- Beranda
- Berita Luar Negeri
Industri Fashion Salah Satu Penyumbang Gas Emisi Terbesar
...
TS
toniovich
Industri Fashion Salah Satu Penyumbang Gas Emisi Terbesar

Ketika Anda membeli pakaian yang harganya mungkin mencapai ratusan ribu atau bahkan jutaan rupiah, apakah itu betul-betul didorong oleh kebutuhan atau sekedar keinginan? Jika hanya dipakai sekali dan kemudian Anda menyimpannya di dalam lemari untuk waktu yang lama (jangan-jangan malah Anda sudah lupa pernah membelinya), sama saja dengan Anda secara tidak langsung berperan menyebabkan meluasnya pemanasan global. Pasalnya, industri fashion saat ini dituding menjadi salah satu industri yang menyumbang emisi karbon terbesar di dunia.
Tampil fashionable memang merupakan tuntutan gaya hidup yang sukar dihindari sejak manusia mengenal gaya berpakaian modis berabad-abad lalu hingga masa kini. Muncul dengan busana yang selalu berganti-ganti adalah dambaan banyak orang. Mereka rela merogoh kocek dalam-dalam untuk terus menambah koleksi aneka pakaian di dalam lemari.
Masalahnya, insting untuk selalu berpenampilan beda ini berdampak buruk terhadap lingkungan.
Artikel Terkait : Kenya Larang Penggunaan Kantong Plastik
Sebuah kajian ilmiah baru-baru ini menyoroti efek mencengangkan industri fashion modern terhadap lingkungan. Kajian ilmiah ini menyebutkan ada 6 hal dari industri fashion yang tidak ramah lingkungan.
Pertama. Lebih dari separuh “trend fashion” yang gegap gempita saat ini, sudah tak berlaku lagi tahun depan. Ini berarti yang lama hanya menambah panjang gantungan pakaian di lemari karena bakal jarang dipakai lagi.
Kedua. Industri fashion menyumbang 1,26 miliar ton emisi karbon setiap tahunnya. Jumlah itu lebih besar daripada gabungan emisi karbon yang dihasilkan industri penerbangan internasional dan industri pengiriman barang melalui kapal-kapal besar.
Ketiga. Tak sampai 1 persen bahan baku industri pakaian yang bisa didaur ulang.
Keempat. Satu truk besar penuh pakaian bekas dibuang setiap detiknya.
Kelima. Setengah juta ton mikro fiber plastik ditumpahkan saat dicuci. Parahnya, mikro fiber plastik ini akan berakhir di lautan dan kemudian menjadi bagian dari rantai makanan.
Keenam. Rata-rata penggunaan baju yang dipakai berkali-kali, turun 36 persen.
Kajian yang dipublikasikan oleh MacArthur Foundation ini, mendapat dukungan dari H & M dan Nike, dua dari produsen apparel terbesar di dunia. Mereka meminta agar industri fashion menjadi industri yang berkelanjutan serta lebih ramah lingkungan.
Artikel Terkait : Karen Ibasco dari Filipina Menangi Pemilihan Miss Earth 2017
Stella McCartney, seorang designer yang sudah lama menganjurkan sekaligus mempraktekkan langsung penggunaan bahan-bahan yang ramah lingkungan pada gaun-gaun rancangan koleksinya, mengapresiasi kajian ilmiah tersebut.
“Kita harus bekerja sama menemukan cara untuk memperbaiki industri (fashion) agar tidak menambah parah beban planet ini,” ujarnya tegas.
(sumber)
Org2 kaya emang kerjaannya ngrusuhi planet aja. Yg melarat? Boro2 koleksi pakaian. Beli baju baru setahun sekali aja belum tentu kesampaian
anasabila dan sebelahblog memberi reputasi
2
974
2
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita Luar Negeri
82.1KThread•21KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya