- Beranda
- Berita dan Politik
Inilah Sebab Jenazah Yana Zein 'Nangis' Ketika Sang Ayah Lantunkan Ayat Suci Alquran
...
TS
bikinmuntab
Inilah Sebab Jenazah Yana Zein 'Nangis' Ketika Sang Ayah Lantunkan Ayat Suci Alquran
TRIBUNJATENG.COM - Jenazah aktris senior, Suryana Nurzaman Zein alias Yana Zein (44) telah dimakamkan pihak keluarga di Tempat Pemakaman Muslim Bulak Lebar, Cinere, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat, Jumat (2/6/2017).
Sebelum dimakamkan, jenazah sempat disemayamkan selama dua hari dan satu malam di rumah duka Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati, Jakarta Selatan.
Awalnya, jenazah akan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Kampung Kandang, Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Namun, atas permintaan sang ayah, Nurzaman Zein, jenazah ibu dua anak ini akhirnya dimakamkan di Cinere.
Nurzaman jauh-jauh datang dari Sumatera Barat untuk melihat jenazah sang putri tercinta atau yang terakhir kalinya.
Di hadapan jenazah, di tengah ramainya pelayat, Nurzaman sempat melantunkan ayat-ayat suci Alquran untuk almarhumah.
Terdengar pula lantunan salawat.
Berzamaan pula dengan itu, ada sesuatu yang tak lazim terlihat.
Mata Yana terlihat sempat mengeluarkan air mata, padahal dia tak lagi bernyawa.
"Mbak, coba itu direkam deh, Yananya nangis," kata seorang wanita pelayat di dekat peti jenazah saat meminta jurnalis mengabadikan moment tersebut, sebagaimana dikutip dari Tribunnews.com.
Soal jenazah Yana "menangis" juga dibenarkan artis senior, Linggasuri.
Bersama aktris Andi Soraya dan Ayu Azhari, Linggasuri mengaku sengaja mengajak bicara Yana yang sudah terbujur kaku itu.
Dan betapa kaget ia melihat jenazah Yana mengeluarkan air mata, beberapa saat sebelum diva pop Indonesia, Krisdayanti datang.
"Oh saya tadi sempat bilang sama KD (Krisdayanti), tadi kami bercanda sore-sore sama Andi Soraya, Ayu, ngobrol-ngobrol saja kayak dia masih hidup. Ingat kalau lagi nyela-nyela (bercanda) zaman dulu. Kalau yang lucu dia (kayak) ketawa kalau nggak suka dia mengkerut. Trus, pas kami tadi becandanya sampai gimana, dia sampai menangis," kata Linggasuri.
"Iya (jenazah Yana keluarkan air mata). Kalau dia (Yana) nggak suka dia (seperti) mengkerut, tapi sekarang sudah nggak lagi. Ya sudahlah, pokoknya saya ajak ngomong kayak masih hidup saja. Ya (panggil Yana), ini KD, lo cantik, banyak yang sayang sama lo," lanjutnya.
Keluarnya air mata jenazah Yana pun menimbulkan tanda tanya, kok bisa ya?
Peristiwa serupa pernah terjadi di Makassar, Sulawesi Selatan, Oktober 2010.
Jenazah Efendy Nasir (30), warga Jalan Maccini Raya, Kelurahan Karuwisi, Kecamatan Panakkukang, Makassar, mengeluarkan air mata tanpa dibarengi suara tangis.
Saat air mata keluar, jenazah hendak dimandikan.
Prosesi tersebut pun terpaksa ditunda lantaran jenazah langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.
Petugas rumah duka menyampaikan jika air mata keluar dari jenazah Yana karena merupakan bagian dari proses pembusukan.
Air tak hanya keluar melalui mata, namun juga pada alat vital, dubur, hidung, mulut.
Tubuh manusia memang sebagian terdiri dari air dan air tersebut akan keluar dengan sendirinya.
Minuman Penyebab Penyakit 'Pembunuh' Yana
Kanker payudara stadium empat telah merenggut nyawa Yana.
Yana menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Mayapada, Lebak Bulus, Kota Jakarta Selatan, Kamis (1/6/2017) sekitar pukul 01.00 WIB atau dini hari.
Mantan supir pribadi Yana yang bernama Oli, menuturkan bahwa penyakit itu kemungkinan didapati Yana akibat gaya hidupnya yang kurang sehat selama di lokasi syuting.
"Kalau gejalanya mungkin kebanyakan waktu syuting minum cola.”
“Kalau narkoba saya jamin enggak pernah," jelas Oli ditemui di depan Kediaman Yana di Mega Cinere, Kota Depok, Jawa Barat, Kamis (1/6/2017), sebagaimana dikutip dari Grid.ID.
Oli yang mengenal Yana selama sepuluh tahun itupun meyakini bahwa Yana tak pernah mau syuting jika minuman kesukaannya itu tak ada.
"Kalau syuting harus ada cola, kalau enggak ada cola, dia enggak mau, mungkin itu kali efeknya," kata Oli.
Lalu, betulkah minuman cola dapat memicu kanker?
Sejumlah ahli farmasi di Amerika Serikat dalam risetnya sebagaimana diwartakan Daily Mail beberapa waktu lalu, menemukan adanya kandungan senyawa kimia dalam minuman cola yang dapat memicu penyakit kanker.
Senyawa kimia bernama 4-methylimidazole (4-MI) yang berfungsi memberi warna pada minuman cola dan diduga bersifat karsinogen (penyebab kanker) oleh pihak kesehatan.
Pemerintah Amerika Serikat pun meminta produsen mengurangi bahan 4-MI.
3 Zat Penyebab Kanker Payudara
Meninggalnya Yana mengingatkan kita tentang bahaya kanker payudara.
Kaum perempuan sebaiknya lebih selektif dalam memilih perlengkapan sehari-hari jika tidak ingin terkena kanker payudara.
Khususnya jika perlengkapan tersebut mengandung zat penyebab kanker payudara seperti yang akan dipaparkan berikut ini:
1. Bisphenol-A (BPA)
Meski dianggap sebagai salah satu zat yang mengerikan karena mampu merusak hormon, nyatanya BPS mudah ditemukan di beragam perlengkapan terutama yang terbuat dari plastik.
Penelitian menemukan bahwa BPA menyebabkan proses pubertas terjadi terlalu dini, sebuah kondisi yang dapat menyebabkan kanker payudara.
Hindarilah zat ini dengan memilih perlengkapan dari stainless steel atau yang diberi label “BPA-free”.
2. Phthalate
Zat penyebab kanker payudara berikutnya adalah Phthalate.
Pewangi udara, kosmetika, deterjen, dan produk pembersih merupakan beberapa perlengkapan yang kerap menggunakan zat ini.
Hindari Phthalate dengan membeli perlengkapan yang bertulisakan “Phthalate-free”.
Hindari pula pengharum sintetis atau produk berbahan vinyl.
3. Paraben
Lotion, krim, deodoran dan beberapa kosemetika lainnya merupakan produk-produk yang biasanya menggunakan Paraben sebagai bahan pengawet. Jika zat lain dapat dihindari dengan label “free”, lain halnya dengan Paraben.
Pembeli harus jeli melihat kemasan produk, sedikit saja ada kata Paraben seperti pada “methylparaben”, maka produk tersebut wajib di-blacklist dari produk yang akan dibeli.
Itulah zat-zat penyebab kanker payudara.
Mencegah tetap lebih baik dibanding mengobati bukan.
Terapi Hormon Tingkatkan Risiko Kanker Payudara
Menggunakan hormon untuk mengobati gejala menopause dianggap meningkatkan risiko wanita terkena kanker payudara, namun risiko ini tidak sama pada semua wanita, demikian temuan sebuah penelitian baru.
Peningkatan risiko ini bervariasi tergantung pada ras, indeks massa tubuh (IMT), dan kepadatan payudara.
Para peneliti melihat hampir 1,65 juta wanita menopause pada usia 45 tahun dan wanita tua, menemukan bahwa wanita yang lebih ramping, serta wanita dengan payudara lebih padat, lebih mungkin mengalami efek merugikan dari terapi penggantian hormon pada risiko kanker payudara mereka.
Di antara wanita kurus dan berat badan normal (dilihat dari IMT) dalam penelitian ini, mereka yang menggunakan terapi hormon memiliki 35 persen peningkatan risiko kanker payudara dibandingkan dengan mereka yang tidak menggunakan terapi hormon.
Bagi wanita obesitas, risiko kanker payudara tampaknya tidak akan terpengaruh oleh penggunaan hormon.
Di antara wanita dengan payudara yang sangat padat, mereka yang mengambil terapi hormon mengalami 40 persen peningkatan risiko kanker payudara dibandingkan mereka yang tidak mengambil terapi hormon, demikian menurut penelitian ini.
Kepadatan payudara tinggi berarti payudara terdiri dari jaringan ikat lebih, relatif terhadap jumlah jaringan lemak.
Efek dari terapi hormon muncul bergantung pada ras.
Pada kalangan wanita kulit putih dan Hispanik dalam penelitian ini yang menggunakan terapi hormon lebih dari 20 persennya mengalami peningkatan risiko kanker payudara, dibandingkan dengan yang tidak mengambil terapi hormon.
Namun terapi hormon ini tidak meningkatkan risiko kanker payudara pada wanita kulit hitam.
Wanita kulit hitam, wanita gemuk, dan wanita dengan jaringan payudara yang sebagian besarnya terdiri dari lemak, dapat mengambil manfaat dari penggunaan terapi hormon dengan risiko kanker payudara lebih minimal, demikian tulis para peneliti di University of Chicago, dalam Journal of National Cancer Institute.
Sejalan dengan temuan sebelumnya, ditemukan adanya hubungan antara penggunaan terapi hormon dengan risiko yang lebih tinggi untuk menderita kanker payudara.
Rata-rata 578 dari 10.000 wanita yang menggunakan terapi hormon mengembangkan kanker payudara, dibandingkan dengan 546 dari 10.000 wanita yang tidak menggunakan terapi hormon.
Sayangnya, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan.
Misalnya, penelitian ini tidak melihat jenis terapi hormon wanita yang digunakan, serta untuk berapa lama pemakaian. (*)
http://jateng.tribunnews.com/2017/06...quran?page=all
Sebelum dimakamkan, jenazah sempat disemayamkan selama dua hari dan satu malam di rumah duka Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati, Jakarta Selatan.
Awalnya, jenazah akan dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Kampung Kandang, Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Namun, atas permintaan sang ayah, Nurzaman Zein, jenazah ibu dua anak ini akhirnya dimakamkan di Cinere.
Nurzaman jauh-jauh datang dari Sumatera Barat untuk melihat jenazah sang putri tercinta atau yang terakhir kalinya.
Di hadapan jenazah, di tengah ramainya pelayat, Nurzaman sempat melantunkan ayat-ayat suci Alquran untuk almarhumah.
Terdengar pula lantunan salawat.
Berzamaan pula dengan itu, ada sesuatu yang tak lazim terlihat.
Mata Yana terlihat sempat mengeluarkan air mata, padahal dia tak lagi bernyawa.
"Mbak, coba itu direkam deh, Yananya nangis," kata seorang wanita pelayat di dekat peti jenazah saat meminta jurnalis mengabadikan moment tersebut, sebagaimana dikutip dari Tribunnews.com.
Soal jenazah Yana "menangis" juga dibenarkan artis senior, Linggasuri.
Bersama aktris Andi Soraya dan Ayu Azhari, Linggasuri mengaku sengaja mengajak bicara Yana yang sudah terbujur kaku itu.
Dan betapa kaget ia melihat jenazah Yana mengeluarkan air mata, beberapa saat sebelum diva pop Indonesia, Krisdayanti datang.
"Oh saya tadi sempat bilang sama KD (Krisdayanti), tadi kami bercanda sore-sore sama Andi Soraya, Ayu, ngobrol-ngobrol saja kayak dia masih hidup. Ingat kalau lagi nyela-nyela (bercanda) zaman dulu. Kalau yang lucu dia (kayak) ketawa kalau nggak suka dia mengkerut. Trus, pas kami tadi becandanya sampai gimana, dia sampai menangis," kata Linggasuri.
"Iya (jenazah Yana keluarkan air mata). Kalau dia (Yana) nggak suka dia (seperti) mengkerut, tapi sekarang sudah nggak lagi. Ya sudahlah, pokoknya saya ajak ngomong kayak masih hidup saja. Ya (panggil Yana), ini KD, lo cantik, banyak yang sayang sama lo," lanjutnya.
Keluarnya air mata jenazah Yana pun menimbulkan tanda tanya, kok bisa ya?
Peristiwa serupa pernah terjadi di Makassar, Sulawesi Selatan, Oktober 2010.
Jenazah Efendy Nasir (30), warga Jalan Maccini Raya, Kelurahan Karuwisi, Kecamatan Panakkukang, Makassar, mengeluarkan air mata tanpa dibarengi suara tangis.
Saat air mata keluar, jenazah hendak dimandikan.
Prosesi tersebut pun terpaksa ditunda lantaran jenazah langsung dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.
Petugas rumah duka menyampaikan jika air mata keluar dari jenazah Yana karena merupakan bagian dari proses pembusukan.
Air tak hanya keluar melalui mata, namun juga pada alat vital, dubur, hidung, mulut.
Tubuh manusia memang sebagian terdiri dari air dan air tersebut akan keluar dengan sendirinya.
Minuman Penyebab Penyakit 'Pembunuh' Yana
Kanker payudara stadium empat telah merenggut nyawa Yana.
Yana menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Mayapada, Lebak Bulus, Kota Jakarta Selatan, Kamis (1/6/2017) sekitar pukul 01.00 WIB atau dini hari.
Mantan supir pribadi Yana yang bernama Oli, menuturkan bahwa penyakit itu kemungkinan didapati Yana akibat gaya hidupnya yang kurang sehat selama di lokasi syuting.
"Kalau gejalanya mungkin kebanyakan waktu syuting minum cola.”
“Kalau narkoba saya jamin enggak pernah," jelas Oli ditemui di depan Kediaman Yana di Mega Cinere, Kota Depok, Jawa Barat, Kamis (1/6/2017), sebagaimana dikutip dari Grid.ID.
Oli yang mengenal Yana selama sepuluh tahun itupun meyakini bahwa Yana tak pernah mau syuting jika minuman kesukaannya itu tak ada.
"Kalau syuting harus ada cola, kalau enggak ada cola, dia enggak mau, mungkin itu kali efeknya," kata Oli.
Lalu, betulkah minuman cola dapat memicu kanker?
Sejumlah ahli farmasi di Amerika Serikat dalam risetnya sebagaimana diwartakan Daily Mail beberapa waktu lalu, menemukan adanya kandungan senyawa kimia dalam minuman cola yang dapat memicu penyakit kanker.
Senyawa kimia bernama 4-methylimidazole (4-MI) yang berfungsi memberi warna pada minuman cola dan diduga bersifat karsinogen (penyebab kanker) oleh pihak kesehatan.
Pemerintah Amerika Serikat pun meminta produsen mengurangi bahan 4-MI.
3 Zat Penyebab Kanker Payudara
Meninggalnya Yana mengingatkan kita tentang bahaya kanker payudara.
Kaum perempuan sebaiknya lebih selektif dalam memilih perlengkapan sehari-hari jika tidak ingin terkena kanker payudara.
Khususnya jika perlengkapan tersebut mengandung zat penyebab kanker payudara seperti yang akan dipaparkan berikut ini:
1. Bisphenol-A (BPA)
Meski dianggap sebagai salah satu zat yang mengerikan karena mampu merusak hormon, nyatanya BPS mudah ditemukan di beragam perlengkapan terutama yang terbuat dari plastik.
Penelitian menemukan bahwa BPA menyebabkan proses pubertas terjadi terlalu dini, sebuah kondisi yang dapat menyebabkan kanker payudara.
Hindarilah zat ini dengan memilih perlengkapan dari stainless steel atau yang diberi label “BPA-free”.
2. Phthalate
Zat penyebab kanker payudara berikutnya adalah Phthalate.
Pewangi udara, kosmetika, deterjen, dan produk pembersih merupakan beberapa perlengkapan yang kerap menggunakan zat ini.
Hindari Phthalate dengan membeli perlengkapan yang bertulisakan “Phthalate-free”.
Hindari pula pengharum sintetis atau produk berbahan vinyl.
3. Paraben
Lotion, krim, deodoran dan beberapa kosemetika lainnya merupakan produk-produk yang biasanya menggunakan Paraben sebagai bahan pengawet. Jika zat lain dapat dihindari dengan label “free”, lain halnya dengan Paraben.
Pembeli harus jeli melihat kemasan produk, sedikit saja ada kata Paraben seperti pada “methylparaben”, maka produk tersebut wajib di-blacklist dari produk yang akan dibeli.
Itulah zat-zat penyebab kanker payudara.
Mencegah tetap lebih baik dibanding mengobati bukan.
Terapi Hormon Tingkatkan Risiko Kanker Payudara
Menggunakan hormon untuk mengobati gejala menopause dianggap meningkatkan risiko wanita terkena kanker payudara, namun risiko ini tidak sama pada semua wanita, demikian temuan sebuah penelitian baru.
Peningkatan risiko ini bervariasi tergantung pada ras, indeks massa tubuh (IMT), dan kepadatan payudara.
Para peneliti melihat hampir 1,65 juta wanita menopause pada usia 45 tahun dan wanita tua, menemukan bahwa wanita yang lebih ramping, serta wanita dengan payudara lebih padat, lebih mungkin mengalami efek merugikan dari terapi penggantian hormon pada risiko kanker payudara mereka.
Di antara wanita kurus dan berat badan normal (dilihat dari IMT) dalam penelitian ini, mereka yang menggunakan terapi hormon memiliki 35 persen peningkatan risiko kanker payudara dibandingkan dengan mereka yang tidak menggunakan terapi hormon.
Bagi wanita obesitas, risiko kanker payudara tampaknya tidak akan terpengaruh oleh penggunaan hormon.
Di antara wanita dengan payudara yang sangat padat, mereka yang mengambil terapi hormon mengalami 40 persen peningkatan risiko kanker payudara dibandingkan mereka yang tidak mengambil terapi hormon, demikian menurut penelitian ini.
Kepadatan payudara tinggi berarti payudara terdiri dari jaringan ikat lebih, relatif terhadap jumlah jaringan lemak.
Efek dari terapi hormon muncul bergantung pada ras.
Pada kalangan wanita kulit putih dan Hispanik dalam penelitian ini yang menggunakan terapi hormon lebih dari 20 persennya mengalami peningkatan risiko kanker payudara, dibandingkan dengan yang tidak mengambil terapi hormon.
Namun terapi hormon ini tidak meningkatkan risiko kanker payudara pada wanita kulit hitam.
Wanita kulit hitam, wanita gemuk, dan wanita dengan jaringan payudara yang sebagian besarnya terdiri dari lemak, dapat mengambil manfaat dari penggunaan terapi hormon dengan risiko kanker payudara lebih minimal, demikian tulis para peneliti di University of Chicago, dalam Journal of National Cancer Institute.
Sejalan dengan temuan sebelumnya, ditemukan adanya hubungan antara penggunaan terapi hormon dengan risiko yang lebih tinggi untuk menderita kanker payudara.
Rata-rata 578 dari 10.000 wanita yang menggunakan terapi hormon mengembangkan kanker payudara, dibandingkan dengan 546 dari 10.000 wanita yang tidak menggunakan terapi hormon.
Sayangnya, penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan.
Misalnya, penelitian ini tidak melihat jenis terapi hormon wanita yang digunakan, serta untuk berapa lama pemakaian. (*)
http://jateng.tribunnews.com/2017/06...quran?page=all
0
5.6K
34
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Berita dan Politik
695.8KThread•59.3KAnggota
Urutkan
Terlama
Komentar yang asik ya