alexa-tracking
Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
412
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a4df3c460e24b5b3b8b4567/aku-melihat-mereka
Perkenalkan namaku Yusuf aku tinggal di Jogjakarta kisah ini bercerita tentang dunia yang saat itu sangat menakutkan untukku, semua berawal saat aku masih berusia sekitar 8 tahun. Pada saat itu aku benar-benar tidak tahu dan tidak bisa membedakan antara nyata atau halusinasi...
Lapor Hansip
04-01-2018 16:28

Aku Melihat Mereka

Past Hot Thread
Bagian 1

[cerita ini berdasarkan pengalaman pribadi seorang narasumber dengan mengganti nama tokoh dan tempat kejadian]

Aku Melihat Mereka

Perkenalkan namaku Yusuf aku tinggal di Yogyakarta kisah ini bercerita tentang dunia yang saat itu sangat menakutkan untukku, semua berawal saat aku masih berusia sekitar 10 tahun. Pada saat itu aku benar-benar tidak tahu dan tidak bisa membedakan antara nyata atau halusinasi tapi yang pasti “mereka” yang biasa kalian sebut hantu muncul dan memberi tahuku bahwa mereka ada. Bukan hanya selalu tentang “mereka” namun aku juga pernah melihat beberapa peristiwa yang belum terjadi. Aku adalah seorang muslim dan besar dilingkungan yang mayoritas muslim, aku kerap kali berada dirumah sendiri karena kedua orang tuaku menjaga toko kelontong kami yang ada ditempat lain, oh ya aku juga memiliki cerita soal toko kami, dimulai saat keluargaku membeli sebuah ruko untuk toko kelontong kami yang baru, 3 bulan setelah toko kelontong kami dibuka aku belum tahu dimana persisnya lokasi toko baru ini. Sampai suatu malam aku bermimpi aku datang ke suatu tempat yang sangat menyeramkan, aku masuk ke suatu rumah yang memiliki lingkungan yang sangat menyeramkan lalu aku berjalan masuk ke bagian belakang rumah tersebut dan yang lebih menyeramkan adalah bagian dari belakang rumah tersebut memiliki permukaan tanah seperti tertutup darah, darah yang benar-benar berwarna merah dan masih beraroma segar, tidak hanya darah disitu aku juga terlihat tengkorak-tengkorak yang tergeletak ditanah yang jumlahnya lebih dari satu dan dibagain pojoknya ada gundukan tanah seperti seolah-olah ada yang tergeletak didalamnya.

Suatu hari ayahku mengajakku untuk melihat-lihat toko baru kami yang letaknya cukup jauh dari rumahku, sesampainya diruko tempat toko baru kami betapa kagetnya aku, bangunan itu adalah bangunan yang sangat mirip ku lihat didalam mimpiku beberapa waktu lalu, setelah aku melihat bagian depannya baik dari letak pintunya, bentuk bangunan dalamnya semua sama persis. Untuk lebih memastikannya aku masuk ke dalam bagian belakang toko kami dan saat aku sampai ke bagian belakang toko kami yang membuatku lebih kaget bagian belakang toko kami memiliki ruang yang sama persis seperti yang ku lihat di dalam mimpiku dimana bagian belakang toko ini juga memiliki bagian bawahnya masih tanah dan dipojokan ada gundukan tanah, sama seperti dimimpiku hanya bedanya tidak ada darah apalagi tengkorak hanya saja semua yang ada di bangunan tokoku ini benar-benar sangat mirip dengan yang ku lihat ada dimimpiku, jujur itu membuatku sedikit tidak nyaman saat berada disitu.

Selain berjualan dikios kami juga memiliki toko kelontong di depan dirumahku, warung rumahan inilah yang menjadi cikal bakal keluargaku bisa membeli kios kami yang baru dengan warung kelontong yang lebih besar. Orang tuaku lebih banyak berada di kios kelontong kami yang baru sehingga aku lebih sering berada dirumah sendirian, karena dari pagi hingga sore aku bersekolah maka pada saat pagi hari orang tuaku menperkerjakan 1 orang pegawai untuk membantuku berjualan saat aku tidak ada dirumah. Namun pada saat malam hari pegawaiku akan pulang kerumahnya yang terletak tidak jauh dari rumahku karenanya saat malam aku akan berada dirumah sendirian, bisa dibayangkan betapa kesepiannya aku saat sedang berjaga diwarung, hiburanku hanya tv yang ada diruang tengah rumah kami. Saat aku sedang benar-benar merasa kesepian sesekali aku mengundang teman-temanku agar mereka main ke rumah selain agar suasana menjadi sedikit lebih ramai aku merasa itu bisa membunuh sepi yang kurasakan saat aku sedang sendirian dirumah.

Aku ingat pertama kali aku melihat salah satu dari “mereka”, saat itu kurang lebih jam 6 sore saat adzan magrib mulai berkumandang, akupun bersiap-siap untuk menjalankan ibadah sholat magrib, karena saat itu aku dirumah sendiri daripada aku harus kerepotan menutup warung dan nantinya harus membukanya lagi aku memutuskan untuk sholat dirumah. Saat adzan mulai berhenti berkumandang akupun melakukan ibadah sholat magrib dikamar tempat biasa aku tidur, saat itu entah hanya halusinasiku atau nyata dirakaat kedua saat aku rukuk aku merasakan ada yang mengikuti gerakan sholatku (di dalam sholat makmum jika hanya satu orang memiliki jarak yang tak terlalu jauh bisa dibilang hampir sejajar jadi cukup terlihat olehku apa yang ada dibelakangku), dia benar-benar terlihat nyata sosok tinggi, putih yang ku kira itu lebih terlihat seperti pocong sedang berada dibelakangku dengan jarak yang sangat dekat, aku yang masih belum cukup dewasa dibuat takut olehnya. Aku yang saat itu sangat ketakutan jadi tak kusyuk menjalankan sholat dan bertanya dalam hatiku “siapa dia yang mengikuti sholatku, sedangkan saat ini aku seorang diri dirumah”. Setelah selasai dan salam akupun langsung menegok ke arah belakang namun bayangan putih menyerupai pocong yang mengikuti gerakan sholatku sudah tidak ada dibelakangku, padahal aku melihatnya dengan sangat jelas dan seharusnya diapun masih kurang satu rakaat karena aku melihatnya saat aku memasuki rakaat ke 2, dimana sholat magrib memiliki jumlah 3 rekaat, “jika memang itu orang yang jail cepat sekali dia pergi namun jika bukan orang lantas siapa dia” pikirku saat itu, tiba-tiba dari arah dapur rumahku ada suara seperti benda yang terjatuh dan berbunyi sangat keras ”brak”, aku yang ketakutan setengah mati tanpa pikir panjang aku langsung bergegas lari ke arah depan rumah. Setelah peristiwa itu aku jadi lebih sering memilih berada diwarungku dan menonton televisi disitu.

Setelah kejadian itu aku berfikir mungkin saat itu aku sedang berhalusinasi sampai pada suatu malam kejadian ini terjadi, walaupun aku beranggapan peristiwa saat aku sholat itu hanya halusinasiku namun sejak saat itu aku memutuskan untuk lebih sering berkegiatan di warungku. Dengan persetujuan orang tuaku aku beralasan agar mudah saat menjuali pelanggan saat malam hari akhirnya aku memberi tambahan kasur lipat didalam warung. Mulai dari gangguan-gangguan kecil yang ku rasakan aku menjadi lebih sering melakukan semua hal diwarung daripada dikamarku, namun semua anggapanku untuk menghindari “mereka” ternyata salah. Awal kejadian saat itu malam sekitar pukul 10:30 dan jalanan rumahku sudah mulai sepi. Aku yang biasa menutup warung pukul 10:00 karena malam itu masih cukup ramai aku memutuskan untuk membukanya sedikit lebih lama, namun karena sudah setengah jam berlalu dan kurasa jalanan sudah mulai sepi aku memutuskan untuk menutup warung. Terkadang aku buka sampai larut malam hanya saat sedang ada teman-teman yang menemaniku dan begadang diwarung, namun jika sudah sepi dan aku sendirian dirumah aku lebih memilih untuk menutup pintu warung saat pukul 10:00 malam dan menonton tv sambil tiduran di dalam warung, saat itu jam menunjukan pukul 11:30 malam semua tetanggaku memang sudah biasa jika mau membeli pada saat warung sudah tutup pasti mereka akan mengetuk pintu rumahku ataupun pintu warungku, saat sedang memperhatikan tv aku mendengar ada yang mengetuk pintu warung akupun bergegas membuka pintu ternyata pak Ali, bapak-bapak tetangga sekitar rumahku yang ingin membeli rokok. Setelah menjuali pak Ali aku ingin pergi ke kamar mandi yang kebetulan letak kamar mandinya ada didalam rumah maka aku pergi masuk ke dalam rumah, tak berapa lama terdengar suara orang mengetuk pintu depan rumah karena saat itu aku beranggapan mungkin bapak-bapak yang sedang ronda malam mau mencari rokok akupun berteriak “tunggu sebentar”, aku buru-buru dan lekas keluar dari kamar mandi namun sesampainya aku didepan rumah untuk membuka pintu warungku ternyata sudah tidak ada orang didepan “ah sudahlah mungkin orang tadi tidak sabar untuk menunggu” pikirku saat itu.

Aku kembali masuk ke warung dan tidur didalam warung, saat pukul 12.00 malam aku terbangun karena aku mendengar ada suara ketukan dipintu warung akupun bergegas untuk membuka pintu, namun setelah ku buka aku tak melihat ada seseorang aku berfikir “mungkin ada orang yang iseng” lalu aku melihat arah jalan namun jalanan sudah sepi tak ada orang, tiba-tiba terbesit dipikiranku hal-hal tentang “mereka” aku yang ketakutan saat itu langsung lari mengkunci pintu warung dan masuk ke dalam warung tujuanku tentu agar suara-suara mengetuk pintu itu tak lagi terdengar. Setelah menutup pintu warung aku ingin menutup korden jendela rumahku agar jalanan yang sepi di depan rumahku tak terlihat olehku, namun tak sengaja saat aku menutup korden betapa kagetnya saat aku melihat ada perwujudan wanita yang sangat menyeramkan dengan rambutnya yang berantakan, berbaju putih panjang yang kotor berwarna coklat seperti coklatnya tanah pemakaman, matanya yang melotot dan wajah yang tidak enak untuk dilihat dengan jari-jari tangan yang memiliki kuku sangat panjang, seketika aku lari ke kamar orang tuaku dan menguncinya, aku tidur dengan menggunakan selimut yang menutupin dari ujung kaki sampai kepala. Aku yang saat itu benar-benar ketakutan hanya bisa diam didalam selimut sambil berfikir “mungkin itu yang biasa disebut orang-orang dengan sebutan kuntilanak”, peristiwa itu benar-benar sangat menggangguku, sejak peristiwa malam itu hampir selama kurang lebih satu minggu aku sangat kurang tidur karena setiap kali aku ingin menutup mata seolah-olah aku mendengar suara riuh yang sangat ramai namun aku sendiri tidak tahu darimana sumber suara tersebut.

Aku Melihat Mereka
*bagian dari ilustrasi

Bersambung...

Bagian 2
Bagian 3
Bagian 4
Bagian 5
Bagian 6
Bagian 7
Bagian 8
Bagian 9
Bagian 10
Bagian 11
Bagian 12
Bagian 13
Bagian 14
Bagian 15
Bagian 16
Bagian 17
Bagian 18
Bagian 19
Bagian 20
Bagian 21
Bagian 22
Bagian 23
Bagian 24
Bagian 25
Bagian 26 (Akhir)
New Post Aku Melihat (Bersama) Mereka Bagian I
Bagian II
Bagian III
Bagian IV
Bagian V
Bagian VI
Diubah oleh ioctaviann
profile-picture
AnakRumahan580 memberi reputasi
6
Tampilkan isi Thread
Halaman 13 dari 21
Aku Melihat Mereka
02-04-2018 20:21
Quote:Original Posted By ioctaviann
trima kasih gan, ditunggu updatean ane semoga ngak mengecewakan emoticon-Shakehand2


oke gan
0 0
0
Aku Melihat Mereka
03-04-2018 13:37

Bagian 20

Keesokannya aku berangkat kuliah, aku masih ingat saat itu aku kuliah baru selesai sekitar puku 3:00 sore, saat didalam kelas aku melihat ada sosok wanita yang duduk dipojokan sendirian aku bergumam dalam hati,

“dia siapa ya perasaan baru liat hari ini ikut kuliah ini”,

saat itu aku duduk bersama teman-temanku dideretan kursi yang terletak agak belakang akupun lalu bertanya ke temanku Guruh yang duduk disebelahku,

“ruh cewek pojokan lunggoh dewean kae sopo sih kok aku gek delok dino iki?”(ruh cewek dipojokan duduk sendiri itu siapa sih kok aku baru liat hari ini?),

lalu Guruh menoleh ke meja yang ada dibelakang,

“ndi? wong rak ono wong neng mburi” (mana? orang dibelakang ngak ada orang),

aku menjawab guruh sambil menengok ke arah belakang,

“enek yo, kae lo pojokan”(ada ya, itu lo pojokan)

baaa ternyata benar kata Guruh setelah mataku melihat ke arah pojokan kursi yang diduduki wanita tadi ternyata disana tidak ada siapa-siapa,

“lalu siapa dia? kenapa ada dia ada dikelas ini? bahkan sampai mengikuti mata kuliah”, ucapku dalam hati.

Sepulang kuliah aku berfikir untuk main ke kosan temanku Yuda karena setelah aku melihat penampakan yang ada di penampungan air di sekitar kosan Yuda aku tak pernah main ke kosan Yuda lagi. Siang hari setelah mata kuliah berakhir aku nongkrong di kantin bersama teman-teman kelasku saat sedang mengobrol dengan teman-teman kelasku tiba-tiba handphoneku berbunyi, ku intip layar handphoneku ku lihat ada pesan masuk dari Yuda tak berapa lama ku baca pesan dari Yuda dia mengatakan kalau beberapa hari lalu ada yang terjadi pada dia dan pacarnya dikosan. Aku membuka pesan dari Yuda,

“jon kwe ngopo rak rene suwi? pacarku wingi dolan kosku bar kesurupan”(jon kamu kenapa lama ngak kesini? pacarku kemarin main kosku terus kesurupan),

“Lakan aku wes omong ojo macem-macem neng kos, ngeyel”(kan aku udah ngomong jangan macem-macem dikos, ngeyel).

Setelah itu sorenya saat perkuliahan berakhir aku pergi ke kosan Yuda, sesampainya aku dikos Yuda aku berbicara dengannya,

“seng nyurupi opo? wedok?”(yang masuk waktu kesurupan apa? cewek?)

“Iyo jare tonggoku kos seng ngetokke tonggo sebelah kamarku iku” (iya, kata tetangga kosku, yang ngeluarin tetangga sebelah kamar itu).

Kemudian Yuda menceritakan panjang lebar tentang peristiwa itu, aku hanya menyarankan dia untuk pindah ke kamar lain karena sepertinya kamar Yuda adalah jalan perlintasan untuk “mereka” sehingga mereka tidak terima saat ada Yuda dan pacarnya ada disitu, mungkin itu juga yang menjadikan alasan kenapa kamar yang ditempati Yuda ini kosong sangat lama dan beruntungnya Yudalah yang pertama kali menempati kamar tersebut setelah sekian lama kosong, kata Yuda dulu saat pertama kali mencari kos-kosan hanya ada kosan ini yang masih memiliki kamar yang masih kosong jadi mau tidak mau Yuda memilih kosan ini untuk tempat tinggalnya. Akupun pernah menawarkan Yuda untuk tinggal dikontrakan bersama dengan Aku, Axel dan Gagah namun dia menolak ajakanku.
profile-picture
AnakRumahan580 memberi reputasi
1 0
1
Aku Melihat Mereka
06-04-2018 13:12
JANGAN LUPA GUYS bagi

RATE emoticon-Rate 5 Star
SHARE emoticon-Request
CENDOL emoticon-Blue Guy Cendol (L)
SUNDUL emoticon-Sundul
ADD FRIEND emoticon-Shakehand2
Diubah oleh ioctaviann
0 0
0
Aku Melihat Mereka
12-04-2018 08:15

Bagian 21

Beberapa hari setelah peristiwa itu aku, Yuda, Axel dan Gagah keluar nongkrong bareng, saat dijalan Axel menyeletuk

“prei semesteran dolan yok, luar kotanan golek-golek seng horor-horor ”(libur semesteran main yok, luar kotanan cari yang horor-horor),

“aku sih iso-iso wae sih, mboh Gagah mbek Yuda iso po rak kui?”(aku sih bisa-bisa aja sih, ngak tau Gagah sama Yuda bisa apa enggak tu?),

“tetep gas to kapten”(tetep gas kapten)saut Gagah,

“piye Yud melu rak?"(gimana Yud ikut ngak?),

“delok sikon sek ya duite enek po rak”(liat sikon dulu ya uangnya ada apa enggak)

“halah santai seng penting mobil enek bensin turu mobil opo pom bensi iso to”(santai yang penting mobil ada bensin, bisa tidur mobil apa pom bensinkan bisa)

“yo yohlah manut digas”(ya yoklah nurut digas aja) ucap Yuda.

Libur semester tiba kami berempat bersiap-siap untuk liburan ke suatu kota di Jawa tengah yang sebelumnya sudah kami sepakati bersama, kami berencana untuk menghabiskan 3 hari di sana. Kami berangkat jam7:00 pagi agar cukup waktu selama perjalan kesana, diantara kami berempat hanya Axel dan Yuda yang memiliki SIM untuk mengemudikan mobil, maka secara bergantian mereka berdua menyetir. Singkatnya kami sampai di tempat tujuan kami sore hari, saat itu kami berdebat dimobil akan tidur dimana,

“Xel meh turu neng ndi?”(Xel mau tidur dimana?),

“santai wae ngopo gek wae tekan kok khawatir ki lo”(santai aja kenapa orang baru sampai juga kok khawatir).

Axel memang orang yang sangat santai dalam segala hal, bahkan saat kami bingung mengerjakan tugas kuliah Axel hanya diam seperti tidak menghawatirkan tugas itu. Sampai di kota tujuan kami Axel berputar-putar entah kemana tiba-tiba dia membelokkan mobil masuk ke sebuah hotel,

“Xel meh nginep kene?”(Xel mau nginep disini) ucap Gagah sambil menepuk pundak Axel,

“iyo, santai nginepe seng bayari aku tapi mangan mbek liyo-liyone bayar dewe-dewe ya”(iya, santai penginapan yang bayar aku tapi makan sama lain-lainnya bayar sendiri-sendiri ya).
Axel memang berasal dari kalangan atas buktinya saat kami semua hanya naik motor, dikontrakan Axel disediakan motor dan juga mobil untuk trasportasinya, setelah selesai reservasi kamar, kami semua naik menuju ke kamar setelah itu kami bergantian untuk mandi. Untuk sebentar Yuda dan Gagah merebahkan badan di kasur, aku dan Axel merokok sambil menikmati kopi, dari arah dalam Gagah berteriak,

“cuk dolan yok wes jam 19:00 ki mesti rame orang jengjeng”(cuk maen yok udah jam 19:00 ni mesti rame orang nongkrong)

“yok dolan (menyebut nama sebuah tempat) yok”(yok main ke (menyebut nama sebuah tempat) yok) ajak Axel,

Kami bertiga mengiyakan ajakan Axel selain karena liburan ini memang ajakan dia, dia juga sudah berbaik hati membiayai hotel tempat kami menginap. akhrinya kami berempat turun ke lobby, aku menghampiri tempat satpam dan bertanya,

“pak kalau mau ke (menyebut nama sebuah tempat) dari sini jauh apa deket ya?”

“oh situ mas?deket mas jalan kaki aja paling 15 menitan juga udah sampai”,

aku berjalan menghampiri teman-temanku yang sedang duduk menungguku di kursi lobby hotel,

“cuk jare satpame cedak nek seko kene mlaku paling sekitar 15menitan wes tekan, piye meh mlaku?”(cuk kata satpamnya deket kalau dari sini jalan kaki cuma sekitar 15menitan udah sampai, gimana mau jalan?),

Axel yang dari tadi diam sambil melihat ke arah smartphonenya nyaut(diantara kami berempat memang cuma Axel yang sudah memiliki smartphone),

“numpak mobil wae mengko sisan nongkrong mbek ngopi-ngopi ki aku mau wes browsing golek-golek panggon”(naek mobil aja nanti sekalian nongkrong sambil ngopi-ngopi ini td aku habis browsing cari-cari tempat).

Aku, Gagah dan Yuda menganggukan kepala tanda setuju,

“okelah yok kene tak setiri genti”(okelah sini aku yang gantian nyetir)ucap Yuda
sambil meminta kunci mobil ke Axel,

“sek Yud ben dijipukke sek wae mobile, males aku dadak golek-golek mobil neng parkiran”(bentar Yud biar diambilin aja mobilnya, males aku kalau harus cari-cari moil di parkiran),

setelah mobil kami datang Yuda langsung mengambil posisi untuk mengemudi, belum lama kami berjalan ternyata benar gedung yang cukup megah dengan nuansa jaman dulu itu sudah terlihat dari kejauhan.
Diubah oleh ioctaviann
profile-picture
AnakRumahan580 memberi reputasi
1 0
1
Aku Melihat Mereka
14-04-2018 19:16
JANGAN LUPA GUYS bagi

RATE emoticon-Rate 5 Star
SHARE emoticon-Request
CENDOL emoticon-Blue Guy Cendol (L)
SUNDUL emoticon-Sundul
ADD FRIEND emoticon-Shakehand2



yang punya pengalaman atau crita soal dunia "mereka" boleh join cerita ke sini gan
Diubah oleh ioctaviann
0 0
0
Aku Melihat Mereka
15-04-2018 06:30
Quote:Original Posted By ioctaviann
JANGAN LUPA GUYS bagi

RATE emoticon-Rate 5 Star
SHARE emoticon-Request
CENDOL emoticon-Blue Guy Cendol (L)
SUNDUL emoticon-Sundul
ADD FRIEND emoticon-Shakehand2



yang punya pengalaman atau crita soal dunia "mereka" boleh join cerita ke sini gan


update gan seru bangetemoticon-Cendol Gan
0 0
0
Aku Melihat Mereka
21-04-2018 02:21

Bagian 22

“Xel kae wes ketok gedung'e”(Xel itu udah keliatan gedungnya).

Kami berputar dan akhirnya sampailah kami didepan gedung yang menjadi tujuan utama kami memilih kota ini untuk liburan. Aku merasa takjub melihatnya

“yang selama ini hanya aku lihat digambar sekarang aku berdiri didepannya” ucapku dalam hati.

“cuk midune kene wae aku tak golek parkir sek daripada kabeh melu golek parkir malah ribet”(cuk turun sini aja aku cari parkitan dulu daripada semua ikut cari parkiran malah ribet),

Aku, Gagah dan Axel turun dari mobil, kami menunggu Yuda didepan gerbang gedung. Setelah Yuda datang dari parkir mobil kami bersama-sama masuk. Sesampainya didepan kami membeli tiket masuk dan dari pihak penjaga menawarkan pendamping yang akan menerangkan seluk beluk gedung ini namun karena kami yang memang tidak begitu suka diikuti memutuskan untuk masuk sendiri tanpa didampingi pendamping. Baru berjalan ke arah dalam gedung dari arah atas lantai 2 aku melihat ada sosok tuan-tuan orang Belanda,

“Gah..” aku menepuk pundak Gagah,

“iyo wes ngerti jon, santai”(iya udah tau jon, santai).

Sampailah kami digedung yang disitu diletakkan penjelasan-penjelasan tentang bangunan ini dan sejarah dari tempat ini, saat aku akan melangkahkan kakiku ke tangga tiba-tiba “wusss” seperti ada yang lewat menabrak badanku,

“kowe-kowe kono mlebu’o sek tapi ojo mlebu adoh-adoh sek mengko tak susul”(kamu semua duluan sana masuk tapi jangan masuk jauh-jauh nanti aku nyusul)

Teman-temanku berhenti berjalan, Axel bertanya ke aku,

“meh ngopo kowe?”(mau ngapain kamu?),

“meh golek ngombe mbek neng kamar mandi sek”(mau cari minum sama ke kamar mandi dulu),

“emang kowe ngerti kamar mandine neng ndi?”(emang kamu tau kamar mandinya dimana?) saut Yuda,

“yo orak sih kan mengko iso takon”(ya enggak sih kan nanti bisa tanya)

“takon mbek tuan-tuane mau ya hahaha”(tanya sama tuan-tuannya tadi ya) ucap Gagah sambil tertawa bercanda karena memang dari dulu dia sangat hobi menakut-nakutiku,

“yowes tak enteni sek kono nengo kamar mandi sek, ngombene ben digolekke Yuda”(yaudah aku tungguin disini kamu ke kamar mandi aja dulu, minumnya biar dicariin Yuda),

“yud goleko'o ngombe sek kono”(Yud cari minum dulu sana)ucap Axel sambil memberikan uang ke Yuda,

“yowes aku tak neng kamar mandi sek ya”(ya udah aku ke kamar dulu ya),

Aku berjalan menuju ke arah depan, disebuah bangunan aku melihat ada bapak-bapak yang berdiri di bagian didepan dari pintu masuk ruangan itu,

“pak toiletnya dimana ya?”

“pintu kanan itu masuk aja mas” sambil menunjuk ke arah ruang yang dia maksud,

“oh itu, ya udah pak makasih ya”,

“iya, sama-sama mas”.

Aku berjalan menuju ruangan yang tadi ditunjukkan baru masuk didepan bagian gedung menuju toilet ini aku dibuat takjub dengan megahnya bangunan ini. aku melewati bangunan yang merupakan bangunan asli dari gedung ini, kamar mandinya memiliki pintu kayu, disitu banyak sekali aku melihat sekelabatan-sekelebatan tak berwujud,

“ah sudah kebelet juga bodo dah sama yang begituan” pikiku saat itu.

Setelah aku selesai aku berjalan keluar, di depan pintu toilet ini tepatnya digedung sebelah kiri ada sebuah gedung yang dari situ terlihat bangunan utama gedung ini. Dari luar saat aku sedang berjalan ke arah temanku aku melihat seperti ada banyak orang yang sedang beraktivitas digedung sebelah kiri tadi.

“Xel, la Yuda mbek Gagah ndi?”(Xel, Yuda sama Gagah mana?)

“wes do neng mlebu kae yo mlebu yo”(udah pada masuk tu yok masuk) ajak Axel sambil menyodorkan minuman yang aku pesan tadi.

Aku berjalan masuk bersama Axel menuju ke ruangan yang didalamnya terdapat tulisan-tulisan tentang sejarah gedung ini, kami masih belum bertemu Yuda dan Gagah sepanjang jalan kami ngobrol dambil membahas apa-apa yang kami pernah dengar tentang gedung ini,

“jon kwe mau neng ngon ngarep omong mbek sopo?”(jon kamu tadi di tempat ngarep ngomong sama siapa?),

“lah mbek bapak-bapak seng jogo loya”(sama bapak-bapak yang jaga dong)

“kowe mau pas aku ngekekne tiket deloki bapak-bapake seng jogo rak?”(kamu waktu aku ngasihin tiket liat bapak-bapak yang jaga ngak?)

“orak, hahaha aku balesin sms mau, ngopo to?”(enggak, hahaha aku balesin sms tadi, emang kenapa?)

“wong kowe omong dewe koyo wong edan ngono og, mau ki rak ono sopo-sopo jon”(orang kamu tadi ngomong sendiri kayak orang gila gitu kok, tadi tu ngak ada siapa-siapa jon)

“halusinasi kali ya aku mau hahaha”

Mendengar Axel berkata begitu dalam hati aku berbicara dalam hati “terima kasih loya sambutannya”.

(untuk menjaga nama dll saya sengaja tidak memberikan ilustrasi di cerita ini)
Diubah oleh ioctaviann
profile-picture
AnakRumahan580 memberi reputasi
1 0
1
Aku Melihat Mereka
27-04-2018 08:10

Bagian 23

Diruangan lantai satu tepat disebalah ruangan sejarah aku dan Axel bertemu Gagah dan Yuda,

“Gah, Yud rene lo”(Gah, Yud sini lo),

teriakku memanggil mereka berdua,
Gagah dan Yuda berjalan menuju ke arah kami.

“kowe ki suwi og jon, diombe sek jon ben rak panas hahaha”(kamu tu lama banget jon, diminum dulu biar ngak panas hahaha)ucap Gagah sambil memberikan air minum yang tadi ku pesan,

“rak sah macem-macem ah cuk”(ngak usah macem-macem ah cuk),

“yok ah Gah, Xel mlaku-mlaku munggah lantai 2” saut Yuda sambil menarik tak slempang yang dibawa Axel,

“tunggu cuk he aku tak ngombe sek”(tunggu cuk aku mau minum dulu),

“ngombe mbek mlaku to jon”(minum sama jalanlah jon),

Aku membuka botol minumku sambil berjalan pelan-pelan aku minum, “bruk” aku menabrak seorang wanita yang berpapasan denganku, sambil menutup botol minumanku tanpa memperhatikan wanita ini sambil berjalan aku berkata,

“maaf, ngak sengaja”, ucapku meminta maaf pada wanita itu,

namun wanita itu tidak menjawab permintaan maafku dan terus berjalan ke arah yang berlawanan denganku.

Aku bergegas untuk menyusul teman-temanku yang sudah menuju tangga lantai 2, saat aku memasukkan botol minumku ke tas slempang yang ku pakai aku melihat tali sepatuku yang kanan agak kendor, aku berhenti sejenak untuk mengencangkannya, sambil membungkuk aku mengencangkan tali sepatuku. Pada saat itu dilorong lantai satu ini keadaan cukup sepi hanya ada sekitar 4 orang termasuk aku, disitu aku melihat wanita yang tadi ku tabrak. Dia mengenakan baju khas-khas orang-orang Eropa jaman dulu, aku tidak melihat wajahnya karena posisi kami yang berlawanan arah, aku yang penasaran langsung menengok ke arah belakang untuk memastikan apa yang aku lihat ini benar orang atau bukan dan baa aku melihat wanita tadi masuk ke ruangan yang pintunya tertutup, seketika itu aku bergegas untuk berlari menyusul temanku karena ketakutan aku reflek berteriak tanpa memperdulikan sekitarku,

“cuk enteni cuk”(cuk tungguin cuk),

tiba-tiba dari arah belakang aku mendengar suara Gagah

“kowe ki ngopo mlayu-mlayu”(kamu tu ngapain lari-lari),
“lah kok kowe-kowe ijek neng kene terus seng munggah mau sopo?”(kok kalian masih disini terus yang naik tadi siapa?),

“ngelindur kowe wong aku mbek cah-cah ijek neng ruangan sebelahe seng mau dewe mlebu og”(halu ya kamu orang aku sama teman-teman masih diruangan sebelah yamh tadi kita masuk kok),

Disitu aku benar-benar bingung aku sangat yakin tadi aku melihat teman-temanku naik ke lantai dua tapi kenapa sekarang mereka justru ada bersamaku.

“wes ah mlaku bareng-bareng wae ngono lo ah” (udah ah jalen bareng-bareng aja gitu lo),

“munggah yok ketoke neng kono apik”(naik yok disana kelitannya bagus) ucap Gagah,

kami bersama-sama naik ke lantai 2 saat itu tangga menuju lantai 2 gelap tanpa banyak penerangan. Dilantai 2 ini aku merasa ruangan luas ini sangat padat dengan aktivitas-aktivitas malamnya, baru beberapa meter berjalan aku melihat ada wanita yang ingin loncat ke bawah aku yang melihat kejadian itu reflek berteriak,

“woi ojo mlumpat”(woi jangan loncat),

Yuda yang mendengarku berteriak langsung memukul pundakku,

“jon bengok-bengok dideloki wong heh”(jon, teriak-teriak diliatin orang heh),

Gagah lewat disebelahku sambil bergumam,

“santai’o jon nek kiro-kiro rak jelas nengke mbek dideloki wae”(santai aja jon kalau kira-kira ngak jelas diemin sambil diliat aja),

kamipun berjalan ke arah dimana aku melihat ada wanita yang melompat ke bawah lalu aku melihat ke arah bawah tempat wanita tadi melompat, ternyata disitu ada sebuah sumur yang entah masih berfungsi atau tidak.

(untuk menjaga nama dll saya sengaja tidak memberikan ilustrasi di cerita ini)
Diubah oleh ioctaviann
profile-picture
AnakRumahan580 memberi reputasi
1 0
1
Aku Melihat Mereka
06-05-2018 11:13
part9

0 0
0
Aku Melihat Mereka
06-05-2018 11:14
emoticon-Rate 5 Star
0 0
0
Aku Melihat Mereka
06-05-2018 19:27
Quote:Original Posted By iguspian
part9


ada apa dengan part 9 gan? emoticon-Bingung
0 0
0
Aku Melihat Mereka
06-05-2018 19:28
Quote:Original Posted By iguspian
emoticon-Rate 5 Star


thx gan emoticon-Shakehand2
0 0
0
Aku Melihat Mereka
06-05-2018 20:46
keren, nitip ya agar ga lari
0 0
0
Aku Melihat Mereka
06-05-2018 22:34
mantap critomu jon....bar marathon seko awal sampai update terakhir
0 0
0
Aku Melihat Mereka
06-05-2018 23:28
Quote:Original Posted By jhoo
keren, nitip ya agar ga lari


siap, makasih udh mampir disini gan emoticon-Shakehand2
0 0
0
Aku Melihat Mereka
06-05-2018 23:30
Quote:Original Posted By iw4n.4wan
mantap critomu jon....bar marathon seko awal sampai update terakhir


hatur nuhun gan emoticon-Shakehand2
0 0
0
Aku Melihat Mereka
07-05-2018 19:35
Quote:Original Posted By ioctaviann


ada apa dengan part 9 gan? emoticon-Bingung




cuma nandain aja gan, ane baca ampe part 9. emoticon-Big Grin
0 0
0
Aku Melihat Mereka
07-05-2018 20:19
Quote:Original Posted By iguspian
cuma nandain aja gan, ane baca ampe part 9. emoticon-Big Grin


siap gan semoga anteng sampek part terakhir emoticon-Shakehand2
0 0
0
Aku Melihat Mereka
09-05-2018 02:41

Bagian 24

Aku dan teman-temanku melanjutkan perjalanan kami, disitu aku mencoba mengontrol emosiku namun kejadian terulang lagi entah diruang apa disitu tidak memiliki penerangan yang cukup ada dua sosok kuntilanak yang berdiam langit-langitnya,
"ditempat seperti ini masih saja ada sosok seperti itu" ucapku dalam hati, aku yang melihat sosok tadi langsung berlari ke arah luar. Tidak berhenti disitu masih di lantai yang sama ada ruangan yang saling berjajar ruangan itu memiliki rongga pintu yang berjejer lurus sehingga aku bisa melihat ujung dari ruangan ini tapi saat aku melihat ujungnya aku seperti melihat ada banyak mahluk yang sedang berlalu lalang disana. Waktu menunjukkan kurang lebih pukul 10:00 malam setelah cukup lama kami berada disini dan memang ada jam kunjungannya akhirnya kami memutuskan untuk keluar dari gedung ini, rasanya lega sekali aku sudah bisa keluar dari gedung tadi.

Kami berempat berlanjut mencari tempat untuk nongkrong setelah lama berputar-putar karena menunggu Axel memilih tempat akhirnya kami menemukan tempat untuk nongkrong.

“rene wae yok”(kesini aja yok) kata Axel, sambil memperlihatkan gambar dihandphonenya,

kami bertiga setuju dengan pilihan Axel, Yuda yang sedang mengemudi langsung mengarah ke tempat tujuan kami. Kurang lebih 20 menit dari lokasi gedung beraksitertur Belanda tadi kami sampai ditempat yang dimaksud Axel,

“weleh panggon ngene meneh” (wah tempat kayak gini lagi) kataku kepada teman-temanku,

“ngopo jon? wedi kowe? (kenapa jon? kamu takut?)Saut Gagah,

“oraklah, yo ndang parkir ndang mlebu”(enggaklah, ayok parkir, terus masuk),

tempat yang dipilih Axel ini adalah tempat nongkrong yang memiliki bangunan bernuansa Eropa tempo dulu bukan hanya dari segi bangunan kursi, meja dan semua hiasannya memiliki nuansa jadul tempo dulu. Bukan hanya restoran ini gedung-gedung lain yang ada disekelilingnya juga merupakan tempat-tempat yang memiliki nuansa Eropa tempo dulu. Belum sampai aku masuk ke dalam tempat nongkrong pilihan kami dari gedung seberang jalan yang tepat ada didepan bangunan cafe aku sudah melihat ada sosok noni-noni belanda sedang berjalan di lantai dua bangunan itu.

Singkatnya kami masuk ke cafe pilihan kami dicafe ini sangat kental nuansa-nuansa tempo dulu bahkan dibagian depan setelah masuk ada 2 buah sepeda onthel selain onthel klasik ada juga telepon rumah dan barang-barang yang bernuansakan tempo dulu sehingga membuat kesan cafe ini berbeda dari cafe-cafe lain. Saat kami masuk kondisi cafe tidak begitu ramai, tempat ini cukup cocok untuk ngobrol santai bersama teman.

“tak neng toilet sek ya cuk”(aku ke toilet dulu cuk) kataku ke teman-teman,

“melu jon aku yo meh nguyoh og”(ikut jon aku juga mau buang air)saut Axel,

kami berdua berjalan menuju ke arah toilet, aku tertarik pada satu tempat disitu aku melihat ada rak yang memuat buku dan beberapa koran, setelah aku dan Axel selesai kami bergegas untuk kembali ke tempat kami duduk tapi karena aku penasaran aku menyuruh Axel untuk kembali ke tempat kami lebih dulu,
“Xel disiko sek aku meh delok-delok buku”(Xel duluan aja aku mau liat-liat buku)ucapku,

“la kowe meh pesen opo? kan mau rung pesen to”(km mau pesen apa? tadi belum pesenkan),

“halah biasa wae kopi ireng mbek opo karepmu”(halah, biasa aja kopi hitam sama apa terserah kamu),

“ya oke, mending kowe takon mas’e to nek entok mengko bukune gowo rono”(ya oke, mending kamu tanya masnya kalau boleh nanti bukunya bawa kesana),

“iyo gampang”(iya nanti gampang),

Axel meninggalkan aku sendiri dengan rak buku dan beberapa koran yang ada.
Aku melihat ada seorang perempuan yang berdiri di dekat pintu masuk dekat lorong menuju ke toilet sedang menyapu tempat itu,

“mbak ini boleh dibaca ngak?”

“boleh kok mas ambil aja tapi jangan dibawa pulang hahaha”

“aku bawa ke tempat duduk ya mbak”

“iya mas silahkan”

entah kenapa aku bukan tertarik pada buku tapi aku justru menarik satu koran untuk ku bawa ke tempat dudukku.

“wes jon?”(udah jon) kata Axel,

“uwes ki jare mbak-mbak’e entok digowo rene og”(udah ni, kata mbaknya td boleh dibawa kesini),

sambil menunggu pesananku sampai aku membaca koran itu, ada kalimat yang menarik dari salah satu berita yang ada di koran tersebut “kecelakaan api 100 korban lebih melayang”, aku bingung kapan kejadiannya perasaan aku tidak pernah melihat berita ini ditv. Disitu ditulis peristiwa kecelakaan kereta api itu terjadi di 1 jalur kereta api yang terjadi di salah satu kota di Indonesia, kecelakaan itu melibatkan 2 buah kereta api. Setelah kopiku datang aku menyeruput sedikit kopiku sambil terfokus dengan berita yang sedang ku baca ini, tanpa tau apa yang sedang terjadi saat aku sedang menghela nafas karena tulisan yang ku baca aku merasa seperti sedang ada disalah satu kereta itu. Aku berjalan-jalan menyusuri tiap-tiap gerbongnya yang cukup dipadati oleh para penumpang dari anak-anak hingga orang tua, tak berapa lama aku merasakan goncangan besar akibat tabrakan yang saat itu terjadi, tabrakan itu teramat sangat keras, seketika suasana menjadi riuh ramai,

“tolong...tolongg...”,

suara jeritan minta tolong, tangisan dan kesakitan para korban semua terasa begitu nyata ada dikepalaku,
ditiap-tiap gerbong kereta ini juga aku dapat melihat ada darah dari para korban berceceran dimana-mana, khususnya para penumpang yang ada dibagian gerbong paling depan yang langsung merasakan efek dari tabrakan kereta ini para korban yang saat itu ada digerbong depan ada jasad yang terjepit dan beberapa korban yang tewas seketika dengan kondisi yang sangat mengenaskan.
profile-picture
AnakRumahan580 memberi reputasi
1 0
1
Aku Melihat Mereka
23-05-2018 12:55

Bagian 25

Aku merasakan sesak yang teramat sangat di bagian dadaku saat melihat peristiwa itu namun tiba-tiba aku tersadar saat aku mendengar suara Yuda,

“oi..fokusmen mocomu ki lo, diombeni kopine sek jon ben rak panik”(oi.. fokus amat bacanya, diminumi kopi dulu biar ngak panik), kata Yuda sambil menepuk pundakku,

“nyo rokoke disambi, moco opo sih kowe”(ini rokoknya disambi, baca apa sih kamu), saut Gagah sambil melempar bungkus rokok ke arahku.

Aku yang merasakan kebingungan dan kepanikan dari efek berita tersebut langsung mengelurkan sebatang rokok yang dilemparkan Gagah padaku untuk menenangkan hatiku, sambil tanganku mencoba merai untuk mengambil kopiku. Dari awal aku membuka dan membaca berita ini aku benar-benar tidak memperhatikan tahun koran ini, setelah aku meminum kopiku aku kembali mengambil koran tai untuk melihat tahun koran tersebut terbit “1980an”, ini adalah koran yang terbit kurang lebih 20 tahun lalu tapi aku bisa membacanya sekarang. Seketika itu ku kembalikan koran itu ke tempatnya tadi, untuk mencairkan pikiranku karena peristiwa tadi aku mengobrol dengan teman-temanku, tak terasa waktu menunjukan sekitar pukul 12:30 malam,

“Yok balek yok, sesok meneh jalan-jalan daerah kene ketoke ngone enak ngo eksplor perkoro tempo dulu”(yok pulang yok, besok kita jalan-jalan ke daerah ini aja kayaknya kalau buat eksplor soal jaman dulu enak) ajak Axel,

“siap kapten, 86 pokoke” saut Yuda.

Kami menghabiskan pesanan kami lalu beranjak untuk pulang, dari cafe itu kami kembali ke hotel untuk beristirahat dan melanjutkan jalan-jalan kami keesokan harinya. Dijalan saat kami akan kembali ke hotel disalah satu bangunan tua yang memiliki jendela susun dan pintu yang cukup besar aku melihat seorang perempuan sambil tangannya menggandeng seorang anak kecil yang mengenakan pakaian semacam gaun sedang berdiri didepannya bangunan tua itu. Aku yang sedari tadi melihat hal-hal aneh akhirnya selama perjalan kembali ke hotel aku memilih untuk mengambil earphone yang ada didalam tasku dan menutup mataku agar tak ada lagi diantara “mereka” yang muncul didepan mataku, “cukup sampai disini dulu, malam ini aku sudah cukup lelah dengan semua yang telah terjadi” ucapku dalam hati. Sampai dihotel kami semua beristirahat, Axel dan Yuda terlihat cukup lelah karena memang dari tadi pagi mereka berdualah yang menyetir. Tinggallah aku bersama Gagah yang masih terjaga, kami berdua merokok sambil mengobrol,

“Gah mau ki neng cafe pas aku moco koran rasane kok koyone aku neng kejadian kui ya, aku koyo delok kejadian kui bener-benar nyata neng ngarep motoku”(Gah tadi di cafe waktu aku baca koran kok aku kayak ada di kejadian itu ya, aku kayak liat kejadian itu benar-benar nyata didepan mataku),

“heh...mosok to?”(heh...masak sih?),

“iyo, la aku nek cerito ngene ki yo po tau ngapusi karo kowe”(iya, kalau aku cerita hal kyak gini apa pernah aku bohong sama kamu),

“aku rak ngerti ik jon nek kui soale aku rak tau ngono, mungkin kowe wae mau terlalu fokus karo beritane”(aku ngak tau jon kalau kayak gitu soalnya aku ngak pernah gitu,, mungkin kamu tadi terlalu fokus sama beritanya),

“iyo kali ya, turu yok ngantuk aku Gah(iya kali ya, tidur yok Gah ngantuk aku)

“iyo, kowe disek”(iya, kamu duluan).

Keesokan harinya kami main ke tempat yang satu wilayah dengan cafe tempat kami tadi malam nongkrong. Kami berempat mengunjungi salah salah satu tempat ibadah yang kebetulan satu komplek dengan cafe tadi malam, disitu suasana yang kurasakan lebih tenang, yang kulihat hanya sekumpulan tuan dan noni Belanda yang sedang beribadah dengan penampilan yang sangat rapi dengan gaya pada masanya. Hal itu membuat tempat disekitar tempat ibadah ini memiliki aura yang menenangkan.

Singkat cerita kami berlibur selama 3 hari, setelah itu kami kembali ke Surabaya dan kami menghabiskan liburan di kampung halaman rumah kami masing-masing, saat perjalan pulang kami semua lebih banyak tidur hanya sesekali kami bercanda karena kebetulan kami semua sedang kelelahan kecuali Axel dan Yuda yang terkadang bergantian menyetir. Sesampainya kami dikontrakan kami berpisah dengan Yuda dan menurunkan dikosannya, aku, Axel, Gagah kembali ke kontrakan untuk pulang ke rumah kami masing-masing. Malam itu kami semua tertidur nyanyak mungkin juga karena kami semua sedang kelelahan. Paginya aku terbangun sekitar pukul 4:30 pagi, aku melaksanakan sholat subuh tak lama setelah sholat aku mendengar handphoneku berbunyi tanda ada pesan masuk, akupun mengambil handphoneku untuk melihat pesan dari siapa pagi-pagi begini, setelah ku buka ternyata pesan dari temanku Surya dia berkata kalau dia membuka cafe baru didekat rumahnya dan menyuruhku untuk mampir ke tempatnya.

Bersambung...
Diubah oleh ioctaviann
profile-picture
AnakRumahan580 memberi reputasi
1 0
1
Halaman 13 dari 21
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
istri-tua-vs-istri-muda
Stories from the Heart
cinta-dalam-penyesalan
Stories from the Heart
madu-yang-beracun
Stories from the Heart
one-more-hour
icon-jualbeli
Jual Beli
© 2019 KASKUS, PT Darta Media Indonesia.
All rights reserved.