Kaskus

Entertainment

toniovichAvatar border
TS
toniovich
Perubahan Iklim atau Pemanasan Global Penyebab Bencana?
Perubahan Iklim atau Pemanasan Global Penyebab Bencana?

Beberapa hari lalu, tepatnya tanggal 27 November, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), mendeteksi Siklon Tropis Cempaka sudah sangat dekat dengan pesisir selatan Pulau Jawa. Selang sehari kemudian terjadi hujan lebat disertai angin kencang melanda berbagai daerah di 6 propinsi di Pulau Jawa. Bahkan di Pacitan, Jawa Timur, hujan lebat memakan korban lebih dari 11 jiwa.

Siklon Tropis Cempaka atau bisa juga hanya disebut Siklon Cempaka adalah sebuah siklon tropis yang terjadi pada penghujung bulan November 2017 di Samudera Hindia. Adanya siklon ini mengakibatkan perubahan pola cuaca ekstrim di sekitar lintasannya yang berada di selatan Pulau Jawa. Tak heran jika dalam kurun waktu satu dua hari hujan deras mengguyur dalam waktu lama dan membuat beberapa daerah seperti Jogja, Pacitan, Sidoarjo, Situbondo mengalami banjir di mana-mana.

Yang menjadi pertanyaan sekarang, besar mana sih faktor penyebab bencana? Perubahan iklim atau pemanasan global? Sebab dua hal ini kerap membingungkan. Ada yang mengatakan kalau badai dahsyat yang berlangsung berturutan di daratan Amerika beberapa waktu lalu diakibatkan perubahan iklim ekstrem. Namun tak sedikit yang menuding bahwa itu karena pemanasan global.

Sebenarnya perubahan iklim dan pemanasan global adalah istilah yang digunakan oleh para pakar klimatologi untuk menggambarkan fenomena menghangatnya permukaan bumi.

Jurnal Climate Reality menyentilnya dengan tepat beda pendapat mengenai dua istilah tersebut.

“Anda boleh menyebutnya pemanasan global. Anda boleh pula mengatakannya sebagai perubahan iklim. Tapi yang jelas, dua-duanya buruk bagi umat manusia.”

Perubahan iklim adalah termasuk menghangatnya suhu berikut efek sampingnya seperti mencairnya es di kutub utara, hujan badai atau kekeringan yang makin sering terjadi. Dengan kata lain, pemanasan global hanya merupakan salah satu gejala dari berubahnya iklim yang disebabkan ulah manusia.

Artikel Terkait : Produksi Etanol Memperparah Emisi Karbon

Sedangkan perubahan iklim adalah istilah yang lebih luas lagi maknanya. Misalnya, dampak dari polusi karbon tidak hanya sekedar menghangatkan planet ini. Tapi juga membawa dampak-dampak buruk lainnya, seperti membalik pola terjadinya hujan di selatan dan salju di utara. Hal ini pada gilirannya menyebabkan meningkatnya badai dan musim kering yang panjang. Dengan demikian, perubahan iklim jauh lebih luas cakupannya daripada pemanasan global.

Para ilmuwan umumnya sepakat bahwa selama milyaran tahun eksistensinya, bumi selalu menghadapi suhu panas dan dingin ekstrim yang datang silih berganti. Setelah jutaan tahun mengalami jaman es, bumi kemudian menghangat. Naiknya temperatur bumi ini mencairkan es yang tebal sehingga membuat daratan yang dulunya luas, terpisah menjadi daratan-daratan yang lebih kecil karena sebagian tenggelam. Lautan luas yang kita kenal sekarang adalah akibat pemanasan global.

Akan tetapi pemanasan global yang pernah dialami bumi itu membutuhkan proses lama. Jutaan tahun. Yang dicemaskan para ilmuwan, proses tersebut saat ini berlangsung begitu cepat. Sejak revolusi industri dua abad lalu, suhu di bumi sudah mengalami peningkatan beberapa derajad celcius. Sesuatu yang dulunya butuh proses jutaan tahun, kini hanya ditempuh dalam dua abad!

Tudingan pun diarahkan kepada mamalia berkaki dua. Siapa? Kita. Dengan kecerdasan otak plus kerakusannya, manusia menjadi mesin yang paling efektif untuk menghancurkan bumi.

Betapa tidak. Pemanasan global yang muncul dewasa ini adalah akibat pelepasan emisi karbon secara besar-besaran yang dilakukan manusia. Mulai dari sektor pertanian, peternakan, pembakaran hutan untuk perkebunan hingga transportasi, menjadi penyumbang efek gas rumah kaca yang belum pernah terjadi sebelumnya. Penghambur-hamburan bahan bakar fosil untuk sumber energi menambah parah peningkatan temperatur bumi.

Dampak dari menghangatnya suhu bumi ini secara jelas terlihat pada naiknya permukaan air laut di banyak daerah pesisir pantai di berbagai negara. Bahkan diperkirakan dalam sekian tahun ke depan, sejumlah kota di Indonesia sebagian pantainya akan tenggelam jika pemanasan global terus berlangsung dalam skala yang sama seperti saat ini.

Artikel Terkait : Gelombang Panas Ekstrim Hantam Asia Selatan

Jadi pemanasan global bukanlah hoax, sesuatu yang sering didengung-dengungkan seorang presiden dari sebuah negara super power. Begitu juga dengan perubahan iklim secara ekstrem. Jika masih merasa itu adalah fenomena alam yang terlalu dibesar-besarkan, coba tanyakan pada warga Pacitan atau Jogja yang baru saja dilanda hujan badai. Pernahkah mereka mengalami badai yang begitu dahsyat seperti yang terjadi beberapa hari yang lalu dalam puluhan tahun ke belakang?

Media-media mainstream pun mengangkat bencana alam ini menjadi berita utamanya, yang untuk sementara menggeser berita-berita memuakkan tentang aneka korupsi di tanah air. Tagar-tagar #PrayForPacitan, #PrayForJogja, #IndonesiaBerduka, dll, bertebaran di dunia maya.

Ngamuknya alam yang sebagian besar diakibatkan kelakuan manusia ini sudah di depan mata. Hanya tunggu waktu dan giliran saja menghampiri kita. Mungkin agak susah mendefinisikan apa yang bisa kita perbuat untuk meredam kemarahan alam. Namun ada satu hal paling mudah yang bisa kita lakukan, yakni stop menganggap perubahan iklim dan pemanasan global sebagai hoax. Karena jika berangkat dari pemahaman yang sama, maka tindakan kita pun akan sejalan.

Mempromosikan kesadaran terhadap masalah lingkungan bukan tanggung jawab pemerintah atau individu-individu tertentu saja, melainkan tanggung jawab kita semua. Khususnya bagi Anda yang melek informasi dan sedikit dikaruniai nikmat kemampuan mencerna apa yang tengah terjadi, Anda bisa memulainya dari diri Anda sendiri.

Catatan Terkait : Peduli Lingkungan? Biarkan Anak Anda Bermain di Luar

Terdengar klise, tapi menghemat pemakaian air dan listrik, meminimalisir ketergantungan pada wadah plastik, memilih jalan kaki ke tempat tujuan yang dekat daripada menggunakan motor, tidak membuang sampah ke sungai, menghijaukan lingkungan sekitar, dlsb, merupakan langkah-langkah yang tak terlalu njlimet untuk dilakukan.

Jika dilakukan segelintir individu memang tidak akan berasa. Tapi jika semakin banyak orang yang melakukannya, tentu akan ada efeknya. Perubahan iklim dan pemanasan global yang murni diakibatkan ulah manusia, sesungguhnya bermula dari hal-hal sepele seperti di atas. Dua-duanya saling terkait. Dua-duanya menyebabkan terjadinya banyak bencana. Untuk mencegah kemarahan alam lebih dahsyat lagi, semuanya sekarang berpulang pada diri kita sendiri.

Bersikap masa bodoh dan melanjutkan gaya hidup boros energi adalah pilihan Anda. Tidak ada hukum tertulis yang melarangnya, kok. Tapi nanti-nanti jangan bikin tagar #SaveIni #SaveItu kalau sungai yang jaraknya berkilo-kilo dari rumah Anda tahu-tahu meluap dan menenggelamkan separuh rumah Anda.

(sumber)

Spoiler for Ngeri gan:


Spoiler for Video amatirnya gan:
0
2.2K
9
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
The Lounge
The Lounge
KASKUS Official
1.3MThread108KAnggota
Urutkan
Terlama
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.