alexa-tracking
Kembali ke Versi Lama
News
Batal
KATEGORI
link has been copied
1024
1024
KASKUS
51
244
4.79 stars - based on 19 vote 5 stars 0 stars
https://www.kaskus.co.id/thread/5aab8b9e5c779856458b4576/sejarah-teosofi-di-indonesia
16-03-2018 16:17
Sejarah Teosofi di Indonesia
Past Hot Thread
Sekapur Sirih...
Kita pasti sering mendengar mengenai istilah pluralisme atau keberagaman. Paham mengenai keberagaman sudah diajarkan sejak kita menginjak sekolah dasar. Para penyebar paham ini mengatakan setiap agama diposisikan memiliki kebenaran yang sama, semua menjanjikan kebaikan, membawa keselamatan, mengajarkan kehidupan penuh kasih sayang, dan sebagainya.

Pemahaman ini selanjutnya menafikan kebenaran absolute dari sebuah agama demi mencapai kehidupan bersama yang toleran. Ketika sebuah agama dianggap memiliki nilai kebenaran yang sama dengan agama lain maka hakikat kebenaran itu sendiri pada gilirannya menjadi tidak masuk akal dan menimbulkan perdebatan. Di antara pandangan yang berasas demikian pada era ini antara lain diwakili dengan berkembangnya pluralisme agama. Sementara pada masa lampau, paham yang serupa telah disebarluaskan oleh kelompok Teosofi.

Paham teosofi ini menganggap bahwa semua agama memiliki titik persamaan kebenaran. Dalam menjelaskan paham kesamaan agama ini Teosofi sendiri berusaha mengukuhkan posisinya. Teosofi mengklaim bahwa ia berada di atas semua kebenaran agama tersebut. Di satu sisi ajaran theosofi berusaha mengembangkan paham kesamaan dari semua agama dan menjalankan persaudaraan dengan mengabaikan perbedaan agama tersebut. Theosofi ini memiliki kaitan erat dengan organisasi yang dimotori kaum Yahudi yang bernama Freemasonry. Di Hindia Belanda kelompok theosofi ini awalnya bernama Nederlandsch Indische Theosofische Vereeniging (Perkumpulan Theosofi Hindia Belanda) yang merupakan cabang dari perkumpulan theosofi yang bermarkas di Adyar, Madras, India. Pada masa pergerakan Nasional sendiri Teosofi banyak berperan penting, terkait dengan berdirinya organisasi-organisasi bercorak Nasionalis pada masa itu. Bahkan Ir. Soekarno banyak mengambil ajaran Teosofi untuk diterapkan dalam kehidupan berbangsa.


Quote:
TEOSOFI

Sejarah Teosofi di Indonesia
Simbol Teosofi

Teosofi berasal dari bahasa Yunani Theosophia yang berarti kebijaksanaan illahi. Teosofi merupakan sistem filsafat yang bertopang kepada pengalaman batiniah dan mistik secara lebih terperinci. Teosofi tidak tidak saja berhubungan dengan ketuhanan, tapi juga kearifan, kehidupan alam roh dan juga alam gaib. Paham ini menganggap bahwa semua agama itu sama telah ada sejak lama. Setiap agama diposisikan memiliki kebenaran yang sama, semua menjanjikan kebaikan, membawa keselamatan, mengajarkan kehidupan penuh kasih sayang, dan sebagainya. Pemahaman ini pada giliran selanjutnya menafikan kebenaran absolute dari sebuah agama demi mencapai kehidupan bersama yang toleran.

Gerakan Teosofi didirikan pertama kali di New York, Amerika Serikat pada 1875 oleh seorang perempuan bangsawan keturunan Rusia, Helena Petrovna Blavatsky, yang dibantu oleh dua orang Amerika bernama Henry Steel Olcott dan W.Q Judge. Segera setelah organisasi tersebut berdiri, H.S Olcott diangkat menjadi presiden perkumpulan yang kemudian diberi nama Theosophical Society (TS). Gerakan ini mewajibkan anggotanya membuat pikiran merdeka dan berkerja demi perubahan rakyat yakni lewat cara batin untuk melawan hawa nafsu. Menurut mereka agama konvensional tidak lagi memiliki pengaruh.
Sejarah Teosofi di Indonesia
Helena P Blavatsky

Melihat sifat gerakannya, TS merupakan suatu gerakan Neo-Hindu movement yang terinspirasi mistisme-esosteris Yahudi bernama Kabbala dan Gnosticism, suatu ilmu rahasia keselamatan serta bentuk-bentuk okultisme barat. Karena sifat dan cakupan Teosofi yang condong pada pemikiran mistik timur, maka pada 1879 pusat TS dipindahkan dari New York ke Adyar di Madras, India.

Memasuki 1895 terjadi babak baru dalam tubuh TS ketika tokoh baru, Dr. Annie Besant muncul. Karena tokoh inilah gerakan gerakan Teosofi perlahan mulai memperlihatkan pengaruhnya tidak saja di India, tetapi juga di dunia, termasuk di Hindia Belanda. Berkat kepemimpinan Annie Besant gerakan Teosofi melebarkan sayap ke seluruh dunia. Satu yang menjadi daya tarik utama adalah kepandaian Annie Besant dalam memadukan prinsip kebatinan Timur dengan corak pemikiran esoteris Barat.

Di bawah pimpinan Annie Besant, TS mulai melebarkan sayap organisasinya ke dalam berbagai bidang seperti agama, pendidikan, sosial dan kemudian juga politik, di samping bidang utamanya adalah kebatinan. Pada tahun 1896 tercatat sebagai tahun penting gerakan Teosofi internasional, yaitu tercapainya rumusan pasti tujuan utama dan landasan Gerakan Teosofi. Tujuan tersebut berbunyi :
1. Membentuk suatu inti dari persaudaraan Universal kemanusiaan, tanpa membedaan ras, kepercayaan, jenis kelamisn, kasta ataupun warna kulit.

2. Mengajak mempelajari perbandingan agama-agama, filsafat, dan ilmu pengetahuan.

3. Menyelidiki hukum-hukum alam yang belum dapat diterangkan dan menyelidiki tenaga-tenaga yang masih tersembunyi dalam manusia.


Quote:Gerakan Teosofi di Indonesia Pada Masa Pergerakan Nasional
Gerakan Teosofi di Indonesia pertama kali didirikan di daerah Pekalongan, Jawa Tengah pada tahun 1883, 8 tahun setelah pendirian gerakan ini di Amerika. LojiTeosofi di kota kecil ini dipimpin seorang bangsawan Eropa bernama Baron van Tengnagel. Gerakan Teosofi baru mulai berkembang pada awal abad ke 20, dimana kongres Teosofi pertama di lakukan di Yogyakarta pada 1907. Kongres pertama ini membahas perlu tidak mendirikan gerakan Teosofi yang merupakan perkumpulan Loji.

Setelah beberapa kongres yang diadakan akhirnya, pada april 1912 organisasi Teosofi mandiri di Indonesia resmi didirikan dengan nama Nederlandsch Indische Theosofiche Vereeniging (NITV), organisasi ini diakui secara sah sebagai cabang ke 20 dengan presidennya D. Van Hinloopen Labberton. Nantinya Labberton inilah orang yang berperan besar dalam perkembangan gerakan Teosofi di Indonesia. Pada 2 november anggaran dasar NITV disetujui pemerintah Hindia Belanda pada 2 November 1912. Dengan demikian NITV menjadi organisasi berbadan hukum dan pusat NITV ditetapkan di Batavia.

Untuk menyebarkan ajaran Teosofi, NITV menggunakan strategi propaganda salah satunya menyebarkan propaganda melalui seni jawa yaitu wayang, wayang pada masa itu dijadikan sala satu mata acara yang cukup penting dalam setiap pertemuan Teosofi. Berkat Propaganda yang gencar lewat wayang, orang Indonesia terutama Priyayi Jawa semakin banyak yang mengikuti gerakan ini. Selain propaganda lewat wayang, selama 1914 juga sering diadakan propaganda melalui ceramah.

Teosofi sendiri memiliki pandangan yang cukup sinis terhadap eksistensi ajaran agama. Ajaran theosofi senantiasa menekankan urgensi persaudaraan antar manusia tanpa memandang agama, ras, jenis kelamin, dan perbedaan yang bersifat manusiawi lainnya. Agama dalam posisi ini dianggap sebagai salah satu pemantik konflik, bukan hanya konflik antar agama bahkan umat seagama pun juga mengalaminya. Perbedaan ajaran antar agama maupun perbedaan pendapat antar umat seagama seringkali diposisikan sebagai sumber konflik utama.

Salah satu tokoh pribumi terkenal yang masuk organisasi Teosofi adalah Dr. Radjiman Wedyoningrat. Suasana kebudayaan yang tampak terombang-ambing telah membawa Radjiman memasuki perkumpulan Teosofi. Ia kemudian mendirikan organisasi yang menandai kebangkitan nasional yaitu Budi Utomo (BU). Ajaran teosofi banyak mempengaruhi BU, banyak anggota BU yang berlatar belakang Teosofi. Antara lain Radjiman Wedyoningrat yang menjabat sebagai ketua, Mangkunegara VII, Cipto Mangunkusumo, dll. BU sendiri adalah organisasi yang bersifat Teosofis dan agnostik.

Dari BU kemudian lahir tokoh-tokoh nasional radikal seperti Cipto Mangunkusumo dan Soewardi yang tidak puas dengan arah gerakan BU akhirnya mereka bergabung dengan Idische Partij yang dibentuk oleh Douwes Dekker yang juga anggota gerakan Teosofi.

Munculnya Nasionalisme dapat dikaitkan dengan gerakan Teosofi. Dalam gerakan Teosofi tampak ada upaya untuk menyerap nilai-nilai budaya barat demi mengangkat budaya asli yang tidak bisa ditinggalkan, meskipun keduanya tidak dapat disamakan. Sehingga timbul sikap saling menghargai dan menghormati. Paduan keduanya itulah yang pada akhirnya menimbulkan sesuatu yang baru, dimana salah satunya bermuara pada munculnya Nasionalisme. Watak Nasionalis ini pada masanya menimbulkan ide menciptakan lembaga tandingan yang mengarah pada gerakan nasionalisme nonkooperatif. Salah satunya lahirnya PNI.

Pamor, posisi dan pengaruh organisasi Partai Nasional Indonesia yang dipimpin Ir.Soekarno tampak semakin besar tersebar ke seluruh Indonesia, organisasi Nasionalis ini mulai merebut pengaruh yang besar di kalangan masyarakat. Berkat propaganda-propaganda gencar yang berisi keinginan untuk memperoleh kemerdekaan dengan usaha sendiri. Ini telah memperkuat opini publik terhadap tujuan PNI yang dirasa dapat membawa suatu zaman baru dalam pikiran dan perasaan orang jawa.

Menghubungkan gerakan Teosofi dengan PNI ini antara lain anggapan bahwa keduanya sama-sama memiliki anggota yang berasal dari kaum priyayi dan intelektual Jawa masa itu. Diketahui bahwa beberapa anggota PNI juga berasal dari lingkungan teosofi. Sehingga ketika pada 1929 gerakan Teosofi berada dalam masa puncak perpecahanya, sementara kandidat PNI telah berjumlah 10.000 orang. Kemungkinan pada saat itu banyak anggota NITV, yang menyebar ke organisasi politik tersebut.

Gerakan Teosofi di Indonesia mengalami kemunduran pada tahun 1930-an. Hal ini dipicu oleh berdirinya organisasi-organisasi nasionalis. Situasi pergerakan pada masa itu mengisyaratkan hanya organisasi yang bersifat politiklah yang lebih relevan. Sebagai organisasi yang bersifat sosial budaya, gerakan Teosofi harus menerima kenyataan ini. Terlihat adanya kecenderungan makin konservatif akibat sikap paternalistik yang kian tak dapat diterima. Sehingga banyak priyayi yang lari dari organisasi bercorak asosiasi ini dan bergabung dengan organisasi yang lebih bercorak nasionalisme Indonesia.


Quote:Hubungan Gerakan Teosofi dan Ir. Soekarno
Jika menilik sepak terjang Soekarno pada masa pergerakan Nasional dapat kita hubungkan dengan gerakan Gerakan Teosofi. Soekarno bukan merupakan.anggota gerakan Teosofi, namun berkat keterlibatan ayahnya yang merupakan anggota gerakan tersebut, ia dapat menempa keintelektualannya lewat gerakan Teosofi. Soekarno menghabiskan waktu berjam-jam di perpustakaan Theosophical Societydimana ia memperoleh akses karena keanggotaan ayahnya. Disanalah ia bergumul dengan pemikiran tokoh-tokoh politik termasyhur dalam sejarah.

Pendirian Partai Nasional Indonesia juga tidak dapat dilepaskan dari ajaran Teosofi. Nasionalisme inilah yang menjadi salah satu dasar pendirian PNI. Karena gerakan Nasionalisme seperti yang disebutkan sebelumnya, memang berasal dari ajaran Teosofi sehingga diketahui juga bahwa beberapa anggota PNI juga berasal dari lingkungan teosofi. Karena banyak anggota teosofi yang memutuskan pindah ke organisasi bercorak nasionalis ini, dikarenakan perpecahan di dalam tubuh gerakan Teosofi ini sendiri.

Hubungan dekat Ir.Soekarno dengan Teosofi semakin terlihat jelas saat pelarangan Organisasi Secret Society Freemansonry dan beberapa organisasi serupa pada 1961, pada saat itu Freemasonry dilarang karena dianggap tidak sesuai dengan identitas nasional. Namun Organisasi Teosofi yang sebenarnya juga sejenis tidak ikut dilarang. Meskipun demikian organisasi Teosofi ini sendiri perlahan hilang ditelan oleh waktu, di negara asalnya, istilah teosofi sendiri sudah tidak terdengar gaungnya lagi. Kiprah organisasi ini sendiri di era sekarang sudah digantikan oleh lembaga-lembaga yang menganut ideologi Pluralisme.




Quote:BIBLIOGRAFI
Nugraha, Iskandar P. 2011. Teosofi, Elite Modern & Nasionalisme Indonesia. Depok: Komunitas Bambu.

Paul W. van der Veur. 2012. Freemasonry di Indonesia. Jakarta: Ufuk Press.


literasi
Diubah oleh ryan.manullang
0
Kutip
Balas
Halaman 1 dari 12
16-03-2018 16:18
reserved
0
Kutip
Balas
16-03-2018 18:31
Wah, menarik
Tetapi bukankah perkembangan teosofi di Nusantara kala itu berkaitan erat juga dengan bentuk dominasi dan "politik etis" Hindia Belanda?
Saya pernah baca salah satu disertasi orang luar, data dia menunjukkan di Tahun 1930-an anggota theosophical society (TS) di Nusantara adalah sekitar 2000 orang, dimana > 1000 orang adalah orang Eropa, dan baru native plus sedikit dari Tiongkok

Belum lagi soal "eksklusivitas" kelompok, dimana tidak sembarang orang bisa join ke theosophical society
Oke bahwa isu plurasime dan multidimensional society jadi pembahasan TS
Tetapi dengan demikian, pada satu sisi TS menjadikan 'value' masyarakat lokal sebagai komoditas demi pemenuhan hasrat aktualisasi para elitis TS
Karena sepengetahuan saya ini bukan gerakan akar rumput sama sekali
0
Kutip
Balas
16-03-2018 20:03
apakah TS anggota TS ? emoticon-Big Grin
1
Kutip
Balas
16-03-2018 20:29
Quote:Original Posted By DabeDread
Wah, menarik
Tetapi bukankah perkembangan teosofi di Nusantara kala itu berkaitan erat juga dengan bentuk dominasi dan "politik etis" Hindia Belanda?
Saya pernah baca salah satu disertasi orang luar, data dia menunjukkan di Tahun 1930-an anggota theosophical society (TS) di Nusantara adalah sekitar 2000 orang, dimana > 1000 orang adalah orang Eropa, dan baru native plus sedikit dari Tiongkok

Belum lagi soal "eksklusivitas" kelompok, dimana tidak sembarang orang bisa join ke theosophical society
Oke bahwa isu plurasime dan multidimensional society jadi pembahasan TS
Tetapi dengan demikian, pada satu sisi TS menjadikan 'value' masyarakat lokal sebagai komoditas demi pemenuhan hasrat aktualisasi para elitis TS
Karena sepengetahuan saya ini bukan gerakan akar rumput sama sekali


jdi teori tujuannya menurut oom apa?
0
Kutip
Balas
16-03-2018 20:30
Quote:Original Posted By tnuclrigregnif
apakah TS anggota TS ? emoticon-Big Grin


jdi rancu memang 2 huruf itu. hehe
0
Kutip
Balas
17-03-2018 10:49
Quote:Agama
dalam posisi ini dianggap sebagai
salah satu pemantik konflik, bukan
hanya konflik antar agama bahkan umat seagama pun juga
mengalaminya. Perbedaan ajaran
antar agama maupun perbedaan
pendapat antar umat seagama
seringkali diposisikan sebagai
sumber konflik utama.

Kok iya ya emoticon-Big Grin

Kalau sekarang organisasi teosofi di indo, apa ya yang terkenal ?
Terus teosofer yang populer era modern di indo ini ?
0
Kutip
Balas
17-03-2018 10:49
Quote:Agama
dalam posisi ini dianggap sebagai
salah satu pemantik konflik, bukan
hanya konflik antar agama bahkan umat seagama pun juga
mengalaminya. Perbedaan ajaran
antar agama maupun perbedaan
pendapat antar umat seagama
seringkali diposisikan sebagai
sumber konflik utama.

Kok iya ya emoticon-Big Grin

Kalau sekarang organisasi teosofi di indo, apa ya yang terkenal ?
Terus teosofer yang populer era modern di indo ini ?
0
Kutip
Balas
17-03-2018 11:13
Simbolnya di ambil dari hindu, budha, mesir, yahudi.
Organisasi yg pernah ane ikuti itu OSIS, BEM, Karang Taruna dsb.
emoticon-Cool
0
Kutip
Balas
17-03-2018 12:25
Quote:Original Posted By ryan.manullang


jdi teori tujuannya menurut oom apa?


Lah, ko malah balik nanya
Pertama, ini bukan teori tetapi pergerakan
Kedua, tujuannya kan sudah sebutkan di post sebelumnya

Tapi saya coba jabarkan lagi, Tujuan 1: Konteks awal Abad-20 dan nanti selanjutnya (kapan-kapan kalau masih menarik diskusinya) Tujuan 2: Konteks awal Abad-21

Tujuan 1: Konteks awal Abad-20

Asumsi saya tujuannya adalah mengarah pada bentuk konsolidasi 'kolonialisasi' melalui jalur psuedo-asimilasi
Saya berbicara berdasarkan basis statistik, dan isu yang dibicarakan oleh kelompok ini berdasarkan penelitian Tollenaere (1996; The Politics of Divine Wisdom, Theosophy and Labour, National, and Women's Movements in Indonesia and South Asia 1875-1947):

Quote:"In 1930 of 2090' members, 1006 were European. This was nearly 0.5% of all Dutch in Indonesia; the highest proportion anywhere in the world.....................208 were 'Foreign Oriental', as most Asians of non- Indonesian ancestry were categorized. Probably about 190 of those were Chinese; also more Chinese members than in ihe rest of the world put together"


Dominasi orang Eropa dalam konteks implisit mensyaratkan bahwa "Masyarakat Teosofi" adalah bukan “ruang publik” yang cair dan inklusif
Dalam buku-buku M.C. Ricklefs kita bisa memahami bahwa hampir tidak ada “ruang publik” sejati bagi pada masyarakat lokal kelas bawah di Hindia-Belanda kala ketika kolonialisasi

Asumsi saya diperkuat dengan penelitian Wertheim (1955; Changes in Indonesia's Social Stratification), bahwa terdapat “intermediate group” di Indonesia pra-kemerdekaan yang tidak inklusif karena berbasis “kelas”
Khususnya yang di dominasi oleh lapisan sosial pedangang mapan dan cukup berpendidikan, dimana mayoritas chinese merchant class, dsj.
Kelas ini lah cukup lekat dengan para orang Eropa (walaupun pada satu sisi ada clash juga)
Tetapi intinya, 1006 member Eropa + seperempat chinese merchant class dsj. apakah masih membuat kita yakin bahwa “Masyarakat Teosofi” adalah wadah spritiualitas yang sejati tanpa agenda tertentu di Indonesia kala itu?
Mereka tidak bisa berbicara tentang peleburan spiritualitas-filsafat barat dan timur jika mereka sendiri masih menciptakan eksklusivitas perspektif barat di dalamnya
Dan menjadi berdasar jika saya berasumsi mereka membuat poros dalam menyebarkan bentuk “politik-etis baru”, dengan merangkul para elit dari kelas menengah-atas pedagang cina, priyai dan beberapa abangan, dst. yang memiliki kuasa politik-ekonomi scope lokal masing-masing
Tujuannya? Seperti saya state di awal, untuk melanggengkan + upaya konsolidasi kolonialisasi secara lembut dan halus

Jadi, sejarah “Masyarakat Teosofi” di Indonesia bagi saya tidak "sehebat" yang disebutkan di Post #1
Bahwa seolah teosofi menjadi perangsang gerakan politik di Indonesia
Kenapa saya bilang ga sehebat itu?
Pertama, dia adalah ekslusif dan terlalu asyik dengan dunianya sendiri
Termasuk saya ga yakin Tjipto Mangoenkoesoemo itu adalah seorang teosof, dia adalah salah satu nasionalis progresif paling hebat
Dan menurut saya pemicu benturan Tjipto Mangoenkoesoemo dan Radjiman Widijodiningrat di Budi Utomo itu karena Radjiman terlalu asik dengan status quo dan terus bermain dengan kebudayaan-religiusitasnya (menandakan Radjiman Widijodiningrat adalah teosof tulen), yang notabenenya ditentang grupnya Tjipto yang ingin menumpas status quo

Kedua, dengan demikian filosofi “Masyarakat Teosofi” adalah mendongak ke atas, sampai lupa menengok ke bawah dan tidak menganggap realitas kebutuhan terdasar spiritualitas kelas bawah adalah "kebebasan"
Malah “Masyarakat Teosofi” terus mencoba menutupi realitas kebutuhan spiritualitas kelas bawah dengan menyodorkan wayang dsj. yang terus diisi dengan pesan pembenaran
Oke, kita sedikit kaitkan lagi ke pernyataan Tollenaere (1996):

Quote:“Which factors in Indonesia's history helped or hindered its reception of theosophy? As we will sec with Indians, Dutch, and Javanese, both social strati fication arid religious factors were among them.”


Got it?
Poinnya, mereka yang berhasil mengaktualisasi transendensi religiusitas bukan mereka yang berada di akar rumput, kelas menengah-bawah terlebih masyarakat peasant-pedesaan
Lalu, kemana si para akar rumput, kelas menengah-bawah terlebih masyarakat peasant-pedesaan?
Kita kaitkan lagi ke pernyataan Wertheim (1995):

Quote:“Social prestige is being increasingly determined by criteria connected with the struggle between collectivity”


Then, which collectivity?
Lanjut ke paragraf selanjutnya:

Quote:“The old traditional agrarian communities are losing their influence, but through newly formed collective bodies such as peasant unions and (insofar as labor on the plantations involved) trade unions”


Karena mereka tidak "butuh" (atau bahkan memang menolak) untuk mengaktualisasikan religiusitasnya
Mereka si para akar rumput, kelas menengah-bawah terlebih masyarakat peasant-pedesaan akan lebih berkutat pada gagasan pembebasan penindasan yang nyata melalui gerakan politik, serikat pekerja dari kereta api hingga perkebunan, dan lain sebagainya
Jadi jelas bahwa mereka yang terlibat diri di “Masyarakat Teosofi” kala itu adalah para elit yang cenderung menciptakan status-quo kolonialisme
Ya, itung-itung sekaligus menambah relasi dan pemenuhan hasrat aktualisasi religiusitas
0
Kutip
Balas
17-03-2018 18:32
Quote:Original Posted By DabeDread
Lah, ko malah balik nanya
Pertama, ini bukan teori tetapi pergerakan
Kedua, tujuannya kan sudah sebutkan di post sebelumnya

Tapi saya coba jabarkan lagi, Tujuan 1: Konteks awal Abad-20 dan nanti selanjutnya (kapan-kapan kalau masih menarik diskusinya) Tujuan 2: Konteks awal Abad-21

Tujuan 1: Konteks awal Abad-20

Asumsi saya tujuannya adalah mengarah pada bentuk konsolidasi 'kolonialisasi' melalui jalur psuedo-asimilasi
Saya berbicara berdasarkan basis statistik, dan isu yang dibicarakan oleh kelompok ini berdasarkan penelitian Tollenaere (1996; The Politics of Divine Wisdom, Theosophy and Labour, National, and Women's Movements in Indonesia and South Asia 1875-1947):



Dominasi orang Eropa dalam konteks implisit mensyaratkan bahwa "Masyarakat Teosofi" adalah bukan “ruang publik” yang cair dan inklusif
Dalam buku-buku M.C. Ricklefs kita bisa memahami bahwa hampir tidak ada “ruang publik” sejati bagi pada masyarakat lokal kelas bawah di Hindia-Belanda kala ketika kolonialisasi

Asumsi saya diperkuat dengan penelitian Wertheim (1955; Changes in Indonesia's Social Stratification), bahwa terdapat “intermediate group” di Indonesia pra-kemerdekaan yang tidak inklusif karena berbasis “kelas”
Khususnya yang di dominasi oleh lapisan sosial pedangang mapan dan cukup berpendidikan, dimana mayoritas chinese merchant class, dsj.
Kelas ini lah cukup lekat dengan para orang Eropa (walaupun pada satu sisi ada clash juga)
Tetapi intinya, 1006 member Eropa + seperempat chinese merchant class dsj. apakah masih membuat kita yakin bahwa “Masyarakat Teosofi” adalah wadah spritiualitas yang sejati tanpa agenda tertentu di Indonesia kala itu?
Mereka tidak bisa berbicara tentang peleburan spiritualitas-filsafat barat dan timur jika mereka sendiri masih menciptakan eksklusivitas perspektif barat di dalamnya
Dan menjadi berdasar jika saya berasumsi mereka membuat poros dalam menyebarkan bentuk “politik-etis baru”, dengan merangkul para elit dari kelas menengah-atas pedagang cina, priyai dan beberapa abangan, dst. yang memiliki kuasa politik-ekonomi scope lokal masing-masing
Tujuannya? Seperti saya state di awal, untuk melanggengkan + upaya konsolidasi kolonialisasi secara lembut dan halus

Jadi, sejarah “Masyarakat Teosofi” di Indonesia bagi saya tidak "sehebat" yang disebutkan di Post #1
Bahwa seolah teosofi menjadi perangsang gerakan politik di Indonesia
Kenapa saya bilang ga sehebat itu?
Pertama, dia adalah ekslusif dan terlalu asyik dengan dunianya sendiri
Termasuk saya ga yakin Tjipto Mangoenkoesoemo itu adalah seorang teosof, dia adalah salah satu nasionalis progresif paling hebat
Dan menurut saya pemicu benturan Tjipto Mangoenkoesoemo dan Radjiman Widijodiningrat di Budi Utomo itu karena Radjiman terlalu asik dengan status quo dan terus bermain dengan kebudayaan-religiusitasnya (menandakan Radjiman Widijodiningrat adalah teosof tulen), yang notabenenya ditentang grupnya Tjipto yang ingin menumpas status quo

Kedua, dengan demikian filosofi “Masyarakat Teosofi” adalah mendongak ke atas, sampai lupa menengok ke bawah dan tidak menganggap realitas kebutuhan terdasar spiritualitas kelas bawah adalah "kebebasan"
Malah “Masyarakat Teosofi” terus mencoba menutupi realitas kebutuhan spiritualitas kelas bawah dengan menyodorkan wayang dsj. yang terus diisi dengan pesan pembenaran
Oke, kita sedikit kaitkan lagi ke pernyataan Tollenaere (1996):



Got it?
Poinnya, mereka yang berhasil mengaktualisasi transendensi religiusitas bukan mereka yang berada di akar rumput, kelas menengah-bawah terlebih masyarakat peasant-pedesaan
Lalu, kemana si para akar rumput, kelas menengah-bawah terlebih masyarakat peasant-pedesaan?
Kita kaitkan lagi ke pernyataan Wertheim (1995):



Then, which collectivity?
Lanjut ke paragraf selanjutnya:



Karena mereka tidak "butuh" (atau bahkan memang menolak) untuk mengaktualisasikan religiusitasnya
Mereka si para akar rumput, kelas menengah-bawah terlebih masyarakat peasant-pedesaan akan lebih berkutat pada gagasan pembebasan penindasan yang nyata melalui gerakan politik, serikat pekerja dari kereta api hingga perkebunan, dan lain sebagainya
Jadi jelas bahwa mereka yang terlibat diri di “Masyarakat Teosofi” kala itu adalah para elit yang cenderung menciptakan status-quo kolonialisme
Ya, itung-itung sekaligus menambah relasi dan pemenuhan hasrat aktualisasi religiusitas


mantap ya oom. Lengkap dan berdasarkan statistik. Makasih untuk informasi tambahannya. hehe

Untuk konteks hegemoni Teosofi tidaklah sejauh itu menyentuh makna dan realitas yang tercipta. Pada titik ideal tidaklah mungkin dia sampai pada spiritualitas setiap elemen walaupun itu sebagai tujuannya namun, sebagai akar pemikiran sebuah plurarisme dalam beragama dia mengambil peran walaupun dalam tatanan kelas atas namun efek tatanan kelas atas juga berimbas pada pemikiran-pemikiran kelas dibawahnya dapat dikatakan masyarakat pekerja atau dapat dirasakan hingga hari ini sebagai sebuah budaya dalam konsep sosial beragama di negara kita.

Hal ini dapat kita korelasikan pada konsep Sistem negara secara demokrasi maupun bentuk negara Republik secara naratif dan statistik bukanlah konsumsi semua kelas masyarakat disebabkan realitas demografi. Seperti itulah sistem coba berjalan secara pragmatik.
0
Kutip
Balas
17-03-2018 18:37
Quote:Original Posted By kanggelandaftar
Kok iya ya emoticon-Big Grin

Kalau sekarang organisasi teosofi di indo, apa ya yang terkenal ?
Terus teosofer yang populer era modern di indo ini ?


Persatuan Warga Theosofi Indonesia (Perwathin) berdiri sejak 1963 oom.

Era modern ini gmn mksdnya ya oom. Kalo era kebangkitan nasional (1920-..) ya yang disebutkan diatas oom.
0
Kutip
Balas
17-03-2018 18:40
Quote:Original Posted By taufikbudiardi
Simbolnya di ambil dari hindu, budha, mesir, yahudi.
Organisasi yg pernah ane ikuti itu OSIS, BEM, Karang Taruna dsb.
emoticon-Cool


karena memang dasar sifatnya adalah ekletik (mendamaikan semua agama), dasar2 simbol agama yang mapan tersebut menjadi simbol theosofi.
0
Kutip
Balas
17-03-2018 19:36
Quote:Original Posted By ryan.manullang


Persatuan Warga Theosofi Indonesia (Perwathin) berdiri sejak 1963 oom.

Masih berdiri ?
Klo masih ada, di ktp-nya tertulis apaan agamanya ? Kosong atau 6 agama yang diakui

Quote:
Era modern ini gmn mksdnya ya oom. Kalo era kebangkitan nasional (1920-..) ya yang disebutkan diatas oom.

ya tentu era tahun 2000 gini
0
Kutip
Balas
17-03-2018 21:21
Quote:Original Posted By kanggelandaftar
Masih berdiri ?
Klo masih ada, di ktp-nya tertulis apaan agamanya ? Kosong atau 6 agama yang diakui


ya tentu era tahun 2000 gini


teosofi kok diartikan sebagai agama oom. Teosofi itu prinsip pengajaran ideologi. Sama sperti komunisme bagi penganut paham sosialisme marx-engels.

kalo dimaknai era 2000-an ya gk ad yg spesifik krna smenjak era kebangkitan nasional para penganut paham ini mulai melebarkan legitimasi ke arah nasionalisme berhubung hegemoni akan perlawanan terhadapa penjajah mencuat di era itu.
0
Kutip
Balas
17-03-2018 22:13
sepintas keliatan seperti perpaduan antara agnosticsm, pantheism, humanism
3
Kutip
Balas
18-03-2018 11:10
Quote:Original Posted By 442tactician
sepintas keliatan seperti perpaduan antara agnosticsm, pantheism, humanism


ya bsa demikian jg mmg oom. hehe
0
Kutip
Balas
24-03-2018 03:15
Pejwan emoticon-Paw
Btw nice thread ts emoticon-Rate 5 Star
Diubah oleh kacuy8
0
Kutip
Balas
24-03-2018 03:21
Saya nyimak aja dah


Mau nunggu post-an TS ama gan DabeDread
Diubah oleh vaaviivoo
0
Kutip
Balas
24-03-2018 03:25
emoticon-Bingung

ane nunggu wangsit dari kakek kura kura aha ahemoticon-Entahlah emoticon-Hammer2

emoticon-Maaf Aganemoticon-Maaf AganwatiGEMBOK EKSEKUSI emoticon-Maaf Aganwatiemoticon-Maaf Agan
Diubah oleh wenoobs
0
Kutip
Balas
24-03-2018 03:35
jadi inget di kota ane ada gedung theosofie. skrg kayaknya udah jadi stasiun tv lokal..
0
Kutip
Balas
Halaman 1 dari 12
icon-jualbeli
Jual Beli
Rp 150.000
Rp 300.000
belajar-seo
© 2018 Kaskus – The Largest Indonesian Community