Yerusalem, kota di Timur Tengah yang sarat konflik ternyata hampir selalu ramai disambangi pelancong. Sebagian besar datang dengan tujuan wisata religi, karena status Yerusalem sebagai kota suci bagi tiga agama, Islam, Kristen, dan Yahudi.
Yerusalem terletak di dataran tinggi Pegunungan Yudea antara Laut Tengah dan Laut Mati. Sejarah panjang mencatat Yerusalem sebagai wilayah perebutan Israel dan Palestina yang pernah ditaklukkan, dihancurkan, lalu dibangun berkali-kali meninggalkan banyak situs sejarah, pendidikan dan keagamaan.
Namun lebih dari itu, salah satu kota tertua di dunia ini juga simbol toleransi beragama.
Seluruh situs suci keagamaan Yerusalem terkonsentrasi di Kota Tua, Yerusalem Timur. Kota yang dibangun oleh Nabi Daud pada tahun 1004 SM ini merupakan destinasi populer bagi pelancong.
Kota Tua dikelilingi tembok batu sebagai pembatas, yang dibangun tahun 1538 pada pemerintahan Sultan Suleiman I, kaisar Turki Ottoman (Utsmaniyah) ke-10 atau dikenal dengan julukan 'Suleiman the Magnificent' di barat.
Memasuki abad ke-19, dimulai lah tradisi berbagi wilayah di Kota Tua ke dalam empat bagian yang mewakili tiga populasi agama. Yakni Islam yang menduduki wilayah terluas, wilayah Yahudi, dan dua wilayah Kristen mencakup kawasan Armenia sebagai wilayah terkecil dengan pusat Armenia tertua dunia di dalamnya.
Sejak 1981, Kota Tua dan temboknya telah ditetapkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO.
Church of the Holy Sepulchre atau Gereja Makam Kudus merupakan satu dari sekian banyak destinasi favorit peziarah Kristiani dari seluruh dunia.
Gereja ini telah disambangi sejak abad ke-4 di wilayah Kristen. Pun dianggap paling keramat karena dibangun di lokasi yang diyakini sebagai Golgota, tempat Yesus dimakamkan dan bangkit dari kematian, juga disalib di atas Batu Kalvari.
Untuk menuju ke sana, ada ritual terkenal jalan salib di sepanjang jalan Kota Tua bernama Via Dolorosa. Via Dolorosa diambil dari bahasa Latin yang berarti jalan kesengsaraan atau jalan penderitaan. Jalan ini diyakini sebagai jalan yang dilalui Yesus sambil memanggul salib menuju Batu Kalvari.
Setelah dari sana, pelancong bisa mengunjungi Monumen Peringatan Yad Vashem dan Museum Israel. Di sini terdapat lebih dari 500 ribu barang seni, mulai dari lukisan hingga patung. Beberapa di antaranya merupakan saksi bisu terciptanya kitab suci Injil.
Tak jauh dari situ, pelancong muslim biasa menyambangi kompleks Masjidil Aqsa atau Masjid Al Aqsa sebagai tanah suci ketiga umat Islam setelah Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah. Di dalamnya terdapat Jami Al Aqsa dan kubah Shakhrah yang terkenal.
Kubah Shakhrah atau Kubah Batu merupakan ikon Yerusalem berupa kubah berwarna emas. Kubah ini adalah bangunan kubah pertama dalam sejarah islam, dan diyakini sebagai tempat pijakan Nabi Muhammad dalam perjalanan Isra Miraj. Kubah ini tidak berdiri sendiri, melainkan di atas bangunan masjid bernama Dome of the Rock.
Umat Islam, Kristen, dan Yahudi juga percaya lokasi ini sebagai tempat Ibrahim mendapat perintah untuk menyembelih anaknya.
Namun, orang kerap salah mengira Dome of the Rock adalah Jami Al Aqsa karena letaknya berdekatan.
Jami Al Aqsa atau Masjid Al Qibli--sering disangka sebagai Masjid Al Aqsa-- memiliki kubah timah berwarna perak. Masjid ini dianggap istimewa karena sempat dijadikan sebagai arah kiblat sebelum Kabah di Mekkah.
Selain sebutan masjidil Aqsa, kompleks pelataran seluas 14 hektare ini juga dikenal umat muslim sebagai Baitul Maqdis atau Al-Haram Asy-Syarif. Sementara itu, kaum Yahudi menganggapnya sebagai tempat suci Har HaBayit atau Bait Suci yang disebut juga Bukit Kuil (Temple Mount).
Dekat Temple Mount, ada sebuah Tembok bersejarah bagi penduduk Yahudi yang disebut Wailing Wall (Tembok Ratapan) atau Kotel. Dibatasi pemisah, lelaki dan perempuan biasa berdoa meratapi dosa dan penyesalan, lalu menulis permohonan pada selembar kertas yang diselipkan di tembok.
Tembok keramat ini digunakan pada ritual keagamaan dan diyakini sebagai kehadiran Tuhan. Penganut Yahudi percaya bahwa mereka berdoa langsung pada Tuhan sehingga doa akan terkabul. Tembok itu pun dianggap kuat dan tidak akan hancur.
Anda juga bisa mengunjungi Bukit Zaitun. Di sini Anda bisa memandang Yerusalem dengan jelas. Bagi kepercayaan Yahudi, Mesias yang ditunggu-tunggu akan datang dari sini. Di bukit ini pula Yesus naik ke surga. Sementara kaum muslim menganggapnya sangat penting hingga tertuang dalam Quran surat At Tin.
Menariknya, Yerusalem juga mengasilkan kondisi langka bagi pelancong yang disebut sindrom Yerusalem. Orang yang terpengaruh suasana keramat akan mengalami gangguan psikis di mana mereka jadi relijius berlebihan. Meski begitu, gejala tidak berlangsung lama dan bisa diobati dengan berkonsultasi pada dokter kejiwaan.
Untuk berkunjung, pelancong berbagai negara bisa mendarat di bandara Ben Gurion, Tel Aviv, Israel. Kemudian melanjutkan penerbangan menuju Yerusalem, dengan waktu 45 menit. Selain jalur udara, banyak juga yang memilih perjalanan darat lewat pintu masuk dari Yordania dan Mesir.
Beberapa rekomendasi penginapan terbaik di Yerusalem di antaranya vila, hotel berbintang dengan harga bersahabat mulai Rp1 jutaan, juga guest house sampai hostel seharga Rp500 ribuan.
Tiga agama tersebut adalah Islam, Kristen dan Yahudi, bukan hanya wisata agama, tetapi disana terdapat situs sejarah dan pendidikan.
Khusus untuk wisata agama terdapat di Yerusalem timur yang di bangun oleh Nabi Daud lhoo guyss..
Untuk wisata agama bagi umat Kristiani ada Church of the Holy Sepulchre atau Gereja Makam Kudus, untuk wisata religi Muslim ada Masjidil Aqsa atau Masjid Al Aqsa sebagai tanah suci ketiga umat Islam. Selain itu, ad sebuah Tembok bersejarah bagi penduduk Yahudi yang disebut Wailing Wall (Tembok Ratapan) atau Kotel.