah malam, entah kendaraan apa yang nanti bisa ku dapat yang penting adalah bisa bertemu dengan riana.

Aku hanya akan melakukan hal yang ingin ku lakukan tanpa menahan-nahannya lagi.

Lokasi hotel riana aku tahu, hanya nomor kamarnya. Awalnya aku akan tanya langsung ke dia tapi kuurungkan. Untuk saat ini aku minta tolong Dinda untuk menanyakannya agar ia riana tidak curiga.

Aku sampai di hotel tempat ia menginap pukul 01.00 pagi. Aku mulai naik lift menuju kamarnya. Sampai di depan kamarnya, bel langsung ku pencet. Aku paham aku mengganggu waktunya.

Riana membuka pintu dengan muka yang tidak terdefinisikan olehku. Yang pasti ia kaget karna aku mengunjunginya di jam sepagi itu.

"Bim, kamu ngapain?", tanya riana masih dengan rasa penasaran dan terkejut.

Aku tidak menjawab apapun dan hanya menatap matanya. Riana langsung menyuruhku masuk karena merasa tidak enak ada yang bertamu jam segitu.

Riana menutup dan mengunci pintunya. Setelah berbalik, langsung ku raih wajahnya. Aku menciumnya tanpa persetujuannya, ia tidak merespon dan masih terlihat syok.

Aku berhenti dan menatapnya. Aku siap untuk ditampar
, dicaci dan dimaki.

Riana menatapku, mengalungkan tangannya ke leherku dan mengecup bibirku. Sekarang giliran aku yang kaget.

Aktivitas kami berlanjut sampai akhirnya ku rebahkan riana ke atas tempat tidur dengan hati-hati. Ku rapikan rambut yang menutupi wajahnya.

"Kita berhenti sampai di sini. Nanti kamu kesakitan, sayang".

Riana mengangguk. Ku dekap ia erat-erat dan kami mulai tertidur.


profile-picture
profile-picture
pulaukapok dan v1masku memberi reputasi
2 0
2
Tell Me Why I Cant Stop Thinking of Ya
29-11-2019 23:31
Quote:Original Posted By adjilazuardi5
kok belum update sih bang

Udah gan hehe


Quote:Original Posted By yusufchauza
Masih mrnunggu update'an nya emoticon-Cool


Sudah 1 gan hehe

0 0
0
Halaman 1 dari 7
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
am-i-indigo
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Stories from the Heart
Heart to Heart
Copyright © 2021, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia