KASKUS ×
Get the App View in App
KATEGORI N icon-buat-post BUAT POST
1024
1024
KASKUS
51
244
https://www.kaskus.co.id/thread/598c5fd0ded770d0618b4568/lets-play-the-numbers-mobil-listrik-untuk-mengurangi-emisi-kendaraan-benarkah

Let's Play The Numbers: Mobil Listrik Untuk Mengurangi Emisi Kendaraan, Benarkah?Past Hot Thread

Spoiler for DISCLAIMER
Kalkulasi di sini cuma menggunakan aritmatika sederhana. Tidak terima komplain pusing. emoticon-Stick Out Tongue


Spoiler for Pendahuluan
Sepertinya sudah beberapa kali postingan bung Ricky Elson berseliweran di beranda facebook. Kebanyakan soal kebijakan mobil listrik yang (bisa ditebak) absurd. Saya sih tidak banyak berharap bahwa penguasa negeri ini mau benar-benar peduli dengan karya lokal, mengingat Pak Warsito saja "ditendang" keluar. Tapi soal mobil listriknya sendiri menarik.

Dari dulu saya tidak pernah begitu antusias dengan mobil listrik. Antusiasme yang terbatas itu utamanya karena listrik di negeri ini masih dibangkitkan pakai energi fosil, utamanya batubara. Saya pikir, apa gunanya pakai mobil listrik kalau listriknya masih dari batubara? Belum lagi soal those pesky bulky batteries, yang performanya dari dulu begitu-begitu saja.

Lalu saya baca buku Sustainable Energy - Without the Hot Air dan baru teringat untuk menggunakan angka-angka riil alih-ali retorika seperti di atas.


Spoiler for Emisi CO2
Kalau soal emisi gas buang dari mobilnya, okelah, mobil listrik tidak mengeluarkan asap mengandung CO2 dan polutan berbahaya lain. Sebagai gantinya, polutan dihasilkan di pembangkit listriknya. Dari sini kesannya impas, barangkali, ya? Tapi apa memang begitu atau saya yang underestimate?

Coba kita bandingkan antara mobil listrik dan mobil biasa. Mobil listrik yang jadi contoh, biar keren sedikit, adalah Tesla Model S. Mobil ini menggunakan listrik sebesar 21 kWh per 100 km. Artinya, tiap km menggunakan 0,21 kWh.

Listrik Indonesia utamanya berbasis batubara dan gas alam. Menggunakan standar IPCC, kira-kira diperkirakan bahwa listrik Indonesia memiliki tapak karbon 700 g CO2 eq/kWh (bisa lebih tinggi, saya tidak tahu). Dari sini, berarti emisi CO2 dari mobil listrik sebesar (0,21*700) = 147 g CO2 eq/km.

Kita berandai-andai, nih. Kalau misalnya listrik Indonesia rendah karbon, jadinya bagaimana? Tidak usah jauh-jauh, kalau emisinya 100 g CO2 eq/kWh saja. Maka emisi mobil listriknya jadi (0,21*100) = 21 g CO2/kWh. Lumayan sekali.

Lantas bagaimana dengan mobil biasa? Untuk pemakaian dalam kota, tipikal mobil sekarang mengonsumsi 1 liter bensin untuk 9-12 km. Di sini ambil asumsi paling longgar saja, 1 liter untuk 12 km. Emisi CO2 dari bensin sebesar 2,5 kg CO2/liter. Maka, emisi dari mobil biasa sebesar ([1/12]*2,5*1000) = 208,3 g CO2 eq/km.

Ternyata emisi mobil listrik masih lebih rendah daripada mobil biasa, bahkan dalam skenario emisi tinggi! Tidak terlalu beda jauh, tapi jelas lebih rendah.

Kalau dipikir-pikir, agak bisa dipahami kenapa. Mesin elektrik lebih efisien daripada mesin internal fuel combustion. Sehingga, walau emisi listrik lebih tinggi, tapi energi yang termanfaatkan juga lebih banyak. Dampaknya, emisi mobil listrik secara riil pun lebih rendah.

Spoiler for Energy Cost
Lalu bagaimana dengan energy cost-nya? Sekadar untuk perbandingan?

Pemilik mobil listrik pastinya bukan kalangan menengah ke bawah. Jadi listriknya mesti dapat dari listrik non-subsidi, seharga Rp 1.467,28/kWh. Maka, energy cost per km mobil listrik sebesar (1.467,28*0,21) = Rp 308,1/km. Untuk mobil biasa, supaya adil, pakai harga BBM non-subdisi/Pertamax, seharga Rp 8.050/liter. Maka, energy cost mobil biasa sebesar (8.050*[1/12]) = Rp 670,8/km.

Energy cost mobil listrik hanya setengah mobil biasa.

Dari dua aspek ini, tampak bahwa mobil listrik benar lebih unggul dari mobil biasa. Jadi, asumsi saya terhadap performa mobil listrik yang underestimate.


Spoiler for Penutup
Nah, kalau ketersediaan suplai lithium untuk baterai sudah teratasi, pengelolaan limbah baterai sudah direncanakan dengan baik, swasta sudah disingkirkan dari sektor pembangkitan listrik nasional, dekarbonisasi listrik sudah berjalan dengan baik, lalu desain lokal bisa lebih dihargai, maka mobil listrik bisa jadi opsi menarik...

(Btw, saya belum hitung soal ketahanan baterainya. Barangkali ada yang mau ikut hitung juga? emoticon-Stick Out Tongue)
Baterai alias aki umurnya bergantung ke banyak faktor. Susah dikalkulasi secara real. Kalau cuma kira-kira asal-asalan, buat aki lithium-ion biasanya dipakai asumsi 5 tahun. Buat pembaca lain yang kurang kenal dengan jenis-jenis aki, lithium ion itu tipe baterai HP. Kalau dibuat besar ya jadi aki. Sebab beda aki dengan baterai dalam bahasa Indonesia cuma masalah ukuran. Aki lithium-ion jauh lebih tahan lama daripada aki timbal yang umum dipakai di sepeda motor dan mobil biasa.

Asumsi 5 tahun ini menggunakan asumsi kapasitas maksimal berkurang jadi 80%. Aki ketika dipakai maka kapasitas maksimalnya menyusut. Dari misalnya 100 Ah jadi 99,99 Ah atau berapa. Kalau sudah mencapai 80% untuk mobil listrik biasanya dianggap tidak optimal lagi, walaupun kalau mau dipakai terus ya bisa, cuma jarak yang bisa ditempuh juga berkurang, sampai akhirnya akinya soak. Katanya sih 8 tahun juga masih bisa dipakai asal rutin di-charge.

Nah, saat ini aki untuk Chevy Bolt dari GM masih $16000 per set alias 220 juta rupiah. Bagi deh 5 tahun, atau mungkin 8 tahun.

Kalau mau dihitung per km-nya, ntar hitungannya lebih ruwet. Mesti dikira-kira pemakaian rata-rata per hari itu berapa km, lalu kalau setahun dapat berapa km. Lalu kalau 5-8 tahun berapa. Dari sana nanti bisa didapat biaya penyusutan akinya.
Untuk urusan angka", agan dic.thorium dan tonycc udah pakarnya... jadi saya gak sanggup deh klo itung"an...

Tertarik soal emisi kendaraannya saja yang saya coba komentarin... mobil listrik yang saya tahu, memang jelas tidak mengeluarkan emisi buang (gas berbahaya)... mobilnya sih iya... tapi kalau sumber daya listriknya masih memakai bahan bakar minyak atau batubara, apa gak aneh ya...

Rasanya kok kontradiktif dengan tujuan mengurangi emisi gasnya...
Quote:Original Posted By dic.thorium
Emisi CO2 dari bensin sebesar 2,5 kg CO2/liter.


CO2 hasil membakar bensin kok bisa 2x lipat lebih berat dari bensinnya? emoticon-Bingung

Quote:Original Posted By dic.thorium
Nah, kalau ketersediaan suplai lithium untuk baterai sudah teratasi,


tanya ... kenapa sukar sekali mendapatkan lithium? apakah memang jarang ada di alam?
kalo gak salah lithium itu atom setelah helium ya?

Quote:Original Posted By s2mrino
Untuk urusan angka", agan dic.thorium dan tonycc udah pakarnya... jadi saya gak sanggup deh klo itung"an...

Tertarik soal emisi kendaraannya saja yang saya coba komentarin... mobil listrik yang saya tahu, memang jelas tidak mengeluarkan emisi buang (gas berbahaya)... mobilnya sih iya... tapi kalau sumber daya listriknya masih memakai bahan bakar minyak atau batubara, apa gak aneh ya...

Rasanya kok kontradiktif dengan tujuan mengurangi emisi gasnya...


kalo gw sih, memilih melihat dari sudut pandang konsumen.
mobil listriknya sendiri mahal tapi masih oke kan namanya masih produk baru
aki yang harganya jutaan itu yang bikin ogah
teman gw pernah bilang, ibarat bisa beli sapi tapi gak bisa ngasih makan sapinya ................................................... emoticon-Ngacir
Quote:Original Posted By s2mrino
Untuk urusan angka", agan dic.thorium dan tonycc udah pakarnya... jadi saya gak sanggup deh klo itung"an...

Tertarik soal emisi kendaraannya saja yang saya coba komentarin... mobil listrik yang saya tahu, memang jelas tidak mengeluarkan emisi buang (gas berbahaya)... mobilnya sih iya... tapi kalau sumber daya listriknya masih memakai bahan bakar minyak atau batubara, apa gak aneh ya...

Rasanya kok kontradiktif dengan tujuan mengurangi emisi gasnya...


justru itu yang saya buktikan di artikel ini. bahwa emisi CO2 pakai mobil listrik masih lebih rendah daripada mobil biasa, bahkan sekalipun listriknya dihasilkan dari energi fosil. konsumsi energi finalnya lebih rendah, sehingga emisi net-nya lebih kecil.

Quote:Original Posted By peyotpetot


CO2 hasil membakar bensin kok bisa 2x lipat lebih berat dari bensinnya? emoticon-Bingung



tanya ... kenapa sukar sekali mendapatkan lithium? apakah memang jarang ada di alam?
kalo gak salah lithium itu atom setelah helium ya?



kalo gw sih, memilih melihat dari sudut pandang konsumen.
mobil listriknya sendiri mahal tapi masih oke kan namanya masih produk baru
aki yang harganya jutaan itu yang bikin ogah
teman gw pernah bilang, ibarat bisa beli sapi tapi gak bisa ngasih makan sapinya ................................................... emoticon-Ngacir


hitung-hitungan kimiawinya memang begitu. yang bikin berat kan dua atom oksigennya. soal lithium, cadangannya sih lumayan besar, ada sekitar 8 juta ton di seluruh dunia. persoalannya adalah kalau mobil listrik diekspansi besar-besaran, cadangan lithium juga bakalan lebih cepat terkuras habis. plus, belum ada yang benar-benar bisa recycle lithium dalam jumlah besar dari baterai bekas ini.
Quote:Original Posted By dic.thorium

hitung-hitungan kimiawinya memang begitu. yang bikin berat kan dua atom oksigennya. soal lithium, cadangannya sih lumayan besar, ada sekitar 8 juta ton di seluruh dunia. persoalannya adalah kalau mobil listrik diekspansi besar-besaran, cadangan lithium juga bakalan lebih cepat terkuras habis. plus, belum ada yang benar-benar bisa recycle lithium dalam jumlah besar dari baterai bekas ini.


angka perbandingannya membingungkan
yang satu CO2 per kwh
yang satunya lagi CO2 per liter
emoticon-Bingung

oh iya .. ada yang belum dimasukkan dalam perhitungan ... loss yang terjadi ketika charge batere emoticon-Request

cuma 8 juta ton, berarti memang sedikit ya .. misalnya kalo dibanding besi atau aluminium?
Padahal gw pikir karena lithium cuma selangkah dari helium dalam reaksi fusi, mestinya jumlahnya bisa banyak emoticon-Bingung
Menurut saya masalah teknologi terbarukan, termasuk mobil listrik adalah masalah penyimpanannya (termasuk transportasi energi), selama kita masih berkutat di baterai, sepertinya masalah energi terbarukan akan mentok. Apalagi harga baterai adalah komponen kedua termahal dalam mobil listrik setelah mesin listrik itu sendiri (perbandingkan dengan harga mesin bensin vs harga tangki bensin). Belum lagi beratnya... paket baterai Tesla model S saja sudah 540 kg, setara dengan berat 400 liter bensin!

Sepertinya yang nanti akan maju di bidang energi terbarukan termasuk mobil listrik adalah fuel cell (termasuk hidrogen), berhubung adanya penemuan kebetulan tentang penyimpanan hidrogen melalui alumunium aloy yang baru-baru ini terjadi.
https://www.engadget.com/2017/08/04/water-aluminum-create-hydrogen/

Maaf agak keluar topik...

Jadi, masalah mobil listrik ini lebih ke arah kepraktisan keseluruhannya, bukan hanya masalah emisi... Kalau berbicara hanya masalah emisi, mobil listrik hanyalah menjadi trend green hipster saja dan bukan bersiap menggantikan mesin internal combustion...
CMIIW dan maaf kalau agak OOT...
Quote:Original Posted By peyotpetot


angka perbandingannya membingungkan
yang satu CO2 per kwh
yang satunya lagi CO2 per liter
emoticon-Bingung

oh iya .. ada yang belum dimasukkan dalam perhitungan ... loss yang terjadi ketika charge batere emoticon-Request

cuma 8 juta ton, berarti memang sedikit ya .. misalnya kalo dibanding besi atau aluminium?
Padahal gw pikir karena lithium cuma selangkah dari helium dalam reaksi fusi, mestinya jumlahnya bisa banyak emoticon-Bingung


ndak apa-apa. yang penting, kan, angka perbandingan finalnya, yaitu CO2 per km.

rerata baterai mobil memiliki RTE sekitar 90%, jadi beda nilainya tidak jauh.

Quote:Original Posted By topazo
Menurut saya masalah teknologi terbarukan, termasuk mobil listrik adalah masalah penyimpanannya (termasuk transportasi energi), selama kita masih berkutat di baterai, sepertinya masalah energi terbarukan akan mentok. Apalagi harga baterai adalah komponen kedua termahal dalam mobil listrik setelah mesin listrik itu sendiri (perbandingkan dengan harga mesin bensin vs harga tangki bensin). Belum lagi beratnya... paket baterai Tesla model S saja sudah 540 kg, setara dengan berat 400 liter bensin!

Sepertinya yang nanti akan maju di bidang energi terbarukan termasuk mobil listrik adalah fuel cell (termasuk hidrogen), berhubung adanya penemuan kebetulan tentang penyimpanan hidrogen melalui alumunium aloy yang baru-baru ini terjadi.
https://www.engadget.com/2017/08/04/...eate-hydrogen/

Maaf agak keluar topik...

Jadi, masalah mobil listrik ini lebih ke arah kepraktisan keseluruhannya, bukan hanya masalah emisi... Kalau berbicara hanya masalah emisi, mobil listrik hanyalah menjadi trend green hipster saja dan bukan bersiap menggantikan mesin internal combustion...
CMIIW dan maaf kalau agak OOT...


betul, itu jadi perhatian sebagian orang (termasuk saya). untuk kendaraan masa depan, saya kira mobil baterai akan memiliki tempatnya sendiri, begitu pula mobil IFC. mobil baterai kemungkinan akan banyak digunakan untuk kendaraan dalam kota, sementara mobil-mobil berukuran besar pakai bahan bakar sintetis netral karbon.

soal mobil hidrogen sendiri, well... saya jauh lebih tidak yakin terhadap mobil hidrogen ketimbang mobil listrik. alasannya? salah satunya bahwa mobil hidrogen cuma bagus di teori.
Quote:Original Posted By dic.thorium


ndak apa-apa. yang penting, kan, angka perbandingan finalnya, yaitu CO2 per km.

rerata baterai mobil memiliki RTE sekitar 90%, jadi beda nilainya tidak jauh.


emoticon-Matabelo
kenapa bedanya bisa jauh ya? sampe tiga kali lipat lebih?
Quote:Original Posted By peyotpetot


emoticon-Matabelo
kenapa bedanya bisa jauh ya? sampe tiga kali lipat lebih?


kimia dasar... reaksinya rumit, khawatir pusing kalau dijelaskan di sini. emoticon-Ngakak
Quote:Original Posted By dic.thorium

betul, itu jadi perhatian sebagian orang (termasuk saya). untuk kendaraan masa depan, saya kira mobil baterai akan memiliki tempatnya sendiri, begitu pula mobil IFC. mobil baterai kemungkinan akan banyak digunakan untuk kendaraan dalam kota, sementara mobil-mobil berukuran besar pakai bahan bakar sintetis netral karbon.

soal mobil hidrogen sendiri, well... saya jauh lebih tidak yakin terhadap mobil hidrogen ketimbang mobil listrik. alasannya? salah satunya bahwa mobil hidrogen cuma bagus di teori.


Hmm... Mobil hidrogen permasalahan utamanya lebih ke konversinya ya, karena masalah penyimpanan yang ribet mungkin sudah sedikit terpecahkan oleh reaksi alumunium...

Masalah baterai, apakah nanti mungkin ada yang lebih efisien lagi? Sejenis ultra capacitor kah? perkembangan carbon nanotube kah, atau mungkin mechanical battery seperti flywheel? Atau... wireless energy transfer ala sang legenda Tesla?
Quote:Original Posted By topazo


Hmm... Mobil hidrogen permasalahan utamanya lebih ke konversinya ya, karena masalah penyimpanan yang ribet mungkin sudah sedikit terpecahkan oleh reaksi alumunium...

Masalah baterai, apakah nanti mungkin ada yang lebih efisien lagi? Sejenis ultra capacitor kah? perkembangan carbon nanotube kah, atau mungkin mechanical battery seperti flywheel? Atau... wireless energy transfer ala sang legenda Tesla?


Saya tidak bisa berkomentar terlalu banyak soal baterai. Kecuali misalnya ada material yang bisa menampung listrik hingga lebih dari 500 Wh/kg material dan cost competitive, saya kira inovasi-inovasi yang dilakukan tidak akan menghasilkan perbaikan signifikan.
Kalau kita lihat secara abstrak ya, sebenarnya untuk Indonesia lebih baik pemerintah fokus ke tranportasi umum seperti kereta api, trem, bis, dan semacamnya daripada bermain-main dengan mobil listrik. Dari segi emisi maupun penyerapan oleh masyarakat, transportasi umum itu efeknya jauh lebih tinggi daripada mobil listrik. Mobil listrik biar saja dikembangkan oleh swasta dan biarlah orang kaya yang beli.

Kalau mau bahan diskusi, konsep skuter listrik itu lebih menarik dibahas. Sebab:
1. Sepeda motor jauh lebih populer di Indonesia.
2. Ukurannya yang relatif kecil membuat kebutuhan terhadap baterai lebih kecil dan masih terjangkau.
3. Contoh adopsi secara umum sudah ada. Di kota-kota Tiongkok kumlah skuter listrik lebih banyak daripada sepeda motor biasa. Memang ini tidak bisa menggantikan Ninja yang memang kelasnya beda, dan ojek bakal membutuhkan motor dengan jarak jangkau yang lebih tinggi, tapi kalau cuma untuk jarak dekat sekitar 5 km, lumayan. Buat satpam keliling kompleks, delivery McDonald, atau pulang pergi ngantor/kuliah. Asal jangan buat mudik aja.

Quote:Original Posted By s2mrino
Untuk urusan angka", agan dic.thorium dan tonycc udah pakarnya... jadi saya gak sanggup deh klo itung"an...

Tertarik soal emisi kendaraannya saja yang saya coba komentarin... mobil listrik yang saya tahu, memang jelas tidak mengeluarkan emisi buang (gas berbahaya)... mobilnya sih iya... tapi kalau sumber daya listriknya masih memakai bahan bakar minyak atau batubara, apa gak aneh ya...

Rasanya kok kontradiktif dengan tujuan mengurangi emisi gasnya...


Makanya gue sama dic.thorium getol menyosialisasikan PLTN. Kalau sumber listriknya dari PLTN dan EBT lainnya, maka akan ada ada perbaikan yang sangat tinggi di jumlah emisi gas rumah hijau. Sedangkan kalau listriknya masih dari batubara, ya, mungkin ada sedikit perbaikan karena PLTU batubara besar dengan jaringan listrik luas bisa lebih efisien daripada mesin BBM kecil dengan jaringan POM bensin yang kirimnya juga pakai bensin/solar, tapi ya 11-12 atau bahkan 11,9-12. emoticon-Smilie
Quote:Original Posted By peyotpetot


emoticon-Matabelo
kenapa bedanya bisa jauh ya? sampe tiga kali lipat lebih?


Bensin terdiri dari campuran berbagai senyawa, tapi secara umum bisa dianggap setara dengan C8H18. Hidrogen itu ringan, jadi satu mol bensin itu kira-kira 96 gram karbon + 18 gram hidrogen = 114 gram (yang masih ingat kimia tolong cek angkanya!). Dalam proses pembakaran bensin bergabung dengan oksigen dari udara menjadi CO2 dan H2O. H2O alias air tidak kita hitung. Sedangkan karbon dari 1 mol C8H18 jadi 8 mol CO2. Delapan mol CO2 ini terdiri dari 96 gram karbon + 256 gram oksigen (1 mol oksigen = 16 gram. Karena O-nya ada 2 jadi 16 x 2 x 8 = 256). Nah, total 352 gram, hampir 3x lipat.

Jadi beratnya naik itu karena ada tambahan oksigen cukup banyak dari udara.
Quote:Original Posted By tonnyc
Kalau kita lihat secara abstrak ya, sebenarnya untuk Indonesia lebih baik pemerintah fokus ke tranportasi umum seperti kereta api, trem, bis, dan semacamnya daripada bermain-main dengan mobil listrik. Dari segi emisi maupun penyerapan oleh masyarakat, transportasi umum itu efeknya jauh lebih tinggi daripada mobil listrik. Mobil listrik biar saja dikembangkan oleh swasta dan biarlah orang kaya yang beli.

Kalau mau bahan diskusi, konsep skuter listrik itu lebih menarik dibahas. Sebab:
1. Sepeda motor jauh lebih populer di Indonesia.
2. Ukurannya yang relatif kecil membuat kebutuhan terhadap baterai lebih kecil dan masih terjangkau.
3. Contoh adopsi secara umum sudah ada. Di kota-kota Tiongkok kumlah skuter listrik lebih banyak daripada sepeda motor biasa. Memang ini tidak bisa menggantikan Ninja yang memang kelasnya beda, dan ojek bakal membutuhkan motor dengan jarak jangkau yang lebih tinggi, tapi kalau cuma untuk jarak dekat sekitar 5 km, lumayan. Buat satpam keliling kompleks, delivery McDonald, atau pulang pergi ngantor/kuliah. Asal jangan buat mudik aja.
...
...

ITS Surabaya kan sedang mengembangkan motor listrik yang battery cellnya mudah dibongkar-pasang gan. Rencananya itu motor GESITS bisa dicharge kalau pas ada docknya, atau tukar baterai di SPBU & Minimarket kalau perjalanan jauh. Semoga bisa lanjut ke tahap produksi, tidak cuma jadi arsip di perpustakaan atau onggokan produk hasil penelitian di gudang.
Quote:Original Posted By schwarzenkrone

ITS Surabaya kan sedang mengembangkan motor listrik yang battery cellnya mudah dibongkar-pasang gan. Rencananya itu motor GESITS bisa dicharge kalau pas ada docknya, atau tukar baterai di SPBU & Minimarket kalau perjalanan jauh. Semoga bisa lanjut ke tahap produksi, tidak cuma jadi arsip di perpustakaan atau onggokan produk hasil penelitian di gudang.


tukar batere ini yang rawan .. orang endonesah paling semangat kalo ada kesempatan tukar gratis batere soak dengan batere baru emoticon-Hammer2
baterenya mesti dirancang agar ada penandanya kalo batere sudah mulai soak, supaya yang menyediakan layanan gak menanggung rugi jadi tempat pembuangan batere soak.
Quote:Original Posted By tonnyc


Bensin terdiri dari campuran berbagai senyawa, tapi secara umum bisa dianggap setara dengan C8H18. Hidrogen itu ringan, jadi satu mol bensin itu kira-kira 96 gram karbon + 18 gram hidrogen = 114 gram (yang masih ingat kimia tolong cek angkanya!). Dalam proses pembakaran bensin bergabung dengan oksigen dari udara menjadi CO2 dan H2O. H2O alias air tidak kita hitung. Sedangkan karbon dari 1 mol C8H18 jadi 8 mol CO2. Delapan mol CO2 ini terdiri dari 96 gram karbon + 256 gram oksigen (1 mol oksigen = 16 gram. Karena O-nya ada 2 jadi 16 x 2 x 8 = 256). Nah, total 352 gram, hampir 3x lipat.

Jadi beratnya naik itu karena ada tambahan oksigen cukup banyak dari udara.


anuuu .. maksud gw, kenapa beda efisiensi mesinnya bisa beda jauh sampai 3x lipat?
pake mesin apaan di pembangkit listrik? kenapa mesin itu gak bisa dipasang juga ke mobil?
Quote:Original Posted By peyotpetot


anuuu .. maksud gw, kenapa beda efisiensi mesinnya bisa beda jauh sampai 3x lipat?
pake mesin apaan di pembangkit listrik? kenapa mesin itu gak bisa dipasang juga ke mobil?


Yang satu mesin termal-kinetik, efisiensi terbatas hukum Carnot. Yang satu lagi mesin elektrik-kinetik, tidak terkena batasan termodinamika. Mekanisme kerjanya jelas tidak bisa disamakan dan tidak bisa ditukar satu sama lain.
Quote:Original Posted By dic.thorium


Yang satu mesin termal-kinetik, efisiensi terbatas hukum Carnot. Yang satu lagi mesin elektrik-kinetik, tidak terkena batasan termodinamika. Mekanisme kerjanya jelas tidak bisa disamakan dan tidak bisa ditukar satu sama lain.


keduanya kan mesin termal-kinetik?
maksudnya, pembangkit listrik dan mesin mobil kan sama-sama memindahkan suhu untuk menghasilkan gerakan emoticon-Bingung

Quote:Original Posted By peyotpetot


keduanya kan mesin termal-kinetik?
maksudnya, pembangkit listrik dan mesin mobil kan sama-sama memindahkan suhu untuk menghasilkan gerakan emoticon-Bingung



Bedanya di mesin mobil listrik yang tidak terbatas hukum termodinamika. Plus barangkali berbagai komponen tambahan dari produsennya, seperti regenerative braking.