Story
Batal
KATEGORI
link has been copied
Informasi! Baca info terupdate seputar virus corona di sini
7735
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/5a040a4c60e24b61358b456a/hypnophobia--kisah-cintaku
Hidupnya memang unik karena penyakit yang dia derita, Hypnophobia. Yaitu suatu gangguan psikologis, yang menyebabkan penderita akan kesulitan untuk tidur dengan enak, nyaman dan tenang jika tidak ada yang menemaninya. Dalam kasusnya, dia kesulitan tidur jika malam saja. Agak berbeda dengan Insomnia yang memang susah tidur saja.
Lapor Hansip
09-11-2017 14:57

Hypnophobia & Kisah Cintaku

Past Hot Thread
Hypnophobia & Kisah Cintaku

Thanks to agan kkaze22untuk cover-nya



HYPNOPHOBIA & KISAH CINTAKU



Gak nyangka ini tulisan ane bisa masuk rekomendasi Deretan Cerita Penuh Cinta (MADING SFTH)di hari Valentine 2019

Thanks untuk para kaskus officers dan pembaca setia yang selalu meramaikan trit ane


NB: Buat yang minat baca-baca di ponsel android, bisa donlot app-nya gratis di link ini.



Assalamualaikum para rekan penggemar, penghuni dan silent reader di SF SFTH ini. Sudi kiranya semua untuk membaca kisah hidup sahabat baik ane, yang kini orangnya masih hidup, sudah menikah dengan salah satu wanita yang nanti akan ane share satu-satu disini.

Hidupnya memang unik karena penyakit yang dia derita, Hypnophobia. Yaitu suatu gangguan psikologis, yang menyebabkan penderita akan kesulitan untuk tidur dengan enak, nyaman dan tenang jika tidak ada yang menemaninya. Dalam kasusnya, dia kesulitan tidur jika malam saja. Agak berbeda dengan Insomnia yang memang susah tidur saja.

Bagaimana ane bisa mengenal dia? Dia adalah teman sejak SMP. Masuk SMU dan kuliah bareng, kos juga berdekatan. Bedanya, dia lebih tampan dibanding ane dan wanita yang berdekatan dengannya biasanya punya daya tarik diatas rata-rata wanita umumnya. Jadi, para wanita yang nanti ane share disini, ya memang menarik seperti apa adanya. Bahkan, saat ini rumah kami pun hanya kisaran 4-5 km saja bedanya. Keluarga ane kenal dengan keluarganya, bahkan istri ane dan istrinya pun berteman baik. Bisa ane bilang, istrinya cantik banget gan.. kadang suka ngiri juga sih ngeliatnya emoticon-Hammer (S) emoticon-Hammer (S)

Bagaimana ane bisa tahu banyak mengenai detail kata-kata, kalimat perbincangan dan lainnya? Ane sahabat baiknya, gan. Tempat dia menceritakan keluh kesahnya, tangisnya kala galau, tawanya kala senang dan berbagi rejekinya kala dia ketimpa durian runtuh. Walau ane dan dia sangat dekat, kami bukan gay ya gan hahaha... emoticon-Ngakak (S) emoticon-Ngakak (S)

Jadi persentase kebenaran dan fiksi dalam cerita ini bagaimana? Bisa ane katakan 60-70% jalan cerita adalah seperti adanya, mengenai percakapan antara teman ane dengan para pelaku lain disini adalah yang benar TS dan ane ingat serta "bumbu" untuk membuat bacaan jadi menarik.

Jadi tolong ane minta perhatian rekan semua, untuk tidak kepo - membocorkan nama tempat kerja - identitas temen ane - identitas pelaku lainnya dalam cerita ini - dan sejenisnya. Mari kita nikmati saja apa yang akan ane share, jika mau tanya-tanya atau mencocokkan informasi bisa PM ane dan kalau tidak mencurigakan ane akan bantu jawab dengan sopan. Sesekali ane akan muncul di dalam cerita sebagai cameo sahabatnya tokoh utama.

Ane juga membuka diri untuk kritik, saran, cara penyampaian tulisan, apa yang perlu di-edit dan lainnya agar membuat tulisan jadi semakin enak dibaca. Patut diingat, ane gak ngincer apa-apa dengan sharing ini. Cuma mau share aja, bahwa penyakit aneh itu ada dan siapapun bisa mengidapnya. Syukurilah hidup kita yang sehat baik fisik atau mental. Tapi ane gak nolak kalau ini mau di-rate bintang dan dikirim cendol.

NB: Ilustrasi penampakan dari para wanita yang pernah mengisi hatinya dan memberi dampak berarti dalam hidupnya, tapi dalam keadaan di edit secukupnya ada di post index bawah. Yang bisa nebak benar minimal 5 dari 6 penampakan, akan dapat PM dari ane dan Insya Allah ada hadiahnya 1 (satu) unit mechanical keyboard. Ane gak akan publish nama-namanya di-trit (misal: penampakan pertama si A, penampakan kedua si B dan seterusnya). Silakan para pembaca menebak sepuasnya, boleh by PM atau sebut aja di post masing-masing. Hadiah akan diundi ketika cerita berakhir.

Daftar calon Pemenang hadiah undian





Sedikit legend untuk range waktu:

Misal disebut "Early/Awal - Januari", maka rentang waktu antara 1-10 Januari pada bulan dimaksud.
Misal disebut "Mid - Januari", maka rentang waktu antara 11-20 Januari pada bulan dimaksud.
Misal disebut "Late/Akhir - Januari", maka rentang waktu antara 21-31 Januari pada bulan dimaksud.

Karena sepertinya TS sulit mengingat tanggal pasti dari banyak kejadian dalam kisah ini.




Cast (Up to Part 131):

Agung ....................................... Teman Ibey di kantor barunya
Akbar ........................................ Pacar dari Anna
Aldi ........................................... Teman Ibey di kantor barunya
Anggi ....................................... Woman of Interest
Alfian ........................................ Teman kuliah Anna & Anggi
Anna ......................................... Woman of Interest
Avia .......................................... Kakak dari Anggi
Benny ....................................... Kakak dari Anna
Bila ........................................... Sahabat dari Anggi
Bu Ani ...................................... Asisten Rumah Tangga Ibey
Bu Diah .................................... Atasan Ibey di Kantor
Cici ........................................... Pacar Rully
Dila .......................................... Pacar Victor di Bandung
Daud ......................................... Teman Ibey di kantor barunya
David ......................................... Kakak Ipar Anggi
Diana ........................................ Teman Ibey di kantor barunya
Dokter Arifin ............................. Ahli Terapi Hipnotis
Elan ......................................... Kakak Angkat dari Anggi
Erik ........................................... Mantan Pacar Anggi
Fahri ......................................... Teman Kantor Ibey
Farah ........................................ Istri Benny
Fauzan ..................................... Teman Anggi
Febri ........................................ Woman of Interest
Ferdi ........................................ Teman Kantor Ibey
Hafizah .................................... Sahabat dari Anggi
Hardi ........................................ Adik Laki-laki dari Ibey
Ibey ......................................... Tokoh Utama
Kang Deden ............................ Tetangga Rumah dari Ibey
Krisna ...................................... Teman Ibey di kantor barunya
Lani .......................................... Adik Dila di Bandung
Layla ....................................... Anak dari Kak Avia dan Kak David
Lisa ......................................... Teman Ibey di kantor barunya
Izza ......................................... Woman of Interest
Marissa ................................... Teman Ibey di kantor barunya
Manda ..……............................. Woman of Interest
Mas Noval ............................... Tetangga Rumah dari Ibey
Nana ....................................... Woman of Interest
Nini .......................................... Teman Kantor Ibey
Nyimas .................................... Teman Kantor Ibey
Pak Achyat .............................. Ayah Manda
Pak Danu ................................ Ayah Ibey
Pak Darno ............................... Supir Anggi di Surabaya
Pak Gondo ............................. Ayah Anna
Pak Rajo ................................. Ayah Anggi
Pak Tisno ................................ Security rumah Anggi di Surabaya
Rahman .................................. Sepupu Anna di Jakarta
Raja ........................................ Anak dari Kak Avia dan Kak David
Rama ...................................... Teman Kantor Ibey
Rani ........................................ Teman Kantor Ibey
Ria .......................................... Teman Ibey di kantor barunya
Rifki ........................................ Teman Ibey di kantor barunya
Rully ....................................... Ane
Sasha ..................................... Sahabat dari Anggi
Tante Ratna ............................ Tantenya Anggi
Teo ......................................... Teman Ibey di kantor barunya
Vera ........................................ Teman Kantor Ibey
Victor ...................................... Teman Ibey di kantor barunya
Viva ........................................ Adik Perempuan Ibey
Wilma ..................................... Teman Ibey di kantor barunya










Quote:Intro:

(Selatan) Jakarta Mid-Desember 2005,

Aku terbangun sebelum adzan memanggil, karena memang jam biologisku jika tidur ditemani sudah bekerja seperti itu. Tidurku hanya bertahan hingga antara pukul 0400-0415 pagi kecuali jika memang lelah tak terperi. Seperti biasanya sejak beberapa bulan terakhir ini, aku tidur dengan ditemani oleh Febri. Gadis manis teman kantorku.

Hujan yang lebat semalam, membuat AC di kamarku semakin dingin. Namun hangatnya selimut dan tubuh Febri tidak dapat membuatku kembali tertidur. Sambil menatapnya, aku bersyukur bahwa tidurku masih ada yang menemani. Walau dia tidak dapat selalu hadir tiap malam. Tapi masih jauh lebih baik daripada aku tidur sendiri.



AKU:

Aku biasa dipanggil Ibey, lahir di Ibukota ini dengan asal usul ayah asli Jawa Timur dan Ibuku blasteran Jawa-Manado-Belanda. Tinggiku sekitar 172cm dengan berat badan 63kg, sekedar langsing tapi tidak kekar. Karena aku hanya gemar berolahraga bulutangkis seminggu sekali, hobi utamaku adalah di depan PC. Keluarga dan teman menilai perawakanku seperti Ronny Setiawan (almarhum vokalis Element Band).

Namun bukan itu yang jadi perhatian kerabat dan temanku. Yang paling mereka ingat dari aku adalah, penyakit Hypnophobia. Yaitu kesulitan untuk tidur sendiri, namun kasusku belum terlalu parah dan baru aku idap sejak tahun 1990an. Jika tidak ada kawan tidur, maka aku perlu menghidupkan televisi atau musik dan lampu. Yang penting ramai, baik di kamar tidur atau di ruang santai rumahku. Suatu hal yang melelahkan, karena biasanya aku baru terlelap dengan sendirinya menjelang adzan subuh.

Aku tidak merokok, tidak suka minuman keras, menghindari kehidupan malam dan sejenisnya. Karena aku khawatir jika kelelahan dan sulit beristirahat, nantinya akan menyusahkan fisikku yang memang sukar diajak kerjasama kalau malam.

Pada tahun 2005 ini aku sudah bekerja di sebuah perusahaan ekspedisi pengiriman barang asal Amerika Serikat dengan penghasilan yang cukup bagus bagi fresh graduate. Kegiatan pulang pergi dan operasional, aku menggunakan mobil buatan jerman seri A140. Dan karena sejak kuliah sudah tidak tinggal di rumah, aku pun meminjam uang pada ayahku untukmembeli sebuah rumah kecil di sekitar Bintaro. Dan setiap hari, aku percayakan kebersihan dan keteraturan rumahku pada Bu Ani, istri seorang security kompleks yang datang setiap hari pukul 08 pagi dan pulang pukul 14. Pekerjaannya tidak banyak karena aku tinggal seorang diri (dan mungkin 2-4 kali seminggu ditemani oleh Febri).

Hingga saat ini aku memang belum pernah mempunyai pendamping yang serius. Wanita seperti Febri yang menemani tidurku, bukanlah pacarku. Dia hanyalah teman, seperti segelintir wanita lain yang juga pernah mengisi waktu-waktu malamku untuk menemaniku tidur. Itu pun sifatnya sementara, namun entah dengan Febri saat ini.


-- to be continued .. soon --
Polling

Poll ini sudah ditutup - 205 Suara

Siapakah yang akan menjadi istri Ibey? 
3.41%
Febri
44.39%
Anna
4.88%
Nana
17.56%
Manda
29.76%
Anggi
Diubah oleh rullyrullzzz
profile-picture
profile-picture
profile-picture
kifif dan 189 lainnya memberi reputasi
180
Masuk atau Daftar untuk memberikan balasan
Hypnophobia & Kisah Cintaku
09-08-2019 18:03
Part 131b, Tahun 2013

Quote:

"Rul.. ada apa nih tumben lo tadi kayanya serius banget ngajak nongkrong?" Tanyaku saat bertemu dengan sahabatku ini di food court bagian luar yang menghadap kolam renang
"Duduk dulu lah. Bentar gue beliin minum, atau lo mau makan sekalian. Biar gue yang pesankan." Ujar Rully sambil bangkit dari duduknya
"Beliin gue Lemonade di DQ aja lah, makanan cemilan terserah lo aja." Ujarku

Rully hanya mengangguk, sementara aku menyempatkan membaca ponsel karena ada pesan masuk dari Anggi yang cuma mengirim satu kata.

'Kangen'

Aku gak membalas pesannya. Dan justru lebih berpikir kira-kira ada apa gerangan yang membuat sahabatku itu tampil serius tapi berusaha bercanda.

'Jangan-jangan, Cici yang ngomong sesuatu nih' ujarku dalam hati

"Apa kabar Bey? Gimana Anna dan Ilana?" Ujar Rully membuyarkan lamunanku
"Alhamdulillah mereka baik dan sehat." Jawabku

Lalu Rully pun menyodorkan padaku minuman yang kupesan. Tak ada cemilan yang dia bawa.

"Lo sendiri sehat?" Tanya Rully
"Ya .. sehat seperti yang lo lihat." Jawabku sambil cengar-cengir
"Tapi menurut gue, lo lagi gak sehat." Ujar Rully sambil menatapku tajam
"Maksud lo?" Tanyaku sambil yakin bahwa memang ada sesuatu yang hendak dia sampaikan padaku
"Maksud gue gini. Gue curiga sebetulnya .. bukan curiga malahan. Gue yakin, ada sesuatu yang ngawur sedang lo lakukan di belakang Anna. Ayo jujur sama gue." Ujar Rully dengan tegas
"Ngawur bagaimana sih Rul? Jangan bikin gue bingung." Kataku berusaha mengeles, tapi aku tau dia pasti paham kalau aku dalam posisi bersalah.
"Ada apa antara lo dan Anggi? Kapan itu lo bilang penasaran sama Anggi. Sekarang gue yakin lo pasti sedang ada sesuatu sama dia. Kalau lo bohong, gue tinggal lo sekarang dan selamanya." Ujar Rully pelan tapi tajam

Aku menatapnya dengan diam. Berusaha merasakan apakah dia berkata sejujurnya atau hanya mengancam.

"Lo kira gue gertak doang? Gue serius kali ini." Ujar Rully

Mimik wajahnya adalah mimik wajah paling serius yang pernah kulihat darinya selama ini. Aku yakin, pekerjaan dia sekarang sudah menempanya dan membentuknya jadi jauh lebih dewasa dibanding sebelumnya. Sementara aku? Justru terjerumus dalam perbuatan yang kekanak-kanak-an.

"Apa yang kira-kira membuat lo jadi bisa berpendapat begitu?" Tanyaku
"Gue gak akan bohong, kalau gue sendiri gak yakin sebetulnya. Tapi entah kenapa, ketika gue tau kalau Cici bilang ketemuan sama kalian di bandara... ada sesuatu yang 'berbunyi' di otak gue." Kata Rully
"Perasaan lo doang lah Rul." Ujarku mencoba bertaruh kalau Rully sebetulnya hanya gertak aja.
"Lo jangan main-main sama gue." Ujarnya tiba-tiba sambil berdiri dari duduknya.
"Mau kemana lo?" Tanyaku kaget
"Gue tanya sekali lagi. Lo berani sumpah dan yakin kalau beneran gak ada apa-apa antara lo dan Anggi?" Tanyanya kembali

Seketika aku pun kehilangan keberanian untuk ngeles. Hanya dia teman dan sahabat yang aku bisa ceritakan apapun mengenai hidupku. Semisal dia hilang..

"Oke.. oke.. duduk dulu lah. Gue ceritain yang sebenarnya.. mungkin gak separah yang ada di benak lo. Tapi mungkin juga lebih parah berdasarkan persepsi lo." Ujarku
"Jadi.. bener lo selingkuh sama Anggi?" Tanya Rully langsung, ketika dia kembali duduk

Aku mengangguk pelan. Mulutku terkunci dan tak berani menjawab.

"Lo sadar kenapa gue nanya begini? Lo udah nikah, kurang cantik apa bini lo? Dasar gila ya lo?" ujar Rully pelan namun dengan nada marah
"Iya gue sadar. Dan ... gue sebetulnya kapok. Cuma..." Aku gak bisa meneruskan kata-kataku
"Cuma lo doyan ya ngent*t ama Anggi?" Tanya Rully dengan nada kasar dan marah

Aku sadar dia sedang marah. Marah karena aku tega mengkhianati istriku. Dan lagi-lagi aku terdiam, kata-katanya barusan tak sepenuhnya salah.

"Lo sering ngent*t sama dia? Berkali-kali? Kalau kalian pernah se-bandara barengan ya berarti udah trip jauh lah. Luar biasa banget 'perjuangan' kalian untuk sekedar 'crot' dan 'ah-ah-ah' ya?" Ujar Rully dengan sinis sekali.
"Gue tau kok gue salah. Udah lah Rul.." Ujarku menahan malu
"Ngomelnya gue ini, mungkin gak akan ada apa-apanya dengan marahnya Anna nanti. Atau .. mungkin dia gak marah, gak bisa marah. Tapi bisa jadi dia akan menangis. Lo bisa bayangin kan, kaya apa sedihnya nanti dia kalau tau suaminya ngent*t ama Anggi?" Tanya Rully, seperti tadi .. pelan tapi tegas dan menusuk.

Aku benar-benar gak bisa membalas perkataanya.

"Lo parah banget lah Bey.. gak nyangka gue punya temen begini. Gue pikir terakhir kita ketemu itu, lo cuma main-main. Tau gini ... ah gila lah." Kata Rully

Tak lama diantara kami pun hening sejenak. Kami saling menikmati minuman masing-masing. Mungkin berusaha untuk menenangkan dan mendinginkan akal.

"Kapan lo mau berhenti?" Tanya Rully tiba-tiba
"Secepatnya Rul, gue udah bosan." Jawabku
"Ya bosen lah kalau cuma ngejar toket ama meme*k doang. Tiap ketemu ngent*t terus crot. Selesai pulang. Sama aja kaya lo main bareng pelacur. Gue yakin palingan dia aja yang ngerasa cinta dan sayang. Lo nggak. Bener kan?" Tanya Rully

Aku tersenyum getir sambil mengangguk pelan. Sejujurnya itu saja yang kurasakan, rasa penasaranku pada Anggi hanya terbatas pada ingin 'menikmatinya' saja. Dan memang benar, Anggi masih cinta dan sayang padaku. Entah bagaimana nanti kalau semua ini berhenti.

"Gue udah cape. Dan ini bukan sekedar untuk menyenangkan lo ya, gue emang udah berencana mau menghentikan ini semua. Lagi mencari waktu yang pas untuk ngomong ke dia." Kataku
"Bullshit lah. Lo telpon aja sekarang si Anggi, bilang kita mesti berhenti berhubungan. Putus pake telepon kan lega, beres." Ujar Rully
"Kalau kami gak ada hubungan ranjang, mungkin semua akan semudah yang lo bilang Rul. Tapi ini gak mudah... gue mesti memastikan kalau gue dan Anggi beres dulu." Ujarku
"Kalau kaya begini, emang gue mesti terpaksa ikut campur. Gue gak mau pernikahan lo buyar. Lo ingat dulu galaunya lo hingga Anna bisa lo tarik lagi. Kalau gak, sekarang mungkin dia udah hidup syar'i dengan juragan lele yang .. halah gue lupa pula namanya. Coba, sekarang dia lo kasih tau kenakalan lo itu. Mungkin gak dia menyesali keputusannya memilih lo dulu itu? Semestinya lo mikir kesitu sebelum lo niat nyemplung ke tengah-tengah toket si Anggi." Ujar Rully kasar
"Iya gue tau.. udah gue bilang lah, gue menyesal. Dan sekarang gak kaya waktu itu lagi, Rul. Gak nyangka ternyata perasaan 'aneh' bersama Anggi ini hanya bertahan sebentar. Dia yang beda perhatiannya ke gue." Jawabku
"Gini... Gue jadi mikir.. Ternyata cuma Nana yang lo pandang terhormat ya. Cuma dia yang gak lo ajak naik ranjang setelah dia nikah. Hampir semua binor yang sange dan deket lo, lo sikat semua kecuali Nana. Padahal gue tau banget, semisal awal-awal dia nikah dan sange pun pasti mau tuh sama lo. Tapi gue salut sama lo.. waktu itu. Sekarang? Nggak.. lo udah bakalan nyakitin Anna. Gue ngiri setengah mati waktu lo nikah sama dia. Gue mau nyari bini kaya dia, sampai sekarang gak dapat-dapat. Jangan sampai gue liat kalian berdua ngalamin apa yang pernah gue alamin beberapa tahun lalu." Ujar Rully tegas

Sejenak suasana hening. Wajah Anna dan Ilana terbayang-bayang dengan jelas di mataku yang aku palingkan, tak menatap Rully tapi menatap ke arah kolam renang. Terdengar suara-suara sorak-sorai anak-anak, dan orang dewasa yang masih berenang menjelang Maghrib ini.

"Thanks ya Rul.. Sedikit banyak, lo udah ada andil buat gue sadar makin cepat lebih baik." Ujarku memecah keheningan
"Gue cuma sedih.. ya sedih karena gak mau lo dan Anna sampai kesandung perceraian. Gue yang gak punya anak aja, berasa banget stress. Lo udah ada Ilana.. gak bisa lah semudah gue jika kalian berpisah. Ditambah lagi, lo akan melihat nanti Ilana berada di bawah perhatian dan diurus pria lain yang mungkin bakalan jadi suami Anna setelah lo. Dan hidup dia lebih bahagia dibanding bersama lo. Wah.. Lo mesti mikir kesana Bey. Mesti!" Kata Rully tegas sambil menatap mataku
"Gue emang bego gak mikir sejauh itu." Kataku terpekur.
"Gue juga lagi bete sebetulnya... gue dan Cici akan berakhir pula. Cuma saja, gue gak tau kapan. Kami sudah tau kalau gak ada masa depan. Pelan-pelan gue yang akan coba ninggalin dia. Mungkin saja urusan gue dan Cici jadi kebawa-bawa emosi-nya hingga gue lampiaskan pada lo hari ini. Sori." Kata Rully
"Cici cantik dan baik, dia juga kayanya udah mau banget sama lo.. tapi pasti keluarganya ya?" Tanyaku berusaha mengalihkan topik
"Keluarga dia dan keluarga gue sih sandungannya. Gue gak mau lagi ngelawan pendapat orang tua kali ini. Dulu, bokap gue udah ngerasa ada yang gak beres dengan mantan. Dan ternyata kejadian. Kalau sekarang... mereka gak punya alasan pasti sih. Tapi mereka gak suka dengan sepak terjang FA, mengingat dulu kakaknya nyokap gue .. ah sudahlah. Mereka hanya khawatir gue kesandung lagi." Kata Rully
"Terus.. apa yang terjadi dari keluarga Cici?" Tanyaku
"Cici gak mungkin bohong mengenai gue. Gue duda, duda cerai pula. Apapun alasan yang Cici berkeras jelaskan tetap gak diterima sama orang tuanya. Ya wajar sih.. cewe secantik Cici manalah mau diserahkan pada duda kaya gue." Kata Rully sambil nyengir pahit
"Tapi mereka tau kan kalau lo udah cukup mapan sekarang, kerjaan udah enak pula." Ujarku
"Udah tau kok.. Cici sangat membantu banget meyakinkan. Tapi nol besar lah.. Jadi, semisal lo ada pengalih perhatian... biar si Cici benci sama gue gitu. Kenalin lah sama cewe, gue males dah nyari-nyari lagi sekarang. Gue mau yang udah recommended, dan kira-kira gak akan bermasalah dengan status duda macam gue ini." Ujar Rully

Lama tak bersua dan ngobrol panjang lebar. Membuat Rully jadi curhat colongan sehabis dia sinis dan ngomel padaku tadi. Ingin rasanya aku tertawa, bukan karena lucu menghina dia. Tapi karena lucu, hidup ini ternyata gak melulu tentang kita yang jadi pusat permasalahan. Ada orang lain yang juga punya masalah, berat atau ringan .. hanya orang-orang tersebut yang mampu mengatasinya. Tentunya akan lebih baik jika dibantu oleh orang lain.

"Insya Allah gue carikan. Lo mau yang kaya apa?" Tanyaku
"Emang stok lo banyak hahaha..." Kata Rully tertawa juga akhirnya
"Lo mau yang putih-putih kaya Cici kan? Atau mau yang eksotis kaya mantan lo dulu?" Jawabku nyengir
"Yang putih-putih aja lah.. enak dielusnya hahaha..." Jawab Rully
"Gue beresin dulu masalah gue sama Anggi ya.. doain gue Rul. Selepas itu, sebelum gue lanjut ke Anna... barulah gue sourcing buat lo. Lo coba dulu netralkan waktu dan perasaan ke Cici sebisanya." Kataku
"Iya.. betul. Urusan lo dengan Anggi dan Anna lebih penting." Ujar Rully

Aku terdiam sejenak karena ada yang ingin kutanyakan lagi, awalnya ragu. Tapi akhirnya aku paksakan juga.

"Rul.. bisa gak, lo jangan sampai kasih tau Anna mengenai ini dulu? Biarkan gue selesaikan dulu." Kataku.
"Gue cuma bisa janji, selama Anna gak nanya maka gue akan diam. Tapi kalau dia sampai nanya secara detail dan menusuk. Ya .. gue gak mau bohong lah Bey. Gue khawatir, suatu saat ada karma yang akan kena balik ke gue semisal gue rela bohong buat lo. Gue masih mau nikah, dan gak mau ngalamin kaya lo begini. Semoga lo paham posisi gue." Kata Rully
"Iya.. yang penting itu, semisal dia yang nanya aja ya. Thanks banget Rul." Ujarku

***

Aku masih menatap langit-langit kamarku sambil mengingat-ingat perbicangan sore tadi dengan Rully itu. Namun kini pikiranku beralih ketika mendengar napas Anna yang mulai teratur karena dia sepertinya sudah terlelap. Aku memikirkan perilakunya hari ini. Memang ada yang tak biasa sepertinya.

"Mungkinkah dia sebetulnya sudah tau kalau aku berselingkuh?"


-- to be continued soon .. --




Diubah oleh rullyrullzzz
profile-picture
profile-picture
profile-picture
andrijuwira15 dan 44 lainnya memberi reputasi
45 0
45
Lihat 5 balasan
Memuat data ..
Hypnophobia & Kisah Cintaku
09-08-2019 18:03
Part 131a, Tahun 2013

Quote:

Setelah bertemu Rully, aku pulang dengan hati gundah gulana. Apa yang dikatakannya dan dijelaskannya, walaupun sejalan dengan keinginanku saat ini tak membuatku menjadi tenang. Ternyata memang benar, perselingkuhan hanya indah di awal. Hanya enak jika gak ada yang tahu. Hanya nikmat jika sedang berdua dengan selingkuhan saja. Ketika kembali ke dunia nyata, terasa sekali tekanan dan ketegangan yang kuhadapi saat ini.

Jika Rully saja bisa mengetahuinya, hanya tinggal menunggu waktu bagi Anna untuk mengetahuinya juga. Walaupun Rully berjanji tidak akan membocorkannya pada Anna. Tapi janjinya berlaku selama Anna tidak bertanya padanya. Jika Anna bertanya, maka Rully akan menceritakan apa yang dia ketahui. Poin inilah yang membuatku menjadi serba salah. Rully adalah sahabat baikku, satu-satunya yang banyak tahu mengenai apapun mengenai diriku. Tak semua dia tau, tapi dia tau banyak. Dia kenal aku.
Tapi di sisi lain, saat ini dia memegang rahasia besarku. Perselingkuhan yang bisa membuat rumah tanggaku hancur. Entah dengan rumah tangga Anggi, tapi pastinya aku belum mengerti seperti apa daya tahan Anna jika mengetahui suaminya ini sering berbagi selangkangan dengan Anggi. Ya .. sekasar itu aku menilai diriku saat ini. Rully benar mengatakan padaku bahwa aku laki-laki pemburu bini orang.

'Cuma Nana yang beruntung gak lo sikat juga. Kenapa lo bisa tahan waktu Nana sange, tapi Anggi sange lo sikat juga? Gak abis pikir gue sama otak lo.' - ujar Rully tadi yang masih terngiang-ngiang hingga saat ini.

Aku mengemudikan mobil dalam keadaan hening tanpa musik atau suara radio, karena aku ingin berpikir jernih. Banyak rencana yang terpikirkan olehku saat ini.

Satu, aku jujur pada Anna mengatakan kalau aku selingkuh lalu minta maaf dan bertobat dengan resiko Anggi masih akan mengejar-ngejar diriku
Dua, aku selesaikan dulu masalahku dengan Anggi alias memutuskan hubungan dulu hingga kami clear, baru jujur berdiskusi dengan Anna
Tiga, membiarkan apa adanya hingga ketahuan oleh siapapun baik itu Anna atau Fauzan

Dari ketiga skenario itu, nomor tiga adalah yang paling tidak aku inginkan. Satu-satunya yang kuingat dari Anggi hanyalah, sex yang tak terlupakan. Dia begitu liar, berani, menggairahkan, nurut, penuh semangat melayani, dan apapun.. you name it. Hanya satu permintaannya yang belum aku kabulkan, keluar di dalam. Dan satu hubungan sex yang belum pernah kami coba, anal. Ada bagian kecil dalam diriku yang menginginkan itu semua. Seperti berkata, 'Ayo kapan lagi bisa nyoba dengan aman tanpa perlu takut rugi apa-apa. Bini orang lho, terjun bebas aja. Gak perlu takut tanggung jawab apa-apa juga, toh Anggi-nya mau.' Tapi sebagian besar dari diriku berkata kalau aku mesti sadar dan kembali pada Anna, yang walaupun tak se-binal Anggi dia adalah istriku. Aku bisa membuatnya jadi binal, sejauh aku mau untuk mendidiknya.

Pilihanku pun jatuh antara skenario satu atau dua. Keduanya atau bahkan ketiganya, tetap membawa resiko paling kutakutkan: CERAI. Karena sekali lagi aku tekankan, aku tak memahami daya tahan Anna jika mengetahui berita ini. Sementara ini, aku lebih memilih skenario ke-dua dengan catatan aku gak mau lagi menikmati tubuh Anggi. Titik.

***

Sepulang sampai rumah, karena tadi aku lapor ke Anna untuk janjian ketemu Rully dulu (yang sekalian makan malam tentunya) jadinya aku sampai sudah lewat dari pukul 21. Ilana sudah tidur, Anna sudah menyiapkan pakaian rumahan (kaus dan celana pendek) untuk istirahat. Jika belum ngantuk, kami biasanya berdua ngobrol dulu di ruang santai. Entah sambil duduk nonton televisi saja, atau walaupun mata ke televisi tapi kami saling ngobrol.

Seperti malam ini, setelah mandi aku gak melihat Anna ada di kamar. Sehingga kupastikan dia sedang ada di ruang santai. Kulihat dia sedang mengutak-atik ponselnya. Dugaanku ya pastinya sedang ngobrol dengan teman-teman pengajiannya atau ya pahit-pahitnya (misal) Sasha ngadu ke Anna. Ketika kuhampiri, tak ada yang aneh dan aku duga Anna masih polos atau belum mengetahui apa-apa. Sedangkan aku masih kacau karena pertemuan dengan Rully tadi lumayan membuatku terguncang. Kupikir, sekalian saja aku utarakan sekarang mengenai perselingkuhanku pada Anna. Tapi seperti ada yang menahanku, yaitu keinginanku untuk menyelesaikan dulu urusan dengan Anggi sebelum aku jujur pada Anna.

Aku duduk di sebelah Anna, dan mencium pipinya yang licin dan harum. Serta tak lupa aku yang memang selalu iseng, tak pernah melupakan untuk mengelus pahanya atau meremas dadanya setiap pulang kantor atau jika mau berangkat kantor. Rutinitas yang sudah kujalani selama menikah dengannya. Dia tersenyum dan mencium bibirku, rasanya hangat sekali. Sekilas berkelebat banyak hal, hal-hal jahat yang sudah kulakukan di belakangnya tentunya.

"Gimana ketemu Rully tadi? Apa kabar?" Tanya Anna sambil meletakkan ponselnya
"Yah.. biasalah. Ngobrolin macem-macem, udah lama gak bertemu." Kataku
"Kalian berdua aja? Atau dia ngenalin kamu ke teman pramugarinya yang lain?" Tanya Anna sambil tersenyum
"Sendirian aja. Emang boleh ya aku dikenalin sama pramugari?" Tanyaku iseng sambil ikutan tersenyum
"Boleh aja. Masa kenalan dilarang, yang gak boleh itu setelah kenalan kamu mau ngapain tapi gak bilang-bilang sama aku." Kata Anna datar

Anna selalu tampil chic walaupun dia di rumah. Tak pernah sekalipun dia tampil gak menarik di rumah, dan ini yang sekarang membuatku menyesal. Kenapa aku sempat terbawa-bawa ke arus perselingkuhan dengan Anggi.

"Pasti lapor kok. Aku minta mereka malah ikutan pengajian kamu juga nanti hehehe..." Kataku berusaha becanda dengan garing
"Kalau pramugari rajin ikut pengajian, emang boleh pakai jilbab?" Tanya Anna
"Kayanya belum ada sih kalau airline lokal, mungkin yang dari Middle-East ada." Kataku

Lalu setelah itu kami berdua saling asyik menonton televisi sambil aku memeluk Anna.

"Mas.. kamu kalau di kantor, makan siang biasa dimana?" Tanya Anna

Tentu saja aku jadi agak kaget, karena hal ini termasuk jarang ditanya olehnya. Tapi mengingat tadi aku makan siang dengan Anggi dan bukan yang pertama juga, membuatku jadi bertanya-tanya. Apakah ini hanya pertanyaan tanpa maksud, atau memang Anna sudah mengetahui sesuatu. Kuputuskan untuk berkata jujur, tapi tak mengatakan yang sebenarnya juga.

"Ya kadang di sekitar kantor, banyak tempat makan juga. Atau tergantung siapa yang ngajak. Ada vendor yang kadang baik suka ngajak siang rame-rame ke restoran agak jauh. Tumben nanya-nanya.. mau bawain aku bekal?" Tanyaku berusaha untuk tetap menyembunyikan keingintahuanku.
"Oooh, emang kalau dibawakan bekal kamu bakalan makan? Gak apa-apa sama teman kantor?" Tanya Anna dengan wajah teduhnya

Tak terbersik apapun di benakku jika mungkin saja Anna sedang berusaha mengorek sesuatu dariku. Pikiranku tetap berusaha senetral mungkin bertahan, Anna tidak tahu apa-apa mengenai kenakalanku dengan Anggi dibelakangnya.

"Ya boleh kalau kamu mau, tapi sekali-kali aja ya hehehe.." Ujarku sambil mengacak-acak rambutnya.
"Sebetulnya aku mau tanya sesuatu sama kamu. Tapi karena aku gak yakin, gak jadi deh aku nanya." Ujar Anna dengan tatapan cukup serius.

Aku pun mengernyitkan kening sambil menatap wajahnya. Berusaha untuk meyakinkan diriku bahwa ini semua tak ada sangkut pautnya dengan Anggi

"Mau tanya apa sih? Urusan kerjaanku atau apa? Jangan bikin penasaran dong." Tanyaku balik
"Nggak kok. Nggak apa-apa. Lain kali aja.. kamu keliatan banget cape dan lelah. Mata kamu gak bisa bohong." Ujar Anna sambil tersenyum dan bangkit dari duduknya.
"Mau tidur?" Tanyaku
"Iya.. sudah malam. Tuh sudah jam 23an.. emang kamu besok gak ngantor? Aku pun pasti bangun pagi kan.. Ilana tuh kurang belaian kamu, suka ngigau kalau tidur siang nyariin papanya." Kata Anna
"Sebetulnya aku belum ngantuk juga. Tapi aku temani kamu tidur. Mungkin aku bisa tidur beneran juga." Ujarku

Tak lama kami berdua pun sudah merebahkan diri kami di tempat tidur. Aku masih merasakan gak enak di hatiku, akibat kena tegur habis-habisan oleh Rully tadi sore. Ditambah lagi, aku tahu kalau ada yang mengganjal di hati Anna saat ini tapi dia berusaha menutupinya. Dia sedang berusaha untuk membuat supaya 'semua terlihat baik-baik saja'.

Aku hanya rebahan menatap langit-langit kamar kami, sementara aku tahu, Anna pun belum tidur.

"Mas.. kamu sayang dan cinta padaku kan?" Tanyanya tiba-tiba memecahkan keheningan kamar yang hanya terdengar suara mendesir AC saja
"Sudah jelas aku sayang dan cinta sama kamu. Kalau gak gitu, kenapa juga aku nikah denganmu dan memiliki Ilana?" Jawabku sambil mengelus lengannya yang licin
"Aku sudah tahu kalau kamu akan menjawab seperti itu. Karena dengan menikah dan punya anak, belum tentu itu artinya kamu mencintai aku." Jawab Anna

Aku pun terdiam. Bingung mau menjawab apa lagi.

"Maaf kalau aku malah bikin kamu mumet ya, Mas hehehe... Aku udah ngantuk." Ujar Anna sambil tertawa ringan

Tempat tidur pun bergerak, dan kurasakan Anna bangkit lalu dia mencium bibirku. Mengecup saja tepatnya, kecupan yang tak dia lepaskan sebelum aku membalas melumat bibirnya dengan lembut.

"Aku sayang kamu, papa Ibey. Cintaku satu-satunya, ayah dari Ilana yang keluar dari rahimku. Camkan itu ya." Ujar Anna sambil menunjuk-nunjuk pipiku
"Terima kasih, mama Anna. Aku juga sayang kamu." Entah kenapa tiba-tiba aku jadi terangsang dan hendak merangkul Anna.

Namun dia menolak.

"Not tonight. Aku lelah, kamu lelah. Nanti-nanti saja ya. Sekali-kali kamu aku bikin kentang." Ujar Anna sambil menahan tawa dan menarik diri lalu membelakangiku

Aku pun tersenyum memandang kelakuan istriku itu. Kadang dia konyol, aku rindu hal itu. Sepertinya aku sudah bosan berbuat nakal dengan Anggi. Aku jenuh dengan kemanjaannya. Hanya sex belaka yang aku nikmati saat bersamanya. Tapi jiwaku kosong saat bersamanya.


***



profile-picture
profile-picture
profile-picture
fatqurr dan 33 lainnya memberi reputasi
34 0
34
Hypnophobia & Kisah Cintaku
22-01-2019 10:21
Part 114a, Maret 2008

Quote:

Ada perasaan bersalah pada Manda karena hingga dia berangkat dari Jakarta beberapa waktu lalu, aku tetap tak mengakui hubunganku dengan Anna. Karena memang itu perjanjian kami berdua, tepatnya permintaan dari Anna untuk tidak memberitahu siapa-siapa dulu karena khawatir akan terdengar ke Anggi. Apapun yang akan kami sampaikan, akan lebih baik jika itu datangnya dari mulut kami sendiri dan bukan disampaikan oleh orang lain. Namun setelah pertemuan keluarga kami di Surabaya tempo hari, akhirnya kami sepakat untuk mulai memberitahu sedikit-demi-sedikit pada orang-orang terdekat kami di luar lingkaran keluarga. Aku putuskan untuk melakukan panggilan Sk*pe pada Manda dan jujur padanya, walalupun sebetulnya dia gak perlu dikasih tau juga udah bisa menduga.

"Bey.. udah lama nih lo gue lihat gak pernah bareng Wilma lagi. Kalian ada masalah, atau diantara kalian sudah ada yang punya pasangan serius?" Tanya Marissa

Saat ini kami sedang di jalan Senopati menuju pulang ke Bintaro. Tak ada lagi jadwal kegiatanku untuk mengantar Wilma, sejak aku dan dia sepakat mengakhiri hubungan tak jelas yang sedang kami jalani selama beberapa bulan terakhir. Aku sempat melihat kekecewaan di raut wajah Wilma ketika itu, tapi tak ada yang bisa dia lakukan selain mengizinkanku untuk melanjutkan hidupku. Sementara dia pun juga begitu, selain itu dia juga meminta agar kita tetap berhubungan baik sebagai teman kantor. Kenyataannya, kami sudah tak pernah lagi makan siang bareng. Tak pernah lagi aku mengantarnya pulang. Biasanya setiap hari, kami selalu menyempatkan saling menelpon ke meja masing-masing untuk sekedar memastikan sedang apa atau apakah dia masuk kerja. Tapi sejak malam itu kami berbincang, sudah tak pernah lagi ada panggilan berdering di meja kerjaku dan aku pun begitu. Ada sedikit perasaan menyesal telah melibatkan perasaan Wilma ke dalam masalahku. Kadang tak bohong, aku masih teringat rasa bibirnya dan tubuhnya yang hampir saja aku rengkuh jika Anna batal menjawab permohonanku. Tapi sedikit banyak aku bersyukur bahwa Allah lagi-lagi masih sayang padaku sehingga aku tak lagi terjebak dalam kenikmatan 'tukar-keringat'.

"Gak ada masalah kok. Gue nya aja yang lagi males, Mar." Kataku singkat
"Sampai makan siang juga nggak? Sekarang malah lo jadi rajin kaya awal-awal baru putus sama Anggi. Lebih sering makan siang sama para engineer yang lain." Kata Marissa sambil nyengir
"Serba salah ye jadi gue hahaha... makan ama Rifki dan kawan-kawan, ditanyain. Makan sama Wilma, ditanyain juga hahaha..." Kataku sambil tertawa
"Soalnya lo itu keliatan banget sih kalau lagi perhatian sama cewe tuh. Dan Wilma itu udah keliatan banget nempelnya sama lo. Begitu sekarang dia gak nempel lagi, ya jelas ada yang aneh." Kata Marissa juga tertawa

Aku lagi-lagi tersenyum saja, sambil mengingat-ingat kejadian tak lama setelah Anna menjawab permohonanku di weekend itu. Aku ingat sekali air muka dan perubahan wajah Wilma yang tadinya terlihat ceria, menjadi mendung dalam seketika.

Ketuk Palu Untuk Wilma


"Wilma gak ngomong apa-apa emangnya sama lo, Mar?" Tanyaku pada Marissa
"Gak pernah lah. Gue kan dekatnya sama Poppy, Poppy juga gak pernah ngomong apa-apa. Cuma dia ngerasa sih kalau Wilma sama lo udah gak dekat lagi. Tapi kata Poppy, Wilma biasa aja sih." Kata Marissa

Wilma memang hebat. Dia pasti sedang kembali memainkan peranannya seperti saat ditinggal mantannya dulu. Cuma aku doakan saja semoga saat ini dia tak seberat dulu saat mesti meninggalkan mantannya. Apalah arti beberapa bulan berbanding 7 tahun kedekatannya dengan mantannya. Ditambah mantannya itu akan menikah beberapa waktu ke depan. Lagi-lagi aku juga mendapat pelajaran, jangan ada affair dengan teman kantor. Aku jadi teringat betapa dulu saat dengan Febri, punya hubungan gak jelas dan jadi omongan orang. Kini terulang lagi disini, tapi untungnya kantorku yang sekarang besar sehingga tak terlalu banyak yang memperhatikan. Hanya saja, aku perlu sedikit mengatur strategi bergaul ke depannya agar kejadian seperti ini tak terulang.

"Yah namanya berteman, Mar. Pasti ada pasang surut. Kaya gak ngerti aja deh lo.. hehehe..." Kataku meyakinkan Marissa
"Terus, kecurigaan gue waktu itu yang sampai sekarang gak pernah lo jawab .. gimana dong?" Tanya Marissa sambil nyengir
"Kecurigaan apaan nih?" Tanyaku bingung
"Sekarang lo kayanya udah tenang dan gak keseringan bengong, sering ngobrol by phone ke lobi lantai kita atau kalau istirahat suka duduk di sofa lobi bawah hehehe.." Kata Marissa

Aku pun tertawa. Tak mungkin rasanya aku menyembunyikan ini lebih lama, lagipula aku yakin Marissa masih bisa kuajak kerjasama untuk tak membocorkan hal ini ke Anggi.

"Gue emang udah gak nge-jomblo lagi sih, Mar." Kataku sambil nyengir dan menatapnya
"Oh iya?" Kata Marissa dengan tersenyum lebar dan keliatan kaget
"Iya." Jawabku
"Siapa, Bey? Gue kenal gak?" Tanya Marissa penasaran
"Kayanya belum kenal ... hahaha..." Kataku sambil tertawa
"Eh kasih tau dong. Lebih cakep dari Anggi ya?" Tanya Marissa
"Cakep relatif deh, tapi menurut gue sih iya." Kataku bangga
"Sekseeeh pastinya?" Tanya Marissa antusias banget
"Hmmmm... sayangnya gue gak bisa menilai. Selama gue kenal dia udah 2 tahun terakhir, belum pernah liat bentuk badannya." Kataku

Marissa terdiam. Aku mengira dia terdiam berpikir. Begitu ku melirik, dia terlihat ternganga dan terkejut sambil menatapku.

"Cewe jilbaban ya, Bey? Beneran kan?" Tanya Marissa berikutnya
"Kok lo bisa tau?" Tanyaku bingung
"Dugaan aja sih, buktinya lo gak pernah bisa liat bentuk badannya. Padahal biasanya lo cepet tuh kalau kasih penilaian. Beneran ya, cewe jilbab?" Tanya Marissa lagi
"Iya sih.. tapi masih jilbab modern yang ngikut mode. Belum seperti cewe-cewe yang rajin ikut pengajian." Kataku sambil tersenyum
"Drastis banget abis sama Anggi dan Wilma... hahaha.. kesambet apa lo, Bey?" Tanya Marissa sambil menepuk-nepuk pundakku
"Setan.. emang gue sebelumnya apaan?" Kataku sambil nyengir
"Melihat selera lo yang doyan kulit mulus nonjol-nonjol terus tiba-tiba beralih ke cewe tertutup, she must-be a very special-kind-of-a-girl kan?" Tanya Marissa
"Iya." Ujarku mantap
"Lo mesti ngenalin gue. Anak sini ya?" Tanya Marissa
"Nggak. Dia di Surabaya." Kataku
"Bey.. please. Jangan bilang dia temannya Anggi. Please no..." Kata Marissa sambil menutup mulutnya

Aku hanya mengangguk dan nyengir sambil menatap Marissa.

"Anggi tahu?" Tanya Marissa
"Belum." Jawabku
"Lo bisa merusak pertemanan mereka lho. Gila.. asli memancing adrenalin hahaha.." Kata Marissa
"Iya. Kalau Anggi nelpon lo tiba-tiba suatu saat, jangan ngomong apa-apa ya." Kataku pada Marissa
"Gue sih cuma bisa bilang, semoga kalian bisa menyelesaikan ini baik-baik dan mereka tetap berteman." Kata Marissa sambil nyengir

Hanya dia dan Benny yang kutahu menghadapi ini dengan candaan. Tapi aku senang, semua yang kuajak bicara memberi dukungan.


***


Selepas pulang dari mengantar Marissa, rutinitasku setelah mandi dan bersiap istirahat adalah menelpon Anna. Saat-saat paling menyenangkan, karena dia tak mau aku menelponnya saat lagi jam kerja kecuali sedang jam istirahat atau darurat. Kalau aku tiba-tiba iseng atau nekat menghubunginya tapi hanya untuk iseng, maka dia akan balik menggangguku dengan menelponku secara random dan sering. Menyenangkan, tapi kalau lagi kerja ya mengganggu juga. Akhirnya aku sepakat nurut padanya dan hanya mengirim sms-sms singkat aja kadang.

'Kangen nih.'
'Email-in foto kamu yang terbaru dong.'
'Kangen aku gak?'
... dan sms-sms sejenisnya dariku. Biasanya dibalas seperlunya saja oleh Anna.

'Aku gak kangen.'
'Sebel nih sama kamu.'
'Minta foto melulu.'

Aku gak nyangka ternyata Anna juga bisa berlaku manja dan menggemaskan. Bodoh sekali dulu Akbar gak pintar memanfaatkan Anna dan menggali potensinya untuk jadi ngangenin seperti ini. Mungkin saja, karena Akbar dulu sudah terkena pesona mojang parahyangan yang geulis-geulis. Tapi ayu-nya Anna gak serta merta dipecundangi oleh kecantikan mojang-mojang itu.

"An.. lagi apa nih?" Tanyaku malam ini sekedar melepas kangen

Biasanya kami gak lama-lama ngobrol. Kisaran 30 menitan kalau malam seperti ini. Dan biasanya kami baru ngobrol menjelang jam 22. Aku selalu membayangkan Anna sedang dimana atau lagi apa setiap menelponnya. Seperti misalnya malam ini.

"Lagi di ruang keluarga." Katanya

Terdengar di latar suara mamanya yang berdehem dan pura-pura batuk. Lalu suara Anna yang ngedumel pada mamanya, dan akhirnya terdengar dia berjalan meninggalkan ruang itu.

"Maaf, aku diketawain mama. Jadinya pindah deh ke ruang tamu." Kata Anna
"Mama masih disitu?" Tanyaku
"Masih. Sampai aku wisuda dia disini terus. Ya sampai bulan depan, tapi minggu depan aku mau ke Jakarta." Kata Anna terdengar senang
"Eh.. ada apa ini?" Tanyaku
"Ayo coba tebak ada apa?" Tanya Anna menggodaku
"Hmmm.. kangen luar biasa ya sama aku?" Tanyaku iseng
"Ge-er banget.. dasar Micin." Kata Anna
"Berarti sebenernya kamu biasa aja ya sama aku? Ke Jakarta aja bukan karena aku nih." Kataku gantian menggodanya
"Nggak gitulah.. kangen ya iya. Tapi aku kan gak boleh ke Jakarta dulu sebelum wisuda. Ngeselin nih peraturan mama.. udah aku kasih tau juga kan kemarin-kemarin." Kata Anna
"Iya aku ingat kok. Aku kan iseng aja ngerjain kamu hehehe.. Emang ada apaan mesti ke Jakarta?" Tanyaku
"Aku ada panggilan tes masuk di Bank BUMN Biru untuk program Management Trainee." Kata Anna terdengar bangga
"Alhamdulillah..." Ujarku lega dan senang
"Kamu Alhamdulillah untuk apa nih? Karena aku mau ke Jakarta atau karena aku dapat panggilan?" Tanya Anna
"Ya dua-duanya lah.. Aku jemput ya." Kataku senang banget
"Tapi aku sama mama ke Jakarta. Gak apa-apa kamu jemput kami berdua?" Tanya Anna
"Ya gak apa-apa. Kan jemput calon istri dan calon mertua. Hehehe..." Kataku

Lalu kami berdua tertawa barengan.

"Btw, program seperti itu sebetulnya banyak peraturannya lho An." Kataku pada Anna
"Iya.. aku gak sendirian sih yang dipanggil dari kampus. Ada dua orang temanku, dan bukan Anggi kok salah satunya." Kata Anna
"Paling aku khawatirkan, biasanya gak boleh nikah dulu selama program." Kataku

Aku mendengar Anna menghela napas dan kemudian dia terdiam.

"Tapi pastinya, nanti kalau lagi tes kamu tanya aja sama orang HRD-nya. Siapa tau ada dispensasi atau kebijakan khusus." Kataku
"Iya. Aku gak jadi aja deh ya? Biar kita nikah aja dulu. Nyari kerja nanti aja kalau kita udah nikah." Kata Anna
"Kalau menurut aku, gak ada salahnya dicoba program MT ini. Mengetes kemampuan kamu juga, sayang kalau gak nyoba. Tapi kalau kelamaan nunda nikah, dan kamu merasa gak nyaman.. kamu bisa mundur kan. Dan nyari kerjaan lain yang mendukung." Kataku meyakinkan Anna
"Kamu ngertiin aku banget sih. Aku ragu antara tantangan ini atau mau nikah juga. Masukan kamu penting banget.. gak nyesel deh aku pilih kamu. Sayang deh sama kamu." Kata Anna terdengar manja

Ingin rasanya aku melihatnya dari dekat kalau lagi ngomong seperti itu. Karena dia pasti sedang senyum-senyum saat ini.

profile-picture
profile-picture
fatqurr dan secretos memberi reputasi
33 0
33
Lihat 1 balasan
Memuat data ..
Hypnophobia & Kisah Cintaku
25-02-2019 21:52
Part 124a, Februari 2009

Quote:

Sabtu Malam. Jakarta

Karena sudah menjalankan versi 'asli' seminggu yang lalu, kami sepertinya jadi lebih santai. Tapi tetap saja, santainya kami tetap tak sesantai jika cuma seperti datang kondangan biasa saja. Melihat kesibukan para panitia hari ini, kami malah agak deg-deg-an sebetulnya. Karena kenalan dari kedua orang tua kami ternyata membuat kami kaget. Nama-nama petinggi negara saat itu seperti beberapa menteri, anggota Dewan, serta kolega-kolega dari ayahku yang berkecimpung di dunia energi serta papanya Anna yang dari dunia perbankan yang akan hadir. Bahkan saat kami tadi sedang bersantai di ruang ganti pakaian, sudah ada beberapa protokoler dari kantor kementrian yang mencari ayahku atau papanya Anna. Walaupun aku gak kenal dengan mereka semua, tapi kedua orang tua kami pasti kenal. Sehingga kami berdua mesti berperilaku yang layak. Mungkin Anna yang gak tau karena protokoler itu masuk atau ada di depan ruang ganti pria saja. Tapi saat kami bersiap menuju pelaminan, kami berdua berbaris diikuti oleh keluarga inti disitulah aku berbicara pelan mulai dari ruang ganti.

"An, kamu tau gak?" Tanyaku
"Apa? Kamu sayang aku?" Tanya Anna balik sambil tertawa pelan
"Aku mau 'pake' kamu nanti malam." Kataku sambil nyengir
"Apaan sih? Ngeres banget..." Katanya sambil tersenyum
"Hehehe... lagian sih kamu. Tadi rame tuh ada protokoler menteri yang nyariin ayah dan papa." Kataku
"Haduh gak usah diingetin deh, Mas." Kata Anna
"Ya .. cuma ngasih tau aja. Kita masuk pintu itu juga pasti udah rame nih." Kataku

Saat bergerak memasuki pintu gerbang utama dari ruang ganti pun sudah terdengar suara-suara hadirin yang datang serta iringan gending jawa diikuti oleh announcement MC yang terdengar bersemangat sekali mengabarkan bahwa kedua mempelai sudah bersiap menuju pelaminan. Aku dan Anna pun berpengangan tangan, gaun nikah Anna untuk resepsi kali ini lebih mewah dibanding minggu lalu di Jakarta, walaupun hanya sewaan saja. Renda dan payet menghiasi gaun berwarna putih itu. Rias wajahnya pun membuat wajahnya jadi berbeda tapi tetap orang akan mengenali kalau itu Anna. Kami gak langsung masuk melewati pintu utama, tapi ditahan dulu oleh panitia karena ada juru foto yang akan mengambil gambar. Dari situ aku sudah melihat bahwa para tamu undangan terlihat menyemut di pinggir jalur perjalanan kami menuju pelaminan.

"Wah.. udah rame banget." Kataku dengan memasang wajah tersenyum
"Iya.. Aku grogi." Kata Anna
"Nanti malam aja groginya pas kamu gak pake baju." Kataku masih tetap tersenyum

Anna gak berkata apa-apa, dia cuma makin erat saja menggenggam jemariku.

Dan tak lama setelah itu semua berjalan dengan sesuai harapan serta rencana. Hingga kami berdua duduk di pelaminan yang tentunya gak selalu duduk karena tamu undangan yang banyak sekali. Aku belum melihat rombongan teman-teman kuliah dan teman SMU-ku. Tamu-tamu penting seperti Bapak dan Ibu Menteri satu persatu sudah naik ke pelaminan dan bertemu dengan ayahku atau Pak Gondo. Tentunya setiap mereka naik, maka mereka akan berfoto. Sudah lupa berapa kali kami berfoto bersama orang-orang penting itu. Tapi yang kuingat sekali
adalah Pak Boediono yang ketika itu belum menjabat Wakil Presiden juga diundang sebagai kolega dari Pak Gondo. Istrinya yang kenal baik dengan Bu Gondo, sempat berkali-kali memuji Anna.

"Aduh, ayune putrimu Bu. Terakhir ketemu kamu masih SMP kali ya." Kata Bu Boediono ketika beliau menghampiri Anna
"Matur nuwun Bu. Doakan anak saya ya Bu." Kata Bu Gondo yang sigap menghampiri Bu Boediono ketika beliau dan suami naik ke pelaminan.
"Nggih. Insya Allah sakinah, mawaddah dan warrohmah ya. Ayune.. gemes." Kata Bu Boediono sambil menepuk-nepuk pipi Anna yang berlesung pipit itu.

Selain Bapak dan Ibu Boediono itu, tak ada yang banyak ngobrol di pelaminan. Hanya sekedar mengucapkan selamat lalu ngobrol dengan kedua orang tua kami dan foto.

Bagiku malam itu, hanya sepasang orang tua yang kutunggu kehadirannya. Tak lain dan tak bukan adalah Pak Rajo dan istri. Sungguh aku tak mengaharapkan apa-apa dari mereka, dan tak ada sedikitpun keinginan untuk pamer kalau aku bisa menikah. Aku hanya ingin berdamai dengan Pak Rajo, karena dengan menikahnya aku maka kemungkinan aku bersama Anggi otomatis sudah tertutup. Lagi pula perselisihan kami sudah berlangsung cukup lama. Buat apa pula diteruskan.


Quote:


Pagi itu di akhir Januari, aku dan Anna sudah berangkat dari pukul 10 pagi menuju langsung ke rumah Anggi. Rumah Pak Rajo tepatnya, untuk memberikan undangan pernikahan kami berdua pada Pak Rajo dan istri. Sebetulnya aku ingin lebih pagi, tapi gak enak juga karena Anna gak mau pergi terlalu pagi. Dia ingin istirahat juga, tapi kemungkinannya adalah saat mengantar undangan nanti tak bisa bertemu dengan Pak Rajo.

Setelah sarapan di Nasi Uduk Patal yang cukup terkenal itu, kami melanjutkan perjalanan menuju rumah Pak Rajo. Berhubung aku sudah lama gak kesana, tapi security masih mengenaliku.

"Pak, saya mau ngasih undangan. Bisa ketemu Pak Rajo atau Bu Rajo?" Tanyaku
"Oh, ini Mas Ibey ya? Mau nikah.. Alhamdulillah. Tapi Pak Rajo sudah berangkat golf dari pagi. Mungkin sehabis makan siang nanti atau sore dia pulang." Kata Pak Security
"Hmmm.. kalau gitu, Bu Rajo aja juga gak apa-apa kalau ada. Sekalian mau silaturahim." Kataku
"Baik. Sebentar saya kontak dulu sama yang di dalam ya. Mas Ibey tunggu di mobil aja." Kata Pak Security.

Tak menunggu lama, pintu gerbang besar itu pun terbuka dan security pun keluar untuk membolehkan aku masuk. Tapi karena aku totally orang lain sekarang dan datang pun gak bersama Anggi maka aku langsung diminta parkir di parkiran dekat pos security ini lalu aku dan dan Anna berjalan kaki menuju lobi rumah.

Ketika sampai di lobi rumah dan menekan bel intercom, keluar seorang pelayan wanita yang sepertinya memang sudah mengetahui kedatanganku sehingga dia meminta aku dan Anna untuk duduk di ruang tamu yang sebelah kanan. Tempat biasa aku menunggu jika datang kesini. Tak ada yang berubah dengan rumah ini, sudah hampir dua tahun aku gak kesini lagi. Anna yang tampak gak begitu perduli, malah lagi asyik ber-BBM. Dia hanya sekali-kali memandang ke sekeliling.

"Kangen ya sama rumah ini?" tanya Anna sambil senyum-senyum
"Biasa aja kok." Kataku datar, sambil melirik ke ruang tamu sebelah. Tempat aku dipaksa putus hubungan dengan Anggi oleh Pak Rajo.
"Cieee.. mau ketemu MCM. Sungkem gak kira-kira?" Tanya Anna sambil mencolek-colekku

Aku hanya tertawa saja mendengar candaan cemburu si Anna. Aku tahu dia sebetulnya cemburu tapi cara melampiaskannya seperti itu.

"Kamu dulu kalau pacaran dimana? Di ruang santai dekat kolam renang ya?" Tanya Anna lagi
"Tanya aja sama Anggi. Aku lupa." Kataku datar
"Hahaha... gemes deh sama kamu." Kata Anna

Tak lama, kami mendengar suara langkah kaki mendekat. Dari langkahnya, aku sudah bisa menduga kalau itu adalah Bu Rajo. Dan ternyata benar, wanita berwajah melayu yang menarik ini tersenyum ketika melihat kami duduk berduaan berdampingan.

"Assalamualaikum Bu Rajo." Ujarku sambil berdiri diikuti oleh Anna
"Waalaikumsalam... apa kabar kalian berdua?" Tanya Bu Rajo yang memilih untuk cipika dan cipiki dengan Anna. Aku pun hanya sekedar bersalaman dan mencium tangan Bu Rajo.
"Alhamdulillah baik dan sehat Bu." Jawabku mewakili.
"Saya dapat kabar dari pelayan kalau kalian mau ngasih undangan. Undangan nikah kan ya? hehehe... Soalnya saya sudah dapat informasi dari Avia sebelumnya." Kata Bu Rajo
"Iya Bu.. ini undangannya, atas nama Pak Rajo dan Ibu." Kataku
"Seandainya ada Anggi, kami akan undang juga. Tapi ... berhubung kami tau dia lagi gak disini, jadinya terpaksa undangannya kami alihkan ke orang lain. Maaf ya tante." Kata Anna diplomatis
"Ah gak apa-apa.. nanti tante sampaikan ke Anggi mengenai berita bahagia ini. Mohon maaf, papanya Anggi seperti biasa kalau weekend gini udah ilang golf dulu." Kata Bu Rajo sambil tersenyum

Ibu satu ini emang baik dan ramah, aku selalu suka ngobrol dengannya karena kesopanan dan keanggunannya belum kutemui di ibu-ibu teman-temanku bahkan jika dibandingkan dengan Bu Gondo atau Ibuku sendiri. Mungkin karena Ibuku dan Bu Gondo bukan dari kalangan kelas atas seperti Bu Rajo.

"Apa kabar Anggi, Tante?" Tanya Anna
"Ya masih berusaha blending dengan pola kehidupan di sana. Tapi saya rasa, dia bisa. Sejauh ini semester ganjilnya memuaskan. Anggi gak pernah kontak kamu, Anna?" Tanya Bu Rajo
"Pernah sih, tapi kami gak bahas kesitu." Kata Anna singkat, tak berbohong tapi tak mengatakan yang benar juga
"Dia pasti senang kalau tau kalian mau menikah." Kata Bu Rajo
"Iya tante." Kata Anna berusaha tersenyum

Aku pun berusaha tersenyum, tapi bukan senyum senang. Melainkan senyum yang penuh tanda tanya. Kesimpulanku adalah Bu Rajo sama sekali gak mengetahui kalau anaknya dan Anna sudah gak pernah lagi akrab karena perbedaan pendapat. Dan aku yakin, seandainya dia diundang pun tak akan dia datang.

"Bu Rajo bisa kan ya hadir. Saya berharap banget Ibu bisa hadir, soalnya Ibu saya yang titip pesan." Kataku pada Bu Rajo
"Insya Allah saya kayanya bisa, nanti saya ajak papanya Anggi juga kok." Kata Bu Rajo
"Iya tante.. kalau bisa dateng ya. Mewakili Anggi gitu." Pinta Anna
"Hahaha.. iya, kalau saya pribadi bisa kok. Mungkin yang gak bisa Avia ya. Tapi siapa tau dia mau datang dari Singapura kesini. Lalu bagaimana ini kalian persiapannya, sudah siap mental dan fisik?" Tanya Bu Rajo berbasa-basi karena kami sudah gak tau mau ngobrol apa lagi.
"Insya Allah siap. Kamu siap kan ya, Cin?" Tanya Anna sambil menggenggam jemariku dan memandangku
"Insya Allah siap kok. Emang udah niat ya." Kataku

Bu Rajo melihat kami berdua dengan pandangan antara lega dan bahagia, bisa kulihat dari senyum dan tatapan matanya. Mungkin dia berpikir semisal dulu gak ada masalah, anaknya kini yang sedang bersiap menikah denganku. Tapi ya.. itu cuma ada di khayalanku saja.

"Tante senang melihat kalian mau maju dan memutuskan menikah, apalagi kalian berdua sudah kerja ya. Bisa lah nanti pelan-pelan membentuk keluarga yang Sakinah, mawaddah dan warrohmah. Sedikit banyak saya mengenal kalian berdua, jadi bisa mengira-ngira deh." Kata Bu Rajo
"Terima kasih untu doanya tante, Anna juga mendoakan semoga Anggi bisa menyusul kami berdua. Sudah ada calonnya kah tante?" Tanya Anna pura-pura bego
"Oh.. saya sih belum tau ya. Mungkin sudah tapi mungkin juga belum, karena kalau ada ya Anggi pasti cerita sama saya." Kata Bu Rajo
"Kami gak bisa lama-lama ya, tante. Karena mau keliling nyebar undangan. Mohon sampaikan salam saya untuk Pak Rajo. Mau nelpon pribadi rasanya gak enak." Ujarku sambil tersenyum
"Gak apa, nanti saya paksa untuk datang. Biar gimana kamu pernah dekat sama Anggi. Maaf ya Anna, saya gak bermaksud apa-apa dengan ngomong barusan." Kata Bu Rajo pada Anna
"Iya tante." Jawab Anna yang wajahnya merona merah, tapi bukan marah karena dia tersenyum

Setelah pamitan dengan Bu Rajo, kami pun meneruskan perjalanan untuk janjian makan siang dengan Manda hari itu sekalian menyebar undangan ke beberapa teman-temanku yang belum menerimanya. Baik itu teman kuliah mau pun teman SMU, sekalian mengenalkan Anna pada mereka.









profile-picture
profile-picture
fatqurr dan secretos memberi reputasi
32 0
32
Hypnophobia & Kisah Cintaku
09-11-2017 14:58
NB: Buat yang minat baca-baca di ponsel android, bisa donlot app-nya gratis di link ini.

***

Index Part 101 - Part ---



Penampakan


Quote:

Penampakan 1


Penampakan 2


Penampakan 3


Penampakan 4


Penampakan 5


Penampakan 6


Penampakan Figuran 1


Penampakan Figuran 2


NB: Jika ada yang keberatan dengan penampakan-penampakan ini, mohon pm ya. Plus, tolong jangan di quote penampakan ini. Cukup lihat di page ini saja. Terima kasih.

Diubah oleh rullyrullzzz
profile-picture
profile-picture
profile-picture
abellacitra dan 47 lainnya memberi reputasi
47 1
46
Lihat 13 balasan
Memuat data ..
Hypnophobia & Kisah Cintaku
22-03-2019 23:46
Part 129b, Tahun 2013


Quote:

Sejak kegiatan kami yang pertama di Bali itu hanya sekali aku extend dinas, yaitu saat aku dinas di Sumatera saja karena kebetulan Fauzan sedang tidak di Indonesia. Sedangkan alasan yang sama saat di Bali lalu itu, aku gunakan untuk berbohong kepada Anna yang sejauh beberapa bulan kenakalan aku dan Anggi ini masih belum mengetahui apa yang terjadi dengan suaminya. Overall, kehidupan rumah tanggaku dan Anna masih berjalan baik tanpa ada keraguan sedikitpun dari Anna. Salah satu caranya adalah dengan tidak mengurangi waktu weekend bersama Anna dan Ilana.

Aku dan Anggi tak pernah bepergian bersama saat weekend, kecuali saat aku sedang dinas dan extend saja. Anggi pun konsisten tak pernah mengirim pesan baik WA atau sms ataupun missed-call. Namanya pun aku ganti dengan menggunakan nama fiktif seorang karyawan di tempat kerjaku.

Semisal pun ingin 'tukar keringat', biasanya yang minta itu Anggi. Dan dia tak keberatan jika aku menolak keinginannya itu. Tapi rasio penolakanku hanya satu berbanding 3, artinya dari misal tiga permintaan maka aku sekali saja menolaknya. Dua ajakan selebihnya, akan berakhir dengan mandi barengnya kami setelah 'tukar keringat' di apartemen Anggi. Mengenai pertemuan di apartemen Anggi, disana sudah selalu tersedia makan siang jika kami 'mojok' kesana. Tentunya dia yang beli, gak pernah dia mengotori tangannya untuk memasak. Menurutku, itu satu poin minus yang dimiliki olehnya sebagai perempuan.

Namun makan siang itu bukan tujuan utama kami. Begitu sampai, biasanya kami akan langsung bercumbu dan segera menuju 'hidangan utama' yaitu 'tukar keringat'. Dalam hal ini, aku jadi teringat Febri dan Nana. Anggi begitu menggairahkan dan selalu penuh semangat, sehingga setiap selesai permainan kami selalu banjir keringat seperti mandi. Seandainya saja aku gak ngantor, sudah pasti aku akan menyempatkan tidur dulu dengannya.

"Bisa gak sekali-kali agak lama kita cuddling disini? Enak kan gak pake baju gini peluk-pelukan." Kurang lebih seperti itu rayuan Anggi, biasa dilakukannya saat sedang mandi atau ketika kami memutuskan untuk gak melanjutkan ke 'ronde' berikutnya.
"Seperti kesepakatan kita lah, Gi. Sebisa mungkin kita mesti menutupi kenakalan kita ini dengan sempurna. Walaupun Anna jarang menelpon kalau aku lagi dikantor, aku berusaha supaya kita tetap bisa seperti ini." Ujarku
"Tapi kamu sama Anna begini juga gak sih?" Tanya Anggi
"Menurut kamu gimana?" Tanyaku berteka-teki

Karena sebetulnya, hubungan ranjangku dengan Anna pun tetap berjalan seperti semestinya. Dengan perselingkuhanku bersama Anggi ini, seperti ada semangat atau hormon yang berproduksi dengan berlebih sehingga mesti dengan lancar disalurkan. Tak bisa kupungkiri, aku tetap bergairah pada Anna. Sesuatu yang kurasakan justru meningkat setelah aku selingkuh dengan Anggi. Tapi rasanya, itu hanya caraku untuk menutupi rasa bersalahku pada Anna. Ada jeda 2-3 hari setelah aku 'tukar-keringat' dengan Anggi, untuk kemudian aku menikmatinya dengan Anna. Dan weekend itulah biasanya yang menjadi hari istimewa untukku dan Anna.

Walaupun Anggi sebetulnya cemburu dengan waktuku bersama Anna yang lebih banyak, dia berusaha mengerti kalau dia bukan yang utama. Makanya, kalau kami sedang berdua dia selalu berusaha memberi yang terbaik agar aku tetap lengket dengannya walaupun selalu pulang ke pelukan Anna.

"Ya kamu pasti masih berbagi lah untuk dia. Kesal juga kadang-kadang kalau nyadar." Kata Anggi
"Jangan cemburu lah.. inget kan kamu sendiri yang bilang. Kita nikmati aja.." Ujarku

Awalnya aku yang khawatir, tapi seiring berjalannya kenakalan ini akhirnya kami berdua jadi seperti biasa aja. Seperti jaman pacaran dulu, tapi bedanya kini kami bisa naik ranjang.

Hanya pada bulan Ramadhan kami murni berjauhan, secara fisik. Tak sehari pun kami bertemu, cuma berbincang melalui pesan atau telpon saja. Bahkan untuk berbuka puasa bareng pun kami tak melakukannya, demi untuk menjaga kerahasiaan hubungan kami berdua. Pada bulan Ramadhan ini, mungkin hanya aku yang berharap supaya kami dijauhkan. Doa itu yang aku ajukan pada Allah setiap harinya. Tapi seakan doa itu sirna ketika Anggi mulai menghubungiku. Tingkah manjanya dan bawaan dirinya yang ceria menyenangkan itu kadang malah membuatku khawatir kalau puasa bisa batal.

Seperti pada Ramadhan-Ramadhan sebelumnya, aku dan teman-teman kuliahku menjaga tradisi untuk buka puasa bersama. Namun tak bisa dipungkiri, keadaan kami yang rata-rata sudah menikah ditambah beberapa dari kami sudah tak tinggal di Jakarta lagi membuat peserta jadi sedikit.

Nana, yang sudah punya dua anak serta tinggal di luar pulau Jawa karena mengikuti karir suaminya yang berdinas sudah dipastikan gak hadir kembali tahun ini. Kondisinya yang tak memungkinkan sering-sering kembali ke Jakarta membuatnya hanya bisa mengirim-ngirim salam saja. Padahal seandainya dia tahu kalau aku dan Anggi berselingkuh, tak terbayangkan betapa marahnya dia.

Manda, si cantik super cerdas itu masih betah di Jerman. Sudah lulus S3 dan aktif di kampusnya, menjadi salah satu kesayangan profesornya. Tahun ini tak bisa hadir karena gak pulang ke Indonesia.


Quote:

"Gue masih belum punya pacar, Bey. Sori ya gak bisa pulang lagi untuk Ramadhan tahun ini. Lagi ada penelitian penting yang gak bisa gue lewati bersama profesor gue." Kata Manda waktu aku iseng menelponnya
"Iya .. iya.. hahaha... gue iseng aja juga nanyain urusan pacar. Kirain udah nyangkut ama bule sono. Untung profesor lo cewe ya... Kalau cowo mungkin lo bisa naksir." Kataku bercanda
"Hahaha... Yang naksir gue banyak, tapi gue gak peduli." Katanya dengan nada belagu, entah bercanda atau serius.
"Percaya deh.. tapi kadang lo kalau becanda gak ketahuan juga sih." Kataku
"Serius gue, Bey. Untuk ini gue gak bercanda. Tapi yang naksir biasanya pada mundur kalau liat gue tekun kerja gini. Ada yang naksir udah bapak-bapak niat banget, tapi gue gak mau lah.." Kata Manda
"Gak nyoba-nyoba dekat sama orang Kedubes atau Konsulat kita? Pasti ada lah yang naksir ama lo kalau lo rajin bolak-balik. Lo sih mainnya ke kampus melulu." Kataku gemas
"Hahaha... iya sih, ngapain gue bolak-balik ke Kedubes atau Konsulat? Gak pernah bikin masalah juga. Tapi tenang aja lah Bey, jodoh gak kemana." Kata Manda yakin
"Kasian lah bokap nyokap lo tuh, ngarepin anaknya yang cantik bisa segera nikah." Kataku serius
"Ah lo pake ikut-ikutan segala sih hahaha... rese. Iya pada waktunya gue akan dapat lah, Bey." Kata Manda sambil tertawa

Begitu sih emang bawaannya dia sekarang, awalnya dulu kalau disinggung-singgung nikah dia akan tersinggung. Tapi mungkin karena dia sudah lama hidup dan bergaul dengan orang Barat yang menganggap pernikahan itu gak terlalu penting membuat dia jadi kebal dan membawa hal ini ke ranah candaan saja. Dan mungkin saja, itu salah satu penyebab dia gak mau pulang-pulang ke Indonesia. Karena di Indonesia, cewe cantik yang udah cukup umur tapi belum nikah akan rentan jadi sasaran tembak baik oleh keluarganya sendiri atau orang-orang sekitarnya.

"Kapan jadinya lo ada waktu ke Jakarta nih?" Tanyaku
"Akhir musim panas paling deh, mau ngumpul-ngumpul lagi? Ntar gue di-bully deh belum nikah-nikah." Kata Manda
"Ya resiko hahaha..." Kataku tertawa
"Tinggal gue sama Bram yang belum nikah kan ya? Hehehe.." Kata Manda
"Iya, Bram sih udah ada pacarnya. Nah lo gimana coba?" Tanyaku bercanda lagi
"Ya udah sih, nanti yang penting kan kumpul-kumpulnya. Gue santai aja lah kalau dipaksa kimpoi.. orang belum ada yang nyangkut juga." Kata Manda nyeleneh
"Oke lah.. nanti gue kasih tau teman-teman aja, biar pas lo di Jakarta sebisa mungkin kita kumpulin semua. Udah dua tahun gak ketemuan ama lo nih Man." Kataku

Manda sekarang sudah tinggal di flat sendiri, katanya tak terlalu besar seperti dulu saat dia kuliah dan tinggal bertiga. Tapi menyenangkan katanya tinggal dengan hasil keringat sendiri. Mengenai kunjungannya ke Indonesia, memang sudah dua tahun ini dia tak pulang. Sekalinya pulang, hanya beberapa hari dan itu aku gak sempat bertemu. Manda hanya mengunjungi kedua orang tuanya dan gak mau pergi kemana-mana juga. Jadi, dengan harapan dia akan pulang sejenak di bulan September nanti pasti akan membuat kami teman-temannya bersemangat.



Memang suasana buka bareng agak sedikit hambar tanpa kehadiran Nana dan Manda, tapi tetap saja mengumpulkan keluarga besar kami merupakan sesuatu pencapaian yang luar biasa. Kami hadir ketika itu dengan membawa pasangan masing-masing dan anak-anak kami. Anna yang sudah kenal dengan mereka dan hampir setiap tahun ketemuan, tentunya bisa mengobrol dengan enak dan lepas sementara anak-anak kami bermain dan saling berkenalan.


***


Setelah Ramadhan, aku dan Anggi sepertinya mulai lebih berani bertindak agak gegabah. Selang dua minggu setelah lebaran, aku mengambil cuti sehari tapi tak mengatakan pada Anna kalau aku cuti. Di kantor, rekan dan temanku taunya aku mengambil cuti. Dan hari itu aku manfaatkan bersama Anggi untuk 'kabur' ke negara jiran, Malaysia. Anggi sudah lebih dulu disana dan menginap di sebuah hotel terkenal yang di Jakarta pun ada. Hotel ini tak jauh letaknya dari Twin-Tower P*tronas, semisal menatap ke luar jendela hotel pun kita bisa melihat Twin-Tower itu menjulang. Ide ini awalnya tentu berasal dari Anggi, seperti yang sudah-sudah kalau urusan panjang akal memang dia selangkah lebih maju.

Quote:

"Sayang, ngambil cuti dadakan bisa gak?" Kata Anggi

Siang itu kami sedang makan di resto favorit kami yang dekat dengan apartemen rahasia Anggi. Lebaran baru berlalu beberapa hari, dan suasana resto ini ramai oleh orang-orang kantoran atau kaum jetset yang ber-halal-bihalal.

"Mau ngapain? Udah gatel ya kamu?" Tanyaku iseng

Kami sadar, walaupun secara normal kami tetap naik-ranjang dengan pasangan sah masing-masing tapi gairah kami berdua pun perlu dibakar untuk menyalurkan rasa yang terpendam selama kurang lebih sebulan saat Ramadhan.

"Iya lah. Gak enak kalau cuma sejam-dua jam." Kata Anggi dengan pelan
"Mumpung masih belum aktif banget sih, kayanya bisa." Ujarku yang terbawa nafsu

Sudah lama aku tak lagi aktif jadi tim-khusus Naru atau Rafi seperti dulu. Dengan posisiku saat ini, aku hanya menjadi pengawas atau membantu monitor saja. Sementara dulu aku ikut sibuk begadang atau ikut shift jaga.

"Ya udah, aku yang beliin tiket kamu. Hotel pun gampang lah. Kamu pastikan aja dulu bisa gak nyampe Jakarta agak malam gitu. Supaya kita bisa dari pagi sampai sore disana." Kata Anggi
"Oke.. aku coba atur ya." Ujarku yang sudah kebayang mau ngapain di sana dengan Anggi, dan terus terang pikiran itu yang membuatku 'bersemangat'.



Anggi menjemputku di Bandara Kuala Lumpur, terus terang itu kali pertamaku pergi ke Malaysia. Awalnya agak dag-dig-dug waktu pagi meninggalkan rumah sementara Anna masih tertidur. Dia lagi jadwal 'palang-merah' sehingga waktu subuh pun dia lewatkan untuk tidur. Hanya kecupan bibirku ke bibirnya yang sempat membuat dia buka matanya sejenak dan tersenyum.

"Ngantor kok tumben pagi-pagi banget? Hati-hati ya.." Ujar Anna sambil tersenyum
"Ada kerjaan aja, gak tiap hari juga kan. Nanti aku juga pulang agak malam." Kataku pelan
"Iya, untung gak tiap hari. Udah sana jalan.. aku masih ngantuk. Mumpung mens nih." Katanya sambil mendorongku pelan

Bukan dorongan benci atau mengusir, tapi sekedar candaan Anna saja. Selepas aku tertawa, aku pun mengecup pipi Ilana juga sebelum pergi. Sepertinya aku sadar kalau perbuatan 'dosa'-ku semakin advance sekarang. Thanks to Anggi.

Karena ini hari kerja, jadi gak ada rasa khawatir kepergok atau bakalan ketemu orang lain di negeri Jiran ini. Anggi menjemputku mengenakan pakaian santai, kemeja lengan panjang yang tak dimasukkan ke celana panjangnya. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai, sementara sepatu high-heels menghiasi kakinya.

"Kita naik taksi ya, aku gak nyewa mobil." Kata Anggi
"Tumben." Kataku yang langsung mengecup bibirnya ketika kami bertemu
"Kan kita gak kemana-mana, cuma ngamar doang." Kata Anggi sambil menggandeng lenganku
"Kamu balik bareng aku nanti?" Tanyaku
"Beda jam, kamu duluan." Kata Anggi
"Kita gila ya? Hahaha..." Kataku tertawa sambil menggandeng pinggangnya dan mengantri taksi
"Aku juga baru kali ini begini, sayang." Kata Anggi
"Nggak tau deh besok-besok aku berani gak begini lagi.." Kataku
"Kita lihat aja nanti hahaha..." Kata Anggi

Anggi yang sudah sampai disini sejak kemarin, tentu saja sudah hapal seluk beluk hotel ini. Sehingga ketika kami sampai dari Bandara, masih jadwal sarapan. Aku hanya sempat sarapan sedikit karena memang entahlah, antara lapar dan tidak. Berbagai rasa sebetulnya berkecamuk, tapi gak separah sebelum di Bali. Sepertinya karena kejadian awal di Bali, aku dan Anggi seperti sudah biasa. Semua berjalan sesuai rencana yang kami susun dengan matang.

Kami gak lama menikmati sarapan. Selain karena aku gak begitu berselera makan, Anggi juga kelihatan sudah gak sabar ingin segera menuju ke kamar. Tujuan kami tak lain dan tak bukan kesini memang untuk 'itu'. Kalau perempuan sudah 'tinggi', kadang kita bisa merasakan dan melihatnya. Dan ini yang kuamati dari Anggi sejak kami tiba di Bandara. Dari caranya memeluk, memegang, mengelus, menyentuh serta tatapan matanya sudah gak bisa ditutupi lagi. Sehingga ketika kami masuk kamar, bukan kamar terbaik memang, kami gak menunggu lama. Semua dimulai dari ciuman lembut yang dengan cepat berubah menjadi lustful french-kiss. Dari situlah kegiatan utama di hari itu berawal. Hingga akhirnya kami mengulanginya berkali-kali, melampiaskan hasrat yang terhalang selama Ramadhan lalu. Baru menjelang pukul 17 sore itu kami bersiap-siap bersama menuju ke bandara untuk kembali pulang ke Jakarta.

"Kayanya emang kita mesti begini lagi ya?" Tanya Anggi saat kami di Bandara
"Tuh kan.. kamu pasti kepingin lagi." Kataku
"Kurang, sayang.." Kata Anggi
"Berapa kali tuh coba tadi.. aku aja tiga kali. Ingat banget aku sih ..." Kataku
"Ya kurang.. maunya kaya waktu kita di Bali itu. Puas banget.. eh, gak puas juga sih." Kata Anggi
"Ya mesti nikah dong kita kalau gak puas gitu." Ujarku gamblang
"Begini aja deh terus-terusan hehehe..." Kata Anggi
"Dan berdoa supaya gak ketahuan?" Tanyaku bercanda tapi penuh kekhawatiran
"Kalau ketahuan gimana? Kita nikah?" Tanya Anggi sambil cengar-cengir

Kami sepertinya tetap memperlakukan ini sebagai candaan. Padahal kami sadar perbuatan kami ini serius dan bukan candaan belaka

"Kalau gitu kita mesti berhenti ya, Gi. Kapan?" Tanyaku
"Aku gak tau, sayang.." Kata Anggi pelan

Dan kami berdua terdiam setelah itu. Gak tau mau ngomong apa lagi. Aku ingin menyelesaikan perbuatan nakal ini, tapi sebetulnya ada keinginan tak ingin berhenti juga. Sementara aku tahu kalau Anggi full-speed dalam kenakalan kami ini. Dia gak ingin berhenti dan mau terus melanjutkan.

"Jika tanpa sex, bisa kan ya?" Tanyaku selanjutnya dengan agak ragu
"Aku gak yakin. Aku udah ketagihan.. emang kamu bosan?" Tanya Anggi
"Sex-nya enak banget sih.. tapi entahlah, setiap selesai jadinya perasaanku aneh hehehe... Lebih baik aku jujur sama kamu." Kataku
"Aneh gimana, sayang? Aku bisa ngerasain kamu menikmati kok. Aku juga menikmati.. Tuh, aku udah jujur sama kamu." Kata Anggi
"Bohong kalau aku gak menikmati, Gi.. Cuma... entah kenapa aku masih mikirin Anna juga." Kataku pelan

Giliran Anggi yang terdiam, dia sepertinya sadar kalau aku mencintai Anna. Tak seperti dirinya yang tidak mencintai Fauzan. Karena sedikit-banyak, aku masih memikirkan istriku. Aku ingin berhenti bertindak gila ini tapi entah kenapa aku tak bisa. Ada daya tarik atau kenikmatan tertentu yang tak kudapat dari Anna tapi kudapatkan dari Anggi. Akal sehatku berusaha memendam bahwa nikmat yang kudapat dari Anggi itu adalah sex.. sex.. dan sex. Namun perlahan namun pasti, memang aku sadari kehidupan sex-ku bersama Anna tak senikmat dan segemerlap bersama Anggi.

"Kamu marah?" Tanyaku sambil merangkulnya

Anggi hanya menggeleng sambil tersenyum, tapi tak menolak ketika aku merangkulnya. Hingga aku boarding, Anggi tak berkata apa-apa lagi. Dia hanya menciumku ketika aku pamit, dan tersenyum serta melambai saja. Dalam hati, aku pun berkata

'Seandainya ini harus berhenti sekarang, maka aku harus merelakannya.'

Namun, pesan WA yang masuk saat aku sudah dalam pesawat seperti hendak me-reset kata hatiku barusan.

'I love you, sayang.. Tolong jangan tinggalin aku ya?' - Anggi


****

-- to be continued soon .. --



Diubah oleh rullyrullzzz
profile-picture
profile-picture
fatqurr dan secretos memberi reputasi
31 0
31
Lihat 7 balasan
Memuat data ..
Hypnophobia & Kisah Cintaku
13-03-2019 23:58

Part 128c, Tahun 2013



Quote:

Jemari kami masih saling menggenggam.

"Aku memilih pulang aja deh hahaha... Besok pagi aku kesini lagi setelah sarapan." Ujarku
"Aku gak bisa melarang. Kita istirahat aja dulu ya masing-masing. Supaya besok fit. Kemana kita besok?" Tanya Anggi
"Makan siang di Bedugul gimana? Ada ayam taliwang enak. Sorenya kita ke Tanah Lot liat sunset lagi. Malamnya... terserah kamu." Kataku
"Terserah aku ya?" Tanya Anggi
"Iya. Kalau boleh, aku mau explore tempat ini. Numpang santai.." Ujarku
"Oke.. kita pesan dinner disini aja besok ya." Kata Anggi
"Deal. Sekarang aku pulang dulu." Ujarku
"Iya. Thanks ya udah nemenin aku dan mau jadi pendengar keluh kesahku." Ujar Anggi
"No problem." Ujarku

Setelah menutup pintu bungalow dan memastikan dia menguncinya, aku pun meninggalkan bungalow itu untuk termenung dulu di mobil sewaan Anggi yang akan aku bawa pulang ke tempatku menginap. Aku tak termenung untuk urusan penginapan, tapi memikirkan mengenai perilaku yang telah kulakukan dengan Anggi sejak tadi. Salah.. salah banget tapi kenapa terasa enak dan nyaman. Dan sebagai penebus rasa bersalah itu, aku pun menyempatkan menelpon Anna saat itu juga.

Mendengar suaranya dan suara Ilana, bercanda dengan mereka sejenak dan menyimak apa yang mereka lakukan. Tak terasa 20 menit aku menghubungi Anna dari dalam mobil, tapi mobil masih terparkir. Aku sudahi juga perbincangan dengan Anna itu dan aku menuju ke penginapanku. Ditutup dengan pesan WA dari Anggi;

'Selamat istirahat Bey. Aku senang banget walau cuma sebentar. Can't wait for tomorrow. XOXO' - Anggi

****

Sabtu.

Setelah pagi menelpon Anna untuk bertukar salam dan kangen (atau melepas rasa bersalah?), aku menyempatkan untuk sarapan walau sedikit. Anggi pun sudah mengirim WA menanyakan kabarku, dengan kata lain ngabsen menanyakan kepastian untukku datang kembali ke tempatnya. Aku katakan padanya sekitar pukul 8 pagi mungkin aku sudah akan mengetuk pintu bungalow-nya. Dan memang begitu adanya.

Dia menyambutku dengan senyum yang lebar, sudah cantik dan sudah siap untuk berangkat. Sementara aku hanya mengenakan kemeja lengan pendek dan celana jeans, dia mengenakan semacam kemeja berbahan tipis tapi tak tembus pandang dan tanpa lengan serta celana jeans diatas mata kaki yang tak ketat. Dia juga mengenakan sepatu yang sama dengan kemarin, gak akan nyaman jika dia mengenakan sepatu heels. Rambutnya pun juga digelung seperti kemarin, biar gak gerah karena kita pasti paham kalau suhu di Bali pasti panas dan gerah.

"Kamu kok pakai baju lengan terbuka? Gak takut terbakar kulitmu?" Tanyaku
"Matahari kita bagus untuk vitamin D, Bey. Itu kenapa bule-bule senang kulitnya kena matahari." Kata Anggi
"Oooh... Udah sarapan?" Tanyaku lagi sambil duduk manis di salah satu sofa
"Udah dong, berangkat buruan yuk. Katanya nanti malam mau santai disini, jangan pulang buru-buru ya nanti. Macet lho kalau malam mingguan, dinner disini aja. Aku udah pesan makan malam, nanti disiapkan mungkin sebelum jam 20." Kata Anggi
"Iya deh." Kataku

Dan kami pun berangkat langsung ke arah utara dari Jimbaran, karena letak Pura Ulun Danu itu agak ke tengah dari pulau Bali ini. Sebelumnya kami memastikan untuk memenuhi tangki bensin agar nyaman serta kami berdua menyempatkan mampir ke salah satu jaringan mini market yang menjamur (cuma ada tiga sih waktu itu I-maret, A-maret dan Lingkaran-K) di Bali ini. Membeli minuman, biskuit dan permen. Tak bisa dipungkiri, kalau ada kenalan atau orang yang melihat kami berdua sudah dapat dipastikan kalau kami pasti dianggap suami istri atau sedang pacaran. Paling tidak itu yang aku rasakan saat itu, mungkin Anggi pun begitu.

Jarak perjalanan kalau dikira dan dihitung sekarang, sekitar 69km dengan waktu tempuh mungkin 2 jam untuk sampai ke Pura itu. Tapi nanti jika sampai disana pun kami gak tau mau ngapain, selain mau makan siang yang kepikiran di kepalaku. Tempat makan Ayam Taliwang yang tak jauh dari mesjid di seberang Pura itu memang memorable untukku. Karena saat bulan madu dengan Anna, aku sampai dua kali balik kesana hanya untuk makan itu saja dan sekalian sholat Jumat juga disitu. Dan kini, aku mungkin akan mengukir kenangan baru dengan pergi bersama Anggi kesana. Semoga saja karyawan tempat itu gak ingat dengan siapa aku pergi dulu.

Anggi berkali-kali menarik lenganku untuk dikecup dan dicium olehnya. Membuatku merinding dan awalnya risih, tapi karena dia terlalu sering melakukannya jadinya aku merasa tergelitik hingga ke selangkangan. Dia begitu melampiaskan kerinduannya dan sibuk dengan memainkan lenganku yang emang nganggur karena mobil ini matic. Walaupun perjalanan agak ramai, karena ini Sabtu dan tentunya kami gak sendirian yang ke Ulun Danu, kebanyakan aku hanya menggunakan rem tanpa mengganti posisi gear. Sehingga secara gak langsung aku mendukung tingkah laku Anggi yang makin menjadi-jadi itu.

"Kenapa kamu dulu gak mau sih begini?" Tanya Anggi
"Nggak tau." Jawabku
"Ini enak banget." Kata Anggi lalu menggigit lenganku dengan lembut, kurasakan dia sedikit menyedot kulitku dengan pelan
"Aduh... sakit lah." Kataku kaget, padahal gak sakit
"Mana sakit... aku gak gigit pake tenaga." Kata Anggi sambil memeluk-meluk lenganku

Bahan baju yang tipis itu ditambah ketebalan bemper Anggi yang kenyal membuat lenganku merinding dan tentu saja berpengaruh pada keadaan di sekitar selangkanganku. Dan dia melakukan itu hampir sepanjang perjalanan.

"Kita gak perlu foto-foto kan ya? Soalnya aku lihat kamu gak bawa kamera." Kataku sedikit mengalihkan pembicaraan
"Aku belum gila, Bey. Biar aja memori ini semua tersimpan di otak kita." Kata Anggi sambil nyengir
"Berarti sekali lagi... kita sadar ya kalau kita ini lagi ngapain?" Tanyaku pada Anggi
"Aku sih sadar tapi gak peduli... kamu? Kepikiran Anna ya?" Tanya Anggi

Aku terdiam sambil menatap jalanan yang membentang di hadapanku. Tak bisa menjawab.

"Jangan diungkit-ungkit kalau gitu, Bey. Kita nikmati aja ya?" Kata Anggi

Di luar dugaanku, dia pun meraih kepalaku dan mengecup pipiku cukup lama. Membuatku agak kaget tapi seperti kesetrum, ada semacam pemicu yang membuatku ingin kembali diperlakukan seperti itu oleh Anggi. Padahal kalau aku pikir dengan seksama, pertanyaan yang tadi aku ajukan pada Anggi adalah pengendali akal sehatku yang sebenarnya. Itu yang membuatku seharusnya bisa mengendalikan diri. Mengenai cium pipi barusan, tak menutup kemungkinan akan membuka jalan menuju ke hal-hal lain. Setelah itu, Anggi agak kalem dibanding tadi. Mungkin dia merasa malu secara tiba-tiba mencium pipiku. Mungkin juga dia merasa seperti kembali ke masa kami awal-awal pacaran dulu. Dan kurang ajarnya, aku pun seperti lupa kalau sebetulnya sudah menikah.

Siang itu, aku dan Anggi cukup lama berada di Pura Ulun Danu. Menikmati hawa sejuk sambil duduk-duduk di salah satu pendopo yang menghadap ke arah danau. Menyaksikan turis yang berlalu lalang, sambil berharap gak ada orang lain yang mengenal kami berdua. Dan memang kami sepertinya agak 'beruntung' siang itu karena tak ada yang mengenal kami. Anggi dan aku sama-sama mengenakan sunglasses, sebagai salah satu cara kami berdua sedikit menyamarkan diri. Kami berdua berbincang banyak mengenai kegiatan kami sehari-hari. Tentunya sama sekali gak menyinggung mengenai kehidupan rumah tangga kami berdua. Tak akan muat jika satu-persatu aku jabarkan disini.

Setelah makan siang, kami mampir dulu di mesjid yang tak jauh dari tempat makan dan kemudian melanjutkan kembali perjalanan menuju selatan ke arah Tanah Lot, sebelum nanti kami kembali ke Jimbaran untuk makan malam di tempat menginap Anggi.

Di Tanah Lot itu, aku yang dari tadi merasa ragu-ragu dan agak menahan diri malah terbawa oleh suasana dan mulai berani merangkul-rangkul Anggi. Enak rasanya kembali bisa merengkuh lengan lembut Anggi yang terbuka itu. Sementara dia pun juga cuek aja mulai memeluk-meluk diriku setiap ada kesempatan. Cuma ciuman aja yang belum kami lakukan, tapi melihat apa yang kami 'capai' di hari ini. Aku rasa, hal itu akan terjadi. Jika tidak pada hari ini, akan terjadi segera di waktu yang dekat. Kami berdua sudah semakin hanyut dalam dosa yang memabukkan ini. Rasa penasaranku dan rindu tak tertahankan yang dirasa Anggi, kini melebur jadi adonan perselingkuhan yang nikmat dan nyandu.

Tak banyak yang kami bahas di Tanah Lot ini, selain hanya menikmati sunset dan .. berpelukan tanpa canggung. Kami melupakan posisi kami yang sudah menjadi suami dan istri orang.

"Aku lapar Gi.. Gak keberatan kan kalau kita balik sekarang?" Ujarku
"Iya.. ayo kalau gitu. Tumben kamu lapar begini hehehe.." Kata Anggi masih memelukku, sambil kami berjalan bareng menuju parkiran
"Entah nih kenapa.. tapi ya emang lapar beneran. Kamu pesan apa buat makan malam di tempat kamu?" Tanyaku
"Their best menu, Lobster and Steak. Terserah kamu mau yang mana, aku suka diantara keduanya." Katanya
"Tiga hari disini, makananku udah kaya sebulan makan kali ini kolesterolnya hahaha..." Kataku sambil tertawa
"Kan kita cape, wajar kayanya makanan enak untuk menggantikan energy-nya." Kata Anggi

Dan akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan menuju ke The V*llas, sepanjang jalan kami berdua bersenandung ibarat orang pacaran mengikuti lagu-lagu yang diputar oleh radio. Hingga kami tiba di tujuan, dengan tubuh agak peliket. Bodohnya, aku sadar kalau gak bawa baju ganti. Sementara Anggi karena menginap disini tentu saja dia bisa dengan mudah berganti pakaian.

"Gi, aku gak bawa baju ganti. Gak apa ya, kalau ada bau gak enak." Ujarku sambil mencium-cium bau tubuhku sendiri yang sudah bercampur dengan parfum.
"Kamu gak BB kok, Bey. Dari tadi aku suka kok meluk-meluk kamu. Aku BB gak?" Tanya Anggi sambil menggandengku menuju ke kolam renang
"Kamu juga gak BB, enak-enak aja nih baunya." Ujarku sambil mengendus Anggi

Dan dia kembali mencium pipiku.

"Thanks Bey.. padahal aku peliket gini." Katanya

Rupanya di bale-bale sudah terhias dengan lilin serta lampu minyak. Kami tinggal menunggu kedatangan pelayan resort mengantar makanan. Sekitar 30 menit kami menanti, datanglah mereka membawa makanan yang kami tunggu. Karena aku dan Anggi sama-sama merasa gak enakan, kami putuskan untuk suit sambil tertawa-tawa untuk memilih diantara Lobster seukuran lengan tangan atau daging steak yang tersaji dalam keadaan medium dihangatkan dengan hot-stone. Pemenang suit, mendapatkan Lobster dan yang kalah dapat steak. Aku yang akhirnya mendapatkan lobster itu.

Kami makan malam disitu sambil bercanda-canda, melupakan diri kami yang sudah menikah dan memiliki pasangan masing-masing nun jauh dari sini. Tubuh lelah dan peliket, pun kami lupakan. Hingga Anggi mengajakku berenang malam.

"Renang yuk Bey. Biar peliket ini hilang." Kata Anggi bersemangat, ketika piring-piring dan berbagai perkakas makan sudah dibereskan dan dijemput oleh para pelayan
"Aku gak bawa baju ganti, Gi. Apalagi celana renang. Besok pagi aja deh aku numpang berenang." Ujarku
"Pake celana dalam aja hahaha..." Ujar Anggi
"Nggak ah.. malu hehehe.." Kataku
"Aku gak malu.. gak tahan. Kamu mau nonton aja terserah ya.. aku duluan." Kata Anggi

Aku awalnya mengira dia bercanda, tapi ternyata dia dengan cueknya menuju ke kolam renang dan menanggalkan pakaiannya membelakangiku dan membiarkan dirinya nyemplung ke kolam renang cuma mengenakan bra dan celana dalamnya. Jujur saja, aku menganga melihatnya seperti itu. Lelah yang kurasa seharian ini tiba-tiba hilang dan darah mengalir dengan cepat ke otak serta selangkanganku.

"Ayo Bey, sini. Ngapain sih malu?" Katanya di pinggir kolam renang memamerkan pundaknya yang bersinar dihias dengan tali bra-nya
"Aku nonton aja deh." Ujarku dari pinggir kolam renang
"Apa aku mesti jemput kamu nih?" Katanya menantang
"Boleh sini jemput." Ujarku sambil tertawa bercanda, mengira dia gak akan berani

Tiba-tiba dia keluar dari kolam, dan tubuh indah itu terpampang di depanku. Seketika aku seperti berhenti bernapas, jantungku berdegup kencang, panca inderaku tak bisa kugerakkan. Walaupun kedua titik surga dunia itu tertutup oleh underwear dan bukan baju renang, justru itu yang membuatku serba salah. Karena lekuk-lekuk tubuhnya justru semakin terlihat. Dia berdiri saja sejenak di depanku sambil bertolak pinggang.

Tapi dengan refleks malah aku mengambil handuk dan menyerahkan padanya.

"Dingin ah .. jangan kelamaan di luar kolam." Ujarku
"Kamu selalu pura-pura jual mahal. Aku udah gak bisa nahan lagi kali ini, karena aku tau kamu sebetulnya juga menginginkan aku." Ujar Anggi terdengar percaya diri

Lalu dia menepis handuk yang ada di tanganku. Dan tubuh basah itu mendekat, jemarinya meraih leherku sementara aku terdiam dalam kaget yang 'menyenangkan'. Dalam hitungan detik, apa yang aku pikirkan tadi sore pun kini sudah terjadi. Dulu aku yang memulai ini, namun kini Anggi sudah bukan gadis yang malu-malu seperti dulu. Dia sudah menjadi wanita seutuhnya yang mengerti dan menikmati salah satu kenikmatan dunia ini. Begitu bibir beradu, maka hilanglah semua malu dan takut. Yang ada hanyalah rasa nyaman dan birahi.

Awalnya aku berusaha mundur dan menolak, tapi kelembutan bibir dan hembusan napas Anggi serta tubuhnya yang hangat-hangat basah membuat pertahananku jebol. Ingatan tentang Anna dan Ilana di Jakarta buyar seiring dengan jemari Anggi yang perlahan menarik jemari dan lenganku untuk memeluk pinggangnya. Begitu aku memeluk tubuhnya, Anggi pun perlahan mulai satu persatu melepas pakaianku. Menyebabkan aku kehilangan kontrol akan diriku sendiri.

Dan perlahan.. aku pun mulai terhanyut, terbawa arus dan tenggelam makin dalam ketika kami dengan lambat namun pasti mulai menanggalkan satu persatu apa yang kami kenakan. Anggi yang sekarang benar-benar sudah berbeda dengan yang kukenal dulu. Apa yang dulu tak bisa kami nikmati, kini bisa kami rengkuh dengan bebas walaupun bukan tanpa beban.

Kami seperti tak peduli lagi dengan status yang kami miliki sekarang. Yang ada di hadapan kami adalah seperti saling berlomba untuk mencari kenikmatan, kepuasan, rasa penasaran dan keinginan untuk saling memuaskan.

Semua dimulai dari bibir, dihiasi dan diakhiri oleh bibir pula.. Apakah aku menyesal telah melakukannya dengan Anggi?

-- to be continued soon .. --



profile-picture
profile-picture
profile-picture
fatqurr dan 30 lainnya memberi reputasi
31 0
31
Lihat 12 balasan
Memuat data ..
Hypnophobia & Kisah Cintaku
25-02-2019 21:53
Part 124c, Februari 2009


Quote:

agak kurang benar jika dibaca khalayak umum



***

Minggu Pagi.

Akhirnya Anna mulai bisa menikmati hubungan suami-istri ini setelah try-out yang kesekian kalinya kami marathon dari semalam. Karena Bu Ani kami liburkan hari ini, kami mencari sarapan soto di seberang B*ntaro Plaza. Sambil ngobrol merencanakan kapan mau bulan madu, kemana tujuannya dan mau berapa lama. Anna jadi semakin lengket dan jadi berbeda setelah aku 'nikmati' keperawanannya. Aku bisa langsung merasakannya pagi ini juga, dia terasa berbeda dibanding selama ini aku bersamanya.

"Hari ini sebetulnya aku diajak ketemuan mumpung ada Nana di Jakarta. Kita mau hadir gak?" Tanyaku
"Terserah kamu aja, Mas." Kata Anna
"Ada Manda juga sih, seandainya kamu grogi ketemu teman-temanku yang lain jadi bisa ngobrol sama dia." Kataku
"Kalau kamu gak cape, ya aku ayo aja. Dimana ngumpulnya?" Tanya Anna
"Set*abudi One. Biar dekat dengan mereka-mereka. Maksudnya Manda, Nana dan Dara.." Kataku
"Oke, berarti kita pulang dulu kan ya?" Tanya Anna
"Mau sekali lagi?" Tanyaku sambil berbisik ke telinganya
"Apaan sih ini?" Ujar Anna sambil menahan senyum sehingga memamerkan lesung pipitnya.
"Hahaha... kalau mau ya ayo lah, tapi kalau gak mau ya nanti malam aja." Kataku pelan
"Nothing to lose ya pokoknya, sekarang gak dapat.. tapi nanti dapat." Kata Anna masih menahan senyum

Kami pun cekikikan berdua.

"Eh.. belum cerita kan.. kamu utang janji sama aku, udah aku 'pake' kamu semalam tapi belum cerita juga." Kataku gemas pada Anna
"Utang apa, Mas?" Tanya Anna bingung
"Apa yang bikin kamu akhirnya mau milih aku dibanding Alfian? Tapi aku salut sih dia datang waktu akad nikah kita di Surabaya. Akbar gak datang tuh kita undang di Jakarta." Kataku
"Biar aja sih. Kamu udah dapat aku sepenuhnya, masih mikirin orang lain." Kata Anna terdengar kesal karena aku nyebut-nyebut nama Alfian dan Akbar
"Ya biar laki, aku masih ada cemburu juga lah." Kataku
"Idih.. udah bikin bed-cover bercak-bercak semalam masih cemburuan. Gak pada tempatnya banget itu cemburu kamu." Kata Anna sambil senyum
"Iya aku ngalah.. daripada nanti gak dapat jatah hahaha..." Kataku sambil tertawa

Anna pun ikutan tersenyum.

"Asal kamu tau ya, dulu Manda itu penasaran sama kamu. Dia sebetulnya mau belajar suka kamu, jadi dia rela ngabisin waktu untuk membuka dirinya supaya dia bisa naksir kamu." Kata Anna

Aku tertegun mendengar ucapan Anna yang lugas tanpa tedeng aling-aling itu.

Quote:

Februari 2008

"Gue sebetulnya mau belajar suka sama Ibey, Anna. Gue fair aja sama lo.. gue liat dia orangnya baik dan helpful, totalitasnya luar biasa kalau udah dekat sama cewe." Kata Manda
"Terus, apa hubungannya sama gue?" Tanya Anna
"Gue orangnya gak sabaran, semua mesti terstruktur jika gue punya mau. Sementara Ibey itu lemot, mikirnya lama tapi langkah yang diambil olehnya jadi bagus seandainya dia mau dengerin yang kita omongin." Kata Manda
"Oke?" Tanya Anna dengan penasaran
"Karena gue gak sabaran, gue rasa gak ada masa depan sama dia. Udah gue usahain untuk suka sama dia, tapi gak nongol-nongol itu rasa suka. Dan gue juga tau, dia gak kepingin naksir sama gue juga. Tapi.. gue suka sama pembawaan dia.
Jadi gue putuskan untuk mundur dari percobaan gue untuk suka sama dia." Kata Manda
"Kok mundur, karena lo gak sabaran itu?" Tanya Anna
"Iya. Dan karena dia sebetulnya cowo yang baik dan mau nurut.. mesti dapat cewe yang sabar. Cuma dua orang yang gue kenal bisa sabar menghadapi dia, tapi yang satu beda agama dan mereka sadar gak bisa bersama. Lo kenal Nana kan?" Tanya Manda
"Iya kenal. Emang mereka saling suka?" Tanya Anna
"Bisa jadi sih, mereka berdua misterius. Dari kuliah udah dekat, tapi ya... beda agama sih ya. Susah." Kata Manda
"Satunya lagi..." Tanya Anna terputus
"Satunya lagi ya lo, Anna. Lo gak perlu bohong, lo sebenernya suka sama Ibey kan? Cuma lo agak ragu dengan sifat dia dan kedekatan dia sama banyak cewe. Termasuk Anggi. Bukan gitu?" Tanya Manda

Anna terdiam tak menjawab.

"Jangan sia-siakan dia, An. Dia sebetulnya nungguin lo, cuma dia gak berani ngomong. Soalnya saingannya anak rohis yang damai banget. Dia ngeliat lo begitu sempurna, sehingga gak berani terlalu terbuka untuk mendekati lo. Lo itu medan perang yang unik buat dia.
Sementara waktu dia dekat dengan Anggi, semua begitu mudah karena Anggi begitu terbuka menunjukkan perasaannya pada Ibey." Kata Manda
"Tapi gue bingung kalau mesti ngadepin Anggi juga, Manda... Jika gue pilih Alfian, kayanya hidup gue lurus-lurus aja. Bisa berteman sama semua orang." Kata Anna terdengar ragu
"Anggi itu masa lalu Ibey. Gue mau tau dulu, lo beneran suka sama Ibey kan? Jawab sejujurnya. Kalau lo jujur gak suka sama Ibey, gue gak mau ngomong macem-macem lagi tapi lo rugi kehilangan cowo yang hidupnya penuh gejolak tapi menyenangkan dan fun serta enak diajak diskusi." Kata Manda

Anna pun mengalah dan menghela napasnya.

"Iya, Man.. gue suka sama dia. Udah bukan suka lagi, gue jatuh cinta sejak ngeliat perlakuan dia ke Anggi. Gue iri sama Anggi." Kata Anna
"Nah terus? Lo bisa ngeliat dia sama orang lain.. orang lain yang mungkin malah ngerusak dia nantinya? Seperti Anggi yang bebas dan keras kepala? Sementara dia itu sebetulnya mudah lo atur dan lo ajak diskusi?" Tanya Manda
"Terus gue mesti apa, Man?" Tanya Anna
"Telpon dia dan bilang lo juga cinta dia, kasih dia tenggat waktu untuk nikahin lo. Kalau dia gak nurut, tuntut gue ke pengadilan. Gue jamin, dia akan nurut dengan persyaratan lo." Kata Manda dengan nada penuh keyakinan
"Kenapa gak lo aja sih yang jadian sama dia, Man?" Tanya Anna seperti menahan tawa
"Karena dia lemot menurut standar gue. Kalau dia lebih sigap, gak akan gue mau ngasih ke lo hahaha... " Kata Manda tertawa
"Hahaha... Lo kok baik banget sih mau nasihatin gue begini?" Tanya Anna
"Karena lo last-resort untuk dia, Anna... Lo udah tau kan dia itu susah tidur karena penyakit hypnophobia-nya?" Tanya Manda
"Iya.. yang bantu sembuhin dia kan Anggi. Walaupun belum sembuh-sembuh banget." Kata Anna
"Ya karena dia perlu teman tidur konstan setiap hari, dia perlu nikah. Nih ya.. lagipula kata Ibey keluarga kalian pun sudah saling kenal. Nothing to lose, tinggal sebut tanggal dan beres." Kata Manda
"Lo bisa banget deh nyari celah di hati orang." Kata Anna
"Ya iya lah.. soalnya lo suka sama Ibey, Ibey juga suka sama lo. Susah bener sih kalian saling ngomong satu sama lain. Pake perlu bantuan gue segala.. Udah buruan, sebelum nanti Ibey jatuh ke pelukan wanita lain. Lo tau gak dia juga lagi dekat sama teman kantornya, tapi itu cuma buat pelarian aja seandainya dia gak dapat sama lo. Tapi teman kantor nya itu beda agama dan beda ras pula... jangan biarkan dia makin salah jalan, Anna." Kata Manda meyakinkan Anna

Anna kembali terdiam dan hanya terdengar deru napasnya saja di telinga Manda

"Gimana An? Gue rasa udah cukup ya permintaan gue. Gue gak maksa, tapi gue mendorong lo supaya mengambil keputusan yang gak biasa tapi memenuhi kebahagiaan hati lo." Kata Manda
"Thanks ya Manda.. Gue butuh kedewasaan berpikir banget, butuh waktu sedikit untuk diskusi dengan orang tua gue dan kakak gue. Masukan lo penting banget hari ini." Ujar Anna




Aku mendengarkan dengan seksama penjelasan Anna yang selama bicara hanya menatapku seperlunya saja.

"Begitu lah, Mas... Beberapa hari setelah itu, aku membulatkan tekad untuk memilih kamu. Dan ... Manda benar. Kamu bukan orang yang rumit, pengertian serta mudah diajak kerjasama. Aku gak menyesal menikahimu. Walaupun baru seminggu sih hehehe..." Kata Anna
"Thanks ya, An.." Kataku
"Awas aja kamu main mata sama Manda mentang-mentang dia pernah nyoba suka kamu." Kata Anna
"Aku gak ada rasa apa-apa sama Manda... ngapain cemburu sama Manda?" Tanyaku
"Gak cemburu sama Manda... berarti cemburu sama siapa dong? Anggi? Wilma... aku udah tau dari Manda mengenai Wilma itu. Cakep juga ya dia... untung beda agama. Kalau nggak.. bisa jadi kamu udah sama dia sekarang." Kata Anna sambil mencibir
"Hahaha... Untung kamu mau aku nikahin ya. Kalau nggak..." Kataku bercanda
"Eh.. kurang ajar, udah ngasih cap di bed-cover masih mikirin cewe lain." Kata Anna

Aku pun akhirnya tertawa ngakak. Untungnya saat itu lapak soto Lamongan tempat kami makan cuma ada kami berdua, jadinya tak terlalu menarik perhatian.

"Udah-udah lah.. yuk kita bahas program dede bayi dan bulan madu. Gak perlu kita bahas lagi urusan cewe-cewe lain. Udah ada kamu, udah punya rumah, udah punya kamar tidur sendiri... mending kita bahas urusan enak-enak hahaha..." Ujarku


-- to be continued soon .. --



Diubah oleh rullyrullzzz
profile-picture
fatqurr memberi reputasi
31 0
31
Lihat 4 balasan
Memuat data ..
Hypnophobia & Kisah Cintaku
22-01-2019 10:22
Part 114b, Maret 2008


Quote:

"Ikutin aja semua dulu prosesnya, sampai lolos dan tahu peraturannya baru kita diskusi lagi. Dan jangan lupa, minggu depan kesini dulu lah ya." Kataku gemas
"Iya.. aku naik pesawat kok. Emang kamu boleh ijin jam kerja gitu?" Tanya Anna
"Boleh-boleh aja, nanti mampir dulu ke rumah orang tuaku ya. Pasti mereka senang ada kamu dan mama kamu." Kataku
"Kamu mau ngapain lagi abis ini, Cin?" Tanya Anna
"Nggak ngapa-ngapain yang aneh, paling mau tidur. Jadi seandainya nanti kebangun-bangun, ya masih banyak waktu untuk tidur lagi." Kataku
"Nggak sabar ya mau nikah supaya tidur ditemeni?" Tanya Anna dengan menggoda
"Iya lah.. kamu kalau di rumah gini jilbab-an gak?" Tanyaku iseng
"Jilbab-an gak ya? hehehe..." Jawab Anna
"Penasaran sama rambut kamu.." kataku
"Ih iseng.. rahasia lah. Awas kamu nanya-nanya sama Mas Ben atau Mba Farah ya." Kata Anna mengancam
"Ah, dikasih ide untuk nanya ke mereka. Terima kasih Anna-ku yang cantik hahaha..." Kataku
"Bukan ngasih ide itu! Awas pokoknya, kalau sampai nanya.. aku gak jadi minta dijemput lho." Kata Anna
"Foto kamu di ruang tamu waktu SMU sih rambutnya panjang. Gak tau nih kalau sekarang... kan aku bisa nanya si Benny nanti bulan depan atau pas Wisuda." Kataku menggoda Anna
"Ini apa-apaan sih? Kamu nakal banget udah nanya-nanya macem-macem. Aku aduin ke Ibu kamu lho." Kata Anna
"Hehehe... jangan dong. Kan becanda aja." Kataku

Setelah ngobrol dengan Anna, aku memutuskan untuk mencoba tidur. Tapi aku teringat bahwa mumpung ingat dan ada keinginan, aku pun bangkit dan segera mengaktifkan PC-ku untuk ber-sk*pe dengan Manda. Seperti janjinya, akun-nya selalu dalam keadaan 'on' dugaanku sekarang mungkin masih jam 18 di sana. Butuh dua kali panggilan untuk dijawab oleh Manda. Dia melambai dan tersenyum lebar ketika panggilan masuk. Kulihat dia mengenakan jaket dan celana jeans, rambutnya digelung.

"Bey.. apa kabar? Gue pikir udah lupa sama nih hahaha..." Tanya Manda sambil tersenyum
"Baik Man.. gak akan gue lupa, cuma emang beberapa waktu belakangan ini gue sibuk." Kataku
"Sibuk pacaran ya kan? Hahaha.." Kata Manda tertawa
"Maaf ya Man.. gue gak ngabari apa-apa bahkan sampai lo pulang waktu itu." Kataku

Pamitnya Manda di Februari 2008



"Gak usah khawatir Bey... anggap aja yang gue sampaikan itu motivasi buat lo. Tapi lo baik-baik aja kan?" Tanya Manda sambil membuka gelungan rambutnya
"Alhamdulillah.. Man, gue mau jujur deh sama lo kalau gue dan Anna emang udah jadian. Bahkan sejak sebelum Nana nikah." Kataku sambil senyum
"Hahaha... Alhamdulillah. Tuh kan.. gue bilang juga apa. Hahaha... akhirnya ngaku juga. Ayo.. gue tunggu penjelasan lo." Katanya tertawa ngakak

Dia lalu duduk dengan menyilangkan kedua lengannya di depan dadanya dan menatap ke layar laptop-nya sambil tersenyum-senyum.

"Hahaha.. jangan gitu dong. Gue kan mau berterima kasih sama lo, Man. Kalau lo gak bantu meyakinkan Anna, mungkin ceritanya bisa lain." Ujarku
"Seperti yang gue bilang, gue kesel ama lo yang lemot. Gue kesel sama Anna yang ragu. Padahal gue tau banget kalian berdua itu saling suka. Gemes tau, Bey kok ada sih dua orang pake nyembunyiin perasaan segala. Punya mulut, punya akal, punya badan, waktunya ada, orangnya udah di depan mata. Gak bisa deh gue ngeliat orang kaya gitu.
Tapi.. gue terima ucapan terima kasih lo. Request gue tetap sama ya... gue tunggu undangan lo berdua sama Anna. Jangan sia-siakan Anna, dia cakep dan wife-material banget." Kata Manda
"Lo juga cakep, tapi belum wife-material hahaha..." Kataku mengejek Manda
"Sial! Kualitas wife-material gitu ada yang gifted dan ada yang perlu ditempa. Gue akui, gue emang gak ada bakat sekarang. Tapi ke depannya, siapa tau." Kata Manda
"Maaf Man... jangan marah lah, kan gue becanda aja." Kataku yang sebetulnya tau kalau Manda gak marah.
"Beruntung deh lo dapat yang gifted kaya Anna... Jadi nanti dia wisuda bareng Anggi, lo bakalan datang?" Tanya Manda
"Mungkin gue datang, Man.. moment penting buat Anna. Gue bela-belain datang deh." Kataku
"Kalau ketemu Anggi gimana?" Tanya Manda
"Pasrah deh gue, Man. Udah waktunya kali... sebetulnya kami udah gak peduli." Kataku
"Hahaha.. Bohong! Pasti kalian punya rencana kan? Kalian kan gak bego." Kata Manda
"Hahaha.. iya lah. Masa mau main datang-datang aja. Tapi sementara ini rencana kami belum ada kok." Kataku
"Bentar ya, Bey.. gue haus." Kata Manda

Lalu dia pergi meninggalkan layar itu dalam keadaan kosong. Tapi gak lama kembali dan duduk sambil memegang botol dan gelas.

"Mabuk ya Man?" Tanyaku nyengir
"Gila ya lo. Gue masih menjaga adat ketimuran, belum pernah minuman alkohol nih masuk ke badan gue. Ini infused water aja." Katanya
"Apaan tuh infused water?" Tanyaku

Waktu itu, memang belum banyak orang mengenal pola minuman seperti ini di Indonesia. Lalu Manda menjelaskan dengan singkat apa yang dimaksud dengan infused water agar aku mengerti. Dilanjutkan dengan aku menceritakan bagaimana ketika Anna dan aku ngobrol by phone saat Anna menerimaku sebagai pacarnya, termasuk detail hingga dia nangis karena gak mampu lagi menahan emosinya. Termasuk ketika dia akhirnya memilih untuk tidur setelah ngobrol denganku. Aku dan Manda bertukar tawa saat aku bercerita di bagian ini.

"Alfian itu gimana kabarnya dong, Bey?" Tanya Manda
"Tempo hari Anna cerita sih, ya agak gak enak juga buat Anna. Tapi mau gak mau dia mesti ngomong." Kataku
"Baru-baru ini aja dia ngomongnya ke Alfian?" Tanya Manda
"Iya.. setelah keluarga kami kenalan, jadinya gue kaya semi-lamaran gitu deh.. karena gak bawa seserahan." Kataku sambil nyengir
"Wah.. selamat ya Bey. Gak nyangka satu-satu teman gue pada mau serius semua. Pelan-pelan pada balapan hahaha.." Kata Manda
"Terima kasih, Man.. ya berkat bantuan lo. Btw, gue ceritain dikit deh waktu Anna ngomong sama Alfian ya." Ujarku


Alfian the miserable



Manda terdiam mendengar aku bercerita mengenai penyelesaian yang dilakukan oleh Anna pada Alfian.

"Udah benar sih itu langkah Anna.. dan emang dia cerdas juga. Memastikan lo datang dulu, baru dia bilang ke Alfian." Kata Manda
"Jadi misalnya gue mundur, dia tetap sama Alfian ya?" Tanyaku pada Manda
"Yaaa... kurang lebih deh. Tapi dia bakalan terpaksa itu jika emang mesti milih Alfian. Untung lo dan keluarga lo datang. Happy ending deh buat dia.. eh, belum deh. Belum ijab qobul mah belum ada happy ending hahaha.." Kata Manda
"Tau darimana lo kalau dia bakalan terpaksa?" Tanyaku
"Kan gue ngobrol sama dia." Kata Manda
"What?? Kalian banyak bener sih rahasianya?" Tanyaku menahan tawa
"Pokoknya Anna itu cerdas lho... cocok ama lo yang lemot hahaha.." Kata Manda

Aku baru teringat, seharusnya aku ngobrol masalah ini dengan Anna saat keluarga kami bertemu. Tapi karena aku terlampau senang dan terlalu menikmati kehadiran Anna yang jarang kulihat malah membuatku mabuk kepayang dan lupa menanyakan kenapa mereka berdua bisa ngobrol panjang lebar.

"Enak aja gue lemot.. IP gue diatas 3 waktu lulus, emang kalah sih sama lo. Tapi gak malu-maluin lah." Kataku sewot
"Hahaha.. biarin aja.. terus abis lamaran, mau ngapain lagi?" Tanya Manda mengalihkan pembicaraan kembali ke track.
"Kalau dapat tempat, 6 bulan lagi mau nikah deh. Tapi sebelum itu mau lamaran resmi dulu sekalian pengumuman tanggal. Bawa-bawa seserahan dan rombongan lebih banyak dari Jakarta." Kataku
"Btw, waktu Alfian ditolak Anna.. Anna nangis juga gak?" Tanya Manda
"Nggak... katanya sih." Kataku nyengir
"Palingan gak nangis.. kalau nangis ya pura-pura aja. Kan kalau dengar omongan lo, dia udah gak ada lagi tuh gejolak emosi. Semua udah meledak saat kalian jadian dan kenalan keluarga. Ringan lah itu ngurusin Alfian kalau apa yang dia mau udah dapat." Kata Manda sambil nyengir

Lalu aku melihat gadis itu kembali minum. Sekilas aku melihat wajahnya terlihat lelah, terutama matanya.

"Bey, terus urusan lo sama Wilma gimana? masih jalan bareng atau udah selesai?" Tanya Manda
"Udah selesai Man. Begitu kami jadian, sebelum kenalan keluarga.. udah gue beresin. Ya gue akhirnya nyakitin anak orang sih.. keliatan bagi gue, Wilma seperti mengharap. Tapi ya udah lah... resiko." Kataku menyesal
"Pelajaran buat lo Bey. Tarik ulur dikit kenapa sih.. giliran sama Anna maju mundur, tapi sama Wilma nge-gas terus. Makanya untung lo dan Anna jadi, jangan sampai deh lo nyakitin anak orang lagi ya.

Aku hanya tersenyum dan mengangguk-angguk.

"Btw, gimana kuliah? Lo baru balik?" Tanyaku berbasa-basi
"Ya... begitulah. Lagi mau sakit nih kayanya gue, Bey. Adaptasi udara dingin disini abis dari Indonesia. Makanya gue lagi galak banget minum infused-water ini." Kata Manda
"Minum obat lah.." Kataku
"Diketawain lo disini kalau sakit ringan aja minum obat.. disini orang istirahat dan makan buah-buahan aja." Kata Manda
"Oh iya gitu?" Tanyaku
"Ya so far kalau sekedar radang-radang atau meriang, istirahat aja kemulan lalu tidur." Kata Manda
"Maaf deh ganggu waktu istirahat lo.." Kataku menyesal
"Nggak apa-apa.. gue nunggu Isya dulu baru mau tidur. Lo tuh yang mestinya tidur, nanti gue diomelin Anna hahaha.." Kata Manda
"Terakhir deh ini.. sebelum kita off, lo serius mau dateng kalau gue nikahan. Gak murah kan tiketnya Man?" Tanyaku
"Kalau lo nikah sama Anna, gue dateng. Tapi kalau nggak... gak mau gue. Asal jangan dadakan aja ngabarinya ya." Kata Manda lalu minum.
"Gue ganti deh tiketnya kalau emang lo mau datang." Pintaku
"Nggak perlu, Bey .. gue bisa nyari lah jumlah segitu. Kerja sebulan aja udah ngumpul tuh 2000 euro. Udah ah sana tidur.. salam buat Anna ya." Kata Manda

Aku pun mengerti dan gak mau memaksa Manda lama-lama ber-sk*pe. Dan kami pun akhirnya mengakhiri sesi sk*pe hari ini. Terpikir olehku untuk berterima kasih pada Manda, dengan membelikannya tiket pesawat PP secara kejutan saja. Karena uang senilai 20 jutaan bukanlah jumlah yang kecil
untuk membeli tiket pulang-pergi demi menghadiri pernikahan saja.

-- to be continued soon .. --



NB: (menerima saran soundtrack... ane lagi buntu, puyeng hehehe...)
profile-picture
profile-picture
fatqurr dan secretos memberi reputasi
31 0
31
Lihat 7 balasan
Memuat data ..
Hypnophobia & Kisah Cintaku
10-01-2019 22:19
Part 110b, Februari 2008


Quote:


Aku sedang menanti persiapan Ibuku dan adikku yang akan ikut kondangan. Sementara aku sedang nonton televisi dengan pakaian rapi batik lengan panjang dan celana bahan. Wilma sudah mengabsenku pagi ini. Karena gak berenang jadi dia di kos aja, tapi tadi dia bilang sempat sedikit jogging. Aku jadi membayangkan tubuhnya yang putih pucat itu berkeringat berkilat, saat dia menelponku tadi ketika aku sedang nyupir dari rumahku ke rumah Ibuku.

"Gak kemana-mana kah, Wil?" Tanyaku
"Gak ah, di kos aja. Tidur. Hahaha.." Kata Wilma
"Awas gemuk hehehe..." Kataku
"Gak ada keturunan gemuk di keluarga gue, Bey. Gini-gini aja." Katanya
"Agak ngos-ngos-an abis ngapain?" Tanyaku
"Abis jogging ringan aja. Ini aja langsung banjir keringat, makanya enakan berenang. Gak keliatan keringatnya langsung nyampur sama air kolam hahaha.." Kata Wilma

Dan setelah ngobrol ringan dengan Wilma itulah, perasaan bersalah akibat semalam bersama Wilma membuatku jadi teringat pada Anna. Gak pakai lama, aku langsung menghubunginya. Dengan harapan dia sedang gak bersama Alfian saat ini.

"Assalamualaikum Anna." Ujarku ketika telponku dijawab.

Aku sering menelponnya, dan dia pun belakangan sejak pertemuan denganku di Jakarta tempo hari itu juga menyempatkan menelponku jika sudah lewat waktu Isya atau biasanya diatas pukul 20. Apa aja bisa kami jadikan bahan obrolan, tapi tentunya tidak membahas mengenai keputusannya atau masalah Alfian. Selain aku males ngobrolin Alfian, aku menghormati waktu yang dimiliki oleh Anna untuk persiapannya menuju sidang skripsi. Walaupun aku yakin kalau dia akan dengan mudah melewati sidang skripsinya.

"Waalaikumsalam Bey. Tumben nelpon masih pagi." Katanya terdengar ramah, khas Anna kalau lagi gak ada masalah.
"Ganggu gak sih gue nelpon?" Tanyaku
"Nggak kok, lagi di rumah aja." Kata Anna.
"Persiapan ya beberapa hari lagi sidang?" Kataku sambil tersenyum

Selalu menyenangkan dan menenangkan jika ngobrol dengan Anna. Sama sih mungkin rasanya seperti dulu aku ketika pacaran dengan Anggi, enak juga ngobrol dengan Anggi dan enak juga ngobrol dengan Anna. Bedanya sekarang kalau ngobrol dengan Anna enak, ngobrol dengan Anggi biasa saja.

"Iya nih, tapi gue udah nothing to lose aja. Udah gak ngoyo belajarnya, cukup liat-liat aja. Enaknya bikin skripsi kita yang ngetik sendiri, jadi kita paham semua seluk beluknya tulisan kita." Kata Anna
"Oh ya sih, ada yang kadang skripsinya minta diketik orang ya." Kataku mengiyakan Anna
"Nah itu, bakalan seperti ada yang hilang deh." Kata Anna menjelaskan

Aku sengaja memang mencari pembahasan yang membuat dia jadi menjelaskan atau jadi bersuara dengan panjang lebar. Aku ingin lebih lama mendengar suaranya. Aku kangen padanya.

"Nyokap masih di Surabaya?" Tanyaku karena samar-samar terdengar suaranya di latar saat aku berbicara dengan Anna
"Iya masih. Kedengeran ya suaranya hehehe..." Kata Anna diikuti dengan tawanya.

Aku tahu pada akhir Januari lalu, Anna didatangi oleh Alfian ke Kediri. Alfian ingin bertemu dan kenal dengan papanya Anna. Tapi aku gak pernah menanyakannya pada Anna, enggan rasanya. Aku tahu itu semua dari Anggi. Dia yang cerita. Namun faktanya yang aku dapat dari Anggi, mereka gak pergi ke Kediri. Karena Pak Gondo yang datang ke Surabaya bertepatan dengan dinasnya dia yang akan pergi ke Jakarta tak lama setelah Anna pulang kembali ke Surabaya dari Jakarta.

Quote:

"Lega rasanya skripsi udah final, dan saat injury time daftar sidang. Kamu gak turut senang?" Tanya Anggi
"Ya senang lah. Masa gak senang." Kataku pada Anggi
"Barengan nih aku sama Anna pas ajuin pendaftaran sidang. Sebetulnya udah telat, tapi dosen pembimbing kami baik banget. Dia bantuin aku dan Anna lolos pendaftaran sidang." Kata Anggi
"Terus sidang kapan?" Tanyaku
"Sementara jadwalnya kemungkinan di pertengahan atau akhir Februari sih. Moga-moga gak berubah lagi, supaya akhir Maret bisa wisuda. Horeeee!!" Kata Anggi terdengar ceria.
"Serius kamu dan Anna bakalan siap itu sidang udah dekat gini?" Tanyaku penasaran.

Karena saat aku dulu sidang skripsi, nunggunya kalau tidak salah sebulan. Sementara mereka berdua hanya kurang lebih 2 mingguan.

"Ya nasib karena ngebut ngerjainnya. Tapi aku bangga sih bisa ngerjain secepat ini, untung ada Anna." Kata Anggi
"Eh, kalau gak salah kamu pernah bilang Anna mau bawa Alfian ngenalin ke orang tuanya ya?" Tanyaku pada Anggi
"Iya. Oh aku belum cerita ya?" Tanya Anggi kaya lupa
"Iya .. ceritain dong. Penasaran nih, masa mesti nanya ke Anna." Kataku dengan nada memohon dan melas khas aku kalau mau ngerayu Anggi
"Gak jadi kok." Kata Anggi
"Hah? Gak jadi dikenalin?" Kataku dengan nada sedikit senang.
"Bukan gitu, gak jadi ke Kediri mereka itu. Pas banget Om Gondo itu mau ke Jakarta, jadi mereka ketemuan semua di Surabaya." Kata Anggi
"Oooh, kirain mereka gak jadi dikenalin." Ujarku
"Jadilah, Alfian-nya ngebet banget mau sama Anna. Dikit-dikit Anna dibawa, udah ketahuan Anna itu susah nolak orangnya." Kata Anggi polos

Yah, ini alamat makin runyam deh urusan. Tiap hari ketemu, dipepet, diperhatiin dan diistimewakan oleh Alfian... Ujungnya jelas lah ini. Begitu paling tidak yang tertera di kepalaku begitu mendengar penjelasan awal dari Anggi. Walaupun dasarnya aku sudah tahu kalau Anna itu memang begitu orangnya. Makanya dia gak mau terlalu dekat dengan cowo-cowo sembarangan. Khawatir disangka PHP cowo. Khusus kasus Alfian, ya tau sendiri lah itu semua gara-gara dia baru putus dari Akbar dan jadi labil. Labil yang cukup lama.. paling tidak sampai tempo hari di Jakarta pun dia masih labil. Aku sih yang jadi salah satu penyebab labilnya dia.

"Ya Anna baik dan cakep, mana ada laki yang nolak kalau Anna-nya deket-deket." Kataku lancar banget ngomong.
"Emang kalau kamu ditempel Anna, mau?" Tanya Anggi dengan pertanyaan penuh selidik

'Wah.. salah ngomong.' Ujarku dalam hati

"Kapan juga aku ketemuan Anna? Gimana nempelnya? Butuh waktu lho untuk suka sama orang. Kamu aja dulu PDKT sama aku lebih dari 2 bulan. Dan misal aku mau, emang Anna mau juga sama aku?" Kataku berusaha ngeles
"Wajar aja sih kalau kamu sampai misal suka dengan dia." Kata Anggi, tapi suaranya terdengar datar
"Udah ah, terusin dong ceritanya. Itu Alfian gimana? Diterima gak sama keluarganya Anna?" Tanyaku
"Tapi kamu beneran kan gak naksir Anna?" Tanya Anggi lagi

'Emang mesti hati-hati kalau ngomongin Anna di depan Anggi.' Ujarku dalam hati lagi

"Kan udah dibilang, naksir itu butuh waktu dan kedekatan. Anna-nya aja udah dekat Alfian melulu, ngapain dikaitkan ke aku?" Tanyaku

Yang aku heran, kenapa aku masih berusaha meyakinkan pada Anggi mengenai hal-hal seperti ini ya? Padahal dia bukan pacarku lagi. Anggi pun sejenak terdiam seperti sedang menelaah perkataanku. Untungnya dia sepertinya termakan oleh kata-kataku.

"Terusin dong ceritanya.." Ujarku lagi, dan akhirnya diikuti oleh Anggi.
"Aku kebetulan ada si disitu. Om Gondo kan dasarnya emang orangnya terbuka dan baik, ya dia senang-senang aja kenal sama Alfian. Keliatan banget Alfian antusias pas kenal dengan Om Gondo." Kata Anggi
"Jadi ya mengenai penentuan lamaran Anna oleh Alfian diutarakan juga?" Tanyaku
"Iya. Alfian bilang kalau diizinkan, dia akan membawa orangtuanya kenal juga sama keluarga Om Gondo. Mungkin ke Kediri, mungkin juga di Surabaya aja. Soalnya keluarga besar Alfian ada di Probolinggo. Jadi mungkin aja ke Surabaya deh mereka." Kata Anggi
"Boleh ya akhirnya?" Tanyaku
"Om Gondo bilang, terserah Anna aja. Tapi Anna bilang dia akan jawab nanti nunggu hasil sidang skripsi dulu." Kata Anggi
"Jadi?" Tanyaku butuh kepastian
"Jadi ya... nanti nunggu sidang skripsi dulu. Kok kamu kaya lemot gitu sih? Kan udah aku bilang. Kamu belum makan? Pola tidur kamu gimana dong sekarang? Aku udah lama mau nanya, baru keinget nih sekarang." Kata Anggi

Aku jelaskanlah apa adanya pada Anggi mengenai pola tidurku yang bergejolak naik turun. Kadang aku bisa tidur enak, tapi terbangun-bangun. Kadang ya kaya dulu, baru bisa tidur mendekati Subuh saat sayup-sayup terdengar suara orang tadarus atau malah begitu adzan berbunyi. Itulah alasanku ingin segera cepat menikah. Seperti kata dokter Arifin, harapan terakhirku dengan menikah karena aku gak mungkin tidur sendirian jika sudah menikah. Halaalan Thoyiban.

"Kamu pas aku sidang atau wisuda datang dong." Kata Anggi
"Ada papa mama kamu, aku gak enak. Ini aja aku udah melanggar janji." Kataku

Anggi terdiam seperti menyadari bahwa apa yang kukatakan itu benar adanya. Padahal alasanku sebenarnya adalah aku sedang berusaha menghindarinya. Karena aku sudah tak terlalu menginginkannya seperti dulu. Walaupun misal ada perubahan nasib, atau Pak Rajo tiba-tiba
memberi restu ya aku pasti masih mau kembali ke Anggi. Tapi faktanya, keadaan masih belum berubah. Aku masih tak diinginkan oleh Pak Rajo.



"Lo lagi ngapain Bey?" Tanya Anna
"Mau kondangan, nemeni nyokap." Kataku
"Kabar keluarga baik dan sehat ya, Bey?" Tanya Anna
"Ah iya, tau gitu tempo hari pas ke Jakarta gue ajak main, An.. Maaf gak kepikiran kemarin itu. Gue mikirin lo terus." Kataku
"Thanks ya Bey.. hehehe.." Kata Anna sambil tertawa pelan, bukan tertawa bercanda. Tapi tawa senang.
"Hari ini gak kemana-mana nih? Gue aja suntuk jadi terpaksa deh nemenin nyokap kondangan hehehe.." Kataku berbasa basi.
"Gak ah, Bey. Mau di rumah aja.. nemenin mama masak. Mau ada Mas Benny dan Mba Farah nanti kesini juga. Agak males kemana-mana, udah mau ujian takut kenapa-kenapa nanti jadi malah tambah lama." Kata Anna
"Keren lah, persiapannya matang. Gue yang gak ikut ujian aja jadi berasa deg-deg-an liat lo mau ujian." Kataku
"Kayanya lebih deg-deg-an si Anggi deh, Bey. Stress dia, walaupun dia kerjain sendiri itu skripsi tapi dia keliatan banget cape." Kata Anna

Ngapain juga ya si Anna ini ngobrolin Anggi tiba-tiba? Apakah dia mau ngetes aku atau emang sekedar basa-basi gak penting? Intinya aku mesti hati-hati jangan sampai salah ngomong seperti tempo hari ngobrol sama Anggi.

"Oh iya? Kalian bakalan sidang bareng dong ya?" Tanyaku berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Mungkin gak di hari yang sama, tapi jadwalnya sementara ini beda hari sih. Gak diminta nemenin dia wisuda Bey?" Tanya Anna
"Iya dia minta begitu." Ujarku terpaksa jujur, khawatir dia nanti tiba-tiba nanya ke Anggi langsung.
"Mau nemenin?" Tanya Anna, nadanya terdengar penasaran
"Nggak." Jawabku singkat
"Ohh... kenapa?" Ada sekilas kudengar kelegaan di suara Anna
"Bukan siapa-siapa lagi, ngapain juga. Ntar lo bete, malah .. ah sudahlah hahaha..." Kataku menjawab pertanyaan Anna dengan makna bersayap.
"Hahahaha... masa sih gue bete?" Tanya Anna mulai mancing-mancing lagi

Aku yakin sepertinya memang dia sedang memancingku untuk mengetes sejauh mana perhatianku pada Anggi. Seandainya dia menyadari ada sedikit aja perlakuan istimewa, aku khawatir Anna akan berpaling.

"Kan nyokap lo yang bilang, waktu gue jadian sama Anggi lo..." Kata-kataku terputus oleh tawa berderai dari Anna
"Hahahaha... udah ah udah, malu banget gue. Aduh... nyokap gue emang kebangetan urusan begituan aja diangkat-angkat hahaha.. " Kata Anna masih sambil tertawa
"Tapi emang bener? Lo bete?" Tanyaku menembak langsung aja, mumpung suasana udah masuk.
"Hmmm... bete gak ya? hehehe.. perlu ya gue jawab?" Tanya Anna menggodaku
"Hak lo sih itu, cuma gue wajib nanya. Dimana-mana kewajiban itu diatas hak. Tanya deh sama temen-temen lo yang kuliah hukum." kataku berlagak serius
"Hahahaha... gomballl! Emang ini urusan hukum? Gemes gue kadang sama lo, Bey." Kata Anna terdengar senang dengan godaanku
"Tuh.. gue jelaskan pakai dasar yang masuk akal, masih dianggap bercanda." Kataku menahan senyum
"Iya.. jawabannya iya. Tapi itu dulu.." Ujar Anna pelan
"Sekarang?" Tanyaku sambil senyum-senyum.
"Sekarang ... rahasia, gak mau cerita." Kata Anna dengan nada yang terdengar seperti dia merasa menang.
"An, nanti gue telpon lagi boleh? Ini gue udah mau jalan.. nyokap gue maunya duluan ngejar akad-nya aja." Tanyaku
"Ohh.. padahal lagi asik ngobrol. Gue telpon lo deh ya nanti, gantian. Banyakan lo yang nelpon, gue gak kemana-mana kok hari ini. Lo kabari aja ke gue, free jam berapa." Kata Anna
"Iya sih, ya udah nanti gue kabari ya. Salam buat Nyonya Gondokusumo ya hahaha..." Kataku
"Iya nanti gue sampaikan, jangan lupa kabari ya. Enak ngobrol sama lo... bisa ngelupain stress sidang hehehe.." Kata Anna
"Gantian nih gue yang digombalin. Ya gue off dulu kalau gitu ya." Kataku
"Ya udah off sana, gue nungguin lo yang off." Kata Anna terdengar seperti menahan tawa
"Idih.. ini kagak kelar-kelar. Buruan off, gue mau jalan." Kataku gemas
"Rese! Hati-hati ya Bey jangan lupa titip salam buat nyokap lo. Assalamualaikum." Katanya dengan nada gemas dan dia pun memutus pembicaraan.

Aku pun menatap ponsel itu dalam senyum, sebelum akhirnya mulai bersiap-siap berangkat menuju kondangan.

***

Minggu.

"An, gue pamit dulu ya mau jalan riding keliling Jakarta bareng temen-temen." Kataku pada Anna tadi pagi melalui ponsel sekitar jam 6 pagi.

Dia tidak marah ketika aku telpon, agak terdengar nada dia seperti lagi bermalas-malasan tapi udah gak tidur.

"Oh yang semalam lo bilang ya? Ada cewenya gak nih?" Kata Anna
"Nggak ada kayanya, tapi gak tau juga jika ada yang dibonceng. Gue sih sendirian aja, mau kapan-kapan gue bonceng?" Tanyaku
"Mau aja kalau terjamin gak akan ada apa-apa." Kata Anna
"Halah... kalau ada apa-apa ya berarti emang udah takdir hehehe.. gue gak ganggu lo tidur?" Tanyaku
"Jam segini ya gue udah bangun lah. Tiap hari." Kata Anna
"Anak sholehah... pantes yang naksir banyak hahaha.." Kataku tertawa
"Norak. Udah sana berangkat, hati-hati ya. Kabari kalau udah pulang." Kata Anna
"Emang mau ngapain kalau udah pulang?" Tanyaku dengan nada bercanda
"Ya mandi lah, makan, tidur terserah.. kan yang punya hidup lo juga." Kata Anna
"Gak minta ditelpon?" Tanyaku bercanda
"Gak.. buat apa juga. Ke-Ge-Er-an kalau gue minta ditelpon." Kata Anna
"Nanti tetep kok gue telpon lo hahaha..." Kataku tertawa
"Gak nanya." Katanya
"Pasti belum mandi ya?" Tanyaku
"Sama kaya lo." Jawab Anna
"Hahahaha... Enak aja, gue udah mandi. Tapi nanti ya abis keliling ya mandi lagi. Gue pamit ya.. gak enak tu temen-temen udah pada mulai jalan." Kataku
"Iya.. iya.. hati-hati ya. Assalamualaikum." Kata Anna menyudahi pembicaraan.

Dan aku beserta 20-an sesama pengendara scooter LX, Corsa, Excel, ET4 dan 2-3 motor tua seperti motornya Lilo misal CB, H*nda 100 dan C70 mulai rolling thunder (istilah sekarangnya, kalau dulu gak tau deh). Kami kumpul di Kemang dari tadi pukul 0530 dan baru jalan pukul 0630 dengan rute menuju ke Monas melalui Mampang, Rasuna Said, Menteng, Sabang dan seterusnya. Berhenti sejenak nanti jadwalnya di Sabang nyari sarapan bubur ayam. Enak juga bertemu dengan teman-teman baru seperti ini. Penting untuk mengatasi rasa kesepian akibat jomblo. Dan ini adalah komunitas pertamaku bergabung dengan para rider scooter, so far mereka menyenangkan semua. Karena banyak yang orang-orang pegawai kantoran juga. Walaupun ada yang memang murni jobless dan hidupnya untuk scooter ini (RIP Chico, one of my Friend. Salah satu penggemar V*spa yang pernah bekerja jadi penyiar radio).

Keriangan ini aku nikmati hingga sekitar pukul 09 pagi kami parkir di dekat Monas untuk bersantai-santai sambil ngobrol-ngobrol lagi seperti tadi pagi saat kumpul di tikum Kemang. Sambil ngobrol, aku mengecek ponsel yang ternyata ada sms-sms dari teman-temanku, termasuk
Wilma dan Manda.

'Bey, sore jalan bisa gak? Gue ke Gereja pagi nih. Barengin lo yang katanya mau riding sama temen-temen. Kabari ya.' - Wilma
'Bey, minta nomornya Anna dong. Gak enak masa kenal tapi gue gak ada nomornya.' - Manda

Hmmm.. Jalan bareng Wilma, udah pasti akan ada unsur lumat bibir ini. Cuma aku lagi gak kepikiran itu saat ini. Nanti saja aku balas, kalau emang lagi mood. Sementara sms Manda langsung aku balas saat itu juga. Mengingat ini Manda yang minta, aku berpikir pasti dia sedang merencanakan sesuatu dengan nomor ponsel Anna. Baru saja aku akan mengantongi ponsel ke rompi, ada telpon masuk.

Anna

Masa secepat itu Manda menghubungi Anna dan Anna menghubungiku? Kujawab saja langsung panggilan itu.

"Bey.. maaf ganggu waktu lo bentar." Kata Anna, nadanya terdengar agak khawatir
"Ada apa, An?" Tanyaku bingung

Yang terpikir di benakku adalah, ada suatu kejadian penting misal kecelakaan atau musibah.

"Anggi masuk rumah sakit." Kata Anna
"Kenapa lagi dia?" Tanyaku agak kaget
"Gue lagi nunggu hasil diagnosa dokter. Tadi dia diantar driver-nya, mamanya lagi otw ke Surabaya. Udah berangkat tapi mungkin masih di Soekarno-Hatta. Kasian.. yang ngontak gue driver-nya nih." Kata Anna dengan nada tergesa-gesa
"Lo mau gue ngapain, An?" Tanyaku serius
"Ini gue yang minta, bisa lo ke sini? Kasian Bey, dia mau ujian skripsi." Kata Anna penuh harap.

-- to be continued soon .. --



Diubah oleh rullyrullzzz
profile-picture
profile-picture
fatqurr dan secretos memberi reputasi
31 0
31
Lihat 3 balasan
Memuat data ..
icon-hot-thread
Hot Threads
Stories from the Heart
hantu-pramuka
Stories from the Heart
setengah-hijrah-bab-1
obrolan-hangat-logo
Obrolan Hangat
Heart to Heart
Stories from the Heart
kumpulan-cerpen
Copyright © 2020, Kaskus Networks, PT Darta Media Indonesia