- Beranda
- Berita dan Politik
Empat Masalah Bagi-Bagi Sembako Monas yang Picu Kontroversi
...
TS
Dejavu.Cucud
Empat Masalah Bagi-Bagi Sembako Monas yang Picu Kontroversi
Acara bagi-bagi sembako di Monas menyisakan beragam persoalan, dari mulai masalah izin hingga jatuhnya korban jiwa. Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno pun berjanji akan memanggil panitia kegiatan yang diselenggarakan oleh Forum Untukmu Indonesia (FUI) itu.
Berikut empat persoalan acara bagi-bagi sembako yang memicu banyak kritikan.
1. Sampah Berserakan
Sampah berserakan mengotori taman Monas, Jakarta, Ahad (29/4) pagi.
Sampah-sampah yang berserakan tersebut merupakan sisa dari acara pembagian sembako yang berlangsung pada Sabtu (28/4).
Sebelumnya, Forum Untukmu Indonesia (FUI) menggelar acara bagi-bagi sembako di lapangan Monas pada Sabtu (28/4).
2. Korban Jiwa
Sandiaga mengatakan, acara pembagian sembako di lapangan Monas menewaskan dua anak. Kedua anak tersebut merupakan warga Pademangan, Jakarta Utara.
"Fakta kejadian telah terjadi dan kami sangat prihatin. Keduanya warga Pademangan," kata Sandiaga di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (30/4) malam.
Korban diketahui bernama AR dan MJ. Keduanya, yang berusia 12 tahun dan 10 tahun, harus kehilangan nyawa diduga setelah berdesak-desakan.
Sandiaga menyatakan akan ada investigasi lanjutan berkaitan dengan penyebab kematian kedua korban pada saat terjadinya acara tersebut.
Namun, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono, membantah dua anak korban tewas yang ditemukan di sekitar Monas pada Sabtu (28/4) lalu akibat mengantre sembako.
Argo pun menyebut salah satu korban, yakni MR, memiliki keterbelakangan mental.
"Setelah kita tanya dokter yang jaga, yang bersangkutan kekurangan cairan atau dehidrasi dan suhu badan tinggi.
Menurut keterangan orang tua korban, korban ada riwayat keterbelakangan mental," papar Argo saat ditemui di Mapolda Metro Jaya, Selasa (1/5).
Pernyataan polisi itu disangkal oleh tetangga korban. Ketua RW 11 Pademangan Barat, Jakarta Utara, Andi Pane, mengatakan, korban MJ memang datang ke Monas untuk menukarkan kupon.
Berdasarkan cerita teman-teman MJ, dia menerangkan, korban memegang kupon dan ikut antre.
Saat sedang antre, korban terjebak di tengah kerumunan sehingga mengalami sesak napas dan hampir pingsan.
Kemudian, Satpol PP membawa korban ke tempat terbuka. Karena tidak kunjung sadar, dia menuturkan, korban akhirnya dirujuk ke RS Tarakan dan meninggal di sana.
Andi menerangkan, orang tua korban mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui anaknya memiliki kupon.
Bahkan, orang tua korban juga tidak mengetahui bahwa korban pergi ke Monas untuk menukarkan kupon tersebut.
3. Izin Pembagian Sembako
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengaku tidak mengetahui adanya rencana pembagian sembako oleh panitia yang dilaksanakan pada Sabtu (28/4).
Pembagian sembako itu menyebabkan kericuhan dan sampah yang bertebaran di Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat.
"Panitia tidak menjelaskan perkiraan jumlah massa yang mau dihadirkan, ternyata sekitar pukul 11.15 WIB jumlah massa yang datang sudah sekitar 100 ribu orang, " kata Wali Kota Jakarta Pusat Mangara Pardede di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (30/4).
Melihat situasi seperti itu, Mangara yang mengaku bersama Kapolres dan Kepala Bagian Operasional (Kabag Ops) Jakarta Pusat serta Dandim langsung mengambil tindakan untuk menutup beberapa pintu masuk menuju Monas dan membuka pintu keluar yang ada di sisi dekat kantor Pertamina.
4. Catut Logo Pemprov
Panitia dari Forum Untukmu Indonesia yang melaksanakan pembagian sembako yang ricuh di lapangan Monumen Nasional (Monas) pada hari Sabtu (28/4) mencatut logo Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Hal itu diungkapkan oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno.
"Pelanggaran pertama, panitia menggunakan logo resmi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tanpa izin.
Jadi, saya ingin garis bawahi bahwa ini bukan event Pemprov DKI," kata Sandiaga setelah bertemu dengan panitia Forum Untuk Indonesia di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (30/4).
Kedua, pelaksanaan kegiatan tidak sesuai dengan kesepakatan awal, yaitu ada pembagian sembako.
Menurut Sandiaga, hal tersebut sudah tidak disetujui dari awal oleh Pemprov DKI.
"Ketiga bahwa panitia tidak bertanggung jawab kepada kebersihan taman dan prasarana serta kegiatan di sekeliling area Monas," kata Wagub.
Keempat, tentunya kenyamanan dari pengunjung, terjadi penumpukan pengunjung yang tidak diantisipasi dengan baik dan tidak terkoordinasi dengan baik.
Terakhir, kata Sandiaga, panitia tidak dapat berpartisipasi aktif dalam menjaga ketertiban.
sumber
Berikut empat persoalan acara bagi-bagi sembako yang memicu banyak kritikan.
1. Sampah Berserakan
Sampah berserakan mengotori taman Monas, Jakarta, Ahad (29/4) pagi.
Sampah-sampah yang berserakan tersebut merupakan sisa dari acara pembagian sembako yang berlangsung pada Sabtu (28/4).
Sebelumnya, Forum Untukmu Indonesia (FUI) menggelar acara bagi-bagi sembako di lapangan Monas pada Sabtu (28/4).
2. Korban Jiwa
Sandiaga mengatakan, acara pembagian sembako di lapangan Monas menewaskan dua anak. Kedua anak tersebut merupakan warga Pademangan, Jakarta Utara.
"Fakta kejadian telah terjadi dan kami sangat prihatin. Keduanya warga Pademangan," kata Sandiaga di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (30/4) malam.
Korban diketahui bernama AR dan MJ. Keduanya, yang berusia 12 tahun dan 10 tahun, harus kehilangan nyawa diduga setelah berdesak-desakan.
Sandiaga menyatakan akan ada investigasi lanjutan berkaitan dengan penyebab kematian kedua korban pada saat terjadinya acara tersebut.
Namun, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono, membantah dua anak korban tewas yang ditemukan di sekitar Monas pada Sabtu (28/4) lalu akibat mengantre sembako.
Argo pun menyebut salah satu korban, yakni MR, memiliki keterbelakangan mental.
"Setelah kita tanya dokter yang jaga, yang bersangkutan kekurangan cairan atau dehidrasi dan suhu badan tinggi.
Menurut keterangan orang tua korban, korban ada riwayat keterbelakangan mental," papar Argo saat ditemui di Mapolda Metro Jaya, Selasa (1/5).
Pernyataan polisi itu disangkal oleh tetangga korban. Ketua RW 11 Pademangan Barat, Jakarta Utara, Andi Pane, mengatakan, korban MJ memang datang ke Monas untuk menukarkan kupon.
Berdasarkan cerita teman-teman MJ, dia menerangkan, korban memegang kupon dan ikut antre.
Saat sedang antre, korban terjebak di tengah kerumunan sehingga mengalami sesak napas dan hampir pingsan.
Kemudian, Satpol PP membawa korban ke tempat terbuka. Karena tidak kunjung sadar, dia menuturkan, korban akhirnya dirujuk ke RS Tarakan dan meninggal di sana.
Andi menerangkan, orang tua korban mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui anaknya memiliki kupon.
Bahkan, orang tua korban juga tidak mengetahui bahwa korban pergi ke Monas untuk menukarkan kupon tersebut.
3. Izin Pembagian Sembako
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta mengaku tidak mengetahui adanya rencana pembagian sembako oleh panitia yang dilaksanakan pada Sabtu (28/4).
Pembagian sembako itu menyebabkan kericuhan dan sampah yang bertebaran di Monumen Nasional (Monas), Jakarta Pusat.
"Panitia tidak menjelaskan perkiraan jumlah massa yang mau dihadirkan, ternyata sekitar pukul 11.15 WIB jumlah massa yang datang sudah sekitar 100 ribu orang, " kata Wali Kota Jakarta Pusat Mangara Pardede di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (30/4).
Melihat situasi seperti itu, Mangara yang mengaku bersama Kapolres dan Kepala Bagian Operasional (Kabag Ops) Jakarta Pusat serta Dandim langsung mengambil tindakan untuk menutup beberapa pintu masuk menuju Monas dan membuka pintu keluar yang ada di sisi dekat kantor Pertamina.
4. Catut Logo Pemprov
Panitia dari Forum Untukmu Indonesia yang melaksanakan pembagian sembako yang ricuh di lapangan Monumen Nasional (Monas) pada hari Sabtu (28/4) mencatut logo Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Hal itu diungkapkan oleh Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno.
"Pelanggaran pertama, panitia menggunakan logo resmi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tanpa izin.
Jadi, saya ingin garis bawahi bahwa ini bukan event Pemprov DKI," kata Sandiaga setelah bertemu dengan panitia Forum Untuk Indonesia di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (30/4).
Kedua, pelaksanaan kegiatan tidak sesuai dengan kesepakatan awal, yaitu ada pembagian sembako.
Menurut Sandiaga, hal tersebut sudah tidak disetujui dari awal oleh Pemprov DKI.
"Ketiga bahwa panitia tidak bertanggung jawab kepada kebersihan taman dan prasarana serta kegiatan di sekeliling area Monas," kata Wagub.
Keempat, tentunya kenyamanan dari pengunjung, terjadi penumpukan pengunjung yang tidak diantisipasi dengan baik dan tidak terkoordinasi dengan baik.
Terakhir, kata Sandiaga, panitia tidak dapat berpartisipasi aktif dalam menjaga ketertiban.
sumber
jokohadiningrat memberi reputasi
1
1.3K
14
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
695.5KThread•59.1KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya